2nd Trial Metro TV News Presenter Recruitment

Tadi pagi, saya meluncur ke Bandung. Sebuah ekspektasi dan cita-cita mengiringi niatan perjalan tersebut. Sabtu lalu, saya mengikuti on camera test untuk news preseter Metro TV di Kedoya Jakarta Barat. Kali itu, saya gagal. Tadi pagi, saya penasaran dan mencoba lagi untuk kali kedua. Agak menyakitkan memang, saya gagal lagi.

Pengorbanan yang tidak terlalu mudah namun tidak terlalu dramatis juga. Ba’da shubuh saya langsung meluncur melahap jarak sekitar 150 Km dari Jonggol ke Bandung. Jalurnya bukan jalur yang terlampau menyenangkan pula. Hutan dengan beberapa titik jalan rusak dan mobil-bobil tronton besar yang harus disalip. Pengrobanan yang sia-siakah? Saya pikir tidak.

Kegagalan adalah guru yang baik. Sebagian sukses besar justru diawali dari kegagalan. Dengan kegagalan seseorang bisa melakukan evaluasi. Kegagalan membuat orang lebih mawas diri. Namun tidak jarang juga bila bisa saja satu kegagalan malah membuat orang jatuh dan putus asa. Semoga saja itu bukan saya.

Sebenarnya kegagalan tadi pagi pun sangat logis. Metro TV mencari qualified person. Setelah di tes, saya pun sadar sepenuhnya bahwa kualifikasi saya belum bisa memenuhi kualifikasi yang mereka butuhkan. Memang sekali lagi rasanya sangat tidak nyaman mendapat penolakan. Sebuah semangat membara pun berkobar dalam diri saya untuk bisa memperbaiki ini semua. Saya harus belajar lebih intensif lagi, bekerja keras dengan konsisten dan persisten. Terkadang ada rasa lelah, itu harus dilawan.Serng kali berat melawan kantuk di pagi hari, itu pun harus dikalahkan.

Saat saya dilahirkan, Allah Swt memberikan jatah umur terbatas yang tidak saya ketahui dimana limitnya. Saya hanya berharap dalam setiap tarikan nafas dimana kredit umur saya semakin berkurang, saya bisa memanfaatkan setiap potensi yang melekat dalam diri ini dengan sebaik-baiknya. Mungkin ada cita-cita pragmatis seperti punya mobil bagus atau membeli rumah nyaman. Mungkin juga selalu ada cita-cita transendental untuk bisa masuk surga. Saya harus tetap kuat, dan tidak pernah berhenti untuk berjuang.

Metro TV News Presenter Recruitment Experience

Sabtu 19 April lalu saya mengikuti Metro TV News Presenter Recruitment. Sejak Sabtu pagi saya langsung meluncur dari rumah menuju kedoya Jakarta Barat dimana TV kepunyaan Surya Paloh tersebut berkantor. I love Jakarta on saturday and Sunday. The traffic is so smooth. Jam 8 lebih sedikit pun saya sudah tiba di lokasi. Luar biasa sekali dandanan saya hari itu. Kemeja lengan panjang, celana bahan semi denim, dasi berwarna merah, rompi rajutan dan sepatu pantopel baru. Saking barunya, saya hampir lupa melepas merek harganya.
Proses recruitment dilangsukan di Lobby 3 ruang rapat besar Metro TV. Pada saat saya tiba sudah nampak beberapa peserta lain dengan gaya dan dandanannya masing. Ternyata kebanyakan dari mereka drive 4 wheel vehicles ke sana. Sementara saya, hiks, masih harus bertahan dengan my two wheels vehicles yang dekil seminggu belum sempat dicuci. Jadi nampaknya kebanyakan peserta berasal dari kalangan atas gitu. Terbacalah dari asal-asal kampusnya. Paramadina, Trisakti dan bahkan ada yang dari UTS Sydney. Ternyata juga, kebanyakan partisipan adalah wanita. Laki-lakinya nggak lebih dari sepuluh orang dengan total peserta pada hari itu sekitar 40 orang. Kurang dari seperempat cowok di sarang perawan.

Jadi pada proses recruitment News Presenter tahun 2008 ini, Metro TV melangsungkan dalam beberapa kesempatan. Recruitment dimulai sejak 11-12 April 2008 di Metro TV, 16-17 April di UI Depok, dan kemarin 18-19 April kemabli di Metro TV. Saya datang pada tanggal 19 April kemarin yang merupakan hari terakhir recruitment di Jakarta. Minggu ketiga April recruitment akan dilangsungkan di UnPad Bandung. Jadi untuk yang masih gagal di recruitment awal dan penasaran masih ada kesempatan untuk mencoba lagi.

Persyaratan yang dibawa pada hari cukup simpel. CV, application letter, Foto postcard (saya print sehari sebelumnya di kampus), TEFL minimal 550 dan pakaian rapi seperti yang saya gunakan tadi. Wanita menggunakan blazer (bener gak nulisnya?). Beberapa yang datang juga cukup anggun dengan busana jilbabnya.

Berikut adalah deskripsi teknisnya, siapa tahu ada yang ingin tahu pengalaman mengikuti recruitment. Pada recrutiment tersebut, seleksi dilaksanakan langsung dengan on camera test, berbpura-pura melakukan live report. Peserta dipanggil berdasar nomor urut absen ke dalam ruangan dengan 3 orang juri mengawasi dan menilai. Secara kebetulan saya ada di posisi 1 (kenapa coba saya harus tergesa-gesa mengisi absen duluan). Setelah dipanggil saya pun langsung masuk ke ruangan. Kameramen sudah berdiri di pojok ruangan dengan layar LCD besar di sampingnya. Jadi I can see my self on camera. Saya langsung memperkenalkan diri dalam bahasa inggris dan lasan mengikuti proses recruitment tersebut. Setelah perkenalan, saya pun langsung melakukan live report pura-pura. Namun karena nervous mungkin, ngomongnya agak belepetan. Capek deh… Kurang dari 10 menit saya pun kembali ke luar ruangan. “Ok Jon berapa usianya? dapat dari mana informasi recruitment ini? Oke terima kasih untuk partisipanya.” Kata juri di akhir performansiku berbasa-basi. Hiks, not maksimum performance nih. Sedih. Persipannya kurang. Ketika keluar para partisipan lain langsung mengerubungi, gimana, seperti apa, bla.. bla…

Pada akhirnya pada hari itu, setelah 10 peserta masuk hasil pun langsung ke luar. Jadi, dari 10 peserta pertama yang masuk hanya 2 orang yang lolos ke tahap selanjutnya untuk interview. And my name is not mentioned. Tidak! GLGL nih, Gagal Lagi Gagal Lagi. Wise person say fail is good teacher. But, I bore always teached by failure. Hiks, I have to work harder and fix all my failure from now on. Dengan sedih dan BT, aku pun langsung cabut dari Metro TV. Kalau sempet mungkin nanti main ke Bandung ah, nyoba seklai lagi. Atau barangkali Transcorp buka recruitment. Kata orang-orang, seragam kantor paling keren ya seragam Trans TV. Wish me more luck later.

On The Job Training Experiences

Tiga hari kemarin, saya menjalani on the job training di sebuah perusahaan investasi berjangka (futures) di jakarta. Produk yang dijual oleh perusahaan tersebut adalah indeks dan forex. Meski pada saat awal melamar, posisi yang ditawarkan adalah management trainee, ternyata yang management trainee yang dimaksud oleh perusahaan tersebut adalah broker trainee. Jadi kami di training utuk menjadi broker alias pialang untuk produk-produk investasi yang mereka jual. Jadi setelah training, akan ada on the job training lanjutan sekitar 1 hingga 3 bulan. Baru setelah siap kami dapat mulai mencari nasabah. Namun perhatian! Nasabah yang bisa diajak bergabung bukanlah kelas ikan asin. Paling tidak hanya mereka-mereka yang siap berinvestasi di atas 20 juta yang bisa ditarik. Dari setiap transaksi yang nasabah lakukan broker akan mendapat komisi. Dari uraian selama pelatihan kemarin, komisi yang didapat broker adalah sekitar 21 $ per lot (lot adalah satuan hitung kuantitas dalam saham, indeks dan forex, nilainya berbeda-beda pada setiap instrumen investasi tersebut).

Training cukup menarik, apalagi saya punya minat besar seputar pengetahuan investasi dan keuangan. Maklum punya cita-cita menjadi orang kaya. Sebelumnya juga sempat belajar otodidak seputar forex dan sedikit-sedikit coba traiding onlie. Dalam 3 hari tersebut kami diajari dasar-dasar indeks trading, forex trading, analisis teknikal, fundamental dan manajemen resiko. Pada hari terakhir barulah disampaikan kontrak yang harus ditandatangani.

Bebrapa point yang saya tarik berkaitan dengan kegiatan tadi, pertama, broker tidak memiliki gaji pokok. Selama kontrak 3 bulan kami diberi uang transport 30.000 per hari. Kedua, meski bersifat training, kami harus hadir dari jam 8.30 hingga 18.00 setiap hari kerja. Ketiga, sepserti yang telah disebut di atas, mencari nasabah berkantong bukanlah hal yang mudah. Keempat saya sedang memilik banyak job private teaching yang nilaninya lumayan dan sayang kalau ditinggal. Jadi kesimpulannya, saya mundur dari penandatanganan kontrak dan mencoba menacri peluang lain.

Guys, no shortcut to be reach. Nggak ada jalan pints menjadi kaya. Semuanya membutuhkan kerja keras dan pengorbanan. Menjadi broker memang mengandung peluang besar untuk sukses dan kaya. Tapi dibutuhkan kerja ekstra keras. Untuk saat ini setelah melakukan analisis SWOT saya memutuskan untuk meningglaknya dulu. Setiap orang punya nasib bukan? Setiap orang juga harus punya ikhtiar. Ikhtiar juga akan mempengaruhi nasib, semoga dengan cara yang baik.

Oh ya, sabtu besok saya mau coba ikut walk interview metro tv as … (coba tebak) … News Presenter! Wish me luck ya.

A Tale of Job Seeker

Agak menelan air liur sendiri juga. Sejak jaman masih kuliah saya paling banyak mengoceh anti melamar kerja. TIdak mau meminta belas kasihan penyedia kerja. Saya ingin independen. Berwirausaha, atau setidaknya menjadi akademisi profesional dan berharap almamater saya mau merekrut saya menjadi dosen. Namun ternyata ekspektasi agak jarang menjadi nyata. Sejak wisuda  15 Maret 2008 kemarin sudah 9 surat lamaran via pos dan sekitar 8 email lamaran yang saya kirim. Ternyata saya masih mebutuhkan kebaikan hati para penyedia kerja juga. Tapi sementara saja loh. Hanya mencari pengalaman dan pembelajaran satu atau dua tahun saja. Dalam selang satu dua tahun tersebut, saya akan mati-matian memperdalam bahasa Jepang dan mencari topik terbaik untuk thesis S2. Saya harus melanjutkan kuliah ke Jepang. Menikah juga tentunya. Dan setelah itu menjadi akademisi profesional sambil berwirausaha membangun perusahaan sendiri.

Akhirnya penantianku agak terjawab. tadi siang sekeluar dari kampus hanpon di pinggangku bergetar. langsung saja minggir dan memencet handsfree button.

penelepon (seorang mbak-mbak) : “Halo dengan saudara Jon Kartago Lamida?”
Gue : “yak betul” Sambil meminggirkan motor”.
penelepon  : “Saya dari bla…bla…” (menyebutkan nama sebuah perusahaan)… “kami sudah menerima aplikasi lamaran anda”
Gue : Baru ngeh bahwa ternayta telpon dari calon employer. “Oh ya mbak”.
penelepon  : “Anda kami undang untuk wawancara pada hari Senin 14 April pukul 10.30 dengan bla…bla…” (menyebutkan detail)
Gue : Langsung turun dari motor ke trotoar menumpahkan isi tas nyari pulpen untuk mencatat informasi yang perlu dicatat.
penelepon : “Kami harap anda dapat membawa bla…bla…bla…”
Gue : Masih mengaduk-aduk tas mencari pulpen (saking paniknya sampai lupa kalau di handphone ada fitur merekam percakapan).

dan seterusnya.

Nah setelan percakapan telepon selesai, saya masih terbingung-bingung juga mengeingat kapan yah saya mengirim lamaran ke perusahaan yang menelpon barusan? Perasaan saya tidak pernah mengirimkannya. Kepenasaran pun disimpan sampai barusan setiba saya di rumah. Setelah membolak-balik data yang tersimpan rapi di komputer untuk setiap berkas lamaran yang sa kirim masih tidak menemukan juga berkas perusahaan yang menelpon tadi. Bahakan saya lupa apliaksi saya kirim via email atau pos. Beberapa aplikasi ke pos memang kebanyakan menggunakan alamat PO BOX tanpa dapat diketahui nama perusahaannya.

Permasalahan utamanya adalah bagaimana mungkin saya bisa interview bila saya lupa posisi apa yang saya lamar. Nah loh! Akhirnya barusan langsung mengecek outbox di gmail sambil terus mengingat. Ternyata setelah cek ini cek itu, undangan interview untuk hari Senin nanti adalah atas email yang saya kirim tadi pagi. Wah, cepat sekali respon perusahaannya ya. Padahal seluruh surat lamaran yang sudah saya kirim belum satu pun yang direspon. Posisi yang saya lamar adalah Management Trainee. Syukurlah agak tenang juga. Mudah-mudahan hari Sabtu Minggu bisa siap-siap, sehingga pada saat wawancara bisa tampil maksimal.

Rantai Motorku Putus

Tadi pagi akhirnya rantai motorku putus juga (aneh kok kayak seneng… ??). Sebenarnya sudah 2 bulan terakhir rantai motornya sudah kendor banget. Maklum pemakaian Pulang Pergi Jonggol Jakarta hampir setiap hari. Namun karena mental ngirit, kalau belum kronis belum berobat. Jadi selagi rantai masih bisa dipake belum mau diganti. Barulah tadi pagi putus, akhirnya dengan sangat terpaksa diganti. Rantai 65.000. Gir belakang 50.000. Gir tengah 45.000. Totalnya 160.000 sama ongkos masang. Hiks, uangku melayang lagi.

Oh ya tadi ternyata di dealer SiHonda City Sport yang melegenda itu ternyata sudah dipajang. Kira-kira 17 juta on the road. Cuma sayang tadi pengen minta brosurnya belum ada. Sama kalaupun mau mesen harus inden. Ah meningkan Yamaha V-Ixion. aki kembali lagi ke preferensi awal nih. Injeksi gitu loh, dan terlihat lebih cowok.

The Kite Runner

Sebuah kisah suram tentang persahabatan, persaudaraan dan penyesalan. Cerita mengambil latar di Kabul Afganistan sejak tahun 70-an hingga 90-an. Kisah utamnya adalah persahabatan Amir seorang anak Pashtun piatu kaya dengan Hasan sang pelayan keluarga Hazara miskin. Pashtun dan Hazara adalah suku-suku di Afganistan yang saling kontras baik secara fisik maupun keyakinannya. Pashtun mirip dengan orang-orang Arab umumnya, tinggi besar, hidung mancung dan sebagainya. Sementara Hazara adalah suku terpinggir di Afganistan yang lebih cenderugn mirip dengan orang Asia Timur. Lebih dari itu, Pashtun kebanyakan berkepercayaan Islam Syiah dan Hazara Islam Suni. Dalam kekontradiktifan itulah Amir dan Hasan menjalani persahabatannya sejak kecil.

Saya katakan tadi, kisah ini memang sangat suram dan gelap. Jangan pernah berharap ada lelucon yang membuat anda terbahak-bahak. Jika sangat sensitif, kebanyakan kasus mungkin anda akan sering menangis. Bagaiman saat satu kjesalahan diperbuat, ia akan terus mengejar-ngejar hingga anda bersusaha keras untuk memperbaiki itu semua.

Selain persahabatan Amir dan Hasan, serita juga banyak mengangkat hubungan anak dan ayah Amir dan Baba. Kemudian masa-masa yang gelap ketika Afganistan dikuasai oleh Taliban, pengungsian dan kegelapan yang seakan tak pernah berhenti. Satu hal yang luar biasa dari Khaled Khoseini sang penulis adalah kemampuannya dalam menggambarkan settingan tempat kisah dengan sangat baik. Paling tidak pembaca dapat merasakan masa-masa suram dan sulitnya rakyat Afganistan pada masa-masa penjajahan dan penguasaan Taliban.