Dunia Fana dan Akhirat yang Abadi

Saat berjalan ke MRT Dakota barusan tiba-tiba saya terpikir ingin sekolah pilot. Rasanya senang sekali bisa menerbangkan pesawat ke mana kita mau (tidak sebebas itu juga sih). Namun sekejap saya pun berpikir jadi pilot itu kan berbahaya. Bagaimana jika jatuh? Bisa-bisa saya mati.

Bicara takut mati, jangankan saat naik pesawat, saat duduk santai pun jika sudah ajalnya orang bisa dijemput. Tak usah terbang, berkendara motor (salah satu kegiatan favorit yang  sudah lama tak saya lakukan) pun bahkan bisa jadi lebih berbahaya.

Dalam Islam ada 3 hal pasti yang sudah ditentukan Allah. Jodoh, lahir dan kematian. Kullu nafsin dzaa iqotul maut. Masalah mati itu pasti, tapi caranya dan waktunya tak ada yang tahu. Kasarnya suka-suka malaikat saat kapan dan di mana mau menarik ruh kita sesuai dengan perintah dari Allah Swt.

Berhubung  mati itu mutlak waktunya rahasia, idealnya kita harus siap setiap waktu setiap saat. Tabungan amal shalehnya jika pun tak melimpah haruslah cukup. Jangan kalah banyak dengan tabungan keburukan. Di luar hal-hal itu tinggallah kita pasrah. Meski tak dapat dipungkiri orang paling shaleh pun mungkin ada rasa takut dengan kematian. Sebab tak ada jalan kembali dari kematian.

Dunia itu adalah tempat mengumpulkan bekal untuk akhirat. Berpetualang dalam prosesnya adalah pilihan yang mubah. Sambil diiringi dengan sekolah pilot, touring kotor ke Skandinavia, backpack ke Kanada, mendaki Gunung Semeru atau sekedar snorkling di pantai Gili air tak ada salahnya. Apalagi jika semua petualangan-petualangan di atas dengan tujuan lebih mendekatkan diri pada Allah dan mengagumi kebesaran-kebesarannya.

Dalam Islam, dunia ini adalah bagian kecil kehidupan. Setelah dunia maka akan ada akhirat. Di mana kita semua yang pernah kita lakukan dan tidak kita lakukan akan dipertanggungjawabkan. Rasulullah pernah bersabda Sesungguhnya kehidupan di dunia ini laksana air yang tinggal di jari kamu apabila kamu mencelup jari kamu ke dalam lautan yang luas. Sisanya adalah akhirat.

PS: Saya sendiri masih meragukan keinginan sekolah pilot tadi adalah serius atau sekedar celotehan hati absurd di pagi hari. Ditulis pada tanggal 31 Mei 2013 dalam perjalanan dari Dakota ke Haw Par Villa

Hari Tanpa Tembakau Sedunia


Enam tahun lalu saya pernah membuat tulisan yang bertema sama. Di hari ini di peringatan yang sama ada buah pikiran serupa yang meminta untuk dituliskan.

World-No-Tobacco-DaySalah satu hal yang saya kurang suka dari kondisi di Indonesia adalah dominasi perokok. Perokok  merokok dengan bebasnya di mana pun dia mau. Tak masalah jika ia merokok di area pribadinya. Namun bukan hal yang jarang perokok pun merokok di area publik sehingga merampas hak-hak orang. Contohnya di kendaraan umum, di restoran dan bahkan di mesjid.


Hingga hari ini belum ada bukti ilmiah yang membantah bahaya bahaya rokok. Dengan tingkat bahayanya yang tinggi, secara hukum Islam rokok adalah 100% mudarat. Artinya rokok sebenarnya bisa dikategorikan haram. Sayangnya mungkin ada beberapa pemuka-pemuka Islam sendiri yang juga perokok. Sehingga mengeluarkan fatwa rokok haram secara mutlak bukanlah pilihan. Sangat ironi, negeri dengan jumlah umat Islam terbanyak di dunia juga memiliki jumlah perokok di urutan ketiga dunia. Hanya di bawah China dan India.

Ada beberapa alasan “manfaat” rokok yang sering diungkapkan. Misalnya cukai rokok dianggap memberikan pemasukan tinggi bagi negara. Lalu produksi rokok adalah proses ekonomi yang melibatkan banyak orang mulai dari petani tembakau, buruh pabrik rokok hingga pedagang. Kurang lebihnya orang yang mengangkat alasan ini ingin mengatakan bahwa pada setiap batang rokok ada hajat hidup orang banyak.

Berikut bantahan dari alasan-alasan di atas. Untuk yang pertama masalah pemasukan dari cukai. Kementrian kesehatan sendiri telah mengeluarkan informasi yang cukup mengejutkan. Ternyata pemasukan negara dari cukai rokok jauh lebih kecil dari pada pengeluaran negara karena rokok. Artinya alasan ini sudah tidak valid lagi.

Mengenai rokok yang merupakan hajat hidup orang banyak juga adalah hal yang bisa disiasati. Pada tahap awal jika seandainya produksi rokok dihentikan orang yang menggantungkan ekonomi di sini pasti kelimpungan. Namun sebenarnya tinggal cari alternatif sumber ekonomi. Petani tembakau bisa mengganti pertaniannya dengan tumbuhan lain yang lebih bermanfaat. Buruh pabrik bisa bekerja saja pada jenis-jenis industri lain yang juga banyak. Pedagang dan distributor bisa berdagang barang-barang lain. Jika kembali lagi ke agama, dalam Islam diajarkan untuk mencari sumber mata pencaharian yang halal. Dalam masalah bahaya merokok artinya orang-orang yang terlibat dalam produksi rokok berarti membantu menyebarkan sesuatu yang kurang baik. Saya mencoba menghindari untuk memutuskan halal dan haram karena itu di luar kapasitas ilmu saya. Namun seharusnya pernyataan di atas dapat diterima logika. Saya juga sadar beberapa solusi alternatif dari ekonomi rokok di atas meski mudah diucapkan tentunya tak terlalu mudah untuk dieksekusi.

Selain bantahan mengenai “manfaat” rokok di atas saya juga ingin menawarkan beberapa solusi yang dalam jangka panjang semoga bisa menekan jumlah perokok. Pertama mulai dari keluarga. Sejak dini anak-anak harus ditekankan mengenai bahaya merokok. Tentu saja ini artinya orang tuanya pun dua-duanya tidak boleh ada yang perokok. Oleh karena itu untuk kebaikan di masa depan alangkah baiknya orang-orang bisa menambah kriteria tidak merokok dalam mencari pasangan. Sebab ini adalah salah satu cara untuk mencegah bertambahnya generasi perokok. Bayangkan saja, akan sangat sulit seorang ayah perokok untuk menegur anaknya yang masih kecil namun ketahuan sudah merokok karena pergaulannya.

Kedua, tambahkan intensitas kampanye anti merokok dan aturan atau undang-undang untuk membatasi pergerakan perokok. Solusi ini membutuhkan keterlibatan pemerintah. Eksekusinya misalnya iklan, selebaran tentang bahaya merokok termasuk gambar-gambar bahaya merokok di bungkus rokok sendiri. Tanda larangan merokok yang lebih besar dan mencolok di tempat-tempat umum termasuk kendaraan umum juga perlu ditambhakn. Sebab nampaknya tanda larangan merokok yang ada sekarang masih kurang besar bagi para perokok.

Dari sisi perundang-undangan sebenarnya sudah dirilis beberapa peraturan di beberapa kota yang melarang orang untuk merokok di gedung-gedung kantor. Misalnya Perda DKI Jakarta No. 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara yang mengancam denda sampai 50.000.000 rupiah untuk orang yang merokok di kawasan terlarang. Namun nampaknya dibutuhkan peraturan yang lebih kuat dari sekedar perda.

Hal lain yang bisa juga dilakukan adalah menaikkan harga rokok setinggi mungkin misalnya dengan menambah lagi nilai cukainya hingga harga rokok akan sangat mahal bagi kebanyakan orang. Sehingga pada akhirnya diharapkan orang akan berpikir berkali-kali untuk menjadi perokok.

Secara internasional ada sebuah perjanjian mengenai pembatasan peredaran tembakau di bawah konstitusi badan PBB WHO yang bernama WHO Framework Convention on Tobacco Control sejak tahun 2003. Hingga saat ini sudah 168 negara yang berpartisipasi dan Indonesia bukan diantaranya. Namun baru saja saya melihat berita di Channel NewsAsia, menteri kesehatan menyatakan kemungkinan Indonesia untuk menandatangani perjanjian itu tahun depan.

Bagaimanapun pada dasarnya tulisan ini tidak bermaksud menyerang perokok. Merokok atau tidak merokok adalah hak setiap orang. Namun orang yang tidak merokok juga punya hak untuk menikmati fasilitas publik tanpa terganggu asap rokok. Selamat hari tanpa tembakau sedunia.

Sebuah Doa untuk Penjarah

Kemarin sore saya memutuskan pulang ke rumah dari kantor meski weekdays belum habis. Saya pulang karena harus packing barang-barang untuk rencana jalan-jalan saya. Biasanya jika harus pulang ke rumah saya selalu menunggu Adzan Maghrib di kantor agar tidak repot harus sholat di jalan. Namun kemarin kebetulan semua pekerjaan sudah beres sehingga saya putuskan pulang dan akan sholat Maghrib di jalan saja. Setelah merayapi kemacetan Jakarta di sore hari, adzan Maghrib berkumandang ketika saya berada di daerah Kramat Jati. Saya akhirnya memutuskan berhenti di Pom Bensin Pertamina sebelum perempatan HEK.

Seperti mushola-mushola pom bensin yang lain, mushola di tempat tersebut berukuran tidak terlalu besar. Sehingga beberapa orang yang ingin sholat harus mengantri. Setelah menunggu satu kloter, akhirnya saya kebagian jatah untuk sholat Maghrib. Ukuran mushola yang sempit hanya cukup untuk 2 shaf dengan sekitar 5 orang pershafnya. Seperti biasa, dengan segala cara saya selalu berusaha agar bisa menempatkan tas di tempat yang terawasi. Setelah sholat selesai tak lama kloter berikutnya langsung iqamah sehingga kami semua langsung bergegas keluar.

Saat saya keluar kemudian mengambil sesuatu tiba-tiba seorang yang mungkin sekitar 2 atau 3 tahun lebih muda dari saya terlihat panik. Dia bertanya apakah ada yang melihat tasnya. Ternyata ia ceroboh menyimpan tasnya di belakang saat sholat. Sehingga sepertinya sesaat setelah sholat bubar ada orang yang mencuri tas tersebut. Dengan wajah yang terlihat panik bertanya ke orang-orang sekitar sana. Iba juga hati saya melihatnya. Akhirnya setelah sekitar 10 menit orang itu mondar-mandir terlihat dia sudah pasrah. Iseng saya pun bertanya apakah ada barang berharga seperti dompet di simpan dalam tasnya. Kemudian dia pun membalas, dompetnya di simpan di kantung celana, namun di dalam tasnya tersebut ada sebuah laptop. Langsung sedikit berdesir juga hati saya. Tak terbayang semurah-murahnya laptop pasti dalam orde harga juta. Si pria itu kemudian pamit meski dengan paras yang terlihat cukup kesal. Lalu saya pun melanjutkan perjalanan meski kemudian berhenti lagi di sebuah tempat makan.

Di sepanjang jalan saya masih tak habis pikir ada orang sedemikian jahat mencuri hak orang lain apalagi orang lain tersebut dalam kondisi ingin beribadah. Terlepas dari kecerobohan pria si pemilik tas yang tidak menyimpan tasnya pada kondisi aman, secara mutlak hati saya melaknati si pencuri tersebut sepanjang jalan. Ketika kemudian akhirnya saya mampir di tempat makan, saya curhatkan kejadian ini ke facebook. Tak lama Mas Bayu, teman saya di club motor merespon suatu komentar yang agak beda dari sumpah serapah yang ingin saya muntahkan. “Iyaaa… Mas…. Semoga harta. Jarahan tersebut berguna bagi yg mengambilnya… Amieenn…”. Dengan heran saya mengomentari balik “Kok didoakan malah berguna mas? Bukannya itu barang curian ya? Hehe.” Lalu dibalas lagi “Yupppss… Dan semoga yg punya tas diberikan ganti yg berlebih… Karena semuanya itu sudah diatur dari sananya mas… Hehehehee…. Sotoy yaks… Still positif thinking aja… Ikhlas…”. Hingga dini hari ini hati saya masih berontak mengenai kejahatan yang telah diperbuat si penjarah. Namun setelah dipikir-pikir statement Mas Bayu tersebut memang ada benarnya juga. Ya semuanya hal besar dan kecil telah diatur oleh Allah Swt. Setiap kejadian baik dan buruk harus kita terima dengan ikhlas. Selalu ada hikmah juga dari setiap kejadian yang kita alami. Pada akhirnya tetap, sebisa mungkin harus preventif dalam keamanan diri sendiri. Waspadalah, waspadalah. 🙂

Traveling Solo vs. Traveling Group

Maksud post ini bukan traveling ke Solo ya. Tapi membahas jalan-jalan sendirian or solitaire versus rame-rame. Please, sebelum lanjut baca jangan judge saya sebagai orang anti sosial. Beberapa travel besar saya terakhir memang sebagian besar sendirian. Tapi saya juga adalah orang sosial. I love making friends. I love talking, I love sharing, I love to be part of group, I love laughing together atau kalau bahasa temen-temen kampus dulu “gila-gilaan” bareng-bareng.

Seperti hal-hal lain ada kelebihan dan kekurangan dari 2 mode jalan-jalan ini. Traveling solo paling cocok dilakukan jika kita memang sedang membutuhkan momen untuk sendiri. Momen kontemplasi, sedang ingin merenung, evaluasi diri, mencari inspirasi, atau ingin break away sejenak dari rutinitas yang membosankan. Atau hal lain yang sering dijadikan pelarian untuk traveling sendirian adalah saat patah hati a.k.a the journey of the broken heart (I’ve done this, seriously). Hal yang paling enak dari jalan-jalan sendiri adalah bebas untuk menentukan destinasi, itinerary, masalah waktu dan semuanya. Totally free. Jalan-jalan sendiri kita tidak akan dipusingkan dengan perbedaan pendapat antara member perjalanan dalam memutuskan satu hal. Semuanya bebas terserah kita sendiri. Kekurangan dari traveling solo ini adalah masalah budgeting akomodasi dan transportasi yang mungkin akan lebih mahal karena tidak bisa patungan. Kecuali jika kita mau benar total adventure dengan nenda pinggir pantai atau tidur di mobil. Kekurangan kedua yang cukup terasa di era social networking dan sharing adalah berhubung jalan sendiri susah banget untuk bisa bikin dokumentasi foto dengan diri kita di dalamnya. Agak tengsin juga kalo terlalu sering minta fotoin ke orang. Apalagi karena saya adalah cowok, ga enak juga sudah penampilan cool dan keren tapi banci fotonya kentara banget. Salah satu cara menyiasatinya ya foto sendiri dengan pose yg mirip2. Karena terpaksa megang kamera/hp dengan satu tangan dan moto diri sendiri dengan angle yang serupa. Cara menyiasati kedua adalah bawa tripod dan foto-foto dengan timer. Tapi tetap aja rasanya aneh.

Sekarang kita bahas masalah traveling group. Hal yang paling menyenangkan dari traveling group adalah budget yang bisa dibagi-bagi. Masalah akomodasi satu kamar bisa patungan beberapa orang. Jika sewa mobil bisa dibagi-bagi juga, demikian juga dengan bensin. Masalah foto-foto sudah tidak ada problem lagi karena dari serombongan orang-orang tersebut paling tidak ada satu tumbal yang bisa dikorbankan menjadi seksi dokumentasi. Masalah sulit dari traveling bareng-bareng adalah terlalu banyak kepala terlalu banyak kemauan. Tidak sebebas jika sendiri. Misalnya saat kita masih asik di satu spot, bisa jadi member lain sudah kebosanan dan ingin rolling ke tempat berikutnya. Jika travelling yang mengharuskan jalan kaki dari satu spot ke spot lainnya speed kita akan sangat tergantung dari member-member lain. Jika yang lain hanya bisa jalan leyeh-leyeh sementara kita speed walker ya berat juga, pasti gregetan dan tak sabaran.

Pada dasarnya setiap mode traveling ada kelebihan dan kekurangannya baik solo mau pun grup. Tentunya juga tiap mode tersebut disesuikan dengan momen yang sedang terjadi atau yang tengah kita cari. Jika ingin kontemplasi ya jangan pergi rombongan. Namun jika ingin haha hihi juga jangan pergi sendirian. Bisa gawat jika kita haha hihi sendirian di satu spot jalan-jalan. Insya Allah bisa langsung diciduk pengurus rumah sakit jiwa.

Happy jalan-jalan. 🙂

Etika berpendapat di Internet

Internet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari berbagai aspek kehidupan kita. Hal tersebut semakin niscaya saat internet sekarang ada di era yang disebut web 2.0 seperti sekarang. Web 2.0 punya definisi teknis dan non teknis. Kita akan membahas pengertian non teknisnya saja. Berbeda saat pada masa awal internet, sebagian besar konten dibuat oleh pemilik web internet masing-masing. Sifatnya satu arah. Dari web ke user. Pada era web 2.0 konten internet sebagian besar justru berasal dari user internet sendiri. Sifatnya dua arah. User menggenerate konten, mempublish di internet kemudian user-user lain dapat menikmati konten-konten tersebut. Bisa saling mengkomentari dan mengidentifikasi konten dengan tag-tag tertentu.

Bentuk-bentuk spesifik implementasi web 2.0 ada beberapa contoh. Pertama adalah forum internet sebagai wadah berkumpulnya orang-orang dengan interest yang sama saling bertukar pikiran. Contoh yang paling besar di Indonesia ada kaskus. Kedua web log, semacam jurnal online yang diupdate dalam jangka waktu tertentu. Contohnya wordpress, blogger. Ketiga photo dan video sharing. Misalnya flickr dan youtube. Keempat social networking. Yang paling booming tentunya facebook, twitter, mulai naik daun juga foursquare, ada mixi di Jepang sana dan di lokal kita pun punya koprol yang belum lama diakuisisi yahoo.

Tulisan ini spesifik akan membahas masalah etika yang idealnya dipatuhi sebagai hukum yang disepakati bersama dalam proses generating konten. Berbeda dengan dulu, sekarang setiap orang bisa mempublish apa pun yang ia mau ke internet dengan teramat sangat mudah. Misalnya tulisan di blog ini, publish foto di picassa, video di youtube, atau yang paling sederhana update status di facebook dan berkicau di platform micro blogging twitter. Bahkan itu semua bisa dilakukan tanpa menyalakan komputer, bisa melalui handphone biasa dan dapat dilakukan dari mana saja selama ada koneksi internet. Namun kemudahan publikasi tersebut terkadang lupa diiringi dengan etika berpendapat yang benar. Selayaknya berpendapat di dunia nyata (dunia non maya), beropini dan membuat konten di dunia maya pun harus menggunakan cara yang tepat. Menghormati dan tidak sengaja menyinggung orang lain. Contohnya, publish tulisan di blog janganlah berupa tulisan yang merugikan atau menjelekan orang lain. Demikian juga dengan komenting di forum harus menggunakan cara yang sopan dan benar. Publish foto dan video juga jangan berupa konten yang terlarang semisal pornografi. Termasuk beropini pendek di situs microblogging pun jangan asal jeblag.

Salah satu kasus yang paling populer di twitter dalam masalah etika berpendapat/menggenerate konten ini justru terjadi pada Mario Teguh salah satu motivator yang sangat terkenal saat ini. Pada Sabtu 20 Februari 2010 di akun twitter Mario membuat posting “Wanita yang pas untuk teman pesta, clubbing, begadang sampai pagi, chitcat yang snob, merokok dan kadang mabuk, tidak mungkin direncanakan jadi istri.”. Meski saya pribadi merasa opini tersebut tidak terlalu salah namun jika dipikirkan lagi dengan masak agak kurang tepat juga cara dan tempat penyampaiannya. Ada kesan terlalu menghakimi sepihak. Setelah kejadian itu beramai-ramai orang menghujat akun Mario Teguh yang kemudian berujung ditutupnya akun tersebut.

Kasus seperti itu pun bisa terjadi pada kita. Tentunya dengan lingkup yang lebih kecil. Pelajaran berharga yang harus dipetik, berpendapat di mana pun, dengan media apa pun harus dengan cara yang benar dan tidak menyinggung orang lain dengan sengaja. Apalagi jika proses berpendapat tersebut dilakukan di media di mana semua mata bisa melihat dan semua opini bisa meledak tanpa arah. Jika ada sesuatu yang perlu diperjelas akan lebih baik dilakukan melalu PM (private message) menurut istilah agan-agan di kaskus atau japri (jalur pribadi). Dibicarakan di luar tanpa harus mempublish sesuatu yang bisa memancing kesalahpahaman. Lidah itu lebih tajam dari pisau demikian juga jari kita bisa lebih berbahaya dari golok :p. Jadi sebelum berbicara atau mengetik sesuatu sebaiknya dipikirkan dengan baik-baik. Tulisan ini tidak bermaksud menyerang siapa pun. Jika memang perlu dilakukan tukar pendapat saya akan sangat menghargainya. Regards. 🙂

Make it Happen

Mungkin kau kecewa
Semua datang yang tak kau minta
Namun ini semua kenyataan kita

Waktu kita lelah dalam menjalani
Semua macam kisah dalam hidup ini
Kadang kita lemah hanya mampu untuk pasrah
Saat kenyataan ga sejalan dengan harapan
Saat keyakinan hilang dalam kepahitan
Tetaplah tabah setidaknya kau mencoba
Menjadi lebih baik dalam jalani hidup ini
Janganlah resah tiada waktu menjawabnya

Kau harus bersabar
Semua indah pada waktunya

Sebenarnya Make it Happen adalah judul campaign di 2011 yang dicetuskan dari Billy Bone motivator yang menulis Young on Top. Kalimatnya sederhana namun sangat mengena. Setiap orang pasti memiliki kemauan. Kemudian pastinya setiap orang ingin kemauannya bisa terwujud. Lalu, pada dasarnya untuk mencapai kemauannya tersebut setiap orang akan merencana. Namun sayang seribu sayang (kalimat yang sangat jadul sekali), sebagian besar orang akan hanya berusaha sedikit sekali for make it happen. Bahkan sebagian besar orang tersebut tidak melakukan apa-apa dan hanya berharap ada keajaiban yang akan mewujudkan keinginannya begitu saja dari langit. Namun kawan, ini adalah dunia nyata ketika banyak keinginan tidak sesuai dengan kenyataan, ketika semua hal harus diupayakan. Terkadang, (seperti kata favorit saya) dengan darah dan air mata.

Langkah pertama dari untuk mewujudkan make it happen adalah, lakukan sekarang juga, jangan mencari alasan, menunggu waktu yang tepat, atau menunggu sumber daya yang tepat. Do it now and do the best. Saya adalah procrastinator (orang yang suka menunda hal-hal prioritas tinggi dan mengganti dengan hal-hal berpriotas rendah) yang kronis. Sebagai contoh kasus yang bisa dianalisa saya akan membahas tentang menulis buku. Sejak dulu salah satu cita-cita saya adalah menulis buku. Salah satu petikan yang saya karang berkaitan dengan hal tersebut adalah you only got 1/3 life when you born, another 1/3 when you married and only got complete life after writing a book. Namun sudah berapa bukukah yang sudah saya tulis? Negatif tiga. Ya saya belum menulis satu pun padahal dari dulu punya keinginan yang sangat berapi-api. Kenapa? Karena saya ingin menulis buku namun tak pernah make it happen. Saya hanya berputar terus di wacana menginginkan namun tidak beraksi untuk mewujudkan.

Dari sana sekarang bergerak ke langkah kedua, lakukan sesuatu sedikit-sedikit namun disiplin, kontinyu, konsisten dan progresif. Menulis sebuah buku sebenarnya bisa dilakukan dalam waktu luang yang cukup sedikit saja. Cukup 1 jam sehari atau bahkan setengah jam sehari. Bisa juga dengan target 1000 kata perhari atau malahan cukup 500 kata perhari. Dengan adanya measurement tersebut kita bisa mengevaluasi progress yang kita lakukan. Sudahkah saya melakukan itu? Jawabannya belum. Sebagai manusia biasa yang malasnya lebih kuat dari rajinnya untuk filosofi ini pun saya terus saja mencari alasan untuk mulai beraksi. Selalu mencari alasan untuk mau berdisiplin.

Langkah ketiga, cari teladan dan orang yang bisa mensupport. Teladan adalah orang yang akan menjadi panutan kita untuk mencapai sesuatu. Ingin menulis buku kita bisa mencari teladan penulis yang baik. Kita bisa membaca karya-karyanya. Mempelajari gaya menulisnya. Namun tetap dalam eksekusi jangan sampai terkesan menjadi penjiplak orang lain. Kita harus tetap bisa menjadi individu yang unik. Kemudian kita pun memerlukan orang yang bisa mendukung kita. Seperti saya seringkali bercerita, antusiasme manusia itu fluktuatif. Bisa sangat positif dalam satu waktu, namun bisa terjun ke palung negatif paling dalam tak lama kemudian. Support dari orang lain akan sangat berharga meski itu hanya berupa ucapan kata-kata “semangat!”. Apalagi jika pemberi support tersebut adalah orang yang penting bagi kita. Semisal istri, pacar, orang tua, guru atau sahabat.

Sementara itu dulu. Kita rangkum sejenak untuk make it happen kita harus mulai dari lakukan sekarang juga, lakukan sedikit-sedikit namun disiplin, kontinyu, konsisten dan progresif, serta yang terakhir cari teladan dan orang yang siap mendukung kita. Mohon koreksi dan masukan jika dirasa ada yang kurang (pasti sangat banya). Terakhir petikan bait di awal post adalah lirik lagu Saint Loco yang berjudul Santai Saja. Lagunya sangat ngerap namun dengan rhytem gitar yang tetap cukup terasa. Dan isinya cukup kontekstual dengan tulisan pagi ini. Semangat! Make it happen! 🙂

Ketika Belajar dari Kesalahan Seringkali Dilebih-lebihkan

Saya sedang membaca Rework buku dari Fried dan Heinenmeir. Buku tersebut adalah sebuah buku bisnis yang sangat praktis. Saya mau sedikit menguraikan sedikit konsep gagasan yang saya dapat dari chapter awal buku. Semoga dengan menguraikan, saya bisa sedikit membagi apa yang saya peroleh dan membuat saya bisa memahami konsep itu lebih baik.

Hingga kemarin saya selalu percaya, bahwa belajar dari kesalahan adalah hal yg dapat memicu kita utk semakin meluncur ke depan untuk menjadi lebih baik lagi. Namun setelah membaca Rework sepertinya paradigma itu tidak terlalu tepat dan sering kali dilebih-lebihkan. Failure will not bring you further. You will be still in same places. Sometime you will be drawback several or more steps. Kegagalan itu bukan jalur yang benar menuju keberhasilan.

Hal yg lebih tepat adalah, justru keberhasilan yg akan membawa kita lebih maju pada keberhasilan berikutnya. Mengkompromikan kegagalan berarti membuat kita sejak awal berpikir dalam batasan “mungkin saya akan gagal”. Siap gagal mungkin terdengar bagus, namun jika dipikirkan ulang, tidak bagus sama sekali. Oke saya setuju memang kita akan belajar sesuatu dari kegagalan. Bagi anda yang kurang setuju, mungkin akan mengangkat cerita Thomas Edison saat mengalami kegagalan ribuan kali dalam memilih filamen bola lampu yg paling tepat. Pada dasarnya Edison sendiri mengatakan saya tidak gagal, saya hanya menemukan ribuan cara yang tidak berhasil. Dari sana kita bisa melihat kegagalan hanya akan membuat kita belajar apa yang harusnya tidak kita lakukan. Namun seberapa bergunakah itu? Dalam ranah penelitian mungkin masih berguna, namun bagaimana dalam ranah bisnis? Tetap saja setelah gagal kita tidak tahu apa yang harus dilakukan berikutnya.

Belajar dari keberhasilan justru adalah hal yang paling tepat. When something succeds, you know what worked, and can do it again, and for next time even you can do it better. Kegagalan tidak selalu harus menjadi awal dari kesuksesan. Jadi tak usah merasa takut dalam mencapai sesuatu pasti harus selalu diawali kegagalan. Justru banyak juga kasus ketika proses pencapaian berjalan sangat mulus, diisi keberhasilan demi keberhasilan dan setiap keberhasilan itu justru memicu keberhasilan lain dengan lebih mudah dan menghilangkan kemungkinan kegagalan karena kita tahu apa yang benar dan apa yang membuat sesuatu salah.

Sebagai penutup saya akan tulis petikan kalimat yang sangat mengena mengenai pembahasan ini. Evolution doesn’t linger on past failures, it’s always building upon what worked. Kita juga harus seperti itu.

Semoga berguna, jika tulisan ini masih kacau balau, harap maklum, saya masih belajar. Mohon maaf juga kalau banyak typos, ngetik dan publish dari hp.

Incapability of Chronical Dreamer

Posting ini ditulis sekitar 2 minggu lalu. Namun draftnya nganggur setelah ditulis hingga sekarang. Baru sempat diselesaikan pagi ini.

Kamis sore sekitar 2 minggu lalu, entah  bagaimana saya merasa tiba-tiba down dan kehilangan semangat. Sebenarnya perasaan tersebut biasa dan saya seperti manusia pada umunya sering mengalami sebelumnya. Hati manusia itu fluktuatif, kadang sedih kadang senang. Kadang semangat kadang loyo. Kita harus pintar-pintar bagaimana bisa efektif saat sedang positif dan berusaha kembali mengumpulkan semangat saat sedang negatif.

Kembali ke masalah ketidaksemangatan tadi. Setelah direnungkan saya bisa memahami penyebabnya. Sangat sederhana. Pemicunya adalah rasa ketidakmampuan. Oleh karena itu post ini saya beri judul seperti di atas. Bagi orang yang cukup mengenal saya pasti sangat paham salah satu kelebihan terbesar saya sekaligus kekurangan terbesar saya. I am a chronic dreamer. Punya mimpi pada dasarnya adalah hal yang bagus. Namun adalah hal yang fatal ketika kita terlupa bahwa dalam mengejar mimpi butuh usaha dan pengorbanan. Kamis kemarin saya langsung merasa mendadak down ketika menyadari hal-hal yang harus saya usahakan dari mimpi saya. Harus rela kurang tidur, harus mau melawan rasa takut, harus memeras otak lebih keras, harus bisa sejenak menunda kesenangan, etc. Sepertinya saya sudah merasa sangat betah di wilayah nyaman jika menurut Steven Covey. Sejenak saya merasa incapable.

Setiap manusia, sesableng apa pun, pada dasarnya ingin hidup sukses. Meski definisi sukses di sini sangat luas dan multitafsir. Saya pribadi melihat lingkup terpenting kesuksesan tersebut adalah finansial, prestasi kerja dan pendidikan serta ketentraman keluarga/rumah tangga terakhir kesuksesan akhirat . Finansial sudah cukup jelas secara sederhana setiap manusia ingin hidup pas-pasan. Pas mau beli rumah ada uangnya, pas mau traveling ke Eropa ada uangnya, pas mau beli mobil pas uangnya ada. Pas-pasan :p. Kedua, prestasi kerja menjadi penting sebab rata-rata manusia menghabiskan 1/3 waktu bangunnya untuk mencari nafkah apakah wirausaha, profesional atau menjadi pegawai. Jadi kalo gagal di situ bisa dibilang sepertiga hidupnya gagal. Ketiga, ketentraman keluarga juga penting sekali, pada dasarnya manusia hidup untuk melestarikan jenisnya. Caranya ya dengan berkeluarga. Punya istri/suami, punya anak, membersarkan anak, anak kemudian menikah lagi, dan seterusnya. Akhirat meski tak akan saya uraikan itu adalah destinasi tak terhindarkan yang pasti kita tuju cepat atau lambat.

Pertanyaan berikutnya pun muncul, apakah dosa jika kita memilih untuk hidup biasa saja dan menidurkan total ambisi yang kita miliki? Gak mau jadi kaya, saya juga ga perlu kuliah tinggi-tinggi, etc. Jawabannya tidak sama sekali. Hidup ini adalah masalah pilihan. Mau ordinary atau extra ordinary ya Glenn Fredly terserah. Tapi bicara opsi, bukankah sebaiknya kita memilih yang terbaik? Ordinary vs ekstra ordinary tentulah lebih bagus ekstra ordinary. Namun, semua itu ada harganya. No pain no gain. Harus mau berproses. Jika memilh ordinary ya memang tidak butuh pengorbanan. Bisa leyeh-leyeh, leha-leha, lena-lena, santai-santai (silakan tambahkan sendiri). Tapi ya sesuai dengan namanya, biasa saja. Kita adalah member dari kerumunan yang seragam. Tak teridentifikasi di keramaian. Jika ingin menjadi ekstra ordinary, butuh usaha dan pengorbanan, biasanya usaha dan pengorbanan tersebut sangat berat. Seperti yang dibilang tadi, ingin sukses secara finansial ya harus mau kerja ekstra keras, ingin sukses pendidikan ya harus mau tidak berhenti belajar, mau melawan rasa malas, ingin sukses dalam berkeluarga ya harus teliti memilih partner of our life. Pengen sukses di akhirat ya harus menyiapkan bekal dengan benar di dunia, hidup balance. Namun dengan kebersediaan berkorban tersebut, kita akan bisa member yang terlihat jelas di keramaian karena keunikan kita, keparipurnaan kita. Kita akan mudah teridentifikasi karena kita berbeda dari orang-orang biasa yang lain. Kita bisa memaksimalkan proses aktualisasi diri kalo menurut babeh Abraham Maslow. Jadi intinya, seperti kata saya yang paling favorit, semangat!  Harus percaya bahwa kita bisa.

Love is never easy, here in New York City

I can imagine if there’s nothing in my pocket.
But I can’t imagine if there’s no knowledge in my mind and religion in my heart.
They are others sun in my life.

Malam ini hujan turun dgn sangat deras sekali. Listrik pun kebetulan padam. Momen seperti sudah lama tidak aku rasakan. Langsung kuraih handphone ku menyetel lagu I’ll be over you milik Toto. Dengan latar hajaran suara hujan yg turun menembaki bumi, aku mulai mengetik di atas tablet. Aku ingin melakukan refleksi diri sejenak.

Sebelum listrik padam, aku tengah membaca 9 Summers 10 Autums novel Iwan Setiawan. Kata Love is never easy, here in New York City pun adalah petikan yang berasal dari buku tersebut. Aku terpaksa  berhenti membaca dengan hilangnya penerangan tanpa listrik. Meski kemudian ternyata listrik tak lama menyala kembali dan aku bisa menyelesaikan buku itu. Novel itu membawa gambaran New York City di depan mata aku. Penulis bercerita tentang kehidupannya yang dimulai dari Batu di Malang hingga bisa sampai ke NYC di Amerika Serikat. Dimulai dari kemiskinan namun dengan usaha keras dan mimpi langit pun bisa diterabas. Sekilas seperti sihir. Namun itulah hidup, selalu ada kemungkinan untuk terjadinya hal-hal yang mungkin tidak pernah kita pikirkan. Demikian juga selalu ada jalan mewujudkan mimpi kita yang paling mustahil sekali pun.

Tidak, sejak dulu aku tidak pernah terlalu berminat pergi ke Amerika Serikat. Namun cerita dari buku itu memberi sedikit stimulus untuk membuat aku memikirkan ulang hidupku sekarang dan hidupku nanti. Memikirkan di mana aku sekarang dan mengindentifikasi mau ke manakah aku melangkah.

Salah satu refleksi pertama yang  penting untuk direnungkan adalah masalah cinta. Love is never easy, here in New York City. Manusia itu punya hati. Di hati itu ada cinta. Cinta memang tidak pernah mudah baik itu di New York City, meski itu di Jonggol, meski itu di Jakarta, atau di mana pun juga.

The way love is never easy itu baru benar-benar aku rasakan sekarang. Dulu aku sering percaya cinta itu selalu manis, cinta itu selalu tulus, cinta itu selalu indah. Namun 3 bulan ini adalah masa paling berdarah dalam hidup aku. Masa ketika merasa kaki tak berpijak lagi ke bumi. Masa ketika aku merasa teramat kehilangan. Masa ketika merasa teramat dikhianati. Masa ketika aku tersadar telah dibodohi sedemikian parahnya. Namun masa ini pula adalah masa paling berarti ketika aku bisa mendapat pelajaran paling berharga dalam hidup.

Cinta bukan sekedar kecantikan fisik, kekayaan materi dan juga bukan rasa kasihan. Mencoba membangun cinta di atas 3 pondasi tersebut ibarat membangun rumah di atas pasir. Rumah akan roboh sebelum selesai. Lalu sepeti apakah cinta yang benar? Aku juga masih mencari. Secara naif mungkin akan mengatakan cinta yang benar adalah  yang hanya mengharap ridha Allah. Mungkin.

Refleksi kedua adalah perjalan mengejar mimpi. Sekali lagi untuk saat ini aku tak terlalu berminat ke Amerika. Dulu aku sangat menggebu-gebu sekali untuk kuliah ke Jepang. Namun gempa besar kemarin dengan sangat pragmatis membuat aku sedikit gentar. Padahal pada dasarnya tak permukaan bumi manapun yang akan melindungi kita dari ajal ketika waktunya tiba. Entahlah kemana pun itu, Jepang, Prancis, UK atau Belanda aku hanya ingin mulai merajut mimpi kembali. Mengejar ambisi-ambisi lama yang sempat terkubur beberapa tahun belakangan. Semoga momen patah hati ini menjadi waktu yang tepat untuk bangkit kembali.

Sejak minggu kemarin aku sudah sibuk mengurus TOEFL dan TPA. Tekad aku sudah bulat. Aku harus segera kuliah lagi. Aku ingin membangkitkan kembali yang telah terhibernasi sekian lama. Aku tahu tak ada yang mudah. Banyak hal harus diperjuangkan dengan darah dan air mata.