Previous Destination: Puncak

Puncak adalah kawasan yang berada di antara bogor dan cianjur. Sudah sejak lama wilayah ini menjadi tempat tujuan favorit warga ibukota, bogor dan sekitarnya untuk berekreasi. Ada banyak hal-hal menarik yang ada di puncak. Yang paling utama dan jarang terlewat bagi para pengunjung puncak adalah, KEMACETAN!

Wakakaka. 🙂 Kadang-kadang sering merasa heran pada orang-orang yang tidak bosan-bosannya mengunjungi puncak di waktu libur. Apa sih yang dilihat? Gak ada. Mau liat pemandangan natural, kenyataannya lebih banyak hutan beton berupa vila-vila yang semrawut di bukit gundul. Mau menghirup udara segar? Segar dari mananya, dengan tingkat kepadatan lalu lintas sangat tinggi sepertinya lebih banyak karbon monoksida dibanding oksigen di puncak. Jadi, kalau tidak penting-penting sama sekali saya malas pergi ke tempat itu, berbeda dengan orang-orang yang sumringah bila dapat pergi ke sana.

Nah, momen kemarin dan hari ini agak berbeda. Saya mendapat semacam voucher gratis menginap di sebuah griya di sana. Sebetulnya, jika tidak masuk kantor, saya bisa menginap dari sabtu kemarin hingga kamis nanti. Berhubung dan berhubung ada rutinitas lain yang harus ditunaikan, saya pun hanya menginap semalam saja.

Tujuan utama keberangkatan saya sebenarnya untuk menyerahkan pekerjaan yang ditanggungkan kepada saya. Meski tidak sempurna, Alhamdulillah tanggung jawab tersebut sudah saya selesaikan dengan usaha maksimal saya. Selain tujuan utama tersebut, saya pun ingin menyegarkan pikiran saja. Ada beberapa permasalahan pelik yang tengah melanda dalam minggu-minggu terakhir ini. Barangkali dengan pergi dari rumah bisa mendapatkan pencerahan untuk melupakan masalah-masalah tersebut dan menjalani hidup baru yang lebih baik.

Maryamah Karpov has been launched

Akhirnya salah satu buku yang paling ditunggu-tunggu banyak orang di tahun ini diluncurkan juga. Pamungkas dari Tetralogi Laskar Pelangi Andrea Hirata, Maryamah Karpov. Inilah penutup kisah, penjawab segala pertanyaan-pertanyaan yang menggantung dari seri-seri yang telah diluncurkan sebelumnya, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor.

Sebelum mengikuti karya Andrea Hirata, saya bukanlah tipikal penikmat fiksi yang fanatik. Koleksi buku-buku saya sebagian besar ada pada topik ilmu terapan dan pengembangan diri. Hampir tidak ada fiksi dan komik pun hanya punya beberapa. Awal tahun 2008 lalu, seorang kawan memberikan saya buku Laskar Pelangi. Sebelumnya sempat mendengar hingar bingar pembicaraan orang tentang cerita novel tersebut. Namun saya belum memiliki ketertarikan untuk menyisihkan uang untuk membeli dan meluangkan waktu untuk membaca.

Setelah mendapat pemberian tadi, malam sesampai di rumah buku tersebut langsung saya coba baca. Niatan awalnya hanya membaca beberapa bab awal saja. Namun, seperti disihir, saya tidak memberhentikan diri membaca kata demi kata, paragraf demi paragraf hingga tanpa tersadar saya telah menamatkan Laskar Pelangi dalam satu malam tersebut. Dua kata yang mungkin dapat saya lontarkan berkaitan dengan pengalaman tersebut adalah “Luar Biasa!”.

Andrea membuka persepektif baru dalam menuliskan sebuah kisah. Dengan segala kesan dan pesan yang mendalam. Ketika membaca deskripsi visual, saya serasa melihat apa yang dideritakan. Ketika membaca uraian yang berbunyi, seakan-akan pula saya mendengar suara tersebut.

Tidak lama setelah menyelesaikan Laskar Pelangi, saya pun langsung berburu sekuel tetralogi itu. Saya langsung membeli Sang Pemimpi dan Edensor. Namun saya pun bertanya-tanya ada apa dengan Maryamah Karpov. Mengapa tidak ada di toko buku. Jelas-jelas di side cover 3 buku pertama tersebut telah menampilkan gambar sampul Maryamah. Dalam proses perburuan saya pun baru tahu bahwa tetralogi keempat tersebut belum diterbitkan.

Setelah habis membaca 3 novel pertama tadi rasa penasaran begitu menggebu untuk mengetahui jadwal rilis buku keempat. Bulan demi bulan berjalan, berbagai kabar burung pun berkelebatan. Yang pasti dari sumber resmi disampaikan bahwa Maryamah Karpov baru akan dirilis setelah peluncuran film bioskop Laskar Pelangi.

Minggu 30 Nopember tadi, dalam sebuah ketidak sengajaan saat saya menyusuri kolom-kolom berita di Harian Kompas dalam perjalan bis dari Ciawi menuju cempaka Mas, mata saya langsung terpaut pada informasi peluncuran Maryamah Karpov sekitar 2 hari lalu. Tanpa banyak berpikir, sesampai di Cempaka Mas saya langsung menyebrang ke ITC lalu langsung membeli Maryamah Karpov di Gramedia.

Saat buku tersebut masih tersimpan rapi, di meja buku di kamar saya. Paling pun baru sempat saya baca sabtu depan. Pasti akan menjadi pengalaman luar biasa yang Insya Allah akan saya coba bagi di sini.

Partner to the wedding party

Beberapa hari lalu di waktu pagi datang sebuah undangan ke rumah. Pernikahan sahabat saya. Tertulis di undangan tersebut “John K. L & partner”. Padahal saya paling bete jika orang menyingkat nama saya dan paling malas bila orang dengan seenaknya menyelipkan huruf “h” di nama depan saya. Nama saya “Jon” bukan “John” apalagi ada yang ngasal menulis “Jhon”. Tapi saya maklumi kok, kata banyak orang memang nama saya aneh. Tapi saya menikmatinya, paling tidak orang akan cukup mudah mengingat saya.

Kembali lagi ke masalah undangan tadi, selain nama yang salah tulis tadi, kata “& partner” agak mengganggu juga. Ada 2 hal yang menjadi tujuan dilaksanakannya pesta pernikahan. Pertama adalah memberikan selamat dan doa bagi mempelai agar dapat membangun rumah tangga yang baik. Kedua adalah memberikan dorongan bagi handai taulan yang datang dan belum berumah tangga untuk dapat menyusul segera menikah juga. Nah pertanyaannya gandengan apa yang akan saya bawa di pesta pernikahan tersebut sehingga di obrolan-obrolan dengan kawan-kawan nanti bisa selebatan bercerita “ini loh calon gw”  he.. he..

Saya pun sempat berpikir untuk memcahkan masalah tersebut. Datang sendirian ke hajatan orang bukanlah hal yang menyenangkan. Kalau perlu, jika ada kambing betina, gw ajak dia juga deh.

Jon: “Bing, hari minggu nanti lo ada acara gak?”
Kambing Betina: “Mbek.. Mbek..” (artinya: nggak ada, ada apa emangnya?)
Jon: “”Temenin gw ke kawinan Noni yuks.”
Kambing Betina: “Mbbbek,, MMMbek..” (artinya: ogah, pegi aja sendiri!)
Jon: nggak bisa berkata-kata lagi, kambing aja nolak gw..

Wakaka, kalau percakapan fiksi di atas beneran terjadi kayaknya lucu banget ya. He.. he..

Sepulang dari Puncak barusan akhirnya gw putuskan meluncur bareng Revalina. Nah itu ternyata ada barengannnya. Kawanku buat yang belum tahu, Revalina itu motor merah gw. Jadi berangkat ke sononya sendiri-sendiri juga. Hiks sedih banget ya. Tapi nggak kok, silaturahmi kayak gini ga boleh diputusin, kayak agak kurang make a sense untuk ga datang ke hajatannya sahabat karena ga ada barengan. Sahabatku, semoga kalian dapat menempuh hidup baru yang lebih baik. Insya Allah gw akan segera nyusul. With the prettiest girl in  the world. Either her heart and her appearence. Amin.

Tukar Guling

Cerita sehari Rabu 26 Nopember lalu.

Hari selasa, listrik di kantor kalibata padam. Ada sedikit keributan antara tenant di lantai 1 dengan tenant di lantai 2. Buah keributan tersebut, listrik satu rukan di blok 4 c dipadamkan. Aneh ya. Nah, karena hal tersebut, pada hari Rabu, gw dan officer (maksudnya pegawai kantor) yang lain mengungsi ke Menara Mulia semanggi. Oleh karena berangkat ke Menara Mulia, gw memutuskan untuk menumpang bis umum saja, dari pada naik motor. Alasan pertama, ke Semanggi cukup jauh. Alasan kedua, parkir di Menara Mulia mahal bukan kepalang.

Pagi-pagi pun gw berangkat dengan sebuah ransel dan tas selempang. Bawa dua tas dengan sebuah laptop di masing-masing tas. Agak trauma menjejalkan laptop di dalam 1 tas. Pengalaman lalu, gw harus mengeluarkan uang hampir 2 juta untuk mereparasi LCD. Jadi di hari tersebut gw melakukan tukar guling laptop. Hah, laptop ditukar dengan guling? Enggak kok, mau upgrade laptop aja. Laptop kerja yang lama harus segera diganti, karena sudah agak kurang produktif. Laptop lama harus gw kembalikan ke kantor.

Berangkat dari rumah agak kesiangan, baru jam 7.30 gw cabut. Ke depan dianter naik motor, terus nyambung naik bis ke Cileungsi. Lumayan lebih murah dibandingkan ngangkot. Sesampai Cilengsi si bongsor AC 137A sudah nangkring menunggu. Langsung naik mengambil posisi duduk favorit di bangku dua agak depan dekat jendela. Sekitar jam 10 gw sampai semanggi komdak. Turun dari bis, nyebrang jembatan penyebrangan terus jalan sekitar setengah kilo ke Menara Mulia.

Aktivitas gw di kantor sampai jam 4.30. Setelah itu gw pamit duluan ke temen2 karena harus nganter guling (maksudnya laptop) ke Kebayoran. Aih malasnya naik turun bis. Jalan lagi ke arah komdak. Nyebrang jembatan lagi dan naik bis Ac pertama menuju Blok M yang pertama datang. Tumben agak macet Parah sepanjang Sudirman ke arah Blok M. Gw turun di Al Azhar. Nyebrang jembatan, jalan lagi sekitar setengah kilo juga. Pegel bahu pula memanggul ransel dan menyelempang tas. Kayaknya harus segera beli ransel baru. Tas selempang tidak di rancang untuk membawa beban terlalu berat.

Sampai di kantor kebayoran gw taro laptop, minum2 sebentar, tadinya mau makan goreng singkong pake kopi gitu, tapi ternyata lagi habis. Tak lama gw pun langsung pamit pulang kembali ke Halte Al Azhar. Nunggu bis sekitar 20 menit dan meluncur pulang ke rumah. Akhirnya sampai juga sekitar setengah sembilan malam. Eudan. Hampir 4 jam di perjalanan.

He.. he.. agak gak penting sih menceritakan rutinitas basi. Tapi seru aja. Sebuah kehidupan yang ingin terus gw nikmati dan produktif di dalamnya. Mencapai hal-hal gemilang dan mampu memberikan sumbangsih yang bermanfaat bagi orang-orang di sekitar gw. Gw pun tak akan pernah berhenti berusaha dan bersyukur, karena gw tahu, hidup ini indah.

UKI Transiter

Post yang tidak terlalu penting-penting banget.

UKI adalah sebuah Universitas Swasta di Jakarta Timur. Namun orang-orang lebih sering mengasosiasikan UKI sebagai sebuah tempat daripada sebuah kampus. Padahal jika konteksnya ingin diperbaiki, tempat yang sering disebut orang sebagai UKI lebih tepat disebut Cawang, nama sebuah kecamatan di Jakarta Timur tempat kampus UKI berada. Nampaknya asosiasi tersebut sudah sangat melekat bagi banyak orang terutama yang sering bolak-balik dari arah Bekasi dan Bogor. Wajar saja, wilayah tersebut adalah pintu masuk utama menuju Jakarta dari arah Timur yaitu Bogor dan Bekasi. Lihat saja trayek-trayek angkutan umum. Hampir semua menyebut dan menulis UKI, bukan Cawang.

Saya sendiri sudah menjadi transiter UKI sejak jaman kuliah dulu. Bolak-balik setiap hari dari Jonggol ke UNJ di Rawa Mangun dengan transit via UKI. Sebab pada waktu itu belum ada bis dari arah Cileungsi yang langsung menuju pusat kota Jakarta. Dari rumah naik angkot ke Cileungsi. Dari Cileungsi naik minibus 56 ke UKI. Dari UKI disambung mayasari reguler P57 Blok M – Pulo Gadung atau P300 Blok M – Rawamangun. Sebuah masa-masa yang akan selalu saya kenang. 🙂

Setelah mulai kerja selepas kuliah. Praktis saya hampir tidak pernah transit lagi di UKI. Sekarang sudah banyak bis langsung ke berbagai tujuan Jakarta. Diantaranya Blok M. Ongkos sebenarnya tidak terlalu murah. Ya namanya juga trayek baru yang berumur kurang dari 5 tahun. Tapi dari pada mengambil pilihan yang tidak nyaman semisal harus transit di UKI, sepertinya harga yang agak mahal tidak perlu terlalu dipusingkan.

Semenjak 2 minggu terakhir kantor saya pindah ke Kalibata. Pada beberapa hari terakhir saya hampir selalu mengendarai motor. Lebih praktis, cepat dan tidak selelah ketika berkantor di Kebayoran. Tiba-tiba saja tadi pagi saya penasaran untuk mencoba ngangkot ke kantor. Artinya akan kembali mencoba menjadi transiter di UKI. Juga kembali mencoba berdesak-desakan di minibus 56 Cileungsi – UKI yang tidak manusiawi. Bayangkan saja, satu mini bus tersebut dijejali penumpang sebanyak 27 orang. Mirip seperti ikan asin. Sangat berbeda dibandingkan dengan  menumpang bus besar.

Dari hasil percobaan tadi ternyata cukup menarik juga pengalaman napak tilas ke UKI. Dari UKI ke arah kalibata saya menggunakan Metro Mini 64 Cililitan – Pasar Minggu. Pada saat pulang tadi sempat ngemil salah satu jajanan dari berpuluh-puluh macam dagangan yang ada di UKI. Berlari-lari sedikit berebutan naik 56, jam 7 barusan saya telah tiba di rumah. Sekitar 2 jam perjalanan, hemat 1 jam dibandingkan saat masih di Kebayoran.

Ada sebuah petikan bijak yang mengatakan, “perbanyaklah berkelana, melihat tempat-tempat dan orang-orang, agar jiwamu bertambah kaya.” Semoga saja demikian.

Dodol

Post aneh ga jelas. 🙂

Dodol adalah penganan tradisional indonesia yang dibuat dari ketan dan gula merah. Wujudnya kenyal dan rasanya manis, cukup enak. Anehnya orang Indonesia, mereka sering menyalahgunakan kata dan aturan. Termasuk kaitannya dalam pembahasan dodol kali ini.

Dodol adalah kata benda (noun) tapi trend belakangan memungkinkan tambahan peran menjadi kata sifat (adjective). Mungkin diantara kita pernah mendengar percakapan seperti berikut:

“Jon! Lo jadi orang dodol banget sih”.
“Dodol, dodol, kok bisa gitu ya?”
“Dasar dodol!”

dan seterusnya.

Mengenai makna kata setelah transformasi tersebut agak kurang jelas juga. Dodol bisa berarti ngaco, ngebetein, aneh, norak, dan bahkan ga jelas sama sekali. Seperti post ini yang sangat dodol.

Itulah bahasa yang dapat diartikan secara sangat dinamis. Tidak perlu dipersoalkan asalkan bukan dalam kondisi formal.

Quote of the day

“Satu-satunya batasan seseorang dari mimpinya adalah batasan yang dibuat oleh diri dan pemikirannya sendiri.”

Dipetik dari pernyataan orang bijak.

“Senang melihat orang lain susah, susah melihat orang lain senang”

Dipetik dari pernyataan Jon Kartago Lamida

Wakakaka bercanda kok. Lagi ga ada ide posting yang bagus aja.
🙂