Dunia Fana dan Akhirat yang Abadi

Saat berjalan ke MRT Dakota barusan tiba-tiba saya terpikir ingin sekolah pilot. Rasanya senang sekali bisa menerbangkan pesawat ke mana kita mau (tidak sebebas itu juga sih). Namun sekejap saya pun berpikir jadi pilot itu kan berbahaya. Bagaimana jika jatuh? Bisa-bisa saya mati.

Bicara takut mati, jangankan saat naik pesawat, saat duduk santai pun jika sudah ajalnya orang bisa dijemput. Tak usah terbang, berkendara motor (salah satu kegiatan favorit yang  sudah lama tak saya lakukan) pun bahkan bisa jadi lebih berbahaya.

Dalam Islam ada 3 hal pasti yang sudah ditentukan Allah. Jodoh, lahir dan kematian. Kullu nafsin dzaa iqotul maut. Masalah mati itu pasti, tapi caranya dan waktunya tak ada yang tahu. Kasarnya suka-suka malaikat saat kapan dan di mana mau menarik ruh kita sesuai dengan perintah dari Allah Swt.

Berhubung  mati itu mutlak waktunya rahasia, idealnya kita harus siap setiap waktu setiap saat. Tabungan amal shalehnya jika pun tak melimpah haruslah cukup. Jangan kalah banyak dengan tabungan keburukan. Di luar hal-hal itu tinggallah kita pasrah. Meski tak dapat dipungkiri orang paling shaleh pun mungkin ada rasa takut dengan kematian. Sebab tak ada jalan kembali dari kematian.

Dunia itu adalah tempat mengumpulkan bekal untuk akhirat. Berpetualang dalam prosesnya adalah pilihan yang mubah. Sambil diiringi dengan sekolah pilot, touring kotor ke Skandinavia, backpack ke Kanada, mendaki Gunung Semeru atau sekedar snorkling di pantai Gili air tak ada salahnya. Apalagi jika semua petualangan-petualangan di atas dengan tujuan lebih mendekatkan diri pada Allah dan mengagumi kebesaran-kebesarannya.

Dalam Islam, dunia ini adalah bagian kecil kehidupan. Setelah dunia maka akan ada akhirat. Di mana kita semua yang pernah kita lakukan dan tidak kita lakukan akan dipertanggungjawabkan. Rasulullah pernah bersabda Sesungguhnya kehidupan di dunia ini laksana air yang tinggal di jari kamu apabila kamu mencelup jari kamu ke dalam lautan yang luas. Sisanya adalah akhirat.

PS: Saya sendiri masih meragukan keinginan sekolah pilot tadi adalah serius atau sekedar celotehan hati absurd di pagi hari. Ditulis pada tanggal 31 Mei 2013 dalam perjalanan dari Dakota ke Haw Par Villa

Hari Tanpa Tembakau Sedunia


Enam tahun lalu saya pernah membuat tulisan yang bertema sama. Di hari ini di peringatan yang sama ada buah pikiran serupa yang meminta untuk dituliskan.

World-No-Tobacco-DaySalah satu hal yang saya kurang suka dari kondisi di Indonesia adalah dominasi perokok. Perokok  merokok dengan bebasnya di mana pun dia mau. Tak masalah jika ia merokok di area pribadinya. Namun bukan hal yang jarang perokok pun merokok di area publik sehingga merampas hak-hak orang. Contohnya di kendaraan umum, di restoran dan bahkan di mesjid.


Hingga hari ini belum ada bukti ilmiah yang membantah bahaya bahaya rokok. Dengan tingkat bahayanya yang tinggi, secara hukum Islam rokok adalah 100% mudarat. Artinya rokok sebenarnya bisa dikategorikan haram. Sayangnya mungkin ada beberapa pemuka-pemuka Islam sendiri yang juga perokok. Sehingga mengeluarkan fatwa rokok haram secara mutlak bukanlah pilihan. Sangat ironi, negeri dengan jumlah umat Islam terbanyak di dunia juga memiliki jumlah perokok di urutan ketiga dunia. Hanya di bawah China dan India.

Ada beberapa alasan “manfaat” rokok yang sering diungkapkan. Misalnya cukai rokok dianggap memberikan pemasukan tinggi bagi negara. Lalu produksi rokok adalah proses ekonomi yang melibatkan banyak orang mulai dari petani tembakau, buruh pabrik rokok hingga pedagang. Kurang lebihnya orang yang mengangkat alasan ini ingin mengatakan bahwa pada setiap batang rokok ada hajat hidup orang banyak.

Berikut bantahan dari alasan-alasan di atas. Untuk yang pertama masalah pemasukan dari cukai. Kementrian kesehatan sendiri telah mengeluarkan informasi yang cukup mengejutkan. Ternyata pemasukan negara dari cukai rokok jauh lebih kecil dari pada pengeluaran negara karena rokok. Artinya alasan ini sudah tidak valid lagi.

Mengenai rokok yang merupakan hajat hidup orang banyak juga adalah hal yang bisa disiasati. Pada tahap awal jika seandainya produksi rokok dihentikan orang yang menggantungkan ekonomi di sini pasti kelimpungan. Namun sebenarnya tinggal cari alternatif sumber ekonomi. Petani tembakau bisa mengganti pertaniannya dengan tumbuhan lain yang lebih bermanfaat. Buruh pabrik bisa bekerja saja pada jenis-jenis industri lain yang juga banyak. Pedagang dan distributor bisa berdagang barang-barang lain. Jika kembali lagi ke agama, dalam Islam diajarkan untuk mencari sumber mata pencaharian yang halal. Dalam masalah bahaya merokok artinya orang-orang yang terlibat dalam produksi rokok berarti membantu menyebarkan sesuatu yang kurang baik. Saya mencoba menghindari untuk memutuskan halal dan haram karena itu di luar kapasitas ilmu saya. Namun seharusnya pernyataan di atas dapat diterima logika. Saya juga sadar beberapa solusi alternatif dari ekonomi rokok di atas meski mudah diucapkan tentunya tak terlalu mudah untuk dieksekusi.

Selain bantahan mengenai “manfaat” rokok di atas saya juga ingin menawarkan beberapa solusi yang dalam jangka panjang semoga bisa menekan jumlah perokok. Pertama mulai dari keluarga. Sejak dini anak-anak harus ditekankan mengenai bahaya merokok. Tentu saja ini artinya orang tuanya pun dua-duanya tidak boleh ada yang perokok. Oleh karena itu untuk kebaikan di masa depan alangkah baiknya orang-orang bisa menambah kriteria tidak merokok dalam mencari pasangan. Sebab ini adalah salah satu cara untuk mencegah bertambahnya generasi perokok. Bayangkan saja, akan sangat sulit seorang ayah perokok untuk menegur anaknya yang masih kecil namun ketahuan sudah merokok karena pergaulannya.

Kedua, tambahkan intensitas kampanye anti merokok dan aturan atau undang-undang untuk membatasi pergerakan perokok. Solusi ini membutuhkan keterlibatan pemerintah. Eksekusinya misalnya iklan, selebaran tentang bahaya merokok termasuk gambar-gambar bahaya merokok di bungkus rokok sendiri. Tanda larangan merokok yang lebih besar dan mencolok di tempat-tempat umum termasuk kendaraan umum juga perlu ditambhakn. Sebab nampaknya tanda larangan merokok yang ada sekarang masih kurang besar bagi para perokok.

Dari sisi perundang-undangan sebenarnya sudah dirilis beberapa peraturan di beberapa kota yang melarang orang untuk merokok di gedung-gedung kantor. Misalnya Perda DKI Jakarta No. 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara yang mengancam denda sampai 50.000.000 rupiah untuk orang yang merokok di kawasan terlarang. Namun nampaknya dibutuhkan peraturan yang lebih kuat dari sekedar perda.

Hal lain yang bisa juga dilakukan adalah menaikkan harga rokok setinggi mungkin misalnya dengan menambah lagi nilai cukainya hingga harga rokok akan sangat mahal bagi kebanyakan orang. Sehingga pada akhirnya diharapkan orang akan berpikir berkali-kali untuk menjadi perokok.

Secara internasional ada sebuah perjanjian mengenai pembatasan peredaran tembakau di bawah konstitusi badan PBB WHO yang bernama WHO Framework Convention on Tobacco Control sejak tahun 2003. Hingga saat ini sudah 168 negara yang berpartisipasi dan Indonesia bukan diantaranya. Namun baru saja saya melihat berita di Channel NewsAsia, menteri kesehatan menyatakan kemungkinan Indonesia untuk menandatangani perjanjian itu tahun depan.

Bagaimanapun pada dasarnya tulisan ini tidak bermaksud menyerang perokok. Merokok atau tidak merokok adalah hak setiap orang. Namun orang yang tidak merokok juga punya hak untuk menikmati fasilitas publik tanpa terganggu asap rokok. Selamat hari tanpa tembakau sedunia.

Sebuah Doa untuk Penjarah

Kemarin sore saya memutuskan pulang ke rumah dari kantor meski weekdays belum habis. Saya pulang karena harus packing barang-barang untuk rencana jalan-jalan saya. Biasanya jika harus pulang ke rumah saya selalu menunggu Adzan Maghrib di kantor agar tidak repot harus sholat di jalan. Namun kemarin kebetulan semua pekerjaan sudah beres sehingga saya putuskan pulang dan akan sholat Maghrib di jalan saja. Setelah merayapi kemacetan Jakarta di sore hari, adzan Maghrib berkumandang ketika saya berada di daerah Kramat Jati. Saya akhirnya memutuskan berhenti di Pom Bensin Pertamina sebelum perempatan HEK.

Seperti mushola-mushola pom bensin yang lain, mushola di tempat tersebut berukuran tidak terlalu besar. Sehingga beberapa orang yang ingin sholat harus mengantri. Setelah menunggu satu kloter, akhirnya saya kebagian jatah untuk sholat Maghrib. Ukuran mushola yang sempit hanya cukup untuk 2 shaf dengan sekitar 5 orang pershafnya. Seperti biasa, dengan segala cara saya selalu berusaha agar bisa menempatkan tas di tempat yang terawasi. Setelah sholat selesai tak lama kloter berikutnya langsung iqamah sehingga kami semua langsung bergegas keluar.

Saat saya keluar kemudian mengambil sesuatu tiba-tiba seorang yang mungkin sekitar 2 atau 3 tahun lebih muda dari saya terlihat panik. Dia bertanya apakah ada yang melihat tasnya. Ternyata ia ceroboh menyimpan tasnya di belakang saat sholat. Sehingga sepertinya sesaat setelah sholat bubar ada orang yang mencuri tas tersebut. Dengan wajah yang terlihat panik bertanya ke orang-orang sekitar sana. Iba juga hati saya melihatnya. Akhirnya setelah sekitar 10 menit orang itu mondar-mandir terlihat dia sudah pasrah. Iseng saya pun bertanya apakah ada barang berharga seperti dompet di simpan dalam tasnya. Kemudian dia pun membalas, dompetnya di simpan di kantung celana, namun di dalam tasnya tersebut ada sebuah laptop. Langsung sedikit berdesir juga hati saya. Tak terbayang semurah-murahnya laptop pasti dalam orde harga juta. Si pria itu kemudian pamit meski dengan paras yang terlihat cukup kesal. Lalu saya pun melanjutkan perjalanan meski kemudian berhenti lagi di sebuah tempat makan.

Di sepanjang jalan saya masih tak habis pikir ada orang sedemikian jahat mencuri hak orang lain apalagi orang lain tersebut dalam kondisi ingin beribadah. Terlepas dari kecerobohan pria si pemilik tas yang tidak menyimpan tasnya pada kondisi aman, secara mutlak hati saya melaknati si pencuri tersebut sepanjang jalan. Ketika kemudian akhirnya saya mampir di tempat makan, saya curhatkan kejadian ini ke facebook. Tak lama Mas Bayu, teman saya di club motor merespon suatu komentar yang agak beda dari sumpah serapah yang ingin saya muntahkan. “Iyaaa… Mas…. Semoga harta. Jarahan tersebut berguna bagi yg mengambilnya… Amieenn…”. Dengan heran saya mengomentari balik “Kok didoakan malah berguna mas? Bukannya itu barang curian ya? Hehe.” Lalu dibalas lagi “Yupppss… Dan semoga yg punya tas diberikan ganti yg berlebih… Karena semuanya itu sudah diatur dari sananya mas… Hehehehee…. Sotoy yaks… Still positif thinking aja… Ikhlas…”. Hingga dini hari ini hati saya masih berontak mengenai kejahatan yang telah diperbuat si penjarah. Namun setelah dipikir-pikir statement Mas Bayu tersebut memang ada benarnya juga. Ya semuanya hal besar dan kecil telah diatur oleh Allah Swt. Setiap kejadian baik dan buruk harus kita terima dengan ikhlas. Selalu ada hikmah juga dari setiap kejadian yang kita alami. Pada akhirnya tetap, sebisa mungkin harus preventif dalam keamanan diri sendiri. Waspadalah, waspadalah. 🙂

Traveling Solo vs. Traveling Group

Maksud post ini bukan traveling ke Solo ya. Tapi membahas jalan-jalan sendirian or solitaire versus rame-rame. Please, sebelum lanjut baca jangan judge saya sebagai orang anti sosial. Beberapa travel besar saya terakhir memang sebagian besar sendirian. Tapi saya juga adalah orang sosial. I love making friends. I love talking, I love sharing, I love to be part of group, I love laughing together atau kalau bahasa temen-temen kampus dulu “gila-gilaan” bareng-bareng.

Seperti hal-hal lain ada kelebihan dan kekurangan dari 2 mode jalan-jalan ini. Traveling solo paling cocok dilakukan jika kita memang sedang membutuhkan momen untuk sendiri. Momen kontemplasi, sedang ingin merenung, evaluasi diri, mencari inspirasi, atau ingin break away sejenak dari rutinitas yang membosankan. Atau hal lain yang sering dijadikan pelarian untuk traveling sendirian adalah saat patah hati a.k.a the journey of the broken heart (I’ve done this, seriously). Hal yang paling enak dari jalan-jalan sendiri adalah bebas untuk menentukan destinasi, itinerary, masalah waktu dan semuanya. Totally free. Jalan-jalan sendiri kita tidak akan dipusingkan dengan perbedaan pendapat antara member perjalanan dalam memutuskan satu hal. Semuanya bebas terserah kita sendiri. Kekurangan dari traveling solo ini adalah masalah budgeting akomodasi dan transportasi yang mungkin akan lebih mahal karena tidak bisa patungan. Kecuali jika kita mau benar total adventure dengan nenda pinggir pantai atau tidur di mobil. Kekurangan kedua yang cukup terasa di era social networking dan sharing adalah berhubung jalan sendiri susah banget untuk bisa bikin dokumentasi foto dengan diri kita di dalamnya. Agak tengsin juga kalo terlalu sering minta fotoin ke orang. Apalagi karena saya adalah cowok, ga enak juga sudah penampilan cool dan keren tapi banci fotonya kentara banget. Salah satu cara menyiasatinya ya foto sendiri dengan pose yg mirip2. Karena terpaksa megang kamera/hp dengan satu tangan dan moto diri sendiri dengan angle yang serupa. Cara menyiasati kedua adalah bawa tripod dan foto-foto dengan timer. Tapi tetap aja rasanya aneh.

Sekarang kita bahas masalah traveling group. Hal yang paling menyenangkan dari traveling group adalah budget yang bisa dibagi-bagi. Masalah akomodasi satu kamar bisa patungan beberapa orang. Jika sewa mobil bisa dibagi-bagi juga, demikian juga dengan bensin. Masalah foto-foto sudah tidak ada problem lagi karena dari serombongan orang-orang tersebut paling tidak ada satu tumbal yang bisa dikorbankan menjadi seksi dokumentasi. Masalah sulit dari traveling bareng-bareng adalah terlalu banyak kepala terlalu banyak kemauan. Tidak sebebas jika sendiri. Misalnya saat kita masih asik di satu spot, bisa jadi member lain sudah kebosanan dan ingin rolling ke tempat berikutnya. Jika travelling yang mengharuskan jalan kaki dari satu spot ke spot lainnya speed kita akan sangat tergantung dari member-member lain. Jika yang lain hanya bisa jalan leyeh-leyeh sementara kita speed walker ya berat juga, pasti gregetan dan tak sabaran.

Pada dasarnya setiap mode traveling ada kelebihan dan kekurangannya baik solo mau pun grup. Tentunya juga tiap mode tersebut disesuikan dengan momen yang sedang terjadi atau yang tengah kita cari. Jika ingin kontemplasi ya jangan pergi rombongan. Namun jika ingin haha hihi juga jangan pergi sendirian. Bisa gawat jika kita haha hihi sendirian di satu spot jalan-jalan. Insya Allah bisa langsung diciduk pengurus rumah sakit jiwa.

Happy jalan-jalan. 🙂

Etika berpendapat di Internet

Internet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari berbagai aspek kehidupan kita. Hal tersebut semakin niscaya saat internet sekarang ada di era yang disebut web 2.0 seperti sekarang. Web 2.0 punya definisi teknis dan non teknis. Kita akan membahas pengertian non teknisnya saja. Berbeda saat pada masa awal internet, sebagian besar konten dibuat oleh pemilik web internet masing-masing. Sifatnya satu arah. Dari web ke user. Pada era web 2.0 konten internet sebagian besar justru berasal dari user internet sendiri. Sifatnya dua arah. User menggenerate konten, mempublish di internet kemudian user-user lain dapat menikmati konten-konten tersebut. Bisa saling mengkomentari dan mengidentifikasi konten dengan tag-tag tertentu.

Bentuk-bentuk spesifik implementasi web 2.0 ada beberapa contoh. Pertama adalah forum internet sebagai wadah berkumpulnya orang-orang dengan interest yang sama saling bertukar pikiran. Contoh yang paling besar di Indonesia ada kaskus. Kedua web log, semacam jurnal online yang diupdate dalam jangka waktu tertentu. Contohnya wordpress, blogger. Ketiga photo dan video sharing. Misalnya flickr dan youtube. Keempat social networking. Yang paling booming tentunya facebook, twitter, mulai naik daun juga foursquare, ada mixi di Jepang sana dan di lokal kita pun punya koprol yang belum lama diakuisisi yahoo.

Tulisan ini spesifik akan membahas masalah etika yang idealnya dipatuhi sebagai hukum yang disepakati bersama dalam proses generating konten. Berbeda dengan dulu, sekarang setiap orang bisa mempublish apa pun yang ia mau ke internet dengan teramat sangat mudah. Misalnya tulisan di blog ini, publish foto di picassa, video di youtube, atau yang paling sederhana update status di facebook dan berkicau di platform micro blogging twitter. Bahkan itu semua bisa dilakukan tanpa menyalakan komputer, bisa melalui handphone biasa dan dapat dilakukan dari mana saja selama ada koneksi internet. Namun kemudahan publikasi tersebut terkadang lupa diiringi dengan etika berpendapat yang benar. Selayaknya berpendapat di dunia nyata (dunia non maya), beropini dan membuat konten di dunia maya pun harus menggunakan cara yang tepat. Menghormati dan tidak sengaja menyinggung orang lain. Contohnya, publish tulisan di blog janganlah berupa tulisan yang merugikan atau menjelekan orang lain. Demikian juga dengan komenting di forum harus menggunakan cara yang sopan dan benar. Publish foto dan video juga jangan berupa konten yang terlarang semisal pornografi. Termasuk beropini pendek di situs microblogging pun jangan asal jeblag.

Salah satu kasus yang paling populer di twitter dalam masalah etika berpendapat/menggenerate konten ini justru terjadi pada Mario Teguh salah satu motivator yang sangat terkenal saat ini. Pada Sabtu 20 Februari 2010 di akun twitter Mario membuat posting “Wanita yang pas untuk teman pesta, clubbing, begadang sampai pagi, chitcat yang snob, merokok dan kadang mabuk, tidak mungkin direncanakan jadi istri.”. Meski saya pribadi merasa opini tersebut tidak terlalu salah namun jika dipikirkan lagi dengan masak agak kurang tepat juga cara dan tempat penyampaiannya. Ada kesan terlalu menghakimi sepihak. Setelah kejadian itu beramai-ramai orang menghujat akun Mario Teguh yang kemudian berujung ditutupnya akun tersebut.

Kasus seperti itu pun bisa terjadi pada kita. Tentunya dengan lingkup yang lebih kecil. Pelajaran berharga yang harus dipetik, berpendapat di mana pun, dengan media apa pun harus dengan cara yang benar dan tidak menyinggung orang lain dengan sengaja. Apalagi jika proses berpendapat tersebut dilakukan di media di mana semua mata bisa melihat dan semua opini bisa meledak tanpa arah. Jika ada sesuatu yang perlu diperjelas akan lebih baik dilakukan melalu PM (private message) menurut istilah agan-agan di kaskus atau japri (jalur pribadi). Dibicarakan di luar tanpa harus mempublish sesuatu yang bisa memancing kesalahpahaman. Lidah itu lebih tajam dari pisau demikian juga jari kita bisa lebih berbahaya dari golok :p. Jadi sebelum berbicara atau mengetik sesuatu sebaiknya dipikirkan dengan baik-baik. Tulisan ini tidak bermaksud menyerang siapa pun. Jika memang perlu dilakukan tukar pendapat saya akan sangat menghargainya. Regards. 🙂

Make it Happen

Mungkin kau kecewa
Semua datang yang tak kau minta
Namun ini semua kenyataan kita

Waktu kita lelah dalam menjalani
Semua macam kisah dalam hidup ini
Kadang kita lemah hanya mampu untuk pasrah
Saat kenyataan ga sejalan dengan harapan
Saat keyakinan hilang dalam kepahitan
Tetaplah tabah setidaknya kau mencoba
Menjadi lebih baik dalam jalani hidup ini
Janganlah resah tiada waktu menjawabnya

Kau harus bersabar
Semua indah pada waktunya

Sebenarnya Make it Happen adalah judul campaign di 2011 yang dicetuskan dari Billy Bone motivator yang menulis Young on Top. Kalimatnya sederhana namun sangat mengena. Setiap orang pasti memiliki kemauan. Kemudian pastinya setiap orang ingin kemauannya bisa terwujud. Lalu, pada dasarnya untuk mencapai kemauannya tersebut setiap orang akan merencana. Namun sayang seribu sayang (kalimat yang sangat jadul sekali), sebagian besar orang akan hanya berusaha sedikit sekali for make it happen. Bahkan sebagian besar orang tersebut tidak melakukan apa-apa dan hanya berharap ada keajaiban yang akan mewujudkan keinginannya begitu saja dari langit. Namun kawan, ini adalah dunia nyata ketika banyak keinginan tidak sesuai dengan kenyataan, ketika semua hal harus diupayakan. Terkadang, (seperti kata favorit saya) dengan darah dan air mata.

Langkah pertama dari untuk mewujudkan make it happen adalah, lakukan sekarang juga, jangan mencari alasan, menunggu waktu yang tepat, atau menunggu sumber daya yang tepat. Do it now and do the best. Saya adalah procrastinator (orang yang suka menunda hal-hal prioritas tinggi dan mengganti dengan hal-hal berpriotas rendah) yang kronis. Sebagai contoh kasus yang bisa dianalisa saya akan membahas tentang menulis buku. Sejak dulu salah satu cita-cita saya adalah menulis buku. Salah satu petikan yang saya karang berkaitan dengan hal tersebut adalah you only got 1/3 life when you born, another 1/3 when you married and only got complete life after writing a book. Namun sudah berapa bukukah yang sudah saya tulis? Negatif tiga. Ya saya belum menulis satu pun padahal dari dulu punya keinginan yang sangat berapi-api. Kenapa? Karena saya ingin menulis buku namun tak pernah make it happen. Saya hanya berputar terus di wacana menginginkan namun tidak beraksi untuk mewujudkan.

Dari sana sekarang bergerak ke langkah kedua, lakukan sesuatu sedikit-sedikit namun disiplin, kontinyu, konsisten dan progresif. Menulis sebuah buku sebenarnya bisa dilakukan dalam waktu luang yang cukup sedikit saja. Cukup 1 jam sehari atau bahkan setengah jam sehari. Bisa juga dengan target 1000 kata perhari atau malahan cukup 500 kata perhari. Dengan adanya measurement tersebut kita bisa mengevaluasi progress yang kita lakukan. Sudahkah saya melakukan itu? Jawabannya belum. Sebagai manusia biasa yang malasnya lebih kuat dari rajinnya untuk filosofi ini pun saya terus saja mencari alasan untuk mulai beraksi. Selalu mencari alasan untuk mau berdisiplin.

Langkah ketiga, cari teladan dan orang yang bisa mensupport. Teladan adalah orang yang akan menjadi panutan kita untuk mencapai sesuatu. Ingin menulis buku kita bisa mencari teladan penulis yang baik. Kita bisa membaca karya-karyanya. Mempelajari gaya menulisnya. Namun tetap dalam eksekusi jangan sampai terkesan menjadi penjiplak orang lain. Kita harus tetap bisa menjadi individu yang unik. Kemudian kita pun memerlukan orang yang bisa mendukung kita. Seperti saya seringkali bercerita, antusiasme manusia itu fluktuatif. Bisa sangat positif dalam satu waktu, namun bisa terjun ke palung negatif paling dalam tak lama kemudian. Support dari orang lain akan sangat berharga meski itu hanya berupa ucapan kata-kata “semangat!”. Apalagi jika pemberi support tersebut adalah orang yang penting bagi kita. Semisal istri, pacar, orang tua, guru atau sahabat.

Sementara itu dulu. Kita rangkum sejenak untuk make it happen kita harus mulai dari lakukan sekarang juga, lakukan sedikit-sedikit namun disiplin, kontinyu, konsisten dan progresif, serta yang terakhir cari teladan dan orang yang siap mendukung kita. Mohon koreksi dan masukan jika dirasa ada yang kurang (pasti sangat banya). Terakhir petikan bait di awal post adalah lirik lagu Saint Loco yang berjudul Santai Saja. Lagunya sangat ngerap namun dengan rhytem gitar yang tetap cukup terasa. Dan isinya cukup kontekstual dengan tulisan pagi ini. Semangat! Make it happen! 🙂