Review: Adhitya Mulya – Sabtu Bersama Bapak

25158921025_a76449e199_z.png

Secara kebetulan, belakangan daftar literatur sastra Indonesia di sekitar saya banyak berkutat dengan judul berkaitan dengan Ayah atau Bapak. Setelah saya membaca Andrea Hirata: Ayah lalu beberapa lalu, kemudian saya juga sudah membaca setengah jalan Tere Liye: Ayahku (Bukan) Pembohong, beberapa waktu belakangan istri saya merekomendasikan Sabtu Bersama Bapak tulisan Adhitya Mulya. Kebetulan istri mendapat pinjaman ini dari seorang kawannya. Karena istri saya berencana mengembalikan novel ini hari ini setelah meminjamnya selama beberapa bulan, saya pun mengebut menyelesaikan membaca kemarin. Karena bukunya tidak terlalu tebal, pembaca cepat bisa menyelesaikan buku dalam kurang dari 2 jam.

Sebelum masuk mengenai sedikit pembahasan mengenai novel, saya akan memberikan kesimpulan dan rekomendasi dari novel ini. Saya memberikan skor 3 dari 5 bintang, dengan alasan ide cerita yang menarik, banyak pesan moral yang disampaikan namun gaya bahasa yang cenderung pop dan agak sedikit kurang sastra membuat pengalaman membaca novel ini tidak terasa terlalu kaya. Seperti biasa, bagi yang belum membaca novel ini bisa berhenti membaca post ini sekarang untuk menghindari kemungkinan adanya spoiler yang akan saya sampaikan.

Sabtu Bersama Bapak, adalah kisah sebuah keluarga. Bapak Gunawan sang kepala keluarga dan Ibu Itje sang istri memiliki dua anak laki-laki bernama Satya dan Cakra. Bapak Gunawan harus menghadapi kemalangan meninggal muda karena kanker, namun setelah mendapatkan kabar tersebut, alih-alih depresi, dalam waktu singkat yang tersedia Bapak Gunawan menyiapkan segala hal yang dia bisa lakukan untuk perkembangan anak-anaknya kelak. Hal yang disiapkan mulai dari secara finansial dan merekam ratusan sesi video yang berisi pesan-pesan sang ayah kepada anak-anaknya dan beberapa sesi video yang berisi aktivitas keluarga mereka di sisa-sisa umur Pak Gunawan yang tetap bertujuan akhir untuk Pak Gunawan bisa tetap “berbicara” dengan anak-anaknya meskipun kelak ia sudah meninggal dunia. Kumpulan ratusan rekaman video tersebut diputar setiap hari Sabtu setelah Pak Gunawan wafat. Setiap rekaman video ditujukan untuk masa usia tertentu anaknya dan berisi pesan yang spesifik sesuai dengan usia Cakra dan satya pada waktu tersebut.

Dengan ide dasar tersebut, cerita berjalan mengenai bagaimana Satya dan Cakra tumbuh tetap dalam bimbingan bapak mereka melalui video-video tadi, meskipun tanpa kehadiran fisik beliau. Inti pesan-pesan Pak Gunawan berkisar antara harus berencana sedini mungkin, menjadi suami yang baik, menjadi bapak yang nyaris sempurna dan selalu berusaha untuk jujur dan berpegang teguh pada kebenaran.

Separuh cerita berfokus kepada Cakra si anak sulung dengan konflik yang dihadapi saat ia membangun keluarga dengan 3 anak dan bagaimana ia bisa menyikapi konflik yang terjadi. Separuh cerita lain membahas Satya dan pencarian cintanya. Sedikit porsi dari total cerita membahas Ibu Itje dalam upaya membersarkan anak-anaknya dan berusaha menjadi ibu yang independen tanpa merepotkan anak-anaknya.

Cerita disampaikan dengan banyak flashback dan flashforwad dari timeline cerita. Agak sedikit membingungkan ketika timeline melompat dari satu tanggal ke tanggal lain. Sedikit humor tersebar di sini dan sana meskipun dalam kuantitas yang tidak terlalu banyak dan humor yang belum mampu membuat saya tergelak tertawa. Seperti yang sudah saya tulis di atas, banyak pesan moral yang disampaikan Pak Gunawan pada anak-anaknya yang secara tidak langsung disampaikan pada pembaca juga. Poin-poin utama diantaranya adalah untuk mempunyai rencana finansial sebaik mungkin sejak dini dan yang paling utama adalah untuk menjadi seorang anak, suami dan ayah yang baik. Petikan yang tidak akurat, karena saya tidak ingat petikan asli tepatnya yang akan terus saya ingat adalah “Seorang anak kelak akan mempunyai anak. Satu waktu kau mempunyai bapak, kelak kau pun akan menjadi bapak.”

Review Singkat: Andrea Hirata – Ayah

24835749450_f574fa8611_k_

Saat minggu lalu pulang ke Jakarta dan mampir ke Toko Buku Gramedia, saya baru menyadari kalau Andrea Hirata meluncurkan novel baru tahun 2015 lalu. Meski telat setahun, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membelinya. Sebab sejak pertama kali membaca novel pertamanya Laskar Pelangi, saya mempunyai semua novelnya dan tidak pernah terlewat membaca semua karya Andrea, terkecuali Sebelas Patriot. Tetralogi Laskar Pelangi yang terdiri dari Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov lengkap saya baca. Saya pun cukup menikmati Dwilogi Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas. Saya sudah memiliki Sebelas Patriot, namun belum sempat membacanya hingga sekarang. Terakhir, setelah 3 hari terakhir ini, akhirnya saya berhasil menamatkan Ayah, buku terbaru dari Andrea. Post ini mungkin akan mengungkap sedikit inti cerita dari novel. Bagi yang belum membaca sebaiknya berhenti membaca post ini sekarang.

 

“Ingat, Boi, dalam hidup ini semua terjadi tiga kali. Pertama aku mencintai ibumu, kedua aku mencintai ibumu, ketiga aku mencintai ibumu.”

 

“Ayah” bercerita tentang seorang pria bernama Sabari dan cinta sejatinya pada seorang wanita bernama Marlena dan cintanya yang jauh lebih besar lagi terhadap anaknya. Sabari adalah orang yang sangat lugu, jujur dan setia. Cerita tentang Sabari diawali sejak masa awal ia sekolah, berikut pertemanannya dengan 2 sahabat dekatnya Tamat dan Ukun. Ada beberapa kawan-kawan lainnya namun 2 kawan inilah yang paling berperan penting untuk Sabari. Berawal di ujian Bahasa Indonesia, Sabari pertama bertemu dengan Marlena yang menyontek isi jawaban soal Sabari yang memang jago Bahasa Indonesia. Setelah selesai menyontek, Marlena memberikan pensilnya ke Sabari, dan sejak detik itu Sabari jatuh cinta selamanya dengan Marlena. Demi cintanya Sabari rela melakukan apapun untuk menarik perhatian Lena. Namun sayang, semakin Sabari berusaha, semakin benci dan jauh Marlena. Dari kisah masa sekolah, cerita pun berlanjut ke penantian bertahun-tahun Sabari untuk mendapatkan Marlena dan penantian bertahun-tahun lagi untuk menunggu Marlena dan terutama anaknya kembali.

Ayah berlatar belakang cerita di Belitong seperti kisah-kisah Andrea sebelumnya. Gaya bahasa dan style penulisan pun tidak banyak berbeda. Namun di Ayah lebih banyak puisi yang untuk kesempatan baca pertama ini banyak saya lewati karena saya ingin cepat tahu inti cerita. Namun dari membaca sekilas, meskipun saya bukan termasuk penikmat dan mengerti puisi, puisi-puisi di novel ini cukup bagus-bagus. Dari browsing sekilas, ide novel Ayah bermula dari cerita langsung kawan Andrea Hirata.

Sedikit kritik terhadap novel, meski novel ini berjudul Ayah, saya merasakan hubungan yang kurang dideskiripsikan mendalam antara Sabari dengan anaknya. Saya lebih merasakan ikatan anak dan ayah yang jauh lebih kuat antara Ikal dan ayahnya di Tetralogi Laskar Pelangi. Demikian juga saya merasakan karakter Marlena kurang hidup di novel ini. Sebagai gambaran, hampir tidak pernah Marlena “berbicara” di dalam cerita. Namun hal yang paling saya suka dari novel ini adalah endingnya. Bahwa untuk orang-orang yang bisa bersabar seperti Sabari, mungkin ada kalanya bisa mendapatkan apa yang dia impikan, meski setelah menunggu sekian lama dan bahkan harus menunggunya sampai mati. Sebuah ironi pedih namun manis yang mungkin banyak di novel dan jarang di dunia nyata. Tapi sekali lagi, harus saya akui endingnya indah.

Sebagai kesimpulan dari ringkasan ini, saya berpendapat bahwa Ayah patut dibaca khususnya untuk penikmat karya Andrea Hirata. Namun sayangnya ini karya yang biasa saja dan bukan masterpiece bagi saya. Untuk penilaian, saya memberikan skor 3 dari 5 bintang untuk novel ini. Tetapi, karena baca pertama ini saya agak terburu-buru, jika ada kesempatan membaca ulang ada kemungkinan saya akan memberikan ekstra apreasiasi terhadap novel ini.

Cara Membuka Akun Reksadana di Bank Commonwealth Indonesia

Diawali dari inisiatif istri saya, salah satu target yang ingin kami capai di tahun 2016 ini adalah belajar dan memulai investasi kecil-kecilan. Dari beberapa alternatif instrumen investasi, pilihan kami jatuhkan ke Reksadana, karena instrumen ini memiliki risiko yang moderat dan bisa dimulai dengan modal yang kecil. Karena kami pun masih belajar, bagi yang belum familiar, definisi reksadana dapat dilihat secara lengkap di wikipedia .

Setelah memilih instrumen investasi, langkah selanjutnya yang harus kami lakukan adalah memilih agen untuk membuka akun. Untuk pemilihan ini pun kami harus memutuskan apakah membuka akun di Singapura, tempat saya bekerja sekarang atau di Indonesia. Pada akhirnya kami menjatuhkan pilihan membuka akun di Indonesia karena nilai investasi awal yang sangat rendah, bisa dimulai sekecil 100 ribu rupiah.

Setelah memutuskan untuk membuka akun di Indonesia, kemudian kami harus memilih agen. Sebetulnya sebelum memutuskan membuka akun, pengetahuan saya mengenai Reksadana masih nol besar. Barulah beberapa hari menjelang membuka akun saya mulai membaca sedikit-sedikit literatur di instrument investasi ini. Dari referensi teman istri yang membuka akun di Mandiri, kami disarankan untuk membuka akun di Commonwealth, dikarenakan Commonwealth adalah satu dari sedikit agen Reksadana dengan fasilitas transaksi online. Fasilitas ini sangat penting untuk kami yang tidak berdomisili di Indonesia. Kebetulan liburan tahun baru cina lalu kami pulang ke Bogor, kami pun merencanakan untuk membuka akun pada waktu tersebut.

Bank Commonwealth terdekat dari rumah orang tua saya berlokasi di Citra Gran Cibubur. Hari Kamis lalu, saya mampir pertama kali untuk menanyakan informasi mengenai pembukaan akun. Sebelumnya istri saya pun sebenarnya sudah bertanya-tanya banyak melalui call center.

Saat datang, saya disambut oleh Relationship Manager di Bank Commonwealth. Saya diberikan penjelasan lengkap mengenai Reksadana dan cara pembukaan akun. Untuk memiliki akun Reksadana, nasabah harus mempunyai rekening tabungan. Dari penjelasan tersebut berikut adalah dokument-dokumen yang diperlukan untuk membuka rekening tabungan dan akun Reksadana di Bank Commonwealth.

  • KTP
  • NPWP (tidak diperlukan untuk pembukaan rekening namun diperlukan untuk pembukaan akun reksadana)
  • Minimum deposit pertama 500.000
  • Surat keterangan alamat jika korespondensi tidak sesuai dengan KTP. Untuk kasus saya, karena KTP beralamat di Jember, saya melampirkan cetakan statement Kartu Kredit yang masih beralamat di Bogor
  • Materai 2 buah (disediakan dengan membayar)

Oleh karena saya tidak ingat di mana kartu NPWP saya, hari itu saya tidak bisa membuka rekening dan akun. Setelah dari Bank, saya memutuskan langsung pergi ke kantor pajak untuk mencetak ulang kartu NPWP. Beruntunglah prosesnya cepat dan mudah. Salut untuk Dirjen Pajak untuk pelayanannya kini.

Keesokan harinya, saya kembali ke Bank Commonwealth bersama istri saya dengan membawa dokumen lengkap. Kami memutuskan untuk membuka dua rekening tabungan, satu untuk masing-masing kami dan membukan dua akun reksadana, satu untuk masing-masing kami juga. Hal tersebut dilakukan agar kami bisa mengatur setiap akun reksadana sesuai dengan tujuan investasi kami.

Proses pembukaan akun reksadana dimulai dari pengisian form untuk pembukaan rekening dan aktivasi i-banking. Untuk yang meminta fasilitas token, Commonwealth menarik biaya 100.000 per token. Setelah proses pembukaan rekening tabungan dan menyetor deposit awal, kami diminta mengisi kuesioner untuk mengetahui profile kami dalam berinvestasi. Pengisian kuesioner ini adalah wajib. Dari kuesioner dapat diketahui tipe setiap orang dalam berinvestasi. Dari tipe tersebut pihak agen akan menyarankan jenis reksadana apa yang sebaiknya diambil oleh nasabah. Namun demikian, hasil dari kuesioner adalah rekomendasi yang tidak mengikat. Setelah mengisi kuesioner, kami pun mengisi beberapa form. Setelah sekitar 1 jam prosesnya pun selesai. Baru sekitar sore hari, ketika saya coba login ke i-banking, saya bisa melihat daftar reksadana yang bisa dibeli.

Dari pengalaman ini saya memberikan rekomendasi positif atas kemudahan pembukaan akun reksadana di Bank Commonwealth Indonesia.

Riga: Sisi Historis dan Modernitas dalam Satu Kota

Latvia adalah negara tetangga Estonia. Saat Estonia masih terlihat bernuansa klasik, Riga ibukota Latvia pun masih cukup demikian. Masih banyak bangunan tua ala Uni Soviet seperti di Estonia. Hanya saja di samping bangunan-bangunan tua, Riga adalah metropolitan di Eropa Timur. Transportasi publiknya bagus. Kota cukup bersih. Di sekitaran bangunan tua juga mulai berdiri bangunan modern. Dan yang mengejutkan ada pusat perbelanjaan yang penuh dengan toko-toko fashion merk terkenal dan juga berbagai macam restoran. Tentu mall di sana tidak semewah mall-mall di Asia namun tetap mencengangkan untuk standard Eropa Timur.

14 Februari 2014

Kami berangkat ke Riga dari Tallin Bussijam di pagi hari. Dari hasil pencarian internet kami menggunakan bus Euroline untuk perjalanan ke Riga. Tiket kami beli online seharga sekitar 20 Euro berdua. Terminal Bus Tallin sangat bagus dan bersih. Lebih mirip bandara dibandingkan terminal bus. Toilet umum juga tersedia dengan kondisi bersih. Hanya saja berbayar sekitar 50 sen atau 1 Euro, saya lupa.

Ecolines Tallinn – Riga

Kembali ke bus, saat kami datang di pagi hari, bus ke Riga belum tampak. Memang kami datang agak dini. Di platform keberangkatan nampak bus kuning lain. Tujuan St. Pietersburg tertulis. Kami hanya duduk-duduk di ruang tunggu berpenghangat kemudian menjelang jam keberangkatan pindah ke platform di luar ruangan yang lebih dingin. Beruntung tidak lama bus pun datang. Saya langsung memvalidasi tiket ke petugas. Petugas pun akan meminta kartu identitas atau paspor untuk validasi tersebut. Kemudian saya memasukan tas besar ke dalam bagasi bus. Sebelum dimasukan oleh petugas, saya diberikan nomor tag tas untuk mengambil tas sesampai tujuan, untuk memastikan barang bawaan kita tidak berpindah tangan. Cukup mengesankan. Bus yang kami naiki bernomor bangku. Kami pun sudah memilih bangku saat booking online. Kami duduk di bagian depan bus. Kelak ternyata bus pun tidak penuh sehingga kami bisa pindah ke bangku kosong mana saja.

Bus pun mulai bergerak meninggalkan terminal bus Tallinn tepat sesuai jadwal. Untuk sekitar 3 jam ke depan kami menikmati fasilitas yang cukup lengkap di dalam bus. Stop kontak listrik, wifi, wc dan dispenser untuk kopi dan teh. Dalam hal ini mungkin bus-bus Indonesia pun seharusnya tidak kalah fitur. Hanya saja saya belum pernah coba naik bus selengkap ini di Indonesia.

Memancing di Es

Sepanjang perjalanan saya disuguhi berbagai pemandangan yang menarik. Mulai dari pusat kota, bergerak ke pinggiran, hutan, sungai, danau dan sebagainya. Kondisi jalan cukup bagus. Menariknya highway lintas negara Estonia ke Latvia hanya memiliki 1 lajur ke masing-masing arah tanpa separator jalan. Jalanan pun cenderung sepi. Tak heran sebab jumlah penduduk Estonia dan Latvia tak lebih dari 4 juta jiwa. Di beberapa sungai yang membeku kami menemukan pemandangan menarik orang-orang yang memancing ikan setelah melubangi lapisan es di permukaan sungai. Persis seperti yang hanya saya lihat di film-film kartun saat kecil dulu. Selebihnya pemandangan kembali sepi.

Setelah sekitar 3 jam perjalanan bus pun tiba di terminal Riga. Diseberang Riga terlihat anggun Riga Central Market, dibatasi sungai yang membeku. Di kejauhan terlihat beberapa tram tua dan juga tram baru yang berlalu-lalang. Setelah turun bus saya langsung mengambil tas sambil menunjukan tiket. Kemudian kami pun berjalan ke arah terminal bus.

Terminal Bus Riga dan Central Market

Di dalam terminal tujuan pertama kami adalah ke kantor turis. Beruntung ada 2 petugas yang berjaga. Dua petugas tersebut meski nampak tidak terlalu ramah, namun menjawab setiap pertanyaan kami. Setelah meminta peta dan beberapa pamflet turisme, kami pergi ke mesin tiket. Di Riga yang dulu kami kira tua ternyata sudah menerapkan sistem tiket transportasi publik yang sangat modern. Untuk turis kami bisa menggunakan tiket yang bernama e-talon. Kalau tidak salah 2.5 euro untuk 24 jam, saya lupa lagi. Tapi yang pasti sangat murah. Bentuk e-talon adalah kertas namun dengan smartcard di dalamnya. Entah RFID atau NFC. Saat naik bus dan tram kita tinggal memvalidasi tiket di reader.

Tram Baru

Setelah beli tiket tujuan pertama kami adalah ke hotel untuk menaruh barang. Kami menginap di hotel A1 seharga hanya 58 Euro untuk 2 malam. Kondisi hotel tidak terlalu mengesankan. Wifi tidak berfungsi namun kami diberi kabel LAN. Kabel LAN berguna untuk laptop namun sayangnya tidak untuk smart phone. Hotel ada di lantai 3 dan tidak ada lift di dalam gedung. Setelah menaruh semua barang, kami bergegas kembali keluar. Tujuannya adalah mencari makan. Kami pun kembali ke arah pusat kota. Tujuannya mencari restoran India halal yang kami temukan di foursquare. Sayang sekali ketika tiba di tempat yang dimaksud, restoran tersebut tutup. Akhirnya setelah berjalan di sekitar tempat tersebut menemukan tempat kebab halal. Sayangnya setelah makan nampaknya Indri menjadi agak mual-mual.

Hotel A1

Setelah makan kami berjalan ke arah central station lalu terus menuju ke old town. Di old town sesuai dengan namanya ada banyak-banyak bangunan tua dan tak lupa toko-toko suvenir. Kami berkeliling-keliling tak tentu arah seperti biasa. Menjelang malam kami pun kembali ke hotel dan mampir sejenak di supermarket. Di supermarket kami menemukan manggis Indonesia. Cukup membanggakan buah tanah air sampai higga Latvia. Setelah itu kami pun beristirahat.

15 Februari 2014

Agenda utama hari ini adalah ke central market. Central market nampaknya pasar tradisional yang terbesar di Riga. Pasar ini menempati gedung bekas hangar balon zeppelin milik Jerman. Di dalam pasar ada berbagai stall yang menjual berbagai kebutuhan. Di luar gudang utama pun juga banyak pedagang-pedagang lain yang berjualan. Kami menghabiskan beberapa jam berkeliling-keliling dan melihat-lihat pasar ini.

Central Market

Central Market

Menjelang sore kami kembali berjalan menuju old town lagi. Kami ingin berfoto-foto saat masih ada matahari sebab sebelumnya kami ke sana saat sudah malam. Ada beberapa bangunan yang menarik perhatian kami. Diantaranya adalah sebuah gedung bernama cat house. Sebuah gedung yang sebenarnya biasa saja namun memilik patung kucing kecil di puncaknya. Saking spesialnya banyak sekali suvenir bertema gedung ini. Saya ingin menyarankan untuk tidak lupa membeli suvenir amber di Riga. Harganya cukup terjangkau dan kualitasnya pun cukup baik.

Old Town

Setelah puas berkeliling-keliling di kota tua kami terus berjalan kaki ke pusat kota. Kami pun menyempatkan diri berfoto di depan freedom monument. Di beberapa sudut nampak ada beberapa pengamen yang bermain musik. Namun tidak ada yang mengganggu kami. Sangat mengesankan saat hingga malam kedua kami di Riga, situasi sekitar cukup aman dan tidak ada kejadian yang tidak mengenakan. Pada akhirnya kami pun kembali ke hotel dan berakhirlah petualangan singkat di Riga.

Freedom Monument di Kejauhan

16 Februari 2014

Hari ini kami berangkat menuju tujuan kami selanjutnya Praha. Setelah check out dari hotel kami langsung menuju ke pusat kota. Riga International Airport bisa dicapai dari pusat kota dengan menggunakan bus reguler. Jika tidak salah lama perjalanannya sekitar 30 menit. Berdasarkan informasi yang kami baca sekilas, frekuensi busnya pun cukup banyak.

Gedung bandara Riga sangat modern. Bandaranya tidak terlalu besar namun didesain dengan cukup apik. Riga International Airport ini adalah rumah bagi flag carrier Latvia, Air Baltic. Perjalanan kami ke Praha pun menggunakan maskapai tersebut.

Maskapai Latvia, Air Baltic

Setelah selesai checkin kami langsung menuju ke area keberangkatan. Berhubung jadwal penerbangan yang masih beberapa jam, kami menyempatkan untuk makan dulu. Pilihan paling aman adalah Sushi lagi. Karena agak kelaparan kami menghabiskan hampir 50 euro untuk makan sushi dan sebuah salmon grill.

Tidak lama setelah makan kami pun menuju ruang tunggu keberangkatan. Ada dua buah pesawat terparkir di luar terminal. Satu buah Boeing 737 dan sebuah pesawat baling-baling yang belakangan saya tahu sebagai Bombardier Dash 8 Q400 Next Gen. Awalnya saya kira penerbangan Riga – Praha akan menggunakan Boeing jet. Namun ternyata kami menggunakan Bombardier. Tak lama setelah duduk-duduk di ruang tunggu, kami pun dipanggil ke pesawat. Setelah sekitar 3 jam terbang, petualangan pun berlanjut di Praha.

Selamat Datang di Tallinn

Setelah bubarnya Uni Soviet, ada perubahan signifikan terhadap peta negara-negara di Eropa. Di awal dekade 90an banyak negara-negara yang mendeklarasikan kemerdekaannya khususnya di Eropa Timur. Estonia adalah salah satunya. Estonia mungkin tidak menjadi tujuan utama wisata Eropa bagi kebanyakan orang. Alasan utamanya bisa jadi karena ketidaktahuan eksistensi negara ini. Namun ada banyak pengalaman menarik ketika kami memutuskan mampir ke Tallinn, ibukota Estonia. Tallinn hanya berjarak sekitar 70 Km dari Helsinki. Memang tidak mungkin bisa mengetahui secara mendalam suatu negara hanya dengan mengunjungi ibukotanya selama 2 hari. Tapi sekali lagi ada perspektif baru yang kami dapatkan setelah mengunjunginya.

12 Februari 2014

Tallinn hanya sekitar dua setengah jam perjalanan ferri dari Helsinki, Finlandia. Ada beberapa perusahaan penyebrangan yang melayani jalur Helsinki – Tallinn. Setelah membandingkan beberapa perusahaan, saya memutuskan memilih Eckero Line yang paling murah di antara yang lain. Tiket bisa dibeli secara online. Pada perjalanan kami kali ini, harga tiket per orang adalah 19 Euro.

 

Port of Helsinki

Menurut wikitravel, Eckero Line hanya mempunyai satu buah kapal. Nama kapalnya adalah Finlandia. Ini adalah kapal terbesar yang pernah saya naiki. Kapasitas kapalnya adalah 2000 penumpang. Kapal raksasa ini punya berbagai fasilitas. Jika mau, ada kamar-kamar yang bisa disewa jika memilih untuk tidur pendek untuk perjalanan singkat ke Tallinn. Di bagian depan kapal ada bar besar dengan panggung musik dan jendela besar yang menghadap ke arah kapal melaju. Ada juga supermarket, restoran dan beberapa toko di dalam kapal. Yang juga cukup penting, di lobi kapal terdapat loker tas yang bisa digunakan dengan membayar menggunakan uang koin. Cukup praktis untuk penumpang yang ingin berjalan-jalan di dalam kapal tanpa repot membawa barang bawaannya.

Freezing Sea

 

Si Raksasa Finlandia

Ferri menuju Tallinn berangkat dari Port of Helsinki West Terminal. Tram akan mengantarkan kita tepat di depan pintu masuk terminal. Jika sudah membeli tiket online, kita tinggal menuju ke ruang tunggu setelah memvalidasi tiket yang sudah kita print ke petugas yang berjaga. Jika kapal sudah siap, maka penumpang akan dipanggil ke gerbang keberangkatan. Jarak dari ruang tunggu hingga menuju kapal memakan waktu berjalan sekitar 15 menit. Jadi kita sebaiknya mengalokasikan waktu yang cukup sebelum jadwal keberangkatan.

Area Depan Kapal

Setelah masuk kapal, hal pertama yang kami lakukan adalah menitip tas. Setelahnya, saya dan Indri langsung menuju ke bar di bagian depan kapal di mana ada banyak sofa-sofa dan sebuah panggung musik di bagian depan kapal. Tentu saja kami tidak memesan minuman apapun di sini dan tidak ada keharusan untuk melakukan itu. Di sini banyak penumpang yang hanya duduk-duduk dan bahkan ada beberapa orang yang tidur selonjoran di bangku panjang.

Locker

Tak lama kapal pun berjalan. Sang raksasa Finlandia pun mulai merayap lepas dari dermaga Helsinki. Jika diperhatikan baik-baik maka akan terdengar suara grotak-grotak es yang pecah saat raksasa Finlandia melaju di atas laut yang membeku. Tak lama berjalan satu band pun mulai manggung di depan kami. Selama perjalanan ada beberapa band lain yang juga naik ke pentas. Uniknya mereka bernyanyi lagu dengan bahasa yang asing di telinga kami. Mungkin Bahasa Finlandia atau bisa jadi Bahasa Estonia. Namun meski demikian tetap terdengar bagus.

Sepanjang perjalanan sesekali saya dan Indri berkeliling kapal yang cukup besar tersebut. Sekali kami pergi ke supermarket kapal yang cukup besar dan membeli beberapa cemilan. Kami pun mencoba pergi ke restoran dan mencari barangkali ada makanan yang bisa kami makan. Sayangnya tidak ada. Pada akhirnya kami menghabiskan sebagian besar waktu di bar bagian depan kapal hingga kapal merapat di Tallinn. Satu hal yang sangat bermanfaat adalah ada wifi sepanjang perjalanan.

Sekitar beberapa waktu sebelum merapat, terdengar pengumuman yang entah dalam bahasa apa, tapi nampaknya mengabarkan bahwa kapal akan segera merapat dan penumpang diminta bersiap-siap. Banyak penumpang pun mulai bergerak meninggalkan bar besar tempat kami duduk. Pemain musik pun sudah berhenti mentas beberapa menit sebelumnya. Saya dan Indri pun turut keluar bar.

Selamat Datang di Tallinn

Tervetuloa Tallinna! Tulisan tersebut besar terpampang sesaat kami keluar dari Kapal Finlandia yang mengantarkan kami dari Helsinki. Artinya kira-kira adalah selamat datang di Tallinn. Kami langsung keluar dari terminal hingga sampai ke ruang tunggu besar. Di tengah jalan kami menemukan kantor turis yang sayangnya sudah tutup, padahal baru sekitar jam 6 sore. Di ruang tunggu tersebut saya pergi ke sebuah mini market untuk membeli tiket public transport. Menurut wikitravel, di Tallinn kita bisa membeli atau mengisi ulang tiket public transport di mini market.

Ruang Tunggu Pelabuhan Tallinn

Tallinn adalah negara Eropa Timur pertama selepas kami dari Nordik. Di sini penetrasi Bahasa Inggris tidak seluas di utara. Namun beruntung ketika saya menyapa petugas yang berjaga di mini market dia bisa berkomunikasi tanpa masalah. Saya memutuskan untuk membeli tiket 24 jam. Harganya adalah 3 Euro per 24 jam plus 2 Euro untuk deposit smartcard. Deposit 2 Euro bisa diambil kembali jika kita mengembalikan smartcard. Hanya saja saya tidak tahu persis mengembalikan ke mana. Menurut wikitravel lagi, ada 3 mode transport utama di Tallinn. Bus, tram dan trolleybus. Tram dan bus bukan hal yang aneh namun trolleybus seumur hidup pertama saya temukan di sini. Trolleybus adalah bus listrik yang sumber tegangan listriknya disalurkan kabel di atas jalan sepanjang jalur bus tersebut. Bayangkan tram hanya saja berwujud bus dan tanpa track. Atau bayangkan bombom car hanya saja berwujud bus besar.

Tallinn Trolleybus. Bus berkuping Listrik.

Selepas membeli tiket saya langsung keluar dari mini market dan menemui Indri yang sudah mengumpulkan beberapa peta. Di Tallinn kami menginap di Hotel Go Shnelli. Sejujurnya kami belum tahu persis itu di mana dan naik apa. Dari sana saya memutuskan bertanya ke petugas security yang bolak-balik cara naik bus ke pusat kota. Petugas yang nampaknya nyaris tidak bisa berbicara sepatah kata Bahasa Inggris pun langsung mengajak saya berjalan keluar terminal dan mengacung-ngacungkan jarinya ke sebuah halte bus beberapa puluh meter dari gedung terminal.

Go Hotel Shnelli

Setelah berterima kasih saya langsung mengajak Indri ke bus stop tersebut. Saya lupa naik bus apa, dan pada waktu itu saya juga tidak tahu pasti turun di mana namun berbekal peta turis saya memutuskan untuk turun di stop di pusat kota untuk kemudian menyambung tram. Untuk memastikan saya bertanya ke seorang penumpang wanita yang duduk di sebelah Indri. Ia pun membenarkan asumsi arah dan pilihan public transport saya. Bahkan setelah turun dari bus, ia menunjukan tram stop yang menuju hotel kami.

Setelah turun bus, tak lama tram yang kami tunggu datang. Tramnya terlihat sangat tua. Bahkan mungkin itu adalah sisa peninggalan Uni Soviet. Saat naik tram sangat penuh. Saya dan Indri memperhatikan handphone melihat google maps cache menuju tram stop dekat hotel kami. Kami akhirnya turun di stop bernama Balti Jaam. Balti Jaam berarti Baltic Station dalam Bahasa Estonia adalah stasiun kereta utama di Tallinn. Hanya saja jalur kereta Estonia belum terkoneksi ke daratan Eropa lain khususnya Eropa Barat.

Kami berjalan sedikit melewati gedung stasiun yang terlihat sudah gelap. Hotel kami ternyata tepat di sebelah stasiun tersebut. Lucunya, bahkan lorong-lorong menuju kamar di hotel menggunakan karpet beraksen rel kereta. Kami membayar 39 Euro permalam perorang untuk hotel yang lumayan bagus itu. Sesampai hotel kami langsung checkin. Setelah merapih-rapihkan barang kami memutuskan untuk langsung keluar mencari makan malam.

Rel Kereta di Karpet

Dari pencarian internet kami menemukan ada beberapa restoran kebab yang halal di sekitar Tallinn. Salah satunya ada dalam jarak berjalan dari hotel kami. Kami pun memutuskan ke sana sambil melewati atraksi utama wisata Tallinn, Tallinn Old Town. Hotel kami berlokasi persis di depan area old town. Setelah keluar dan menyeberang jalan kami sudah di area kota tua. Seperti namanya, di sini ada banyak bangunan tua yang telah berdiri sejak sekitar abad 15-17. Sambil menuju ke restoran kami memutuskan untuk sedikit mengeksplorasi old town yang cukup cantik di malam hari.

Old Town

 

Wifey in Old Town

Kami makan malam di sebuah resto kebab yang ada di sisi lain old town. Awalnya kami kesulitan mencari tempat ini sebab titik di google maps menunjukan restoran ini ada di tengah-tengah jalan raya. Setelah kami periksa lagi ternyata resto ini tepatnya berada di underpass yang memang berposisi di tengah bagian bawah jalan. Setelah makan kami memutuskan untuk pulang naik bus lalu beristirahat.

13 Februari 2014

Morning Tallinn

 

Kereta Regional di Balti Jaam

 

Balti Jaam

Tujuan utama kami hari ini adalah Tallinn TV tower. Tallinn TV Tower berada agak di luar pusat kota. Setelah naik tram ke pusat kota, kami mencari bus menuju ke sana. Sayangnya setelah berputar-putar ke beberapa stop, kami tidak menemukan nomor bus yang kami cari. Belakangan kami sadar bahwa bus tersebut tidak berhenti di bus stop luar tapi menunggu di terminal bus di basement sebuah mall besar di depan kami. Perjalan bus ke Tallinn TV tower memakan waktu sekitar 20 menit.

TV Tower

Sesampai TV tower yang ternyata berlokasi di daerah perbukitan kami langsung masuk ke area. Hingga kini tower tv tersebut masih beroperasi. Harga tiket masuknya adalah 7 Euro perorang. Dari seluruh TV tower hanya 2 tingkat paling atas selain area tiket di bagian bawah yang terbuka untuk turis. Saat naik lift, ada animasi lift yang naik hingga ketinggian sekitar 140 meter diiringi dengan background music yang cukup menarik. Di bagian atas kita bisa melihat seputar Tallinn. Di area ruang pandang ini juga ada banyak alat peraga dan panel informasi. Ada periskop juga yang bisa melihat pemandangan menggunakan kamera yang nampaknya berada di seputaran menara. Di panel informasi ada banyak informasi seperti statistik akses informasi seperti internet di Estonia. Di karpet lantai tertulis beberapa panah penunjuk ke arah beberapa kota besar dunia, termasuk Jakarta. Di lantai ruang pandang juga ada bagian lantai yang berupa kaca di mana kita bisa melihat bagian bawah menari dari ketinggian 140 meteran tersebut.

Slow Motion Rising

 

140 Meters Above Ground

 

Satu Contoh Panel Peraga

 

Pemandangan di Luar Kaca

Di atas ruang tunggu ada restoran. Kami memutuskan makan siang roti sambil ngeteh. Di bagian restoran kita bisa keluar untuk merasakan angin dan suasana di ketinggian 140 meter. Tidak perlu khawatir ketinggian sebab ada pagar kawat yang cukup tebal. Jika itu kurang menantang menara tv ini menawarkan atraksi berjalan di pinggir menara tanpa kawat dengan badan yang diikat kabel pengaman. Setelah makan kami turun, membeli beberapa souvenir dan memutuskan kembali ke hotel untuk shalat.

Tea Time

Di Luar Restoran TV Tower

Old Town

Tallinn Old Town

Selesai shalat kami kembali mengeksplorasi kota tua, kini dengan ditemani matahari sore. Kami berputar-putar di kota tua hingga malam. Sebelum pulang kami makan malam di resto kebab yang sama. Setelahnya kembali ke hotel untuk packing perjalanan berikutnya menuju Riga.

14 Febuari 2014

Terminal Bus Tallinn

Kami keluar hotel pagi hari sekali. Beruntung menurut peta cukup satu kali naik tram ke Terminal Bus Tallinn. Perjalanan ke sana sekitar 20 menit. Setelah turun tram sudah langsung terlihat bus yang bisa dibilang sangat bagus tersebut. Dari sini kita bisa naik bus ke beberapa kota seperti St. Pietersburg Rusia, Villinius di Lithuania dan termasuk Riga tujuan kami. Cerita pun berlanjut di Riga.

 

Winter di Helsinki

Jika boleh minta satu permintaan fisik, saya ingin punya tinggi badan lebih lagi. Tentu saja ini setengah candaan yang tak terlalu serius.🙂

10 Februari 2014

Malam itu, 10 Februari nyaris tengah malam, Jarno Vitala, host apartemen yang kami sewa di Helsinki menyambut kami. Dia bercerita mengenai hal apa saja yang perlu kami tahu dari apartemennya sambil mondar-mandir berdiri menunjukan beberapa hal. Ada kompor listrik, oven, mesin cuci dan berbagai perlengkapan lain yang cukup lengkap. Ia juga menjelaskan cara mengembalikan kunci saat kami checkout 2 hari dari malam itu. Di pojok ruangan, Indri istri saya nampak senyum-senyum melihat percakapan saya dan mas Jarno si pria Finlandia ini. Setelah Jarno pamit pulang, barulah Indri bercerita bahwa percakapan dua pria yang tadi ia lihat ibarat seekor anak ayam yang dianalogikan sebagai saya, sedang ngobrol dengan seekor kuda eropa, ibarat si Jarno nan jangkung. Saya pun akhirnya menjadi terkekeh sendiri tersadar bahwa leher saya terasa agak pegal sebab sepanjang obrolan tadi memang kepala saya mendongak ke atas untuk berkomunikasi dengan Jarno yang nampaknya tingginya minimal 2 meter sementara saya yang alhamdulilah semampai alias semeter tak sampai.

Dua jam sebelumnya

Norwegian Air Shuttle yang kami naiki dari Stockholm mendarat sekitar pukul 11 malam di Helsinki-Vantaa International Airport. Helsinki alias Helsingfors dalam Bahasa Swedia adalah ibukota negara yang dulu pernah sangat terkenal dengan Nokia yang kini agak sedikit meredup. Di negara ini pula rombongan burung-burung pemarah Angry Birds karena telurnya dicuri dikembangkan oleh perusahaan yang bernama Rovio. Untuk pengguna Linux, di kota ini pula Linus Torvalds berasal.

Setelah mengambil bagasi, saya dan Indri langsung menuju ke turis office di bandara. Kantornya memang sudah tutup, tapi ada banyak guide book, peta dan pamflet yang tersedia. Buku panduan, pamflet dan peta yang tersedia sangat lengkap menunjukan keseriusan pihak terkait di Finlandian dalam promosi pariwisatanya. Setelah cukup mengumpulkan buku dan peta yang tersedia gratis kami langsung menuju ke luar terminal bandara mengikuti panduan ke arah bus stop.

Berdasarkan pencarian internet yang saya lakukan selama mengangkasa dari Stockholm tadi, perjalanan menuju pusat kota Helsinki dilayani oleh bus nomor 615. Tarifnya adalah 4.5 Euro per orang. Tiket dapat dibeli di mesin atau bisa juga beli langsung ke supir bus. Bandara Helsinki Vantaa terletak di region bernama Vantaa dan berjarak sekitar 18 Km ke pusat kota Helsinki. Saya lupa tepatnya, perjalan bus sekitar 20-30 menit hingga kami turun di bus stop yang telah kami tandai di google maps.

Di Helsinki kami menginap di apartemen yang kami sewa melalui airbnb. Serupa dengan negara nordik yang lain, Finlandia pun adalah negara mahal. Setelah melalui beberapa pertimbangan menginap di whole unit studio apartment akan lebih ekonomis dibandingkan tinggal di hotel. Kami book sebuah apartemen studio di distrik Kallio di Helsinki. Kami memilih apartemen paling murah yang memiliki banyak review positif. Total biaya untuk 2 malam adalah 167 SGD atau sekitar 96 Euro.

Setelah turun bus kami langsung bernavigasi lagi menggunakan offline cache google maps. Hampir jam 12 malam dengan suhu yang sangat dingin tentunya. Tak lama ketika kami mulai berjalan, shower snow pun turun dengan derasnya. Sempurna sekali Helsinki menyambut kami. Kami terus berjalan melewat area residensial yang terdiri dari banyak apartemen yang cukup apik namun jalanan sudah sepi karena malam sudah larut. Lucunya di jalan kami melihat beberapa orang keluar rumah sambil membawa anjing mereka berjalan-jalan. Istri saya bilang hal tersebut adalah indikator bahwa bisa jadi salju baru turun di Helsinki sehingga beberapa orang ingin menikmati dengan berjalan-jalan ke luar. Salju terus turun dengan cukup deras sambil kami terus berjalan. Tak lama kami pun mulai mendekati apartemen. Beruntung ada sebuah mini market 24 jam hingga kami pun langsung mampir. Indri langsung membeli beberapa bahan masakan untuk keperluan selama di Helsinki.

Selesai dari mini market apartemen yang kami tuju tepat di sebelah. Kami mondar-mandir sejenak dan memeriksa alamat apartemen untuk memastikan ada di apartemen yang benar. Sebuah gerbang besi raksasa telah terkunci rapat. Setelah merasa yakin akhirnya saya pun mengeluarkan handphone untuk melihat kode pintu gerbang yang sudah dikirim host kami. Saya mengetikan nomor kode di keypad mekanik yang ada di gerbang kemudian mencoba membuka pintu. Tidak terjadi apa-apa. Saya coba sekali lagi, masih tidak bisa juga. Dua kali, tiga kali dan empat kali. Ups apakah kami ada di apartemen yang benar? Baru saja saya hendak mengeluarkan handphone untuk mengontak host kami, tiba-tiba seseorang keluar dari dalam. Melihat dua manusia tropis yang terlihat kedinginan di depan gerbang, orang yang asing tadi bertanya apakah kami hendak masuk? Kami langsung mengiyakan dan gerbang pun langsung dibuka dari dalam. Setelah berterima kasih kami kemudian berjalan dan sebuah pintu kayu besar harus dibuka agar kami bisa masuk ke lobi. Saya mencoba memasukan nomor kode lain untuk pintu ini. Beruntungnya, kali ini kode yang saya punya berfungsi dan pintu kayu raksasa pun terbuka.

Fleminginkatu, Helsinki

Apartemen kami ada di lantai 3, dan seperti beberapa gaya bangunan di Eropa, apartemen ini tidak memiliki elevator. Sesampai di lantai 3 kami langsung memencet bell unit apartemen yang kami tuju. Dua kali memencet bell akhirnya seseorang membukakan pintu. Ialah mas Jarno Vitala yang saya ceritakan di atas. Dari obrolan kami pula Jarno bercerita bahwa pintu gerbang tak bisa dibuka menggunakan kode selepas jam 9 malam. Tadi dia berharap kami akan menelepon sesampai di bawah.

Apartemen Jarno sangat stylish. Apartemen ini ada di gedung yang nampaknya cukup tua. Namun interior unit apartemen tersebut nampaknya sudah direnovasi. Di ruang utama ada sebuah meja makan sederhana, 2 atau 3 kursi santai, sebuah sofa, sebuah desktop pc dengan koneksi internet, beberapa ornamen unik di tembok dan dapur lengkap. Kamar mandinya cukup bagus dan bersih, lengkap dengan bathtub dan ada juga sebuah mesin cuci. Lalu di mana tempat tidurnya??? Untuk memaksimalkan ruang, ternyata tempat tidur dipindah di bagian atas foyer, semacam lantai mezanin dan harus dipanjat dengan tangga kayu. Kesemua bagian apartemen tersebut dapat dibilang tertata dengan sangat apik.

Setelah Jarno pulang, malam itu istri saya memasak sambil saya membongkar pakaian dan keperluan lain yang diperlukan selama kami tinggal di Helsinki. Kami tidur setelah lewat tengah malam, sementara di luar salju nampaknya masih terus turun.

11 Februari 2014

Pagi hari dimulai dari sarapan di rumah. Sisi positif dari menyewa whole unit apartemen adalah kemungkinan penghematan biaya makan. Biaya makan di resto di Eropa, terlebih lagi di negara Nordik adalah sangat mahal dan itu pun harus pandai-pandai memilih mencari yang halal. Memasak di rumah terjamin halal dan lebih ekonomis.

Kami keluar rumah sekitar jam 10 pagi. Tujuan utama kami di Helsinki adalah Suomenlinna, sebuah pulau di selatan Helsinki. Namun sebelum ke sana kami berencana berjalan-jalan dulu di pusat kota. Dari apartemen kami berjalan ke tram stop yang berada tidak jauh. Tujuan pertama adalah University of Helsinki. Saat tram datang kami langsung naik dan saya membeli daily ticket seharga 8 Euro. Bentuk tiket adalah print kertas dengan tanggal dan waktu awal aktif dari tiket. Tiket valid selama rentang 24 jam dari tanggal dan waktu yang tertera. Di Helsinki, kita bisa naik dan turun bus dan tram dari pintu mana saja. Secara teori akan ada petugas yang akan melakukan pemeriksaan secara acak mencari penumpang yang tidak mempunyai tiket. Namun pada praktiknya kami tidak menemui pemeriksaan sekali pun.

Sebagai informasi, bahasa resmi di Finlanda adalah Bahasa Finlandia dan Bahasa Swedia, meski sebenarnya penduduk natif yang berbahasa ibu Swedia berjumlah kurang dari 10% dari seluruh populasi. Oleh karena aturan perundang-undangan setiap pengumuman harus disampaikan dalam 2 bahasa tersebut. Lebih ekstrim lagi, setiap nama tempat dan termasuk jalan di Finlandia memiliki versi Bahasa Finlandia dan Bahasa Swedia. Namun Bahasa Inggris dimengerti oleh sebagian besar orang Finlandia seperti di negara-negara nordik lainnya. Bahasa Finlandia adalah bahasa yang terdengar lucu dan memiliki akar yang berbeda dari bahasa-bahasa lain di Eropa.

Wifey di University of Helsinki

Kembali ke perjalanan, kami turun di pusat kota di stop yang kami lupa namanya. Dari situ tak jauh sudah masuk kawasakan University of Helsinki. Di kampus inilah sosok legendari Linus Torvalds berkuliah dan mungkin menghack versi awal kernel Linux. Menurut kisah karena Linus digigit pinguin di Australia, maka Linux menggunakan pinguin bernama Tux sebagai logo sistem operasi yang menggunakan kernel linux.

Senat Square, Helsinki

Selain berjalan-jalan di sekitaran University of Helsinki, kami pun mampir ke kantor University Admission Finland untuk mengirimkan berkas admission master saya ke Lappenranta University of Technology yang berada di kota Lappenranta di timur Helsinki. Dari sana kami berjalan menuju ke landmark Helsinki, Katedral Helsinki (Tuomiokirkko dalam Bahasa Finlandia). Desain katedral ini sangat sederhana bila dibandingkan dengan katedral-katedral lain yang kami temukan di Eropa Timur dan Spanyol kelak. Di depan katedral adalah Senate Square. Tidak ada yang spesial dengan square ini, bisa jadi karena suasana musim dingin.

Helsinki Cathedral

Kami pun lanjut berjalan ke tempat tujuan utama di Helsinki, Suomenlinna. “If you see only one place in Helsinki in the summer, make it Suomenlinna” petikan dari wikitravel. Suomenlinna adalah bekas benteng laut terbesar di baltik. Dulu dibangun oleh Swedia dan sudah masuk UNESCO world heritage list juga. Kini Suomenlinna memang menjadi obyek wisata. Ada banyak museum selain sisa-sisa benteng di pulau itu. Namun Suomenlinna pun menjadi tempat tinggal sekitar 800 orang.

Laut Es Batu, Market Square, Helsinki

Perjalanan ke Suomenlinna dapat ditempuh menggunakan feri yang beroperasi sekitar setiap 40 menitan dan lama perjalanan sekitar 20 menit. Pada waktu itu kami bisa menggunakan tiket 24 jam Helsinki untuk feri ini. Laut Baltik di selatan Helsinki membeku di musim dingin. Feri yang kami tumpangi harus memecah lapisan-lapisan es sambil berjalan. Perjalan feri ini adalah salah satu hal terkeren yang pernah saya alami.

Ferri ke Suomenlinna

Narsis di Ferri

Es Pecah di Belakang Ferri

Sesampai di Suomenlinna kami langsung keluar feri dan di luar penumpang yang hendak menyeberang balik ke Helsinki sudah mengantri. Di depan pelabuhan ada pusat informasi turis. Agak mengejutkan bahwa di musim dingin seperti ini tetap ada petugas yang berjaga dan sama mengejutkannya, selain kami ada cukup banyak juga wisatawan yang datang. Di kantor turis ada banyak informasi seputar Suomenlinna. Kami mengambil peta pulau yang berisi daftar atraksi di pulau berikut panduan saran rute yang bisa diambil. Di pulau ini tidak ada kendaraan selain kendaraan operasional atau untuk kebutuhan darurat. Penduduk dan wisatawan sebagian besar harus berjalan kaki atau naik sepeda. Kami berkeliling pulau sekitar 2 jam hingga akhirnya memutuskan untuk kembali ke pelabuhan. Bukan karena capek namun lebih karena kedinginan.

Merapat di Suomenlinna

Suomenlinna, Finland

Suomenlinna, Frozen Island

Silent Island

Back to Helsinki

Duck on Ice

Sesampai daratan Helsinki kami mencari masjid yang tidak berhasil kami temukan. Akhirnya kami memutuskan pulang ke apartemen untuk shalat. Namun sebelumnya menyempatkan mampir ke Hakaniemi Market, sebuah pasar tradisional. Indri membeli ikan salmon untuk bahan makanan kami. Setelah shalat dan makan, sore harinya kami hanya berputar-putar naik tram dan kemudian mencoba metro Helsinki lalu kemudian pulang ke rumah.

Wifey at front of Hakaniemi Market with her salmon bag

 

Helsinki Tram (Look wifey is there)

Helsinki Metro

Keesokannya hari terakhir di Helsinki kami memutuskan tidak kemana-mana hingga siang hari saat harus berangkat ke pelabuhan menuju Estonia. Setelah packing dan sarapan di pagi hari, kami keluar apartemen setelah shalat Zuhur dan Ashar. Kami meninggalkan kunci di dalam apartemen. Perjalanan menuju pelabuhan bisa ditempuh menggunakan tram sekali naik. Berhubung tiket 24 jam kami sudah habis, kami membeli tiket sekali jalan seharga 3 Euro per orang. Sebenarnya bisa saja naik tanpa tiket namun kami memilih untuk jujur. Tram 9 adalah tram menuju pelabuhan feri. Kami turun di stop terakhir yang bernama Lansiterminaali. Cerita pun berlanjut ke Estonia.

Mencari Kapal di Stockholm

Saat SD, saya dititipkan di rumah paman saya dari kelas 2 hingga kelas 4. Pada waktu saya punya tetangga dan teman main yang bernama Vasco. Bapak Vasco yang bernama Pak Rusman adalah pelaut sehingga tak heran bila Vasco mendapat warisan nama yang diambil dari pelaut terkenal Portugis, Vasco da Gama. Pak Rusman pernah menghabiskan beberapa waktu di Swedia, entah untuk sekolah atau tugas berlayar saya tidak ingat pasti. Tapi sejak itu pula ingatan kecil saya berbekas akan sebuah kota bernama Stockholm di mana bapaknya Vasco pernah ada di sana.

Bertahun-tahun kemudian Swedia bukan sekedar negara tempat bapaknya Vasco pernah berada. Swedia adalah tempat asal Ikea toko furniture yang terkenal sejagat bahkan konon akhirnya menjadi alat public diplomacy pemerintah Swedia. Swedia juga tempat asal perusahaan manufaktur otomotif Scania yang memproduksi truk-truk dan bus-bus keren. Tidak lupa Oriflame yang banyak meramaikan timeline facebook saya pun berasal dari Swedia. Dari dunia hiburan, Roxette, band music kesukaan mama saya juga berasal dari Swedia. Hanya saja saya tidak pernah menyangka jika pada akhirnya sempat memijakan kaki di negara maju ini.

9 Februari 2014 Menjelang Tengah Malam

Pada awalnya Stockholm tidak masuk ke dalam list itenerary perjalanan saya dan Indri di Eropa. Setelah shock dengan mahalnya Norwegia kami berpikir untuk melewatkan Swedia dan langsung terbang ke Finlandia. Namun nampaknya kami memang harus menginjakkan kaki di Stockholm, sebab tak ada penerbangan langsung dari Bergen (kota yang kami kunjungi sebelumnya) ke Helsinki. Sebagian besar penerbangan transit di Stockholm dan harga tiket Bergen – Helsinki pada akhirnya kira-kira sama saja dengan harga total tiket Bergen – Stockholm ditambah Stockholm – Helsinki. Akhirnya kami memutuskan untuk satu malam berhenti di Stockholm. Mengingat mahalnya Skandinavia, awalnya kami berencana untuk tidur di bandara lagi. Namun, mengingat pengalaman di Oslo bahwa tidur di bandara itu agak menantang, saya berubah pikiran untuk booking hotel di detik-detik terakhir sebelum kami tiba di Stockholm.

Next Destination Stockholm

Saya mencari hotel di Stockholm menggunakan wifi di pesawat Norwegian Air Shuttle yang membawa kami dari Bergen. Mahal itu sudah pasti, hingga akhirnya saya membatasi budget di angka maksimal 50 Euro. Kemarin-kemarin kami nyaris tidak menemukan hotel double room dengan private bathroom dengan harga di budget tersebut. Namun ketika browsing saat di pesawat, hasil pencarian di booking.com menunjukan sebuah hotel bernama Loginn Hotel yang satu-satunya berharga sesuai budget. Hanya saja ini bukan hotel biasa, tapi hotel di atas kapal.

Saya tidak langsung memesan hotel sebab ada pertimbangan penting lain yang harus saya pikirkan. Pesawat kami berangkat dari Bergen pukul 21.30 dan menurut jadwal baru akan sampai sekitar pukul 22.25. Saya tidak yakin apakah masih ada bus dari Arlanda Airport ke pusat kota Stockholm saat kami sampai nanti. Menurut hasil pencarian internet, bus terakhir dari bandara pada hari minggu malam adalah 22.30. Sangat jelas bahwa mendarat pukul 22.25 bukan berarti dalam 5 menit saya sudah bisa keluar terminal. Saya masih harus mengantri keluar pesawat dan mengambil bagasi. Saya akan sangat merugi bila sudah booking hotel dan ternyata sudah tidak ada bus lagi dari airport ke pusat kota. Di sisi lain saya juga harus booking hotel sebelum pukul 24.00 malam, sebab jika sudah berganti hari nampaknya sistem booking tidak memungkinkan lagi untuk membooking hotel di malam tersebut. Satu pertimbangan lain lagi bahwa saya tidak berlangganan mobile internet, sehingga saya memerlukan wifi. Yang saya pikirkan saat itu adalah saya harus langsung booking hotel di Arlanda setelah mendapat kepastian masih ada bus dan harus sebelum pukul 24.00.

Singkat cerita kami mendarat di Stockholm. Saya dan Indri berusaha berjalan keluar pesawat secepat mungkin dan beruntung bagasi kami keluar tidak terlalu lama. Kami pun menyempatkan diri ke ATM mengambil Swedish Kron karena seperti Norwegia, Swedia tidak memakai Euro. Sesampai bagian depan menjelang luar terminal kedatangan kami melihat ada konter bus yang masih buka. Konter tersebut untuk bus Flygbussarna. Beruntung ada bus yang akan berangkat dalam 5 menit. Saat saya membeli tiket, Indri mengumpulkan beberapa brosur dan peta Stockholm. Saya memutuskan membeli tiket bolak-balik ke dan dari pusat kota seharga 215 SEK.

Flygbussarna Arlanda Airport-Cityterminalen

Selesai membeli tiket kami langsung ke bus stop di luar terminal bandara. Bus tersebut sudah menunggu di stopnya. Betapa beruntung bahwa ada wifi di dalam bus. Setelah bus jalan saya langsung melanjutkan rencana booking hotel. Saya konfirmasi booking hotel kapal tadi terlepas saya belum tahu pasti nanti naik apa dari bus stop. Setelah booking hotel, menurut google maps kami bisa naik tbana (metronya Stockholm) ke arah hotel ditambah sedikit berjalan kaki.

10 Februari 2014 Lepas Tengah Malam

Stockholm Public Transport Ticket

Bus sampai di Cityterminalen (terminal bus Stockholm) nyaris jam 12 malam. Setelah keluar bus kami berjalan ke arah stasiun kereta berharap mendapat kejelasan bagaimana mencari transportasi ke arah hotel. Sesampai di stasiun kereta beruntung masih ada petugas yang berjaga. Saya langsung menanyakan informasi mengenai sistem tiket di Stockholm. Setelah membandingkan harga tiket sekali jalan vs tiket 24 jam saya memutuskan membeli tiket 24 jam. Setelah membeli tiket kami turun ke stasiun metro metro cityterminalen. Menurut peta, Loginn hotel terletak di sebrang Stockholm City Hall. Sebagai informasi Stockholm adalah kota yang terdiri dari beberapa pulau kecil. Stasiun tbana terdekat adalah Zinkensdamm yang dilalui tbana line 13 dan 14 serta berjarak 4 stasiun dari t-centralen, stasiun metro di cityterminalen.

Stockholm T-Bana

Agak sedikit mengejutkan bahwa metro masih sangat ramai, padahal sudah jam 12 malam. Stasiun metro di Stockholm terang benderang, namun sayangnya masih agak terasa suasana seram. Mungkin karena saya baru saja tiba sebagai pendatang. Metronya sendiri tidak terlalu tua, namun tidak terlalu bagus juga. Sesuai petunjuk google maps offline kami berhenti di ZIneknsdamm dan langsung keluar stasiun metro. Di luar sangat gelap dan sepi.

Sambil menggendong tas carrier sekitar 20 Kg kami pun merayapi Stockholm tengah malam lewat dengan satu misi, mencari kapal. Jalanan di kota Stockholm lebar-lebar. Namun, suasananya agak sedikit kurang bersahabat dan cenderung seram. Bisa jadi mungkin karena suasana musim dingin. Di kiri dan kanan jalan banyak diparkir mobil yang mungkin dimiliki orang-orang yang tinggal di sekitar area yang kami lewati.

Setelah sekitar 20 menit berjalan dari stasiun metro melewati beberapa bagian gelap dari kota, kami masih belum menemukan kapal yang kami cari. Padahal kami sudah hampir tiba di bibir pulau di mana seharusnya kapal yang kami cari tertambat. Saat itu kami berdiri di dataran yang agak tinggi, kami hanya melihat teluk dan di daratan seberang nampak Stockholm City Hall berdiri sekilas di sana terang dan ramai. Tapi tak nampak ada keramaian di daratan di sisi kami. Hanya beberapa lampu jalan yang menyala.

Saat memperhatikan sekitar saya tersadar ada tangga turun menuju ke bawah ke bibir teluk. Saya dan Indri pun berjalan turun. Di bawah sebuah jalan besar yang sepi, kami pun langsung menyeberang. Akhirnya barulah terlihat sebuah kapal tengah tertambat tak jauh dari tempat kami berdiri. Lampu-lampunya menyala terang sebagai tanda mungkin ada orang-orang di dalamnya. Kami pun berjalan mendekat. Saat sampai di depannya, akhirnya pencarian kapal di Stockholm membuahkan hasil. Kami melihat bacaan Loginn hotel di tangga naik ke atas kapal tersebut.

Loginn Hotel nan Epic

Ketika pencarian kapal selesai bukan berarti petualangan kami berakhir. Setelah naik ke kapal, satu-satunya pintu masuk di sana tertutup dan sesuai perkiraan terkunci. Melihat kondisi kapal tua tersebut saya sempat meragukan apabila ada resepsionis yang standby selarut ini. Kemungkinan terburuk adalah kami harus tidur di luar malam itu. Di depan pintu ada interkom yang terlihat setua kapal tersebut. Saya pun menekan tombol interkom. Sejenak terdengar bunyi bip panjang. Tak lama, kami mulai merasa beruntung, seseorang menjawab. Dari suaranya seorang wanita tua. Ia menyapa menggunakan bahasa asing yang saya tidak kenal, namun saya perkirakan Bahasa Swedia. Saya pun langsung menyahut menggunakan Bahasa Inggris dan menyampaikan bahwa saya baru saja melakukan booking hotel. Singkat cerita wanita tua tersebut membukakan pintu hotel dan kami langsung checkin malam tersebut. Ternyata si wanita tua yang cukup ramah tersebut bertugas jaga malam. Sebelum masuk kamar saya menyempatkan diri bertanya apakah air keran di kamar bisa diminum. Ia pun membalas, “We have the best tap water in the world!” Dengan intonasi yang penuh percaya diri. Kelak pernyataan tersebut akan membuat kami selalu tertawa saat mengingatnya.

Another View of The Epic Ship

Kronprinssesan Martha

Saya tidak membawa meteran sehingga tidak tahu persis berapa ukuran kamar kami. Loginn hotel menggunakan kapal yang telah pensiun dan menjadikan interior kapal sebagai kamar-kamar. Nama kapalnya adalah M/S Kronprinsesse Martha yang dibuat pada tahun 1928. Jika tidak salah kapal ini memiliki tiga tingkat dek. Setiap dek mungkin ada sekitar sekian belas hingga 20an kamar. Kamar kami hanya muat berisi satu tempat tidur ukuran queen. Berhubung dek tidak terlalu tinggi, di tempat tidur yang diposisikan agak tinggi tersebut kita hanya bisa duduk, itu pun kepala nyaris menyentuh atap. Di depan pintu ada semacam ruang kotak yang difungsikan sebagai lemari. Kamar mandi pun berukuran kecil namun tidak terlalu sempit. Airnya bersih dan saat diminum tidak ada rasanya. Keran air panas pun menyala tanpa masalah. Terlepas dari segala keterbatasan hotel 50 euroan tersebut kami tidur sangat lelap malam itu.

10 Februari 2014 Pagi

Stockholm Stadshus di Seberang Loginn Hotel

Dengan berbagai pertimbangan, hari itu kami memutuskan baru checkout setelah shalat zuhur. Itu pun ditambah dengan bumbu menghilangkan kunci kamar. Setelah mencari sekitar setengah jam kami pun memutuskan mengadu ke resepsionis. Beruntung resepsionis mengatakan tidak apa-apa. Setelah itu kami langsung checkout membawa seluruh barang bawaan. Tas-tas besar akan kami titip di locker yang ada di terminal sentral Stockholm.

Hubby, Wifey and Stockholm Stadshus

Kami keluar hotel sambil menyusuri Riddarfjarden menuju Stasiun Tbana Gamla Stan. Sebenarnya tujuan utama satu hari kami di Stockholm adalah Gamla Stan, tapi kami harus menitip tas dulu kemudian baru kembali lagi. Di sepanjang Riddarfjarden, ternyata tak hanya ada satu hotel kapal, bahkan kami menemukan beberapa hotel. Setelah berjalan sekitar 15 menit akhirnya sampai di stasiun tbana. Kami langsung naik ke arah pusat kota.

Gamla Stan T-Bana

Di Terminal Sentral Stockholm kami langsung menitipkan tas. Saya lupa harganya, tapi cukup mahal apalagi jika dirupiahkan. Setelah menitip tas kami langsung ke luar dan berjalan-jalan di pusat kota. Saat melihat toko souvenir kami langsung memutuskan mampir. Menariknya ada cukup banyak imigran Pakistan di Stockholm, termasuk penjaga toko souvenir yang kami datangi. Selesai dari toko souvenir kami memutuskan untuk jalan kaki saja menuju Gamla Stan karena ternyata tidak terlalu jauh dari cityterminalen.

Gamla Stan bukan Gangnam Style

Riksgatan

Gamla Stan terdengar serima dengan Gangnam Style. Tapi tentunya dua nama tersebut berada di lokasi yang berbeda. Gangnam adalah sebuah distrik di Korea Selatan dan Gamla Stan tentunya sesuai dengan topik utama post ini ada di Stockholm.

Di Eropa Hampir Setiap Jembatan Dipasangi Gembok

Gamla Stan berasal dari Bahasa Swedia yang berarti kota tua. Sebenarnya jika ditelusuri ada banyak objek turistik di Stockholm. Namun dengan keterbatasan waktu kami memutuskan menjadikan Gamla Stan sebagai objek utama jalan-jalan kami pada waktu tersebut.

Sesuai dengan namanya, di Gamla Stan ada banyak gedung-gedung tua namun masih sangat terawat. Kami memulai perjalanan melalui Riksgatan hingga terus ke ujung Gamla Stan di selatan. Di sepanjang jalan utama Gamla Stan ada banyak toko dan restoran. Selain kami pun ada banyak turis-turis lain.

Setelah sampai di salah satu ujung jalan, akhirnya kami memutuskan untuk naik bus tanpa tentu arah. Kami turun di salah satu jalan Stockholm yang juga tidak saya ingat. Tapi kemudian kami mengenali jalan tersebut adalah jalan yang kami lalui saat mencari kapal yang hilang semalam. Saat terus jalan kami menemukan restoran vegerian dan memutuskan untuk makan siang. Sayangnya Indri nampak tidak terlalu suka masakan di sana.

Wifey’s Vegetarian Nightmare

Selesai makan kami kembali naik bus dan sejenak berputar-putar di Stockholm yang berpulau-pulau. Kita matahari mulai turun padahal baru jam 5-an kami memutuskan naik tbana kembali ke cityterminalen. Di cityterminalen kami langsung mengambil tas dan menunggu bus menuju Arlanda airport menggunakan tiket pp yang sudah kami beli sebelumnya.

Stockholm Bus

Wifey and Sushi Sushanti

Perjalanan ke bandara berlangsung seperti biasa. Sesampai bandara langsung checkin dan menaruh bagasi. Kami menyempatkan untuk meminta tax return dari souvenir yang tadi siang beli. Tapi ternyata kami baru bisa meminta tax return setelah meninggalkan Eropa. Kami menyempatkan makan malam menu kesukaan Indri, Sushi. Setelahnya langsung ke ruang tunggu menanti penerbangan selanjutkan ke Helsinki.