Rekap Awal November: Salah Masuk Kantor dan Laptop Rusak

Seperti yang sudah ditulis di post minggu lalu, hampir satu tahun saya absen menulis. Padahal menulis banyak manfaatnya. Saya hendak mencangankan target untuk menulis setidaknya satu post dalam seminggu. Jika pun tak ada ide berbobot untuk ditulis, biarlah curhatan hati menjadi penggantinya.

Minggu ini dimulai dengan agak menyebalkan. Hari Senin lalu saya masuk kantor di saat kantor sedang libur. Secara kalendar, hari Sabtu adalah hari libur nasional singapura untuk perayaan divapali, salah satu hari raya Hindu yang kebanyakan dirayakan orang India. Semacam dengan peraturan libur nasional di Indonesia, peringatan divapali biasanya akan mendapat jatah 2 hari tanggal merah. Namun karena tahun ini jatuhnya di hari Sabtu, berdasarkan website departemen tenaga kerja Indonesia, libur merahnya hanya Sabtu dan Minggu, yang artinya Senin bukanlah hari libur nasional.

Senin pagi seperti biasa saya beranjak ke kantor jam 8 pagi. Jalan satu blok ke arah stasiun MRT Dakota. Langsung ambil tempat duduk favorit di gerbong paling ujung dan mulai membaca buku dari tablet. Sekitar 40 menit kemudian akhirnya sampai di statusiun MRT Haw Par Villa. Turun MRT, keluar dari platform dan naik terus keluar dari stasiun yang berada di bawah tanah. Keluar langsung menunggu di bus stop menanti shuttle bus yang akan mengantar ke science park 2 tempat kantor Fujitsu Singapura. Bus datang, langsung naik, membayar 40 sen, duduk dan kembali membaca. Sekitaran 10 menit bus sampai di bus stop tujuan. Turun bus kemudian berjalan ke gedung. Naik ke lantai 3 menggunakan lift, lalu berjalan ke arah pintu salah satu wings, tapping access card kantor, masukan pin, pintu terbuka dan ruangan gelap. Nyaris tak ada orang kecuali ada beberapa orang yang mungkin ada kerjaan di pojok ruangan.

Ternyata Fujitsu libur meski kebanyakan kantor lain masuk. Berhubung saya adalah third party contractor mungkin tidak mendapatkan email pengumuman liburnya hari tersebut. Sementara project manager saya dan satu rekan developer yang lain sudah cuti sejak seminggu lalu dan lupa mengingatkan saya mengenai hari libur ini. Agak sedikit geli sendiri kemudian langsung keluar dan pulang. Kali ini via Harbour Front, turun di Clarke Quay dan naik bus 197.

Sejenak saya jadi teringat seorang teman sewaktu SMA. Namanya Rommy Jackson. Itu nama aslinya. Chinese dan sangat ramah. Jago main basket dan gitar. Badannya lumayan tinggi, mungkin sekitaran 170 cm di saat kami masih kelas satu SMA dan saya hanya 160 cm lebih sedikit. Detailnya saya lupa namun satu waktu Rommy pernah datang ke sekolah saat sekolah diliburkan mendadak. Jika tak salah karena hari sebelumnya dia tak masuk karena sakit. Saat sekolah masuk lagi, saya langsung menyapanya dan menanyakan apakah dia masuk di saat hari libur mendadak itu. Ia mengiyakan karena ia tak terpikir menyakan teman-teman yang lain apakah hari tersebut libur atau masuk. Pada masa itu boleh dibilang hampir ada yang memegang handphone. Sayangnya, saat kelas 3 atau tak lama setelah lulus, lupa tepatnya. Rommy meninggal dunia mendadak. Menurut kabar yang saya dengar diduga karena serangan jantung.

Lanjut ke poin kedua curhatan minggu ini. Berhubung saya kerja di Fujitsu, saya mendapat jatah laptop kerja Fujitsu. Saya malas memeriksa tipenya, ukuran layar 13 inchi dengan prosesor intel i5. Bukan laptop yang terlalu cepat sebenarnya untuk develop Java. Saya sangat suka laptop tersebut karena ukurannya yang mini. Minggu ini, setelah salah masuk hari Senin, saya kembali masuk kantor di hari Selasa. Salah satu rekan saya di project yang sedang kami kerjakan cuti ke Taiwan. Sehingga setiap hal yang berkaitan dengan project harus saya tangani sendiri. Selasa pagi banyak email masuk dari klien. Mengenai implementasi web service baru dan beberapa issue. Ketika sebenarnya sangat semangat bekerja tiba-tiba saya melihat ada yang tak beres dengan laptop. Sangat lambat dan tak responsif. Padahal minggu lalu masih baik-baik saja. Saya mulai coba troubleshooting dari taskmanager. Tidak ada yang nampaknya aneh. Pada akhirnya seharian itu saya tidak bekerja karena sibuk mengoprek laptop. Saya masih berpikir ada masalah di sistem operasinya.

Sesampai rumah saya langsung mengeksekusi checkdisk dan nampaknya tak ada yang salah. Sampai tengah malam masih terus penasaran hingga akhirnya saya tersadar, beberapa hari belakangan terkadang hardisk laptop berbunyi keras. Saya juga baru tersadar lampu indikator hardisk terus menyala. Nampaknya masalah bukan di software, tapi di hardisk.

Keesokan harinya saya langsung mendatangi MIS, departemen yang mengurusi infrastruktur dan hardware di Fujitsu. Benar saja ternyata hardisknya bermasalah. Solusinya adalah harus mengganti hardisk baru. Namun berhubung pengadaan barang akan memakan waktu beberapa hari hingga minggu sementara menggunakan laptop pengganti. Fujitsu juga, tapi 14 inchi masih dengan proses intel i5 dan berat tambahan 500 gram.

Pelajaran pentingnya adalah tak selamanya masalah computing ada di software. Secanggih apa pun software jika hardwarenya rusak maka tidak akan ada yang jalan.

Menulis dan Menemukan Diri

Melihat post lalu, agak terkejut ketika saya tersadar hampir setahun tidak menulis tulisan baru. Sebenarnya selain di blog ini saya juga terkadang menulis di blog lain. Namun kembali saya tersadar baik dari kuantitas dan kualitas, saya masih harus belajar banyak untuk menulis dengan baik.
Blog ini dimulai sudah cukup lama. Tahun 2007. Sebelum kehadiran blog, saya juga cukup rutin menulis jurnal. Entah pada kemana jurnal-jurnal tersebut sekarang. Sedari dulu saya senang menulis dan selalu bermimpi (bahkan hingga kini) untuk menjadi penulis.

Trend blog sebenarnya adalah sesuatu yang sangat baru. Di Indonesia salah satu trend early blogger yang cukup terkenal adalah Radithya Dika dengan curhat-curhat si Kambing Jantannya. Dia bahkan sudah menulis blog saat platform yang memungkinkan blogging dengan mudah belum muncul, sebelum ada wordpress atau blogger. Baru setelah munculnya wordpress dapat dikatakan blogging menjadi sesuatu yang lebih mudah dilakukan.

Sekarang kembali ke ide dari judul post ini. Kenapa harus menulis? Tanpa harus menunjukan referensi formal, menulis adalah sesuatu yang bermanfaat. Setiap hari dalam otak manusia terjadi ratusan atau mungkin ribuan pemikiran. Ide dan pemikiran itu datang dan pergi begitu saja. Menulis adalah salah satu aktivitas untuk bagaimana kita bisa fokus terhadap ide tertentu. Pada akhirnya dengan fokus tersebut kita akan lebih memahami diri sendiri dan juga apa yang kita coba tuliskan. Writing will help you to find yourself.
Dari segala penemuan teknologi dan eksplorasi yang dilakukan manusia, tetap bahwa salah satu misteri terbesar di alam semesta adalah manusia itu sendiri. Jadi bagaimana mungkin menulis bisa mencoba untuk memecahkan misteri itu? Bagaimana menulis bisa menjadi jalan untuk mengenali diri lebih baik lagi? Pertama menulis memaksa kita untuk fokus memproses satu ide. Seberapa banyak pun letupan neuron di kepala kita, menulis membuat kita harus memprosesnya secara sekuensial satu persatu. Dengan fokus ini kita tidak bisa terhindar dari kehilangann arah karena cepatnya otak melompat dari satu ide ke ide lainnya. Saking cepatnya lompatan tersebut bahkan sering membuat banyak ide yang brilian hilang begitu saja. Kedua menulis bisa membantu saat kita ingin melakukan branstorming dengan diri sendiri misalnya saat hendak mencari gagasan. Tentu saja bentuk tulisan tak harus sesuatu yang linear hanya berisi teks, bisa saja bentuk tulisan adalah midmap yang mencoba mendeskripsikan ide yang tengah kita oleh. Ketiga adalah yang terpenting bagi individu. Menulis adalah media kontemplasi yang bisa sangat efektif. Ketika ingin melakukan evaluasi diri, merenung, evaluasi masa lalu dan merancang target masa depan.

Namun menulis itu sulit. Menulis secara konsisten dari awal hingga usai jauh lebih susah lagi. Oleh karena itu muncul terminologi writers block yang menggambarkan kesulitan menulis bahkan terjadi pada professional sekalipun. Di sinilah perlunya kedisiplinan. Disiplin inilah yang akan membedakan antara yang sukses dan tidak sukses dalam menemukan dirinya. Saya sendiri pernah dalam beberapa masa berhasil memaksakan diri untuk disiplin. Misalnya komitmen untuk menulis surat cinta pada istri saya setiap hari serperti terinspirasi dari film The Notebook. Komitmen berjalan lancar di awal namun seret di tengah jalan. Namun setiap waktu saya selalu berusaha untuk bisa menjaga konsistensi itu lagi. Menulis buku adalah salah satu misi hidup penting yang masih belum tercapai hingga saat ini. Oleh karena itu , hingga detik ini saya masih dalam proses mencari diri saya dan membangun konsistensi yang lebih baik lagi dalam segala hal.

Ketika Uang pun Bukan Penghalang untuk Menikah

Menikahlah maka engkau akan kaya.

Post ini akan sedikit bercerita mengenai pengalaman hidup yang saya alami yang membuat saya merubah pandangan mengenai pernikahan. Dulu saya tak percaya quote di atas. Namun setelah menjalaninya terbuktilah itu benar adanya.

Saat Allah meniupkan ruh pada raga manusia, di saat yang sama ditentukan juga rejeki, ajal dan jodohnya. Namun itu semua adalah takdir yang harus diperjuangkan. Seperti yang sering saya tulis, jodoh itu memang di tangan Allah. Namun kita harus ikhtiar agar tak di tangan Allah terus dan bisa pindah ke sisi kita dan hati kita. Demikian juga rejeki. Sesering apa pun shalat dhuha dan berdoa tidak akan membuat rejeki datang begitu saja. Harus ikhtiar.

Sejak awal tahun 2011 saya membulatkan niat ingin menikah. Dengan siapa? Jujur pada saat pertama beritikad saya tak punya target sasaran tembak. Di satu hari di bulan Maret 2011 saya iseng browsing website kominfo. Singkat cerita, saya iseng apply. Singkat cerita pula saya lolos hingga tahapan wawancara yang dilaksanakan pada Juni 2011. Sejak awal saya benar-benar niat semata-mata cuma untuk apply beasiswa. Namun lucunya pada saat ba’da wawancara ada psikotest saya duduk di samping ukhti berjilbab. Namun ukhti ini sangat modern dan sangat gaul dan juga terlihat sangat pintar (demikian juga kenyataannya). Singkat cerita lagi, sambil psikotest, dengan jurus maut saya berkenalan dan akhirnya sepanjang psikotest kami ngobrol banyak. Singkat cerita lagi sebelum bubaran seleksi beasiswa itu saya dengan jurus maut lain berhasil meminta nomor handphone gadis tersebut. Kesimpulannya sekali lagi saya memang cuma ingin melamar beasiswa. Namun sedikit improvisasi tentunya hal yang tidak dilarang :).

Setelah proses kenalan tersebut akhirnya saya menemukan beberapa kecocokan dan karakteristik ideal yang sepertinya ada lengkap pada gadis yang pada akhirnya menjadi istri saya tersebut. Sejak itulah saya cukup rajin shalat sunah dan istikharah untuk meminta petunjuk pada Allah. Setelah beberapa waktu menjalani itu saya merasa semakin berat, hingga akhirnya di satu hari di bulan Juli 2011 sekitar 2 hari sebelum Ramadhan, saya “menembak” calon istri saya. Definisi menembak di sini tentunya bukan sekedar bilang I lop u. Namun saya menyampaikan itikad ingin serius berencana menjadikan calon istri saya itu ebagai istri saya. Tembakan saya tidak dijawab. :p Tapi saya tak peduli. Yang penting sudah ditembak. Meski tak kena yang penting hati plong (meski sejujurnya agak miris dan galau juga).

Menariknya sekitar 2 minggu berikutnya di pertengahan bulan Ramadhan akhirnya istri saya akhirnya menerima tembakan saya. Girang bukan kepalang tentunya. Akhirnya saya putuskan ba’da lebaran untuk bersilaturahmi ke rumah calon mertua saya di Jember. Di sana saya dikenalkan dengan semua anggota keluarga besar istri. Selayaknya silaturahmi ke keluarga pasangan, pertanyaan sakti yang akan sering dilontarkan adalah “kapan nih mau diresmikannya?” Dan kami selalu menjawab pertanyaan itu dengan mesem mesem karena kami sendiri benar-benar blank. Dari silaturahmi itu juga saya diberi wejangan oleh orang tua istri. Bahwa pernikahan itu bukan sekedar melihat persamaan. Namun justru harus lebih melihat perbedaan. Sebab faktor perbedaan inilah yang kelak lebih berperan. Berperan dalam semakin mengikat tali pernikahan atau bahkan bisa juga berperan meretakkan ikatan rumah tangga. Naudzubillah. Dari kunjungan itu saya merencanakan untuk mengajak orang tua saya bersilaturahmi ke Jember dalam waktu dekat.

Sepulang dari anjangsana anjangsini ke rumah mertua, keinginan menikah saya semakin bulat. Saya pun terus rajin istikharah untuk memastikan keputusan seumur hidup sekali ini tak salah diambil. Namun tantangan terbesar saya, dan kebanyakan pria muda yang ingin menikah adalah… duit. I don’t have money at all. Tabungan saya itu seperti ember bocor halus. Embernya akan terisi saat hujan di awal bulan. Namun karena bocor halus airnya akan menyurut dan habis di akhir bulan. Saya juga memutuskan untuk sambil mencari-cari kerjaan baru untuk bisa mendapat kenaikan gaji. Sebab di kantor lama sepertinya gaji sudah mentok dan susah untuk naik lagi. Barangkali dengan mencari kenaikan gaji saya bisa menabung cepat beberapa bulan dan mengumpulkan uang untuk bisa membeli mas kawin yang patut dan selamatan sederhanan. Sempat berpikir juga untuk menunda nanti saja menikahnya. Setelah dua atau tiga tahun lagi bekerja. Menunggu mapan, punya rumah dan mobil dulu. Namun di saat itu juga tiba-tiba saya takut tidak bisa menemukan yang sebaik istri saya ini. Singkat cerita lagi, saya tiba pada momen super tawakal dan semakin rajin shalat istikharah untuk dimudahkan dalam proses tersebut.

Di satu hari di bulan September, saat di kantor, tiba-tiba saya mendapat sebuah telepon dari nomor aneh. Saat diangkat ternyata seorang wanita di sudut sana. Ia memperkenalkan diri sebagai rekrutmen agensi untuk sebuah proyek IT di Singapura yang tengah membutuhkan resource dengan skill Java EE, Hibernate dan JBoss Seam. Skill set yang kebetulan banyak saya pakai 3 tahun terakhir pada waktu itu. Mendengar kata Singapura kuping saya langsung berdiri tajam. Intinya sang rekruiter ingin meminta ijin untuk meproses profile saya. Setelah menimbang-nimbang sejenak akhirnya saya setuju untuk diproses. Pada saat yang sama saya juga melanjutkan proses apply-apply beberapa pekerjaan ke beberapa jobsite. Saya mengikuti proses rekrutmen 4 perusahaan di Jakarta sambil terus mengikuti proses rekrutmen job di Singapura juga. Saya harus mengikuti dari round phone interview untuk job di Singapura. Meski pada akhirnya cukup satu round saja. Singkat cerita lagi akhirnya saya mendapat job offer dari kantor di Singapura dan pada saat yang sama saya juga mendapat beberapa job offer di Jakarta. Tiba-tiba saya menjadi galau. Tiba-tiba saya segan keluar dari daerah nyaman. Meski cuma selemparan batu dari Jakarta, tapi tiba-tiba saya takut jika harus pindah ke Singapura dan segan berpisah dengan calon istri saya. Akhirnya dengan pemikiran mendalam dan setelah berdiskusi dengan istri dan orang tua saya putuskan untuk menolak tawaran kerja di Singpura dan memilih stay di Jakarta saja. Apalagi setelah mendengar rencana saya untuk pergi ke Singapura, orang tua kami sepakat untuk melangsungkan prosesi lamaran di bulan November.

Saya langsung mengirim email menolak job offer tersebut. Tak lebih dari 5 menit rekruiter saya langsung menelepon. Ia langsung menanyakan alasanya dan berusaha membujuk-bujuk saya. Bahkan ia pun berusaha menawarkan untuk negosiasi gaji lagi. Kembali saya menjadi galau. Saya pun berdiskusi sejenak lagi dengan calon istri saya. Akhirnya dengan bismillah saya menerima job offer tersebut. Artinya dalam 3 minggu saya harus berangkat ke Singpura. Mendengar perubahan keputusan ini orang tua kami kemudian mendadak merubah rencana lagi. Prosesi lamaran pun dibatalkan! Mereka memutuskan untuk langsung menikahkan kami! Setidaknya secara prosesi agama terlebih dahulu dengan mengundang keluarga-keluarga terdekat saja. Tanggalnya 19 November 2011. Dengan sedikit tabungan yang ada seminggu sebelum pernikahan saya dan istri gerilya mempersiapkan pernikahan ini. Menyiapkan baju dan seserahan. Apalagi istri saya harus dinas luar kota seminggu sebelum akad nikah. Akhirnya atas berkat rahmat Allah kami menikah pada tanggal 19 November 2011. Pada taggal 27 November saya terbang ke Singapura. Desember saya bolak balik beberapa kali Singapura – Jakarta untuk mempersiapkan resepsi dan akad negara yang akan dilangsungkan pada 20 Januari 2012.

Pada malam ini di sebuah pojokan kamar kecil di sebuah apartemen di Farrer Park Singpura saya masih percaya tak percaya bila sudah menjadi suami orang. Dulu saya yang sempat galau takut merasa tak mampu membiayai pernikahan ternyata sudah dimampukan Allah. Hanya karena doa yang dalam dan istikharah yang kontinyu. Tentunya banyak cerita serupa yang dialami oleh teman-teman lain juga. Insya Allah jika sudah diniatkan dengan bulat dan ditambah dengan fondasi yang baik, niat baik kita pasti akan dilancarkan.

Cerita tentang Pintu Satu Arah

Post ini sedikit terpicu oleh headline utama di Indonesia saat ini: jatuhnya Sukhoi Superjet-100. Beberapa hari ini saya cukup rajin memantau berita tentang ini. Baik dari portal berita atau streaming TV Indonesia lewat mivo.tv. Di satu sisi, keberadaan berita memiliki dampak positif dalam menyebarkan informasi. Namun di sisi lain terkadang berita-berita besar seperti ini diekspos terlalu berlebihan dan membuat seakan si pembuat berita kehilangan empati terhadap korban dan keluarganya. Hal ini diperparah lagi dengan statement-statement tak perlu dari pejabat-pejabat yang tidak ada manfaatnya.

Kembali ke masalah berita tadi. Momen ketika pertama kali melihat berita ini saya langsung merasakan empati yang mendalam terhadap keluarga korban. Seketika saya membayangkan apa perasaan saya jika menjadi keluarga korban? Dan lebih dalam lagi bagaimana jika seandainya saya yang menjadi korban?

Kematian adalah hal yang sangat istimewa dalam kehidupan. Istimewanya, kematian adalah pintu satu arah. Setiap manusia hanya bisa masuk satu kali dan tidak bisa kembali lagi. Jika orang meninggal bisa kembali lagi, tak perlu ada histeria yang biasa terjadi. Tidak ada orang yang perlu takut mati. Sehingga orang bisa berbuat seenaknya saja toh jika pun mereka masuk pintu kematian, ia bisa kembali lagi setiap waktu. Namun faktanya tidak seperti itu. Orang yang meninggal akan pergi selamanya dari dunia. Perpisahan itu menyakitkan. Apalagi jika perpisahan selamanya dari orang yang kita cinta, saat kita ditinggal atau kita yang meninggalkan. Kematian akan lebih menyakitkan bila terjadi secara tragis dan mendadak. Oleh karena itu doa yang harus selalu tak lepas kita ucap adalah untuk bisa meninggal khusnul khatimah.

Mari kita membayangkan sebuah skenario. Bayangkan seseorang yang biasanya ada namun kini tidak ada lagi. Padahal di kamarnya masih tertinggal banyak kenangannya. Tempat tidurnya yang masih belum dirapihkan. Baju-baju bekas dengan baunya masih tergantung di pintu kamar. Padahal mungkin satu hari sebelumnya kita masih bercengkrama dengannya. Pagi harinya ia masih berpamitan pergi dari rumah.

Sebaliknya juga bayangkan ketika suatu pagi kita bangun. Dengan tenang kita merasa bahwa pasti bertemu sore. Namun ternyata ajal kita ada di siang hari dan kita tak pernah bertemu sore. Dan saat mati kita hanya bisa menyesali hal-hal yang pernah dan belum dilakukan.

Mati itu bisa datang kapan saja. Tak peduli sedang naik pesawat atau bahkan saat diam di rumah sekalipun. Berhubung kematian adalah pintu satu arah tentunya kita harus menyiapkan bekal sebanyak mungkin untuk memasuki pintu itu pada waktu yang tak pernah seorang pun tahu. Bisa beberapa puluh tahun lagi atau bahkan besok. Tak ada yang pernah tahu. Semoga jika pun ajal datang, kita dijemput dengan cara yang baik dan kondisi yang siap.

Jon Flashpack to Bali – Part 3: Denpasar, GWK and Uluwatu

25 Juni 2011

Part 1 berikut pengertian flahpack bisa dilihat di sini.

Part 2 bisa dilihat di sini.

I love holiday!

Denpasar
Hari pertama di Bali saya awali dengan muter-muter ngukur aspal dalam kota antara Kuta dan Denpasar. Maksud hati pagi-pagi tersebut ingin mecari sarapan bubur atau apa gitu. Namun tak dapat yang sreg. Apalagi masih was-was juga mencari tempat makan yang halal. Setelah sampai Denpasar akhirnya saya jalan kembali ke arah Kuta. Di jalan menyempatkan diri mengisi bensin si Silver full tank agar leluasa berpergian nantinya.

Di Kuta saya akhirnya masuk ke Kuta Square salah satu pusat perbelanjaan yang sangat dekat dengan pantai Kuta. Saya parkir ke basement dan langsung menuju McDonalds untuk makan siang. Setelah makan kemudian saya menuju Foodmart untuk membeli kebutuhan kosmetik harian selama liburan. Amblaslah 100.000 lebih untuk keperluan belanja ini. Setelah belanja saya simpan belanjaan ke mobil kemudian shalat di mushola yang kebetulan ada di basement parkiran tersebut.

GWK
Sehabis shalat sebenarnya masih linglung mau meluyur (maksudnya ngeluyur yang dibakukan) kemana. Tiba-tiba ilham menginspirasi sayah untuk pergi ke Garuda Wisnu Kencana (GWK). GWK adalah sebuah cultural park, tempat di mana ada banyak pementasan seni, pemutaran film dan terutama patung Garuda Wisnu yang hingga saat kunjungan saya masih belum selesai. Di samping itu di sepanjang GWK juga telah dibuat pahatan batu alam yang membentuk lorong-lorong yang cukup cantik. Kemudian ada banyak fasilitas hiburan juga di sana. Seperti outbound, segway (kendaraan beroda dua kiri-kanan dan dijalankan dengan memiringkan tubuh ke depan dan belakang) serta ATV.

Saya kemudian masuk mobil, turn on google maps, set destination lalu langsung cabut. GWK ada di jalan raya Uluwatu. Dari Kuta kita tinggal mengarah ke Selatan melewati airport. Di tengah jalan, entah GPSnya yang error atau sayanya yang dodol, saya belok masuk ke jalan kecil yang cukup jauh. Baru setelah sekitar 2 Km ke dalam saya sadar sudah salah jalan. Langsung putar balik dan melaju ke arah seharusnya. Terus saja mengikuti Jalan Raya Uluwatu tak lama akhirnya saya tiba di pintu depan GWK. Saya langsung masuk ke dalam beberapa ratus meter hingga akhirnya tiba di antrian loket tiket. Biaya masuk GWK 25.000 perorang dan parkir mobil 5.000.

Dalam GWK saya berkeliling sejenak. Masuk melihat pertunjukan tari-tarian orang bertopeng dengan lakon tertentu. Lakon disampaikan dengan bahasa Bali dan cukup lucu meski saya tak mengerti. Sehabis melihat tarian saya langsung menuju area utama. Sebuah tanah lapang dan tangga menanjak menuju patung garuda. Patung wisnu sendiri harus menanjak beberapa tangga lagi. Setelah puas melihat-lihat kemudian saya turun dan menuju lorong-lorong batu untuk foto-foto sejenak. Kemudian setelah merasa puas langsung ke arah luar.

Pura Luhur Uluwatu
Entah dapat inspirasi dari mana, tujuan berikutnya langsung saya tetapkan Pura Luhur Uluwatu karena kebetulan destinasi ini searah dari GWK ke selatan lagi. Satu penyesalan saya melakukan perjalanan tanpa persiapan adalah saya tak tahu bahwa ada pantai yang cukup bagus dekat GWK yang bernama pantai Dreamland. Padahal jika saya tahu saya bisa mengunjunginya sekaligus.

Dari GWK ke Uluwatu jika tak salah memakan waktu perjalanan sekitar 45 menit dengan kecepatan sedang. Selain Dreamland sebenarnya ada banyak pantai di sekitaran Uluwatu ini. Namun itulah saya benar-benar bias tanpa rencana. Tak lama saya tiba di gerbang dekat Uluwatu. Untuk masuk ditagih uang parkir 1.000 rupiah. Setelah parkir mobil langsung menuju pintu masuk.

Biaya masuk pura adalah 3.000 rupiah kemdian, karena saya bercelana pendek, maka saya harus dipakaikan kain sarung sebelum masuk. Setelah masuk saya langsung disambut beberapa ekor monyet yang sangat lucu sekali. Ya sampai kunjungan saya ke Uluwatu ini saya memandang hewan yang sangat lucu. Saya berjalan mendekati monyet si monyet pun mendekati saya. Kami pun berpandang-pandangan sejenak (halah ya ampun). Tiba-tiba si monyet menarik kain sarung saya dan memanjat ke pinggang saya lalu mencoba merampas botol plastik yang saya sangkutkan di tas kecil yang saya slempangkan. Secara refleks saya langsung mencoba merebut botol air mineral yang sudah sempat direbut si monyet. Terjadilah pergumulan cukup sengit antara Jon versus monyet rebutan botol air mineral. Pada akhirnya petugas pura kemudian menghentak-hentakan kayu ke tanah lalu si monyet pun kabur, botol air mineral saya selamat. Sejak saat itu monyet tak lucu lagi bagi saya. 😀

Oke welcome to Uluwatu. Pura Uluwatu terletak di tebing pinggir pantai. Di pura ini pula ada ratusan atau mungkin ribuan monyet liar. Hal-hal yang harus diperhatikan saat datang ke tempat ini adalah pastikan semua barang berharga yang kita bawa ada di tempat yang aman. Entah karena diajari atau memang bawaan ketertarikan alaminya, ratusan monyet yang ada di sana akan selalu berusaha merebut benda-benda yang menarik baginya. Misalnya kacamata, kamera, sendal, dompet dan bahkan telepon seluler.

Okelah sekian dulu cerita tentang monyet. Pemandangan di pura ini sangat cantik. Wilayah pura pun cukup luas. Saya menyempatkan diri berjalan mengelilingi bibir tebing di sekeliling pura. Dari atas pura ke laut di bawahnya berjarak cukup tinggi. Jika kepeleset jatuh ya bisa cukup asoi rasanya :p. Tapi tak perlu khawatir, sepanjang bibir tebih telah dipagar tembok cukup tinggi.

Setelah berkeliling-keliling sejenak yang cukup menguras keringat saya pun beristirahat sambil tetap waspada. Monyet ada di mana-mana. Waktu menunjukan sekitar pukul 17.00. Saya berencana untuk menikmati sunset di sini. Dekat ke waktu sunset saya berjalan ke arah selatan pura. Di sana ada hamparan padang rumput dan pandangan langsung ke arah laut di mana matahari perlahan turun. Indah sekali.

Setelah matahari terbenam penuh saya langsung menuju ke arah luar. Ketika sudah berada di luar ternyata parkiran sudah sangat penuh sekali. Jadi tips untuk yang ingin mengunjungi Uluwatu, pastikan datang setidaknya jam 4 sore. Setelah jam tersebut akan sulit mencari parkir karena pengunjung yang membludak ingin menikmati matahari terbenam.

Saya langsung masuk mobil kemudian merayap pelan keluar mengantri bersama-sama mobil lain yang juga hendak pulang. Setelah di jalan raya langsung gas poll lagi ke arah kuta. Jam sudah menunjukan pukul 18.30. Saya tak tahu mau kemana lagi namun yang pasti perut lapar sangat.

Akhirnya di jalan saya memutuskan ke arah Kuta lagi. Setelah sampai pantai Kuta saya langsung parkir mobil dan masuk ke area pantai melihat suasana malam di situ. Setelah puas langsung keluar bertanya ke orang sekitar sana di mana bisa makan ayam betutu. Beberapa orang yang saya tanya menunjukan arah ke Jalan Mataram. Lalu ada juga yang menyarankan untuk mencari di Popies Lane 2. Penasaran, karena kebetulan sudah di Kuta saya masuk ke Popies Lane 2 untuk melihat-lihat. Setelah jalan cukup jauh ke dalam, karena merasa tak menemukan yang saya cari akhirnya saya kembali jalan ke arah pantai.

Setelah tiba di pinggir jalan saya menuju ke arah hardrock hotel, ingin foto-foto di sana. Ketika jalan tiba-tiba ada semacam food court. Penasaran saya masuk ke dalamnya dan langsung menanyakan ayam betutu. Beruntung salah satu stall menyediakan makanan tersebut. Setelah saya melihat dia memasang halal yang cukup besar, saya langsung pesan satu porsi. Setelah makan dan merasa kenyang saya pun urung untuk foto-foto di hardrock hotel. Akhirnya saya putuskan pulang ke hotel lagi.

Expense:

  • Bensin 125.000
  • Supermarket 112.000
  • Lunch Mcd 20.000
  • Dinner kuta 38.000
  • Gwk 25.000
  • Parkir Gwk 5.000
  • Uluwatu 3.000
  • Parkir Uluwatu 1.000
  • WC 3 * 2.000
  • Total:  335.000

Bersambung ke part 4.

Jon Flashpack to Bali – Part 2: Landing and Hotel Check In

Part 1 dan pengertian flashpack bisa dilihat di sini

Pesawat yg akan membawa saya ke Bali ternyata delay sekitar 1 jam. Saya baru boarding jam 9. Dengan keterlambatan tersebut, saya pun akhirnya terlambat sampai Bali. Landing sekitar jam 11.30 dan baru keluar bandara jam 12.00 malam.

Alhamdulillah sebelum take off saya sudah kontak orang rental mobil untuk pick up saya di airport. Alangkah baiknya orang tersebut mau menunggu saya sejak jam 8 malam. Apalagi Pak Ngurah (nama penjemput saya) menunggu bersama istrinya. Meski untuk pick up tersebut saya harus membayar 80.000 rupiah. Tak apalah. Lagi pula jika memakai taksi pun akan membutuhkan biaya yang sama.

Lucunya malam tersebut saya belum ditagih uang sepeser pun untuk membayar biaya rental. “Nanti saja” kata pak Ngurah, “biar atasan saya yang mengurus”. Setelah menandatangani surat perjanjian rental Pak Ngurah dan istrinya pamit. Tinggalah saya sendiri bersama si Silver sang mobil pinjaman. Halah :p.

Tujuan pertama adalah makan. Namun saya sebelumnya tak pernah ke Bali di mana pula harus mencari makan di tengah malam seperti waktu itu? Belum lagi saya pun tak tau di mana hotel saya berada. Tak apalah mungkin inilah the art of solo journey. Beruntunglah saya yang lahir di era teknologi canggih. Saya punya GPS yang bisa memandu saya ke mana saja.

Turn on GPS, start the car, get set go. Saya langsung ke luar airport. Bayar parkir 9.000. Lalu langsung meluncur ke arah Kuta tempat hotel saya berada. Saya pikir untuk masalah makan, akan saya cari saja sepanjang jalan menuju hotel. Setelah beberapa waktu saya menemukan KFC 24 jam di daerah jalan raya kuta. Langsung masuk ke parkiran, lalu menuju konter pemesanan. Saat naik, ya ampun banyak sekali orang yang mengantri. Saya puruskan tak jadi makan KFC. Langsung keluar lagi.

Sepanjang jalan sempat lirik-lirik beberapa tempat makan juga. Namun rasa kantuk sudah tak tertahankan. Akhirnya sudahlah menuju hotel saja.

Tune Hotels Kuta letaknya dalam gang yang hanya pas muat satu mobil. Saya sempat berputar-putar beberapa kali hingga akhirnya bisa menemukan hotel ini. Karena gang depan persis hotel teramat sempit kemudian hotel juga tak punya lahan parkir, terpaksa saya parkir di jalan depan gang. Jadi harus jalan sekitar 10 meter ke dalam gang. Tak terlalu jauh sih. Setelah saya tanya ke satpam hotel lagi pula tak apa parkir di depan jalan tersebut. Asal saat pagi harus segera bawa mobil jalan karena akan banyak motor yang akan parkir.

Setelah sampai konter hotel saya langsung check in dan dapat kamar nomor 29 di lantai bawah. Setelah check in langsung masuk kamar. Buka packing barang dan mandi air panas. Setelah mandi sempat browsing-browsing internet sejenak merancang plan di hari Sabtu. Tak kuat akhirnya tertidur. Zzzz. Lanjut part berikutnya.

Expense malam pertama di Bali:

  • Pocari Sweat 8.000
  • Pick up Fee 80.000
  • Bensin 100.000
  • Parkir airport 9.000
  • Air Mineral 4.000
  • Total: 211.000

Bersambung ke part 3.

Jon Flashpack to Bali – Part 1: Latar Belakang and Take Off

Latar Belakang
Jiah kayak paper aja segala kudu pake latar belakang. Okelah begini ceritanya. Berhubung saya katrok, sejak lahir saya belum pernah sekali pun menginjakan kaki di destinasi wisata paling terpopuler di Indonesia ini. Namun, meskipun katrok (I’ve mentioned twice) saya adalah individu yang cinta perubahan sehingga ingin melepaskan diri dari kekatrokan tersebut. Maka dari itu sejak jauh-jauh hari saya bertekad untuk bisa traveling ke Bali. Buat orang lain, pergi ke Bali mubgkin gampang dan terjangkau. Namun tidak bagi saya si pria biasa ini (halah). Saat ada uang eh saya tak ada waktu. Saat ada waktu justru uangnya yang tak ada. Malahan terkadang uang tak ada waktu jg tak ada. :p

Sejak awal tahun 2011, saya sudah memantek tanggal-tanggal merah sepanjang tahun. Setelah menimbang dan memikirkan (halah kayak mau bikin RUU), saya memutuskan mengambil rentang tanggal 24-29 Juni 2011 untuk alokasi trip ke Bali. Kebetulan 29 Juni adalah public holiday, sehingga saya cukup mengambil cuti 2 hari saja pada Senin 27 dan Selasa 28 Juni dan mendapat total waktu 5 hari 5 malam untuk liburan. Pada awalnya saya sempat berpikir menyapu habis liburan hingga 8 atau 9 hari sekaligus berangkat ke Lombok. Namun keterbatasan alokasi dana membuat saya urung mewujudkan rencana ini. Lagi pula saya ingin trip santai dengan fokus mengunjungi satu destinasi dari pada terlalu banyak destinasi namun jadi serba terburu-buru. Ok Lombok I will visit you soon.

What is Flashpack

Menurut wikipedia, flashpack adalah mode traveling yang tidak seirit backpacking. Artinya saat orang backpacking ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk menekan cost yang akan keluar. Misalnya dengan memilih hotel yang lebih murah, berpergian dengan jalan kaki dan makan-makanan seirit mungkin. Di sisi lain flashpacking adalah aktivitas traveling yang tak masalah untuk mengeluarkan budget sedikit lebih besar demi kenyamanan perjalanan. Kemudian flashpacker juga sangat memanfaatkan teknologi. Misalnya menggunakan GPS sepanjang perjalanan, membawa kamera DSLR atau bahkan laptop sekaligus. Dari kriteria-kriteria tersebut nampaknya traveling saya kali ini lebih cenderung menggunakan mode flashpack daripada backpack.

Preparationg
Sekitar 2 bulan sebelum hari H saya sudah rajin berburu tiket murah. Namun semurah-murahnya yang didapat tetap tak terlalu murah juga. Saya dapat AirAsia dengan total harga pulang pergi Jakarta – Denpasar 1.125.00 sekian. Usai hunting tiket berikutnya adalah hunting hotel. Berhubung pengiritan sempet berpikir bawa tenda. Namun untung aja pikiran tersebut tak serius. Awalnya sayah ingin mencoba penginapan-penginapan di area poppies lane. Namun setelah dipikir-pikir lagi ingin cari aman akhirnya saya pilih Tune Hotels sajah. Pertimbangannya adalah harganya tak mahal-mahal amat meski pun tak murah-murah amat jg. Yang terpenting Tune Hotels bisa bayar pake kartu kredit. Jadinya bisa ngutang sebulan. Kemarin dapat total 950.000 sekian untuk menginap 5 malam.

Take Off
imageOkelah pada akhirnya semua hal terpenting sudah siap. Jadi sore tadi jam 5 tenk saya ngacir dari kantor karena mendapat flight jam 8 malam ini. Sejak siang saya sudah melakukan web checkin dan print boarding pass dan booking confirmation hotel. Masalah pun harus dipikirkan saat mau chiaouu dari kantor. Hari Jumat jam pulang.kantor pulak. Lalu lintas pasti sangat aduhai. Artinya keluar kantor Jam 5 kemudian harus checkin 45 menit sebelum take off di jam 7.45 adalah sangat mepet. Dengan tenggat waktu yang sempit tersebut opsi transportasi yang paling masuk akal hanyalah taksi. Saya ga suka taksi. Ya saya enjoy sih di dalam taksi. Ga sukanya saat harus membayar tarifnya. Namun apa daya naik Damri terlalu beresiko terlambat. Biarlah rejeki sang supir taksi.

Dari Sudirman sampai terminal 3 Soetta argo menunjukan nilai97.000 sekian. Dengan parkir dan tol totalnya menjadi 115.000 sekian. Hiks, jika dibelikan Shell Super untuk diminumkan ke si Merah nilai itu mungkin bisa menghantarkan saya sampai ke Garut. Haha.

imageTurun si saudaranya burung biru saya langsung masuk terminal. AirAsia sejak beberapa tahun terakhir menempati terminal 3 Soekarno Hatta. Terminal ini yang terbaru dibanding 2 terminal lama. Memang sih semenjak masuk terlihat lebih megah dan bersih. Cukup terasa nuansa Changi. Beda dengan nuansa Kampung Rambutan atau Pulo Gadung di terminal 1 dan 2. Okelah sekarang sudah 19.49 namun belum ada tanda kapan akan boarding. Yup low coat flight dan low consistencies. Dari Terminal 3 Bandara Soetta Jon melaporkan. :p

First Day Expense:

  • Flight PP Jakarta Denpasar: 1.125.000
  • Tune Hotel 5 malam: 950.000
  • Taksi Sudirman – Cengkareng: 115.000
  • Airport Tax: 40.000
  • Total: 2.230.000

Bersambung ke part 2.