Hari Gajian

Hari gajian nih. Tadi pagi sekretaris bos nelpon.

Sekretaris Bos (SB) “Halo Jon…”
Jon: “ya halo”
SB: “Gimana udah buka rekening mandiri atau BCA?”
Jon: “Udah…” (sambil nyengir bahagia dan bangga)
SB: “Berapa nomor rekeningnya?”
Jon: “Aduh aku lupa. Nanti aku sms deh”
SB: “Ke mana? Fleksi atau XL?”
Jon: “aku nggak tau dua-duanya”
SB: “ya udah ke sini ada 081 .. bla bla bla …”
Jon: “oke” Langsung gue tutup.

Biar yakin gue nelpon my sister di rumah buat ngeliatin nomor rekening di buku tabungan. maklum baru buka rekening, belum hafal nomornya. Jangan sampai dong salah nyebut nomor, bisa-bisa duitnya nyasar kemana-mana. Gawat jadinya kalo gitu.

Ya udah sesudah sholat jumat gue langsung buka internet banking mandiri. Login pake pin dan username. Pilih cek saldo. Wow ternyata udah masuk. Senangnya, rekeningku menggemuk lagi. langsung keluar deh beberapa list di kepala. Daftar barang-barang yang harus dibeli, halah… Hardisk laprop, dompet, ikat pinggang, tas laptop, bla bla… bla..

Nggak deh. save money Jon. Kumulin biar jadi segunung. Oh ya buat semaunya selamat menjalankan ibadah puasa ya. 🙂

Harus lebih banyak belajar..

Oh men, masih banyak sekali hal yang belum aku ketahui di luar sana.

Tadi sore baru saja meeting dengan freelance developer untuk project yang akan dikerjakan kantor. Platform projectnya adalah Java. Semacam software Point od Sales system. Kliennya adalah salah satu perusahaan yang cukup besar di Indonesia.

Di meeting tersebut aku cuma bisa geleng-geleng aja. Ternyata pengetahuanku masih sempiiiit banget. Masih perlu belajar banyak hal. Si freelance developer tadi nampaknya sudah sangat ekspert di bidang software developing. cangging baget deh. Gue harus bisa lebih hebat dari dia. Cmon Jon lo pasti bisa. Tapi harus sabar, telaten dan capailah selangkah demi selangkah.

Pagi Jakarta

Jl. Gatot Subroto terlihat dari Lantai 17 Menara Mulia. And life always flow….

Parkiran menara mulia yang muahal dengan latar rumah-rumah penduduk. Kontradiksi metropolitan. Gedung-gedung megah menjepit perumahan masyarakat dengan segala permasalahannya.

Kalo ini snack pagi gue. Tadi jam 10 tiba-tiba perut keroncongan. Jadi lansung ke basemen deh, nyari sesuatu yang bisa dikunyah. Hasil pencarian menemukan roti tawar, cake meses, kacang2an ditambah teh manis panas (kalo tehnya bikin sendiri di pantri). 6500 pun keluar dari dompet. 🙂

My Lunch Box

Karena hidup sekarang semakin susah (segitunya), sejak gawe aku bawa lunch box setiap hari. Kecuali nanti saat bulan puasa tentunya. Yah biar bisa kumpul-kumpul duit jadi segunung. Kalau nggak gitu biaya hariannya jadi boros banget. Foto berikut adalah menu makan siangku hari ini.

Menunya: ayam blender goreng pake tepung (maksudnya nugget), lele goreng, sayur kangkung plus sambel kecap. Minumnya teh manis panas. Lumayan kan, kalo di warteg bisa sampai 10.000 lebih harganya. 🙂

Capailah, selangkah demi selangkah

Pagi ini tiba-tiba saya berpikir, dalam beberapa tahun dan bulan belakangan ternyata kehidupan saya tidak terlalu banyak bergerak maju. Saya mungkin berhasil lulus kuliah setelah 4 setengah tahun yang melelahkan. Saya mungkin berhasil mendapat rutinitas kerja tepat 4 bulan setelah wisuda. Saya mungkin berhasil membeli laptop dengan uang sendiri. Saya mungkin berhasil berangkat 2 kali ke Surabaya untuk mengikute kontes software dan elektronika meski ternyata gagal pula 2 kali untuk meraih gelar juara harapan sekalipun. Saya kembali tersadar saya belum kemana-mana.

Manusia pasti mempunyai mimpi. Bila ada yang tidak barangkali taraf kemanusiaannya harus dipertanyakan. Seperti yang pernah saya tulis juga banyak sekali hal yang dimulai dari mimpi. Semua pencapaian yang pernah dilakukan manusia pada awalnya juga adalah mimpi.

Saya secara alamiah adalah pemimpi yang ekstensif dan sebenarnya pemimpi yang kronis dan lebih sesuai disebut penghayal. Bedanya, pemimpi memiliki keinginan mencapai sesuatu dan bersedia membayar harga untuk menuju ke sana. Penghayal juga memiliki keinginan mencapai sesuatu namun ketika tahu jumlah harga yang harus dibayar ia pun mundur sambil terus menerawang pada khayalan-khayalannya.

Banyak sekali keinginan yang saya miliki. Banyak sekali mimpi yang saya punya.Ingin ini, itu dan sebagainya. Namun ada masanya ketika usaha diperlukan untuk menggapai tujuan-tujuan itu, saya bersikap lemah pada diri sendiri. Memilih tidur daripada belajar. Memilih mengerjakan yang lain daripada menyusun draft proposal. Melakukan hal yang tidak jelas daripada belajar bahasa. Intinya saya masih terllau permisif pada diri sendiri. Padahal saya pun yakin dengan sangat bahwa untuk mencapai segala sesuatu butuh pengorbanan.

Faktor pertama menghambat pemimpi mencapai tujuan adalah tadi, tidak mau membayar harga. Faktor keduanya adalah ketidaksabaran. Sangat sering kita menginginkan sesuatu sekaligus. Ingin punya ini, punya itu, bisa ini, bisa itu. Ingin semuanya tercapai secara serempak, instan dan mudah. Pada saat baru membeli buku ingin bisa menguasai isi buku itu dengan cepat. Dibaca dengan ala kadarnya halaman demi halaman dengan harapan bisa mengerti semua isi buku itu secepat mungkin. Ingin bisa menguasai bahasa asing sekaligus juga. Bahasa Inggris pun belum lancar, sudah ingin bisa bahasa ini, bahasa itu dan bahasa-bahasa yang lain. Kamuspun sudah bertumpuk, buku tata bahasa berserakan, semuanya terabaikan tak sempat tersentuh.

Pagi ini saya pun tersadar. Keinginan jelas diperlukan. Kita pun harus siap melakukan pengorbanan. Dalam menjalaninya dibutuhkan kesabaran. Capailah apapun itu selangkah demi selangkah. Kita pun akan tercengang saat suatu masa di depan dan menengok ke belakang ternyata kita sudah bergerak maju dari sebelumnya.

Busway: Rapid Mass Transportation atau Suffer Mass Transportation?

Naik busway (maksudnya Trans Jakarta) mungkin cepat (mungkin: artinya belum tentu cepat). Tapi kalau transitnya harus sampai 7 jam kayaknya nanti dulu deh (ini sih dilebih-lebihin biar heboh aja).

Kisahnya pun terjadi kemarin. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama saya kembali menggunakan transportasi umum selain untuk berangkat dan pulang kerja. Senin sore kemarin adalah jadwal saya mengajar. Selain sebagai pegawai swasta, saya adalah freelance private teacher sejak jaman kuliah dulu. Mengais rejeki dari menjelaskan cara menghitung momentum, percepatan, kalor jenis, turunan, kalkulus dan sebagainya ke anak sekolah di rumah mereka.

Malas bercapai-capai ria menggunakan motor saya memutuskan naik bis. Sebenarnya tidak masalah jika hanya untuk pulang pergi kantor. Walau naik umum transportasinya cukup nyaman. Hanya naik angkot (baca angkutan kota) satu kali terus dilanjutkan naik Patas AC. Namun kemarin saya harus berangkat ke Cempaka Putih dari kantor klien di Semanggi. Segan naik Metro Mini/Kopaja, saya memutuskan naik busway (maksudnya Trans Jakarta lagi). Menuju Cempaka Putih saya harus naik busway koridor Blok M – Kota lalu menyembung koridor Harmoni – Pulo Gadung transit di Harmoni. Pukul 17 lebih sedikit saya meluncur dari kantor. Karena halte terdekat adalah Halte Bendungan Hilir (di depan Kampus Atmajaya JL. Sudirman) saya pun harus berjalan dulu dari Menara Mulia sekitar 300 meter. Lumayan agak berkeringat.

Sampai di Halte Bendungan Hilir langsung saya sodorkan uang lima ribu di loket tiket dan mendapat kembalian uang seribu dilipat berbentuk segitiga dengan lima ratus receh terselip di dalam segitiga itu. Masuk ke halte jalur ke arah Kota terlihat sudah dipenuhi cukup banyak orang yang menunggu. Selang 2 atau 3 bis saya baru bisa naik, karena dari tadi bis penuh terus. Bis yang saya naiki pun penuh-penuh juga sih, la wong jam pulang kerja gitu loh. Setelah masuk bis saya langsung berusaha mencari pegangan dan posisi yang enak. Ternyata setelah mencoba-coba beberapa posisi tetap tidak ketemu posisi yang enak, pasrah sambil senderan di tiang, di kepung penumpang lainnya. Yah tapi gak sumpek-sumpek banget sih, banyak cewex-cewex kantor pada pulang kerja juga :).

Ya udah sepanjang jalan udah sabar aja, didorong, disenggol, dipontang-panting (kayaknya kebanyakan supir busway ga bisa nyetir, ga bisa gitu ngerem dan ngegas dengan halus). Setelah sekitar setengah jam akhirnya sampai di Halte Harmoni. Dan perjuangan pun belum usai malahan baru dimulai kayaknya. Melihat orang-orang numplek kayak ikan asin yang sedang mengantri bis ke arah Pulo Gadung. Oh my God. Dengan penuh peluh serta ga berhenti didorong-dorong saya berusaha bertahan mengantri naik ke bus yang lama banget datangnya. Setelah dihitung-hitung hampir setengah jam ngantri akhirnya bisa naik bis entah bis yang keberapa. Sepanjang jalan masih terus didorong dan digencet. Selang sekitar 20 menit akhirnya sampai juga di Cempaka Putih. Pas turun kakiku sampai gemeteran karena pegel dan capek. Langsung turun dari bus, nyebrang halte dan nyambung naik Mikrolet 53 ke arah Tanah Tinggi kemayoran. Di busway tadi sempat kepikiran juga merasa nggak kuat dan pengen langsung pulang ke rumah aja. Maksud hati nggak naik motor biar gak capek, eh malah capeknya banget-bangetan.

Ya udah setelah kelelahan sampai di rumah murid, ngajar sampai jam 9 malam. Pokoknya malam itu saya sampai di rumah jam 11. Cuci muka sebentar terus langsung blek tidur, karena badan udah ga ada rasanya. Nampaknya, nggak-nggak deh lagi naik publik transportation kalo nggak kepaksa banget. Yang masih herannya kok banyak yah, orang-orang yang bertahan dengan standar hidup seperti tadi??

Spirit of Monday

Selamat pagi!

Senin pun datang kembali. Saatnya kembali bekerja.

Banyak orang kurang suka saat harus kembali bertemu dengan hari senin. Kembali menghadapi beban. Kembali menghadapi tekanan. Jalanan juga terasa lebih macet (memang sebenarnya sih). 🙂

Hari ini tidak seperti biasa. Jam setengah enam berangkat dari rumah, jam 8 sudah sampai di Komdak, Semanggi. Oh ya seminggu ini sepertinya masih di Menara Mulia. Agak kangen juga dengan ofis di Kebayoran yang sepi.

Sesampai di Komdak langsung nyebrang jembatan penyebrangan lalu jalan dikit ke Menara Mulia. Masuk ke lobi, nitip KTP tuker dengan Visitor card. Tas diperiksa gak niat sama  satpam (habis meriksanya cuma buka resleting trus ditutup lagi, kalo gue bawa bom kayaknya ga bakal ketauan). Langsung ke Rest Room (orang kampung bilangnya toilet) sebentar, cuci muka. Trus turun ke basement beli snack. Balik lagi ke lobi langsung ke atas ke lantai 17. Sampe di ofis masih kosong melompong. Padahal udah setengah sembilan.

Have a good day buat semua. Lagi fokus nyiapin beberapa project nih. Ada IWIC 2008. Free Open Source Software Contest Depristek. Job dari bos sama freelance project dari dosen gue. Semangat Jon!