Review Film 2012

Di tengah segala kontroversi yang agak sedikit tidak jelas a.k.a gajebo, minggu lalu akhirnya saya bisa kebagian juga menonton film besutan sutradara Roland Emmerich, 2012. Setelah Godzilla dan yang belum terlalu lama The Day After Tomorrow, Emmerich kembali lagi mengangkat film bertema bencana. Bedanya bila film-film lalu memang fiksi biasa tanpa kontroversi. Tapi 2012 sedikit berbeda karena berdiri di atas kepercayaan beberapa golongan yang menyatakan dunia memang akan berakhir pada tahun 2012. Stop dulu berpolemik, kita akan coba mendiskusikan konten film itu sendiri berikut perjuanganan untuk menontonnya.

Secara personal saya agak jarang mengalami euphoria film hollywood sedahsyat 2012. Kembali ke beberapa tahun lalu, Ada Apa Dengan Cinta dan Petualangan Sherina memang sangat fenomenal menarik berjuta penonton. Beberapa bulan lalu Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2 juga Laskar Pelangi juga benar-benar menarik perhatian berjuta penonton. Namun semua film-film itu adalah film lokal yang memiliki pertimbangan tertentu untuk menjadi fenomena. AADC dan Petualangan Sherina meledak karena kedua film itu menjadi tonggak bangkitnya perfilman Indonesia. Sementara KCB 1 dan 2 serta Laskar Pelangi meledak karena diangkat dari kisah buku yang memang sudah laris dari sananya. Sementara 2012 banyak menarik perhatian penonton karena kepenasaran khalayak seperti apa kiamat di visualisasikan ke layar film.

Kedahsyatan respon penonton dapat digambarkan dari pengalaman saya mengejar tiket film ini. Sekitar pertengahan nopember minggu pertama premier film sepulang kantor saya pun langsung menyempatkan mampir ke bioskop. Setelah berbekal browsing data dari website 21 cineplex, saya meluncur ke bioskop 21 cibubur junction. Sampai di spot pukul 19.30, saya masih merasa cukup tenang karena dari data di website 2012 diputar di 4 dari total 4 studio. Itu artinya dengan kedatangan saya pada jam tadi saya masih bisa mendapatkan show pada pukul 20.00, 20.30, 21.00, 21.30 dan 22.00. Namun dengan sangat mengejutkan ketika tiba di tempat penjualan tiket yang sudah sepi sebuah pengumuman tulisan tangan pun menyambut, “Tiket 2012 untuk hari ini telah habis”. Wow, benar-benar luar biasa.

Barulah setelah berselang sekitar seminggu kemudian pada akhirnya saya pun baru berkesempatan menyaksikan film tersebut. Kesan setelah menonton film itu adalah sebagai berikut. Secara cerita tidak terlalu spesial. Standar film bencana. Mungkin kesan paling menonjol adalah spesial effect saat gempa besar, ledakan gunung api dan tsunami. Kesan terakhir ternyata kiamat yang dimaksud dari film ini bukanlah kiamat besar yang mengakhiri semuanya. Namun yang terjadi adalah kiamat kecil yang mungkin meluluhlantahkan sebagian besar jiwa manusia dan kondisi fisik bumi, namun ternyata masih ada yang selamat. Jadi untuk pihak-pihak tertentu yang di minggu-minggu awal premiere film bermencak-mencak ria dan menfatwaharamkan film ini, sebaiknya anda lihat dulu kontennya baru berkomentar. Secara umum tidak ada dampak negatif apa pun setelah film ini. Lagi pula seperti film-film lainnya tujuan dari kisah film ini hanyalah menyampaikan hiburan fiksi tanpa ada maksud menyampaikan pesan-pesan terselubung. Itulah post tentang review film 2012 namun tidak ada review sedikit pun yang diangkat. :p Yang ingin cerita detailnya, sempatkan waktu saja ke bioskop dan buatlah review sendiri. 20.000 atau 30.000 rupiah untuk tiket bioskop saya pikir adalah nilai yang cukup layak dan tidak terlalu mahal.

Dot dot dot …

Dear day. Sudah hampir dua bulan tidak menulis post baru. Banyak hal yang berubah dan banyak hal yang stagnan. Hal-hal yang berubah ada di luar sana dan yang ada di sini (gw) hampir semua stagnan. Pola hidup semakin kacau. Kedisiplinan sudah tidak ada lagi. Tidak teratur, acak-acakan, berantakan dan kacau balau. Ya itulah saya sekarang. Harus benar-benar memaksa untuk melakukan revolusi diri.

Curhat pertama, kerjaan di kantor semakin tidak beraturan. Mungkin karena saya sudah berada di titik jenuh. Saya pun semakin merasa yakin untuk mencoba melirik pekerjaan baru dengan serius. Curhat kedua, saya mulai keranjingan main video game lagi. Namun, berhubung tidak punya desktop pc atau laptop canggih juga belum terpikir membeli konsol terbaru, saya pun cukup merasa terhibur bermain game di emulator-emulator yang sangat mewabah saat ini. Dengan berbekal stik usb, bandwidt secukupnya untuk mencari rom-rom bagus, hiburan murah meriah pun langsung hadir di laptop. Mulai dari main super mario bros nintendo, main sonic sega, main yoshi island punya snes, main resident evil di playstation, main super smash brosh di nintendo 64, main final fantasy X di ps2, main 18 wheelers driver di dreamcast, main luigi mansion di gamecube, main suikoden tierkries di NDS, main castlevania ario of sorrow di GBA. Silakan tambah sendiri daftarnya. Hal menarik lain, selain bermain di emulator pc menggunakan stik usb, emulator sega, nintendo, snes dan gba pun bisa dimainkan di S60 device. Di handphone. Ya mencoba untuk menghibur diri di tengah kesuntukan yang teramat parah. Jika ada waktu saya benar-benar mengulas masalah emulasi-emulasi ini. Percayalah mereka sangat menyenangkan.

Ok that’s al for now, from nowhere, Jon is reporting. :p