Holistikasi Pendidikan Indonesia di Masa Depan

Note:18 Desember 2007

Tulisan ini adalah tulisan yang saya  masukan untuk LOmba Essai Lembaga Kajian Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta.

Tanggal 12 Desember lalu diumumkan pemenang lomba setelah dilakukan penilaian oleh dewan Juri yang terdiri dari Helvy Tiana Rosa dan Muhammad Ivan Azhari. Percaya atau tidak, ternyata tulisan ini menjadi juara 1 dari 17 partisipan. Apa Mbak Helvi dan Mas Ivan lagi bingung ya? Kok tulisan jelek bisa menang.

🙂

Mudah-mudahan  hal tersebut bisa menjadi cambuk bagi saya untuk terus produktif berkarya.

Oh ya, piala lomba yang saya terima ternyata patah dalam perjalanan pulang. Mungkin Tergoncang-goncang di bagasi motor saat dalam perjalanan.

 

Holistikasi Pendidikan Indonesia di Masa Depan

 Oleh: Jon Kartago Lamida

Prolog

Dia adalah Forrest Gump. Seorang anak lelaki yang tidak terlalu pintar dan agak terbelakang. IQ Forrest tidak sampai 100. Pada awalnya bisa saja orang berpikir kelak Forrest hanya akan menjadi orang idiot yang tidak punya masa depan. Tapi kenyataannya kemudian ternyata berbeda.

Forrest memiliki ibu yang sangat menyayanginya. Ibu yang membela saat Forrest dilecehkan. Ibu yang selalu menemaninya menjelang tidur dengan membacakan buku cerita. Ibu yang mengantarkan menemani anaknya menunggu bus sekolah. Ibu yang menolak dengan tegas saat Forrest harus dipindahkan ke sekolah khusus karena dianggap idiot. Ibu yang tak pernah bosan mendukung dan mendorong. Ibu yang ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anaknya.

Masa depan Forrest pun ternyata tidak berjalan sesuai dengan apa yang ditakutkan. Forrest bisa bisa lulus kuliah, mengikuti dinas militer dan mempunyai bisnis penangkapan udang. Meskipun kisah itu hanya cerita film yang diangkat dari novel berjudul sama, Forrest Gump, ada sebuah pesan kuat yang bisa diambil. Pentingnya pendidikan holistik bagi setiap manusia.

Tidak ada yang meragukan urgensi pendidikan bagi dalam membentuk manusia berkualitas. Manusia yang dengan kualitasnya tersebut mampu menyumbangkan pemikiran untuk lingkungan sekitar dan meningkatkan kesejahteraan diri dan lingkungannya. Manusia yang dengan kualitasnya mampu menjadi sumber daya manusia yang bisa mengembangkan kehidupan, mempelajari sains dan teknologi, mendalami kebudayaan sebagai tuntutan, kebutuhan dan upaya untuk meningkatkan martabat bangsa dan juga menjadi anggota masyarakat yang baik. Manusia yang mampu memanusiakan dirinya sendiri.

Meski berkesan sangat berorientasi ekonomi, peningkatan kesejahteraan dalam upaya meningkatkan martabat bangsa tadi adalah tujuan dasar yang sangat bisa dicapai dengan memperbaiki kualitas pendidikan. Tidak kurang, lebih dari 30 tahun lalu E.F Schumacher seorang pakar ekonomi kerakyatan Inggris menyatakan bahwa sumber daya terbesar tidak lain adalah pendidikan.[1] Belum lama juga, Gary S. Becker salah seorang pemenang nobel ekonomi menekankan bahwa masa sekarang ini adalah The Age of Human Capital[2]. Sekarang adalah masa manusia sebagai sumber daya, manusialah sumber daya terbesar. Sumber daya yang baik bisa dicapai hanya jika dipupuk dengan pendidikan yang baik. Pendidikan yang tidak sekedar mengembangkan kepintaran tapi juga karakter. Pendidikan holistik yang memanusiakan manusia.

Penyakit Pendidikan di Indonesia saat ini

Melihat kondisi pendidikan di Indonesia seperti melihat dagelan alias lawak. Seperti lawak, skenario jalannya pendidikan seperti berjalan tanpa ada arahan jelas. Semuanya bebas berimprovisasi dengan banyolan-banyolan slapstik. Pemeo yang kemudian menjadi sangat terkenal adalah “ganti menteri ganti kebijakan”. Kurikulum pun sering berubah-rubah, buku pelajaran sekolah juga ikut berubah-ubah, label nama tingkat pendidikan tidak bosan berganti-ganti, namun tetap kondisi pendidikan belum banyak bergerak menuju posisi yang lebih baik. Pendidikan di Indonesia sedang sakit. Penyakit jika tidak diobati akan menjadi parah. Jika sudah parah bukan hal yang tak mungkin pendidikan pun akan meninggal.

Dalam mengidentifikasi gejala penyakit pendidikan di Indonesia, penulis mengutip 8 masalah pendidikan yang pernah disampaikan oleh HAR Tilaar.[3] Kedelapan masalah itu menyangkut kebijakan pendidikan, perkembangan anak Indonesia, guru, relevansi pendidikan, mutu pendidikan, pemerataan, manajemen pendidikan, dan pembiayaan pendidikan.

Kebijakan pendidikan adalah hal yang sangat kompleks. Kebijakan pendidikan melibatkan pemerintah sebagai regulator dan penelur kebijakan, masyarakat sebagai subjek pendidikan dan lembaga pendidikan sebagai institusi penyelenggara. Regulator yang diinginkan masyarakat adalah regulator yang bisa mengeluarkan kebijakan yang membela kualitas pemdidikan dan hak masyarakat untuk mendapat pendidikan. Beberapa kebijakan yang belakangan menjadi sorotan diantaranya adalah masalah Ujian Akhir Nasional (UAN/UN) di sekolah dan kebijakan Badan Hukum Pendidikan (BHP) di perguruan tinggi. Pada dasarnya tidak semua kebijakan yang dikeluarkan pemerintah adalah buruk namun saat tiba pada tahap implementasi tidak jarang terjadi penyimpangan yang berujung kekecewaan masyarakat.

Berikutnya, melompat pada permasalahan guru. Guru adalah elemen penting dalam setiap sistem pendidikan. Hal yang harus disyukuri, peran guru sebagai fasilitator dua arah sudah banyak disadari. Guru sebagai orang yang dianggap selalu benar tentunya sudah tidak bisa diterima lagi sekarang. Apalagi dengan kondisi aliran informasi yang sangat pesat sekarang, bukanlah hal yang tidak mungkin murid bisa lebih tahu lebih dulu dari guru. Dulu, seperti kata Soe Hok Gie, mungkin murid bisa dianggap seperti kerbau yang dicucuk hidungnya lalu mau diperintah apapun. Tapi, sekarang semua sudah berubah sedikit ke arah yang lebih baik.

Turunan permasalahan seputar guru ada pada kualitas guru, lembaga pendidikan keguruan dan penyebaran guru. Pemerintah belakangan ini sangat bersemangat untuk menggenjot kualitas guru, misal dengan mengeluarkan kebijakan sertifikasi guru. Harus ditanggapi positif meski sekali lagi, tahap penerapan harus menjadi tahapan yang benar-benar harus dikritisi.

Kedua, transformasi beberapa institusi keguruan menjadi universitas sempat membuat kekhawatiran beberapa pakar pendidikan. Pengurangan institusi khusus penghasil guru ditakutkan menjadi bumerang yang akan berbalik saat nanti tuntutan kebutuhan guru yang berkualitas akan semakin tinggi.

Permasalahan seputar guru yang ketiga adalah penyebaran guru. Sekarang, semua orang akan mempertimbangkan kemungkinan untuk menggeluti profesi guru. Apalagi jika mendapat kesempatan mengajar di kota-kota besar seperti Jakarta. Kesejahteraan yang dulu sekedar impian kini sudah terlihat di depan mata dan juga sudah bisa dirasakan. Tapi bagaimana untuk guru-guru di daerah? Sejenak penulis teringat pada Butet Manurung, seorang wanita lulusan S3 yang justru kemudian mengabdikan hidupnya untuk mengajar Suku Anak Dalam di pedalaman provinsi Jambi. Permasalahan penyebaran ini harus benar-benar menjadi perhatian regulator pendidikan.

Penyakit pendidikan Indonesia berikutnya adalah masalah relevansi pendidikan. Prof. Dorodjatun Kuntjoro Jakti, dalam salah satu seminar menyatakan bahwa pendidikan di Indonesia tidak menghasilkan lulusan yang siap kerja atau menciptakan lapangan pekerjaan.[4] Dalam kesempatan yang sama, karena penasaran, penulis mengajukan pertanyaan dalam forum tanya jawab. “Apa fungsi pendidikan jika kemudian tidak bisa menghasilkan lulusan yang siap? Berarti materi yang diajarkan harus benar-benar dipertanyakan relevansi dalam kehidupan.”

Dalam jawaban panjang lebarnya, Dorodjatun menyatakan bahwa tantangan berat untuk bisa mengahasilkan lulusan yang siap seluruhnya. Ia pun membenarkan bahwa ada yang harus dipertanyakan megenai materi pendidikan dengan relevansinya. Pada kesimpulannya, Dorodjatun menekankan, meski untuk sampai pada tahap siap kerja atau siap menciptakan pekerjaan cukup berat, setidaknya lulusan pendidikan bisa menjadi lulusan yang siap dilatih. Relevansi ini ternyata berkaitan dengan masalah kebijakan, mutu dan guru.

Penyakit berikutnya adalah masalah mutu. Barangkali karena mutu ini pula relevansi pendidikan di Indonesia banyak dipertanyakan. Di satu sisi banyak sekali siswa Indonesia yang bisa berprestasi di kancah kompetisi akademik internasional seperti olimpiade sains atau lomba sejenis. Tentu hal ini adalah kebanggaan besar bagi bangsa. Tapi di sisi lain juga banyak ketidakadilan harus dialami orang Indonesia. Tidak semua orang Indonesia bisa mengecap pendidikan yang bermutu tinggi. Pendidikan dengan guru yang benar-benar bisa digugu dan ditiru, pendidikan dengan fasilitas belajar memadai, sumber bacaan yang luas dan seterusnya.

Membicarakan mutu di atas akan berkaitan dengan dua penyakit berikutnya yaitu masalah pemerataaan dan pembiayaan pendidikan. Pemerataan pendidikan adalah tugas yang berat. Penduduk Indonesia jumlahnya sangat banyak dan sebagian besar hidup dalam kemiskinan. Wilayah Indonesia pun sangat luas. Mengatur pemerataan pendidikan adalah mengatur pemerataan hak mendapat pendidikan yang bermutu untuk penduduk Indonesia yang banyak baik kaya maupun miskin dalam wilayah yang luas, dari sabang samapai merauke. Fakta yang ada sekarang justru bertolak belakang dengan keadaan itu. Di satu sisi mulai menjamur berbagai sekolah internasional dengan mutu yang tinggi dengan biaya yang tidak pernah terbayangkan sekalipun bagi kebanyakan masyarakat Indonesia karena mahalnya. Di sisi lain ada banyak sekolah yang hampir roboh kekurangan guru dan buku dengan kondisi keluarga murid yang serba miskin. Sesuai dengan UUD 1945, hak memperoleh pendidikan harus dapat dijamin pemerintah. Pemenuhan hal tersebut juga harus dipenuhi secara adil. Adil disini bukan berarti sama rata, namun menempatkan setiap hal pada posisi dan proporsi yang tepat.

Penyakit terakhir yang penulis bahas adalah masalah pembiayaan pendidikan. Dari sini biasa dianggap segala permasalahan pendidikan berpangkal. Banyak orang berpikir masalah pemerataan, masalah mutu dan masalah guru bisa dihilangkan seandainya persoalan pembiayaan bisa dipecahkan. Tidak sepenuhnya benar dan tidak seluruhnya salah. Biaya memang memegang peranan penting dalam pendidikan. Namun membebankan pembiayaan pendidikan pada masyarakat adalah keputusan yang tidak adil. Sementara wacana meningkatkan anggaran pendidikan ternyata masih saja menjadi wacana.

Menuju Pendidikan Holistik: Ekspektasi Pendidikan Indonesia Masa Depan

Holistik berarti menyeluruh. Pendidikan holistik adalah pendidikan yang menyentuh semua aspek pada manusia secara menyeluruh. Tidak sekedar mementingkan transfer ilmu pengetahuan dan keterampilan, namun juga memperhatikan pengembangan sikap dan karakter manusia. Keluaran dari pendidikan holistik adalah individu yang siap memerankan hidup. Individu yang bisa memanusiakan dirinya sendiri tadi.

Uraian di atas adalah ekspektasi penulis tehadap pendidikan Indonesia di masa depan. Ekpektasi yang harus dibayangkan dalam kepala secara detail lalu dilukiskan secara indah menjadi realita. Realita berupa lukisan harapan pendidikan Indonesia hari esok yang membanggakan. Pendidikan yang bisa menghasilkan sumber daya yang berkualitas tidak secara kepintaran saja tetapi seluruh aspek kemanusiaannya.

Dalam upaya melukis harapan indah tersebut, hal pertama yang harus dilakukan adalah menyembuhkan penyakit-penyakit yang diidap oleh pendidikan yang sudah diuraikan tadi. Pertama adalah perbaikan kebijakan. Masyarakat harus bisa lebih kritis terhadap pemerintah dalam hal kebijakan pendidikan. Kedua memperhatikan kembali kualitas guru. Upayanya adalah dengan penjaminan kesejahteraan dan perbaikan kualitas lembaga pencetak guru. Ketiga meningkatkan relevansi pendidikan. Keempat meningkatkan mutu pendidikan dan Kelima memikirkan alternatif pembiayaan pendidikan yang tidak terlalu membebani masyarakat.

Langkah selanjutnya dalam upaya menyembuhkan penyakit diatas, penulis berpikir mengenai 3 hal yang harus diperhatikan dalam upaya melakukan holistikasi pendidikan. Pertama adalah meningkatkan peran keluarga dalam pendidikan. Meskipun pendidikan secara formal dilakukan di sekolah. Peran keluarga tetap menjadi hal yang tidak terbantahkan. Dari keluargalah anak mendapat porsi pendidikan paling banyak. Dari keluarga juga pendidikan terjadi tidak sekedar pemindahan pengetahuan namun juga dilakukan pengembangan nilai-nilai lain seperti sikap dan karakter. Di keluarga, pendidikan holistik bisa dimulai dan paling banyak terjadi. Keluarga yang mampu melakoni peran dalam mendidik anak secara baik, akan mampu mengahasilkan anak yang lebih siap dididik di bangku pendidikan formal dan lebih termanusiakan.

Hal kedua yang harus menjadi perhatian penulis adalah masalah harga buku. Dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat belakangan ini, buku sebagai sebuah benda yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu tetap menjadi media paling efektif dalam transfer informasi. Tantangan terbesar masalah perbukuan di Indonesia adalah harga buku yang sangat mahal sementara daya beli masyarakat sangat rendah. Padahal, membaca buku adalah aktivitas yang sangat penting dalam pendidikan. Menurut Hernowo, membaca adalah berpikir menggunakan gagasan si penulis. Dengan membaca sebenarnya pembaca melakukan diskusi imaginasi dengan penulis. Penulis yakin, jika harga buku bisa ditekan dan jika perlu dibuat gratis pasti akan ada perbaikan yang cukup signifikan terhadap kualitas sumber daya hasil dari pendidikan.

Hal ketiga yang penulis perhatikan adalah masalah pemanfaatan internet dalam pertukaran informasi. Pada awal pengembangannya, internet sudah digunakan sebagai media pertukaran informasi yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan akademik dan pendidikan. Sejak dulu internet menjadi media pertukaran informasi antar kampus, media publikasi hasil penelitian atau sekedar media untuk berdiskusi jarak jauh. Baru kemudian, dalam perkembangan yang lebih lanjut peran-peran lain internet seperti media hiburan, media ekonomi dan perdagangan muncul belakangan.

Secara radikal, penulis membayangkan, jika hanya sekedar mengejar kemampuan kognitif dan ilmu pengetahuan yang siap pakai, orang tidak memerlukan sekolah sama sekali. Terlepas dari dampak negatifnya, saat ini, dengan menggunakan internet orang bisa mendapatkan informasi apa pun termasuk yang berkaitan dengan proses pembelajaran, ilmu-ilmu praktis dan pengetahuan-pengetahuan umum. Keunggulan internet yang bisa menjangkau willayah yang sangat luas bisa mereduksi beberapa penyakit pendidikan yang sempat diuraikan di atas, yaitu masalah pemerataan, relevansi dan tidak perlu lagi memusingkan masalah kebijakan pendidikan. Namun, tentunya peran bangku pendidikan formal tidak akan pernah bisa dihilangkan. Di sekolah pelajar tidak sekedar menerima transfer pengetahuan. Pelajar juga belajar berinteraksi dengan lingkungannya. Pelajar belajar menjadi masyarakat dalam lingkungan miniatur bernama sekolah.

Epilog

Sebelum melukis, pelukis membayangkan gambaran yang akan ia lukis. Penulis membayangkan uraian harapan di atas sebagai gambaran yang ingin dilukis untuk kondisi pendidikan Indonesia ke depan. Setelah bayangan itu cukup kuat di benak, proses melukis pun dimulai. Dalam hal ini proses melukis tersebut adalah tahapan implementasi, mewujudkan gagasan-gagasan di atas secara nyata.

Dalam proses implementasi mewujudkan ekspektasi ini diperlukan keterlibatan yang ekstensif dari pemerintah, masyarakat dan institusi pendidikan. Dengan menyadari betul peran pentingnya, dampaknya dan manfaatnya, perbaikan pendidikan harus dilakukan dengan cepat, mulai dari saat ini juga.

Pendidikan bukan sekedar wadah yang memindahkan pengetahuan belaka. Seperti telah disebutkan juga, ada elemen-elemen lain dari manusia yang justru lebih diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Elemen-elemen semisal pengelolaan emosi, kemampuan bersosialisasi, karakter yang kuat dan seterusnya.

Dengan terciptanya manusia dengan elemen tersebut, diharapkan manusia itu adalah manusia yang lebih berkarakter dan lebih bisa menjadi manusia. Tinggal kita nantikan saja, seperti apa bentuk lukisan tersebut saat ia selesai dibuat.


[1] E.F Schumacher, Kecil Itu Indah, Jakarta:LP3ES, 1981

[2] Edward P. Lazear, Education in 21st Century

[3] Kompas 24 Oktober 2004

[4] Workshop Wirausaha Muda Mandiri, Hotel Nikko Jakarta 14 -15 November 2007

Dark Day

Kemarin sudah menulis mengenai dark week. Hari ini menjadi dark day. Suram, tidak beruntung.

Tadi saat berangkat, ban dalam belakang motor kempes di pondok bambu. Kena paku lagi nampaknya. Padahal baru ganti ban dalam sabtu lalu. Sepertinya saya ditipu waktu itu. Tukang tambal ban menggantinya menggunakan ban bekas.

Setelah selesai ditambal, saya pun melanjutkan perjalanan ke kampus. Di sekitar klender, ternyata kempes lagi. Cukup kesal akhirnya saya ganti lagi dengan ban dalam baru. Saat diganti baru terlohat masih ada paku yang menancap. Jadilah satu hari ini saya mengeluarkan uang 30 ribu lebih untuk urusan motor.

Saya mencoba sabar dan harus sabar. Juga mencoba ikhlas dan harus ikhlas. Nampaknya, Allah menegur lagi saya hari ini. Semoga ada hikmah yang positif dan dark day selesai sampai tadi saja.

Review Forrest Gump

Untuk kedua kalinya, saya kembali menonton film Forrest Gump. Sebuah film lama dengan kisah yang cukup mengesankan meski agak liberal. Maklum, made in America. Hal yang mengesankannya adalah, selama dan setelah menonton, saya memaksa diri saya untuk kembali memikirkan arti hidup. Dari mana, mau kemana, di mana mulainya, ke mana ujungnya dan yang terpenting seperti apa proses serta perjalanannya.

forrstgump.jpg

Forrest adalah seorang anak yang tidak terlalu pintar dan agak idiot. Walaupun keadaannya demikian, Forrest memiliki ibu yang sangat menyayangi dan memperhatikannya. Dari kehadiran ibunya inilah Forrest bisa menjalani kehidupannya dengan cukup mengesankan.

Pada waktu kecil, selain idiot Forrest juga mengalami kesulitan berjalan. Forrest kemudian terpaksa menggunakan penyangga kaki untuk bisa berjalan. Atas kekurangan-kekurangannya inilah Forrest menjadi bahan permainan dan dikucilkan teman-temannya. Namun, ada satu teman kecilnya yang mau berteman dan akhirnya menjadi kawan dekat serta cinta Forrest. Ia adalah Jenny.

Sejak kecil mereka selalu kemana-mana bersama. Bermain, berbicara, bagaikan wortel dan kacang polong kata mereka. Di saat Forrest hidup dengan kasih sayang yang sangat besar dari ibunya, Jenny harus menderita dengan ayah yang kejam. Hal tersebutlah yang membuat masa depan Jenny suram kelak.

Meski idiot, Forrest mampu menjalani kehidupannya dengan baik, sekali lagi karena dukungan besar dari ibu Forrest. Forrest bisa kuliah dan lulus. Setelah itu, secara kebetulan Forrest mengikuti wajib militer dan harus berperang di Vietnam untuk Amerika. Dalam wajib militer inilah Forrest bertemu dengan Buba yang menjadi kawan dekatnya selama perang. Bubba telah lama bermimpi untuk menjadi seorang kapten kapal udang. Topik tersebut tidak henti-hentinya menjadi pembicaraan Bubba pada Forrest selama masa perang. Bubba berharap bisa mewujudkan mimpinya sepulang perang dan mengajak Forrest turut serta.

Di Vietnam pula, Forrest bertemu dengan pimpinan Pletonnya Letnan Dan. Seorang pemimpin serabutan namun sangat loyal pada anak buahnya. Kelak pula, Forrest akan memiliki hubungan dekat dengan Letnan Dan.

Dalam satu waktu, tiba-tiba pasukan Forrest berhadapan dengan pasukan musuh. Di sanalah pasukan ini harus kocar-kacir karena serangan mendadak. Banyak anggoat pasukan yang terluka dan mati. Termasuk kawan dekat Forrest Bubba. Di tengah gempuran pertempuran, Forrest berusaha menyelematkan seluruh anggota pasukan denganmenggotong mereka keluar dari medan perang. Saat harus mengangkat Letnan Dan yang terluka dan menolak untuk diselamatkan sebuah bom menyerang Forrest dan Letnan Dan. Forrest dan Letnan Dan bisa hidup, namun Letnan Dan harus kehilangan dua kakinya. Ini kemudian menjadi kekecewaan bagi Letnan Dan. Ia menganggap dirinya gagal untuk mati secara terhormat malah harus hidup sebagai orang cacat.

Setelah perang, Forrest kembali ke Amerika. Bertemu dengan presiden dan menerima medali penghargaan. Kehidupannya berjalan dengan berbagai gemerlap alur. Mulai menjadi pemain ping-pong profesional, kemampuan yang dipelajari saat masih di Vietnam. Membeli kapal penangkap Udang sesuai dengan janjinya pada Bubba. Berkali-kali diwawancarai televisi. Saat itu pula Forrest bertemu kembali dengan Jenny.

Juga setelah perang, saat Forrest menerima banyak penghargaan, hidup Letnan Dan hancur. Ia hanya menjadi orang cacat yang disantuni pemerintah. Satu saat ketika Letnan Dan bertemu Forrest, sekali lagi ia menyalahkan Forrest dan kecewa atas kecacatan yang dialaminya. Namun tetap, mereka berbicara banyak hal. Termasuk keinginan Forrest untuk memiliki kapal penangkap udang.

Setelah beberapa waktu, Forrest diberhentikan dari ketentaraan. Ia pun berhenti bermain ping-pong lalu mewujudkan janjinya pada Bubba membeli kapal penangkap udang. Ternyata, tidak lama, Letnan Dan bergabung untuk bersama-sama menjadi penangkap udang. Tentunya pada awalnya tidak ada hasil yang bisa mereka dapat. Namun setelah beberapa lama usaha mereka berbuah hasil. Letnan Dan dan Forrest menjadi miliuner atas bisnis penangkapan udangnya. Forrest kemudian menepati janjinya pada Bubba untuk membagi hasil usahanya 50:50 melalui keluarga Bubba. Forrest juga menyumbang ke berbagai tempat. Petikan yang mengesankan dari ini adalah: “My mom said man only need few rich, the remain is only for show up”. Manusia hanya butuh sedikit kekayaan, sebab sisanya hanyalah digunakan untuk pamer.

Dalam kesuksesannya itu, Forrest dikabari jika ibunya sakit. Forrest pun langsung kembali ke rumahnya di Alabama. Sebuah dialog terakhir yang sangat berkesan terjadi anatara ibu dan Forrest. Ibu Forrest sekarat karena kanker. “Dead is part of life”. Kematian adalah bagian dari kehidupan. Setiap orang akan memiliki takdirnya masing-masing. Tidak lama setelah itu, ibu Forrest pun meninggal. Itu menjadi suatu pukulan besar bagi Forrest.

Di tengah kesedihan itu, tanpa alasan yang jelas, pada suatu hari Forrest memutuskan utnuk berlari. Pada awalnya ia hanya ingin berlari samapai ujung jalan. Namun kemudian sampai ujung kota. Lalu sampai ujung negara bagian. Akhirnya ia pun berlari hingga ujung daratan. Ia hanya berhenti untuk makan dan tidur. Sesampai di ujung daratan ia kembali berbalik arah berlari ke ujung daratan yang lain. Saat sampai ujung daratan yang lain, Forrest kembali berbalik arah. Selama 3 tahun lebih Forrest berlari. Meski awalnya ia tidak tahu alasannya, pada akhirnya ia menyadari satu alasan. “Man have to forget his past to begin his future”. Ia ingin melepaskan diri dari masa lalu yang pedih.

Setelah ia berlari panjang, Forrest menerima surat dari Jenny untuk bisa menemuinya. Forrest pun menemui Jenny. Ternyata Forrest telah memiliki anak yang juga bernama Forrest. Jenny telah berubah meninggalkan kekelaman masa lalunya. Pada akhirnya, disini Jenny bersedia menikah dengan Forrest.

Pada pesta pernikahannya, Letnan Dan hadir dengan kondisi yang telah berubah. Ia telah menyesali apa yang telah dilakukannya di masal lau dan berterima kasih pada Forresrt karena ia bisa hidup hingga saat itu.

Pernikahan Forrest dan Jenny ternyata hanyalah sebuah kesedihan Forrest sangatlah mencintai Jenny. Tidak ada wanita lain yang lebih dicintainya selain ibunya dan Jenny. Tapi tidak lama setelah pernikahan, Jenny pun meninggal karenan penyakit yang dideritanya. Masa-masa setelah kematian Jenny adalah masa-masa pedih lain untuk Forrest. Beruntung Forrest sekarang memiliki Forrest kecil. Cerita pun berakhir ketika seakan-akan sebuah flash back berlangsung saat Forrest mengantarkan Forrest kecil berang sekolah menggunakan bus sekolah. Persis seperti saat dulu ia diantar oleh ibunya menunggu bus sekolah di tempat yang sama.

Pengumuman IWIC 2007

Akhirnya, final Indosat Wireless Inovation Contest (IWIC) 2007 telah diselenggarakan Selasa 27 November lalu. Sebenarnya kemarin pengen banget menghadiri penjurian di gedung Indosat. Tapi sayang tidak sempat.

Seperti kompetisi-kompetisi lain, IWIC sangat memberikan greget bagi saya. Pertama, tema kontes yang sangat tekno, seputar aplikasi dunia seluler. Kedua hadiahnya yang lumayan besar. Ketiga prestise yang membanggakan. Keempat, dengan sangat bodohnya, meskipun sejak awal sangat menggebu-gebu untuk mengirimkan proposal, saya tidak jadi berpartisipasi tahun ini. Jadi, jangankan menjadi finalis, apalagi menang, mengirimkan proposal saja tidak.

Tahun depan tidak boleh diulangi!

Tahun ini, IWIC dibagi menjadi 2 kategori. Product Oriented dan Idea Generator. Yang pertama untuk kalangan peserta mahasiswa dan masyarakat umum. Kategori kedua untuk kelompok pelajar. Tahun ini, dari iklan yang saya  baca di kompas, ada 24 finali. Tiga belas finalis untuk kategori product oriented, sisanya di idea generator. Yang membanggakan, hampir setengah finalis untuk kategori idea generator, datang dari siswa SMKN 26 Jakarta, tempat saya magang mengajar semester kemarin. Hebat dan sangat menginspirasi, meski pada akhirnya hanya 1 saja dari mereka yang masuk sebagai juara kedua.

Ini dia daftar pemenang IWIC 2007 yang saya ambil dari detikinet.com.

Selamat untuk para pemenang! Saya pun harus bisa lebih hebat dari kalian!

Idea Generator Category

  • Juara 1, Annisa Ayuningtyas dari Semarang, dengan karyanya “Mobile Wallet dengan RSID”.
  • Juara 2, Doni Prinanda dari Jakarta, dengan karyanya “Charge from Radiation and Fibration”.
  • Juara 3, Amrina Rosyada dari Semarang, dengan karyanya “Aplikasi Wireless pada Balon Udara”.

Product Oriented Software

  • Juara 1, Fahris Ahsan dari Bandung, dengan karyanya “Congcow”.
  • Juara 2, Ahmad Syafiudin dari Bandung, dengan karyanya “Mobile Surveyor”.
  • Juara 3, Rudi Wijanarko dari Jakarta, dengan karyanya “Biofinder”.

Product Oriented Software

  • Juara 1, Lingga Wardhana dari Yogyakarta, dengan karyanya Intelligent Traffic Light with Trafic Jam Broadcaster”.
  • Juara 2, Teguh Widiarso dari Jakarta, dengan karyanya “Solusi Pemantau Kepadatan Lalu Lintas”.
  • Juara 3, Yudi Ananta Rangkuti dari Medan, dengan karyanya “Ponsel sebagai Pemantau dan Pengontrol Jarak Jauh melalui Video Call”.

Selain para pemenang tersebut, Avivul Amongsaufa dari Sragen juga terpilih sebagai juara favorit dengan karyanya “Running Text Dotmatrix berbasis SMS dan Microcontroller”.

Adapun hadiah yang bisa dibawa pulang para pemenang antara lain: untuk kategori idea generator pemenang I, II, dan III masing-masing mendapatkan tabungan pendidikan senilai Rp 10 juta, Rp 7,5 juta dan Rp 5 juta, ditambah dengan medali, HP 3G dan hadiah hiburan.

Sementara untuk kategori product oriented pemenang I, II dan III, masing-masing mendapatkan tabungan pendidikan senilai Rp 25 juta, Rp 20 juta dan Rp 15 juta, ditambah dengan medali, HP 3G dan hadiah hiburan.

Pembekalan Trainer SIAS BAN S/M

Sabtu 25 November kemarin, saya menghadiri pembekalan untuk trainer Sistem Informasi Akreditasi Sekolah (SIAS) milik Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M). Training itu sendiri akan membahas cara penggunaan SIAS. Sementara peserta training adalah operator dari daerah yang akan bertugas menginput data ke SIAS yang terkoneksi melalui internet.

SIAS dibangun menggunakan PHP dan MySQl. Saya tidak terlalu mengetahui berapa dan siapa tim pengembangnya. Tapi skala projectnya cukup besar dan lumayan rumit dengan database yang agak berlapis-lapis.

Kesulitan terbesar yang saya predikisikan untuk training yang akan dilaksanakan tanggal 2 hingga 6 Desember itu adalah jumlah peserta yng cukup banyak dan skill IT yang tidak merata. Tinggal kita lihat saja nanti. Mungkin nanti akan saya ceritakan hasil training tersebut.

Dark Week

Minggu ini adalah minggu yang kelabu. Banyak hal-hal kurang menyenangkan terjadi. Sangat ingin bisa tetap kuat dan tabah. Tapi selalu ada masa ketika diri ini merasa lemah sekali.

Kegelapan dimulai sejak beberapa hari lalu. Saat itu saya ingin menemui salah satu orang. Who is she!!!!!???? Karena satu dan lain hal saya tidak bisa menemui orang itu, bahkan hingga hari ini. Padahal saya benar-benar ingin bertemu dengannya, menyerahkan satu benda yang semoga bisa membuatnya terkesan.

Sabtu lalu momen yang lebih gelap terjadi. Motor saya diseruduk orang di Cipete. Untung tidak terlalu parah. Handle rem tangan patah, footstep bengkok dan body bertambah lagi lecetnya. Sementara saya sendiri kena lecet di siku lengan kanan. Walaupun demikian, tetap saja kejadian itu membuat saya cukup shock. Apalagi saat mengingat saya hampir pernah mau mati saat dulu pernah juga diseruduk truk. Seram, saya nampaknya harus lebih mawas dan berhati-hati.

korban-jungkir-balik-small.jpg


Belum lengkap, setelah menghabiskan beberapa lembar puluh ribuan memperbaiki kerusakan motor, malam harinya ban dalam motor sobek di makan paku. Ban dalam pun harus diganti, uang pun harus keluar lagi. Saya kembali mencoba untuk tegar dan tersenyum.

Puncak kegelapan adalah hari minggu. Saya melakukan kebodohan terbesar yang pernah saya lakukan sepanjang hidup ini. Sangat tolol dan memalukan, sehingga saya merasa sangat malu bahkan untuk sekedar menceritakan di sini. Semoga juga dari kejadian itu saya lebih menjadi orang yang lebih banyak berpikir setiap sebelum mengambil keputusan. Lebi hberhati-hati dan tidak sembrono. Serta mau memerbaiki diri dan berusaha untuk mencapai targetan-targetan saya, semoga hal ini bisa mengobati kesalahan yang saya lakukan.

Man sometime made a mistake.
Terkadang besar, terkadang kecil.
Terkadang disengaja dan terkadang tak sengaja.
Tugas terbesar dari setiap pembuata kesalahan adalah mempelajari kesalahan tersebut dan jangan pernah sekalipun mengulanginya.
Penyesalan memang perlu. Tapi penyesalan berlarut-larut yang berlebihan pun sebaiknya dihindari.
Ada masanya kita pun harus memaafkan diri dan kembali menjalani kehidupan.

Fenomena Seminar Gratis

Sesuatu disebut fenomena saat kemunculannya tidak berlangsung secara biasa dan cenderung bersifat masal diikuti oleh orang-orang lain. Seperti free seminar ini. Ia tidak berlangsung csecara biasa karena sifatnya yang free. Kemunculannya pun ternyata tidak satu dua saja, tetapi berturut-turut beberapa penyelenggara mengadakan seminar tersebut. Belum lagi lokasi pelaksanaannya yang rata-rata dilakukan di hotel berbintang. Kesamaan lainnya, tema seminar biasanya seputar pendidikan finansial dan investasi. Tidak percaya? Buka saja kompas bulan-bulan berjalan dan lihatlah iklan-iklan free seminar di beberapa pojokan koran.

Masalah finansial dan investasi nampak menjadi tren yang mulai menarik perhatian masyarakat. Tren ini ternyata tidak disia-siakan yang oleh pelaku kursus atau lembaga pendidikan finansial atau investasi. Ramainya tren tadi merupakan momen yang tepat bagi pemasaran produk pendidikan finansial yang mereka bawa.

Ciri-ciri pelaksanaan seminar cukup seragam. Diawali dengan pengetahuan umum seputar tema seminar. Diantaranya ada yang mengangkat seputar perdagangan forex, trading di pasar saham, masalah adsense di google dan produk-produk investasi serta finansial lainnya. Tapi di bagian penghujung seminar barulah dipromosikan produk yang ditawarkan penyelenggara yang biasanya berupa paket kursus atau pelatihan. Salah satu seminbar yang pernah saya ikuti dapat dilihat disini.

Kehadiran free seminar tadi tidak hal yang buruk. Bahkan merupakan kesempatan belajar yang baik bagi masyarakat. Hanya saja, pelaksanaan seminar yang beriringan dengan promosi produk pelatihan terkadang membuat objektivitas materi perlu benar-benar dikritisi. Tidak sepenuhnya metri-materi yang dibawakan salah, tetapi peserta harus benar-benar mempu kritis menghadapi promosi yang ditawarkan penyelenggara agar kelak tidak menyesal setelah membayar biaya kursus yang rata-rata tidaklah terlalu murah.