Review Film 2012

Di tengah segala kontroversi yang agak sedikit tidak jelas a.k.a gajebo, minggu lalu akhirnya saya bisa kebagian juga menonton film besutan sutradara Roland Emmerich, 2012. Setelah Godzilla dan yang belum terlalu lama The Day After Tomorrow, Emmerich kembali lagi mengangkat film bertema bencana. Bedanya bila film-film lalu memang fiksi biasa tanpa kontroversi. Tapi 2012 sedikit berbeda karena berdiri di atas kepercayaan beberapa golongan yang menyatakan dunia memang akan berakhir pada tahun 2012. Stop dulu berpolemik, kita akan coba mendiskusikan konten film itu sendiri berikut perjuanganan untuk menontonnya.

Secara personal saya agak jarang mengalami euphoria film hollywood sedahsyat 2012. Kembali ke beberapa tahun lalu, Ada Apa Dengan Cinta dan Petualangan Sherina memang sangat fenomenal menarik berjuta penonton. Beberapa bulan lalu Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2 juga Laskar Pelangi juga benar-benar menarik perhatian berjuta penonton. Namun semua film-film itu adalah film lokal yang memiliki pertimbangan tertentu untuk menjadi fenomena. AADC dan Petualangan Sherina meledak karena kedua film itu menjadi tonggak bangkitnya perfilman Indonesia. Sementara KCB 1 dan 2 serta Laskar Pelangi meledak karena diangkat dari kisah buku yang memang sudah laris dari sananya. Sementara 2012 banyak menarik perhatian penonton karena kepenasaran khalayak seperti apa kiamat di visualisasikan ke layar film.

Kedahsyatan respon penonton dapat digambarkan dari pengalaman saya mengejar tiket film ini. Sekitar pertengahan nopember minggu pertama premier film sepulang kantor saya pun langsung menyempatkan mampir ke bioskop. Setelah berbekal browsing data dari website 21 cineplex, saya meluncur ke bioskop 21 cibubur junction. Sampai di spot pukul 19.30, saya masih merasa cukup tenang karena dari data di website 2012 diputar di 4 dari total 4 studio. Itu artinya dengan kedatangan saya pada jam tadi saya masih bisa mendapatkan show pada pukul 20.00, 20.30, 21.00, 21.30 dan 22.00. Namun dengan sangat mengejutkan ketika tiba di tempat penjualan tiket yang sudah sepi sebuah pengumuman tulisan tangan pun menyambut, “Tiket 2012 untuk hari ini telah habis”. Wow, benar-benar luar biasa.

Barulah setelah berselang sekitar seminggu kemudian pada akhirnya saya pun baru berkesempatan menyaksikan film tersebut. Kesan setelah menonton film itu adalah sebagai berikut. Secara cerita tidak terlalu spesial. Standar film bencana. Mungkin kesan paling menonjol adalah spesial effect saat gempa besar, ledakan gunung api dan tsunami. Kesan terakhir ternyata kiamat yang dimaksud dari film ini bukanlah kiamat besar yang mengakhiri semuanya. Namun yang terjadi adalah kiamat kecil yang mungkin meluluhlantahkan sebagian besar jiwa manusia dan kondisi fisik bumi, namun ternyata masih ada yang selamat. Jadi untuk pihak-pihak tertentu yang di minggu-minggu awal premiere film bermencak-mencak ria dan menfatwaharamkan film ini, sebaiknya anda lihat dulu kontennya baru berkomentar. Secara umum tidak ada dampak negatif apa pun setelah film ini. Lagi pula seperti film-film lainnya tujuan dari kisah film ini hanyalah menyampaikan hiburan fiksi tanpa ada maksud menyampaikan pesan-pesan terselubung. Itulah post tentang review film 2012 namun tidak ada review sedikit pun yang diangkat. :p Yang ingin cerita detailnya, sempatkan waktu saja ke bioskop dan buatlah review sendiri. 20.000 atau 30.000 rupiah untuk tiket bioskop saya pikir adalah nilai yang cukup layak dan tidak terlalu mahal.

Review Film Merah Putih

merah-putihSetelah Isya tadi tiba-tiba pikiran aku suntuk berat. Sebenarnya sih berbicara suntuk, itu sudah kronis terjadi dalam bulan-bulan terakhir ini. Stress berat, jenuh parah, suntuk, kelam, gelap, bosan, passionless. Dengan pikiran kacau balau, akhirnya aku mencoba mengurangi rasa suntuk tersebut. Aku keluarkan Marunochan (my red motorbike) dari rumah. Pake jaket rombeng-rombeng kesukaanku, kaos hijau belel, celana pendek seadanya, kaus kaki biar ga dingin, sendal jepit, slayer hitam dan helm merah, aku pun langsung meluncur 28 Km ke arah utara Jonggol dengan destinasi Cibubur Junction. Agendanya mencari keramaian, sambil nonton film Merah Putih. Hitung-hitung turut merayakan kemerdekaan Indonesia yang jatuh hari ini (sekarang sudah 17 Agustus 2009 01.01 AM).

Selang 45 menit, dengan kecepatan rata-rata 60 Km/jam dan kisaran rpm mesin di putaran 7000 aku sampai di Cibubur Junction. Langsung masuk parkiran, mampir ke ATM sebentar menghisap lembaran merah berfoto Soekarno Hatta lalu lanjut ke lift menuju lantai 2 tempat bioskop 21 berada. Berikutnya ke tempat tiket langsung mengambil tempat duduk tengah paling belakang untuk jam tayang 21.25. Sesudah itu duduk sebentar, ke toilet, kembali duduk, memandangi sekitar (masih merasa geli dengan seragam pegawai perempuan 21 yang berok panjang namun belahannya lebih panjang lagi), membeli pepsi dan akhirnya masuk teater.

Oke berikut adalah review singkat dari filmnya. Seperti judulnya Merah Putih berkisah tentang perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kehadirannya mencoba menjawab kerinduan penonton Indonesia akan film perang. Bagaimana tidak bosan jika tiap waktu terus saja disuguhi kalau tidak pocong ya setan, ya kuntilanak, ya kuburan. Basi. Dari gembar-gembornya Merah Putih mendatangkan berbagai kru film import, terutama untuk spesial effect peperangan.

Pada bagian awal film, entah bertujuan apa, Merah Putih menceritakan diskriminasi calon tentara di pendidikan tentara rakyat Indonesia. Pertama adalah Thomas, seorang kristen dari sulawesi yang menaruh dendam pada Belanda setelah keluarganya dibantai. Kedua adalah Dayan (kalo ga salah) seorang Hindu dari Bali. Mereka berdua agak “dibedakan” dari yang lain. Marius (Darius Sinatria hadir sebagai orang yang sok priyayi (namun ternyata pengecut) dan tidak suka dengan kehadiran Thomas. Mungkin mencoba mengangkat tema multikulturalisme film ini mengangkat topik diskriminasi minoritas tadi dengan porsi yang saya pikir agak berlebihan. Tokoh utama lain adalah Lukman Sardi sebagai Letnan Amir, seorang guru yang mendedikasikan dirinya untuk menjadi pejuang pembela kemerdekaan. Tokoh berikutnya adalah Santoso (sepertinya namanya bukan ini) sahabat dekat Marius. Selain topik spesifik diskriminasi minoritas, bagian awal film juga menggambarkan proses pelatihan di Sekolah Tentara Rakyat Indonesia.

Di malam wisuda sekolah tentara (jika boleh dikatakan begitu) diadakan semacam prom night. Ada nyanyian dan dansa. Datanglah istri Amir, juga kakak dari Santoso yang bernama Senja. Di tengah keasikan pesta, sekonyong-konyong terjadi serangan Belanda. Agak aneh sebetulnya. Cerita lalu bergeser dengan ganjil pada settingan perang tengah hutan. Tentara Indonesia tumbang satu persatu di dalam hutan. Santoso adik dari Senja turut tewas dalam serangan ini. Pada akhirnya hanya bersisa sedikit tentara yang bergerak mundur dari kepungan Belanda.

Pagi harinya tentara-tentara yang tersisa telah mundur ke sungai. Terjadi sedikit pertempuran kecil di sungai. Sebuah potongan cerita menggelikan terjadi kembali di sini. Dalam baku tembak Belanda melawan pejuang beberapa pejuang mati. Lukman Sardi kemudian menyelipkan granat di salah satu tubuh pejuang dengan tujuan yang sudah dapat dibaca. Para pejuang kembali bergerak mundur. Kemudian para Belanda, entah mengapa, sengaja membalik mayat pejuang yang telah diselipi granat. Mayat terjatuh dan granat terlepas, kaboooomm meledaklah semuanya.

Settingan berikutnya adalah sebuah desa. Para pejuang meminta penduduk untuk mengungsi namun penduduk menolak karena tidak bisa meninggalkan barang-barang mereka. Pejuang akhirnya menyerah membujuk dan kembali bergerak mundur ke hutan. Tak lama Belanda datang ke desa. Semua penduduk desa kemudian dibantai.

Settingan terakhir adalah setelah bersembunyi sejenak di hutan, para pejuang kembali ke desa yang telah hangus terbakar. Sebuah strategi untuk menjebak Belanda pun dibangun. Karena sedikit tentara yang tersisa, para tentara memutuskan merekrut warga desa yang masih hidup (agak maksa). Strategi menjebak Belanda dilakukan di sebuah jembatan di mana Belanda akan lewat. Para warga desa langsung dibekali senjata dan dilatih sesaat. Agak kurang logis juga, bagaimana mungkin seorang anak kecil dilatih senjata sebentar langsung bisa menembak jitu. Setelah proses training dan persiapan penyergapan selesai (timing yang benar-benar pas, arak-arakan Belanda tiba di tempat penyergapan. Tentara Belanda langsung kocar-kacir diserang sisa 5 tentara Indonesia dibantu dengan sekitar belasan warga pribumi. Pertempuran memang tergambar cukup sengit (sekaligus menggelikan). Truk-truk diledakan, peluru-peluru berhamburan. Tanpa ada serangan balasan yang berarti akhirnya prajurit Indonesia menang, menyisakan tawanan beberapa tentara Belanda yang masih hidup. Tanpa banyak ba bi bu, tiba setelah adegan itu film pun usai. Hmmm.. Film Indonesia. Barangkali masih ada sekuelnya nanti. Skor pribadi 2 dari 5 bintang.

Sebenarnya post ini tidak sama sekali bertujuan untuk mengkritik film Merah Putih. Upaya tim kreator untuk menyajikan film perjuangan dalam menyambut HUT kemerdekaan RI patut diacungi jempol. Saya pun sadar, membuat film perang adalah sangat kompleks. Akan dibutuhkan biaya yang sangat besar. Properti, kostum dan pemain yang jumlahnya cukup banyak. Semoga saja, setelah ini akan ada film-film lain yang lebih berkualitas cerita dan penggarapannya. Sehingga layar-layar bioskop Indonesia tidak sekedar selalu dipenuhi dengan pocong, setan atau kuntilanak saja.

Epilog, setelah nonton saya langsung cabut pulang. Kembali ke ATM menghisal 100 ribuan lagi. Bayar parkir lalu riding santai ke arah rumah. Malam yang indah, meski saya sejujurnya agak merasa kesepian. Hehehe… Ending post yang ga nyambung.

Senin nonton, Selasa nonton dan Rabu nonton

Dari senin sampai rabu kemarin, saya berturut-turut pergi ke bioskop. Hari senin saya nonton Public Enemy di Blok M Plaza. Masuk bioskop setelah 15 menit film tayang. Satu jam sebelum film habis orang yang saya ajak menonton gelinjangan seperti cacing mengajak pulang karena kebosanan atas cerita film yang dia anggap membosankan. Capek dehh, kalo gitu ya ga usah ikut sekalian atuh. Memang sih durasi filmnya agak lama hampir 150 menit dan adegan ngobrol yang terlalu banyak.

Hari selasa giliran Pejaten Village XXI yang saya sambangi. Berbekal navigasi Garmin Mobile XT di handphone saya bergerak ke sana. Namun, sang GPS tidak terlalu banyak membantu karena saya tetap saja nyasar. Ujung-ujungnya nanya ke orang juga. Sesampai di TKP saya langsung terkekeh-kekeh sendiri, ternyata Pejaten Village itu ada di lurusan Mampang Prapatan. Segera ke parkiran mobil (itu loh yang rodanya 2), kemudian melesat ke bioskop. Agenda film yang akan saya saksikan adalah Ice Age 3: Dawn of Dinosaur. Saya tidak akan mereview namun secara pribadi saya memberikan skor 5 bintang untuk film kartun ini. Sangat lucu.

Hari rabu saya menuju Plaza Senayan XXI. Saya penasaran ingin mencoba nonton film 3D. Itu loh, yang nontonya harus pake kacamata gaul (kacamata 3D maksudnya). Filmnya film kartun berjudul Up. Tiket 35.000 durasi 90 menit. Kacamata cukup bagus, sayang tidak boleh dibawa pulang. Kesan 3Dnya seru juga mungkin karena saya baru pertama mencicipi. Jadi seakan-akan layar bioskop tidak datar, namun ada dimensi panjang, lebar dan tinggi. Seperti kita bisa masuk ke sana dan yang di layar bisa ke luar menuju kita. Untuk cerita filmnya sendiri tidak selucu Ice Age. Up agak membosankan. Oh ya satu hal lagi, film 3D tidak menyediakan subtitle. Supaya terkesan mengerti, ikuti suasana bioskop. Ketika penonton lain tertawa, kita harus ikut tertawa. Ketika yang lain menggumam sedih, kita juga harus mengikuti. Jadi kesannya kita seakan mengerti (padahal bingung) hahaha… Kesan buruk setelah nonton film, saya ditahan sekuriti bioskop sebentar karena tas yang saya bawa membunyikan detektor di pintu keluar bioskop. Mungkin karena kacamata 3D mahal, pihak manajemen sana sangat berhati-hati agar jangan sampai ada kacamata yang ikut pulang dengan penonton. Setelah saya diminta mengeluarkan isi tas, ternyata hardisk portable FreeAgent Go yang membunyikan alarm detektor. Sialan. 😦

Oke mau cerita itu saja. Tadinya hari Kamis kemarin masih mau nonton, namun belum dapat film menarik yang layak ditonton. Yeah, hidup nonton.

Komparasi Jomplangisme Virgin 2: Ini Film Porno Vs Ketika Cinta Bertasbih

Sebuah judul yang sangat aneh ya. Namun sejak kemarin benar-benar gemas ingin menulis topik ini.

Post ini mencoba mengulas singkat 2 film Indonesia terakhir yang sempat saya tonton. Pertama Virgin 2: Ini Film Porno (tau kan tagline sebenarnya), saya tonton malam minggu lalu di Cijantung. Kedua, Ketika Cinta Bertasbih. Baru saja saya liat tadi siang di Cibubur Junction. Dari dua judul tersebut saya harap dapat dipahami kata komparasi dan jomplangisme di atas. 🙂 Karena 2 film tersebut benar-benar jomplang. Absolutely sh*t vs absolutely good.

Kita mulai dengan Virgin 2. Satu-satunya alasan yang membuat saya masuk teater yang memutar film ini adalah paksaan sahabat dekat saya yang penasaran dengan kisah film tersebut. Hitung-hitung ingin melihat seberapa sampah film-film model ini, akhirnya saya ikuti juga ajakan kawan dekat saya tersebut. Setelah keluar teater, ternyata asumsi saya salah. Film itu tidak rusak kok. Namun lebih rusak 1000x dari perkiraan saya. 😀 Ulasan singkat yang cukup tajam namun tajam mengenai mengenai film ini bisa dilihat di sini.

Saya sangat setuju dengan pendapat di blog cebongipiet. Mengajarkan tidak melakukan hal-hal tidak benar, misalnya mengajarkan tidak melakukan pergaulan bebas, free sex dan narkotika melalui tayangan yang justru menunjukan semua hal itu adalah yang sangat klise. Mengajarkan hal yang baik haruslah melalui tayangan yang baik. Mengekspos keburukan justru membuka kepenasaran generasi-generasi yang masih muda untuk mencoba alih-alih untuk menghindari. Oleh karena itu saya ganti tagline Virgin 2: Bukan Film Porno menjadi Virgin 2: Ini Film Porno. Tagline yang sangat tidak mutu dan dilecehkan di banyak forum. Bagaimana tidak, film ini masih sangat banyak menunjukan keseksian tidak jelas dari artis-artis muda malang. Kekerasan, pemerkosaan, pembunuhan, bunuh diri, narkotika dengan inti cerita dan pesan moral yang nol besar. Nilai 1 bintang dari 5 bintang pun tidak sama sekali layak untuk film ini. Nilainya cukup nol besar saja. Jadi untuk para produser film berkocek besar. Sadarlah untuk tidak sekedar mengharap keuntung komersial dengan menghiraukan tujuan ideal dari sebuah karya yang akan ditonton masyarakat. Buatlah film-film berkualitas dengan pesan moral yang baik. Film sukses tidak selalu harus menceritakan tentang sesuatu yang tidak baik. Film dengan konten berbobot pun bisa menjadi sebuah produk yang sukses. Seperti ulasan untuk film berikutnya.

Ketika Cinta Bertasbih adalah karya lain dari Habiburahman El Shirazy yang juga difilmkan setelah film sebelumnya yang sangat sukses Ayat-Ayat Cinta. Di tengah gempuran film-film buruk dengan tema-tema klenik dan atau seks, Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih mampu membuktikan bahwa film bermuatan moral positif pun bisa sukses bila digarap dengan baik.

Secara pribadi saya lebih menyukai Ketika Cinta Bertasbih dibanding Ayat-Ayat Cinta. Ada sangat banyak sentilan-sentilan moral yang mengarahkan namun tidak menggurui. Di tengah-tengah banyak kisah-kisah positif penonton masih sempat dihibur dengan potongan-potongan humor yang lucu namun tidak garing. Beberapa ulasan mungkin banyak membahas masih ada kekurangan-kekurangan dari sisi sinematografi, akting pendukung film yang terlalu kaku dan hal-hal antah berantah lainnya. Namun bagi penonton awam seperti saya, tayangan sekitar 120 menit yang saya saksikan tadi sangat luar biasa. Cukup layak untuk saya nobatkan sebagai film terbaik yang saya tonton di tahun 2009 ini bahkan mengalahkan Star Trek sekalipun. Meski agak pegal juga ketika di akhir film tulisan To Continued sangat membuat gemas. Tinggal kita nantikan saja seperti apa kisah lanjutan film ini. Untuk review detail dari 2 film ini dapat dicari di tempat lain. Post ini hanyalah ungkapan kegemasan mengenai Jomplangisme tayangan-tayangan sebagai corong yang dapat menjadi kandidat ideal untuk dakwah hal-hal kebaikan. Akhir kata, semoga berkenan.

Prison Break Season 4 Episode 22: Sebuah ending yang memukau

Perhatian! Sebaiknya anda baru membaca post ini bila sudah menyaksikan serial tersebut.

Senin malam lalu saya menonton episode 20 dari Season 4 serial Prison Break. Semenjak episode paling pertama saya sudah sangat fanatik dengan serial ini. Kisah awalnya adalah upaya Michael Scofield seorang insinyur sipil genius yang ingin membebaskan kakaknya Lincoln Burrow, yang terancam hukuman mati untuk pembunuhan yang tidak ia lakukan. Dengan berjalannya episode demi episode, cerita mulai agak-agak melenceng ke tema yang agak di awang-awang.

Season pertama sepenuh bercerita tentang upaya pelarian dari Penjara Fox River. Season kedua Prison Break mengangkat kisah pengejaran para pelarian dari Fox River di luar penjara. Season ketiga mengangkat cerita petualangan Scofield, Burrow dan beberapa kawan-kawan di Panama. Secara tidak sengaja karena diatur oleh skenario misterius Scofield harus masuk ke Penjara Sona di Panama. Sepanjang season 3 cerita inti adalah mengenai upaya Scofield melarikan diri dari Sona. Di season 3 ini mulai diangkat wacana sebuah organisasi raksasa misterius yang disebut Company.

Season keempat menceritakan upaya Scofield dan kawan-kawan untuk meruntuhkan Company. Di sini mulai diangkat sebuah mesin rahasia milik Company yang harus dihancurkan yang bernama Scylla. Scylla inilah yang kemudian menjadi tema inti season keempat. Meski pada awalnya tidak diketahui dengan pasti apa sebenarnya Scylla, apa gunanya, ternyata Scylla adalah benda yang sangat diperebutkan. Proses perebutan Scylla ini harus mengorbankan banyak nyawa yang berjatuhan. Meski pada akhirnya Scylla justru diserahkan pada Paul Kellerman, seorang tokoh antagonis di season 1 dan season 2 serial. Dengan penyerahan Scylla tersebut Scofield dan kawan-kawan mendapat jaminan untuk penghapusan track record buruk mereka.

Meski dengan kisah yang pada akhirnya menjadi ngalor-ngidul saya benar-benar menyukai dengan kisah Prison Break ini dan berbagai tokoh di dalamnya. Tokoh favorit saya adalah Michael Scofield dan Alex Mahone. Alex Mahone sendiri pada awalnya adalah tokoh antagonis. Namun dalam perjalanan ia menjadi rekanan. Satu hal yang menjadi tanda tanya saya, pada listing episode Prison Break, season 4 dituliskan ada hingga episode 24. Namun pada episode 22 yang saya tonton terakhir, cerita sudah sampai pada akhirnya. Sebuah ending yang sangat jenius menurut saya. Diceritakan setelah Scylla diserahkan ke Kellerman, Scofield, Burrow, Tancredi, Mahone dan yang lain bisa kembali membersihkan nama mereka. Namun, di beberapa scene terakhir sebelum episode berakhir, diperlihatkan ketika Scofield bisa berkumpul bersama kekasih yang sangat ia cintai, Sara Tancredi. Ketika mereka berdua tengah berjalan bersama di pantai, tiba darah kembali keluar dari hidung Scofield. Kemudian scene pun menggambarkan kisah 4 tahun kemudian. Ketika tim yang berusaha mengejar dan merebut Scylla dapat hidup tentram kembali. Mahone yang bisa hidup tenang setelah yakin istrinya bisa hidup aman, meski mereka tidak hidup bersama lagi. Sucre yang bisa berkumpul bersama anak dan istrinya. Burrow yang juga bisa berkumpul dengan LJ dan Sofia kekasihnya. C-Note yang bisa kembali ke keluarganya. T-Bag yang harus kembali ke penjara. Donald Self yang harus lumpuh setelah diracun oleh orang-orang Christina Scofield. Serta sebuah scene yang sangat menarik dari Jenderal Krantz yang akan dihukum mati di kursi listrik. Scene kemudian beralih ke Sara Tancredi yang memanggil nama Michael. Ternyata yang datang adalah seorang anak kecil, anak Sara dengan Scofield. Episode ini berakhir ketika Sara, Scofield junior, Burrow, Mahone, Sucre berkumpul di satu tempat. Tak lama, kamera pun mengarah pada sebuah batu nisan dimana semua orang tadi memandangi nisan tersebut. Nisan yang bertuliskan nama Michael Scofield, dengan tanggal kematian 4 tahun sebelumnya. Kanker otak pun akhirnya tetap merenggut nyawa Scofield. Demikianlah sebuah ending yang sangat memukau bagi saya. Akhirnya kepenasaran selanjutnya adalah apakah masih ada 2 episode sisa. Jika ya, apa yang akan kira-kira diceritakan? Kita tunggu saja.

Review The Curious Case of Benjamin Button

benjamin-button-booknewNonton pada akhir Februari 2009 di rumah, di laptop 🙂

Percayakah anda jika ada orang di dunia yang umurnya berjalan mundur? Terlahir dengan penampilan tua, namun seiring berjalan waktu wajahnya, tubuhnya, kulitnya justru menjadi seperti orang muda. Ternyata ada orang seperti ini. Benjamin Button.

Button dilahirkan tepat pada hari kemerdekaan Amerika Serikat 4 Juli sekitar tahun 1920-an. Ibu kandung Button meninggal saat melahirkannya. Shock melihat rupa bayi Button yang seperti monster, ayah Button kehilangan akal dan ingin membuang Button kecil. Button pun terdampar di sebuah panti jompo, ditinggal oleh ayah kandungnya sendiri.

Dengan penuh kasih sayang, Button diangkat anak oleh pasangan pengurus panti jompo. Di panti jompo tersebut Button tumbuh dari bayi seperti monster menjadi anak remaja bertampang seperti kakek-kakek berumur 80 tahun namun dengan tinggi badan seperti anak-anak lainnya. Di panti jompo itu pula, Button bertemu dengan cinta sejatinya, Daisy, seorang anak gadis hampir seusia Button, namun tentunya dengan usia yang berjalan normal ke depan.

Film kemudian akan banyak bercerita tentang kisah percintaan Button dengan Daisy. Di usia 20-an Button memilih untuk bertualang ke berbagai tempat sebagai awak kapal laut. Bertemu dengan beberapa orang, termasuk wanita lain, meski pada akhirnya cinta Button hanyalah untuk Daisy.

Untuk sebuah film berdurasi hampir 150 menit, The Curious Case of Benjamin Button tidak terlalu membosankan untuk diikuti. Modal ide cerita yang sangat unik, kisah pria dengan usia yang berjalan mundur, berhasil diterjemahkan dengan sempurna ke atas layar film. Bagian paling menarik dari film adalah saat usia Button mencapai seperti layaknya anak belasan tahun. Button mulai lupa masa lalunya, siapa dirinya dan orang-orang yang pernah ia kenal. Umurnya pun terus berjalan mundur seperti anak balita. Lupa cara berjalan, lupa cara berbicara. Hingga akhirnya ia kembali menjadi bayi yang tidak bisa apa-apa dan meninggal di pangkuan kekasihnya.

Satu-satunya kekurangan dari film ini adalah adegan-adegan seks yang meski tidak terlalu vulgar namun terlalu banyak diekspos. Ya inilah film yang diimpor dari negara liberal seperti Amerika. Secara keseluruhan The Curious Case of Benjamin Button layak mendapat 4 dari 5 point. Film yang cukup layak untuk dilihat.

Review Kambing Jantan The Movies

Sabtu 14 Maret 2009, Buaran Jakarta Timur.

kambing jantanSejak awal masa peluncurannya, saya sudah cukup penasaran pada film ini. Saya bukan pengikut setia blog Raditya Dika (tokoh utama dalam film ini). Namun saat sesekali sempat membaca sekilas kisah-kisah di blognya yang dibukukan, saya cukup terhibur. Apakah ternyata kemudian saya terhibur juga saat menonton filmnya? Dengan amat sangat berat hati, saya katakan tidak. Saya agak kecewa dengan film tersebut.

Beberapa kisah buku mungkin bisa diterjemahkan menjadi film dengan cukup baik. Laskar Pelangi dan Ayat-ayat Cinta mungkin bisa menjadi contohnya. Namun, Kambing Jantan adalah buku dari cerita-cerita harian Raditya yang pada mulanya ditulis berupa blog. Kambing Jantan bukan cerita novel panjang semisal Laskar Pelangi dan Ayat-ayat Cinta yang secara alami menarik untuk difilmkan. Menerjemahkan kisah-kisah harian biasa manjadi film yang menarik bukan pekerjaan mudah. Sejak awal saya memperkirakan tim produksi film tersebut sudah memahami itu. Oleh karenanya, dengan gembar-gembor yang ramai, diboyonglah tim dengan performansi maksimal. Sutradara berpengalaman (Rudi Sujarwo, jika tidak salah) dan hingga 3 orang penulis skenario (termasuk Raditya). Namun sekali lagi, upaya tersebut tidak terlalu berhasil. Kisah Kambing Jantan gagal menjadi tontonan yang menarik.

Sebelum menguraikan analisa singkat penyebab kurang menariknya film Kambing Jantan, kita akan sedikit melihat sinopsis singkat film ini. Kambing Jantan menceritakan kisah Raditya sedari lulus SMA hingga masa-masa kuliah singkatnya di Australia. Seperti film-film remaja pada umumnya cinta menjadi bumbu utama film ini. Percintaan antara Raditya (Kambing) dan kawan SMA nya si Kebo (saya bahkan tidak tahu siapa nama asli Kebo). Cerita percintaan dimulai sejak SMA dimana Kambing dan Kebo mulai jatuh cinta ketika bersama-sama bergabung dalam satu band. Karena harus melanjutkan studi ke Australia, Kambing dan Kebo (kok jadi kayak kebun binantang ya, he..) harus menjalani LDR (long distance relationship). Kisah percintaan pun hanya berputar-putar di sekitar komunikasi via telpon, percekcokan jarak jauh hingga hadirnya wanita lain, teman Raditya semasa SD. Untuk kisah lebih lengkap dapat disaksikan sendiri saja.

Analisa pertama dari film Kambing Jantan. Blog dan buku Kambing Jantan sangat lucu. Saya pun sempat geli hingga ingin tertawa terbahak-bahak saat membaca sekilas buku Raditya di toko buku. Pada awalnya saya memperkirakan gelak dan rasa geli yang sama akan saya dapatkan di film. Akan ada banyak adegan atau banyolan yang bisa membuat penonton terbahak-bahak. Ternyata tidak demikian kenyataannya. Satu-satunya tokoh yang disiapkan untuk lucu adalah Hariyonto, teman Raditya sewaktu di Australia. Namun saya menganggap lucunya Hariyanto pun masih tanggung. Jokes dan adegan-adegan lain hanya memaksa membuat senyum garing sedikit. Tidak terlalu lucu, bahkan terkesan biasa saja.

Analisa kedua, plot cerita berjalan terlalu lambat dan membosankan. Ini terbukti ketika menonton film ini, beberapa penonton di bioskop banyak yang meninggalkan ruang tayang sebelum film habis. Mulai dari menit 30 cerita mulai terasa monoton.

Ketiga, tokoh-tokoh lain di luar Raditya, Hariyanto dan si Kebo seakan menjadi boneka. Tokoh-tokoh lain tadi layaknya pion catur tak bernyawa yang digerak-gerakan oleh sutradara. Seperti keluarga si Kambing, teman-teman si Kebo, teman-teman kuliah Raditya yang perannya sangat dangkal di tengah keseluruhan cerita.

Keempat, cerita cintanya sangat biasa. Cinta jarak jauh, lalu di tengah-tengah ada wanita lain yang mengusik. Meski diangkat dari kisah yang sudah ada, padahal impovisasi cerita seharusnya dapat dilakukan untuk membuat film yang lebih mengreget.

Pada dasarnya tim Kambing Jantan sudah melakukan kerja keras untuk menyuguhkan tontonan yang cukup berbeda. Saya pun harus mengapresiasi itu. Toh masih ada bagian-bagian menarik dari film Kambing Jantan. Semoga saja kritik-kritik di sini bisa memberikan masukan berharga.

Posted by Wordmobi