Tips Mendekatkan Diri pada Jodoh

Entah kenapa, beberapa post terakhir ini dan mungkin yang beberapa berikutnya terus membahas masalah nikah dan jodoh. Mungkin karena hati yang masih berbunga-bunga. Atau efek jauh dari istri? :p Semoga tak menjadi sesuatu yang bosan dibaca tentunya.

“Jadi kapan Jon nikah?” Bertanya bapak tersebut kepada saya. Saya pun jawab dengan cengengesan. Sebenarnya cengengesan tersebut bukan jawaban sama sekali. Tapi dari pada bingung menjawab apa, cengengesan itu pun menjadi jawaban terbaik.

Kemudian si bapak itu lanjut bercerita. Anak jaman sekarang kalau ditanya masalah menikah pasti banyak mengelak. Entah karena memang belum siap atau belum punya calon atau bisa juga merasa masih muda, masih segar dan masih tampan dan cantik sehingga merasa tak perlu memusingkan masalah itu. Jadi kalau pada umur 25 ditanya masalah nikah, maka anak-anak muda itu akan berkata. “Nikah? Siapa saya!” Dengan segala kebanggaannya. Beberapa tahun kemudian di usia 30an ketika ternyata si anak muda yang sudah tak muda lagi ditanya hal yang sama, “Nikah? Siapa saja.” Dengan kebanggaan yang sudah benar-benar hilang.

Identitas bapak tersebut tidak saya angkat di sini. Percakapan tersebut terjadi pada bulan April 2011. November 2011 alhamdulillah Allah mempertemukan saya dengan jodoh saya, tanpa harus menunggu usia 30 tahun.

Setiap orang mungkin akan tahu bahwa ada 3 hal dalam kehidupan yang merupakan takdir mutlak bagi manusia. Hal tersebut adalah kelahiran, kematian dan jodoh. Rasul sendiri bersabda, ketika ditiupkan ruh pada anak manusia tatkala ia masih di dalam perut ibunya sudah ditetapkan ajalnya, rezekinya, jodohnya dan celaka atau bahagianya di akhirat. Jadi bahkan sebelum kita lahir, Allah itu sudah menetapkan jodoh kita siapa. Meski pun kelak misalnya kita baru bertemu jodoh kita 4 bulan sebelum menikah, ternyata Allah itu sudah merancang berpuluh tahun sebelumnya. Tapi sayangnya ternyata setiap orang tidak mempunyai cara dan waktu yang sama dalam bertemu jodohnya. Ada yang cepat atau ada yang lambat.

Sebagai salah satu yang pasti menjadi harap setiap orang, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mendekatkan diri kita pada jodoh kita. Pertama adalah usaha. Saya sudah pernah menulis beberapa kali. Jodoh itu memang di tangan Allah. Tapi jika tak diambil-ambil ya di tangan Allah terus. Usaha banyak caranya tentunya dengan memperluas pergaualan. Memperbanyak teman dan ikut banyak kegiatan. Biasanya semakin banyak teman, akan semakin luas jaringan. Peluang untuk dikenalkan dengan temannya teman bahkan dicomblangin pun terbuka lebar.

Kedua meningkatkan kualitas diri. Siapa pun pasti ingin bisa mendapat jodoh yang baik. Jodoh seumur hidup yang tidak akan pernah diamandemen. Manusia itu akan tarik menariknya dengan manusia-manusia lain yang serupa. Anak dugem ya pasti akan bertemunya dengan anak dugem. Anak majelis ta’lim kemungkinan besar akan dekatnya dengan anak majelis ta’lim juga. Hanya di sinetron di mana ada gadis desa penggembala domba yang super cantik (gadis desa tapi mukanya peranakan bule) bisa ketemu dengan pria muda dari kota yang ganteng dan kaya rasa. Di kehidupan normal non sinetron, manusia hanya akan nyaman bertemu dan dekat dengan orang lain yang serupa. Oleh karena itu cara untuk mendapat jodoh yang baik adalah dengan meningkatkan kualitas diri menjadi lebih baik juga.

Ketiga adalah selalu berdoa. Terkadang saya merasa terlalu banyak “bacot” mengenai masalah doa. Tapi saya sulit memungkiri besarnya peran doa dalam kehidupan. Bagi orang beragama doa adalah media komunikasi dengan Tuhan. Media dimana semua harap dipanjatkan. Apalagi untuk hal yang satu ini, sebab tadi sudah dijelaskan dan mungkin banyak dari kita percaya bahwa jodoh itu di tangan Tuhan. Jadi memintanya kepada Tuhan. Bukan kepada dukun. Ada sebuah kisah yang bahkan diabadikan dalam Al-Quran surat An-Nahl ayat 92 “Dan janganlah kamu seperti perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi bercerai-berai kembali…” Yang dimaksud Al-Qur’an dengan ‘wanita pengurai benang yang telah dipintal’ adalah Rithah Al-Hamqa. Seorang gadis Bani Ma’zhum yang cantik dan kaya raya namun tak kunjung mendapatkan jodoh. Bahkan ibu si gadis justru malah sering meminta petunjuk pada dukun dari pada memohon pada Allah. Rithah sendiri terlalu tidak sabar untuk berprasangka baik pada Allah. Pada akhirnya Rithah dipinang seorang pria muda. Namun setelah menikah ternyata si pria itu hanya ingin menguras harta Rithah kemudian menceraikannya. Sehingga pada akhirnya dengan penuh kekecewaan Rithah menghabiskan sisa umurnya dengan memintal dan mengurai benang.

Spesifik untuk jodoh idealnya doa dilakukan melalui istikharah. Sebab jodoh adalah hal yang sangat fundamental. Urusan dunia akhirat. Sehingga proses meminta petunjuk pada Allah pun harus benar-benar total. Istikharah sendiri biasanya akan sangat memperlancar proses pencarian jodoh ini.

Langkah keempat untuk mendekatkan diri pada jodoh adalah tidak perfeksionis. Kita harus mencari sosok yang ideal. Namun manusia itu tidak sempurna. Pasti banyak kekurangannya. Pada kebanyakan kasus orang-orang yang belum juga menikah padahal sudah mampu adalah terlalu perfeksionis. Mencari yang terlalu sempurna. Mencari yang terlalu cantik, yang kaya, yang pintar, yang sederajat. Padahal semua ukuran tersebut pada akhirnya tidak akan berguna bagi pernikahan. Satu-satunya yang berguna hanyalah akhlak. Carilah yang akhlaknya baik, jika kebetulan ia juga cantik itu adalah bonus. Setelah semua hal di atas dilakukan hal yang yang tersisa adalah tawakal sambil berbaik sangka pada Allah.

Jadi kira-kira itulah buah pemikiran sesaat di malam ini mengenai beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mendekatkan diri pada jodoh. Cara-cara tersebut adalah pertama usaha, kemudian meningkatkan kualitas diri, berdoa, tidak perfeksionis dan terakhir tawakal.

Image from: http://idonanda.multiply.com/journal/item/55

Recover Your Mood when It Swings Down and Down

Sudah sekian bulan tak menulis post baru di sini. Sebuah curhat akhirnya memicu keinginan tersebut.

Manusia itu dinamis. Terutama perasaannya. Terkadang senang, terkadang seketika bisa juga menjadi drop suntuk oleh sesuatu penyebab yang remeh. Terkadang semangat seakan sanggup memindahkan gunung namun terkadang pula kehilangan motivasi secara total serasa hilang tulang belakang seperti invertebrata. Terkadang jatuh cinta. Terkadang mudah benci pada sesuatu. Terkadang sabar. Terkadang amarah gampang memuncak begitu saja. Dalam Islam kita harus percaya Allah yang membolak-balikan hati. Ada sebuah doa terkenal yang menerangkan ini. Yaa Muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘alaa diinika (Ya Allah yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku agar senantiasa di atas agamaMu) (H.R. Tirmidzi).

Lalu kenapa ya kok manusia seperti itu. Jawabannya sederhana, agar hidup ini berwarna. Manusia itu punya 2 kecenderungan. Positif dan negatif atau baik dan jahat. Beda dengan setan atau malaikat yang cuma punya satu tendensi. Manusia akan membosankan jika hanya punya satu kecenderungan. Dan mungkin manusia tidak akan dijadikan Allah sebagai khalifah di muka bumi dengan kondisi seperti itu. Manusia dirancang menjadi khalifah karena dia punya 2 kecenderungan tadi, sehingga ia bisa, contohnya punya ambisi namun bisa juga punya kelembutan hati.

Dengan mempunyai dua kecenderungan tadi juga, ada aspek sosial yang akan benar-benar bermanfaat. Manusia akan berusaha untuk saling mendukung. Istri akan selalu mensupport suami, sebaliknya suami juga akan selalu menyemangati istri. Orang tua tak pernah berhenti menjadi pendorong bagi anaknya. Anak pun selalu akan berusaha menjadi mutiara yang membahagiakan orang tuanya. Aspek manfaat lain dari kecenderungan terkadang lemahnya manusia adalah momen untuk evaluasi diri. Saat sedang bad mood atau terdemotivasi adalah momen yang sangat tepat untuk mengevaluasi diri. Biasanya manusia saat sedang merasa lemah dia akan cenderung dekat dengan Tuhan karena ia merasa butuh. Banyak kontemplasi-kontemplasi yang bermanfaat di momen ini. Contohnya ya keinginan saya menulis di blog lagi. Lalu semangat untuk evaluasi diri dan merencana terhadap beberapa hal yang ingin dicapai dalam waktu dekat.

Ada beberapa penyebab yang bisa membuat mood turun. Pertama biasanya karena kondisi fisik yang tak baik. Sedang kurang sehat, kecapean dan kurang fit. Kedua, stress. Entah karena pekerjaan atau hal lainnya. Tiga, kegagalan. Kegagalan apa pun biasanya akan sering membuat kita kecewa. Padahal sebenarnya kegagalan jika disikapi justru bisa menjadi trigger yang sangat efektif untuk mencapai tujuan. Dalam fisika gaya dan momentum bergantung dari percepatan dan kecepatan. Dengan gagal biasanya kita jatuh atau terlempar mundur ke belakang. Dengan terlempar mundur ke belakang ini kita akan punya kesempatan untuk mengumpulkan percepatan dan kecepatan yang lebih besar sehingga akhirnya bisa menghit tujuan kita dengan gaya dan momentum yang lebih besar. Keempat, kurang perhatian. Kok bisa? Kembali lagi ke kecendurangan manusia tadi. Manusia itu multi tendensi. Bisa jadi di satu waktu sangat mandiri. Namun bisa jadi di satu waktu ia akan menjadi sangat manja. Terkadang merasa tidak diperhatikan bisa menjadi penyebab hilang mood yang cukup fatal.

Dari penyebab-penyebab tadi, tanpa merujuk ke paper research apa pun, saya akan coba merumuskan hal-hal apa yang bisa dilakukan untuk membalikan mood naik ke atas. Pertama adalah beribadah dan berdoa. Entah kenapa, maybe somebody will shout to me for being sok religius. Tapi buat orang beragama spirit yang didapatkan dari berdoa dan shalat (dalam Islam) itu luar biasa besarnya. Mungkin ada orang yang akan bilang bahwa Tuhan itu adalah pelarian orang-orang yang lemah. Benar! Sebab manusia adalah mahkluk yang lemah. Jika sudah lemah kita tidak punya pelarian yang benar, lalu mau jadi apa? Solusi kedua adalah berusaha membalikan pikiran positif. Ini memang tidak mudah. Saat bad mood, otak dan hati akan terus mencari justifikasi untuk tetap suntuk. Harus sedikit dipaksakan. Bisa dengan nyanyi-nyanyi atau nonton film lucu. Ketiga, buang energi suntuk dengan bergerak. Misalnya jogging atau berenang. Keempat, ini yang sangat bermanfaat, berkomunikasi dengan orang yang kita sayang. Misalnya istri, biasanya akan memberi efek luar biasa untuk mengembalikan semangat yang tenggelam dalam awan hitam.

Terakhir, salah satu penyebab bad mood di atas adalah kegagalan. Saat gagal memang tak dapat dibantah, diri akan tersungkur dalam palung bad mood. Salah satu cara untuk keluar dari sana adalah percaya bahwa kelak satu waktu kita bisa berhasil. Tentunya diiringi dengan ikhtiar dan adjustment strategi. Orang bilang seeing is believing. Namun sebaliknya pun mungkin bisa benar. Saya akan coba membuktikannya. Believe your dream and you can see it.