Etika berpendapat di Internet

Internet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari berbagai aspek kehidupan kita. Hal tersebut semakin niscaya saat internet sekarang ada di era yang disebut web 2.0 seperti sekarang. Web 2.0 punya definisi teknis dan non teknis. Kita akan membahas pengertian non teknisnya saja. Berbeda saat pada masa awal internet, sebagian besar konten dibuat oleh pemilik web internet masing-masing. Sifatnya satu arah. Dari web ke user. Pada era web 2.0 konten internet sebagian besar justru berasal dari user internet sendiri. Sifatnya dua arah. User menggenerate konten, mempublish di internet kemudian user-user lain dapat menikmati konten-konten tersebut. Bisa saling mengkomentari dan mengidentifikasi konten dengan tag-tag tertentu.

Bentuk-bentuk spesifik implementasi web 2.0 ada beberapa contoh. Pertama adalah forum internet sebagai wadah berkumpulnya orang-orang dengan interest yang sama saling bertukar pikiran. Contoh yang paling besar di Indonesia ada kaskus. Kedua web log, semacam jurnal online yang diupdate dalam jangka waktu tertentu. Contohnya wordpress, blogger. Ketiga photo dan video sharing. Misalnya flickr dan youtube. Keempat social networking. Yang paling booming tentunya facebook, twitter, mulai naik daun juga foursquare, ada mixi di Jepang sana dan di lokal kita pun punya koprol yang belum lama diakuisisi yahoo.

Tulisan ini spesifik akan membahas masalah etika yang idealnya dipatuhi sebagai hukum yang disepakati bersama dalam proses generating konten. Berbeda dengan dulu, sekarang setiap orang bisa mempublish apa pun yang ia mau ke internet dengan teramat sangat mudah. Misalnya tulisan di blog ini, publish foto di picassa, video di youtube, atau yang paling sederhana update status di facebook dan berkicau di platform micro blogging twitter. Bahkan itu semua bisa dilakukan tanpa menyalakan komputer, bisa melalui handphone biasa dan dapat dilakukan dari mana saja selama ada koneksi internet. Namun kemudahan publikasi tersebut terkadang lupa diiringi dengan etika berpendapat yang benar. Selayaknya berpendapat di dunia nyata (dunia non maya), beropini dan membuat konten di dunia maya pun harus menggunakan cara yang tepat. Menghormati dan tidak sengaja menyinggung orang lain. Contohnya, publish tulisan di blog janganlah berupa tulisan yang merugikan atau menjelekan orang lain. Demikian juga dengan komenting di forum harus menggunakan cara yang sopan dan benar. Publish foto dan video juga jangan berupa konten yang terlarang semisal pornografi. Termasuk beropini pendek di situs microblogging pun jangan asal jeblag.

Salah satu kasus yang paling populer di twitter dalam masalah etika berpendapat/menggenerate konten ini justru terjadi pada Mario Teguh salah satu motivator yang sangat terkenal saat ini. Pada Sabtu 20 Februari 2010 di akun twitter Mario membuat posting “Wanita yang pas untuk teman pesta, clubbing, begadang sampai pagi, chitcat yang snob, merokok dan kadang mabuk, tidak mungkin direncanakan jadi istri.”. Meski saya pribadi merasa opini tersebut tidak terlalu salah namun jika dipikirkan lagi dengan masak agak kurang tepat juga cara dan tempat penyampaiannya. Ada kesan terlalu menghakimi sepihak. Setelah kejadian itu beramai-ramai orang menghujat akun Mario Teguh yang kemudian berujung ditutupnya akun tersebut.

Kasus seperti itu pun bisa terjadi pada kita. Tentunya dengan lingkup yang lebih kecil. Pelajaran berharga yang harus dipetik, berpendapat di mana pun, dengan media apa pun harus dengan cara yang benar dan tidak menyinggung orang lain dengan sengaja. Apalagi jika proses berpendapat tersebut dilakukan di media di mana semua mata bisa melihat dan semua opini bisa meledak tanpa arah. Jika ada sesuatu yang perlu diperjelas akan lebih baik dilakukan melalu PM (private message) menurut istilah agan-agan di kaskus atau japri (jalur pribadi). Dibicarakan di luar tanpa harus mempublish sesuatu yang bisa memancing kesalahpahaman. Lidah itu lebih tajam dari pisau demikian juga jari kita bisa lebih berbahaya dari golok :p. Jadi sebelum berbicara atau mengetik sesuatu sebaiknya dipikirkan dengan baik-baik. Tulisan ini tidak bermaksud menyerang siapa pun. Jika memang perlu dilakukan tukar pendapat saya akan sangat menghargainya. Regards. 🙂

Make it Happen

Mungkin kau kecewa
Semua datang yang tak kau minta
Namun ini semua kenyataan kita

Waktu kita lelah dalam menjalani
Semua macam kisah dalam hidup ini
Kadang kita lemah hanya mampu untuk pasrah
Saat kenyataan ga sejalan dengan harapan
Saat keyakinan hilang dalam kepahitan
Tetaplah tabah setidaknya kau mencoba
Menjadi lebih baik dalam jalani hidup ini
Janganlah resah tiada waktu menjawabnya

Kau harus bersabar
Semua indah pada waktunya

Sebenarnya Make it Happen adalah judul campaign di 2011 yang dicetuskan dari Billy Bone motivator yang menulis Young on Top. Kalimatnya sederhana namun sangat mengena. Setiap orang pasti memiliki kemauan. Kemudian pastinya setiap orang ingin kemauannya bisa terwujud. Lalu, pada dasarnya untuk mencapai kemauannya tersebut setiap orang akan merencana. Namun sayang seribu sayang (kalimat yang sangat jadul sekali), sebagian besar orang akan hanya berusaha sedikit sekali for make it happen. Bahkan sebagian besar orang tersebut tidak melakukan apa-apa dan hanya berharap ada keajaiban yang akan mewujudkan keinginannya begitu saja dari langit. Namun kawan, ini adalah dunia nyata ketika banyak keinginan tidak sesuai dengan kenyataan, ketika semua hal harus diupayakan. Terkadang, (seperti kata favorit saya) dengan darah dan air mata.

Langkah pertama dari untuk mewujudkan make it happen adalah, lakukan sekarang juga, jangan mencari alasan, menunggu waktu yang tepat, atau menunggu sumber daya yang tepat. Do it now and do the best. Saya adalah procrastinator (orang yang suka menunda hal-hal prioritas tinggi dan mengganti dengan hal-hal berpriotas rendah) yang kronis. Sebagai contoh kasus yang bisa dianalisa saya akan membahas tentang menulis buku. Sejak dulu salah satu cita-cita saya adalah menulis buku. Salah satu petikan yang saya karang berkaitan dengan hal tersebut adalah you only got 1/3 life when you born, another 1/3 when you married and only got complete life after writing a book. Namun sudah berapa bukukah yang sudah saya tulis? Negatif tiga. Ya saya belum menulis satu pun padahal dari dulu punya keinginan yang sangat berapi-api. Kenapa? Karena saya ingin menulis buku namun tak pernah make it happen. Saya hanya berputar terus di wacana menginginkan namun tidak beraksi untuk mewujudkan.

Dari sana sekarang bergerak ke langkah kedua, lakukan sesuatu sedikit-sedikit namun disiplin, kontinyu, konsisten dan progresif. Menulis sebuah buku sebenarnya bisa dilakukan dalam waktu luang yang cukup sedikit saja. Cukup 1 jam sehari atau bahkan setengah jam sehari. Bisa juga dengan target 1000 kata perhari atau malahan cukup 500 kata perhari. Dengan adanya measurement tersebut kita bisa mengevaluasi progress yang kita lakukan. Sudahkah saya melakukan itu? Jawabannya belum. Sebagai manusia biasa yang malasnya lebih kuat dari rajinnya untuk filosofi ini pun saya terus saja mencari alasan untuk mulai beraksi. Selalu mencari alasan untuk mau berdisiplin.

Langkah ketiga, cari teladan dan orang yang bisa mensupport. Teladan adalah orang yang akan menjadi panutan kita untuk mencapai sesuatu. Ingin menulis buku kita bisa mencari teladan penulis yang baik. Kita bisa membaca karya-karyanya. Mempelajari gaya menulisnya. Namun tetap dalam eksekusi jangan sampai terkesan menjadi penjiplak orang lain. Kita harus tetap bisa menjadi individu yang unik. Kemudian kita pun memerlukan orang yang bisa mendukung kita. Seperti saya seringkali bercerita, antusiasme manusia itu fluktuatif. Bisa sangat positif dalam satu waktu, namun bisa terjun ke palung negatif paling dalam tak lama kemudian. Support dari orang lain akan sangat berharga meski itu hanya berupa ucapan kata-kata “semangat!”. Apalagi jika pemberi support tersebut adalah orang yang penting bagi kita. Semisal istri, pacar, orang tua, guru atau sahabat.

Sementara itu dulu. Kita rangkum sejenak untuk make it happen kita harus mulai dari lakukan sekarang juga, lakukan sedikit-sedikit namun disiplin, kontinyu, konsisten dan progresif, serta yang terakhir cari teladan dan orang yang siap mendukung kita. Mohon koreksi dan masukan jika dirasa ada yang kurang (pasti sangat banya). Terakhir petikan bait di awal post adalah lirik lagu Saint Loco yang berjudul Santai Saja. Lagunya sangat ngerap namun dengan rhytem gitar yang tetap cukup terasa. Dan isinya cukup kontekstual dengan tulisan pagi ini. Semangat! Make it happen! 🙂

Ketika Belajar dari Kesalahan Seringkali Dilebih-lebihkan

Saya sedang membaca Rework buku dari Fried dan Heinenmeir. Buku tersebut adalah sebuah buku bisnis yang sangat praktis. Saya mau sedikit menguraikan sedikit konsep gagasan yang saya dapat dari chapter awal buku. Semoga dengan menguraikan, saya bisa sedikit membagi apa yang saya peroleh dan membuat saya bisa memahami konsep itu lebih baik.

Hingga kemarin saya selalu percaya, bahwa belajar dari kesalahan adalah hal yg dapat memicu kita utk semakin meluncur ke depan untuk menjadi lebih baik lagi. Namun setelah membaca Rework sepertinya paradigma itu tidak terlalu tepat dan sering kali dilebih-lebihkan. Failure will not bring you further. You will be still in same places. Sometime you will be drawback several or more steps. Kegagalan itu bukan jalur yang benar menuju keberhasilan.

Hal yg lebih tepat adalah, justru keberhasilan yg akan membawa kita lebih maju pada keberhasilan berikutnya. Mengkompromikan kegagalan berarti membuat kita sejak awal berpikir dalam batasan “mungkin saya akan gagal”. Siap gagal mungkin terdengar bagus, namun jika dipikirkan ulang, tidak bagus sama sekali. Oke saya setuju memang kita akan belajar sesuatu dari kegagalan. Bagi anda yang kurang setuju, mungkin akan mengangkat cerita Thomas Edison saat mengalami kegagalan ribuan kali dalam memilih filamen bola lampu yg paling tepat. Pada dasarnya Edison sendiri mengatakan saya tidak gagal, saya hanya menemukan ribuan cara yang tidak berhasil. Dari sana kita bisa melihat kegagalan hanya akan membuat kita belajar apa yang harusnya tidak kita lakukan. Namun seberapa bergunakah itu? Dalam ranah penelitian mungkin masih berguna, namun bagaimana dalam ranah bisnis? Tetap saja setelah gagal kita tidak tahu apa yang harus dilakukan berikutnya.

Belajar dari keberhasilan justru adalah hal yang paling tepat. When something succeds, you know what worked, and can do it again, and for next time even you can do it better. Kegagalan tidak selalu harus menjadi awal dari kesuksesan. Jadi tak usah merasa takut dalam mencapai sesuatu pasti harus selalu diawali kegagalan. Justru banyak juga kasus ketika proses pencapaian berjalan sangat mulus, diisi keberhasilan demi keberhasilan dan setiap keberhasilan itu justru memicu keberhasilan lain dengan lebih mudah dan menghilangkan kemungkinan kegagalan karena kita tahu apa yang benar dan apa yang membuat sesuatu salah.

Sebagai penutup saya akan tulis petikan kalimat yang sangat mengena mengenai pembahasan ini. Evolution doesn’t linger on past failures, it’s always building upon what worked. Kita juga harus seperti itu.

Semoga berguna, jika tulisan ini masih kacau balau, harap maklum, saya masih belajar. Mohon maaf juga kalau banyak typos, ngetik dan publish dari hp.

Tanda-tanda Cowok Shaleh

Sebenarnya ada beberapa draft post di hardisk. Namun, saya mengalami kebuntuan saat hendak menyelesaikan beberapa draft post yang lain. Akhirnya saya justru merelease post pendek ini. Post ini adalah sebuah uraian pendek dari excerpt yang dikirim dalam message dari seorang sahabat. Biar bisa lebih bermanfaat saya republish di sini sekaligus sedikit memberi komentar. Semoga berguna.

Tanda-tanda cowok sholeh adalah sebagai berikut. Ia selalu terlihat selalu istiqamah beribadah, sholat tepat waktu, senang berjamaah di masjid dan bacaan Alqur’annya bagus. Wajahnya nyaman ditatap karena terbiasa dawaamul wudhu (mnjaga wudhu). Bagian pertama ini sepertinya cukup jelas dan tidak perlu diuraikan.

Tanda-tanda berikutnya, orangnya rendah hati, perhatian, dermawan, bicaranya santun dengan kalimat pilihan. Tak ada manusia mana pun yang berhak sombong. Sombong itu penyakit yang sangat buruk. Sombong menjadikan orang merasa puas dalam mencapai sesuatu karena ia akan merasa cukup. Sombong juga akan memicu salah satu penyakit hati lainnya. Iri. Senang melihat orang lain susah, susah melihat orang lain senang. Jadi jika tidak rendah hati, berarti kita belum shaleh. Perhatian adalah watak natural yang harus terpelihara bagi seorang pria yang baik. Pada waktunya pria itu akan menjadi suami dan ayah. Perhatian akan menjadi hal yang teramat penting pada titik tersebut. Kedermawanan pun sama pentingnya. Orang baik adalah orang yang ringan tangan dalam menolong. Namun meski demikian ia tak akan pamrih atau riya. Pria yang baik akan selalu berkata-kata baik. Tidak kasar apalagi sampai bermain fisik.

Tanda-tanda selanjutnya adalah, pria yang baik tidak menatap bukan mahramnya, lebih banyak menunduk saat bicara. Pria semacam itu selalu berusaha rapi bersih dan wangi. Ia adalah orang yang punya kharisma, sangat taat, dan dia tidak akan menyentuhmu hai wanita kecuali setelah halal. Bagian terakhir ini barangkali hal yang cukup sulit. Apalagi era modern seakan menjebak orang-orang untuk meninggalkan nilai-nilai luhur agama dan budaya yang dengan anehnya dianggap ketinggalan jaman. Dulu saya sering heran dengan ketatnya aturan Islam dalam masalah pergaulan pria dan wanita. Namun setelah dipikirkan dengan mendalam sepertinya aturan tersebut memang benar adanya. Aturan itu ada untuk menjaga kehormatan dan kemulian manusia itu sendiri. Membahas masalah tampil bersih rapi dan wangi cukup jelas. Saya mulai menerapkan ini dengan membeli parfum barusan sekali. Meski agak sempat berdebat hati mengenai boleh tidaknya menggunakan parfum beralkohol, toh akhirnya saya membeli juga. Lagi pula parfum tersebut tidak akan saya minum. :p

Pertanyaannya sudahkah kita seperti itu? Saya pribadi menilai saya masih jauh dari idealitas tersebut. Namun saya rindu juga untuk bisa mencapai kualitas seperti itu. Bisakah? Ya tergantung dari niat dalam hati dan komitmen untuk mau istiqamah. Ikhtiar untuk mencapai idealitas tersebut tentunya tidak mudah namun juga tidak mustahil. Dunia ini selalu menawarkan pasangan opsi dalam hal-hal umum tertentu. Diantaranya baik buruk, susah mudah dan beribu pasangan opsi lain yang serupa. Tinggal kita mau memilih yang mana. Namun setiap opsi akan punya konsekuensi tersendiri. Sekali lagi, semuanya tergantung dari niat. Namun niat baik pasti akan mendapat jalan kemudahan. Catatan terakhir, nama saya Jon, bukan Sholeh. :p

Credit for my sister.

Menuju Aplikasi Beasiswa Depkominfo 2011 – Part 2: TOEFL dan TPA

Yang belum baca part 1 bisa dilihat di sini.

Tanpa terasa waktu tes pun tiba. Menjelang tes saya bangun pagi sekali. Lebih baik datang kepagian dari pada kesiangan. Maka dari itu Sabtu 26 Maret 2011 saya ngibrit sejak ba’da shubuh menuju Wisma PKBI di kebayoran tempat tes TOEFL berlangsung. Saking paginya saya sampe di kebayoran jam 6 pagi. Mantap lalu lintas wiken. Jonggol – Kebayoran sekitar 50 Km dilibas dalam waktu sekitar 80 menit sajah.

TOEFL baru dimulai jam 9 jadi saya bisa baca  buku TOEFL koran kompas dulu. Menjelang jam 9 peserta sudah semakin banyak datang. Haduh kok yang lain berpakaian rapi sekali. Kemeja, celana bahan, sepatu kulit. Sementara saya sendiri cuma pake polo shirt, jeans belel dan kets puma merah dekil kecintaan saya, rambut kusut, lupa pake parfum, meski tetap muka ganteng kok. Hahayy. Haduh takut-takut ga boleh masuk ruang tes lagi. Parno. Untungnya ternyata ga masalah. Oh ya jangan lupa membawa pensil 2B, pengahapus, serutan dan KTP. Pengawas tes ada sekitar 3 orang. Pemandu utamanya seorang bapak-bapak, orang batak sepertinya. Tampangnya sangat angker. Namun ternyata orangnya sangat lucu. Tes juga berlangsung sekitar 3 jam. Section pertama listening, kedua reading comprehension, ketiga grammar. Klo ga salah. Lupa urutannya. 3 jam itu juga saya melengo resah melihat bahasa alien yang ada di soal tes. Sekitar jam 12 tes bubar. Ada seorang cewek yang panik karena ternyata di 3 jam tes dia belum menghitamkan lembar jawaban. Cuma baru ngasih titik-titik di opsi yang dipilih. Pendekatan salah mbak.

Sebubar tes, sebenarnya pengen ngelayap. Namun sadar diri, besok harus TPA. Mampirlah saya ke sebuah stall satai kambing untuk refill energi. Tempat sate kambing ini adalah tempat makan siang saya saat di kantor pertama saya dulu. Cukup dekat dengan wisma PKBI. Kantor pertama saya dulu menggunakan sebuah rumah persis di sebelah rumah Alya Rohali (halah ga penting) di jalan Hang Jebat 1 Kebayoran. Selesai makan langsung cabut lagi menuju Jonggol. Setiba di rumah langsung belajar tidur siang. Sore-sore bangun nonton-nonton sebentar. Pokoknya malam itu saya belajar ga sampe 1 jam.

Minggu 27 Maret 2011 hari tes TPA. Seperti kemarin saya ngebut ba’da shubuh. Lokasi tes ada di jalan proklamasi di Gedung Yarnati. Sampe tempat tes jam 6 pagi. Kepagian sekali. Padahal tes baru mulai jam 8. Jam 8 tes mulai. Stress sangat. Soal 250 dan waktu tes hanya 3 jam. Jadi Einstein pun belum tentu lulus 100% tes edan ini. Seperti biasa waktu berjalan cepat. Tak terasa tes pun harus sudah selesai. Bubar tes, mau ngelayap tapi malah malas, padahal udah ga ada beban. Akhirnya langsung pulang lagi ke Jonggol dan tidur siang. Sekarang tinggal menunggu hasil. Jika skor TOEFL dan TPA > dari syarat minimum beasiswa, do: submit dokumen pada tanggal 4 April 2011. Jika skor TOEF atau TPA <= syarat minimum beasiswa do: nangis bombay.

Oh ya ada yang kelupaan, surat rekomendasi direktur tempat kerja. Pengurusan ini agak alot juga. Sebab saya punya HRD yang agak sangat saklek. Sang HRD keberatan dengan blanko rekomendasi beasiswa. Sementara saya ga mau ambil resiko dengan mengikuti keinginan HRD membuat surat rekomendasi versi sendiri. Namun setelah lobi bertubi-tubi, cieelah, akhirnya bisa turun juga surat sakti ini.

Kamis 31 Maret 2011, hari pengambilan skor TPA. Haduh dag dig dug sekali. Kalo skor minimum tak tercapai, hanguslah uang 250.000 saya, berikut mimpi untuk melamar beasiswa. Pada saat jam makan siang kantor saya ngibrit ke kantor diklat bapenas di jalan proklamasi. Agak muter-muter bingung ga ketemu gedung yang dituju. Akhirnya baru ketemu setelah bolak-balik muter beberapa kali. Langsung menunjukan tanpa peserta lalu saya mendapat amplop sakti berisi skor TPA. Tadinya saya mau buka setelah sholat maghrib. Maksudnya mau dibaca-bacain doa dulu biar bisa dapat skor diatas minimum. 😀 Tapi sadar diri, ga rasional. Saya buka skor pada saat itu juga. Dag dig dug. Tadaa… Alhamdulillah banget, ga nyangka. Skor minimum TPA beasiswa adalah 550 dan saya mendapat skor di atasnya. Girang sangat. Langsung loncat-loncat guling-guling teriak-teriak balik ke kantor di sudirman dengan hati riang gembira.

Jumat 1 April 2011, hari pengambilan skor TOEFL. Sebelum sholat jumat kali ini saya ngibrit ke Menara Imperium di Kuningan. Sempat bolak-balik ke kantor 2 kali karena tanda pengambilan lupa kebawa. Sampai Menara Imperium langsung ke lantai 28 kantor IIEF. Saya tunjukan tanda peserta dan kembali mendapat amplop sakti. Sumpah, pada waktu itu dag dig dugnya lebih parah. Jadi atau tidaknya saya melamar beasiswa tergantung dari skor TOEFL ITP di dalam amplop tersebut. Tadinya saya mau buka amplop itu habis maghrib juga. Namun karena penasaran langsung dibuka. Skor minimum TOEFL ITP untuk beasiswa adalah 550 dan taddaaa subhanallah skor saya menyerempet tipis di atas batas minimum. Alhamdulillah. Langsung pengen teriak guling-guling gitu. Haha… Langsung sholat jumat lalu balik ke kantor dengan hati riang gembira.

Pulang kantor setelah jalan-jalan ke JCC liat pameran travel saya mampir ke rumah sakit. Ini berkas terakhir yang diperlukan. Surat keterangan waras sehat dari dokter. Agak heran-heran juga si dokter dan suster, ada orang minta surat ketarangan sehat jam 12 malam. Ahaha. Sabtu minggu seperti biasa saya habiskan dengan tidur siang. Minggu siang jalan-jalan ke cibubur junction beli printer baru. Baru sadar printer lama ternyata sudah mokat. Baru minggu malam panik karena belum isi aplikasi online dan belum selesai membuat motivation letter dalam bahasa Indonesia mengenai kenapa kita layak mendapat beasiswa depkominfo. Dalam aplikasi online harus diisi juga kampus yang kita pilih dari daftar pilihan kampus yang tersedia. Alhasil saya begadang sampai jam 3 pagi menyelesaikan itu semua.

Senin 4 April 2011, hari deadline aplikasi beasiswa. Setelah tidur cuma 2 jam sampai jam 5 shubuh. Saya cuci muka dan langsung ngibrit ke kantor. Kalo mandi bisa muntah-muntah soalnya tidur 2 jam doank (ngeles kayak bajai padahal emang males mandi). Senin macet yang menyebalkan, berangkat jam 6 baru sampai Medan Merdeka kantor depkominfo jam 8.30. Langsung ke lantai 4 ke bagian SDM. Bertemu dengan aplikan lain lulusan ITB yang terlihat pintar. Ngiri juga dia ternyata udah dapat acceptence letter dari TU Delft di Belando. Arrgghhh ngiri. Gw juga harus bisa. Di kantor SDM seorang mbak-mbak langsung memeriksa kelengkapan aplikasi saya. Ok sudah lengkap, katanya. Alhamdulillah senang sekali akhirnya beres juga perjuangan hingga tahap aplikasi. Tinggal menunggu nasib selanjutnya apakah diundang interview atau tidak.

Sambil menunggu saya berencana menyiapkan motivation letter untuk melamar ke kampus yang akan saya pilih. Saya juga harus mempersiapkan tes TOEFL iBT. Lumayan dahsyat juga biayanya. Sekitar 150 USD. Jadi klo skor ga sampe udah bukan nangis bombay lagi, nangis darah mungkin. Hihi. Oke barangkali itu sedikit share-share pengalaman ga penting saya.

Tips-tips berguna. Pertama, di mana ada kemauan di situ ada jalan. Jangan berharap mencapai sesuatu padahal kita ga ngapa-ngapain. Cobalah meski belum tau berhasil atau gagal. Kedua, kalo melakukan apa pun sebaiknya disiapkan sedini mungkin. Awalnya jujur saya sangat apatis terhadap skor TPA dan TOEFL saya. Saya hampir ga belajar sama sekali. Kalau pun akhirnya saya bisa lolos nilai minimum itu karena tips ketiga. Ketiga banyak berdoa dan terutama minta doa orang tua terutamanya lagi, doanya mamah. Efeknya sangat terasa. Keempat, jangan berhenti bermimpi, seperti kata quote favorit saya, bermimpilah maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu. Oh ya yang terakhir hampir kelupa, kredit untuk seorang teman saya, selalu berprasangkabaiklah kepada Allah. Jadi jangan suka apatis duluan. Semangat!

Oh ya, ngarep banget, semoga posting ini ada part 3 nya. 😀

Menuju Aplikasi Beasiswa Depkominfo 2011 – Part 1: Persiapan

Berhubung saya orang bodoh, saya selalu berusaha semangat dalam urusan belajar. Oleh karena itu sejak dulu saya juga selalu antusias dalam urusan bersekolah serta beli membeli buku (kalo sekarang termasuk mendownload buku). Sejak lulus S1 tanggal 15 Maret 2008, salah target terbesar yang harus saya capai adalah untuk lanjut kuliah S2. Motivasi utamanya, mamah lebih prefer saya lulus S2 dulu baru nikah. (motivasi yang jayus). Tapi setelah 2 tahun kerja kuli manggul berasjadi software developer di 2 software consultant si Jakarta, agak sedikit kelupaan dengan target tersebut.

Awal bulan Maret lalu, entah enlightment dari mana saya iseng browsing ke website depkominfo. Ternyata depkominfo sedang membuka pendaftaran untuk beasiswa depkominfo tahun anggaran 2011. Setelah saya download daftar persyaratan yang diperlukan sempat berpikir maju mundur juga. Deadline aplikasi adalah sekitar 3 minggu dari waktu tersebut pada tanggal 4 April 2011. Ngurus nggak ngurus nggak. Saya takut tidak bisa memenuhi persyaratan dan kedua segan mengurus berkas yang diperlukan.  Namun tak tahu mendapat semangat dari mana saya langsung membulatkan tekad untuk mengurusnya. Teringat quote favorit dari Pak Jusuf Bintoro salah satu dosen favorit saya (padahal saya gak pernah diajar dia) “masalah berhasil gak berhasil itu urusan ke sejuta. Yang penting coba dulu.” Maka langsung terbakarlah saya dengan semangat 45.

Persyaratan paling susah yang harus disiapkan adalah TOEFL dan TPA (Tes Potensi Akademik). Saya harus mencari jadwal tes yang sesuai dan harus bisa mendapat hasil skor tes sebelum tanggal deadline beasiswa. Itu pun saya harus agak berjudi sebab bisa saja skor tes tidak mencapai nilai minimum yang dipersyaratkan. Ya sudahlah, man jadda wa jada sajah.

Saya langsung menelopon Bapenas, badan yang berwenang menyelenggarakan TPA di Indonesia. Untuk yang belum terlalu familiar sesuai dengan namanya TPA adalah tes yang bertujuan mengukur potensi akademik seseorang. Biasanya tes ini diperlukan untuk orang yang hendak masuk jenjang paska sarjana di Indonesia atau orang yang hendak menduduki jabatan atau posisi di perusahan atau institusi tertentu. Tes terdiri dari 250 butir soal yang terbagi ke dalam 3 bagian. Bagian 1 verbal, bagian 2 matematika dan bagian 3 logika dan harus diselesaikan dalam waktu 3 jam sajah. Setelah menelopon saya langsung mendapat semua informasi yang dibutuhkan. Biaya tes 250.000 rupiah. Lumayan juga. Tanggal tes yang paling cocok adalah Minggu 27 Maret 2011 dan hasil tes bisa diambil tanggal Kamis 31 Maret 2011. Sebetulnya ada tanggal yang lebih dekat dari 27 Maret, namun saya sadar, saya belum belajar sama sekali. Agak riskan.

Berikutnya saya harus bertanya mengenai TOEFL ITP. Setelah mencari-cari saya mendapat link lembaga bahasa UI. Sayang beribu sayang, saya tidak mendapat jadwal yang cocok. Jadwal terdekat pendaftarannya sudah ditutup. Jadwal berikutnya hasil tes baru keluar setelah tanggal 4 April artinya saya tidak mungkin mengambil jadwal itu. Lucunya karena tidak mendapat jadwal yang cocok, orang LB UI menyarankan saya untuk coba menelopen IIEF di Menara Imperium. Saya pun akhirnya baru tahu bahwa IIEF adalah perwakilan resmi ETS (lembaga yang mempunyai lisensi TOEFL) di Indonesia. Jadi si LB UI pun menyelenggarakan TOEFL bekerja sama dengan IIEF.

Setelah menelepon IIEF beruntung sekali saya berhasil mendapat jadwal yang sangat cocok pada hari Sabtu 26 Maret 2011 dan skor tes bisa diambil tanggal 1 April 2011 dengan biaya 285.000 rupiah. Artinya jika skor kedua tes tersebut bisa mencukupi batas minimum, saya bisa mengirim berkas aplikasi beasiswa pada tanggal batas akhir 4 April 2011. Setelah menelopon IIEF saya langsung menuju Bank BNI untuk membayar biaya TPA. Setelah dari bank saya kemudian memfaks bukti transfer pembayaran TPA dan KTP ke bapenas untuk mendaftar TPA. Urusan mendaftar tes pertama beres.

Sekitar keesokan harinya, saat jam makan siang, saya langsung mengibrit ke Kuningan. Daftar mendaftar TOEFL ternyata tak bisa via faks/email, kudu datang. Sesampai Menara Imperium langsung terbang ke lantai 28 tempat kantor IIEF. Lapor mau ikut tes, maka kita akan diberi blanko transfer yang harus dibayarkan di Bank CIMB Niaga cabang menara imperium yang terletak di LG floor. Setelah bayar kembali ke lantai 28 menyerahkan bukti transfer dan kita mendapat tanda peserta tes. Urusan daftar mendaftar tes kedua beres.

Sambil belajar dengan sisa waktu sekitar 2 minggu menuju tanggal tes saya menyempatakan beli 2 buku TPA dan sebuah handbook grammar oxford. Saya juga harus menyiapkan berkas-berkas lain. Yang belum siap adalah Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) dan terjemahan bahasa inggris ijasah S1. Untung saja saya masih punya fotokopi ijasah S1 yang telegalisir. Segan juga jika harus balik ke kampus mengurusi itu. Masalah SKCK, karena belum pernah membuat agak bingung juga. Langsung saja mengsms kawan saya yang seorang polisi. Dari jawabannya ternyata saya harus mengurus ke polres. What The Fun! Malas juga harus pergi ke Cibinong. Penasaran pada hari Sabtu saat pulang ke Jonggol saya ngibrit lagi ke polsek Jonggol. Tanya-tanya ternyata surat tersebut bisa diurus di polsek. Good. Saya cukup bawa phot 4 x 6 sebanyak 2 biji dan fotokopi KTP. Biayanya 10 ribu rupiah saja. Tapi ga ada kuitansinya.

Berikutnya masalah terjemahan ijasah. Haduh belom pernah juga sebelumnya. Bingung. Tanya-tanya ke teman dapat beberapa kontak. Namun sebagian dari kontak yang saya dapatkan menetapkan harga yang agak lebay. 75.000 sampe 100.000 perlembar. Memang sih harganya agak mahal karena terjemahan ijasah harus dilakukan penerjemah tersumpah. Tapi tetap terlalu lebay. WTF! Itu pun tidak bisa selesai dalam waktu cepat. Beruntung setelah browsing-browsing saya mendapat nomor kontak sebuah tempat terjemahan di kalibata. Biayanya cukup 25.000 dan bisa selesai dalam 1 hari. Good. Selasa 21 Maret 2011 saya ngacir ke tempat terjemahan ini. Selang 2 hari saya mengambil terjemahannya lagi. Wah senang sekali, setelah diterjemahkan, penerjemah membubuhkan stempel dan tanda tangan di pojok kiri bawah. Karena terlalu senang saat mengambil saya tidak teliti memeriksa. Maghrib saat di kantor saya melihat hasil terjemahan, waksss kok tanda tangan di bawah ijasah dua-duanya atas nama rektor? Mana dekannya? Langsung saya telepon ke kantor penerjemah tersebut. Ga ada yang angkat. Sudah pada molorkah? Saya kemudian menscan kesalahan terjemahan dan mengirim email ke sana. Baru keesokan paginya saya telepon dan penerjemah menjanjikan selesai sebelum shalat Jumat. Tapi tetap saja. Saya harus mondar-mandir sudirman – kalibata saat jam makan siang. Menyebalkan.

Di tengah-tengah waktu mempersiapkan berkas tadi, saya pun belajar dengan amat keras menyiapkan TOEFL dan TPA pertama saya ini. Saking kerasnya setiap pulang ke kos setelah jam kantor, saya buka buku sekitar setengah jam, lalu langsung tertidur. :p

Biar ga kepanjangan dan bikin ngantuk bersambung ke part 2.

Incapability of Chronical Dreamer

Posting ini ditulis sekitar 2 minggu lalu. Namun draftnya nganggur setelah ditulis hingga sekarang. Baru sempat diselesaikan pagi ini.

Kamis sore sekitar 2 minggu lalu, entah  bagaimana saya merasa tiba-tiba down dan kehilangan semangat. Sebenarnya perasaan tersebut biasa dan saya seperti manusia pada umunya sering mengalami sebelumnya. Hati manusia itu fluktuatif, kadang sedih kadang senang. Kadang semangat kadang loyo. Kita harus pintar-pintar bagaimana bisa efektif saat sedang positif dan berusaha kembali mengumpulkan semangat saat sedang negatif.

Kembali ke masalah ketidaksemangatan tadi. Setelah direnungkan saya bisa memahami penyebabnya. Sangat sederhana. Pemicunya adalah rasa ketidakmampuan. Oleh karena itu post ini saya beri judul seperti di atas. Bagi orang yang cukup mengenal saya pasti sangat paham salah satu kelebihan terbesar saya sekaligus kekurangan terbesar saya. I am a chronic dreamer. Punya mimpi pada dasarnya adalah hal yang bagus. Namun adalah hal yang fatal ketika kita terlupa bahwa dalam mengejar mimpi butuh usaha dan pengorbanan. Kamis kemarin saya langsung merasa mendadak down ketika menyadari hal-hal yang harus saya usahakan dari mimpi saya. Harus rela kurang tidur, harus mau melawan rasa takut, harus memeras otak lebih keras, harus bisa sejenak menunda kesenangan, etc. Sepertinya saya sudah merasa sangat betah di wilayah nyaman jika menurut Steven Covey. Sejenak saya merasa incapable.

Setiap manusia, sesableng apa pun, pada dasarnya ingin hidup sukses. Meski definisi sukses di sini sangat luas dan multitafsir. Saya pribadi melihat lingkup terpenting kesuksesan tersebut adalah finansial, prestasi kerja dan pendidikan serta ketentraman keluarga/rumah tangga terakhir kesuksesan akhirat . Finansial sudah cukup jelas secara sederhana setiap manusia ingin hidup pas-pasan. Pas mau beli rumah ada uangnya, pas mau traveling ke Eropa ada uangnya, pas mau beli mobil pas uangnya ada. Pas-pasan :p. Kedua, prestasi kerja menjadi penting sebab rata-rata manusia menghabiskan 1/3 waktu bangunnya untuk mencari nafkah apakah wirausaha, profesional atau menjadi pegawai. Jadi kalo gagal di situ bisa dibilang sepertiga hidupnya gagal. Ketiga, ketentraman keluarga juga penting sekali, pada dasarnya manusia hidup untuk melestarikan jenisnya. Caranya ya dengan berkeluarga. Punya istri/suami, punya anak, membersarkan anak, anak kemudian menikah lagi, dan seterusnya. Akhirat meski tak akan saya uraikan itu adalah destinasi tak terhindarkan yang pasti kita tuju cepat atau lambat.

Pertanyaan berikutnya pun muncul, apakah dosa jika kita memilih untuk hidup biasa saja dan menidurkan total ambisi yang kita miliki? Gak mau jadi kaya, saya juga ga perlu kuliah tinggi-tinggi, etc. Jawabannya tidak sama sekali. Hidup ini adalah masalah pilihan. Mau ordinary atau extra ordinary ya Glenn Fredly terserah. Tapi bicara opsi, bukankah sebaiknya kita memilih yang terbaik? Ordinary vs ekstra ordinary tentulah lebih bagus ekstra ordinary. Namun, semua itu ada harganya. No pain no gain. Harus mau berproses. Jika memilh ordinary ya memang tidak butuh pengorbanan. Bisa leyeh-leyeh, leha-leha, lena-lena, santai-santai (silakan tambahkan sendiri). Tapi ya sesuai dengan namanya, biasa saja. Kita adalah member dari kerumunan yang seragam. Tak teridentifikasi di keramaian. Jika ingin menjadi ekstra ordinary, butuh usaha dan pengorbanan, biasanya usaha dan pengorbanan tersebut sangat berat. Seperti yang dibilang tadi, ingin sukses secara finansial ya harus mau kerja ekstra keras, ingin sukses pendidikan ya harus mau tidak berhenti belajar, mau melawan rasa malas, ingin sukses dalam berkeluarga ya harus teliti memilih partner of our life. Pengen sukses di akhirat ya harus menyiapkan bekal dengan benar di dunia, hidup balance. Namun dengan kebersediaan berkorban tersebut, kita akan bisa member yang terlihat jelas di keramaian karena keunikan kita, keparipurnaan kita. Kita akan mudah teridentifikasi karena kita berbeda dari orang-orang biasa yang lain. Kita bisa memaksimalkan proses aktualisasi diri kalo menurut babeh Abraham Maslow. Jadi intinya, seperti kata saya yang paling favorit, semangat!  Harus percaya bahwa kita bisa.