SIM Internasional

Rabu minggu lalu saya mengurus SIM Internasional di Jakarta. Proses pembuatannya sangat cepat dan profesional.

SIM internasional adalah dokumen yang memungkinkan kita berkendara di luar negeri. Pada praktiknya, SIM internasional harus disertai dengan SIM lokal kita. Oleh karena itu untuk membuat SIM internasional kita harus sudah memiliki SIM Indonesia.

Persyaratan pembuatan SIM ini adalah sangat mudah.

  1. Paspor
  2. SIM lokal
  3. KTP
  4. Foto 4×6 3 buah dengan latar belakang biru
  5. Materai 6 ribu

Biayanya 250.000 untuk pembuatan baru dan 225.000 untuk perpanjangan. Masa berlaku SIM 3 tahun (sebelumnya hanya 1 tahun). Dibuat di kantor Korlantas Cawang. Patokannya, jika dari arah UKI posisinya setelah Menara Saidah.

Berikut alamat lengkapnya:

Korlantas Polri
Jl. Letjen Haryono MT Kav 37-38
Jakarta 12770
Telp: 021-7989702

Saya berangkat dari rumah di Jonggol jam 9 pagi namun tidak beruntung baru sampai di kantor pembuatan SIM internasional pukul 12 siang tepat saat istirahat siang. Saya langsung ambil nomor antrian lalu sambil menunggu jam 1 saya pun Shalat Zuhur di masjid yang tepat berada di sebelahnya.

Seusai shalat tepat jam 1 layanan sudah kembali di buka. Hanya ada satu orang di depan antrian saya. Kurang dari 5 menit saya pun dipanggil. Karena saya jngin membuat SIM internasional untuk motor dan mobil maka persyaratan tadi dibuat 2 rangkap. Saya menyerahkan berkas-berkas kemudian petugas memberi satu form untuk diisi. Isiannya berupa data diri, jenis SIM dan terakhir tanda tangan di atas materai. Setelah isian formulir petugas meminta pembayaran biaya yang saya bayar 2 x 250.000 untuk 2 SIM. Kemudian diambil foto dan sidik jari. Petugas akan mengkonfirmasi data sebelum SIM dicetak. Pastikan nama dan data kita benar. Setelah itu SIM langsung dicetak dan proses selesai. Bentuk SIM berupa buku dan bukan kartu. Sayangnya kualitas kertas terlihat jelek serta sayangnya lagi saya tidak dapat buku panduan karena sedang tidak ada stok.

Tips Aplikasi Visa Schengen

Di tahun 2013 lalu sudah 2 kali saya melamar Visa Schengen. Alhamdulillah kedua-duanya diterima. April tahun lalu saya melamar Schengen di Kedutaan Belanda untuk kunjungan pendek saya ke Amsterdam. Akhir November lalu saya melamar Schengen lagi di keduataan Jerman untuk kunjungan ke Eropa. Jika Kla Project punya lagu menjemput impian, maka kali ini judul tujuannya adalah menjemput istri yang sedang kuliah di sana. Dari dua pengalaman tersebut saya akan coba berbagi tips jitu untuk mendapatkan Visa Schengen. Saya tidak akan membahas mengenai detail persyaratan sebab informasi ini sangat gamblang dan lebih terkini dijelaskan di masing-masing kedutaan anggota Schengen.

Pre FAQ

  • Apakah visa? Ijin untuk bisa memasuki suatu negara
  • Apakah Visa Schengen? Visa untuk bisa memasuki beberapa negara di Eropa yang mengikuti perjanjian Schengen. Tak ada pemeriksaan imigrasi di perbetasan antara negara-negara Schengen.
  • Apakah setiap keluar negeri memerlukan visa? Tergantung negara tujuan, warga negara Indonesia bisa memasuki negara Asean dan beberapa negara lain tanpa visa sama sekali untuk kunjungan jangka pendek. Kita pun bisa mendapatkan visa saat tiba di beberapa negara tujuan yang memberlakukan visa on arrival. Namun kita harus melamar visa untuk mengunjungi sebagian besar negara-negara lain.
  • Apakah persyaratan Visa Schengen? Bisa dilihat di website masing-masing kedutaan Schengen. Namun umumnya kita harus mengisi form secara lengkap, foto yang sesuai dengan aturan biometeric, surat keterangan kerja, rekening bank, tiket transportasi bolak-balik dan bookingan akomodasi.

TL;DR
Satu-satunya pertimbangan kedutaan untuk memberi kita visa adalah mereka yakin bahwa setelah kita sampai di negara mereka, kita akan pulang lagi sebelum tenggat waktu visa berakhir dan tidak membuat masalah di sana. Jika kita bisa meyakinkan mereka untuk hal ini, saya yakin visa akan keluar.

Berikut adalah 3 hal penting untuk memberi keyakinan tersebut.

  • Tujuan yang jelas
  • Kemampuan finansial
  • Jaminan untuk pulang

Tujuan yang jelas

Visa Schengen ada beberapa jenis. Di antaranya visa untuk bisnis, turis dan kunjungan keluarga. Sesuai dengan namanya, visa bisnis untuk tujuan bisnis. Syarat penting yang dibutuhkan adalah surat keterangan dari kantor dari tempat kita bekerja mengenai tujuan bisnis ini atau surat undangan dari rekanan bisnis yang kita kunjungi. Visa turis adalah untuk tujuan turisme. Petugas visa biasanya akan meminta rencana perjalanan di negara tujuan. Rencana perjalanan ini bisa berupa list itinerary yang sudah kita rancang dan diperkuat dengan bukti bookingan hotel. Untuk visa visit ditujukan untuk mengunjungi keluarga yang ada di area schengen. Persyaratan yang dibutuhkan adalah surat undangan dari orang yang akan kita kunjungi. Untuk visa jenis apa pun kita harus merancang tujuan dengan sejelas mungkin.

Kemampuan Finansial


Dengan rencana kita datang ke negeri orang maka kita harus bisa meyakinkan mereka bahwa kita mampu secara finansial untuk hidup di sana selama kunjungan kita. Kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi diantaranya adalah akomadosi misalnya hotel, konsumsi dan transportasi. Satu catatan yang penting untuk diingat adalah biaya hidup di sebagian besar negara-negara eropa adalah cukup mahal. Untuk meyakinkan mereka biasanya kita harus menunjukan saldo rekening bank yang kita punya untuk alokasi biaya hidup selama di sana.

Dua kedutaan tempat saya pernah melamar Schengen tidak menerangkan berapa nilai tepat kemampuan finansial tersebut. Link ini memberikan gambaran berapa perkiraan jumlah uang yang dibutuhkan perhari untuk beberapa negara Schengen.

Kemampuan finansial ini harus kita sertakan dalam aplikasi visa. Wujudnya biasa berupa cetakan rekening bank 3 bulan terakhir bagi yang sudah bekerja. Bagi yang tidak bekerja kita menyertakan rekening orang tua atau suami. Perlu dicatat, jika ada uang nominal besar yang tiba-tiba masuk beberapa hari sebelum kita melamar visa Schengen hal tersebut bisa menjadi pertanyaan sebab bisa jadi pihak kedutaan menduga bahwa kita meminjam uang dari orang lain sekedar untuk bisa lolos aplikasi. Jadi kita harus berusaha memastikan punya saldo stabil yang tidak mencurigakan dalam 3 bulan terakhir untuk kebutuhan perjalan.

Jaminan untuk pulang

Persyaratan penting ketiga untuk aplikasi Schengen adalah kita harus meyakinkan pihak kedutaan bahwa kita akan pulang ke negara asal setelah menyelesaikan urusan kita. Tidak pulang hingga melewati batas tinggal visa adalah tindakan melanggar hukum yang ganjarannya adalah dipulangkan secara paksa dan ada kemungkinan tidak diijinkan lagi untuk masuk ke wilayah schengen. Oleh kerena itu dari pada harus repot kemudian, akan lebih mudah bagi kedutaan untuk menolak visa bagi individu yang tidak meyakinkan mau pulang kembali.

Jaminan paling sederhana dari untuk ini adalah tiket bolak-balik. Jika kita pergi tanpa tiket kembali besar kemunkinan kita akan ditolak masuk meski sudah mendapat visa. Jaminan penting lainnya adalah punya pekerjaan tetap. Ini yang akan memberi keyakinan bahwa kita butuh penghasilan dan akan kembali lagi setelah urusan di negara Schengen selesai. Jika berwirausaha maka kita harus menyertakan surat keterangan. Jaminan lainnya adalah kepemilikan property, kendaraan atau simpanan lainnya di negara asal.

Sedikit berbagi dari pengalaman apply schengen terakhir berkaitan dengan perkerjaan. Rencana perjalanan saya yang terdekat akan menghabiskan sekitar 2.5 bulan. Kantor keberatan untuk memberi cuti untuk perjalanan selama itu. Oleh karena itu saat menyerahkan berkas di kedutaan dan petugasnya bertanya, saya mengatakan bahwa saya mengundurkan diri dari pekerjaan setelah visa keluar. Pada momen tersebat mimik petugas kedutaan langsung berubah dan berkata bahwa kasus pergi tanpa perkerjaan akan sangat sulit tembus mendapat visa. Saya coba berargumen dengan menerangkan bahwa saya sudah membeli tiket jalan pulang dan menulis cover letter yang menyatakan bahwa saya akan pulang setelah 2.5 bulan. Petugas masih nampak ragu namun akhirnya setuju untuk memproses dokumen saya. Saya menunggu sekitar satu minggu untuk mendapatkan hasil visa. Selama menunggu cukup besar rasa khawatir jika visa saya ditolak. Artinya rencana yang sudah dirancang akan berantakan. Reuni bertemu istri saya pun akan batal. Namun alhamdulillah satu minggu kemudian visa saya akhirnya keluar. 75 hari sesuai dengan yang saya minta di awal.

Jadi kira-kira itulah sedikit sharing pengalaman aplikasi visa schengen. Berikut beberapa pertanyaan umum yang mungkin keluar berkaitan dengan aplikasi schengen berikut dengan jawabannya.

Possible FAQ

  • Apakah aplikasi visa saya akan lulus? Kondisi setiap orang akan berbeda. Yang hanya tahu aplikasi visa kita akan lulus atau tidak adalah petugas visa dan Tuhan. Jawaban untuk pertanyaan ini kembali ke tl;dr di atas: Satu-satunya pertimbangan kedutaan untuk memberi kita visa adalah memastikan setelah kita sampai di negara mereka, kita akan pulang lagi sebelum tenggat waktu visa berakhir dan tidak membuat masalah di negara mereka. Jika kita bisa meyakinkan mereka untuk hal ini, saya yakin visa kita akan keluar.
  • Haruskah membeli tiket dulu? Untuk kedutaan Jerman dan Belanda di Singapura, tidak perlu. Persyaratannya hanya meminta itinerary perjalan. Artinya booking dari travel biasanya cukup untuk memenuhi persyaratan ini. Bookingan travel adalah jalan aman untuk mengantisipasi jika visa kita ditolak, sebab kita belum membayar apapun. Jika sudah membeli tiket, saat visa ditolak, untuk pembatalan tiket biasanya akan dipotong biaya yang cukup besar. Namun saya berpendapat, jika rencana perjalanan kita sudah solid, akan lebih baik langsung membeli tiket sebab menurut saya itu semakin meyakinkan pihak kedutaan untuk memberi kita visa.
  • Bisakah melamar visa Schengen di luar negeri? Ya. Dua kali saya melamar Schengen di Singapura. Namun kita harus memiliki resident permit di luar negeri tersebut. Untuk kasus saya, saya punya employment pass di Singapura sehingga bisa melamar Schengen di kedutaan asing di sini.
  • Bisakah pengangguran (pergi tanpa pekerjaan) mendapat visa Shengen? Dari pengalaman saya di atas ya. Dengan catatan punya simpanan finansial yang cukup dan bisa menjelaskan bahwa kita punya niatan bulat untuk pulang sebelum tenggat visa.
  • Berapa banyak uang minimal untuk jaminan finansial? Tidak eksak dan berbeda untuk tiap negara Schengen. Link ini bisa memberi sedikit gambaran. Untuk panduan secara umum saya mematok 50 Euro per hari. Namun, lebih banyak akan lebih baik.
  • Apakah paspor bisa diambil lagi saat aplikasi? Dari dua pengalaman saya paspor akan ditinggal selama proses visa sekitar satu minggu.

Tips Mendekatkan Diri pada Jodoh

Entah kenapa, beberapa post terakhir ini dan mungkin yang beberapa berikutnya terus membahas masalah nikah dan jodoh. Mungkin karena hati yang masih berbunga-bunga. Atau efek jauh dari istri? :p Semoga tak menjadi sesuatu yang bosan dibaca tentunya.

“Jadi kapan Jon nikah?” Bertanya bapak tersebut kepada saya. Saya pun jawab dengan cengengesan. Sebenarnya cengengesan tersebut bukan jawaban sama sekali. Tapi dari pada bingung menjawab apa, cengengesan itu pun menjadi jawaban terbaik.

Kemudian si bapak itu lanjut bercerita. Anak jaman sekarang kalau ditanya masalah menikah pasti banyak mengelak. Entah karena memang belum siap atau belum punya calon atau bisa juga merasa masih muda, masih segar dan masih tampan dan cantik sehingga merasa tak perlu memusingkan masalah itu. Jadi kalau pada umur 25 ditanya masalah nikah, maka anak-anak muda itu akan berkata. “Nikah? Siapa saya!” Dengan segala kebanggaannya. Beberapa tahun kemudian di usia 30an ketika ternyata si anak muda yang sudah tak muda lagi ditanya hal yang sama, “Nikah? Siapa saja.” Dengan kebanggaan yang sudah benar-benar hilang.

Identitas bapak tersebut tidak saya angkat di sini. Percakapan tersebut terjadi pada bulan April 2011. November 2011 alhamdulillah Allah mempertemukan saya dengan jodoh saya, tanpa harus menunggu usia 30 tahun.

Setiap orang mungkin akan tahu bahwa ada 3 hal dalam kehidupan yang merupakan takdir mutlak bagi manusia. Hal tersebut adalah kelahiran, kematian dan jodoh. Rasul sendiri bersabda, ketika ditiupkan ruh pada anak manusia tatkala ia masih di dalam perut ibunya sudah ditetapkan ajalnya, rezekinya, jodohnya dan celaka atau bahagianya di akhirat. Jadi bahkan sebelum kita lahir, Allah itu sudah menetapkan jodoh kita siapa. Meski pun kelak misalnya kita baru bertemu jodoh kita 4 bulan sebelum menikah, ternyata Allah itu sudah merancang berpuluh tahun sebelumnya. Tapi sayangnya ternyata setiap orang tidak mempunyai cara dan waktu yang sama dalam bertemu jodohnya. Ada yang cepat atau ada yang lambat.

Sebagai salah satu yang pasti menjadi harap setiap orang, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mendekatkan diri kita pada jodoh kita. Pertama adalah usaha. Saya sudah pernah menulis beberapa kali. Jodoh itu memang di tangan Allah. Tapi jika tak diambil-ambil ya di tangan Allah terus. Usaha banyak caranya tentunya dengan memperluas pergaualan. Memperbanyak teman dan ikut banyak kegiatan. Biasanya semakin banyak teman, akan semakin luas jaringan. Peluang untuk dikenalkan dengan temannya teman bahkan dicomblangin pun terbuka lebar.

Kedua meningkatkan kualitas diri. Siapa pun pasti ingin bisa mendapat jodoh yang baik. Jodoh seumur hidup yang tidak akan pernah diamandemen. Manusia itu akan tarik menariknya dengan manusia-manusia lain yang serupa. Anak dugem ya pasti akan bertemunya dengan anak dugem. Anak majelis ta’lim kemungkinan besar akan dekatnya dengan anak majelis ta’lim juga. Hanya di sinetron di mana ada gadis desa penggembala domba yang super cantik (gadis desa tapi mukanya peranakan bule) bisa ketemu dengan pria muda dari kota yang ganteng dan kaya rasa. Di kehidupan normal non sinetron, manusia hanya akan nyaman bertemu dan dekat dengan orang lain yang serupa. Oleh karena itu cara untuk mendapat jodoh yang baik adalah dengan meningkatkan kualitas diri menjadi lebih baik juga.

Ketiga adalah selalu berdoa. Terkadang saya merasa terlalu banyak “bacot” mengenai masalah doa. Tapi saya sulit memungkiri besarnya peran doa dalam kehidupan. Bagi orang beragama doa adalah media komunikasi dengan Tuhan. Media dimana semua harap dipanjatkan. Apalagi untuk hal yang satu ini, sebab tadi sudah dijelaskan dan mungkin banyak dari kita percaya bahwa jodoh itu di tangan Tuhan. Jadi memintanya kepada Tuhan. Bukan kepada dukun. Ada sebuah kisah yang bahkan diabadikan dalam Al-Quran surat An-Nahl ayat 92 “Dan janganlah kamu seperti perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi bercerai-berai kembali…” Yang dimaksud Al-Qur’an dengan ‘wanita pengurai benang yang telah dipintal’ adalah Rithah Al-Hamqa. Seorang gadis Bani Ma’zhum yang cantik dan kaya raya namun tak kunjung mendapatkan jodoh. Bahkan ibu si gadis justru malah sering meminta petunjuk pada dukun dari pada memohon pada Allah. Rithah sendiri terlalu tidak sabar untuk berprasangka baik pada Allah. Pada akhirnya Rithah dipinang seorang pria muda. Namun setelah menikah ternyata si pria itu hanya ingin menguras harta Rithah kemudian menceraikannya. Sehingga pada akhirnya dengan penuh kekecewaan Rithah menghabiskan sisa umurnya dengan memintal dan mengurai benang.

Spesifik untuk jodoh idealnya doa dilakukan melalui istikharah. Sebab jodoh adalah hal yang sangat fundamental. Urusan dunia akhirat. Sehingga proses meminta petunjuk pada Allah pun harus benar-benar total. Istikharah sendiri biasanya akan sangat memperlancar proses pencarian jodoh ini.

Langkah keempat untuk mendekatkan diri pada jodoh adalah tidak perfeksionis. Kita harus mencari sosok yang ideal. Namun manusia itu tidak sempurna. Pasti banyak kekurangannya. Pada kebanyakan kasus orang-orang yang belum juga menikah padahal sudah mampu adalah terlalu perfeksionis. Mencari yang terlalu sempurna. Mencari yang terlalu cantik, yang kaya, yang pintar, yang sederajat. Padahal semua ukuran tersebut pada akhirnya tidak akan berguna bagi pernikahan. Satu-satunya yang berguna hanyalah akhlak. Carilah yang akhlaknya baik, jika kebetulan ia juga cantik itu adalah bonus. Setelah semua hal di atas dilakukan hal yang yang tersisa adalah tawakal sambil berbaik sangka pada Allah.

Jadi kira-kira itulah buah pemikiran sesaat di malam ini mengenai beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mendekatkan diri pada jodoh. Cara-cara tersebut adalah pertama usaha, kemudian meningkatkan kualitas diri, berdoa, tidak perfeksionis dan terakhir tawakal.

Image from: http://idonanda.multiply.com/journal/item/55

Tips Menikah di Usia 25

Dulu saya pernah punya harapan untuk menikah di usia 25. Pada akhirnya saya menikah sekitar tiga minggu menjelang usia masuk 26.

Pada dasarnya tak ada hal yang khusus dengan usia 25. Saya hanya merasa 25 adalah usia produktif. Jika segera punya anak maka selisih umur orang tua dan anak tidak signifikan. Jadi masih bisa bercanda-canda dengan anak. Pada usia 25an biasanya orang sudah menuntaskan kuliah dan sudah kerja untuk setidaknya 2 atau 3 tahun. Jadi seharusnya kita sudah matang secara mental dan materil pada usia ini.

Kembali ke masalah harapan untuk menikah di usia 25. Allah seringkali menjawab harapan-harapan manusia dengan penuh style. Termasuk masalah pernikahan ini. Harapan saya dijawab dengan persis. Saya ibarat dipertemukan dipertemukan dengan bidadari jatuh dari langit. Jatuh karena ternyata bidadari ini belum diberi sayap oleh Allah. Bidadari yang tidak pernah  saya kenal sebelumnya di kehidupan mana pun. Bidadari yang dipertemukan 5 bulan saja sebelum menikah. Bidadari yang saya pastikan akan selalu setia bersamanya selamanya.

Baiklah kita sudahi sesaat cerita tentang bidadari. :). Mari kita lanjutkan dengan tipsnya. Tips untuk bisa menikah di umur 25 yang pertama adalah niat. Meski nampak remeh ternyata masalah niat ini menjadi hal yang paling fundamental. Dengan adanya niat kita punya tujuan. Cepat atau lambat pasti sampai. Bandingkan dengan mengemudi tak punya tujuan. Sampai kapan pun tak pernah sampai. Cukup ucapkan dengan pelan namun mantap di hati “saya ingin menikah di usia 25” (atau di usia berapapun yang anda mau.

Tips yang kedua adalah ikhtiar. Setelah punya tujuan hal yang harus dilakukan selanjutnya adalah bergerak. Percuma punya niat namun pedal gas mobil tidak diinjak atau throtlle gas motor tidak dibetot. Tidak akan jalan. Tentu saja ikhtiar untuk menikah tidak sesederhana membejek pedal.

Melanjutkan masalah ikhtiar. Ikhtiarnya harus dilakukan dengan cara yang benar dan tempat yang benar. Ada pepatah yang mengatakan jodoh itu di tangan Tuhan. Namun jika tidak diambil-ambil ya di tangan Tuhan terus. Namun coba mancingnya jangan di tempat salah. Tempat baik untuk taaruf diantaranya pengajian, kampus, rumah sakit jika ingin dapat dokter atau mungkin bisa juga pdkt di seleksi beasiswa kominfo seperti yang saya lakukan.

Masih dalam tahap ikhtiar adalah masalah persiapan finansial. Hal ini harus sangat dipikirkan terutama oleh laki-laki. Namun jika niat sudah kuat masalah finansial tidak akan menjadi ganjalan. Percayalah Allah Maha Kaya. Saya akan buat post khusus mengenai ini.

Tahapan ketiga adalah seleksi dan istikharah. Jika diasumsikan kita meninggal di usia 70 tahun dan menikah di usia 25 tahun artinya kita akan mengarungi kehidupan pernikahan selama 45 tahun. Artinya dalam memilih partner tidak boleh asal-asalan. Cerai itu halal namun adalah hal yang sangat dibenci Allah.

Berikut kriteria memilih pasangan ideal. Bisa disingkat menggunakan singkatan aneh yang kurang lucu: dindanduntun. Din itu agamanya (Dien) yang utama. Kedua pilih yang pintar DANdan (analogi untuk memilih yang cantik dan tampan) agar tak bosan dilihat selama 45 tahun. Namun bagi yang tak merasa cantik dan tampan tak perlu khawatir, ukuran tampak dan cantik itu relatif bagi setiap manusia. Kriteria yang ketiga adalah dun analoginya yang mapan secara DUNiawi alias orang punya. Kriteria keempat adalah Tun (TUrunan) untuk analogi cari yang punya turunan atau nasab yang jelas. Namun dari keempat kriteria tersebut agama adalah yang paling utama.

Setelah seleksi dan merasa kandidat yang ingin kita ajak menikah di usia 25 lolos kriteria-kriteria yang penting, hal berikut yang harus dilakukan adalah istikharah. Tidak ada yang mampu memberi jawaban lebih presisi dibandingkan Yang Maha Presisi Allah Swt. Jawaban istikharah itu tidak harus berupa mimpi. Bisa juga berupa kebulatan hati dan kelancaran prosesnya. Hal itulah yang saya alami. Seiring waktu berjalan dengarkanlah kecenderungan hati. Meski tidak dapat diukur dengan eksak, jawaban istikharah dapat dirasakan dari kemantapan dan kebulatan hati terhadap pilihan yang kita ambil. Serta proses taaruf yang ibarat berseluncur di es, lancar dan mulus.

Setelah semua proses usaha dilakukan sampailah kita di ultimate step. Judulnya tawakal. Totalitas  pasrah dan ikhlas terhadap ketetapan Allah atas harapan yang kita mohonkan. Tawakalnya pun harus diiringi dengan qanaah berbaik sangka kepada Allah. Sebab Allah itu seperti apa yang hamba-hambanya sangkakan.

Setelah tawakal kemudian ternyata permohonan kita dikabulkan, jangan lupa untuk bersyukur. Namun harus diingat, menikah itu bukan destinasi akhir. Menikah itu adalah perjalanan panjang.

Pada akhirnya saya pun merasakan benar yang dikatakan orang-orang. Menikah itu tidak indah! Maksudnya tidak sekedar indah, namun menikah itu sangat sangat amat sangat indah.

Ditulis pada 23-25 Maret 2012 dariChangi ke CGK dan di Damri airport Kampung Rambutan

(Gagal) menuju Beasiswa Kominfo 2011 – Part 4 (Tamat): Refleksi

In this world most thing happen not like what we want.

Life is too boring if everything happen too smooth.

Post ini adalah sekuel akhir dari curhatan proses seleksi beasiswa kominfo 2011.

Yang belum baca part 1 bisa dilihat di sini.

Yang belum baca part 2 bisa dilihat di sini.

Yang belum baca part 3 bisa dilihat di sini.

Dunia adalah tempat di mana kebanyakan kejadian tidak terjadi seperti yang kita inginkan. Apakah fakta tersebut harus membuat kita menyerah? Tentu saja tidak. Sesuatu yang terlalu mudah akan membosankan, percayalah. Meski saya pun harus sadar menghadapi tantangan bukanlah hal yang mudah. Tetap tegar ketika hal yang kita inginkan ternyata tidak tercapai juga bukan perkara gampang. Namun semua proses tersebut akan membuat kita lebih maju pada akhirnya.

Sejak lama masalah pendidikan adalah prioritas penting bagi diri saya. Salah satu alasannya adalah I feel stupid. Thats why I must never stop learning. Saya bukan pengejar gelar akademis. Saya adalah orang yang sangat menikmati proses menjadi tahu dari tak tahu. Kita bisa belajar di mana pun meski bukan di sekolah atau di kampus. Tapi pendidikan formal adalah sebuah sistem yang sudah dibangun sedemikian hingga menyajikan proses pembelajaran yang sulit disaingi oleh sistem non formal. Oleh karena itu juga sejak lulus SMA saya bertekad untuk bisa kuliah. Meski pada masa itu mewujudkan keinginan tersebut bukan perkara yang terlampau gampang juga karena saya tak punya sandaran finansial yang mapan. Tapi toh dengan berjalannya waktu semua bisa dicapai, pelan tapi pasti. Di mana ada kemauan pasti ada jalan nampaknya bukan pernyataaan yang bohong.

Sejak sebelum lulus kuliah saya sudah berikrar untuk terus kuliah sampai mentok. S2, S3 dan seterusnya. :p Namun ketika sadar belum punya pijakan finansial yang juga mapan satu-satunya cara mewujudkam mimpi tersebut adalah mencari beasiswa. Apalagi hingga detik ini saya benar-benar terobsesi untuk bisa kuliah ke luar negeri.

Bicara pendidikan sebenarnya secara kualitas meskipun ada namun perbedaannya tak terlalu signifikan antara di dalam dan luar negeri. Tapi memang tak dapat dipungkiri kesempatan bersekolah di luar negeri adalah sebuah hal yang sangat berharga. Alasan- alasannya: pertama, kita dapat berinteraksi dalam sebuah lingkungan yg heterogen, tentunya hal ini akan benar-benar bermanfaat untuk memperluas khasanah wawasan kita. Kedua, sebagai negara berkembang penting bagi kita untuk menimba ilmu ke negara lain untuk melihat bagaimana mereka bisa maju, bagaimana standar pendidikan mereka. Ketiga adalah alasan pragmatis, dunia ini luas kawan, orang-orang beragam berbeda suku bangsa dan bahasa. Dunia ini indah. Di belahan lain panas terik matahari benar-benar membakar gurun (saya tahu jarang ada kampus di tengah gurun, ini hanya ilustrasi). Sementara di tempat lain lagi salju yang selembut kapas turun di malam yang indah. Saat musim gugur daun kering berjatatuhan. Saat musim semi semua tumbuhan bermekaran dan burung-burung kecil berterbangan kegirangan. Tak inginkah kau melihatnya langsung? Itulah alasan pragmatis saya untuk bisa merasakan sekolah di luar negeri.

Proses pencarian beasiswa baru serius saya lakukan di awal tahun 2011. Saya merasa sangat bersyukur di masa tersebut saya berhasil memaksa diri saya melawan kemalasan yang biasa melanda untuk melamar beasiswa Kominfo hingga sampai ke tahap wawancara akhir.

Ada jeda panjang antara wawancara akhir dan pengumuman aplikan yang lolos. Selama masa waktu tersebut saya dengan membabi buta memeriksa website Kominfo hampir setiap hari untuk memastikan tak terlewat pengumuman akhir hasil beasiswa. Padahal gmail saya sebetulnya sudah di push ke hp. Tanpa seekstrim itu pun jika pengumuman keluar saya akan mendapat email. Namun itulah gelap mata.

Dan penantian pun usai sudah di sore hari tadi. Seorang kawan yang sesama aplikan meceritakan dia mendapat email dari kominfo. Tak lama kawan yang lain mengirim message lewat whatsapp bercerita bahwa hasil akhir sudah keluar. Dengan sedikit deg degan saya pun membuka web kominfo. Namun tak menemukan link yang dimaksud. Setelah bolak-balik mencari saya tersadar bahwa link yang dimaksud ada di banner besar yang sebelumnya mentautkan link pengumuman undangan wawancara. Saya pun langsung membuka link tersebut masih dengan sedikit berdegup. Ada 61 nama dan setelah menskim cepat tak saya temukan seorang pun dengan alphabet nama berawalan J. Gagal kah? Saya terus melihat berulang kali diantara beberapa nama teman-teman wawancara gelombang 2 yang sebagian sudah saya kenal. Ya tak ada nama saya. Saya gagal.

Perasaan gagal itu sulit diungkapkan kata-kata. Ia adalah kombinasi rasa ketidakpuasan terhadap diri sendiri, rasa kecewa, rasa ingin menarik mundur waktu untuk mengevaluasi apa yang bisa dievaluasi agar saya tak gagal, rasa hilang semangat dan rasa ingin menyendiri. Namun tentunya rasa tersebut hanya rasa yang hadir sesaat. Saya pun sadar harus tetap positif. Saya sudah melakukan yang terbaik dan inilah hasil terbaiknya. Tak perlu kecewa namun justru hanya perlu mencoba lagi.

Setelah curhat dengan beberapa teman-teman dekat alhamdulillah mendapat motivasi baru. Pikiran yang sempat mampet mulai plong kembali. Pada dasarnya semua hal sekecil apa pun sudah merupakan suratan Yang Maha Kuasa. Manusia hanya merencana namun Tuhan yang memutuskan. Mengapa manusia harus merencana jika akhirnya Tuhan memutuskan hal yang lain? Jawabannya adalah agar manusia tahu bahwa Tuhan selalu punya rencana yang jauh-jauh lebih baik.

“Jon beasiswa ente bukan gagal tapi ditunda. Tuhan pengen kamu lebih siap. Everything that doesn’t kill you will only make u stronger. Mungkin lo akan dapat beasiswa yang lebih baik.lagi. Mungkin Allah pengen lo merit dulu sebelum sekolah lagi. ” Sebagian petikan motivasi temana-teman yang sangat berharga.

Di tengah malam ini, di bawah bulan yang sangat cerah aku menyimpan sejenak bayangan Kota Delft. Mungkin nanti akan aku buka lagi. Aku akan terus menyimpan bayangan kota di belahan dunia mana pun di mana pena digital aku bisa menulis sesutu yang bermanfaat, prosesor jasmaniku bisa mempelajari ilmu yang berguna dan jiwa aku bisa memanfaatkan sejenak waktu luang untuk mengunjungi tempat-tempat indah di sana, di mana pun “sana” tersebut.

Refleksi adalah melihat diri kita secara utuh atas hal tertentu yang sudah kita lakukan, kurang dan lebihnya. Seperti melihat bayangan diri di balik cermin. Kita bisa melihat kurang atau lebihnya. Kita bisa mengidentifikasi hal yang mungkin bisa diperbaiki agar kita terlihat lebih elok. Dan cerita ini adalah salah satu bagian dari refleksi tersebut.

Selamat untuk teman-teman yang berhasil, semoga sukses selalu.

I wont give up. I will never stop until I accomplish every dream that I have. Ambitious but still moderate. See you in some beautiful country soon.

Fin. 😀

Sebuah Doa untuk Penjarah

Kemarin sore saya memutuskan pulang ke rumah dari kantor meski weekdays belum habis. Saya pulang karena harus packing barang-barang untuk rencana jalan-jalan saya. Biasanya jika harus pulang ke rumah saya selalu menunggu Adzan Maghrib di kantor agar tidak repot harus sholat di jalan. Namun kemarin kebetulan semua pekerjaan sudah beres sehingga saya putuskan pulang dan akan sholat Maghrib di jalan saja. Setelah merayapi kemacetan Jakarta di sore hari, adzan Maghrib berkumandang ketika saya berada di daerah Kramat Jati. Saya akhirnya memutuskan berhenti di Pom Bensin Pertamina sebelum perempatan HEK.

Seperti mushola-mushola pom bensin yang lain, mushola di tempat tersebut berukuran tidak terlalu besar. Sehingga beberapa orang yang ingin sholat harus mengantri. Setelah menunggu satu kloter, akhirnya saya kebagian jatah untuk sholat Maghrib. Ukuran mushola yang sempit hanya cukup untuk 2 shaf dengan sekitar 5 orang pershafnya. Seperti biasa, dengan segala cara saya selalu berusaha agar bisa menempatkan tas di tempat yang terawasi. Setelah sholat selesai tak lama kloter berikutnya langsung iqamah sehingga kami semua langsung bergegas keluar.

Saat saya keluar kemudian mengambil sesuatu tiba-tiba seorang yang mungkin sekitar 2 atau 3 tahun lebih muda dari saya terlihat panik. Dia bertanya apakah ada yang melihat tasnya. Ternyata ia ceroboh menyimpan tasnya di belakang saat sholat. Sehingga sepertinya sesaat setelah sholat bubar ada orang yang mencuri tas tersebut. Dengan wajah yang terlihat panik bertanya ke orang-orang sekitar sana. Iba juga hati saya melihatnya. Akhirnya setelah sekitar 10 menit orang itu mondar-mandir terlihat dia sudah pasrah. Iseng saya pun bertanya apakah ada barang berharga seperti dompet di simpan dalam tasnya. Kemudian dia pun membalas, dompetnya di simpan di kantung celana, namun di dalam tasnya tersebut ada sebuah laptop. Langsung sedikit berdesir juga hati saya. Tak terbayang semurah-murahnya laptop pasti dalam orde harga juta. Si pria itu kemudian pamit meski dengan paras yang terlihat cukup kesal. Lalu saya pun melanjutkan perjalanan meski kemudian berhenti lagi di sebuah tempat makan.

Di sepanjang jalan saya masih tak habis pikir ada orang sedemikian jahat mencuri hak orang lain apalagi orang lain tersebut dalam kondisi ingin beribadah. Terlepas dari kecerobohan pria si pemilik tas yang tidak menyimpan tasnya pada kondisi aman, secara mutlak hati saya melaknati si pencuri tersebut sepanjang jalan. Ketika kemudian akhirnya saya mampir di tempat makan, saya curhatkan kejadian ini ke facebook. Tak lama Mas Bayu, teman saya di club motor merespon suatu komentar yang agak beda dari sumpah serapah yang ingin saya muntahkan. “Iyaaa… Mas…. Semoga harta. Jarahan tersebut berguna bagi yg mengambilnya… Amieenn…”. Dengan heran saya mengomentari balik “Kok didoakan malah berguna mas? Bukannya itu barang curian ya? Hehe.” Lalu dibalas lagi “Yupppss… Dan semoga yg punya tas diberikan ganti yg berlebih… Karena semuanya itu sudah diatur dari sananya mas… Hehehehee…. Sotoy yaks… Still positif thinking aja… Ikhlas…”. Hingga dini hari ini hati saya masih berontak mengenai kejahatan yang telah diperbuat si penjarah. Namun setelah dipikir-pikir statement Mas Bayu tersebut memang ada benarnya juga. Ya semuanya hal besar dan kecil telah diatur oleh Allah Swt. Setiap kejadian baik dan buruk harus kita terima dengan ikhlas. Selalu ada hikmah juga dari setiap kejadian yang kita alami. Pada akhirnya tetap, sebisa mungkin harus preventif dalam keamanan diri sendiri. Waspadalah, waspadalah. 🙂