Mengapa Harus Yamaha V-Ixion: Komparasi Dangkal Motor Sport di Indonesia

Setelah menunggu sekitar 2 minggu, akhirnya 27 Februari kemarin dealer mengantarkan Yamaha V-Ixion ke rumah. Ternyata perkiraan bahwa saya harus inden lama, karena mebayar cash, terbantahkan. Nampaknya Yamaha sudah menaikan kapasitas produksi untuk mengimbangi permintaan pasar. Pada waktu-waktu lalu, proses untuk memperoleh produk-produk Yamaha, terkenal sangat sulit. Apalagi untuk tipe-tipe laris, seperti Mio dan V-Ixion. Orang-orang harus rela menunggu berminggu-minggu untuk mendapatkan motor yang diinginkan. Belum lagi isu seringnya terdengar permainan dealer yang mendiskriminasi pembeli cash. Pembeli cash biasanya harus menunggu lebih lama lagi. Post ini akan mencoba membagi pengalaman saya dalam memutuskan untuk memboyong Yamaha V-Ixion 2009. Semoga bisa bermanfaat.

Keinginan untuk membeli motor baru sudah muncul sejak lama. Dengan pertimbangan penghematan, sejak awal saya berusaha untuk menghindari pembelian kredit. Sebab, bila dihitung, bunga kredit kendaraan motor sangat besar. Kemudian, sejak awal, tipe motor yang ingin saya beli adalah tipe sport. Alasannya, pertama mengendarai motor sport terlihat lebih maskulin. Kedua, power motor sport biasanya besar, ketiga mobilitas harian saya pulang pergi beraktivitas memakan jarak yang cukup jauh (sekitar 120 Km PP, Jakarta-Bogor). Menurut pendapat banyak orang, berkendara jarak jauh akan lebih nyaman menggunakan motor sport. Namun satu persyaratan penting lain juga harus dapat dipenuhi oleh produk yang akan saya bayar. Irit bahan bakar dan biaya perawatan.

Dari daftar kebutuhan tersebut, terciptalah daftar produk yang ada di pasaran yang harus saya pilih.
1. Honda CBR 150
2. Honda Tiger
3. Honda Megapro
4. Suzuki Thunder
5. Suzuki Satria
6. Kawasaki Ninja 250R
7. Bajaj Pulsar
8. Yamaha Scorpio

9. Yamaha V-Ixion


Pilihan pertama Honda CBR, terlihat sangat menarik. Top speed sangat tinggi, bagi perindu kecepatan, desain body yang sangat bagus dengan full fairing, size dan kapasitas mesin yang tidak terlalu besar. Beberapa hal kemudian membuat saya urung memilih Honda CBR. Pertama, harga yang terlalu mahal untuk anggaran yang saya sediakan. Kedua, CBR adalah motor impor. Saya agak mengkhawatirkan maintenance after sales yang harus saya lakukan. Dengan kondisi tersebut, CBR keluar dari daftar.


Pilihan kedua, Honda Tiger. Motor ini memang terlihat sangat mewah. Tampilan full touring, cc dan power yang sangat besar. Namun saya berpikir, bahwa harga yang harus ditebuskan untuk membayar Tiger adalah terlalu mahal. Meski tampilan body mewah, teknologi yang diusung Tiger sangat konvensional. Hal penting lain, postur saya (165 cm, 53 Kg) agak kurang balance bila harus mengendarai Tiger. Kata seorang kawan, “Jon, elo kayak Capung naik gajah kalo naik Tiger.” Tiger pun harus dicoret dari daftar.


Pilihan ketiga dan keempat langsung saya coret dari daftar. Saya kurang suka dengan desain dan spesifikasi kedua motor itu.


Pilihan kelima. Suzuki Satria sebenarnya masih mengambil konstruksi motor bebek. Namun Suzuki Satria adalah bebek yang revolusioner dan mengusung teknologi yang cukup canggih. Sehingga saya masukan dalam daftar pertimbangan. Hal-hal yang membuat saya kembali mencoret Satria adalah, pertama, dari informasi yang saya peroleh, Satria sangat boros bahan bakar. Kedua saya menginginkan motor yang benar-benar full sport dan nyaman dikendarai untuk jarak jauh. Dari yang saya lihat posisi menyemplak Satria terlihat agak kurang nyaman. Meski dulu saya sempat sangat memimpikan untuk memiliki motor ini, pada akhirnya Satria pun harus saya coret dari daftar.


Pilihan keenam, Kawasaki Ninja 250R. Jika saja motor ini bisa ditebus dengan harga di bawah 30 juta, saya mungkin akan mencoba berpikir untuk menebusnya. Namun tentu saja hal tersebut tidak benar. Kisaran harga di pasaran adalah 45 juta rupiah plus plus (please CMIIW). Sangat mahal, namun Kawasaki Ninja 250R memang bukan motor sembarangan. Setiap lewat dijalanan pasti akan ada banyak mata yang memimpikan. Meski untuk menebus benda ini akan menguras biaya perawatan yang sama mahalnya dengan harga yang harus ditebus. Anggaran memaksa saya harus mencoret motor ini dari daftar. Meski, saya tetap berharap suatu waktu, satu atau dua tahun lagi mungkin saya biasa memiliki motor gede semacam Ninja 250R ini.


Pilihan ketujuh, Bajaj Pulsar. Meski Bajaj adalah pendatang baru di ranah permotoran Indonesia, nampaknya sudah cukup banyak orang yang jatuh cinta. Pulsar memiliki teknologi yang sangat bagus. Desain Pulsar pun tidak terlalu jelek-jelek amat. Namun mindset saya yang hanya merasa nyaman untuk membeli produk yang dikeluarkan vendor yang terjamin, membuat saya urung lagi untuk memilih Pulsar.


Pilihan kedelapan, Yamaha Scorpio. Tanpa banyak saya bahas, motor ini juga saya coret dari daftar. Sama seperti Megapro dan Thunder, saya kurang suka dengan tampang motor ini. Apalagi kapasitas mesin Scorpio yang 225cc terlalu besar.

v-ixion1
Pilihan terakhir, Yamaha V-Ixion. Yamaha V-Ixion di tahun 2007. Barangkali, V-Ixion adalah motor tercanggih yang diproduksi masal oleh atpm motor di Indonesia. Sejak masa tersebut saya pun sudah sangat jatuh cinta dengan motor ini. Sampai-sampai, saya masukan keinginan untuk memiliki V-Ixion dalam daftar “wish list” saya. Desain V-Ixion terlihat sangat keren. Ini menjadi alasan utama untuk memilih V-Ixion. Teknologi sangat canggih (meski saya tidak memahami detail dari kecanggihan-kecanggihan tersebut). Dan yang terpenting, value for money, harga yang sesuai dengan nilai yang dimiliki. Saya tidak mengatakan V-Ixion berharga murah. Namun dengan uang yang saya bayarkan saya mendapatkan nilai yang sesuai. Tahun 2008, V-Ixion pun menjadi motor terbaik dalam Indonesia Motorcycle Show 2008. Tentunya meski tidak menjadi jaminan mutlak, banyak orang sudah menilai bahwa V-Ixion memang produk yang baik.

Demikian komparasi singkat dari daftar di atas. Tentu saja pendapat ini sifatnya sangat subjektif. Pilihan terakhir haruslah ditentukan oleh preferensi dari masing-masing individu. Tidak mungkin ada produk yang 100% sempurna. Masing-masing pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Sekali lagi, semoga bermanfaat.

PS: Gambar diambil dari berbagai sumber.

Narita

Februari 2011: Pesawat pun lepas landas dengan mulus dari Soekarno Hatta. Seperti dalam tabung waktu, pikiran saya berkelebat ke sana ke mari. Ber-flahback ke belakang, menerawang ke masa depan. Kurang dari beberapa jam, setelah transit, saya pun akan menjejakan kaki di Narita. Banyak sekali hal bermula dari mimpi. Dengan dorongan mewujudkan mimpi, beberapa orang bisa kuat bekerja keras mengejar dan menggeluti prosesnya. Tidak semua hal mudah juga hampir tidak ada hal yang mustahil.

Oke quote di atas hanyalah khayalan saya. Namun saya yakin dengan konsistensi dan kerja keras, khayalan dan mimpi apa pun pasti dapat diwujudkan.

Setelah beberapa waktu sempat terlupa, saya ingin kembali membangkitkan semangat untuk melanjutkan kuliah. Pada dasarnya tidak ada yang spesial dengan gelar kependidikan. Apalagi, saat ini sering terjadi ironi yang nyata ketika banyak orang ‘bergelar’ yang tidak memberikan sumbangsih apa pun dari gelar yang mereka miliki. Mungkin termasuk saya saat ini. Yang lebih sadis dan memalukan, beberapa orang bejat tanpa malu membeli gelar pendidikan demi mencapai tujuan-tujuannya. Menyedihkan dan memalukan.

Satu hal yang saya cari dalam perjalanan ini adalah menikmati proses pencarian, melihat, mempelajari, meneliti, memahami, menemukan dan mengamalkan dalam alur yang disebut belajar. Gelar adalah ekses dari proses tersebut yang sifatnya tidak terlalu fundamental. Sejak dulu ada sebuah kesenangan untuk bisa mempelajari sesuatu yang baru. Belajar tanpa paksaan namun menikmatinya sebagai sebuah aktivitas yang menyenangkan dan bahkan tercandukan. Ilmu bagi saya adalah seperti air. Di mana pada banyak waktu dan tempat saya sering merasa haus untuk bisa mereguknya.

Semua tempat adalah dapat menjadi ruang kita untuk mempelajari sesuatu. Alam pun bisa mengajarkan banyak hal kepada manusia.Namun, di dunia yang serba formal, pendidikan formal memang diperlukan. Selain sekedar masalah formalitas, pendidikan formal pun hadir dengan tujuan pengorganisiran yang lebih terstruktur. Penyediaan kurikulum yang baku, sertifikasi, pengorganisiran pengajaran dibutuhkan dan dapat tersedia karena tuntutan keformalitasan tadi. Jadi, meski tadi saya mengatakan dari alam pun bisa belajar banyak hal, mempejari sains modern, teknologi terbaru, juga diskusi-diskusi berat ilmu sosial akan lebih logis dilakukan dalam suatu institusi pendidikan formal semisal universitas.

Sebagai negara merdeka, Indonesia pun sudah ‘mencoba’ menyediakan fasilitas pendidikan bagi warga negaranya mulai dari tingkat dasar hingga pergurusan tinggi. Namun dalam tahap tertentu, saat mencoba berbicara kualitas, ada nilai-nilai tertentu yang dianggap masih kurang dari institusi pendidikan di Indonesia. Tentunya pendapat ini bukan bermaksud menunjukan ketidaknasionalisan diri. Untuk mengantisipasi hal ini, banyak individu yang kemudian lebih tertarik untuk melanjutkan studi ke luar dari Indonesia. Hal itu dilakukan diantaranya untuk mencari level kualitas yang tadi diharapkan.Toh jika melihat dari negara-negara maju lain, pada prosesnya menuju maju, mereka pun banyak mengirim anak-anak bangsa mereka ke luar negeri untuk belajar, lalu kembali untuk membangun negaranya. Keinginan untuk mengecap rasa menyebrang lintas batas negara untuk menuntut ilmu di negeri orang pun sudah menjadi salah satu mimpi terbesar saya sejak lama.

Keinginan di atas, jika dilihat sekilas seakan seperti mimpi yang dangkal. Merasakan menjejakan kaki di negeri orang. Melihat kultur mereka, mengenal keanekaragaman yang ada, mempelajari banyak hal, merasakan dinginnya udara saat salju turun dan sebagainya. Namun ‘kedangkalan’ itulah apa adanya saya. Secara sok idealis, ada juga harapan untuk menjadi individu yang dapat memberikan sumbangsih, meskipun kecil pada orang-orang di sekitar. Menjadi peneliti yang menemukan sesuatu yang bermanfaat. Sekaligus menjadi pengajar yang dapat menjelaskan dengan mudah, seusatu yang sulit. Simplify the complex thing and not complicate the simple thing.

Dari luasnya bola dunia dan ada ratusan negera di atasnya, mimpi ‘dangkal’ saya adalah untuk belajar ke Jepang. Sebuah negeri yang memang luar biasa. Pencapaian ilmu pengetahuannya, teknologinya, kekayaan kulturnya, kedisiplinannya dan segala lainnya. Akan menjadi proses yang tidak mudah. Namun, seperti telah tersirat di atas, tidak ada hal baik yang mudah dan tidak ada hal yang mustahil jika diusahakan. Ketika banyak hal berawal dari keinginan, konsistensi dan kesabaran dalam kerja keras mewujudkan keinginan akan menjadi kendaraan yang mampu menghantarkan kemanapun keinginan kita berada.

Aku dan Chevron

Judul Post yang agak kurang elegan. Setidaknya lebih baik dari pada judul untitled.

Tadi pagi nyokap sms. Ada telpon dari Uni Nel (keponakan bokap ku). Tanteku itu mengabarkan ada lowongam di Chevron dengan gaji sekitar 17 jutaan. Si nyokap dengan berapi-api menganjurkanku untuk mencoba dengan pertimbangan si uni ku tadi kemungkinan punya koneksi orang dalam.

Pikiranku pun sesaat ber-flashback ke sekitar 1 tahun lalu, persis setelah lulus kuliah. Di FE UI aku mengikuti rekruitmen Chevron tahun 2008. Siapa yang tidak tergiur, perusahaan minyak raksasa dengan jaminam karir yang sangat gemilang. Ketika hari psikotes ternyata ada ratusan dan total ribuan manusia lain se-Indonesia yang menaruh mimpi untuk membangun karir gemilang di Chevron. Hampir saru tahun kemudian, yaitu saat ini, ternyata tidak ada satu orang pun dari Chevron yang mengabarkan hasil psikotest. Ini mungkin makna halus untuk arti tidak lulus.

Kabar dari Uni ku tadi pagi kembali mengusik ingatan tadi kembali. Segera saja kubuka website experd, sebuah perusahaan rekrutmen untuk Chevron. Ternyata rekrutmen Chevron 2009 telah dibuka dan telah ditutup. Maksudnya saya sudah terlambat jika ingin mengirim aplikasi.

Tidak lama, siang hari Uni Nel pun menelpon. Menanyakan kerjaan ku saat ini, IP ku berapa, dan memintaku untuk segera mengirim aplikasi lamaran. Nampaknya ia tidak terlalu teliti melihat bahwa masa pengiriman aplikasi sudah ditutup. Aku hanya mengiakan saja. Nampaknya statement si mamah tadi pagi agak dilebih-lebihkan mengenai ketersediaan orang dalam yang memungkinkan aku mulus masuk ke Chevron. Agak tidak mungkin juga sih perusahaan multi nasional yang bisa diakal-akali.

Pada bersamaan pula aku berkhayal bisa apa saja bila punya penghasilan hingga 17 juta per bulan. Bisa beli Suzuki Satria atau Honda CS1 setiap bulan. Dalam setahun pertama bisa jadi juragan ojek. :p Imaginasi memang terlihat indah.

Satu hal yang kembali membuatku tersadar dari kabar tadi adalah mengenai pilihan karir yang harus kuambil dan kujalankan. Tidak terasa, sudah hampir 8 bulan aku bekerja. Penghasilan tidak terlalu besar, namun cukup, dan seharga dengan kontribusi yang aku berikan. Tentu saja cepat atau lambat aku arus bisa melihat peluang baru yang lebih baik. Terutama dari segi kesempatan belajar dan gaji. Mungkinkah itu di Chevron, Telkomsel, atau Shell atau di mana pun? Aku pun sesaat kembali teringat petikam singkat yang aku buat sendiri. Hal terpenting dalam bekerja adalah mengerjakan sesuatu yang kita sukai. Bila hal ini sudah terpenuhi, maka hal-hal lain seperti gaji dan kepuasan akan datang dengan sendirinya. Kedua, seberapa besar pun kita ingin mendapat penghasilan sepenuhnya ditentukan oleh diri kita sendiri. Tunjukan kualitasmu maka setiap orang pasti bersedia untuk membayar dengan harga yang sesuai.

Dari semua cerita tersebut, ada satu hal penting yang juga harus diingat. Tidak semua hal dapat dinilai dari kalkulasi materil semisal gaji. Ada banyak hal-hal yang lebih fundamental dari itu.

Posted by Wordmobi