48 Jam

Sesuatu akan terasa berharga ketika ia tidak ada
Sesal pun baru datang ketika sesuatu itu pergi
Berjuta kata “jika saja” dan kata “andaikan” pun tidak terlalu banyak memberi arti
Jika saja aku dapat bersikap lebih baik waktu itu
Andaikan aku tidak terus menerus berkata keras
Seandainya aku mau mendengar semua keluh kesahnya dengan manis
Bukan dengan kata-kata yang terus menyalahkan dan menyalahkan
Namun dengan sikap melindungi dengan penuh kasih, memaklumi semua kekurangannya
dan terus membantunya memperbaiki diri
Kini sudah 48 jam aku belum mendapat kabar darinya
Pertama kalinya aku tidak tahu bagaimananya
48 jam yang serasa berpuluh tahun
Kuharap ia baik-baik saja
Tak kuasa aku menanti waktu untuk bertemu lagi

Puisi-puisi Jon Bulan Juni

Dulu aku senang menulis puisi. Aktivitas yang sangat representatif untuk menumpahkan perasaan. Menumpahkan keluh kesah, kebahagiaan dan juga cinta tentunya. Dulu banyak sekali kumpulan puisi yang aku tulis dalam notebook-notebook kecil. Tidak tahukemana nampaknya mereka sudah hilang berserakan.

Sekarang aku mulai senang menulis puisi lagi. Tapi anehnya aku mengetik puisi-puisi tersebut di handphone. Biasanya aku lakukan saat tengah didera suntuk. Di bawah ini adalah karya-karya yang lahir dari otak hampa ini sepanjang Juni 2008 ini.

Menerjang sepi

Ketika sepi menerjangmu yang jarang didera sepi

Ingatlah aku pria yang sering merasa sepi dan jarang diterjangramai

Saat sering aku mengingatmu

Kuingin kembali

Jika mati bisa hidup

Jika waktu dapat mundur

Jika sesal menyenangkan

Kuingin kembali mengulang hari

Menulis kisah seperti dongeng

Yang selalu berakhir dengan kisah:

dan mereka pun hidup bahagia selamanya

Ketika ku kan pergi

Ketika ku kan pergi

Kuharap kau mendoakanku

Karena ku pun selalu mendoakanmu

Semoga cintamu selalu untukku

Karena gejolak cinta di dada ini pun selalu merujuk padamu

Kuingin kau bersabar menungguku

Karena ku pun selalu bersabar menahan ledakan kerinduan padamu

Kerinduan untuk

Menatap cantik parasmu

Mendengar Lembut suaramu dan renyah tawamu

Melihat Manis senyum manjamu

Memaknai Halus sifatmu

Kuingin kau selalu ada untukku

Meski sementara hanya melalui suara

dan pesan singkat yang bermakna

Untuk kesedihan dan kebahagiaan

Demi malam dengan bintang dan bulannya

Demi kesedihan yang terkadang mengusik kebahagiaan

Tak kan kubiarkan ku merana

Hanya karena kalah di pikiran

Hatiku adalah milikku

Dengan hak untuk memilih rasa

Bahagia ataupun sedih adalah keputusanku

Detak detik rindu

Ketika malam pun semakin larut

Kantuk pun datang menyambut

Namun lelap tak kuasa melawan gelisah hati

Yang terus merindumu

Dalam setiap detak jantung

Dan detik waktu