SIM Internasional

Rabu minggu lalu saya mengurus SIM Internasional di Jakarta. Proses pembuatannya sangat cepat dan profesional.

SIM internasional adalah dokumen yang memungkinkan kita berkendara di luar negeri. Pada praktiknya, SIM internasional harus disertai dengan SIM lokal kita. Oleh karena itu untuk membuat SIM internasional kita harus sudah memiliki SIM Indonesia.

Persyaratan pembuatan SIM ini adalah sangat mudah.

  1. Paspor
  2. SIM lokal
  3. KTP
  4. Foto 4×6 3 buah dengan latar belakang biru
  5. Materai 6 ribu

Biayanya 250.000 untuk pembuatan baru dan 225.000 untuk perpanjangan. Masa berlaku SIM 3 tahun (sebelumnya hanya 1 tahun). Dibuat di kantor Korlantas Cawang. Patokannya, jika dari arah UKI posisinya setelah Menara Saidah.

Berikut alamat lengkapnya:

Korlantas Polri
Jl. Letjen Haryono MT Kav 37-38
Jakarta 12770
Telp: 021-7989702

Saya berangkat dari rumah di Jonggol jam 9 pagi namun tidak beruntung baru sampai di kantor pembuatan SIM internasional pukul 12 siang tepat saat istirahat siang. Saya langsung ambil nomor antrian lalu sambil menunggu jam 1 saya pun Shalat Zuhur di masjid yang tepat berada di sebelahnya.

Seusai shalat tepat jam 1 layanan sudah kembali di buka. Hanya ada satu orang di depan antrian saya. Kurang dari 5 menit saya pun dipanggil. Karena saya jngin membuat SIM internasional untuk motor dan mobil maka persyaratan tadi dibuat 2 rangkap. Saya menyerahkan berkas-berkas kemudian petugas memberi satu form untuk diisi. Isiannya berupa data diri, jenis SIM dan terakhir tanda tangan di atas materai. Setelah isian formulir petugas meminta pembayaran biaya yang saya bayar 2 x 250.000 untuk 2 SIM. Kemudian diambil foto dan sidik jari. Petugas akan mengkonfirmasi data sebelum SIM dicetak. Pastikan nama dan data kita benar. Setelah itu SIM langsung dicetak dan proses selesai. Bentuk SIM berupa buku dan bukan kartu. Sayangnya kualitas kertas terlihat jelek serta sayangnya lagi saya tidak dapat buku panduan karena sedang tidak ada stok.

Tips Aplikasi Visa Schengen

Di tahun 2013 lalu sudah 2 kali saya melamar Visa Schengen. Alhamdulillah kedua-duanya diterima. April tahun lalu saya melamar Schengen di Kedutaan Belanda untuk kunjungan pendek saya ke Amsterdam. Akhir November lalu saya melamar Schengen lagi di keduataan Jerman untuk kunjungan ke Eropa. Jika Kla Project punya lagu menjemput impian, maka kali ini judul tujuannya adalah menjemput istri yang sedang kuliah di sana. Dari dua pengalaman tersebut saya akan coba berbagi tips jitu untuk mendapatkan Visa Schengen. Saya tidak akan membahas mengenai detail persyaratan sebab informasi ini sangat gamblang dan lebih terkini dijelaskan di masing-masing kedutaan anggota Schengen.

Pre FAQ

  • Apakah visa? Ijin untuk bisa memasuki suatu negara
  • Apakah Visa Schengen? Visa untuk bisa memasuki beberapa negara di Eropa yang mengikuti perjanjian Schengen. Tak ada pemeriksaan imigrasi di perbetasan antara negara-negara Schengen.
  • Apakah setiap keluar negeri memerlukan visa? Tergantung negara tujuan, warga negara Indonesia bisa memasuki negara Asean dan beberapa negara lain tanpa visa sama sekali untuk kunjungan jangka pendek. Kita pun bisa mendapatkan visa saat tiba di beberapa negara tujuan yang memberlakukan visa on arrival. Namun kita harus melamar visa untuk mengunjungi sebagian besar negara-negara lain.
  • Apakah persyaratan Visa Schengen? Bisa dilihat di website masing-masing kedutaan Schengen. Namun umumnya kita harus mengisi form secara lengkap, foto yang sesuai dengan aturan biometeric, surat keterangan kerja, rekening bank, tiket transportasi bolak-balik dan bookingan akomodasi.

TL;DR
Satu-satunya pertimbangan kedutaan untuk memberi kita visa adalah mereka yakin bahwa setelah kita sampai di negara mereka, kita akan pulang lagi sebelum tenggat waktu visa berakhir dan tidak membuat masalah di sana. Jika kita bisa meyakinkan mereka untuk hal ini, saya yakin visa akan keluar.

Berikut adalah 3 hal penting untuk memberi keyakinan tersebut.

  • Tujuan yang jelas
  • Kemampuan finansial
  • Jaminan untuk pulang

Tujuan yang jelas

Visa Schengen ada beberapa jenis. Di antaranya visa untuk bisnis, turis dan kunjungan keluarga. Sesuai dengan namanya, visa bisnis untuk tujuan bisnis. Syarat penting yang dibutuhkan adalah surat keterangan dari kantor dari tempat kita bekerja mengenai tujuan bisnis ini atau surat undangan dari rekanan bisnis yang kita kunjungi. Visa turis adalah untuk tujuan turisme. Petugas visa biasanya akan meminta rencana perjalanan di negara tujuan. Rencana perjalanan ini bisa berupa list itinerary yang sudah kita rancang dan diperkuat dengan bukti bookingan hotel. Untuk visa visit ditujukan untuk mengunjungi keluarga yang ada di area schengen. Persyaratan yang dibutuhkan adalah surat undangan dari orang yang akan kita kunjungi. Untuk visa jenis apa pun kita harus merancang tujuan dengan sejelas mungkin.

Kemampuan Finansial


Dengan rencana kita datang ke negeri orang maka kita harus bisa meyakinkan mereka bahwa kita mampu secara finansial untuk hidup di sana selama kunjungan kita. Kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi diantaranya adalah akomadosi misalnya hotel, konsumsi dan transportasi. Satu catatan yang penting untuk diingat adalah biaya hidup di sebagian besar negara-negara eropa adalah cukup mahal. Untuk meyakinkan mereka biasanya kita harus menunjukan saldo rekening bank yang kita punya untuk alokasi biaya hidup selama di sana.

Dua kedutaan tempat saya pernah melamar Schengen tidak menerangkan berapa nilai tepat kemampuan finansial tersebut. Link ini memberikan gambaran berapa perkiraan jumlah uang yang dibutuhkan perhari untuk beberapa negara Schengen.

Kemampuan finansial ini harus kita sertakan dalam aplikasi visa. Wujudnya biasa berupa cetakan rekening bank 3 bulan terakhir bagi yang sudah bekerja. Bagi yang tidak bekerja kita menyertakan rekening orang tua atau suami. Perlu dicatat, jika ada uang nominal besar yang tiba-tiba masuk beberapa hari sebelum kita melamar visa Schengen hal tersebut bisa menjadi pertanyaan sebab bisa jadi pihak kedutaan menduga bahwa kita meminjam uang dari orang lain sekedar untuk bisa lolos aplikasi. Jadi kita harus berusaha memastikan punya saldo stabil yang tidak mencurigakan dalam 3 bulan terakhir untuk kebutuhan perjalan.

Jaminan untuk pulang

Persyaratan penting ketiga untuk aplikasi Schengen adalah kita harus meyakinkan pihak kedutaan bahwa kita akan pulang ke negara asal setelah menyelesaikan urusan kita. Tidak pulang hingga melewati batas tinggal visa adalah tindakan melanggar hukum yang ganjarannya adalah dipulangkan secara paksa dan ada kemungkinan tidak diijinkan lagi untuk masuk ke wilayah schengen. Oleh kerena itu dari pada harus repot kemudian, akan lebih mudah bagi kedutaan untuk menolak visa bagi individu yang tidak meyakinkan mau pulang kembali.

Jaminan paling sederhana dari untuk ini adalah tiket bolak-balik. Jika kita pergi tanpa tiket kembali besar kemunkinan kita akan ditolak masuk meski sudah mendapat visa. Jaminan penting lainnya adalah punya pekerjaan tetap. Ini yang akan memberi keyakinan bahwa kita butuh penghasilan dan akan kembali lagi setelah urusan di negara Schengen selesai. Jika berwirausaha maka kita harus menyertakan surat keterangan. Jaminan lainnya adalah kepemilikan property, kendaraan atau simpanan lainnya di negara asal.

Sedikit berbagi dari pengalaman apply schengen terakhir berkaitan dengan perkerjaan. Rencana perjalanan saya yang terdekat akan menghabiskan sekitar 2.5 bulan. Kantor keberatan untuk memberi cuti untuk perjalanan selama itu. Oleh karena itu saat menyerahkan berkas di kedutaan dan petugasnya bertanya, saya mengatakan bahwa saya mengundurkan diri dari pekerjaan setelah visa keluar. Pada momen tersebat mimik petugas kedutaan langsung berubah dan berkata bahwa kasus pergi tanpa perkerjaan akan sangat sulit tembus mendapat visa. Saya coba berargumen dengan menerangkan bahwa saya sudah membeli tiket jalan pulang dan menulis cover letter yang menyatakan bahwa saya akan pulang setelah 2.5 bulan. Petugas masih nampak ragu namun akhirnya setuju untuk memproses dokumen saya. Saya menunggu sekitar satu minggu untuk mendapatkan hasil visa. Selama menunggu cukup besar rasa khawatir jika visa saya ditolak. Artinya rencana yang sudah dirancang akan berantakan. Reuni bertemu istri saya pun akan batal. Namun alhamdulillah satu minggu kemudian visa saya akhirnya keluar. 75 hari sesuai dengan yang saya minta di awal.

Jadi kira-kira itulah sedikit sharing pengalaman aplikasi visa schengen. Berikut beberapa pertanyaan umum yang mungkin keluar berkaitan dengan aplikasi schengen berikut dengan jawabannya.

Possible FAQ

  • Apakah aplikasi visa saya akan lulus? Kondisi setiap orang akan berbeda. Yang hanya tahu aplikasi visa kita akan lulus atau tidak adalah petugas visa dan Tuhan. Jawaban untuk pertanyaan ini kembali ke tl;dr di atas: Satu-satunya pertimbangan kedutaan untuk memberi kita visa adalah memastikan setelah kita sampai di negara mereka, kita akan pulang lagi sebelum tenggat waktu visa berakhir dan tidak membuat masalah di negara mereka. Jika kita bisa meyakinkan mereka untuk hal ini, saya yakin visa kita akan keluar.
  • Haruskah membeli tiket dulu? Untuk kedutaan Jerman dan Belanda di Singapura, tidak perlu. Persyaratannya hanya meminta itinerary perjalan. Artinya booking dari travel biasanya cukup untuk memenuhi persyaratan ini. Bookingan travel adalah jalan aman untuk mengantisipasi jika visa kita ditolak, sebab kita belum membayar apapun. Jika sudah membeli tiket, saat visa ditolak, untuk pembatalan tiket biasanya akan dipotong biaya yang cukup besar. Namun saya berpendapat, jika rencana perjalanan kita sudah solid, akan lebih baik langsung membeli tiket sebab menurut saya itu semakin meyakinkan pihak kedutaan untuk memberi kita visa.
  • Bisakah melamar visa Schengen di luar negeri? Ya. Dua kali saya melamar Schengen di Singapura. Namun kita harus memiliki resident permit di luar negeri tersebut. Untuk kasus saya, saya punya employment pass di Singapura sehingga bisa melamar Schengen di kedutaan asing di sini.
  • Bisakah pengangguran (pergi tanpa pekerjaan) mendapat visa Shengen? Dari pengalaman saya di atas ya. Dengan catatan punya simpanan finansial yang cukup dan bisa menjelaskan bahwa kita punya niatan bulat untuk pulang sebelum tenggat visa.
  • Berapa banyak uang minimal untuk jaminan finansial? Tidak eksak dan berbeda untuk tiap negara Schengen. Link ini bisa memberi sedikit gambaran. Untuk panduan secara umum saya mematok 50 Euro per hari. Namun, lebih banyak akan lebih baik.
  • Apakah paspor bisa diambil lagi saat aplikasi? Dari dua pengalaman saya paspor akan ditinggal selama proses visa sekitar satu minggu.

Tips Mendekatkan Diri pada Jodoh

Entah kenapa, beberapa post terakhir ini dan mungkin yang beberapa berikutnya terus membahas masalah nikah dan jodoh. Mungkin karena hati yang masih berbunga-bunga. Atau efek jauh dari istri? :p Semoga tak menjadi sesuatu yang bosan dibaca tentunya.

“Jadi kapan Jon nikah?” Bertanya bapak tersebut kepada saya. Saya pun jawab dengan cengengesan. Sebenarnya cengengesan tersebut bukan jawaban sama sekali. Tapi dari pada bingung menjawab apa, cengengesan itu pun menjadi jawaban terbaik.

Kemudian si bapak itu lanjut bercerita. Anak jaman sekarang kalau ditanya masalah menikah pasti banyak mengelak. Entah karena memang belum siap atau belum punya calon atau bisa juga merasa masih muda, masih segar dan masih tampan dan cantik sehingga merasa tak perlu memusingkan masalah itu. Jadi kalau pada umur 25 ditanya masalah nikah, maka anak-anak muda itu akan berkata. “Nikah? Siapa saya!” Dengan segala kebanggaannya. Beberapa tahun kemudian di usia 30an ketika ternyata si anak muda yang sudah tak muda lagi ditanya hal yang sama, “Nikah? Siapa saja.” Dengan kebanggaan yang sudah benar-benar hilang.

Identitas bapak tersebut tidak saya angkat di sini. Percakapan tersebut terjadi pada bulan April 2011. November 2011 alhamdulillah Allah mempertemukan saya dengan jodoh saya, tanpa harus menunggu usia 30 tahun.

Setiap orang mungkin akan tahu bahwa ada 3 hal dalam kehidupan yang merupakan takdir mutlak bagi manusia. Hal tersebut adalah kelahiran, kematian dan jodoh. Rasul sendiri bersabda, ketika ditiupkan ruh pada anak manusia tatkala ia masih di dalam perut ibunya sudah ditetapkan ajalnya, rezekinya, jodohnya dan celaka atau bahagianya di akhirat. Jadi bahkan sebelum kita lahir, Allah itu sudah menetapkan jodoh kita siapa. Meski pun kelak misalnya kita baru bertemu jodoh kita 4 bulan sebelum menikah, ternyata Allah itu sudah merancang berpuluh tahun sebelumnya. Tapi sayangnya ternyata setiap orang tidak mempunyai cara dan waktu yang sama dalam bertemu jodohnya. Ada yang cepat atau ada yang lambat.

Sebagai salah satu yang pasti menjadi harap setiap orang, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mendekatkan diri kita pada jodoh kita. Pertama adalah usaha. Saya sudah pernah menulis beberapa kali. Jodoh itu memang di tangan Allah. Tapi jika tak diambil-ambil ya di tangan Allah terus. Usaha banyak caranya tentunya dengan memperluas pergaualan. Memperbanyak teman dan ikut banyak kegiatan. Biasanya semakin banyak teman, akan semakin luas jaringan. Peluang untuk dikenalkan dengan temannya teman bahkan dicomblangin pun terbuka lebar.

Kedua meningkatkan kualitas diri. Siapa pun pasti ingin bisa mendapat jodoh yang baik. Jodoh seumur hidup yang tidak akan pernah diamandemen. Manusia itu akan tarik menariknya dengan manusia-manusia lain yang serupa. Anak dugem ya pasti akan bertemunya dengan anak dugem. Anak majelis ta’lim kemungkinan besar akan dekatnya dengan anak majelis ta’lim juga. Hanya di sinetron di mana ada gadis desa penggembala domba yang super cantik (gadis desa tapi mukanya peranakan bule) bisa ketemu dengan pria muda dari kota yang ganteng dan kaya rasa. Di kehidupan normal non sinetron, manusia hanya akan nyaman bertemu dan dekat dengan orang lain yang serupa. Oleh karena itu cara untuk mendapat jodoh yang baik adalah dengan meningkatkan kualitas diri menjadi lebih baik juga.

Ketiga adalah selalu berdoa. Terkadang saya merasa terlalu banyak “bacot” mengenai masalah doa. Tapi saya sulit memungkiri besarnya peran doa dalam kehidupan. Bagi orang beragama doa adalah media komunikasi dengan Tuhan. Media dimana semua harap dipanjatkan. Apalagi untuk hal yang satu ini, sebab tadi sudah dijelaskan dan mungkin banyak dari kita percaya bahwa jodoh itu di tangan Tuhan. Jadi memintanya kepada Tuhan. Bukan kepada dukun. Ada sebuah kisah yang bahkan diabadikan dalam Al-Quran surat An-Nahl ayat 92 “Dan janganlah kamu seperti perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi bercerai-berai kembali…” Yang dimaksud Al-Qur’an dengan ‘wanita pengurai benang yang telah dipintal’ adalah Rithah Al-Hamqa. Seorang gadis Bani Ma’zhum yang cantik dan kaya raya namun tak kunjung mendapatkan jodoh. Bahkan ibu si gadis justru malah sering meminta petunjuk pada dukun dari pada memohon pada Allah. Rithah sendiri terlalu tidak sabar untuk berprasangka baik pada Allah. Pada akhirnya Rithah dipinang seorang pria muda. Namun setelah menikah ternyata si pria itu hanya ingin menguras harta Rithah kemudian menceraikannya. Sehingga pada akhirnya dengan penuh kekecewaan Rithah menghabiskan sisa umurnya dengan memintal dan mengurai benang.

Spesifik untuk jodoh idealnya doa dilakukan melalui istikharah. Sebab jodoh adalah hal yang sangat fundamental. Urusan dunia akhirat. Sehingga proses meminta petunjuk pada Allah pun harus benar-benar total. Istikharah sendiri biasanya akan sangat memperlancar proses pencarian jodoh ini.

Langkah keempat untuk mendekatkan diri pada jodoh adalah tidak perfeksionis. Kita harus mencari sosok yang ideal. Namun manusia itu tidak sempurna. Pasti banyak kekurangannya. Pada kebanyakan kasus orang-orang yang belum juga menikah padahal sudah mampu adalah terlalu perfeksionis. Mencari yang terlalu sempurna. Mencari yang terlalu cantik, yang kaya, yang pintar, yang sederajat. Padahal semua ukuran tersebut pada akhirnya tidak akan berguna bagi pernikahan. Satu-satunya yang berguna hanyalah akhlak. Carilah yang akhlaknya baik, jika kebetulan ia juga cantik itu adalah bonus. Setelah semua hal di atas dilakukan hal yang yang tersisa adalah tawakal sambil berbaik sangka pada Allah.

Jadi kira-kira itulah buah pemikiran sesaat di malam ini mengenai beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mendekatkan diri pada jodoh. Cara-cara tersebut adalah pertama usaha, kemudian meningkatkan kualitas diri, berdoa, tidak perfeksionis dan terakhir tawakal.

Image from: http://idonanda.multiply.com/journal/item/55

Tips Menikah di Usia 25

Dulu saya pernah punya harapan untuk menikah di usia 25. Pada akhirnya saya menikah sekitar tiga minggu menjelang usia masuk 26.

Pada dasarnya tak ada hal yang khusus dengan usia 25. Saya hanya merasa 25 adalah usia produktif. Jika segera punya anak maka selisih umur orang tua dan anak tidak signifikan. Jadi masih bisa bercanda-canda dengan anak. Pada usia 25an biasanya orang sudah menuntaskan kuliah dan sudah kerja untuk setidaknya 2 atau 3 tahun. Jadi seharusnya kita sudah matang secara mental dan materil pada usia ini.

Kembali ke masalah harapan untuk menikah di usia 25. Allah seringkali menjawab harapan-harapan manusia dengan penuh style. Termasuk masalah pernikahan ini. Harapan saya dijawab dengan persis. Saya ibarat dipertemukan dipertemukan dengan bidadari jatuh dari langit. Jatuh karena ternyata bidadari ini belum diberi sayap oleh Allah. Bidadari yang tidak pernah  saya kenal sebelumnya di kehidupan mana pun. Bidadari yang dipertemukan 5 bulan saja sebelum menikah. Bidadari yang saya pastikan akan selalu setia bersamanya selamanya.

Baiklah kita sudahi sesaat cerita tentang bidadari. :). Mari kita lanjutkan dengan tipsnya. Tips untuk bisa menikah di umur 25 yang pertama adalah niat. Meski nampak remeh ternyata masalah niat ini menjadi hal yang paling fundamental. Dengan adanya niat kita punya tujuan. Cepat atau lambat pasti sampai. Bandingkan dengan mengemudi tak punya tujuan. Sampai kapan pun tak pernah sampai. Cukup ucapkan dengan pelan namun mantap di hati “saya ingin menikah di usia 25” (atau di usia berapapun yang anda mau.

Tips yang kedua adalah ikhtiar. Setelah punya tujuan hal yang harus dilakukan selanjutnya adalah bergerak. Percuma punya niat namun pedal gas mobil tidak diinjak atau throtlle gas motor tidak dibetot. Tidak akan jalan. Tentu saja ikhtiar untuk menikah tidak sesederhana membejek pedal.

Melanjutkan masalah ikhtiar. Ikhtiarnya harus dilakukan dengan cara yang benar dan tempat yang benar. Ada pepatah yang mengatakan jodoh itu di tangan Tuhan. Namun jika tidak diambil-ambil ya di tangan Tuhan terus. Namun coba mancingnya jangan di tempat salah. Tempat baik untuk taaruf diantaranya pengajian, kampus, rumah sakit jika ingin dapat dokter atau mungkin bisa juga pdkt di seleksi beasiswa kominfo seperti yang saya lakukan.

Masih dalam tahap ikhtiar adalah masalah persiapan finansial. Hal ini harus sangat dipikirkan terutama oleh laki-laki. Namun jika niat sudah kuat masalah finansial tidak akan menjadi ganjalan. Percayalah Allah Maha Kaya. Saya akan buat post khusus mengenai ini.

Tahapan ketiga adalah seleksi dan istikharah. Jika diasumsikan kita meninggal di usia 70 tahun dan menikah di usia 25 tahun artinya kita akan mengarungi kehidupan pernikahan selama 45 tahun. Artinya dalam memilih partner tidak boleh asal-asalan. Cerai itu halal namun adalah hal yang sangat dibenci Allah.

Berikut kriteria memilih pasangan ideal. Bisa disingkat menggunakan singkatan aneh yang kurang lucu: dindanduntun. Din itu agamanya (Dien) yang utama. Kedua pilih yang pintar DANdan (analogi untuk memilih yang cantik dan tampan) agar tak bosan dilihat selama 45 tahun. Namun bagi yang tak merasa cantik dan tampan tak perlu khawatir, ukuran tampak dan cantik itu relatif bagi setiap manusia. Kriteria yang ketiga adalah dun analoginya yang mapan secara DUNiawi alias orang punya. Kriteria keempat adalah Tun (TUrunan) untuk analogi cari yang punya turunan atau nasab yang jelas. Namun dari keempat kriteria tersebut agama adalah yang paling utama.

Setelah seleksi dan merasa kandidat yang ingin kita ajak menikah di usia 25 lolos kriteria-kriteria yang penting, hal berikut yang harus dilakukan adalah istikharah. Tidak ada yang mampu memberi jawaban lebih presisi dibandingkan Yang Maha Presisi Allah Swt. Jawaban istikharah itu tidak harus berupa mimpi. Bisa juga berupa kebulatan hati dan kelancaran prosesnya. Hal itulah yang saya alami. Seiring waktu berjalan dengarkanlah kecenderungan hati. Meski tidak dapat diukur dengan eksak, jawaban istikharah dapat dirasakan dari kemantapan dan kebulatan hati terhadap pilihan yang kita ambil. Serta proses taaruf yang ibarat berseluncur di es, lancar dan mulus.

Setelah semua proses usaha dilakukan sampailah kita di ultimate step. Judulnya tawakal. Totalitas  pasrah dan ikhlas terhadap ketetapan Allah atas harapan yang kita mohonkan. Tawakalnya pun harus diiringi dengan qanaah berbaik sangka kepada Allah. Sebab Allah itu seperti apa yang hamba-hambanya sangkakan.

Setelah tawakal kemudian ternyata permohonan kita dikabulkan, jangan lupa untuk bersyukur. Namun harus diingat, menikah itu bukan destinasi akhir. Menikah itu adalah perjalanan panjang.

Pada akhirnya saya pun merasakan benar yang dikatakan orang-orang. Menikah itu tidak indah! Maksudnya tidak sekedar indah, namun menikah itu sangat sangat amat sangat indah.

Ditulis pada 23-25 Maret 2012 dariChangi ke CGK dan di Damri airport Kampung Rambutan

(Gagal) menuju Beasiswa Kominfo 2011 – Part 4 (Tamat): Refleksi

In this world most thing happen not like what we want.

Life is too boring if everything happen too smooth.

Post ini adalah sekuel akhir dari curhatan proses seleksi beasiswa kominfo 2011.

Yang belum baca part 1 bisa dilihat di sini.

Yang belum baca part 2 bisa dilihat di sini.

Yang belum baca part 3 bisa dilihat di sini.

Dunia adalah tempat di mana kebanyakan kejadian tidak terjadi seperti yang kita inginkan. Apakah fakta tersebut harus membuat kita menyerah? Tentu saja tidak. Sesuatu yang terlalu mudah akan membosankan, percayalah. Meski saya pun harus sadar menghadapi tantangan bukanlah hal yang mudah. Tetap tegar ketika hal yang kita inginkan ternyata tidak tercapai juga bukan perkara gampang. Namun semua proses tersebut akan membuat kita lebih maju pada akhirnya.

Sejak lama masalah pendidikan adalah prioritas penting bagi diri saya. Salah satu alasannya adalah I feel stupid. Thats why I must never stop learning. Saya bukan pengejar gelar akademis. Saya adalah orang yang sangat menikmati proses menjadi tahu dari tak tahu. Kita bisa belajar di mana pun meski bukan di sekolah atau di kampus. Tapi pendidikan formal adalah sebuah sistem yang sudah dibangun sedemikian hingga menyajikan proses pembelajaran yang sulit disaingi oleh sistem non formal. Oleh karena itu juga sejak lulus SMA saya bertekad untuk bisa kuliah. Meski pada masa itu mewujudkan keinginan tersebut bukan perkara yang terlampau gampang juga karena saya tak punya sandaran finansial yang mapan. Tapi toh dengan berjalannya waktu semua bisa dicapai, pelan tapi pasti. Di mana ada kemauan pasti ada jalan nampaknya bukan pernyataaan yang bohong.

Sejak sebelum lulus kuliah saya sudah berikrar untuk terus kuliah sampai mentok. S2, S3 dan seterusnya. :p Namun ketika sadar belum punya pijakan finansial yang juga mapan satu-satunya cara mewujudkam mimpi tersebut adalah mencari beasiswa. Apalagi hingga detik ini saya benar-benar terobsesi untuk bisa kuliah ke luar negeri.

Bicara pendidikan sebenarnya secara kualitas meskipun ada namun perbedaannya tak terlalu signifikan antara di dalam dan luar negeri. Tapi memang tak dapat dipungkiri kesempatan bersekolah di luar negeri adalah sebuah hal yang sangat berharga. Alasan- alasannya: pertama, kita dapat berinteraksi dalam sebuah lingkungan yg heterogen, tentunya hal ini akan benar-benar bermanfaat untuk memperluas khasanah wawasan kita. Kedua, sebagai negara berkembang penting bagi kita untuk menimba ilmu ke negara lain untuk melihat bagaimana mereka bisa maju, bagaimana standar pendidikan mereka. Ketiga adalah alasan pragmatis, dunia ini luas kawan, orang-orang beragam berbeda suku bangsa dan bahasa. Dunia ini indah. Di belahan lain panas terik matahari benar-benar membakar gurun (saya tahu jarang ada kampus di tengah gurun, ini hanya ilustrasi). Sementara di tempat lain lagi salju yang selembut kapas turun di malam yang indah. Saat musim gugur daun kering berjatatuhan. Saat musim semi semua tumbuhan bermekaran dan burung-burung kecil berterbangan kegirangan. Tak inginkah kau melihatnya langsung? Itulah alasan pragmatis saya untuk bisa merasakan sekolah di luar negeri.

Proses pencarian beasiswa baru serius saya lakukan di awal tahun 2011. Saya merasa sangat bersyukur di masa tersebut saya berhasil memaksa diri saya melawan kemalasan yang biasa melanda untuk melamar beasiswa Kominfo hingga sampai ke tahap wawancara akhir.

Ada jeda panjang antara wawancara akhir dan pengumuman aplikan yang lolos. Selama masa waktu tersebut saya dengan membabi buta memeriksa website Kominfo hampir setiap hari untuk memastikan tak terlewat pengumuman akhir hasil beasiswa. Padahal gmail saya sebetulnya sudah di push ke hp. Tanpa seekstrim itu pun jika pengumuman keluar saya akan mendapat email. Namun itulah gelap mata.

Dan penantian pun usai sudah di sore hari tadi. Seorang kawan yang sesama aplikan meceritakan dia mendapat email dari kominfo. Tak lama kawan yang lain mengirim message lewat whatsapp bercerita bahwa hasil akhir sudah keluar. Dengan sedikit deg degan saya pun membuka web kominfo. Namun tak menemukan link yang dimaksud. Setelah bolak-balik mencari saya tersadar bahwa link yang dimaksud ada di banner besar yang sebelumnya mentautkan link pengumuman undangan wawancara. Saya pun langsung membuka link tersebut masih dengan sedikit berdegup. Ada 61 nama dan setelah menskim cepat tak saya temukan seorang pun dengan alphabet nama berawalan J. Gagal kah? Saya terus melihat berulang kali diantara beberapa nama teman-teman wawancara gelombang 2 yang sebagian sudah saya kenal. Ya tak ada nama saya. Saya gagal.

Perasaan gagal itu sulit diungkapkan kata-kata. Ia adalah kombinasi rasa ketidakpuasan terhadap diri sendiri, rasa kecewa, rasa ingin menarik mundur waktu untuk mengevaluasi apa yang bisa dievaluasi agar saya tak gagal, rasa hilang semangat dan rasa ingin menyendiri. Namun tentunya rasa tersebut hanya rasa yang hadir sesaat. Saya pun sadar harus tetap positif. Saya sudah melakukan yang terbaik dan inilah hasil terbaiknya. Tak perlu kecewa namun justru hanya perlu mencoba lagi.

Setelah curhat dengan beberapa teman-teman dekat alhamdulillah mendapat motivasi baru. Pikiran yang sempat mampet mulai plong kembali. Pada dasarnya semua hal sekecil apa pun sudah merupakan suratan Yang Maha Kuasa. Manusia hanya merencana namun Tuhan yang memutuskan. Mengapa manusia harus merencana jika akhirnya Tuhan memutuskan hal yang lain? Jawabannya adalah agar manusia tahu bahwa Tuhan selalu punya rencana yang jauh-jauh lebih baik.

“Jon beasiswa ente bukan gagal tapi ditunda. Tuhan pengen kamu lebih siap. Everything that doesn’t kill you will only make u stronger. Mungkin lo akan dapat beasiswa yang lebih baik.lagi. Mungkin Allah pengen lo merit dulu sebelum sekolah lagi. ” Sebagian petikan motivasi temana-teman yang sangat berharga.

Di tengah malam ini, di bawah bulan yang sangat cerah aku menyimpan sejenak bayangan Kota Delft. Mungkin nanti akan aku buka lagi. Aku akan terus menyimpan bayangan kota di belahan dunia mana pun di mana pena digital aku bisa menulis sesutu yang bermanfaat, prosesor jasmaniku bisa mempelajari ilmu yang berguna dan jiwa aku bisa memanfaatkan sejenak waktu luang untuk mengunjungi tempat-tempat indah di sana, di mana pun “sana” tersebut.

Refleksi adalah melihat diri kita secara utuh atas hal tertentu yang sudah kita lakukan, kurang dan lebihnya. Seperti melihat bayangan diri di balik cermin. Kita bisa melihat kurang atau lebihnya. Kita bisa mengidentifikasi hal yang mungkin bisa diperbaiki agar kita terlihat lebih elok. Dan cerita ini adalah salah satu bagian dari refleksi tersebut.

Selamat untuk teman-teman yang berhasil, semoga sukses selalu.

I wont give up. I will never stop until I accomplish every dream that I have. Ambitious but still moderate. See you in some beautiful country soon.

Fin. 😀

Sebuah Doa untuk Penjarah

Kemarin sore saya memutuskan pulang ke rumah dari kantor meski weekdays belum habis. Saya pulang karena harus packing barang-barang untuk rencana jalan-jalan saya. Biasanya jika harus pulang ke rumah saya selalu menunggu Adzan Maghrib di kantor agar tidak repot harus sholat di jalan. Namun kemarin kebetulan semua pekerjaan sudah beres sehingga saya putuskan pulang dan akan sholat Maghrib di jalan saja. Setelah merayapi kemacetan Jakarta di sore hari, adzan Maghrib berkumandang ketika saya berada di daerah Kramat Jati. Saya akhirnya memutuskan berhenti di Pom Bensin Pertamina sebelum perempatan HEK.

Seperti mushola-mushola pom bensin yang lain, mushola di tempat tersebut berukuran tidak terlalu besar. Sehingga beberapa orang yang ingin sholat harus mengantri. Setelah menunggu satu kloter, akhirnya saya kebagian jatah untuk sholat Maghrib. Ukuran mushola yang sempit hanya cukup untuk 2 shaf dengan sekitar 5 orang pershafnya. Seperti biasa, dengan segala cara saya selalu berusaha agar bisa menempatkan tas di tempat yang terawasi. Setelah sholat selesai tak lama kloter berikutnya langsung iqamah sehingga kami semua langsung bergegas keluar.

Saat saya keluar kemudian mengambil sesuatu tiba-tiba seorang yang mungkin sekitar 2 atau 3 tahun lebih muda dari saya terlihat panik. Dia bertanya apakah ada yang melihat tasnya. Ternyata ia ceroboh menyimpan tasnya di belakang saat sholat. Sehingga sepertinya sesaat setelah sholat bubar ada orang yang mencuri tas tersebut. Dengan wajah yang terlihat panik bertanya ke orang-orang sekitar sana. Iba juga hati saya melihatnya. Akhirnya setelah sekitar 10 menit orang itu mondar-mandir terlihat dia sudah pasrah. Iseng saya pun bertanya apakah ada barang berharga seperti dompet di simpan dalam tasnya. Kemudian dia pun membalas, dompetnya di simpan di kantung celana, namun di dalam tasnya tersebut ada sebuah laptop. Langsung sedikit berdesir juga hati saya. Tak terbayang semurah-murahnya laptop pasti dalam orde harga juta. Si pria itu kemudian pamit meski dengan paras yang terlihat cukup kesal. Lalu saya pun melanjutkan perjalanan meski kemudian berhenti lagi di sebuah tempat makan.

Di sepanjang jalan saya masih tak habis pikir ada orang sedemikian jahat mencuri hak orang lain apalagi orang lain tersebut dalam kondisi ingin beribadah. Terlepas dari kecerobohan pria si pemilik tas yang tidak menyimpan tasnya pada kondisi aman, secara mutlak hati saya melaknati si pencuri tersebut sepanjang jalan. Ketika kemudian akhirnya saya mampir di tempat makan, saya curhatkan kejadian ini ke facebook. Tak lama Mas Bayu, teman saya di club motor merespon suatu komentar yang agak beda dari sumpah serapah yang ingin saya muntahkan. “Iyaaa… Mas…. Semoga harta. Jarahan tersebut berguna bagi yg mengambilnya… Amieenn…”. Dengan heran saya mengomentari balik “Kok didoakan malah berguna mas? Bukannya itu barang curian ya? Hehe.” Lalu dibalas lagi “Yupppss… Dan semoga yg punya tas diberikan ganti yg berlebih… Karena semuanya itu sudah diatur dari sananya mas… Hehehehee…. Sotoy yaks… Still positif thinking aja… Ikhlas…”. Hingga dini hari ini hati saya masih berontak mengenai kejahatan yang telah diperbuat si penjarah. Namun setelah dipikir-pikir statement Mas Bayu tersebut memang ada benarnya juga. Ya semuanya hal besar dan kecil telah diatur oleh Allah Swt. Setiap kejadian baik dan buruk harus kita terima dengan ikhlas. Selalu ada hikmah juga dari setiap kejadian yang kita alami. Pada akhirnya tetap, sebisa mungkin harus preventif dalam keamanan diri sendiri. Waspadalah, waspadalah. 🙂

Review Helm KBC V-Series – Haruskah anda membelinya?

Helm adalah aksesoris pengaman yang terpenting bagi pengendara motor. Selain itu helm juga adalah aksesori yang penting untuk mendongkrak penampilan. Sehingga bukan hal yang aneh bagi beberapa orang berbudget lebih untuk membeli helm impor dengan satuan harga hingga berjuta-juta rupiah untuk mengejar 2 faktor tersebut safety dan prestis.

Sebelumnya saya awam terhadap nama KBC. Dulu saya pikir KBC adalah merk helm biasa. Dengan semakin banyaknya pengguna sepeda motor di Indonesia, banyak produsen memanfaatkan ceruk pasaran subur ini sehingga munculah mungkin berpuluh merk helm dengan berbagai macam tipe. Dari berbagai merk tersebut dapat dibagi menjadi 2 kategori. Pertama helm lokal dengan range harga biasa. Kedua helm import dengan range harga menengah ke atas. Untuk kategori pertama bisa kita sebut diantaranya ada Ink, NHK, GM, VOG, BMC, KYT dan lain-lain. Untuk kategori kedua bisa kita sebut Nolan, Arai, AGV, Shoei, Shark dan KBC. Ya ternyata KBC bisa masuk kategori helm menengah.

Beberapa minggu lalu helm KBC resmi hadir di Indonesia melalui distributornya PT. Central Sole Agency yang menaungi group Indoparts. Pada waktu yang sama KBC mengeluarkan seri terbaru V-series dengan harga yang cukup terjangkau bagi pasar Indonesia. Pada momen Jakarta Fair tahun 2011 ini distributor KBC juga memberikan penawaran menarik dengan program trade in tukar helm bekas dan program cicilan 6 bulan bagi pengguna kartu kredit BCA. Kesempatan ini tak saya sia-siakan. Pada Kamis lalu saya menyempatkan mampir ke Jakarta Fair di malam hari. Langsung meluncur ke stand helm KBC dan melihat-lihat beberapa tipe yang dipajang. Awalnya sempat tertarik dengan tipe tertentu yang saya lupa namun bercat repsol dengan harga sekitar 1.500.000. Namun setelah mondar-mandir di stand tersebut saya memutuskan untk mengambil tipe terbaru V-Series saja dengan harga 550.000. V-Series sendiri terdiri dari 2 jenis stripping. Euro dan Zero. Setelah membanding-bandingkan untuk warna dominan stripping merah, tipe Zero memiliki kombinasi warna yang paling cocok untuk saya. Pada kesempatan yang sama, saya pun baru tahu bahwa KBC V-Series telah mendukung teknologi pinlock. Pinlock di sini adalah sebuah lapisan tipis yang akan dipasang menggunakan pin kecil di belakang visor. Kegunaan dari pinlock ini adalah untuk mencegah munculnya embun saat kita bernapas. Harga resminya sekitar 350.000. Namun kemarin untuk pembelian sekaligus dengan helm akan dihargai 99.000 saja. Meskipun sempat kecewa karena saat melakukan pembelian dengan insiden mesin EDC yang error sehingga kartu kredit saya digesek sampai 3 kali dan saya harus tertahan di stand itu hampir 1 jam, secara umum saya cukup puas dengan Helm KBC V-Series ini.

Pertama helm ini memiliki bobot yang cukup ringan. Sehingga tidak akan membuat kita cepat lelah meskipun untuk perjalanan yang cukup jauh. Kedua, kombinasi stripping V-Series cukup bagus meski seperti sudah disebut tadi saya cenderung lebih suka stripping  V-Series Zero dibandingkan Euro. Ketiga, seperti helm-helm jaman sekarang Visor cukup mudah untuk dipasang dan lepas. Keempat, dengan teknologi pinlock saya sangat dimudahkan dengan tak perlu membuka tutup visor saat jalanan merayap hanya untuk menghindari helm yang berembun.

Dari faktor-faktor positif tadi beberapa hal yang agak saya kurang suku dari helm KBC ini adalah mekanisme mengunci belt ke dagu yang menurut saya agak aneh. Helm-helm lain biasanya menggunakan mekanisme klik seperti seat belt mobil. Namun pada helm KBC mekanisme terkesan tradisional, meski SPG penjualnya berpromosi mekanisme ini jauh lebih aman. Untuk memasang belt helm KBC kita harus mengalur belt melalui 2 pin besi kemudian melock ke semacam kancing biasa. Dengan mekanisme ini tak ada mekanisme mengendurkan dan mengencangkan belt karena memang pada akhirnya secara otomatis belt akan selalu terpasang dalam kondisi kencang. Kedua, KBC V-Series ini adalah helm pertama saya dengan teknologi pinlock. Entah mengapa ruang sempit antara pinlock selalu seperti basah berair tipis. Padahal saya sudah berulangkali membuka pinlock dan mengelapnya. Meski tidak mempengaruhi penglihatan sama sekali namun hal ini agak mengganggu juga.

Demikian review singkat helm KBC ini. Dengan kelebihan dan kekurangannya secara personal saya pikir skor 4 dari 5 bintang cukup layak diberikan. Semoga bermanfaat.

Menuju Beasiswa Kominfo 2011 – Part 3: Wawancara dan Psikotest (dan Curhat)

Disclaimer: Curhat ini sangat panjang sekali dan sepertinya agak membosankan. :p

Yang belum baca part 1 bisa dilihat di sini.

Yang belum baca part 1 bisa dilihat di sini.

Pengumuman pelamar beasiswa depkominfo yg diundang wawancara sudah dirilis sejak 30 April 2011. Jika tidak salah pengumuman tersebut dirilis 2 minggu setelah penyerahan aplikasi. Pada daftar tersebut, tragisnya (lebay sekali) tak ada nama saya dari 71 nama di sana. Saya sempat menskim daftar tersebut bolak-balik berkali-kali. Berharap barangkali mata saya lagi butek sehingga tak nampak nama saya di daftar tersebut. Namun dari berkali-kali slimming tak ada satu pun calon pewawancara dengan nama depan beralphabet J. Sempat dengan bodohnya berpikir barangkali panitia salah mengetik nama saya. Typos nama Jon menjadi Zon, atau Jon menjadi Djon atau Jon menjadi .. etc etc. Namun setelah berulangkali memeriksa sepertinya mata saya tidak siwer. Tapi otak saya yang siwer. :p Nama saya memang tidak ada.

Setelah pengumuman tersebut saya masih merasa penasaran. Pada tahun 2010 depkominfo melaksanakan wawancara sebanyak 2 gelombang. Saya pun kemudian mencoba berhusnudzon terhadap hal-hal ini. Siapa tahu ada wawancara gelombang 2 dan nama saya bisa nyempil di situ. Langsunglah saya menelepon sekretariat beasiswa di depkominfo dan menanyakan masalah kemungkinan wawancara gelombang kedua. Namun sayang seribu sayang (halah), pihak depkominfo tidak memberi jawaban tegas. Mereka hanya menyatakan ada kemungkinan penyelenggaraan wawancara gelombang 2 namun itu tidak pasti. Agak sedikit kecewa di hati sebenarnya. Namun ya sudahlah. Jika rejeki pasti tak akan kemana.

Waktu pun akhirnya berjalan. Satu minggu, dua minggu, tiga minggu, hingga akhirnya saya lupa menghitung waktu dan agak lupa perurusan beasiswa depkominfo. Dalam masa tersebut saya sempat melamar beasiswa Monbukagakusho juga. Karena kebetulan berkas-berkas yang dibutuhkan sudah diurus saat melamar beasiswa depkominfo. Proses seleksi beasiswa Jepang ini lebih transparan dalam menentukan jadwal sejak jauh hari. Jadi sejak awal kita sudah dapat memperkirakan kapan partisipan yang lulus tahapan-tahapan tertentu diumumkan. Jadi ketika sadar saya tak diundang tes tertulis Monbukagakusho saya sempat merasa down juga. Merasa kecewa pada diri sendiri, down, hilang semangat, pengen loncat ke sumur. Padahal jika dipikir untuk apa juga harus terlalu kecewa seperti itu. Ikhtiar kan tanpa batas. Doa malahan benar-benar tak terbatas. Jadi dibawa positif saja. Baru beberapa saat berpikir positif, iseng saya memeriksa gmail. Hari itu Jumat 10 Juni 2011. Maksud hati awalnya ingin memeriksa email dari seorang headhunter yang tengah menawari peluang pekerjaan. Namun ada sebuah email mencolok dengan subjek “Undangan Seleksi Wawancara Gelombang II Program Beasiswa S2 LN Kominfo”. Apaan nih celetuk saya dalam hati. Langsung saya klik email untuk melihat isinya. Sejenak saya berdiam. Apakah otak saya siwer kembali? Sepertinya tidak. Atau mata saya yang siwer. Nampaknya sih tidak. Langsung saya tarik seorang kawan dan menunjukan email itu. Setelah melihat email sang kawan langsung sumringah dan mengucapkan “wah selamat gan!” ujarnya dengan bahasa kaskus abis. Saya diundang wawancara Kamis 16 Juni 2011 pukul 10.00 pagi. Setelah itu saya langsung menelepon mamah untuk minta didoakan agar bisa mengikuti prosesi seleksi ini dengan lancar hingga tuntas.

Hari menjelang wawancara saya habiskan dengan browsing-browsing ke website-website universitas. Tujuan utama wawancara beasiswa adalah untuk melihat motivasi belajar dari calon penerima beasiswa tersebut. Jangan sampai beasiswa diberikan orang yang tak tepat yang bisa berujung kesia-siaan. Saya benar-benar meresearch informasi universitas dengan detail untuk memenuhi tujuan tersebut. Saya harus tahu dengan detail semua rencana belajar saya secara umum. Saya juga harus tahu motivasi saya apa. Saya juga harus tahu diri saya siapa. Oleh karena itu beberapa hari menjelang wawancara sesekali waktu saya sering mengoceh-ngoceh sendiri ke recorder di hp mensimulasikan prosesi wawancara. Saya bertanya dan saya menjawab. Saya bukan pembicara yang baik. Bahasa Inggris saja juga buruk, jika bukan dibilang ga becus berEnglish ria. Jujur, wawancara ini adalah momok yang agak menakutkan. Namun saya tak punya pilihan. Saya harus berani dan saya harus bisa.

Rabu 15 Juni 2011. H-1 wawancara. Saya kabur dari kantor cepat jam 5 tenk tenk. Maksud hati agar bisa menenangkan diri di kosan dan melakukan persiapan optimal. Sejak awal saya sudah mempersiapkan salah satu elemen penting untuk wawancara. DRESS CODE! Bagi yang tak pernah ketemu saya, saya adalah orang casual. Paling malas berformal-formal ria dalam berbusana. Saya ngantor dengan celana jeans, kemeja biasa dan bersepatu kets. Bahkan jika Jumat saya hanya berpolo shirt atau bahkan kaos oblong dan bersendal crocs abal-abal KW 12. Untuk kasus wawancara ini akan menjadi pengecualian. Saya kudu rapih pih pih dan dipaksa ganteng teng teng. Weekend sebelum wawancara, saya potong rambut saya yang cepat gondrong (coba jika duit saya cepat gondrong juga) dan membongkar lemari baju mencari celana bahan dan kemeja formal yang pantas dipakai. Oh ya tak lupa ikat pinggang kulit buaya. Nah di Rabu malam ini saya baru sadar ikat pinggang kulit kebanggaan saya (halah) kulitnya sudah pada ngeletek setelah berpuluh tahun sekian waktu tak dipakai. What The Fun! Niat hati ingin leyeh-leyeh di malam itu akhirnya saya keluar lagi dari kosan. Tujuannya: mall. Saya jalan cepat ke jalan raya dan menyetop Silver Bird Kopaja. Tak sampai 5 menit merayapi kemacetan saya turun di Plaza Semanggi. Tadinya mau mencari belt kulit di Centro, meski saya sadar nyari di depstore itu harganya bisa aduhai. Persis ketika masuk mall ternyata ada sebuah store padang yang memajang ikat pinggang kulit. Langsung saya cari yang moder rel. Saya ga suka model yang dibolong-bolong. Harganya cukup terjangkau 50 ribu sajah. Dasar otak shopping setelah membayar belt saya tertarik melihat deretan dompet panjang kulit meski pasti KW jg. Butuh dompet panjang karena makin hari kartu plastik saya makin banyak.

Setelah selesai urusan di toko itu tiba-tiba jadi malas pulang. Pergilah saya ke gramedia. Bukan lihat buku. Tapi lihat majalah. Setelah puas lihat majalah kemudian mampir ke Giant. Membeli hal-hal yang tak penting. Sikat gigi, odol, mouth wash. Pada akhirnya saya baru sampai lagi ke kos jam 10 malam. Dasar dodol memang.

Kamis 16 Juni 2011. Entah kebetulan apa, Kamis dini hari terjadi gerhana bulan. Meski saya sendiri tak bisa melihatnya karena Jakarta tertutup awan. Saya bangun tepat saat adzan Shubuh. Saya langsung turun menyetrika dress code of the day. Sekitar jam 7 langsung mandi. Kira-kira jam 8 saya pun berangkat dari kos. Berhubung malas repot saya memutuskan tidak naik motor ke Kominfo. Saya naik Busway sajah. Ngeri juga naik angkutan umum Jakarta. Maklum hari-hari biasanya ngeluyur ke sana-sini naik si Merah. Dompet, hape langsung saya jejalkan ke bagian tas terdalam. Tak sampai 20 menit naik busway dari halte karet saya sampai di halte monas. Di daerah monas inilah kantor kominfo berada.

Langsung nyebarang dari halte busway kemudian naik ke lantai 2 tempat wawancara berada. Saya sampai sekitar jam 9.30 tempat wawancara sudah cukup ramai. Langsung saja menyalami dan berkenalan dengan beberapa teman-teman tersebut. Dari banyak orang di sana saya sudah mengenali beberapa yang dikenalkan teman saya lewat Facebook oleh Defindal kenalan saya. Ada Andresta, Anda, Rindu. Jadi saya langsung mengobrol dengan mereka. Ternyata dari kebanyakan teman-teman di sana banyak juga yang belum mendapat letter of acceptance (LOA) dari universitas. Namun, dari sekian banyak yg belum dapat LoA sepertinya cuma saya yg bahkan TOEFL dan IELTS. Haduh dasar dodolnya diri ini. :”(

Di tengah-tengah mengobrol panitia tengah melakukan daftar ulang. Jadi kita harus menyerahkan surat keterangan penghasilan dan membawa berkas-berkas asli dari fotokopi-fotokopi yang kita serahkan pada berkas lamaran beasiswa. Surat keterangan penghasilan diperlukan barangkali untuk memastikan jika kandidat penerima beasiswa adalah orang yang terlalu tajir melintir harusnya dipertimbangkan kelulusannya. Berkas-berkas asli diperlukan hanya untuk memastikan semua fotokopi yang kita masukan tanpa manipulasi. Ijasah, transkrip dan paspor.

Setelah menunggu beberapa waktu sambil membaur dengan teman-teman lain akhirnya satu persatu peserta dipanggil ke ruangan untuk wawancara. Ternyata interviewnya dilakukan secara bulk. Ada beberapa interviewer yang menunggu di sekitar 5 meja. Di masing meja dikawal oleh 2 pewawancara. Setiap kandidat akan mengantri didistrubusikan ke meja-meja wawancara tersebut. Para pelamar beasiswa dipanggi ke ruang wawancara secara alphabetis. Saya masuk sekitar pukul 10.00 dan kebagian meja dengan pewawancara Ibu Gati dan Bapak Adi. Seperti perkenalan saya dengan kebanyakan orang, pasti hal pertama yang dibahas adalah nama. Setelah komentar pendek mengenai mengapa nama saya aneh, pertanyaan-pertanyaan yang keluar adalah pertanyaan-pertanyaan yang alhamdulillah sudah saya siap antisiapasi. Misalnya tell me about yourself, tell me about your job, why crossing from electrical engineering to computer science, what is strength and weakness, why choose Netherlands, do you would like to relocate to Korea if can get the scholarship dan pertanyaan pamungkas, tell me why kominfo should give the scholarship to you?

Setelah wawancara sekitar 15-20 menit, alhamdulillah sepertinya saya lewati dengan cukup baik tanpa terlalu banyak kelihatan grego. Padahal sebenarnya grogi juga. Ternyata untuk tahun 2011 ini selain wawancara ada tahapan seleksi psikotest. Waduh tak siap lagi aja diriku. Psikotest dilakukan setelah jam makan siang. Jadi saya dan beberapa teman-teman nebeng mobil teman untuk mencari menu makan yang cukup cihui. Menu siang itu adalah bebek goreng. Haha. Sekitar jam 1 siang kami kembali ke kantor kominfo. Sholat Zuhur dan langsung masuk kembali ke ruangan untuk memulai psikotest. Secara kebetulan saya duduk di samping Indri seorang teman yang juga dikenalkan Def lewat facebook. Ternyata orangnya ngocol sekali. Jadi sepanjang jeda setaiap test psikotest saya justru kebanyakan cekakak cekikik dengan dia. Psikotetsnya sendiri seperti psikotest pada umumnya. Ada test semacam pauli (lupa namanya) yang menambah-nambahkan angka pada kertas sebesar lapangan bola koran, kemudian test memilih-milih statement yang paling sesuai dengan kita PAPI test jika tak salah, ada test serupa itu lagi kemudian, lalu test gambar yang sudah diberi stimulasi awal, jika ga salah lagi namanya test WARTEGG (pelase jangan membayangkan warung nasi, ga ada kaitannya) dan terakhir test gambar.

Setelah sekitar 3 jam akhirnya psikotest selesai. Kami pun langsung bubar ke habitat masing-masing. Namun nyempetin sholat Ashar dulu. Balik ke arah kantor naik busway lagi. Kebetulan bareng Nita yang kerja di Nissan. Di bus jadi ngobrolin Nissan Juke, SUV terbaru dari Nissan yang kontan membuat saya ngeces mupeng pengen punya. Saya turun di halte karet benhil karena lebih dekat ke parkiran motor. Karena sudah sore saya putuskan untuk tidak balik ke kantor. Meski awalnya berniat cuti setengah hari nampaknya cutinya jadi full 1 hari. Langsung ke parkiran kantor, ambil si merah terus meluncur ke kosan ngambil beberapa barang. Klo tak salah setelah sholat maghrib saya pulang ke Jonggol. Terkadang meski weekday belum habis saya suka pulang ke Jonggol pada kamis malam. Dan demikianlah cerita panjang lebar tak karuan ini. Sekarang tinggal menunggu hasil sembari mau siap-siap IELTS. Lumayan mahal juga 185USD, wedan. Ikhtiar sudah, doa masih terus, tinggal kita pasrah dengan hasil terbaik dari yang di atas. Delft here I come. Semoga ada part 4 dari post ini. 🙂

Monbukagakusho Scholarship Story

I am the deadliner. More tight the deadline is more exciting. But of course this is not true. Manage your time wisely.

Kebiasaan memepetkan tenggat waktu tersebut sebetulnya dimulai dari akar permasalahan procrastinate sick yang sudah agak mengkhawatirkan. Namun alhamdulillah sedikit-sedikit saya mulai sadar akan syndrom itu dan dengan fokus penuh berusaha memberantasnya.

Post ini tentang cerita persiapan Monbukagakusho Scholarship yang cukup pendek. Monbukagakusho adalah beasiswa dari pemerintah Jepang yang diberikan kepada beberapa negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Jepang, tentu saja Indonesia adalah salah satunya. Beasiswanya pun bervariasi mulai dari tingkat Diploma, S1, S2, S3 hingga post doctoral.

Dulu keinginan untuk bisa sekolah ke Jepang sangat menggebu-gebu. Beberapa faktor pemicunya adalah kekaguman terhadap kultur orang-orang Jepang seperti musik, film, budaya, termasuk etika dan juga penguasaan mereka terhadap teknologi dan ilmu pengetahuan. Era penjajahan konvensional sebagian besar memang sudah lewat. Tapi seharusnya jika berpikir ternyata kita tetap dijajah dengan mode penjajahan baru. Paling nyata adalah invansi produk. Indonesia market yang sangat wah untuk bangsa mana pun bisa menjajah. Silakan cek merk mobil anda, liat merk motor balap anda yang canggih dan cukup mahal, lihat juga merk laptop, kemudian ingat sushi enak yang anda makan minggu lalu di Grand Indonesia? Ok stop sepertinya post ini sudah agak melebar. :p

Kembali masalah motivasi studi ke Jepang. Dulu saya berkomitmen mutlak jika bisa kuliah lagi ke luar maka pilihan pertama adalah Jepang. Namun belakangan nampaknya komitment tersebut sudah agak bisa dikompromikan. Studi ke mana saja boleh, yang penting ilmunya berkah, tapi ya jika bisa di negara yang menyenangkan untuk dijelajahi. As some of you might know, I am traveling addict that rarely to travel. :p Namun memang tak terbantahkan Jepang is the best. Meski kemarin belum lama sempat gempa, dan biasanya gempa adalah bagian kehidupan sehari-hari di sana komitmen untuk mencoba peruntungan bisa kuliah ke sana masih ada biar tak semutlak dulu.

Sekitar April 2011 kedutaan Jepang di Jakarta membuka Monbukasho untuk research student. FYI, untuk bisa kuliah S2 di Jepang melalui Monbukagakusho, kita harus melalui fase yang disebut research student. Lamanya sekitar 6 bulan. Selama masa ini hal yang harus kita lakukan adalah Belajar Bahasa Jepang dan mempersiapkan topik penelitian master. Pada akhir masa research student barulah akan diputuskan apakah kita layak lanjut ke S2 atau tidak. Dibuka April, aplikasi harus masuk kedutaan paling lambat 11 Mei 2011. Alhamdulillah sebelumnya sudah melamar beasiswa depkominfo sehingga beberapa persyaratan penting seperti TOEFL (meski hanya institusional TOEFL) dan ijasah yang sudah diterjemahkan sudah di tangan. Merasa sudah aman dan berhubung saya deadline lover, maka saya hobi berleyeh-leyeh ria hingga ujung tanduk waktu. Hingga agak panik ketika harus mempersiapkan 2 recommendation letter. Recommendation letter pertama saya minta dari dosen yang cukup dekat dengan saya. Demi recommendation letter ini pula saya harus rela ngebut malam-malam Sudirman – UI Depok – Jonggol untuk mendapat tanda tangan di surat rekomendasi yang sudah dikirim oleh dosen saya itu via email. Recommendation letter kedua adalah dari employer. And this the bit part. Tak bermaksud suudzon tapi HRD kantor agak kurang kooperatif. Apalagi untuk urusan yang mereka pikir tidak memberikan manfaat bagi mereka. Saya sudah meminta surat rekomendasi sejak 3 minggu sebelumnya. Namun menjelang tenggat akhir hampir tak ada gubrisan sama sekali. HRD beralasan bahwa direktur tak ada di tempat dan tak bisa meminta tanda tangan. Beda jika yang memerlukan urusan adalah pekerja ekspatriat. Semua terlihat selalu lancar. Hmm I hate discrimination and will not to act like that to other. Ya sudahlah tak patah semangat akhirnya saya meminta tolong supervisor saya saja yang memberi rekomendasi. Alhamdulillah beliau setuju. Meski akhirnya surat rekomendasi tersebut harus melenggang tanpa stempel kantor tak apalah. Jika memang rejeki ya pasti masuk, jika belum masuk ya belum rejeki. 🙂

Semua pesyaratan yang berkaitan dengan pihak ketiga sudah siap. Tinggal dokumen-dokumen personal yang harus saya siapkan. Application Form, motivation of study dan research topic. Saya cukup ingat mempersiapkan itu semua satu malam sebelum submit aplikasi di tanggal deadline. Yup saya deadline lover. Maka dengan Bahasa Inggris yang acak kadut malam deadline tersebut saya bergerilya menyelesaikan semua dokumen tersebut. Hal tersulit adalah research topic. Dalam semalam saya harus mencari topik apa yang jika seandainya saya bisa lulus sampai kuliah akan saya jadikan topik penelitian. Jadi malam itu saya bergerilya masuk ke web-web universitas Jepang, kemudian ke portal-portal research mencari topik computer science. Akhirnya satu topik pun melintas di kepala saya. Semantic web. Untuk dokumen research topic yang saya submit bisa dilihat di sini.

Rabu 11 Mei 2011, tenggat terakhir Monbukagakusho Research Student. Beruntungnya punya kantor di sekitaran Sudirman adalah mudah untuk pergi ke mana-mana. Kedutaan Jepang ada di Thamrin jika dari kantor 2 kali koprol harusnya nyampe. :p Sekitaran jam makan siang dengan semua dokumen yang sudah rapih rangkap 4 saya ngacir ke Thamrin. Berhubung Jakarta kurang bersahabat dengan pengendara motor dan Velfire yang saya indent belum kunjung datang saya memutuskan naik 3/4 orenji bus (baca: Metro Mini). Sampai di Kedutaan Jepang dalam 10 menit langsung ke gerbang kedutaan. Celaka 19, ternyata sedang istirahat makan siang dan baru buka lagi pukul 13.30 padahal saat itu baru pukul 12.15. Waduh nunggu satu jam lebih. Akhirnya saya putuskan ngider dulu ke EX karena kebetulan teman-teman sedang makan siang di Grand Indonesia. Mengatur jam saya kembali tepat 13.30 ke kedutaan Jepang. Jika melihat kedutaan Jepang saya selalu teringat Takeshi Castle. Reality show yang cukup terkenal. Temboknya sangat tinggi. Dan terkadang juga saya berimajinasi mereko memarkir satu robot Patlabor atau Gundam di dalam kedutaan. :p

Masuk ke kedutaan seperti umumnya masuk ke gedung-gedung lain, titip ID, dapat visitor card, saya langsung naik ke ruang perpustakaan di lantai 2. Sudah cukup ramai para aplicant yang mengantri. Ada sekitar 8 orang yang mengantri. Menunggu sekitar 5 menit saya pun sampai depan loker penyerah berkas. Petugas langsung memeriksa kelengkapan dan lengkap. Mission accomplished! Langsung balik ke kantor naik Toyota Velfire Metro Mini lagi. Sebelum pulang sempat ngobrol-ngobrol dengan aplicant lain dan tukeran nomor hp.

Sekitar 5 tahun kemudian  1 bulan kemudian.

Di website kedutaan Jepang sudah dicantumkan jadwal ujian tertulis akan dilaksanakan 12 Juni 2011. Artinya bagi yang lulus administrasi berkas seharusnya akan dihubungi sebelum tanggal tersebut. Sejak 9 Juni saya sudah cemas-cemas harap. Meski keinginan ke Jepang tidak terlalu mutlak tapi rasanya sedih jika gagal. Akhirnya saya sms kenalan aplicant yg tempo hari bertemu saat menyerahkan aplikasi. “Iya mas saya baru saja ditelpon beberapa menit lalu untuk hadir tes tertulis”. Boink boink. Alhamdulillah kata hati saya kepada teman saya tersebut. Namun tak ingin menutup asa. Masih ada 3 hari menuju 12 Juni 2011. Siapa tahu 12 Juni pagi saya ditelpon mendadak untuk ikut tes tertulis. Siapa tahu berkas saya lulus tapi terselip. Siapa tahu saya diundang tes gelombang kedua. Siapa tahu saya langsung loncat ke interview tanpa tes tertulis. Siapa tahu siapa tahu siapa tahu…. Namun sekarang sudah 15 Juni 2011 dan tak ada seorang pun dari kedutaan Jepang yang menelepon. Ya sudahlah memang belum rejeki. Namun hal menarik justru terjadi tanggal 10 Juni 2011. Sebetulnya agak down juga ketika merasa gagal tidak diundang tes tertulis Monbukagakusho. Namun Allah Maha Besar, Jumat 10 Juni 2011 itu di sore hari saya justru mendapat email dari Depkominfo yang menyatakan saya diundang wawancara Kamis 16 Juni 2011 (nanti saya akan tulis postnya jg). Jadi itu juga yang menjadi alasan saya tidak terlalu terpukul ketika tak diundang tes tertulis. Ya inilah hidup. Sebagian besar masalah pilihan. Memilih memulai atau diam saja. Lebih baik gagal paling tidak sudah mencoba dari pada tak pernah mencoba sama sekali. Tapi juga tentu saja lebih baik bisa berhasil dan sukses setelah mencoba. We never know. 1. Ikhtiar, 2. Doa, 3. Serahkan pada yang di atas.