Rekap Awal November: Salah Masuk Kantor dan Laptop Rusak

Seperti yang sudah ditulis di post minggu lalu, hampir satu tahun saya absen menulis. Padahal menulis banyak manfaatnya. Saya hendak mencangankan target untuk menulis setidaknya satu post dalam seminggu. Jika pun tak ada ide berbobot untuk ditulis, biarlah curhatan hati menjadi penggantinya.

Minggu ini dimulai dengan agak menyebalkan. Hari Senin lalu saya masuk kantor di saat kantor sedang libur. Secara kalendar, hari Sabtu adalah hari libur nasional singapura untuk perayaan divapali, salah satu hari raya Hindu yang kebanyakan dirayakan orang India. Semacam dengan peraturan libur nasional di Indonesia, peringatan divapali biasanya akan mendapat jatah 2 hari tanggal merah. Namun karena tahun ini jatuhnya di hari Sabtu, berdasarkan website departemen tenaga kerja Indonesia, libur merahnya hanya Sabtu dan Minggu, yang artinya Senin bukanlah hari libur nasional.

Senin pagi seperti biasa saya beranjak ke kantor jam 8 pagi. Jalan satu blok ke arah stasiun MRT Dakota. Langsung ambil tempat duduk favorit di gerbong paling ujung dan mulai membaca buku dari tablet. Sekitar 40 menit kemudian akhirnya sampai di statusiun MRT Haw Par Villa. Turun MRT, keluar dari platform dan naik terus keluar dari stasiun yang berada di bawah tanah. Keluar langsung menunggu di bus stop menanti shuttle bus yang akan mengantar ke science park 2 tempat kantor Fujitsu Singapura. Bus datang, langsung naik, membayar 40 sen, duduk dan kembali membaca. Sekitaran 10 menit bus sampai di bus stop tujuan. Turun bus kemudian berjalan ke gedung. Naik ke lantai 3 menggunakan lift, lalu berjalan ke arah pintu salah satu wings, tapping access card kantor, masukan pin, pintu terbuka dan ruangan gelap. Nyaris tak ada orang kecuali ada beberapa orang yang mungkin ada kerjaan di pojok ruangan.

Ternyata Fujitsu libur meski kebanyakan kantor lain masuk. Berhubung saya adalah third party contractor mungkin tidak mendapatkan email pengumuman liburnya hari tersebut. Sementara project manager saya dan satu rekan developer yang lain sudah cuti sejak seminggu lalu dan lupa mengingatkan saya mengenai hari libur ini. Agak sedikit geli sendiri kemudian langsung keluar dan pulang. Kali ini via Harbour Front, turun di Clarke Quay dan naik bus 197.

Sejenak saya jadi teringat seorang teman sewaktu SMA. Namanya Rommy Jackson. Itu nama aslinya. Chinese dan sangat ramah. Jago main basket dan gitar. Badannya lumayan tinggi, mungkin sekitaran 170 cm di saat kami masih kelas satu SMA dan saya hanya 160 cm lebih sedikit. Detailnya saya lupa namun satu waktu Rommy pernah datang ke sekolah saat sekolah diliburkan mendadak. Jika tak salah karena hari sebelumnya dia tak masuk karena sakit. Saat sekolah masuk lagi, saya langsung menyapanya dan menanyakan apakah dia masuk di saat hari libur mendadak itu. Ia mengiyakan karena ia tak terpikir menyakan teman-teman yang lain apakah hari tersebut libur atau masuk. Pada masa itu boleh dibilang hampir ada yang memegang handphone. Sayangnya, saat kelas 3 atau tak lama setelah lulus, lupa tepatnya. Rommy meninggal dunia mendadak. Menurut kabar yang saya dengar diduga karena serangan jantung.

Lanjut ke poin kedua curhatan minggu ini. Berhubung saya kerja di Fujitsu, saya mendapat jatah laptop kerja Fujitsu. Saya malas memeriksa tipenya, ukuran layar 13 inchi dengan prosesor intel i5. Bukan laptop yang terlalu cepat sebenarnya untuk develop Java. Saya sangat suka laptop tersebut karena ukurannya yang mini. Minggu ini, setelah salah masuk hari Senin, saya kembali masuk kantor di hari Selasa. Salah satu rekan saya di project yang sedang kami kerjakan cuti ke Taiwan. Sehingga setiap hal yang berkaitan dengan project harus saya tangani sendiri. Selasa pagi banyak email masuk dari klien. Mengenai implementasi web service baru dan beberapa issue. Ketika sebenarnya sangat semangat bekerja tiba-tiba saya melihat ada yang tak beres dengan laptop. Sangat lambat dan tak responsif. Padahal minggu lalu masih baik-baik saja. Saya mulai coba troubleshooting dari taskmanager. Tidak ada yang nampaknya aneh. Pada akhirnya seharian itu saya tidak bekerja karena sibuk mengoprek laptop. Saya masih berpikir ada masalah di sistem operasinya.

Sesampai rumah saya langsung mengeksekusi checkdisk dan nampaknya tak ada yang salah. Sampai tengah malam masih terus penasaran hingga akhirnya saya tersadar, beberapa hari belakangan terkadang hardisk laptop berbunyi keras. Saya juga baru tersadar lampu indikator hardisk terus menyala. Nampaknya masalah bukan di software, tapi di hardisk.

Keesokan harinya saya langsung mendatangi MIS, departemen yang mengurusi infrastruktur dan hardware di Fujitsu. Benar saja ternyata hardisknya bermasalah. Solusinya adalah harus mengganti hardisk baru. Namun berhubung pengadaan barang akan memakan waktu beberapa hari hingga minggu sementara menggunakan laptop pengganti. Fujitsu juga, tapi 14 inchi masih dengan proses intel i5 dan berat tambahan 500 gram.

Pelajaran pentingnya adalah tak selamanya masalah computing ada di software. Secanggih apa pun software jika hardwarenya rusak maka tidak akan ada yang jalan.

Menulis dan Menemukan Diri

Melihat post lalu, agak terkejut ketika saya tersadar hampir setahun tidak menulis tulisan baru. Sebenarnya selain di blog ini saya juga terkadang menulis di blog lain. Namun kembali saya tersadar baik dari kuantitas dan kualitas, saya masih harus belajar banyak untuk menulis dengan baik.
Blog ini dimulai sudah cukup lama. Tahun 2007. Sebelum kehadiran blog, saya juga cukup rutin menulis jurnal. Entah pada kemana jurnal-jurnal tersebut sekarang. Sedari dulu saya senang menulis dan selalu bermimpi (bahkan hingga kini) untuk menjadi penulis.

Trend blog sebenarnya adalah sesuatu yang sangat baru. Di Indonesia salah satu trend early blogger yang cukup terkenal adalah Radithya Dika dengan curhat-curhat si Kambing Jantannya. Dia bahkan sudah menulis blog saat platform yang memungkinkan blogging dengan mudah belum muncul, sebelum ada wordpress atau blogger. Baru setelah munculnya wordpress dapat dikatakan blogging menjadi sesuatu yang lebih mudah dilakukan.

Sekarang kembali ke ide dari judul post ini. Kenapa harus menulis? Tanpa harus menunjukan referensi formal, menulis adalah sesuatu yang bermanfaat. Setiap hari dalam otak manusia terjadi ratusan atau mungkin ribuan pemikiran. Ide dan pemikiran itu datang dan pergi begitu saja. Menulis adalah salah satu aktivitas untuk bagaimana kita bisa fokus terhadap ide tertentu. Pada akhirnya dengan fokus tersebut kita akan lebih memahami diri sendiri dan juga apa yang kita coba tuliskan. Writing will help you to find yourself.
Dari segala penemuan teknologi dan eksplorasi yang dilakukan manusia, tetap bahwa salah satu misteri terbesar di alam semesta adalah manusia itu sendiri. Jadi bagaimana mungkin menulis bisa mencoba untuk memecahkan misteri itu? Bagaimana menulis bisa menjadi jalan untuk mengenali diri lebih baik lagi? Pertama menulis memaksa kita untuk fokus memproses satu ide. Seberapa banyak pun letupan neuron di kepala kita, menulis membuat kita harus memprosesnya secara sekuensial satu persatu. Dengan fokus ini kita tidak bisa terhindar dari kehilangann arah karena cepatnya otak melompat dari satu ide ke ide lainnya. Saking cepatnya lompatan tersebut bahkan sering membuat banyak ide yang brilian hilang begitu saja. Kedua menulis bisa membantu saat kita ingin melakukan branstorming dengan diri sendiri misalnya saat hendak mencari gagasan. Tentu saja bentuk tulisan tak harus sesuatu yang linear hanya berisi teks, bisa saja bentuk tulisan adalah midmap yang mencoba mendeskripsikan ide yang tengah kita oleh. Ketiga adalah yang terpenting bagi individu. Menulis adalah media kontemplasi yang bisa sangat efektif. Ketika ingin melakukan evaluasi diri, merenung, evaluasi masa lalu dan merancang target masa depan.

Namun menulis itu sulit. Menulis secara konsisten dari awal hingga usai jauh lebih susah lagi. Oleh karena itu muncul terminologi writers block yang menggambarkan kesulitan menulis bahkan terjadi pada professional sekalipun. Di sinilah perlunya kedisiplinan. Disiplin inilah yang akan membedakan antara yang sukses dan tidak sukses dalam menemukan dirinya. Saya sendiri pernah dalam beberapa masa berhasil memaksakan diri untuk disiplin. Misalnya komitmen untuk menulis surat cinta pada istri saya setiap hari serperti terinspirasi dari film The Notebook. Komitmen berjalan lancar di awal namun seret di tengah jalan. Namun setiap waktu saya selalu berusaha untuk bisa menjaga konsistensi itu lagi. Menulis buku adalah salah satu misi hidup penting yang masih belum tercapai hingga saat ini. Oleh karena itu , hingga detik ini saya masih dalam proses mencari diri saya dan membangun konsistensi yang lebih baik lagi dalam segala hal.