(Gagal) menuju Beasiswa Kominfo 2011 – Part 4 (Tamat): Refleksi

In this world most thing happen not like what we want.

Life is too boring if everything happen too smooth.

Post ini adalah sekuel akhir dari curhatan proses seleksi beasiswa kominfo 2011.

Yang belum baca part 1 bisa dilihat di sini.

Yang belum baca part 2 bisa dilihat di sini.

Yang belum baca part 3 bisa dilihat di sini.

Dunia adalah tempat di mana kebanyakan kejadian tidak terjadi seperti yang kita inginkan. Apakah fakta tersebut harus membuat kita menyerah? Tentu saja tidak. Sesuatu yang terlalu mudah akan membosankan, percayalah. Meski saya pun harus sadar menghadapi tantangan bukanlah hal yang mudah. Tetap tegar ketika hal yang kita inginkan ternyata tidak tercapai juga bukan perkara gampang. Namun semua proses tersebut akan membuat kita lebih maju pada akhirnya.

Sejak lama masalah pendidikan adalah prioritas penting bagi diri saya. Salah satu alasannya adalah I feel stupid. Thats why I must never stop learning. Saya bukan pengejar gelar akademis. Saya adalah orang yang sangat menikmati proses menjadi tahu dari tak tahu. Kita bisa belajar di mana pun meski bukan di sekolah atau di kampus. Tapi pendidikan formal adalah sebuah sistem yang sudah dibangun sedemikian hingga menyajikan proses pembelajaran yang sulit disaingi oleh sistem non formal. Oleh karena itu juga sejak lulus SMA saya bertekad untuk bisa kuliah. Meski pada masa itu mewujudkan keinginan tersebut bukan perkara yang terlampau gampang juga karena saya tak punya sandaran finansial yang mapan. Tapi toh dengan berjalannya waktu semua bisa dicapai, pelan tapi pasti. Di mana ada kemauan pasti ada jalan nampaknya bukan pernyataaan yang bohong.

Sejak sebelum lulus kuliah saya sudah berikrar untuk terus kuliah sampai mentok. S2, S3 dan seterusnya. :p Namun ketika sadar belum punya pijakan finansial yang juga mapan satu-satunya cara mewujudkam mimpi tersebut adalah mencari beasiswa. Apalagi hingga detik ini saya benar-benar terobsesi untuk bisa kuliah ke luar negeri.

Bicara pendidikan sebenarnya secara kualitas meskipun ada namun perbedaannya tak terlalu signifikan antara di dalam dan luar negeri. Tapi memang tak dapat dipungkiri kesempatan bersekolah di luar negeri adalah sebuah hal yang sangat berharga. Alasan- alasannya: pertama, kita dapat berinteraksi dalam sebuah lingkungan yg heterogen, tentunya hal ini akan benar-benar bermanfaat untuk memperluas khasanah wawasan kita. Kedua, sebagai negara berkembang penting bagi kita untuk menimba ilmu ke negara lain untuk melihat bagaimana mereka bisa maju, bagaimana standar pendidikan mereka. Ketiga adalah alasan pragmatis, dunia ini luas kawan, orang-orang beragam berbeda suku bangsa dan bahasa. Dunia ini indah. Di belahan lain panas terik matahari benar-benar membakar gurun (saya tahu jarang ada kampus di tengah gurun, ini hanya ilustrasi). Sementara di tempat lain lagi salju yang selembut kapas turun di malam yang indah. Saat musim gugur daun kering berjatatuhan. Saat musim semi semua tumbuhan bermekaran dan burung-burung kecil berterbangan kegirangan. Tak inginkah kau melihatnya langsung? Itulah alasan pragmatis saya untuk bisa merasakan sekolah di luar negeri.

Proses pencarian beasiswa baru serius saya lakukan di awal tahun 2011. Saya merasa sangat bersyukur di masa tersebut saya berhasil memaksa diri saya melawan kemalasan yang biasa melanda untuk melamar beasiswa Kominfo hingga sampai ke tahap wawancara akhir.

Ada jeda panjang antara wawancara akhir dan pengumuman aplikan yang lolos. Selama masa waktu tersebut saya dengan membabi buta memeriksa website Kominfo hampir setiap hari untuk memastikan tak terlewat pengumuman akhir hasil beasiswa. Padahal gmail saya sebetulnya sudah di push ke hp. Tanpa seekstrim itu pun jika pengumuman keluar saya akan mendapat email. Namun itulah gelap mata.

Dan penantian pun usai sudah di sore hari tadi. Seorang kawan yang sesama aplikan meceritakan dia mendapat email dari kominfo. Tak lama kawan yang lain mengirim message lewat whatsapp bercerita bahwa hasil akhir sudah keluar. Dengan sedikit deg degan saya pun membuka web kominfo. Namun tak menemukan link yang dimaksud. Setelah bolak-balik mencari saya tersadar bahwa link yang dimaksud ada di banner besar yang sebelumnya mentautkan link pengumuman undangan wawancara. Saya pun langsung membuka link tersebut masih dengan sedikit berdegup. Ada 61 nama dan setelah menskim cepat tak saya temukan seorang pun dengan alphabet nama berawalan J. Gagal kah? Saya terus melihat berulang kali diantara beberapa nama teman-teman wawancara gelombang 2 yang sebagian sudah saya kenal. Ya tak ada nama saya. Saya gagal.

Perasaan gagal itu sulit diungkapkan kata-kata. Ia adalah kombinasi rasa ketidakpuasan terhadap diri sendiri, rasa kecewa, rasa ingin menarik mundur waktu untuk mengevaluasi apa yang bisa dievaluasi agar saya tak gagal, rasa hilang semangat dan rasa ingin menyendiri. Namun tentunya rasa tersebut hanya rasa yang hadir sesaat. Saya pun sadar harus tetap positif. Saya sudah melakukan yang terbaik dan inilah hasil terbaiknya. Tak perlu kecewa namun justru hanya perlu mencoba lagi.

Setelah curhat dengan beberapa teman-teman dekat alhamdulillah mendapat motivasi baru. Pikiran yang sempat mampet mulai plong kembali. Pada dasarnya semua hal sekecil apa pun sudah merupakan suratan Yang Maha Kuasa. Manusia hanya merencana namun Tuhan yang memutuskan. Mengapa manusia harus merencana jika akhirnya Tuhan memutuskan hal yang lain? Jawabannya adalah agar manusia tahu bahwa Tuhan selalu punya rencana yang jauh-jauh lebih baik.

“Jon beasiswa ente bukan gagal tapi ditunda. Tuhan pengen kamu lebih siap. Everything that doesn’t kill you will only make u stronger. Mungkin lo akan dapat beasiswa yang lebih baik.lagi. Mungkin Allah pengen lo merit dulu sebelum sekolah lagi. ” Sebagian petikan motivasi temana-teman yang sangat berharga.

Di tengah malam ini, di bawah bulan yang sangat cerah aku menyimpan sejenak bayangan Kota Delft. Mungkin nanti akan aku buka lagi. Aku akan terus menyimpan bayangan kota di belahan dunia mana pun di mana pena digital aku bisa menulis sesutu yang bermanfaat, prosesor jasmaniku bisa mempelajari ilmu yang berguna dan jiwa aku bisa memanfaatkan sejenak waktu luang untuk mengunjungi tempat-tempat indah di sana, di mana pun “sana” tersebut.

Refleksi adalah melihat diri kita secara utuh atas hal tertentu yang sudah kita lakukan, kurang dan lebihnya. Seperti melihat bayangan diri di balik cermin. Kita bisa melihat kurang atau lebihnya. Kita bisa mengidentifikasi hal yang mungkin bisa diperbaiki agar kita terlihat lebih elok. Dan cerita ini adalah salah satu bagian dari refleksi tersebut.

Selamat untuk teman-teman yang berhasil, semoga sukses selalu.

I wont give up. I will never stop until I accomplish every dream that I have. Ambitious but still moderate. See you in some beautiful country soon.

Fin.😀

21 thoughts on “(Gagal) menuju Beasiswa Kominfo 2011 – Part 4 (Tamat): Refleksi

  1. gwyana berkata:

    Yup that’s trus Jon, mungkin kalo kamu berangkatnya dalam waktu dekat ini,,hmmm Na belum siapin Mie Instan buat lu bawa hehehehe…..keep dreaming, faithing, and fighting……Allah Loves u more Jon, so He gives u what u need🙂 …semangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaattt *teriak dari atas monas*

    • lamida berkata:

      Jangan teriak2 melulu ntar soak. hahaha. Mie instan.. ide yang bagus, gw bosen bawa pop mie melulu kalo jalan2.😀

  2. hana_m@banpuindo.co.id berkata:

    Hi..Jon Kartago Lamida…salam kenal!
    Sharing storynya very cool sob, it bless me and encourage me as well.
    At least, your sharing story re-burn my self to be same like u a scholarship chaser.
    Btw, how old are u, sob?

    Regards,

    Hana Maria F.

    • lamida berkata:

      Salam kenal juga. Thank you if this sharing can reburn u😉. Yes I will continue to chase until get one. I am 25 now.🙂

  3. nova berkata:

    salam kenal. cerita yang bagus. mengingatkan saya akan kisah saya sendiri. jg seorang pengejar beasiswa. pny keinginan kuat S2 (tp enggak pingin S3). bolak bali kecewa saat mimpi gagal terwujud. ternyata mimpi justru terwujud saat saya berhenti dari 1 mimpi & mulai mimpi yang lain. akhirnya harus sadar bahwa banyak hal di luar kuasa kita, bahwa semua ada waktunya.
    kalo ada waktu silahkan mampir ke http://neunova.multiply.com/ (melewatkan wisuda saya, tips mengikuti TPA dan kisah saya sendiri). thanks🙂

  4. ahmadzulfahmi berkata:

    Wah ceritanya memotivasi banget bang jon, saya baca dari a, saya juga punya impian mendapat beasiswa, tapi selalu terkendala dengan bahasa inggris, so…gimana tipsnya agar kita bisa bahasa yang satu ini, sumpah bang, saya amat sulit sekali rasanya belajar bahasa ini……thanks share-nya bang jon

    • lamida berkata:

      Harus dipaksa untuk belajar. Saya pun sampe sekarang masih belepotan kalo ngomong. Klo pengen enak sih ambil kursus, jadi biar dipaksa belajar. Opsi lainnya kerja di kantor yang ada orang asingnya jadi akan “dipaksa” untuk ngomong.🙂

    • lamida berkata:

      Semoga bermanfaat. Btw saya sudah lama tidak menulis. Tapi Insya Allah masih semangat untuk melamar beasiswa. Belum dapat2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s