Mengapa Harus CBR 250R

Sepertinya sejak awal saya memang ditakdirkan menjadi rider sejati (haha lebay). Sebenarnya sih alasan yang lebih tepat karena belom mampu beli mobil. Namun bagaimana pun, ngaspal bareng motor memiliki nuansa kenikmatan tersendiri dibanding duduk santai di belakang kemudi bulat. FYI I can drive meski ga lancar, dan bahkan saya sudah punya SIM A hampir lima tahun (yang baru saya pake beberapa kali :p). Jadi ga ada kecemberuan sosial motor versus mobil di sini. Ngaspal bareng motor itu nikmat saat dapat menerpa angin, merunduk mengejar speed, berebahan di jalan berkelok, adu adrenalin saat menyalip kendaraan-kendaraan besar di jalur padat. Tak berlebihan jika ada ungkapan terkenal yang mengatakan four wheels move your body, two wheels move your soul.

Pada kesempatan ini saya akan membahas CBR 250R. Si mahkluk ini membuat saya belingsatan beberapa hari ini. Jumat 25 Februari 2011 kemarin CBR resmi diluncurkan di pasar Indonesia. CBR 250R dirilis dalam 2 versi. Versi non-ABS seharga 39.9 juta dan versi ABS 46.5 juta OTR Jakarta.Meski harganya sudah mendekati beberapa harga mobil bekas jadul, sejak tanggal rilis tersebut saya tetap benar-benar kalap. Kalap karena saya benar-benar jatuh cinta dan ingin memiliki sosok anggun beroda dua tersebut meski harus tetap rela kehujanan dan kepanasan. Namun saya mawas diri bukan turunan bangsawan juga tak bernama awal Raden (Raden Jon Kartago Lamida wkwkwk lucu juga) yang punya uang cukup untuk membayar lunas sang CBR. Tapi there is a will must be there is a way. Lanjut…

Barangkali CBR adalah motor premium Honda pertama yang dipasarkan secara masal. Barang baru tentunya akan mengundang rasa penasaran yang sangat besar. Setelah peluncuran Honda Indonesia langsung membuka aplikasi pemesanan online di portal welovehonda.com untuk top 250 pembeli pertama. Seperti tersihir saya langsung saja mengisi form dengan sejenak menggeser akal sehat bahwa motor ini bukan motor murah. Namun sejenak saya tak peduli sejak ramai diperbincangkan khalayak, saya sudah jatuh hati kepada motor ini. Semua orang tahu cinta itu buta (haha).

Pertanyaan berikut yang berkembang adalah kenapa harus CBR? Alasan pertama sebenarnya saya lebih naksir kakak jauh dari CBR Honda VFR 1200 (desain mereka cukup mirip). Namun harganya yang hampir 16.000 dollar minus pajak impor yang pasti gila-gilaan akan terlalu gila untuk merelisasikan mimpi itu (sejujurnya saya juga tak terlalu serius dengan igauan pertama ini).

Alasan kedua adalah CBR adalah motor global. Berbeda dengan tipe-tipe lokal atau regional, CBR akan dipasarkan keseluruh dunia dengan spesifikasi detail yang tak terlalu jauh berbeda. Sebagai contoh sekarang saya memakai V-Ixion. Saya pernah melihat V-Ixion sewaktu ke Kuala Lumpur (entah di sana namanya apa). Namun saya ragu akan ada V-Ixion di luar regional Asean. Beda kasus dengan CBR yang akan ada di seluruh penjuru dunia. Mengutip tulisan yang membahas Kawasaki Ninja yang juga adalah merk global, sama juga dengan CBR, pemilik CBR akan memiliki komunitas yang sangat luas dalam berbagi, berdiskusi dan mencari informasi terkait motor tersebut.

Alasan ketiga, CBR adalah motor yang sudah benar-benar sport dengan full fairingnya. Setiap motor memiliki nuansa rasa berbeda. Naik skuter akan beda rasa dengan naik motor bebek dana akan berbeda pula dengan naik motor sport. Motor sport dengan salah satu identifikasi utama tangki bensin besar di depan dan biasanya berkopling manual benar-benar merepresentasikan sesuatu yang sangat keren, macho dan benar-benar laki. CBR sangat mewakili feel ini. Ditambah lagi dengan full fairing tadi benar-benar menggambarkan kegagahan yang luar biasa.

Alasan keempat, CBR adalah Honda. Membangun brand itu adalah hal yang sangat berat. Honda pun membutuhkan waktu puluhan tahun untuk bisa berdiri sebagai merk yang benar-benar membekas di hati konsumen. Apalagi di Indonesia meski beberapa belas tahun Honda seakan terlalu pasif mengeluarkan produk-produk bagus, namun sebagian besar orang sudah benar-benar terpatri bahwa motor itu ya Honda. Secara ekstrim contohnya di Padang kampung halaman ayah saya bahkan orang mensubstitusi secara eksplisit kata “motor” dengan “Honda”. Saya mau ke sekolah naik motor menjadi saya mau ke sekolah naik Honda. Padahal belum tentu motornya itu Honda. Masih berkaitan dengan merk, berbeda dengan brand lain jangkauan after sales Honda di Indonesia benar-benar luas. Jadi akan terasa lebih terjamin secara tidak langsung.

Alasan kelima, mesin CBR 250cc. Semakin besar cc mesin biasanya powernya akan lebih besar dengan kompensasi konsumsi BBM yang lebih banyak dan perawatan yang lebih mahal. Artinya CBR 250 akan memiliki kesan luxurius (walaupun bisa jadi bulan-bulan depan akan berjibun CBR 250R di jalanan). Motor terakhir saya hanya berkubikasi 150 cc. Penasaran sejak dulu mencoba mesin dengan power yang lebih besar.

Alasan keenam, CBR sudah didesain dengan sangat bagus. Sebagai catatan ini adalah pendapat subjektif saya. Saya tidak mengerti mesin dan saya juga bukan orang desain. Secara fisik dan tampilan saya merasa sangat puas. Tampilan ini juga yang membuat saya sejak awal kesengsem dengan motor ini. Desain fairing adalah pas menurut saya. Tidak terlalu gemuk namun tetap terlihat cukup berisi. Speedometernya bahkan sudah digital dan cukup cantik. Buntutnya terlihat apik bagi saya.

Sektor mesin CBR 250R sudah menganut sistem injeksi satu silinder. Sekali lagi saya tidak mengerti mesin. Namun saat membandingkan injeksi versus karburator kita seharusnya sepakat dalam beberapa hal injeksi itu lebih canggih. Namun setiap teknologi pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Demikilan juga dengan jumlah silinder yang hanya satu. Di internet sejak jauh hari sebelum pembrojolan CBR 250R banyak sekali ribut-ribut yang mempertentangkan CBR versus ninja. Saya pribadi berpendapat tidak ada produk yang sempurna. Baik Ninja maupun CBR pasti punya nilai plus min masing-masing. Tergantung preferensi pribadi lebih condongnya kemana. Salah satu ribut-ribut misalnya mempermasalahkan satu silinder CBR versus dua silinder ninja. Saya pribadi tak peduli. Mau satu silinder atau tujuh silinder asalkan saya bisa ride dengan nyaman itu sudah cukup.

Lanjut ke masalah sektor rem. CBR sudah menggunakan cakram depan belakang (kebangetan motor 40 juta masih pake tromol). Versi ABS tentunya sudah menambah ABS ke pengereman. Dari sedikit yang saya paham intinya ABS itu mencegah roda mengunci ketika mengerem di jalan licin, seperti jalan becek atau pasir. Saat roda mengunci biasanya motor akan hilang kendali. Dibelokan tidak akan mau belok. Jarak henti juga akan jadi jauh (itu pun kalo tidak jatuh, amit2). Dengan ABS, sistem komputer akan membaca apakah roda terkunci atau tidak saat rem mendadak. Bila roda terkunci dan ridar mengubah arah maka ABS akan melepas rem sejenak agar motor tetap dapat terkendali. Intinya sih ABS itu perangkat safety untuk mempermudah rem mendadak di kondisi tak baik (please CMIIW kalau ada statementnya yang salah).

Hal yang kurang dari CBR adalah masalah shutter key yang masih standard kalah dengan vario dan kawan-kawan yang sudah bermagnet. Jadi agak ngeri kalau ditinggal di parkiran dan minus sistem alarm juga.

Bagian terakhir saya ingin sedikit membahas masalah pergunjingan orang-orang yang menandingkan CBR 250R dengan Ninja 250. Hal ini sebenarnya adalah hal yang sangat wajar. Melihat dari kubikasi mesin 2 motor ini terlihat mengarah pangsa pasar yang sama. Namun seperti juga banyak dibahas di internet, masing-masing motor sebenarnya memiliki sisi unik tersendiri yang tak perlu diperdebatkan. Dari beberapa komparasi yang sempat saya baca, masalah power dan top speed CBR memang kalah dari Ninja. Namun hal tersebut bukanlah masalah untuk saya. Saya bukan speed addict yang gila-gilaan. Saya masih sayang hidup yang cukup berkendara di speed yang wajar (di atas wajarnya sekali-sekali saja di jalan lurus mulus yang sepi :p). Kemudian masalah perbandingan desain Ninja yang agak gemuk dan berisi versus CBR 250R yang terlihat agak cungkring. Ini juga bukan masalah untuk saya. Saya tidak memungkiri Ninja punya desain yang gagah dan terlihat seperti moge. Pada awalnya saya pun sempat terbesit untuk memiliki sebuah Ninja. Namun hasrat tersebut tidak sebesar ketika CBR keluar dan saya benar-benar menginginkan CBR. Jadi untuk kesekian kali saya tekankan, tidak ada gunaknya ribut-ribut mempertentangkan yang mana lebih bagus Ninja versus CBR. Sebab tidak ada yang diuntungkan dengan pertentangan tersebut. Bagi individu yang mencari pilihan antara 2 motor tersebut ya silakan lakukan SWOT analysis sendiri untuk mendapat pilihan paling cocok bagi dirinya.

Demikian barangkali selintasan pemikiran saya pribadi berkaitan dengan launching CBR 250R. Saya sendiri bukan rider Ninja belum pula menjadi rider CBR 250R. Apa yang saya diskusikan di sini hanya wacana ketertarikan saya terhadap motor terbaru Honda Indonesia tersebut.

Happy Birthday Maruno

27 Februari 2009. Pada tanggal itu, lain dari biasanya aku pulang kerja dengan sangat bersemangat. Di tanggal itulah di rumahku kedatangan sosok kekar berwarna merah. Yang pada hari ini (tepat beberapa jam lalu) sudah 2 tahun sosok itu menemani hari-hariku. Dialah Maruno my red Yamaha Vixion. Yang tak lelah bersama mengaspal berpuluhribu kilometer. Happy birthday Maruno. 😀

Dua tahun bukan waktu yang sebentar untuk saling berbagi. Sejak dulu tak tahu kenapa, aku adalah tipikal orang yang sangat menyayangi benda-benda yang aku miliki. Salah satu representasi rasa sayang itu diantaranya menamai benda-benda tersebut. Mulai dari motor hingga HP. Aku pikir hal tersebut wajar. Apalagi jika benda itu baru dapat diperoleh setelah bekerja bersusah payah. Demikian juga Maruno, karena ia adalah salah satu benda termahal yang pernah aku beli dengan uang aku sendiri.

Dua tahun meski bukan waktu sebentar tapi terasa sekilas juga. Seakan baru kemarin malam, Marubo tiba di rumah. Di malam itu sepulang kerja aku begitu berbinar melihat benda merah itu telah menunggu di teras rumah. Tanpa sabar menunggu aku langsung mencoba mengaspal bersamanya malam itu. Hari dan hari, minggu dan minggu hingga bulan dan tahun waktu pun berjalan. Kami bersama di saat panas, saat hujan, saat jalan mulus, saat jalan rusak, hampir tak pernah terpisah meski hanya sehari. Ya sesekali aku naik bus. Tapi aku terlalu benci transportasi publik di negara ini dengan segala kebusukannya. Jadi meski panas dan hujan aku lebih senang bila mengaspal bersama si merah itu. Satu hal lain yang aku syukuri, dalam 2 tahun ini Alhamdulillah tak pernah sekali pun aku mengalami hal buruk bersama Maruno (amit2 jangan sampai pernah terjadi). Justru lucunya Maruno malah 2 kali tumbang ketika sedang diam. Pertama tumbang di parkiran diseruduk kerbau. Footstep belakang langsung patah dan pendingin knalpot masih penyok hingga sekarang. Kedua tumbang di halaman kantor saat aku mau membuka pagar kantor. Penutup grip gas masih agak lecet hingga kini. Selebihnya tak pernah sekalipun ada kejadian buruk.

Pernah satu kali saat pulang malam aku hampir selip ketika berjalan dengan kecepatan tinggi dan agak mengerem di jalanan berlumpur. Namun Alhamdulillah walau sempat oleng aku tak jatuh. Kedua hampir satu kali saat pulang juga seorang ABG labil yang agak syaraf berjalan dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi tiba jatuh terguling lalu terseret menyilang hanya beberapa centi meter. Jika momennya sedang buruk bisa jadi motor ABG labil itu menghantam aku dan Maruno yang berjalan cukup kencang. Namun alhamdulillah aku selamat.

Dua tahun juga sepertinya masa yang cukup lama bagiku untuk mulai bosan. Sempat pertama terpikir mengganti Maruno ketika Yamaha Byson keluar. Namun urung. Beberapa hari lalu keinginan untuk menjual Maruno muncul kembali ketika Honda meluncurkan CBR 250R. Namun justru mama memberi saran untuk tidak melepas Maruno. “Kalau mau beli motor lagi ya beli aja. Tapi yang lama jangan dijual. Sayang, harga jualnya tak seberapa, biarkan saja nanti bisa dijadikan kenangan juga.” Merasa bersalah juga telah mengkhianati Maruno. Tapi sepertinya memang sulit melepas ia karena kami telah lama bersama.

Dua tahun ini 47633 Km telah kami tempuh bersama. Top speed yang pernah kudapat sekitar 130 Km/jam. Maruno selalu minum pertamax sejak dibeli. Perjalanan terjauh adalah wakut ke pangandaran kemarin sekitar 740 Km. Happy birthday Maruno, semoga kau masih kuat menemaniku.

When The Dreamer Has Been Died

Maka bermimpilah dan biarkan Tuhan memeluk mimpi-mimpi itu

Salah satu anugrah terbesar yang aku punya sebagai manusia adalah aku dilahirkan sebagai pemimpi yang ekstrim. Misalnya, saat SMP aku sudah sering mengoceh-ngoceh kepada kawan-kawan bahwa saat suatu waktu nanti aku bisa membeli mobil pertama, mobil itu adalah Ferrari. Terlalu ekstrim bukan, bahkan kini mobil terburuk pun belum dapat aku capai, apalagi Ferrari.

Masuk SMA ketika kebanyakan teman-teman lebih berpikir untuk langsung bekerja saja kemudian menikah dari pada kuliah (sebuah cita-cita sederhana yang tak salah) aku ngotot harus kuliah dengan cara apa pun. Padahal pada waktu itu aku sadar betul tidak punya backingan dana yang terjamin untuk menjamin masalah perkuliahan itu. Tapi dengan segala baik dan buruknya ternyata aku bisa kuliah juga.

Saat kuliah aku kemudian mulai bermimpi untuk bisa lanjut S2. Bukan yang dekat-dekat pula. Aku begitu terobsesi untuk bisa pergi ke Jepang. Seperti kerasukan, sejak kuliah semester awal aku membeli buku-buku bahasa Jepang, kamus-kamus dan buku-buku kanji (yang sebagian besar dari mereka hanya sempat aku sentuh sebentar-sebentar saja). Menjelang semester akhir kuliah, sindrom pemeimpi aku semakin kronis. Aku mulai menuliskan target dan mimpi yang aku capai dalam waktu 1, 2, 3, 5 dan 10 tahun ke depan. Aku tulis dengan sedemikian rapinya dalam kertas yang aku tempel di tembok kamar. Aku juga membuat salinan dalam potongan kertas-kertas kecil yan bisa aku bawa kemana-mana. Mimpi-mimpi yang paling ekstrim yang ada di sana diantaranya bisa kuliah S2 ke Jepang tadi, menguasai bahasa Jepang, fasih bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Prancis, beli motor, beli mobil, beli rumah, nikah muda, hafal alquran, jalan-jalan ke penjuru dunia dan lain-lain. Aku sangat idealis sekali pada waktu itu. Aku selalu yakin dengan teramat kuatnya bahwa mimpi yang tertulis itu adalah peta dan kompas yang bisa menuntun kita mencapai tujuan. Hingga perlahan waktu dan kenyataan mengikis mimpi-mimpi itu secara perlahan.

Selang 3 bulan setelah lulus kuliah aku langsung ‘tersasar’ kerja ke dunia IT jadi programmer. Dunia yang lebih kejam dari dunia preman, pasar induk dan pasar modal sekalipun (statement ngaco). Canda seoarang kawan, programmer itu gajinya terkadang lebih kecil dari OB tapi stressnya sampe keubun-ubun (maaf tak ada sedikit pun maksud mendiskreditkan pekerjaan OB).

Sejak kerja entah bagaimana roda waktu berputar sangat cepat. Masa-masa awal kerja sering sekali lembur sampai malam. Sekalinya tidak lembur waktu sering habis di jalan saat pulang dan berangkat kerja. Mimpi-mimpi untuk ini dan itu sedikit terkubur oleh hasrat untuk mencari uang sebanyak-banyaknya. Padahal pada akhirnya aku tersadar tak ada dalam sejarah orang yang bisa kaya dengan hanya mengandalkan penghasilan sebagai karyawan konvensional. Dan kini sudah hampir 3 tahun sejak lulus kuliah (sejak 15 Maret 2008), dan sudah 2 tahun lebih sejak pertama kerja di tanggal 15 Juli 2008 itu (aku masih sangat ingat nuansa pekerjaan pertama pada waktu itu). Saat aku sedikit menoleh ke belakang Ya Allah aku tersadar aku bergerak sangat sedikit sekali, nyaris hanya jalan di tempat. Saat aku melihat daftar mimpi-mimpi aku, Ya Allah mereka masih sangat jauh di depan. Seakan jarak antara mereka dan aku tak berubah sejak pertama dicetuskan. Pada masa yang tak lama dari hari ini, mungkin beberapa minggu lalu, tiba-tiba aku merasa menjadi orang paling gagal sedunia. Tiba aku merasa mati, ya pemimpi ini telah mati.

Masalah kuliah S2 aku tak pernah melakukan ikhtiar apa pun jadi wajar kalo mimpi ini masih saja jauh di depan. Masalah nikah entahlah sepertinya aku semakin malas memikirkannya dengan alasan yang tak mungkin aku tulis di sini. Masalah mobil dan rumah, yang aku sadar gaji bulananku hanya masuk sesaat setiap tanggal terakhir di setiap bulan dan sering tak bertahan lama untuk kemudian menyusut dengan teramat sangat cepat. Be multilanguage person, D*mn bahasa Inggris aku saja masih carut marut dan grammar2 bahasa asing yang bertumpuk di lemari buku aku hanya dibaca oleh kecoak dan kutu-kutu. Aku capek bermimpi. Aku ingin mengubur mimpi-mimpi itu. Aku hanya ingin menjadi orang paling biasa. Namun apakah harus demikian?

Life is like a wheel terkadang di atas dan di bawah. Ungkapan general yang sudah terkenal. Mungkin sekarang aku sedang benar-benar di bawah. Tapi aku sedih karena merasa sudah terlalu lama di palung paling sulit di hidup ini. Aku sering merasa down sejak usia 24 tahun, tahun lalu. Masalah terburuk aku adalah aku tak punya tempat untuk mengkomunikasikan masalah-masalah aku. Aku punya orang tua namun karena satu dan lain hal aku merasa mereka bukan orang paling tepat untuk aku jadikan tumpuan curahan hati. Syukurlah aku masih punya Tuhan tempat aku bisa bebas mengeluhkan masalah-masalah hidup aku. Untuk yang kenal aku cukup dekat pasti tahu betapa cengengnya aku. Usually boys don’t cry but I cry a lot. Dampak terbesar dari ketidakmampuan pencurahan problem adalah stress. Dan itu rasanya sangat tidak enak.

Aku tak ingin pemimpi itu mati. Aku merasa mungkin (atau pasti) roda akan bergerak ke atas lagi. Man without will is already died before he born. If there is a will there will be a way. Saat merasa sulit aku percaya itulah warna kehidupan. Life will be boring if everything is too smooth. Life is empty if every request is granted. Orang hebat biasanya banyak ujiannya. Jadi kalau pun mati si pemimpi ini cuma mati suri kok. Paling gak koma. Mungkin satu waktu yang tak lama si pemimpi akan bangun dengan gairah yang baru. Mungkinkah aku harus nikah dulu. Barangkali setelah nikah aku bisa punya orang untuk dijadiin tempat berkeluh-kesah. Bisa punya orang untuk menyemangati aku di saat terpuruk. Tapi seperti yang aku bilang tadi bahkan menikah pun adalah salah satu masalah aku yang lain dengan alasan yang tak dapat aku tulis.

Di akhir post ini tak ada sedikit pun aku ingin mengingkari kenikamatan dan kecukupan yang aku peroleh dalam hidup ini. Aku amat sangat bersyukur atas itu semua. Post ini hanyalah refleksi kekecewaan terhadap diri sendiri. Semoga bisa menjadi penyemangat bagiku untuk bangkit lagi.

Solusi Velg Bocor

Jangan kaget atau aneh baca judul post ini. Biasanya yang bocor itu adalah ban. Namun saya mengalami velg yang bocor. Kira-kira ceritanya seperti ini. Sabar ya kalo agak panjang. Sorry juga no picture. 🙂

Sudah sekitar sebulan ban si Maruno (my red motorbike) bermasalah. Indikasinya setiap sekitar 4 atau 5 hari ban belakang sering kempis sendiri. Bahkan terkadang angin sampai sering habis. Nampaknya ada bocor halus. Berhubung sok sibuk, bocor halus itu pun saya biarkan. Coba kalo mahkluk halus pasti langsung ditangani (garing). Kebetulan di rumah ada pompa sepedah. Jadi tiap angin kurang, tinggal njot-njot tambah anginnya. Tapi itulah sikap sok sibuk tadi akhirnya berujung penyesalan.

Setelah sekitar sebulan lebih bocor halus itu didiamkan berangkatlah saya ke tukang tambal ban sepulang servis motor haris Senin 14 Februari kemarin. Kebetulan saya sedang cuti dan saya ke bengkel motor sekalian servis juga mengganti kampas rem belakang yang sudah habis. Sepulang servis saya langsung jalan ke arah Jonggol. Saya servis di Yamaha Gandoang sekitar 5 Km dari Jonggol. Sebenarnya di Jonggol pun ada bengkel resmi Yamaha. Namun entah kenapa saya sering kurang puas di bengkel itu. Maka dari itu saya lebih bela-belain jalan jauh yang penting bisa puas.

Di perjalanan pulang dari bengkel tersebut, saya memang berniat mengobati problem ban si Maruno. Namun berhubung hujan dan saya tak bawa jas hujan, saya melewati tempat tambal ban terpercaya di sekitar Cipeucang, Cileungsi 3 Km menuju Jonggol. Setelah berjalan semakin dekat ke Jonggol hujan reda, akhirnya saya mampir ke tukang tambal ban lain yang saya temui di jalan. Langsung saya adukan permasalahan ke si tukang tambal. Lalu mulailah ia menambah angin ban belakang kemudian menyiram-nyiram seputaran ban dengan air. Tak lama dia menunjukan gelembung-gelembung air di dekat pentil ban. Lalu di bongkar ban dengan tujuan mengencangkan karet si tubeless. Sekitar beberapa menit kemudian semua dipasang kembali. Nampaknya masalah teratasi. Tapi cerita kemudian tidak seperti itu. Saya langsung pulang ke rumah.

Di rumah saya langsung mandi dan siap-siap karena ada janji ketemuan dengan Dewi. Selang sekitar 2 jam, saya sudah kembali rapi dan siap mengendarai si Maruno lagi. Setelah semua siap langsung jalan. Namun baru beberapa meter jalan ada yang aneh dengan ban belakang. D*mn, kempes total. Langsung saya putar balik ke rumah dan memompa dengan pompa sepedah. Ga bener nih kerjaan si tukang tambal.

Dengan agak kesal setelah angin penuh saya langsung ngebut balik lagi ke tukang tambal tadi. Saat sampai langsung saya adukan permasalahan. Lalu ia memeriksa ban dengan menyiram-nyiram dengan air. Si tukang tambal menyatakan tak ada yang bocor. Padahal jelas-jelas tadi di rumah ban motor habis angin. Akhirnya setelah berdebat kecil saya pun pergi dari tukang tambal itu sambil berjalan ke arah Cileungsi. Di perjalanan saya kembali ke tukang tambal yang saya pikir cukup terpercaya. Saya adukan masalah saya, lalu ia langsung memeriksa ban. Kali ini dengan air sabun. Selang beberapa menit setelah si tukang tambal melumuri busa sabun ke bagian-bagian ban, ia menunjukan sebuah bagian di mana keluar gelembung-gelembung halus. Ternyata itu dia bocor halusnya. Langsunglah dipersiapkan perlengkapan tubeless. Kurang dari 20 menitan akhirnya sudah beres. Akhirnya saya merasa lega permasalahan Maruno tuntas semua. Benarkah? Ternyata tidak.

Keesokan harinya Selasa 15 Februari adalah hari libur maulid nabi. Saya seharian di rumah. Sore hari saya keluarkan motor untuk dicuci. Rutinitas cuci saya mulai dari bagian ban belakang. Saya penasaran dengan tambalan tubeless kemarin. Saya tetesi bekas tambal yang masih menonjol dengan air. Bagus. Tak ada gelembung air. Tapi tiba-tiba terdengar suara desis udara menembus air. Langsung saya siram sedikit-sedikit tempat tercurigai. D*mn bocor lagi. Dan sekarang bukan ban yang bocor. Velg bocor! Tidak!

Saya masih setengah tak percaya melihat apa yang ada di depan saya. Kok bisa? Saya langsung agak malas jika harus berpikir biaya yang harus saya keluarkan untuk masalah ini. Velg baru sepertinya bukan sesuatu yang murah. Harus ganti ban tube type lagi, juga bukan pilihan menyenangkan.

Dengan gundah saya langsung browsing di internet mengenai permasalahn ini. Sialnya tidak banyak informasi yang membantu. Dari hasil-hasil searching singkat akhirnya ada beberapa solusi.

– Beli velg baru
– Beli motor baru (saya bercanda untuk yang 2 ini)
– Ganti dengan ban tube type
– Las babet
– Lem bagian velg yang retak

Dua solusi pertama saya cuma bercanda. Solusi ganti ban tube type tidak saya ambil, karena meski ternyata ada kelemahan juga, hati lebih tenang pakai tubeless. Solusi las sempat ingin saya ambil. Beberapa orang yang saya tanya menyarankan di las babet. Saya kurang tahu detailnya seperti apa. Tapi nampaknya las babet salah satu tujuannya untuk menutupi bagian yang bocor. Tapi saya segan velg jika harus di las, takutnya bukannya bocor tertambal tapi velg malah rusak. Akhirnya solusi terakhir yang paling layak dicoba meski sebenarnya agak-agak kurang masuk akal juga. Solusi ini saya pilih setelah tukang tambal ban kepercayaan saya menyarankan solusi ini.

Lem velg yang retak tentunya tidak bisa menggunakan power glue, apalagi lem kertas atau selotip. :p Si tukang tambal ban menyarankan untuk membeli lem besi campur di toko material bangunan. Merknya dextone, harganya 8000. Di paket penjualan berisi dua tube berwarna hitam dan putih. Dua tube ini harus dicampur dengan perbandingan 1 banding 1. Setelah lem saya beli langsunglah si tukang tambal velg beraksi. Dibongkarlah velg belakang maruno. Kemudian dibersihkan bagian dalam velg tempat bocor berasal. Dari sini juga ketahuan bahwa velg agak penyok. Seperti karena menghajar lobang ketika ban sering kempes. Dari benturan itu selain membuat bibir velg agak jebleh seperti Steve Tyler, juga meretakan si bagian dalam velg sehingga semilir angin bisa keluar dari situ.

Setelah velg dibersihkan selanjutnya si Lai (nickname buat si tukang tambal ban sekaligus tukang tambal velg) mencampur lem. Kemudian mengoles perlahan ke bagian velg yang bocor. Setelah dioles rapi velg didiamkan sebentar. Sekitar 10 menit kemudian ban kembali di pasang. Si Lai lalu mengisi angin ke ban. Agak deg deg ser juga menanti hasilnya. Pusing juga kalo workaround ini ga berhasil. Setelah angin penuh, si Lai menyiram-nyiram air ke seputaran ban. Alhamdulillah nampaknya bocor velgnya berhasil tertambal. Mengenai ketahanan masih belum teruji juga. Orang baru 1 hari. Tapi sampai tadi pagi sih kelihatannya masih bagus.

Lesson learn terpenting adalah safety riding selalu. Sabar dikit kalo jalan agak-agak berlubang dan jangan di hajar-hajar. Resiko velg pun bisa rusak. Agak geli juga. Sebenarnya Sabtu malam saat pulang dari Pelabuhanratu, Dewi udah mewanti-wantiku hati-hati jangan hajar-hajar lobang sembarang, takut velg rusak. Waktu itu saya cuma hooh-hooh doank. Ehh akhirnya kejadian. Oke semoga tips yang kepanjangan ini berguna.

One Minute Manager

Selamat hari senin. Senin yang indah ini diawali dengan ngomel-ngomel ke supir angkot yang bawa mobil dengan sangat lelet. Karena sudah tidak sabar akhirnya saya turun dan pindah angkot. Lucunya sebenarnya supirnya yang nyuruh turun dan gak minta dibayar. Transit angkot lah saya di tengah-tengah jalan menuju Cileungsi. Kebetean lain adalah Jakarta selalu menyebalkan dengan kemacetannya. Bersyukurlah naik bus AC tidur barang sejenak. Dari pintu tol cibubur dan melek di cawang UKI karena ada gonjreng-gonjreng berisik di kebetean berikutnya.

Kebetean berikutnya adalah terganggu lagi dengan pengamen-pengamen bus yang berisik. Saya sadar terkadang kita tidak boleh melihat dengan sudut pandang sendiri terhadap suatu permasalahan. Kebanyakan pengamen pun mungkin akan mengaku tidak akan mau mengamen jika ada pilihan penghidupan yang lebih baik. Tapi tetap fakta bahwa keberadaan mereka mengganggu susah dihapuskan. Jadi mari berbalik ke pemerintah untuk sadar dan mencari solusi terbaik permasalahan ini.

Kembali kepada kekesalan pada pengamen, saat turun bus pun saya masih harus dongkol karena membuat saya susah lewat di lorong antar bangku. Setelah turun karena bus berhenti di jalur cepat saya menyeberang ke jalur lambat. Kembali saya teriak-teriak pada mobil Mercy ‘ngehe’ yang gak mau ngerem, udah tahu banyak yang nyebrang. Kalau ga terlalu sabaran pengen banget nimpug botol aqua yang saya bawa. Untung masih bisa sabar. Akhirnya saya tiba di kantor dengan sehat dan selamat.

Oh ya hari ini saya malas naik motor. Kemacetan Jakarta bagi saya sudah melewati batas kemanusiaan. Jadi dari pada lepas norma kemanusiaan dari diri saya dengan serampat-serempet suka-suka hati dan sekali-sekali teriak-teriak tidak jelas, lebih baik naik bus dulu minggu ini.

Sekarang beralih ke poin mengenai judul post ini. Pembaca yang budiman pasti bertanya-tanya apa relevansi judul dengan curhat-curhat tidak berguna di atas? Jawabannya tidak ada. :p One Minute Manager adalah sebuah buku laris karya Kenneth Blanchard dan Spenser Johnson. Tidak kenapa belakangan saya seperti kesambet setan manajemen sehingga menjadi tertarik terhadap topik-topik tersebut. Relevansi yang dipaksakan dari judul post ini adalah sejak semalam saya membaca buku itu dan selesai tadi di bus dengan terkantuk-kantuk. Jadi agar post ini bisa sedikit lebih berguna, saya ingin membagi poin-poin penting dari buku yang cukup tipis itu.

One minute manager bukan mengenai kita bisa menjadi manajer dalam satu menit. Namun bagaimana seorang manajer bisa efektif menjalankan tugas-tugas manajemen. One minute manager disusun dari tiga buah rahasia.

  • One Minute Goals.
  • One Minute Praisings.
  • One Minute Reprimands.

One minute goals artinya setiap targetan yang harus dicapai sebaiknya disusun dalam kalimat lugas tidak lebih dari 250 kata dan ditulis dalam selembar kertas.

One minute praisings artinya seorang manajer yang baik harus bisa ‘menangkap’ anak buah saat melakukan tugas dengan benar (atau mendekati benar) dan memberikan apresiasi. Ini berkebalikan dengan pendekatan orang-orang pada umumnya yang justru menjebak anak buah saat melakukan kesalahan.

One minute reprimands artinya saat satu ketika bawahan melakukan kesalahan, manajer tentu harus menegurnya, namun hal yang harus diperhatikan adalah teguran ditujukan pada sikap/kesalahannya bukan pada individunya.

Ketiga poin tersebut secara simbolik dilakukan dengan cepat meski mungkin tidak harus selalu persis 1 menit. Poin tentang manajemen lain yang semakin saya ingat adalah bahwa manajemen adalah mengenai delegasi dan bukan sekedar pengarahan. Manajer bukan sekedar tukang suruh-suruh dan manajer juga bukan orang yang melakukan segala hal sendiri. Manajer mengarahkan agar bawahan bisa tahu bagaimana menyelesaikan suatu tugas permasalahan sendiri.