(Gagal) menuju Beasiswa Kominfo 2011 – Part 4 (Tamat): Refleksi

In this world most thing happen not like what we want.

Life is too boring if everything happen too smooth.

Post ini adalah sekuel akhir dari curhatan proses seleksi beasiswa kominfo 2011.

Yang belum baca part 1 bisa dilihat di sini.

Yang belum baca part 2 bisa dilihat di sini.

Yang belum baca part 3 bisa dilihat di sini.

Dunia adalah tempat di mana kebanyakan kejadian tidak terjadi seperti yang kita inginkan. Apakah fakta tersebut harus membuat kita menyerah? Tentu saja tidak. Sesuatu yang terlalu mudah akan membosankan, percayalah. Meski saya pun harus sadar menghadapi tantangan bukanlah hal yang mudah. Tetap tegar ketika hal yang kita inginkan ternyata tidak tercapai juga bukan perkara gampang. Namun semua proses tersebut akan membuat kita lebih maju pada akhirnya.

Sejak lama masalah pendidikan adalah prioritas penting bagi diri saya. Salah satu alasannya adalah I feel stupid. Thats why I must never stop learning. Saya bukan pengejar gelar akademis. Saya adalah orang yang sangat menikmati proses menjadi tahu dari tak tahu. Kita bisa belajar di mana pun meski bukan di sekolah atau di kampus. Tapi pendidikan formal adalah sebuah sistem yang sudah dibangun sedemikian hingga menyajikan proses pembelajaran yang sulit disaingi oleh sistem non formal. Oleh karena itu juga sejak lulus SMA saya bertekad untuk bisa kuliah. Meski pada masa itu mewujudkan keinginan tersebut bukan perkara yang terlampau gampang juga karena saya tak punya sandaran finansial yang mapan. Tapi toh dengan berjalannya waktu semua bisa dicapai, pelan tapi pasti. Di mana ada kemauan pasti ada jalan nampaknya bukan pernyataaan yang bohong.

Sejak sebelum lulus kuliah saya sudah berikrar untuk terus kuliah sampai mentok. S2, S3 dan seterusnya. :p Namun ketika sadar belum punya pijakan finansial yang juga mapan satu-satunya cara mewujudkam mimpi tersebut adalah mencari beasiswa. Apalagi hingga detik ini saya benar-benar terobsesi untuk bisa kuliah ke luar negeri.

Bicara pendidikan sebenarnya secara kualitas meskipun ada namun perbedaannya tak terlalu signifikan antara di dalam dan luar negeri. Tapi memang tak dapat dipungkiri kesempatan bersekolah di luar negeri adalah sebuah hal yang sangat berharga. Alasan- alasannya: pertama, kita dapat berinteraksi dalam sebuah lingkungan yg heterogen, tentunya hal ini akan benar-benar bermanfaat untuk memperluas khasanah wawasan kita. Kedua, sebagai negara berkembang penting bagi kita untuk menimba ilmu ke negara lain untuk melihat bagaimana mereka bisa maju, bagaimana standar pendidikan mereka. Ketiga adalah alasan pragmatis, dunia ini luas kawan, orang-orang beragam berbeda suku bangsa dan bahasa. Dunia ini indah. Di belahan lain panas terik matahari benar-benar membakar gurun (saya tahu jarang ada kampus di tengah gurun, ini hanya ilustrasi). Sementara di tempat lain lagi salju yang selembut kapas turun di malam yang indah. Saat musim gugur daun kering berjatatuhan. Saat musim semi semua tumbuhan bermekaran dan burung-burung kecil berterbangan kegirangan. Tak inginkah kau melihatnya langsung? Itulah alasan pragmatis saya untuk bisa merasakan sekolah di luar negeri.

Proses pencarian beasiswa baru serius saya lakukan di awal tahun 2011. Saya merasa sangat bersyukur di masa tersebut saya berhasil memaksa diri saya melawan kemalasan yang biasa melanda untuk melamar beasiswa Kominfo hingga sampai ke tahap wawancara akhir.

Ada jeda panjang antara wawancara akhir dan pengumuman aplikan yang lolos. Selama masa waktu tersebut saya dengan membabi buta memeriksa website Kominfo hampir setiap hari untuk memastikan tak terlewat pengumuman akhir hasil beasiswa. Padahal gmail saya sebetulnya sudah di push ke hp. Tanpa seekstrim itu pun jika pengumuman keluar saya akan mendapat email. Namun itulah gelap mata.

Dan penantian pun usai sudah di sore hari tadi. Seorang kawan yang sesama aplikan meceritakan dia mendapat email dari kominfo. Tak lama kawan yang lain mengirim message lewat whatsapp bercerita bahwa hasil akhir sudah keluar. Dengan sedikit deg degan saya pun membuka web kominfo. Namun tak menemukan link yang dimaksud. Setelah bolak-balik mencari saya tersadar bahwa link yang dimaksud ada di banner besar yang sebelumnya mentautkan link pengumuman undangan wawancara. Saya pun langsung membuka link tersebut masih dengan sedikit berdegup. Ada 61 nama dan setelah menskim cepat tak saya temukan seorang pun dengan alphabet nama berawalan J. Gagal kah? Saya terus melihat berulang kali diantara beberapa nama teman-teman wawancara gelombang 2 yang sebagian sudah saya kenal. Ya tak ada nama saya. Saya gagal.

Perasaan gagal itu sulit diungkapkan kata-kata. Ia adalah kombinasi rasa ketidakpuasan terhadap diri sendiri, rasa kecewa, rasa ingin menarik mundur waktu untuk mengevaluasi apa yang bisa dievaluasi agar saya tak gagal, rasa hilang semangat dan rasa ingin menyendiri. Namun tentunya rasa tersebut hanya rasa yang hadir sesaat. Saya pun sadar harus tetap positif. Saya sudah melakukan yang terbaik dan inilah hasil terbaiknya. Tak perlu kecewa namun justru hanya perlu mencoba lagi.

Setelah curhat dengan beberapa teman-teman dekat alhamdulillah mendapat motivasi baru. Pikiran yang sempat mampet mulai plong kembali. Pada dasarnya semua hal sekecil apa pun sudah merupakan suratan Yang Maha Kuasa. Manusia hanya merencana namun Tuhan yang memutuskan. Mengapa manusia harus merencana jika akhirnya Tuhan memutuskan hal yang lain? Jawabannya adalah agar manusia tahu bahwa Tuhan selalu punya rencana yang jauh-jauh lebih baik.

“Jon beasiswa ente bukan gagal tapi ditunda. Tuhan pengen kamu lebih siap. Everything that doesn’t kill you will only make u stronger. Mungkin lo akan dapat beasiswa yang lebih baik.lagi. Mungkin Allah pengen lo merit dulu sebelum sekolah lagi. ” Sebagian petikan motivasi temana-teman yang sangat berharga.

Di tengah malam ini, di bawah bulan yang sangat cerah aku menyimpan sejenak bayangan Kota Delft. Mungkin nanti akan aku buka lagi. Aku akan terus menyimpan bayangan kota di belahan dunia mana pun di mana pena digital aku bisa menulis sesutu yang bermanfaat, prosesor jasmaniku bisa mempelajari ilmu yang berguna dan jiwa aku bisa memanfaatkan sejenak waktu luang untuk mengunjungi tempat-tempat indah di sana, di mana pun “sana” tersebut.

Refleksi adalah melihat diri kita secara utuh atas hal tertentu yang sudah kita lakukan, kurang dan lebihnya. Seperti melihat bayangan diri di balik cermin. Kita bisa melihat kurang atau lebihnya. Kita bisa mengidentifikasi hal yang mungkin bisa diperbaiki agar kita terlihat lebih elok. Dan cerita ini adalah salah satu bagian dari refleksi tersebut.

Selamat untuk teman-teman yang berhasil, semoga sukses selalu.

I wont give up. I will never stop until I accomplish every dream that I have. Ambitious but still moderate. See you in some beautiful country soon.

Fin. 😀

Jon Flashpack to Bali – Part 7 (Tamat): Joger dan Dreamland

29 Juni 2011

Part 1 berikut pengertian flahpack bisa dilihat di sini.

Part 2 bisa dilihat di sini.

Part 3 bisa dilihat di sini.

Part 4 bisa dilihat di sini.

Part 5 bisa dilihat di sini.

Part 6 bisa dilihat di sini.

Hari ini saya keluar hotel agak terlambat. Penyebabnya masih sangat kelelahan setelah kemarin off road seharian. Lagi pula saya harus packing barang karena harus check out sebelum jam 10.

Setelah beres packing langsung ke front office untuk check out. Saya bawa handuk mandi untuk mengambil refundable deposit 45.000. Lumayan bisa untuk bayar airport tax.


Setelah check out langsung ke mobil. Hari ini didedikasikan untuk belanja oleh-oleh. Tujuan utama adalah joger. Joger terletak di jalan raya kuta sebenarnya tak jauh dari hotel. Namun karena banyak jalan 1 arah lumanyun juga jauhnya. Joger terkenal sebagai pembuat kaos dengan kata-kata unik. Selain itu banyak juga piluhan souvenir dan aksesori lain.

Sesampai joger langsung parkir. Ya ampun ramai sangat pagi itu saat saya melihat banyak mobil yang parkir. Setelah parkir mobil langsung masuk ke dalam toko. Ya ampun ampun lebih ramai sangat sangat di dalamnya. Aneka pajangan dan sendal ada di bagian depan toko. Sementara kaus dan tas ada di bagian belakang. Setelah muter-muter beberapa waktu akhirnya membeli beberapa kaus untuk diri sayah sendiri dan masing2 satu kaos untuk my sisters. Tak lupa membelikan sebuah tas untuk mamah tercinta. Lalu beli beberapa gantungan kunci, sendal, tas dari buah kelapa yang sangat unik. Sayang sayang seribu, saya bawa duit sangat pas pasan. Tapi alhamdulillah juga sebab jika bawa uang  banyak jaminan mutu pasti ludes. Satu komentar mengenai joger adalah range harga dari barang-barangnya sangat terjangkau. Agak menyesal sudah terlanjur membeli beberapa souvenir di tempat lain. Namun tak enaknya adalah karena sangat ramai sekali pengunjung agak membuat kuta kurang nyaman dalan berbelanja.

Setelah membayar di kasir belanjaan saya senilai 300 ribu lebih, saya langsung keluar toko. Kebetulan sekali di depan joger ada tempat makan halal. Langsunglah saya makan siang ayam kalasan dan es teh manis. Sambil menunggu pesanan saya lihat ternyata ada penjual kacang bali. Ukuran besar 30.000 dan ukuran kecil 15.000. Sebuah brem 7.000 dan dua box pie susu masing 17.500. Saya tak tahu apakah ini terlalu murah atau terlalu mahal.

Selesai makan sudah cukup siang menjelang sholat zuhur. Saya pun meluncur ke selatan mencari masjid. Saya ingat ada sebuah masjid yang cukup besar di perempatan menuju airport. Setelah sholat nyemil 2 potong semangka dan langsung meluncur ke pantai dreamland.

Awalnya saya sempat ragu mengenai pergi ke dreamland. Saya harus checkin bagasi maksimal pukul 15.15. Sementara saat itu sudah pukul 13.00. Namun ya sudahlah nekat saja. Sebenarnya agak menyesal juga tidak merencanakan itinerary dengan lebih seksama. Dreamland seharus bisa saya datangi saat Sabtu ketika saya mengunjungi GWK dan Uluwatu karena letaknya yang searah. Namun ya mau diapakah bubur sudah menjadi nasi.

Saya langsung meluncur menuju arah selatan lagi dari perempatan bandara. Di perempatan pertama jika tak salah saya ambil jalan ke kanan lalu langsung mengikuti jalan Uluwatu. Dreamland ada di sebelah kanan jalan dengan gapura yang sangat kentara.

Saya sampai di dreamland pukul 13.45. Tidak ada biaya masuk pantai, namun biaya parkir mobilnya cukup cihui 15.000 saja. Biaya shower 10.000. Toilet umun 3.000. Air mineral 8.000. Saya langsung mendeklarasikan dreamland sebagai pantai mahal. Saya juga mendeklarasikan Bali sebagai tempat wisata dengan biaya toilet yang benar-benar agak kurang masuk akal. Gilingan aja, 2 kali pipis equals 1 piring gado-gado.

Saat tiba saya melihat sedang ada pembangunan yang sangat pesat di sini. Agak kurang enak juga, banyak truk lalu-lalang dan eskavator yang asyik mengaduk-aduk tanah.

Setelah sampai saya langsung menuju pantai. Jalan menuju pantai melewati banyak anak tangga menurun. Datangnya tak masalah. Namun pulangnya dijamin ngoa-ngosan tambah keringetan. Setelah sampai di pantai saya cuma larak-lirik pemandangan sebentar. Saya juga mengambil beberapa foto. Ingin meminta difotokan oleh orang lain tapi tak tahu kenapa sedang agak tengsin hari itu.

Setelah sekitar 15 menit (ya 15 menit!!) saya langsung kembali ke mobil. Saat itu sudah 14.00 dan waktunya sudah cukup mepet. Saya ngebut lagi menuju arah airport ke utara. Waktu sangat mepet karena barang-barang saya masih berserakan di bangku belakangan dan belum dipacking rapih. Lumayan akan butuh waktu beberapa menit.

Sekitar 15.00 saya sampai di gerbang airport. Setelah ambil karcis parkir saya langsung meluncur masuk mencari parkiran. Tiba-tiba di depan tempat drop off ada sesosok pria tambun berkaca mata hitam melambai-lambaikan tangan memberi isyarat untuk menepi. Saya menghiraukan orang tersebut sambil terus nyetir mencari parkiran. Siapa ya? Pikir saya dalam hati. Calo kah? Masak di Ngurah Rai ada calo. Emangnya stasiun Senen. Atau preman mau ngerampok duit. Widih, serem juga, tapi masak mau ngerampok mencolok di keramaian gitu. Tiba-tiba saya pun tersadar, astagfirullah, itu Pak Mangku si empunya mobil ini. Saya langsung ciet ngerem, buka kaca dan nengok ke belakang dia lari-lari sambil menelpon dan di saat yang sama hp saya bergetar-getar. Saya langsung cengengesan melihat dia lari-lari ke arah mobil. Saya baru ingat tadi pagi janjian dia akan ambil mobil di airport.

Saya langsung minta maaf ga ngeh kepada Pak Mangku. Sementara di balik kacamata hitamnya dia cuma mesem-mesem. Saya langsung parkir mobil untuk membereskan barang-barang. Di saat yang sama saya baru ingat di dompet saya tinggal bersisa uang kurang dari 50.000 ribu. Sementara saya harus membayar uang rental mobil dan airport tax. Saya ijin sebentar lari ke ATM. Di saat yang sama saya berpikir, gimana ya kalau itu bukan Pak Mangku asli. Terus dia bawa kabur mobil dan semua barang-barang saya. Haduh kayaknya sih nggak.

Sambil lari ke arah terminal kedatangan saya pun sudah janjian dengan istri sepupu saya. Ia ingin menitip barang bebawaan bayi untuk saudara di Bogor. Saat lari ternyata saya sudah melihat ia duduk di bangku tunggu. Ya ampun shock juga saya pikir titipannya sedikit tapi ternyata banyak banget. Setelah ngomong-ngomong sebentar saya berlari lagi ke arah ATM.

Apes, sudah diburu waktu ATM ternyata sedang direfill uang. Haduh saya melihat jam tangan sudah sangat mepet sekali waktunya. Seumur hidup naik pesawat, saya jarang memasukan barang ke bagasi. Biasanya paling hanya bawa backpack dan tas tangan yang bisa masuk kabin. Jadi saya tak tahu mekanisme yang harus dilakukan jika telat check in bagasi.

Setelah sekitar 10 menit menunggu akhirnya refill beres. Petugas ATM pun menstartup mesin ATM lagi. Haduh lama bener lagi. Setelah beres antrian di depan saya langsung bertransaksi. Untung di depan saya hanya ada dua antrian. Setelah beres ambil uang saya lari lagi ke parkiran mobil. Tampak Pak Mangku sudah beres-beres mobil. Saya langsung bayar uang sewa dan membereskan barang-barang yang berantakan di bangku belakang. Setelah beres saya pun berpamitan.

Sekarang saya kembali lari ke tempat istri sepupu saya menunggu. Sambil gendong backpack, menyelempang tas kecil, kini harus ditambah sekitar 8 kantung keresek. *_*. Istri sepupu saya mengantar sampai pintu masuk keberangkatan. Setelah pamit saya pun masuk ke ruang tersebut. Sambil masuk saya berpikir keras, mau diapakan ya keresek-keresek ini. Jika dimasukan bagasi, dijamin halal pasti akan tercecer ke sana-sini. Ternyata saat masuk ada jasa wrapping barang. Walau agak mahal 35.000 tapi jasa tersebut memang benar-benar saya butuhkan. Akhirnya kedelapan keresek tersebut dililit plastik seperti kepompong. Setelah beres saya langsung lari ke counter check in. Karena saya sudah web checkin saya tinggal drop bagasi. Alhamdulillah tepat waktu.

Saya langsung ke ruang tunggu dan shalat ashar. Sekitar 30 menit kemudian saya pun boarding. Di pesawat duduk di sebelah couple bule dari Manchester. Ngobrol wara-wiri kemduain tidur zzz sambil dengar musik. Kembali ke Jakarta dengan segala kesemrautannya. Not a perpect holiday. Not a cheap holiday. But I feel grateful. Thanks God because life is beautiful.

Tamat. 😀

 

Jon Flashpack to Bali – Part 6: Trunyan dan Tanah Lot

28 Juni 2011

Part 1 berikut pengertian flahpack bisa dilihat di sini.

Part 2 bisa dilihat di sini.

Part 3 bisa dilihat di sini.

Part 4 bisa dilihat di sini.

Part 5 bisa dilihat di sini.

Jam 5.30 pagi langsung ngebut dari hotel ke arah sanur dengan maksud hati mengejar sunrise. Sampai sanur agak sedikit terlambat si sun sudah nongol duluan. Saya tak terlalu lama di Sanur, setelah merasa puas akhirnya melaju ke tujuan utama saya hari ini, Kintamani. Ada apa di Kintamani? Yang terlintas di kepala saya adalah ada Danau Batur dan ada Gunung Batur. Seperti biasa natural scenary, baik itu gunung, pantai atau danau selalu menjadi hal menarik bagi saya. Selain itu di Kintamani pun ada sebuah desa bernama Trunyan. Tak jauh dari desa tersebut ada sebuah pemakaman di mana orang-orang yang meninggal tidak dikuburkan di dalam tanah, namun hanya digeletakan begitu saja. Saya merasa tertarik untuk mendatanginya. Meski pun saya sudah wanti-wanti sejak awal jadi atau tidaknya saya ke pekuburan tersebut akan tergantung dari situasi di lapangan nanti. Omong-omong, hari ini adalah petualangan paling besar sejak saya di Bali. Dari pada sekedar trip biasa, hari ini lebih cenderung menjadi off road day.


Kintamani terletak agak di utara Bali. Dari Sanur saya akan melaju ke arah timur melewati jalan Ida Bagus Mantra yang sangat mulus. Jalan tersebut sangat lebar, meski di beberapa bagian masih dalam proses pengerjaan. Dalam keadaan jalan seperti itu, mobil bisa dipacu hingga 120 Km/Jam sambil menyalip truk-truk barang yang akan menuju Pelabuhan Padang Bai. Saking asyiknya ngebut, saya pun melewati jalan yang seharusnya ditunjukan google maps. Akhirnya terpaksa recalculate petunjuk jalan dan belok ke arah utara. Seperti biasa suasana pedesaan Bali amat sangat menyenangkan. Pura, rumah penduduk, sawah, sungai dan gunung menjadi pemandangan yang tak pernah bosan untuk dinikmati.


Jalanan ke arah utara ini berkelok-kelok dengan kondisi aspal yang tidak terlalu mulus namun tidak terlalu rusak juga. Selintas berpikir betapa dahsyatnya jika mengendarai motor di sini menikmati cornering-cornering patah naik turun yang sangat memacu adrenalin. Jadi kangen si Merah pada waktu tersebut. Tapi untuk jarak jauh dengan kondisi cuaca tak menentu di pegunungan mobil mungkin adalah pilihan paling tepat.


Saya memberhentikan mobil di sebuah spot sebelum Klungkung. Tempat tersebut ada di posisi yang cukup tinggi dengan pemandangan yang sangat indah ke sawah-sawah dan jalanan di bawahnya. Sejenak saya berdiri menikmati keindahan tersebut sambil berfoto-foto bodoh sendiri. Saya letakan kamera di kap mesin mobil kemudian mengaktifkan timer. Saya juga meletakan kamera di beton pagar. Semoga saja tak ada angin yang akan menyemplungkan kamera legendaris saya ini ke jurang. Legendaris karena kamera digital tersebut sudah hampir 3 tahun dan masih cukup sehat. Di tempat pemberhentian tersebut ternyata ada sebuah mobil lain yang tengah berhenti. Seperti biasa ramah tamah mode: on. Saya pun iseng-iseng menyapa dengan rombongan tersebut. Ternyata mereka dari Bandung. Mereka berencana hendak ke Pura Besakih. Setelah ngobrol-ngobrol singkat saya pun berpamitan duluan.

Dari stop point tersebut jalanan masih terus naik. Tak lama akhirnya saya tiba di daerah Klungkung. Nampaknya tempat ini kota yang cukup besar di dekat utara tengah Bali. Hal menarik lain, entah mengapa pagi menjelang siang pada waktu itu banyak sekali polisi. Di sebuah titik di pusat kota, saya saya salah belok. Seharusnya belok kanan di belokan depan, namun saya terlanjur belok duluan karena google mapsnya kurang zoom in. Buru-buru saya langsung ingin putar balik karena ternyata jalan ini perboden. Hal yang ditakutkan pun terjadi, saat saya mau mencoba putar balik langsung bunyi prat prit peluit. Mr Polkis (baca: polisi) sudah berdiri di belakang mobil.

“Mau kemana pak?” Tanyanya. Dengan setengah horor karena malas membayangkan harus mengeluarkan uang preman untuk Mr Polkis ini. “Ke Kintamani pak. Saya pikir belok di sini pak”. Balas saya. Meski perboden, sebenarnya saya bisa berkilah karena dari arah saya datang tak ada rambu belok kanan coret. Akhirnya saya diajak ke pos, SIM A dan STNK mobil langsung dipegang oleh polisi itu. Lucunya di pos ternyata dia malah menggambarkan sebuah peta (yang tak saya mengerti) untuk jalan menuju Kintamani. Yup, saya adalah orang dengan kecerdasan spasial yang rendah, sangat susah untuk memahami petunjuk arah. Bersyukurlah saya lahir di era GPS, yang bisa memandu perjalanan saya secara real time.

Setelah menggambar peta dengan detail kami pun ngobrol-ngobrol sejenak. Pertanyaan standar yang sudah membuat saya cukup mual itu pun kembali ke luar. “Kok jalan-jalan sendiri aja? Ceweknya mana?”. What’s wrong dengan solo traveling umpat saya geli dalam hati. Pertanyaan ini sudah keluar banyak sekali dari sebagian besar orang yang saya temui sepanjang liburan tersebut. Saya balas saja, “Lagi pengen sendiri aja pak. Biar lebih bebas.” Lucunya lagi Pak Nyoman (jika tak salah, saya menemui banyak sekali Nyoman dan Made sepanjang liburan ini) sang polisi curhat tentang keluarganya. Tentang anak-anaknya. Akhirnya tertahanlah saya di pos tersebut sekitar setengah jam. Tapi setidaknya Pak Nyoman tak mempermasalahkan kasus salah belok saya. Setelah selesai saya pun melanjutkan perjalanan. Peta Pak Nyoman saya taruh di dashboard dan saya tetap melihat google maps.

Dari Klungkung jalanan terus naik. Namun cenderung menjadi lebih sepi dengan pepohonan di kiri kanan. Terkadang jalanan pun agak berkabut. Sesekali sedikit gerimis. Kira-kira menjelang tengah hari, tampaklah danau Batur di kanan jalan. Saya berhenti di sebuah tempat parkir cukup luar di pinggir jalan. Saya langsung berjalan ke bibir tebing mengambil beberapa foto. Di tempat ini beberapa orang mulai banyak mendekati saya. Mereka menawarkan perahu penyebrangan menuju makam Trunyan. Hal yang sudah saya duga sebelumnya. Namun sementara ini saya tolak halus dulu. Di situ juga saya berkenalan dengan entah siapa namanya saya lupa seorang Bali yang membawa rekannya dari Malaysia dan awalnya hendak menuju Trunyan juga. Namun karena ketidakjelasan biaya perahu orang tersebut pun urung. Saya pun sempat minta difotokan, kebetulan ia membawa SLR, pasti lumayan bisa memoto.

Trunyan adalah sebuah desa yang terletak di tepi danau Batur. Pemakaman Trunyan sendiri berlokasi di sebuah sisi lain danau yang terisolasi dari jalan darat. Satu-satunya cara ke pemakaman adalah menggunakan perahu. Menyewa perahu sebenarnya tak perlu harus dipusingkan jika kita berangkat secara rombongan. Namun karena saya sendiri sempat agak berpikir juga, jadi atau tidak ke Trunyan. Setelah saya pikirkan akhirnya saya coba saja ke Trunyan dulu dan akan saya liat kondisi di sana.


Dari stop point terakhir saya belok kanan turun ke bawah ke arah Toya Bungkah menuju Trunyan. Kemiringan jalan cukup besar, meski jalanan masih cukup lebar. Di sepanjang jalan juga banyak truk-truk pasir yang membawa muatan. Setelah beberapa kilo meter berkelok kelok turun saya tiba di sebuah pertigaan dan mengambil jalan ke kanan. Jalanan mulai menyempit dan mulai menyusuri pinggir danau. Saya sempat berhenti di sebuah titik di mana Gunung Batur sebagai latar belakang serta Danau Batur dan kebun sayur di depannya terlihat sangat indah. Tujuan utama berhenti adalah foto-foto.

Saat berhenti itu pula saya baru sadar ternyata dari tadi saya diikuti beberapa motor. Penduduk lokal yang ingin menawarkan jasa carter perahu. Saya tetap menolak dengan halus. Setelah puas foto-foto saya melanjutkan perjalanan. Jalanan pun mulai ekstrim. Lebar jalan hanya muat untuk satu mobil. Jadi jika ada mobil dari dua arah salah satu harus mengalah. Horornya di depan saya mulai tersaji tanjakan turunan curam dengan kemiringan mungkin hingga 75 derajat. Sedikit saja kurang lihat berkendara akan menjatuhkan kita pada dua pilihan, kecemplung danau atau nyuksruk ke jurang. Amit amit amit amit.


Selang beberapa waktu akhirnya saya tiba juga di desa. Seperti biasa di desa saya kembali di kerumuni orang-orang yang menawarkan jasa perahu. Namun saya tetap segan karena mereka meminta harga yang sangat tinggi. 300 ribuan. Padahal saya hanya sendiri. Setelah sekian waktu akhirnya harga pun perlahan turun. Hingga batas 150.000. Namun di kondisi itu tiba-tiba saya ilfil untuk menyeberang ke kuburan. Akhirnya saya hanya ngobrol-ngobrol dengan penduduk sekitar dan makan ice cream. Agak kurang nyaman di sana karena banyak anak-anak kecil yang meminta-minta uang.


Saya pun memutuskan berangkat lagi dari Trunyan. Saya harus melalui lagi jalanan horor naik turun terjal. Hal yang saya takutkan adalah berpapasan dengan mobil lain dalam kondisi menanjak. Sebab saya ragu mobil yang saya sewa akan kuat naik dari kondisi berhenti di tanjakan. Maka dari itu setiap menanjak, menurun, belokan tajam tertutup tebing saya terus mengklakson. Akhirnya setelah sekian waktu saya tiba lagi di tempat awal puncak saat pertama melihat danau Batur. Saya langsung tancap gas ke arah utara lagi.

Selepas Danau Batur, ke arah utara adalah Kintamani. Tidak ada hal khusus di sini melainkan suasana seperti Puncak Cisarua Bogor atau Bedugul. Saya hanya menyempatkan foto sebentar di pinggir jalan. Setelah foto lalu lanjut jalan kembali dan saya berhenti di sebuah mesjid. Nampaknya mesjid tersebut adalah satu-satunya mesjid yang saya temui sepanjang jalan. Saya sholat zuhur kemadian numpang berbaring sejenak sambil menumpang charge hp setelah ijin dengan penjaga mesjid. Saya lupa membawa car charger. Setelah puas berbaring saya pun makan sate kambing di kedai sebelah mesjid. Ternyata pedagangnya adalah ibu-ibu madura. Lagi pula di dinding kedai di pajang beberapa kaligrafi arab. Insya Allah halal. Menariknya si ibu-ibu penjual sate ini fasih berbahasa Bali, Jawa dan Madura. Benar-benar multilingual person. Ia pun bercerita mesjid tempat shalat saya tadi dibangun oleh ayahnya. Selesai makan saya langsung ke mobil dan bertemu dengan penjaga mesjid tadi. Saya pun berpamitan. Si bapak tersebut masih saja bercanda, “sendirian aja? wah ada cewek tuh.” Ujarnya sambil ngindik ke kaca belakang mobil.

Dari Kintamani ini sebenarnya saya tak ada tujuan khusus. Akhirnya saya putuskan mencoba terus ke arah utara dan melihat pantai lovina. Dari Kintamani saya menuju Kubu Tambahan. Jalanan masih berkelok-kelok namun cenderung turun. Sepanjang jalan sesekali saya disiram hujan. Setelah sesampai Kubu Tambahan tiba-tiba saya hilang nafsu ke Lovina. Sebenarnya pantai Lovina sendiri tak terlalu menarik. Lovina terkenal karena lumba-lumba. Namun itu pun harus menyewa perahu dan baru bisa dilihat saat pagi. Akhirnya saya putuskan kembali ke Selatan namun melalui Bedugul.

Menuju Bedugul jalanan mulai naik lagi. Saya melewati Git Git Waterfal, namun segan untuk berhenti. Tiba-tiba di tengah jalan saya kepikiran dengan tanah lot. Maka saya pun ngebut dengan sejadi-jadinya sedari Bedugul. Maksud hati ngebut jangan sampai tiba di Tanah Lot kemalaman. Jadi dari Utara saya kencang ke selatan kemudian ke arah barat. Alhamdulillah sampai dengan selamat menjelang matahari terbenam. Saya parkir kemudian berlari ke Pura untuk mengambil beberapa foto. Setelah cukup langsung kembali ke parkiran, mengambil kain sarung lalu shalat Maghrib.

Selesai shalat jalan ke arah Denpasar teramat sangat macet. Saya di jalan hampir 2 jam. Saya pun tiba di Denpasar cukup malam. Malam tersebut saya makan steak. Setelah makan langsung kembali ke Hotel, menyambut esok, hari terakhir di Bali.

Bersambung ke part berikutnya.

Pengeluaran:
Bensin 100.000
Sate Kintamani 13.000
Steak: 40.000

Jon Flashpack to Bali – Part 5: Kuta, Sanur dan Pekan Kesenian Bali

27 Juni 2011

Part 1 berikut pengertian flahpack bisa dilihat di sini.

Part 2 bisa dilihat di sini.

Part 3 bisa dilihat di sini.

Part 4 bisa dilihat di sini.

Dear day. Hari ini adalah surfing day!

Tak tahu berawal dari mana saya sedang benar-benar tertarik untuk belajar surfing. Maka dari itu sejak ketertarikan itu muncul saya mulai rajin menonton video-video surfing. Saya juga mulai berlatih padling-padling bodoh, kemudian standing di atas papan. Bodohnya karena saya berlatih di atas kasur. -_-”

Sekitar awal bulan Juni lalu saya mengambil lesson di sebuah surf school di Pelabuhan Ratu. Surf school tersebut dikelola oleh seorang bule Prancis yang sangat fasih berbahasa Indonesia. Saat lesson singkat 2 jam tersebut alhamdulillah saya sudah bisa berdiri meski belum bisa meliuk-liuk canggih. Oleh karena itu kesempatan datang ke Bali kali ini benar-benar saya manfaatkan agar bisa belajar surfing lagi. Kebetulan ombak  Pantai Kuta sepertinya tak seganas ombak selatan Jawa.

Pagi itu saya sebenarnya sudah mau keluar sejak pukul 8 pagi. Namun saat keluar hotel ternyata di luar hujan. Agak sedikit kecewa sebab saya tak punya rencana cadangan selain surfing di pagi. Akhirnya balik ke kamar sambil browsing-browsing tempat yang mungkin layak dikunjungi. Selang setengah jam saya mengintip lagi keluar. Ternyata hujan sudah reda. Sebelum keluar saya ke mini market dulu membeli pop mie. Saya agak bingung mau sarapan apa pagi itu.

Sambil menenteng pop mie saya keluar ke jalan tempat saya memarkirkan mobil. Masuk mobil, sambil memanaskan mesin mobil saya makan pop mie. Sebenarnya hujan masih agak rintik-rintik. Tapi ya sudahlah kita nikmati sajah. Kelar menelan isi gelas pop mie saya langsung melaju pelan ke arah pantai. Berhubung masih pagi alhamdulillah kemacetan Bali tidak seamsyong biasanya.

Tak lama saya pun sampai di pantai. Langsung parkir mobil dan berjalan ke pantai. Di Kuta banyak sekali orang menyewakan surf board dan body board juga. Saya pun mendekati salah seorang penyedia jasa sewa di situ lalu mulai beramah tamah. Ternyata namanya Deni dan berasal dari Medan. Menarik juga, ternyata cukup banyak para penyedia sewaan surf board yang justru pendatang. Saya pun menyewa sebuah soft board besar. Dia menawarkan harga 50.000 untuk 2 jam. Saya coba tawar 50.000 untuk 3 jam. Namun tak berhasil. Tapi toh pada akhirnya ternyata tak sampai 2 jam pun saya sudah kolaps. Perhatian sekali lagi, bendar berwarna biru besar itu adalah soft surf board dan bukan permen lolipop atau ice cream!!!

Setelah deal sewa menyewa, saya ganti baju di mobil. Saya pakai satu set wet suit speedo. Sebenarnya ini lebih cocok dipakai untuk berenang. Untuk surfing sendiri lebih cocok pake merk-merk selevel rip curl dan kawan-kawannya. Tapi who care lah. Yang penting meluncur.

Luncuran pertama dengan sok gagahnya saya langsung padling jauh ke tengah. Padling adalah berenang di atas papan membawa papan dari pinggir pantai ke tengah untuk mengambil ombak. Belum sampai tengah berkali-kali saya dihantam ombak sehingga harus mundur lagi dan mundur lagi. Setelah sampai di tengah saya mulai memposisikan diri mengambil ombak. Namun entah kenapa dari sekian belas trial, tak satu kali pun berhasi berdiri. Jika tak terjungkal ke belakang, pasti terpental ke samping, atau nyuksruk ke depan. Alhasil setelah baru saja main sekitar 90 menit saya sudah kehabisan tenaga. 2 kali terpentok papan dan mau muntah karena lumayan sesekali minum air laut. Memang sih tak ada skill yang instan. Orang baru main dua kali masak berharap jadi expert. Akhirnya tiduran sebentar di pinggir pantai lalu mandi bilas 2000 rupiah kemudian balik ke mobil. Lesson surfing selesai.

Setelah mandi langsung mengarah ke Denpasar. Cari makan siang ayam betutu. Tapi gagal. Ujung-ujungnya makan di sebuah warung padang halal. Sehabis makan saya berjalan ke arah Sanur. Di tengah jalan berhenti di sebuah mesjid untuk sholat zuhur. Karena sangat kecapean setelah shalat saya tertidur pulas sekitar 2 jam. Bangun tidur saya lanjut ke arah Sanur. Sehari sebelumnya sepupu saya minta diantar ke airport karena ada urusan kerja ke Jogja. Sesampai rumah sepupu kami langsung lanjut ke airport. Mampir sebentar di galeria mall, sebuah mall yang katanya terbesar di Bali. But I don’t care. Dari mall langsung lanjut lagi merayapi jalan bypass Denpasar yang agak macet di sore hari. Sampai airport drop sepupu saya, kemudian kembali ke rumah sepupu untuk mendrop keluarganya.

Sekitar maghrib saya meluncur ke pantai Sanur. Kebetulan ada sebuah mesjid di sebelum jalan masuk ke pantai. Saya pun mampir shalat Maghrib. Setelah shalat baru meluncur ke pantai. Ternyata meski sudah malam, pantai masih ramai. Ada beberapa tukang jagung bakar. Beberapa orang berfoto-foto di kegelapan. Sementara di bibir pantai beberapa orang-orang lain asyik memancing. Namun pantai Sanur sepertinya tidak seheboh ekspektasi saya. Pantainya sangat biasa sekali. Saya akhirnya berjalan ke sebuah balai yang ada di pinggir pantai. Saya duduk di sana sambil menikmati pemandangan laut di malam hari.

Tak lama 2 orang juga turut duduk di balai tersebut. Seperti biasa, sok pede sok kenal mode saya pun teraktivasi. Saya langsung ngobrol-ngobrol dengan 2 orang tersebut. Ternyata mereka adalah pendatang yang sudah cukup lama tinggal di Bali. Jadi tahu saya adalah turis mereka memberi banyak masukan tempat-tempat yang layak dikunjungi di Bali. Mereka pun menyarankan saya untuk mendatangi Pekan Kesenian Bali di Denpasar yang kebetulan tengah berlangsung saat itu. Sebetulnya istri sepupu saya pun sudah memberitahu saya tentang event tersebut. Maka malam itu saya putuskan untuk berangkat ke Pekan Kesenian Bali tersebut.

Pekan Kesenian Bali adalah acara tahunan yang diselenggarakan dalam waktu sekitar 1 bulan. Acara ini menyajikan banyak pentas seni, pameran, makanan-makanan. Pokoknya semacam pesta rakyat. Acara di selenggarakan di tempat bernama Art Center yang sepertinya terletak di pusat kota Denpasar. Dari Sanur saya cukup lurus mengikuti jalan ke pusat kota. Sesampai pusat kota kemudian saya mengikuti jalan Hayam Wuruk. Semakin dekat ke Art Center banyak sekali petugas parkir yang memarkirkan motor dan mobil. Ternyata di Art Center memang tidak menyediakan lahan parkir, sehingga kita harus parkir di luar. Sebenarnya agak horor juga, karena di Jakarta saat pelaksanaan Pekan Raya Jakarta parkir mobil sembarangan adalah hal yang sangat berbahaya, sebab bisa jadi kita digetok dengan biaya parkir yang sangat tidak wajar. Namun akhirnya saya putuskan untuk parkir beberapa puluh meter setelah melewati Art Center. Setelah parkir saya langsung ditagih 10.000. Agak mahal, tapi memang sepertinya itu tarif standardnya.


Saya langsung masuk ke Art Center. Ketika masuk ada semacam panggung di mana ratusan orang mengerumun. Saya pun mengintip di balik kerumunan tersebut, ternyata semacam show tari-tarian. Kemudian saya juga melihat banyak sekali penjual makanan, aksesoris dan berbagai barang-barang. Saya juga menyempatkan masuk ke sebuah ruang pameran lukisan dan karya seni lainnya. Setelah dari situ saya masuk ke sebuah ruang pertunjukan yang cukup ramai namun gelap gulita. Setelah masuk ternyata semacam wayang kulit. Namanya wayang blancuk. Pertunjukannya sendiri disampaikan dalam Bahasa Bali yang sama sekali tak saya mengerti. Namun sepertinya memang lucu karena cukup sering penonton tertawa terbahak-bahak. Setelah merasa cukup saya pun berkeliling ke stand-stand penjual beragam barang-barang dan makanan. Satu hal yang saya tangkap dari event Pekan Kesenian Bali ini adalah orang-orang Bali memang secara alami memiliki jiwa seni dan budaya yang cukup tinggi. Mereka sangat antusias sekali menonton pertunjukan-pertunjukan seni, melihat karya-karya seni tak peduli tua ataupun muda.


Setelah merasa puas saya pun keluar. Tujuannya terakhir sebelum pulanga adalah makan. Di sekitar jalan hayam wuruk ada sebuah tempat makan Ayam Betutu. Namun sayang ketika tiba di sana restoran tersebut sudah tutup. Tak jauh dari situ juga ada restoran Ayam Bakar Wong Solo. Baru saja parkir mobil, ternyata tempatnya juga sudah mau tutup. Akhirnya saya memutuskan jalan lagi ke arah selatan menuju Kuta. Di tengah jalan ada kedai Nasi Uduk Kebon Kacang. Lucu juga, jauh-jauh ke Bali makanannya malah makanan Jakarta. Setelah makan jalan kembali ke Kuta. Meski jalanan di tengah kota cukup lancar. Namun di Kuta masih harus merayap. Akhirnya saya tiba sekitar pukul 01.00 dini hari. Hari yang cukup melelahkan namun menyenangkan.

Lanjut ke part berikutnya di sini.