Review: Adhitya Mulya – Sabtu Bersama Bapak

25158921025_a76449e199_z.png

Secara kebetulan, belakangan daftar literatur sastra Indonesia di sekitar saya banyak berkutat dengan judul berkaitan dengan Ayah atau Bapak. Setelah saya membaca Andrea Hirata: Ayah lalu beberapa lalu, kemudian saya juga sudah membaca setengah jalan Tere Liye: Ayahku (Bukan) Pembohong, beberapa waktu belakangan istri saya merekomendasikan Sabtu Bersama Bapak tulisan Adhitya Mulya. Kebetulan istri mendapat pinjaman ini dari seorang kawannya. Karena istri saya berencana mengembalikan novel ini hari ini setelah meminjamnya selama beberapa bulan, saya pun mengebut menyelesaikan membaca kemarin. Karena bukunya tidak terlalu tebal, pembaca cepat bisa menyelesaikan buku dalam kurang dari 2 jam.

Sebelum masuk mengenai sedikit pembahasan mengenai novel, saya akan memberikan kesimpulan dan rekomendasi dari novel ini. Saya memberikan skor 3 dari 5 bintang, dengan alasan ide cerita yang menarik, banyak pesan moral yang disampaikan namun gaya bahasa yang cenderung pop dan agak sedikit kurang sastra membuat pengalaman membaca novel ini tidak terasa terlalu kaya. Seperti biasa, bagi yang belum membaca novel ini bisa berhenti membaca post ini sekarang untuk menghindari kemungkinan adanya spoiler yang akan saya sampaikan.

Sabtu Bersama Bapak, adalah kisah sebuah keluarga. Bapak Gunawan sang kepala keluarga dan Ibu Itje sang istri memiliki dua anak laki-laki bernama Satya dan Cakra. Bapak Gunawan harus menghadapi kemalangan meninggal muda karena kanker, namun setelah mendapatkan kabar tersebut, alih-alih depresi, dalam waktu singkat yang tersedia Bapak Gunawan menyiapkan segala hal yang dia bisa lakukan untuk perkembangan anak-anaknya kelak. Hal yang disiapkan mulai dari secara finansial dan merekam ratusan sesi video yang berisi pesan-pesan sang ayah kepada anak-anaknya dan beberapa sesi video yang berisi aktivitas keluarga mereka di sisa-sisa umur Pak Gunawan yang tetap bertujuan akhir untuk Pak Gunawan bisa tetap “berbicara” dengan anak-anaknya meskipun kelak ia sudah meninggal dunia. Kumpulan ratusan rekaman video tersebut diputar setiap hari Sabtu setelah Pak Gunawan wafat. Setiap rekaman video ditujukan untuk masa usia tertentu anaknya dan berisi pesan yang spesifik sesuai dengan usia Cakra dan satya pada waktu tersebut.

Dengan ide dasar tersebut, cerita berjalan mengenai bagaimana Satya dan Cakra tumbuh tetap dalam bimbingan bapak mereka melalui video-video tadi, meskipun tanpa kehadiran fisik beliau. Inti pesan-pesan Pak Gunawan berkisar antara harus berencana sedini mungkin, menjadi suami yang baik, menjadi bapak yang nyaris sempurna dan selalu berusaha untuk jujur dan berpegang teguh pada kebenaran.

Separuh cerita berfokus kepada Cakra si anak sulung dengan konflik yang dihadapi saat ia membangun keluarga dengan 3 anak dan bagaimana ia bisa menyikapi konflik yang terjadi. Separuh cerita lain membahas Satya dan pencarian cintanya. Sedikit porsi dari total cerita membahas Ibu Itje dalam upaya membersarkan anak-anaknya dan berusaha menjadi ibu yang independen tanpa merepotkan anak-anaknya.

Cerita disampaikan dengan banyak flashback dan flashforwad dari timeline cerita. Agak sedikit membingungkan ketika timeline melompat dari satu tanggal ke tanggal lain. Sedikit humor tersebar di sini dan sana meskipun dalam kuantitas yang tidak terlalu banyak dan humor yang belum mampu membuat saya tergelak tertawa. Seperti yang sudah saya tulis di atas, banyak pesan moral yang disampaikan Pak Gunawan pada anak-anaknya yang secara tidak langsung disampaikan pada pembaca juga. Poin-poin utama diantaranya adalah untuk mempunyai rencana finansial sebaik mungkin sejak dini dan yang paling utama adalah untuk menjadi seorang anak, suami dan ayah yang baik. Petikan yang tidak akurat, karena saya tidak ingat petikan asli tepatnya yang akan terus saya ingat adalah “Seorang anak kelak akan mempunyai anak. Satu waktu kau mempunyai bapak, kelak kau pun akan menjadi bapak.”

Review Singkat: Andrea Hirata – Ayah

24835749450_f574fa8611_k_

Saat minggu lalu pulang ke Jakarta dan mampir ke Toko Buku Gramedia, saya baru menyadari kalau Andrea Hirata meluncurkan novel baru tahun 2015 lalu. Meski telat setahun, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membelinya. Sebab sejak pertama kali membaca novel pertamanya Laskar Pelangi, saya mempunyai semua novelnya dan tidak pernah terlewat membaca semua karya Andrea, terkecuali Sebelas Patriot. Tetralogi Laskar Pelangi yang terdiri dari Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov lengkap saya baca. Saya pun cukup menikmati Dwilogi Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas. Saya sudah memiliki Sebelas Patriot, namun belum sempat membacanya hingga sekarang. Terakhir, setelah 3 hari terakhir ini, akhirnya saya berhasil menamatkan Ayah, buku terbaru dari Andrea. Post ini mungkin akan mengungkap sedikit inti cerita dari novel. Bagi yang belum membaca sebaiknya berhenti membaca post ini sekarang.

 

“Ingat, Boi, dalam hidup ini semua terjadi tiga kali. Pertama aku mencintai ibumu, kedua aku mencintai ibumu, ketiga aku mencintai ibumu.”

 

“Ayah” bercerita tentang seorang pria bernama Sabari dan cinta sejatinya pada seorang wanita bernama Marlena dan cintanya yang jauh lebih besar lagi terhadap anaknya. Sabari adalah orang yang sangat lugu, jujur dan setia. Cerita tentang Sabari diawali sejak masa awal ia sekolah, berikut pertemanannya dengan 2 sahabat dekatnya Tamat dan Ukun. Ada beberapa kawan-kawan lainnya namun 2 kawan inilah yang paling berperan penting untuk Sabari. Berawal di ujian Bahasa Indonesia, Sabari pertama bertemu dengan Marlena yang menyontek isi jawaban soal Sabari yang memang jago Bahasa Indonesia. Setelah selesai menyontek, Marlena memberikan pensilnya ke Sabari, dan sejak detik itu Sabari jatuh cinta selamanya dengan Marlena. Demi cintanya Sabari rela melakukan apapun untuk menarik perhatian Lena. Namun sayang, semakin Sabari berusaha, semakin benci dan jauh Marlena. Dari kisah masa sekolah, cerita pun berlanjut ke penantian bertahun-tahun Sabari untuk mendapatkan Marlena dan penantian bertahun-tahun lagi untuk menunggu Marlena dan terutama anaknya kembali.

Ayah berlatar belakang cerita di Belitong seperti kisah-kisah Andrea sebelumnya. Gaya bahasa dan style penulisan pun tidak banyak berbeda. Namun di Ayah lebih banyak puisi yang untuk kesempatan baca pertama ini banyak saya lewati karena saya ingin cepat tahu inti cerita. Namun dari membaca sekilas, meskipun saya bukan termasuk penikmat dan mengerti puisi, puisi-puisi di novel ini cukup bagus-bagus. Dari browsing sekilas, ide novel Ayah bermula dari cerita langsung kawan Andrea Hirata.

Sedikit kritik terhadap novel, meski novel ini berjudul Ayah, saya merasakan hubungan yang kurang dideskiripsikan mendalam antara Sabari dengan anaknya. Saya lebih merasakan ikatan anak dan ayah yang jauh lebih kuat antara Ikal dan ayahnya di Tetralogi Laskar Pelangi. Demikian juga saya merasakan karakter Marlena kurang hidup di novel ini. Sebagai gambaran, hampir tidak pernah Marlena “berbicara” di dalam cerita. Namun hal yang paling saya suka dari novel ini adalah endingnya. Bahwa untuk orang-orang yang bisa bersabar seperti Sabari, mungkin ada kalanya bisa mendapatkan apa yang dia impikan, meski setelah menunggu sekian lama dan bahkan harus menunggunya sampai mati. Sebuah ironi pedih namun manis yang mungkin banyak di novel dan jarang di dunia nyata. Tapi sekali lagi, harus saya akui endingnya indah.

Sebagai kesimpulan dari ringkasan ini, saya berpendapat bahwa Ayah patut dibaca khususnya untuk penikmat karya Andrea Hirata. Namun sayangnya ini karya yang biasa saja dan bukan masterpiece bagi saya. Untuk penilaian, saya memberikan skor 3 dari 5 bintang untuk novel ini. Tetapi, karena baca pertama ini saya agak terburu-buru, jika ada kesempatan membaca ulang ada kemungkinan saya akan memberikan ekstra apreasiasi terhadap novel ini.

Review Tere Liye Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah

Kisah cinta yang indah tak harus berseting di Paris yang menawan atau di Amsterdam yang tenang atau tidak juga melulu harus di Venice yang romantis. Kisah cinta indah pun bisa terjadi pinggir Sungai Kapuas Kalimantan Barat. Tak perlu diperani oleh pujangga atau pangeran, penarik perahu pun bisa jatuh cinta. Cinta yang bahkan lebih tulus, indah dan mengesankan. Ini adalah kisah Antara kau, aku dan sepucuk angpau merah.

Ini adalah novel cinta paling menyenangkan untuk dibaca dalam beberapa tahun terakhir untuk saya. Di banyak set dalam novel ini, saya tersenyum-senyum sendiri seperti anak baru akil balig. Dari tiga buku Tere Liye yang pernah saya baca ini adalah yang terbaik. Untuk kesekian kalinya Tere Liye selalu mengangkat cerita dari sudut pandang yang tidak jamak. Kali ini dari sudut pandang penarik perahu sederhana tapi selalu berusaha jujur dan tak pernah menyerah mengejar mimpinya dan juga cintanya.

Saya membaca novel ini sekali jalan, sekitar 4 jam hingga selesai. Awalnya saya hanya berniat membaca beberapa lembar sebelum tidur 2 hari yang lalu. Saat itu saya mulai membaca jam 10 malam. Pada akhirnya malam itu saya baru tidur jam 2.30 pagi setelah menghela nafas saat tamat membaca novel tersebut. Tere Liye berhasil menyihir saya malam itu.

Ada kekuatan utama yang membuat saya bertahan dan bahkan ketagihan untuk membaca hingga usai. Hal tersebut adalah misteri yang sengaja dibiarkan menggantung hingga baru terjawab di akhir cerita. Tere Liye membuat kita penasaran dari awal mengenai jawaban dari pertanyaan dan asumsi yang menggantung. Kekuatan kedua adalah novel tersebut menggambarkan latar cerita dengan sangat nyata. Deskripsinya sangat fotografis. Saya seakan seperti merasa berada di Pontianak diantara aliran sungai Kapuas sepanjang membaca cerita. Novel ini pun banyak menawarkan humor yang mengesankan. Bagaimana tidak, cerita dibuka dengan kepenasaran Borno (si tokoh utama), mengenai berapa lama waktu yang dibutuhkan kotoran manusia untuk hanyut dari hulu hingga muara Sungai Kapuas. Novel pun tidak melulu bercerita tentang kisah pelakon utama namun juga banyak figur-figur lain yang memberi kontribusi positif terhadap cerita. Figur-figur itu pun hidup dengan segala kedinamisan karakter dan peran tak sekedar menjadi wayang mati yang melakoni cerita.

Kau, aku dan sepucuk angpau merah ini nyaris semparna. Tak ada plot yang bolong dan seperti yang sudah dituliskan di atas ceritanya terasa sangat hidup. Namun ada satu kekurangan utama dari cerita ini. Menurut saya, inti permasalahan yang menjadi cikal bakal inti dan klimaks cerita sangat lemah dan agak kurang logis. Don’t make sense. Apakah inti cerita tersebut? Tentunya tak akan saya uraikan di sini sebab apalah arti membaca novelnya jika sudah tahu spoilernya. Bagaimanapun, meski inti ceritanya tadi agak kurang kuat, saya sebenarnya tak terlalu peduli. Siapa yang perduli logika bila bisa mendapatkan pelajaran moral mengesankan dari pemimpi yang punya cinta yang tulus.

Membaca Edensor membuat saya ingin ke Inggris. Ranah tiga warna membuat saya ingin ke kanada. Membaca novel ini membuat saya ingin ke Pontianak. Namun indahnya cerita adalah meski kita belum pernah ke sana setidaknya kita sudah pernah dibawa untuk merasa di sana.

Review Singkat: Tere – Liye Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

1376124Saya baru membaca dua novel Tere Liye. Yang pertama adalah Daun yang jatuh tidak pernah membenci angin. Yang kedua, hari ini saya menyelesaikan Rembulan tenggelam di wajahmu. Entah apakah hanya kebetulan atau memang novel-novel Tere Liye yang lain pun demikian, dua novel pertama ini membawa ide dasar yang sama. Mobilitas sosial seorang manusia dari bukan siapa-siapa menjadi orang yang luar biasa hebat mapan dalam strata sosial. Novel yang pertama tentang pengamen jalanan yang kemudian menjadi wanita karir mapan. Novel yang kedua tentang yatim piatu yang juga berawal dari pengamen jalanan kemudian menjadi taipan bisnis raksasa.

Dengan menyelesaikan buku hanya dalam beberapa jam saja adalah salah satu identifikasi bahwa saya cukup menikmati novel ini. Tere Liye memang cenderung mengangangkat topik yang tidak umum dan juga dari sudut pandang yang tidak umum. Awalnya dulu saya menyangka novel Tere Liye akan sangat islami, karena sosok penulisnya yang nampak seperti tipikal ikhwan (terlepas dari namanya yang sepertinya nama pena perempuan, Tere Liye adalah nama pena laki-laki). Namun menariknya asumsi saya salah, cerita tidak harus bernuansa terlalu religi namun banyak pesan moral bermanfaat yang diselipkan di sana sini dengan kadar yang cukup tepat.

Rembulan tenggelam di wajahmu bercerita tentang kisah Ray, seorang pria tua yang sepanjang hidupnya kebanyakan mendirita berkesempatan menjelajah kembali masa lalunya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkutat pada mengapa hidup tidak adil padanya. Dalam setiap waktu iya mempertanyakan ia selalu melihat bulan. Saya tidak akan membahas detail inti cerita agar tidak mengusik pembaca yang belum melihat buku ini. Satu pesan yang cukup berkesan dari kisah Ray adalah bahwa dalam adilnya hidup tidak bisa terlihat secara dangkal. Sesuatu yang terlihat sekilas tidak adil bisa jadi salah. Tuhan sudah mengatur setiap detil aspek kehidupan manusia dengan cermat. Tuhan Maha Adil dan tidak ada hal sekecil apa pun yang terlepas dari hukum ini. Hal yang menarik bahwa hidup takdir hidup kita terkadang saling berkait dengan takdir hidup orang lain. Ketika kita berbuat baik pada orang lain, bisa jadi aksi kita tersebut akan berdampak berantai melalui orang-orang lain dan akhirnya mengembalikan kebaikannya ke kita. Lebih jelasnya langsung dapat dilihat dalam petikan dari novel ini:

“Bagi manusia, hidup itu juga sebab-akibat, Ray. Bedanya, bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian entah pada siklus yang keberapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu…. Saling mempengaruhi, saling berinteraksi…. Sungguh kalau kulukiskan peta itu maka ia bagai bola raksasa dengan benang jutaan warna yang saling melilit, saling menjalin, lingkar-melingkar. Indah. Sungguh indah. Sama sekali tidak rumit.”

Kesimpulannya saya memberi 3 dari 5 bintang untuk novel ini. Kisahnya menarik, tentang pencarian dibumbui dengan percintaan yang menarik dan banyak pesan moral yang bermanfaat. Namun saya merasa ceritanya terlalu suram. Terlalu banyak penderitaan yang berlebihan. Lalu ada beberapa plot yang terasa dipaksakan. Misalnya seperti ditemukannya emas di ladang minyak. Ada lagi satu plot lain yang terasa sangat dipaksakan namun tidak akan saya bahas karena akan menjadi spoiler. Namun tetap secara umum, novel ini cukup memberi inspirasi. Minimal untuk selalu berbuat baik pada orang lain.

Cover dari goodreads.com

Review Ranah 3 Warna

Negeri 5 MenaraJika tidak salah, saya lebih dari setahun saya punya buku ini dan baru sempat dibaca sekarang. Bahkan meski masih tersampul rapih, buku itu pun sudah menguning di sana sini.

Saya selalu senang membaca novel yang memberikan inspirasi. Saat membaca Edensor saya ingin kuliah ke Prancis. Setelah membaca 9 Summer and 10 Autumn saya ingin ke New York. Setelah membaca Ranah 3 Warna saya pun ingin ke Kanada.

Buku Ranah 3 Warna ini adalah sekuel dari Novel Negeri 5 Menara. Jika Buku pertama bercerita tentang masa Alif si tokoh utama nyantri di Pondok Madani, representasi dari Pesantren Gontor tempat penulis juga nyantri, maka buku kedua bercerita saat Alif kuliah di Bandung selepas dari pesantren.

Sama seperti buku pertama di novel ini Alif terus menjadi anak yang berbakti pada orang tuanya, mengikuti semua keinginan orang tua, meski tetap ada momen-momen tertentu di mana hati Alif memberontak, namun ia tidak pernah menunjukan itu. Perjuangannya di Bandung jauh lebih berat dibandingkan saat di pesantren. Tanpa memberi banyak bocoran intinya Alif merasakan berbagai macaam cobaan dalam bertahan agar tetap bisa kuliah.

Tag line dari novel ini adalah Man Sabara Zhafira, Siapa yang Bersabar maka ia beruntung. Sementara di novel pertama taglinenya adalah Man Jadda Wa Jadda yang artinya adalah barangsiapa bersungguh-sungguh maka akan berhasil. Jadi bersungguh-sungguh saja masih tidak cukup. Harus ada juga elemen kesabaran dalam proses tersebut.

Setelah merasakan berbagai ujian, Alif akhirnya bisa berangkat ke Kanada untuk pertukaran pelajar. Salah satu pesan yang sangat positif di novel ini adalah tetap menjaga baik nama Indonesia di mana pun kita berada. Meskipun tak terbantahkan banyak sekali hal-hal negatif yang harus diperbaiki di bangsa ini. Seperti carut marut politik, kemacetan kota-kota besar, kebiasaan kurang disiplin di beberapa orang, dan sebagainya, namun tetap tak patut kita menunjukan kekurangan-kekurangan tersebut ke orang lain. Sebenarnya istri saya pun pernah membahas hal ini ketika ia sempat ditanya entah oleh dosennya atau kawannya mengenai Indonesia.

Bicara gaya penulisan, saya tetap lebih suka gaya Andrea Hirata. Ia adalah satu-satunya penulis yang bisa membuat saya sedih dan sekaligus tertawa dalam halaman yang sama. Pada dasarnya gaya A Fuadi penulis novel ini baik, namun agak datar. Saya masih merasa karakter-karakter yang ada di buku itu tidak terlalu hidup. Namun pada kesimpulannya novel ini tetaplah buku yang sangat layak dibaca dengan segala pesan moral positif dan inspirasinya.

PS: Beberapa hari lalu akhirnya buku ketiga trilogi Negeri 5 Menara yang berjudul Rantau 1 Muara sudah diluncurkan.

Ketika Belajar dari Kesalahan Seringkali Dilebih-lebihkan

Saya sedang membaca Rework buku dari Fried dan Heinenmeir. Buku tersebut adalah sebuah buku bisnis yang sangat praktis. Saya mau sedikit menguraikan sedikit konsep gagasan yang saya dapat dari chapter awal buku. Semoga dengan menguraikan, saya bisa sedikit membagi apa yang saya peroleh dan membuat saya bisa memahami konsep itu lebih baik.

Hingga kemarin saya selalu percaya, bahwa belajar dari kesalahan adalah hal yg dapat memicu kita utk semakin meluncur ke depan untuk menjadi lebih baik lagi. Namun setelah membaca Rework sepertinya paradigma itu tidak terlalu tepat dan sering kali dilebih-lebihkan. Failure will not bring you further. You will be still in same places. Sometime you will be drawback several or more steps. Kegagalan itu bukan jalur yang benar menuju keberhasilan.

Hal yg lebih tepat adalah, justru keberhasilan yg akan membawa kita lebih maju pada keberhasilan berikutnya. Mengkompromikan kegagalan berarti membuat kita sejak awal berpikir dalam batasan “mungkin saya akan gagal”. Siap gagal mungkin terdengar bagus, namun jika dipikirkan ulang, tidak bagus sama sekali. Oke saya setuju memang kita akan belajar sesuatu dari kegagalan. Bagi anda yang kurang setuju, mungkin akan mengangkat cerita Thomas Edison saat mengalami kegagalan ribuan kali dalam memilih filamen bola lampu yg paling tepat. Pada dasarnya Edison sendiri mengatakan saya tidak gagal, saya hanya menemukan ribuan cara yang tidak berhasil. Dari sana kita bisa melihat kegagalan hanya akan membuat kita belajar apa yang harusnya tidak kita lakukan. Namun seberapa bergunakah itu? Dalam ranah penelitian mungkin masih berguna, namun bagaimana dalam ranah bisnis? Tetap saja setelah gagal kita tidak tahu apa yang harus dilakukan berikutnya.

Belajar dari keberhasilan justru adalah hal yang paling tepat. When something succeds, you know what worked, and can do it again, and for next time even you can do it better. Kegagalan tidak selalu harus menjadi awal dari kesuksesan. Jadi tak usah merasa takut dalam mencapai sesuatu pasti harus selalu diawali kegagalan. Justru banyak juga kasus ketika proses pencapaian berjalan sangat mulus, diisi keberhasilan demi keberhasilan dan setiap keberhasilan itu justru memicu keberhasilan lain dengan lebih mudah dan menghilangkan kemungkinan kegagalan karena kita tahu apa yang benar dan apa yang membuat sesuatu salah.

Sebagai penutup saya akan tulis petikan kalimat yang sangat mengena mengenai pembahasan ini. Evolution doesn’t linger on past failures, it’s always building upon what worked. Kita juga harus seperti itu.

Semoga berguna, jika tulisan ini masih kacau balau, harap maklum, saya masih belajar. Mohon maaf juga kalau banyak typos, ngetik dan publish dari hp.

Love is never easy, here in New York City

I can imagine if there’s nothing in my pocket.
But I can’t imagine if there’s no knowledge in my mind and religion in my heart.
They are others sun in my life.

Malam ini hujan turun dgn sangat deras sekali. Listrik pun kebetulan padam. Momen seperti sudah lama tidak aku rasakan. Langsung kuraih handphone ku menyetel lagu I’ll be over you milik Toto. Dengan latar hajaran suara hujan yg turun menembaki bumi, aku mulai mengetik di atas tablet. Aku ingin melakukan refleksi diri sejenak.

Sebelum listrik padam, aku tengah membaca 9 Summers 10 Autums novel Iwan Setiawan. Kata Love is never easy, here in New York City pun adalah petikan yang berasal dari buku tersebut. Aku terpaksa  berhenti membaca dengan hilangnya penerangan tanpa listrik. Meski kemudian ternyata listrik tak lama menyala kembali dan aku bisa menyelesaikan buku itu. Novel itu membawa gambaran New York City di depan mata aku. Penulis bercerita tentang kehidupannya yang dimulai dari Batu di Malang hingga bisa sampai ke NYC di Amerika Serikat. Dimulai dari kemiskinan namun dengan usaha keras dan mimpi langit pun bisa diterabas. Sekilas seperti sihir. Namun itulah hidup, selalu ada kemungkinan untuk terjadinya hal-hal yang mungkin tidak pernah kita pikirkan. Demikian juga selalu ada jalan mewujudkan mimpi kita yang paling mustahil sekali pun.

Tidak, sejak dulu aku tidak pernah terlalu berminat pergi ke Amerika Serikat. Namun cerita dari buku itu memberi sedikit stimulus untuk membuat aku memikirkan ulang hidupku sekarang dan hidupku nanti. Memikirkan di mana aku sekarang dan mengindentifikasi mau ke manakah aku melangkah.

Salah satu refleksi pertama yang  penting untuk direnungkan adalah masalah cinta. Love is never easy, here in New York City. Manusia itu punya hati. Di hati itu ada cinta. Cinta memang tidak pernah mudah baik itu di New York City, meski itu di Jonggol, meski itu di Jakarta, atau di mana pun juga.

The way love is never easy itu baru benar-benar aku rasakan sekarang. Dulu aku sering percaya cinta itu selalu manis, cinta itu selalu tulus, cinta itu selalu indah. Namun 3 bulan ini adalah masa paling berdarah dalam hidup aku. Masa ketika merasa kaki tak berpijak lagi ke bumi. Masa ketika aku merasa teramat kehilangan. Masa ketika merasa teramat dikhianati. Masa ketika aku tersadar telah dibodohi sedemikian parahnya. Namun masa ini pula adalah masa paling berarti ketika aku bisa mendapat pelajaran paling berharga dalam hidup.

Cinta bukan sekedar kecantikan fisik, kekayaan materi dan juga bukan rasa kasihan. Mencoba membangun cinta di atas 3 pondasi tersebut ibarat membangun rumah di atas pasir. Rumah akan roboh sebelum selesai. Lalu sepeti apakah cinta yang benar? Aku juga masih mencari. Secara naif mungkin akan mengatakan cinta yang benar adalah  yang hanya mengharap ridha Allah. Mungkin.

Refleksi kedua adalah perjalan mengejar mimpi. Sekali lagi untuk saat ini aku tak terlalu berminat ke Amerika. Dulu aku sangat menggebu-gebu sekali untuk kuliah ke Jepang. Namun gempa besar kemarin dengan sangat pragmatis membuat aku sedikit gentar. Padahal pada dasarnya tak permukaan bumi manapun yang akan melindungi kita dari ajal ketika waktunya tiba. Entahlah kemana pun itu, Jepang, Prancis, UK atau Belanda aku hanya ingin mulai merajut mimpi kembali. Mengejar ambisi-ambisi lama yang sempat terkubur beberapa tahun belakangan. Semoga momen patah hati ini menjadi waktu yang tepat untuk bangkit kembali.

Sejak minggu kemarin aku sudah sibuk mengurus TOEFL dan TPA. Tekad aku sudah bulat. Aku harus segera kuliah lagi. Aku ingin membangkitkan kembali yang telah terhibernasi sekian lama. Aku tahu tak ada yang mudah. Banyak hal harus diperjuangkan dengan darah dan air mata.