Selamat Datang di Tallinn

Setelah bubarnya Uni Soviet, ada perubahan signifikan terhadap peta negara-negara di Eropa. Di awal dekade 90an banyak negara-negara yang mendeklarasikan kemerdekaannya khususnya di Eropa Timur. Estonia adalah salah satunya. Estonia mungkin tidak menjadi tujuan utama wisata Eropa bagi kebanyakan orang. Alasan utamanya bisa jadi karena ketidaktahuan eksistensi negara ini. Namun ada banyak pengalaman menarik ketika kami memutuskan mampir ke Tallinn, ibukota Estonia. Tallinn hanya berjarak sekitar 70 Km dari Helsinki. Memang tidak mungkin bisa mengetahui secara mendalam suatu negara hanya dengan mengunjungi ibukotanya selama 2 hari. Tapi sekali lagi ada perspektif baru yang kami dapatkan setelah mengunjunginya.

12 Februari 2014

Tallinn hanya sekitar dua setengah jam perjalanan ferri dari Helsinki, Finlandia. Ada beberapa perusahaan penyebrangan yang melayani jalur Helsinki – Tallinn. Setelah membandingkan beberapa perusahaan, saya memutuskan memilih Eckero Line yang paling murah di antara yang lain. Tiket bisa dibeli secara online. Pada perjalanan kami kali ini, harga tiket per orang adalah 19 Euro.

 

Port of Helsinki

Menurut wikitravel, Eckero Line hanya mempunyai satu buah kapal. Nama kapalnya adalah Finlandia. Ini adalah kapal terbesar yang pernah saya naiki. Kapasitas kapalnya adalah 2000 penumpang. Kapal raksasa ini punya berbagai fasilitas. Jika mau, ada kamar-kamar yang bisa disewa jika memilih untuk tidur pendek untuk perjalanan singkat ke Tallinn. Di bagian depan kapal ada bar besar dengan panggung musik dan jendela besar yang menghadap ke arah kapal melaju. Ada juga supermarket, restoran dan beberapa toko di dalam kapal. Yang juga cukup penting, di lobi kapal terdapat loker tas yang bisa digunakan dengan membayar menggunakan uang koin. Cukup praktis untuk penumpang yang ingin berjalan-jalan di dalam kapal tanpa repot membawa barang bawaannya.

Freezing Sea

 

Si Raksasa Finlandia

Ferri menuju Tallinn berangkat dari Port of Helsinki West Terminal. Tram akan mengantarkan kita tepat di depan pintu masuk terminal. Jika sudah membeli tiket online, kita tinggal menuju ke ruang tunggu setelah memvalidasi tiket yang sudah kita print ke petugas yang berjaga. Jika kapal sudah siap, maka penumpang akan dipanggil ke gerbang keberangkatan. Jarak dari ruang tunggu hingga menuju kapal memakan waktu berjalan sekitar 15 menit. Jadi kita sebaiknya mengalokasikan waktu yang cukup sebelum jadwal keberangkatan.

Area Depan Kapal

Setelah masuk kapal, hal pertama yang kami lakukan adalah menitip tas. Setelahnya, saya dan Indri langsung menuju ke bar di bagian depan kapal di mana ada banyak sofa-sofa dan sebuah panggung musik di bagian depan kapal. Tentu saja kami tidak memesan minuman apapun di sini dan tidak ada keharusan untuk melakukan itu. Di sini banyak penumpang yang hanya duduk-duduk dan bahkan ada beberapa orang yang tidur selonjoran di bangku panjang.

Locker

Tak lama kapal pun berjalan. Sang raksasa Finlandia pun mulai merayap lepas dari dermaga Helsinki. Jika diperhatikan baik-baik maka akan terdengar suara grotak-grotak es yang pecah saat raksasa Finlandia melaju di atas laut yang membeku. Tak lama berjalan satu band pun mulai manggung di depan kami. Selama perjalanan ada beberapa band lain yang juga naik ke pentas. Uniknya mereka bernyanyi lagu dengan bahasa yang asing di telinga kami. Mungkin Bahasa Finlandia atau bisa jadi Bahasa Estonia. Namun meski demikian tetap terdengar bagus.

Sepanjang perjalanan sesekali saya dan Indri berkeliling kapal yang cukup besar tersebut. Sekali kami pergi ke supermarket kapal yang cukup besar dan membeli beberapa cemilan. Kami pun mencoba pergi ke restoran dan mencari barangkali ada makanan yang bisa kami makan. Sayangnya tidak ada. Pada akhirnya kami menghabiskan sebagian besar waktu di bar bagian depan kapal hingga kapal merapat di Tallinn. Satu hal yang sangat bermanfaat adalah ada wifi sepanjang perjalanan.

Sekitar beberapa waktu sebelum merapat, terdengar pengumuman yang entah dalam bahasa apa, tapi nampaknya mengabarkan bahwa kapal akan segera merapat dan penumpang diminta bersiap-siap. Banyak penumpang pun mulai bergerak meninggalkan bar besar tempat kami duduk. Pemain musik pun sudah berhenti mentas beberapa menit sebelumnya. Saya dan Indri pun turut keluar bar.

Selamat Datang di Tallinn

Tervetuloa Tallinna! Tulisan tersebut besar terpampang sesaat kami keluar dari Kapal Finlandia yang mengantarkan kami dari Helsinki. Artinya kira-kira adalah selamat datang di Tallinn. Kami langsung keluar dari terminal hingga sampai ke ruang tunggu besar. Di tengah jalan kami menemukan kantor turis yang sayangnya sudah tutup, padahal baru sekitar jam 6 sore. Di ruang tunggu tersebut saya pergi ke sebuah mini market untuk membeli tiket public transport. Menurut wikitravel, di Tallinn kita bisa membeli atau mengisi ulang tiket public transport di mini market.

Ruang Tunggu Pelabuhan Tallinn

Tallinn adalah negara Eropa Timur pertama selepas kami dari Nordik. Di sini penetrasi Bahasa Inggris tidak seluas di utara. Namun beruntung ketika saya menyapa petugas yang berjaga di mini market dia bisa berkomunikasi tanpa masalah. Saya memutuskan untuk membeli tiket 24 jam. Harganya adalah 3 Euro per 24 jam plus 2 Euro untuk deposit smartcard. Deposit 2 Euro bisa diambil kembali jika kita mengembalikan smartcard. Hanya saja saya tidak tahu persis mengembalikan ke mana. Menurut wikitravel lagi, ada 3 mode transport utama di Tallinn. Bus, tram dan trolleybus. Tram dan bus bukan hal yang aneh namun trolleybus seumur hidup pertama saya temukan di sini. Trolleybus adalah bus listrik yang sumber tegangan listriknya disalurkan kabel di atas jalan sepanjang jalur bus tersebut. Bayangkan tram hanya saja berwujud bus dan tanpa track. Atau bayangkan bombom car hanya saja berwujud bus besar.

Tallinn Trolleybus. Bus berkuping Listrik.

Selepas membeli tiket saya langsung keluar dari mini market dan menemui Indri yang sudah mengumpulkan beberapa peta. Di Tallinn kami menginap di Hotel Go Shnelli. Sejujurnya kami belum tahu persis itu di mana dan naik apa. Dari sana saya memutuskan bertanya ke petugas security yang bolak-balik cara naik bus ke pusat kota. Petugas yang nampaknya nyaris tidak bisa berbicara sepatah kata Bahasa Inggris pun langsung mengajak saya berjalan keluar terminal dan mengacung-ngacungkan jarinya ke sebuah halte bus beberapa puluh meter dari gedung terminal.

Go Hotel Shnelli

Setelah berterima kasih saya langsung mengajak Indri ke bus stop tersebut. Saya lupa naik bus apa, dan pada waktu itu saya juga tidak tahu pasti turun di mana namun berbekal peta turis saya memutuskan untuk turun di stop di pusat kota untuk kemudian menyambung tram. Untuk memastikan saya bertanya ke seorang penumpang wanita yang duduk di sebelah Indri. Ia pun membenarkan asumsi arah dan pilihan public transport saya. Bahkan setelah turun dari bus, ia menunjukan tram stop yang menuju hotel kami.

Setelah turun bus, tak lama tram yang kami tunggu datang. Tramnya terlihat sangat tua. Bahkan mungkin itu adalah sisa peninggalan Uni Soviet. Saat naik tram sangat penuh. Saya dan Indri memperhatikan handphone melihat google maps cache menuju tram stop dekat hotel kami. Kami akhirnya turun di stop bernama Balti Jaam. Balti Jaam berarti Baltic Station dalam Bahasa Estonia adalah stasiun kereta utama di Tallinn. Hanya saja jalur kereta Estonia belum terkoneksi ke daratan Eropa lain khususnya Eropa Barat.

Kami berjalan sedikit melewati gedung stasiun yang terlihat sudah gelap. Hotel kami ternyata tepat di sebelah stasiun tersebut. Lucunya, bahkan lorong-lorong menuju kamar di hotel menggunakan karpet beraksen rel kereta. Kami membayar 39 Euro permalam perorang untuk hotel yang lumayan bagus itu. Sesampai hotel kami langsung checkin. Setelah merapih-rapihkan barang kami memutuskan untuk langsung keluar mencari makan malam.

Rel Kereta di Karpet

Dari pencarian internet kami menemukan ada beberapa restoran kebab yang halal di sekitar Tallinn. Salah satunya ada dalam jarak berjalan dari hotel kami. Kami pun memutuskan ke sana sambil melewati atraksi utama wisata Tallinn, Tallinn Old Town. Hotel kami berlokasi persis di depan area old town. Setelah keluar dan menyeberang jalan kami sudah di area kota tua. Seperti namanya, di sini ada banyak bangunan tua yang telah berdiri sejak sekitar abad 15-17. Sambil menuju ke restoran kami memutuskan untuk sedikit mengeksplorasi old town yang cukup cantik di malam hari.

Old Town

 

Wifey in Old Town

Kami makan malam di sebuah resto kebab yang ada di sisi lain old town. Awalnya kami kesulitan mencari tempat ini sebab titik di google maps menunjukan restoran ini ada di tengah-tengah jalan raya. Setelah kami periksa lagi ternyata resto ini tepatnya berada di underpass yang memang berposisi di tengah bagian bawah jalan. Setelah makan kami memutuskan untuk pulang naik bus lalu beristirahat.

13 Februari 2014

Morning Tallinn

 

Kereta Regional di Balti Jaam

 

Balti Jaam

Tujuan utama kami hari ini adalah Tallinn TV tower. Tallinn TV Tower berada agak di luar pusat kota. Setelah naik tram ke pusat kota, kami mencari bus menuju ke sana. Sayangnya setelah berputar-putar ke beberapa stop, kami tidak menemukan nomor bus yang kami cari. Belakangan kami sadar bahwa bus tersebut tidak berhenti di bus stop luar tapi menunggu di terminal bus di basement sebuah mall besar di depan kami. Perjalan bus ke Tallinn TV tower memakan waktu sekitar 20 menit.

TV Tower

Sesampai TV tower yang ternyata berlokasi di daerah perbukitan kami langsung masuk ke area. Hingga kini tower tv tersebut masih beroperasi. Harga tiket masuknya adalah 7 Euro perorang. Dari seluruh TV tower hanya 2 tingkat paling atas selain area tiket di bagian bawah yang terbuka untuk turis. Saat naik lift, ada animasi lift yang naik hingga ketinggian sekitar 140 meter diiringi dengan background music yang cukup menarik. Di bagian atas kita bisa melihat seputar Tallinn. Di area ruang pandang ini juga ada banyak alat peraga dan panel informasi. Ada periskop juga yang bisa melihat pemandangan menggunakan kamera yang nampaknya berada di seputaran menara. Di panel informasi ada banyak informasi seperti statistik akses informasi seperti internet di Estonia. Di karpet lantai tertulis beberapa panah penunjuk ke arah beberapa kota besar dunia, termasuk Jakarta. Di lantai ruang pandang juga ada bagian lantai yang berupa kaca di mana kita bisa melihat bagian bawah menari dari ketinggian 140 meteran tersebut.

Slow Motion Rising

 

140 Meters Above Ground

 

Satu Contoh Panel Peraga

 

Pemandangan di Luar Kaca

Di atas ruang tunggu ada restoran. Kami memutuskan makan siang roti sambil ngeteh. Di bagian restoran kita bisa keluar untuk merasakan angin dan suasana di ketinggian 140 meter. Tidak perlu khawatir ketinggian sebab ada pagar kawat yang cukup tebal. Jika itu kurang menantang menara tv ini menawarkan atraksi berjalan di pinggir menara tanpa kawat dengan badan yang diikat kabel pengaman. Setelah makan kami turun, membeli beberapa souvenir dan memutuskan kembali ke hotel untuk shalat.

Tea Time

Di Luar Restoran TV Tower

Old Town

Tallinn Old Town

Selesai shalat kami kembali mengeksplorasi kota tua, kini dengan ditemani matahari sore. Kami berputar-putar di kota tua hingga malam. Sebelum pulang kami makan malam di resto kebab yang sama. Setelahnya kembali ke hotel untuk packing perjalanan berikutnya menuju Riga.

14 Febuari 2014

Terminal Bus Tallinn

Kami keluar hotel pagi hari sekali. Beruntung menurut peta cukup satu kali naik tram ke Terminal Bus Tallinn. Perjalanan ke sana sekitar 20 menit. Setelah turun tram sudah langsung terlihat bus yang bisa dibilang sangat bagus tersebut. Dari sini kita bisa naik bus ke beberapa kota seperti St. Pietersburg Rusia, Villinius di Lithuania dan termasuk Riga tujuan kami. Cerita pun berlanjut di Riga.

 

Winter di Helsinki

Jika boleh minta satu permintaan fisik, saya ingin punya tinggi badan lebih lagi. Tentu saja ini setengah candaan yang tak terlalu serius. 🙂

10 Februari 2014

Malam itu, 10 Februari nyaris tengah malam, Jarno Vitala, host apartemen yang kami sewa di Helsinki menyambut kami. Dia bercerita mengenai hal apa saja yang perlu kami tahu dari apartemennya sambil mondar-mandir berdiri menunjukan beberapa hal. Ada kompor listrik, oven, mesin cuci dan berbagai perlengkapan lain yang cukup lengkap. Ia juga menjelaskan cara mengembalikan kunci saat kami checkout 2 hari dari malam itu. Di pojok ruangan, Indri istri saya nampak senyum-senyum melihat percakapan saya dan mas Jarno si pria Finlandia ini. Setelah Jarno pamit pulang, barulah Indri bercerita bahwa percakapan dua pria yang tadi ia lihat ibarat seekor anak ayam yang dianalogikan sebagai saya, sedang ngobrol dengan seekor kuda eropa, ibarat si Jarno nan jangkung. Saya pun akhirnya menjadi terkekeh sendiri tersadar bahwa leher saya terasa agak pegal sebab sepanjang obrolan tadi memang kepala saya mendongak ke atas untuk berkomunikasi dengan Jarno yang nampaknya tingginya minimal 2 meter sementara saya yang alhamdulilah semampai alias semeter tak sampai.

Dua jam sebelumnya

Norwegian Air Shuttle yang kami naiki dari Stockholm mendarat sekitar pukul 11 malam di Helsinki-Vantaa International Airport. Helsinki alias Helsingfors dalam Bahasa Swedia adalah ibukota negara yang dulu pernah sangat terkenal dengan Nokia yang kini agak sedikit meredup. Di negara ini pula rombongan burung-burung pemarah Angry Birds karena telurnya dicuri dikembangkan oleh perusahaan yang bernama Rovio. Untuk pengguna Linux, di kota ini pula Linus Torvalds berasal.

Setelah mengambil bagasi, saya dan Indri langsung menuju ke turis office di bandara. Kantornya memang sudah tutup, tapi ada banyak guide book, peta dan pamflet yang tersedia. Buku panduan, pamflet dan peta yang tersedia sangat lengkap menunjukan keseriusan pihak terkait di Finlandian dalam promosi pariwisatanya. Setelah cukup mengumpulkan buku dan peta yang tersedia gratis kami langsung menuju ke luar terminal bandara mengikuti panduan ke arah bus stop.

Berdasarkan pencarian internet yang saya lakukan selama mengangkasa dari Stockholm tadi, perjalanan menuju pusat kota Helsinki dilayani oleh bus nomor 615. Tarifnya adalah 4.5 Euro per orang. Tiket dapat dibeli di mesin atau bisa juga beli langsung ke supir bus. Bandara Helsinki Vantaa terletak di region bernama Vantaa dan berjarak sekitar 18 Km ke pusat kota Helsinki. Saya lupa tepatnya, perjalan bus sekitar 20-30 menit hingga kami turun di bus stop yang telah kami tandai di google maps.

Di Helsinki kami menginap di apartemen yang kami sewa melalui airbnb. Serupa dengan negara nordik yang lain, Finlandia pun adalah negara mahal. Setelah melalui beberapa pertimbangan menginap di whole unit studio apartment akan lebih ekonomis dibandingkan tinggal di hotel. Kami book sebuah apartemen studio di distrik Kallio di Helsinki. Kami memilih apartemen paling murah yang memiliki banyak review positif. Total biaya untuk 2 malam adalah 167 SGD atau sekitar 96 Euro.

Setelah turun bus kami langsung bernavigasi lagi menggunakan offline cache google maps. Hampir jam 12 malam dengan suhu yang sangat dingin tentunya. Tak lama ketika kami mulai berjalan, shower snow pun turun dengan derasnya. Sempurna sekali Helsinki menyambut kami. Kami terus berjalan melewat area residensial yang terdiri dari banyak apartemen yang cukup apik namun jalanan sudah sepi karena malam sudah larut. Lucunya di jalan kami melihat beberapa orang keluar rumah sambil membawa anjing mereka berjalan-jalan. Istri saya bilang hal tersebut adalah indikator bahwa bisa jadi salju baru turun di Helsinki sehingga beberapa orang ingin menikmati dengan berjalan-jalan ke luar. Salju terus turun dengan cukup deras sambil kami terus berjalan. Tak lama kami pun mulai mendekati apartemen. Beruntung ada sebuah mini market 24 jam hingga kami pun langsung mampir. Indri langsung membeli beberapa bahan masakan untuk keperluan selama di Helsinki.

Selesai dari mini market apartemen yang kami tuju tepat di sebelah. Kami mondar-mandir sejenak dan memeriksa alamat apartemen untuk memastikan ada di apartemen yang benar. Sebuah gerbang besi raksasa telah terkunci rapat. Setelah merasa yakin akhirnya saya pun mengeluarkan handphone untuk melihat kode pintu gerbang yang sudah dikirim host kami. Saya mengetikan nomor kode di keypad mekanik yang ada di gerbang kemudian mencoba membuka pintu. Tidak terjadi apa-apa. Saya coba sekali lagi, masih tidak bisa juga. Dua kali, tiga kali dan empat kali. Ups apakah kami ada di apartemen yang benar? Baru saja saya hendak mengeluarkan handphone untuk mengontak host kami, tiba-tiba seseorang keluar dari dalam. Melihat dua manusia tropis yang terlihat kedinginan di depan gerbang, orang yang asing tadi bertanya apakah kami hendak masuk? Kami langsung mengiyakan dan gerbang pun langsung dibuka dari dalam. Setelah berterima kasih kami kemudian berjalan dan sebuah pintu kayu besar harus dibuka agar kami bisa masuk ke lobi. Saya mencoba memasukan nomor kode lain untuk pintu ini. Beruntungnya, kali ini kode yang saya punya berfungsi dan pintu kayu raksasa pun terbuka.

Fleminginkatu, Helsinki

Apartemen kami ada di lantai 3, dan seperti beberapa gaya bangunan di Eropa, apartemen ini tidak memiliki elevator. Sesampai di lantai 3 kami langsung memencet bell unit apartemen yang kami tuju. Dua kali memencet bell akhirnya seseorang membukakan pintu. Ialah mas Jarno Vitala yang saya ceritakan di atas. Dari obrolan kami pula Jarno bercerita bahwa pintu gerbang tak bisa dibuka menggunakan kode selepas jam 9 malam. Tadi dia berharap kami akan menelepon sesampai di bawah.

Apartemen Jarno sangat stylish. Apartemen ini ada di gedung yang nampaknya cukup tua. Namun interior unit apartemen tersebut nampaknya sudah direnovasi. Di ruang utama ada sebuah meja makan sederhana, 2 atau 3 kursi santai, sebuah sofa, sebuah desktop pc dengan koneksi internet, beberapa ornamen unik di tembok dan dapur lengkap. Kamar mandinya cukup bagus dan bersih, lengkap dengan bathtub dan ada juga sebuah mesin cuci. Lalu di mana tempat tidurnya??? Untuk memaksimalkan ruang, ternyata tempat tidur dipindah di bagian atas foyer, semacam lantai mezanin dan harus dipanjat dengan tangga kayu. Kesemua bagian apartemen tersebut dapat dibilang tertata dengan sangat apik.

Setelah Jarno pulang, malam itu istri saya memasak sambil saya membongkar pakaian dan keperluan lain yang diperlukan selama kami tinggal di Helsinki. Kami tidur setelah lewat tengah malam, sementara di luar salju nampaknya masih terus turun.

11 Februari 2014

Pagi hari dimulai dari sarapan di rumah. Sisi positif dari menyewa whole unit apartemen adalah kemungkinan penghematan biaya makan. Biaya makan di resto di Eropa, terlebih lagi di negara Nordik adalah sangat mahal dan itu pun harus pandai-pandai memilih mencari yang halal. Memasak di rumah terjamin halal dan lebih ekonomis.

Kami keluar rumah sekitar jam 10 pagi. Tujuan utama kami di Helsinki adalah Suomenlinna, sebuah pulau di selatan Helsinki. Namun sebelum ke sana kami berencana berjalan-jalan dulu di pusat kota. Dari apartemen kami berjalan ke tram stop yang berada tidak jauh. Tujuan pertama adalah University of Helsinki. Saat tram datang kami langsung naik dan saya membeli daily ticket seharga 8 Euro. Bentuk tiket adalah print kertas dengan tanggal dan waktu awal aktif dari tiket. Tiket valid selama rentang 24 jam dari tanggal dan waktu yang tertera. Di Helsinki, kita bisa naik dan turun bus dan tram dari pintu mana saja. Secara teori akan ada petugas yang akan melakukan pemeriksaan secara acak mencari penumpang yang tidak mempunyai tiket. Namun pada praktiknya kami tidak menemui pemeriksaan sekali pun.

Sebagai informasi, bahasa resmi di Finlanda adalah Bahasa Finlandia dan Bahasa Swedia, meski sebenarnya penduduk natif yang berbahasa ibu Swedia berjumlah kurang dari 10% dari seluruh populasi. Oleh karena aturan perundang-undangan setiap pengumuman harus disampaikan dalam 2 bahasa tersebut. Lebih ekstrim lagi, setiap nama tempat dan termasuk jalan di Finlandia memiliki versi Bahasa Finlandia dan Bahasa Swedia. Namun Bahasa Inggris dimengerti oleh sebagian besar orang Finlandia seperti di negara-negara nordik lainnya. Bahasa Finlandia adalah bahasa yang terdengar lucu dan memiliki akar yang berbeda dari bahasa-bahasa lain di Eropa.

Wifey di University of Helsinki

Kembali ke perjalanan, kami turun di pusat kota di stop yang kami lupa namanya. Dari situ tak jauh sudah masuk kawasakan University of Helsinki. Di kampus inilah sosok legendari Linus Torvalds berkuliah dan mungkin menghack versi awal kernel Linux. Menurut kisah karena Linus digigit pinguin di Australia, maka Linux menggunakan pinguin bernama Tux sebagai logo sistem operasi yang menggunakan kernel linux.

Senat Square, Helsinki

Selain berjalan-jalan di sekitaran University of Helsinki, kami pun mampir ke kantor University Admission Finland untuk mengirimkan berkas admission master saya ke Lappenranta University of Technology yang berada di kota Lappenranta di timur Helsinki. Dari sana kami berjalan menuju ke landmark Helsinki, Katedral Helsinki (Tuomiokirkko dalam Bahasa Finlandia). Desain katedral ini sangat sederhana bila dibandingkan dengan katedral-katedral lain yang kami temukan di Eropa Timur dan Spanyol kelak. Di depan katedral adalah Senate Square. Tidak ada yang spesial dengan square ini, bisa jadi karena suasana musim dingin.

Helsinki Cathedral

Kami pun lanjut berjalan ke tempat tujuan utama di Helsinki, Suomenlinna. “If you see only one place in Helsinki in the summer, make it Suomenlinna” petikan dari wikitravel. Suomenlinna adalah bekas benteng laut terbesar di baltik. Dulu dibangun oleh Swedia dan sudah masuk UNESCO world heritage list juga. Kini Suomenlinna memang menjadi obyek wisata. Ada banyak museum selain sisa-sisa benteng di pulau itu. Namun Suomenlinna pun menjadi tempat tinggal sekitar 800 orang.

Laut Es Batu, Market Square, Helsinki

Perjalanan ke Suomenlinna dapat ditempuh menggunakan feri yang beroperasi sekitar setiap 40 menitan dan lama perjalanan sekitar 20 menit. Pada waktu itu kami bisa menggunakan tiket 24 jam Helsinki untuk feri ini. Laut Baltik di selatan Helsinki membeku di musim dingin. Feri yang kami tumpangi harus memecah lapisan-lapisan es sambil berjalan. Perjalan feri ini adalah salah satu hal terkeren yang pernah saya alami.

Ferri ke Suomenlinna

Narsis di Ferri

Es Pecah di Belakang Ferri

Sesampai di Suomenlinna kami langsung keluar feri dan di luar penumpang yang hendak menyeberang balik ke Helsinki sudah mengantri. Di depan pelabuhan ada pusat informasi turis. Agak mengejutkan bahwa di musim dingin seperti ini tetap ada petugas yang berjaga dan sama mengejutkannya, selain kami ada cukup banyak juga wisatawan yang datang. Di kantor turis ada banyak informasi seputar Suomenlinna. Kami mengambil peta pulau yang berisi daftar atraksi di pulau berikut panduan saran rute yang bisa diambil. Di pulau ini tidak ada kendaraan selain kendaraan operasional atau untuk kebutuhan darurat. Penduduk dan wisatawan sebagian besar harus berjalan kaki atau naik sepeda. Kami berkeliling pulau sekitar 2 jam hingga akhirnya memutuskan untuk kembali ke pelabuhan. Bukan karena capek namun lebih karena kedinginan.

Merapat di Suomenlinna

Suomenlinna, Finland

Suomenlinna, Frozen Island

Silent Island

Back to Helsinki

Duck on Ice

Sesampai daratan Helsinki kami mencari masjid yang tidak berhasil kami temukan. Akhirnya kami memutuskan pulang ke apartemen untuk shalat. Namun sebelumnya menyempatkan mampir ke Hakaniemi Market, sebuah pasar tradisional. Indri membeli ikan salmon untuk bahan makanan kami. Setelah shalat dan makan, sore harinya kami hanya berputar-putar naik tram dan kemudian mencoba metro Helsinki lalu kemudian pulang ke rumah.

Wifey at front of Hakaniemi Market with her salmon bag

 

Helsinki Tram (Look wifey is there)

Helsinki Metro

Keesokannya hari terakhir di Helsinki kami memutuskan tidak kemana-mana hingga siang hari saat harus berangkat ke pelabuhan menuju Estonia. Setelah packing dan sarapan di pagi hari, kami keluar apartemen setelah shalat Zuhur dan Ashar. Kami meninggalkan kunci di dalam apartemen. Perjalanan menuju pelabuhan bisa ditempuh menggunakan tram sekali naik. Berhubung tiket 24 jam kami sudah habis, kami membeli tiket sekali jalan seharga 3 Euro per orang. Sebenarnya bisa saja naik tanpa tiket namun kami memilih untuk jujur. Tram 9 adalah tram menuju pelabuhan feri. Kami turun di stop terakhir yang bernama Lansiterminaali. Cerita pun berlanjut ke Estonia.

Mencari Kapal di Stockholm

Saat SD, saya dititipkan di rumah paman saya dari kelas 2 hingga kelas 4. Pada waktu saya punya tetangga dan teman main yang bernama Vasco. Bapak Vasco yang bernama Pak Rusman adalah pelaut sehingga tak heran bila Vasco mendapat warisan nama yang diambil dari pelaut terkenal Portugis, Vasco da Gama. Pak Rusman pernah menghabiskan beberapa waktu di Swedia, entah untuk sekolah atau tugas berlayar saya tidak ingat pasti. Tapi sejak itu pula ingatan kecil saya berbekas akan sebuah kota bernama Stockholm di mana bapaknya Vasco pernah ada di sana.

Bertahun-tahun kemudian Swedia bukan sekedar negara tempat bapaknya Vasco pernah berada. Swedia adalah tempat asal Ikea toko furniture yang terkenal sejagat bahkan konon akhirnya menjadi alat public diplomacy pemerintah Swedia. Swedia juga tempat asal perusahaan manufaktur otomotif Scania yang memproduksi truk-truk dan bus-bus keren. Tidak lupa Oriflame yang banyak meramaikan timeline facebook saya pun berasal dari Swedia. Dari dunia hiburan, Roxette, band music kesukaan mama saya juga berasal dari Swedia. Hanya saja saya tidak pernah menyangka jika pada akhirnya sempat memijakan kaki di negara maju ini.

9 Februari 2014 Menjelang Tengah Malam

Pada awalnya Stockholm tidak masuk ke dalam list itenerary perjalanan saya dan Indri di Eropa. Setelah shock dengan mahalnya Norwegia kami berpikir untuk melewatkan Swedia dan langsung terbang ke Finlandia. Namun nampaknya kami memang harus menginjakkan kaki di Stockholm, sebab tak ada penerbangan langsung dari Bergen (kota yang kami kunjungi sebelumnya) ke Helsinki. Sebagian besar penerbangan transit di Stockholm dan harga tiket Bergen – Helsinki pada akhirnya kira-kira sama saja dengan harga total tiket Bergen – Stockholm ditambah Stockholm – Helsinki. Akhirnya kami memutuskan untuk satu malam berhenti di Stockholm. Mengingat mahalnya Skandinavia, awalnya kami berencana untuk tidur di bandara lagi. Namun, mengingat pengalaman di Oslo bahwa tidur di bandara itu agak menantang, saya berubah pikiran untuk booking hotel di detik-detik terakhir sebelum kami tiba di Stockholm.

Next Destination Stockholm

Saya mencari hotel di Stockholm menggunakan wifi di pesawat Norwegian Air Shuttle yang membawa kami dari Bergen. Mahal itu sudah pasti, hingga akhirnya saya membatasi budget di angka maksimal 50 Euro. Kemarin-kemarin kami nyaris tidak menemukan hotel double room dengan private bathroom dengan harga di budget tersebut. Namun ketika browsing saat di pesawat, hasil pencarian di booking.com menunjukan sebuah hotel bernama Loginn Hotel yang satu-satunya berharga sesuai budget. Hanya saja ini bukan hotel biasa, tapi hotel di atas kapal.

Saya tidak langsung memesan hotel sebab ada pertimbangan penting lain yang harus saya pikirkan. Pesawat kami berangkat dari Bergen pukul 21.30 dan menurut jadwal baru akan sampai sekitar pukul 22.25. Saya tidak yakin apakah masih ada bus dari Arlanda Airport ke pusat kota Stockholm saat kami sampai nanti. Menurut hasil pencarian internet, bus terakhir dari bandara pada hari minggu malam adalah 22.30. Sangat jelas bahwa mendarat pukul 22.25 bukan berarti dalam 5 menit saya sudah bisa keluar terminal. Saya masih harus mengantri keluar pesawat dan mengambil bagasi. Saya akan sangat merugi bila sudah booking hotel dan ternyata sudah tidak ada bus lagi dari airport ke pusat kota. Di sisi lain saya juga harus booking hotel sebelum pukul 24.00 malam, sebab jika sudah berganti hari nampaknya sistem booking tidak memungkinkan lagi untuk membooking hotel di malam tersebut. Satu pertimbangan lain lagi bahwa saya tidak berlangganan mobile internet, sehingga saya memerlukan wifi. Yang saya pikirkan saat itu adalah saya harus langsung booking hotel di Arlanda setelah mendapat kepastian masih ada bus dan harus sebelum pukul 24.00.

Singkat cerita kami mendarat di Stockholm. Saya dan Indri berusaha berjalan keluar pesawat secepat mungkin dan beruntung bagasi kami keluar tidak terlalu lama. Kami pun menyempatkan diri ke ATM mengambil Swedish Kron karena seperti Norwegia, Swedia tidak memakai Euro. Sesampai bagian depan menjelang luar terminal kedatangan kami melihat ada konter bus yang masih buka. Konter tersebut untuk bus Flygbussarna. Beruntung ada bus yang akan berangkat dalam 5 menit. Saat saya membeli tiket, Indri mengumpulkan beberapa brosur dan peta Stockholm. Saya memutuskan membeli tiket bolak-balik ke dan dari pusat kota seharga 215 SEK.

Flygbussarna Arlanda Airport-Cityterminalen

Selesai membeli tiket kami langsung ke bus stop di luar terminal bandara. Bus tersebut sudah menunggu di stopnya. Betapa beruntung bahwa ada wifi di dalam bus. Setelah bus jalan saya langsung melanjutkan rencana booking hotel. Saya konfirmasi booking hotel kapal tadi terlepas saya belum tahu pasti nanti naik apa dari bus stop. Setelah booking hotel, menurut google maps kami bisa naik tbana (metronya Stockholm) ke arah hotel ditambah sedikit berjalan kaki.

10 Februari 2014 Lepas Tengah Malam

Stockholm Public Transport Ticket

Bus sampai di Cityterminalen (terminal bus Stockholm) nyaris jam 12 malam. Setelah keluar bus kami berjalan ke arah stasiun kereta berharap mendapat kejelasan bagaimana mencari transportasi ke arah hotel. Sesampai di stasiun kereta beruntung masih ada petugas yang berjaga. Saya langsung menanyakan informasi mengenai sistem tiket di Stockholm. Setelah membandingkan harga tiket sekali jalan vs tiket 24 jam saya memutuskan membeli tiket 24 jam. Setelah membeli tiket kami turun ke stasiun metro metro cityterminalen. Menurut peta, Loginn hotel terletak di sebrang Stockholm City Hall. Sebagai informasi Stockholm adalah kota yang terdiri dari beberapa pulau kecil. Stasiun tbana terdekat adalah Zinkensdamm yang dilalui tbana line 13 dan 14 serta berjarak 4 stasiun dari t-centralen, stasiun metro di cityterminalen.

Stockholm T-Bana

Agak sedikit mengejutkan bahwa metro masih sangat ramai, padahal sudah jam 12 malam. Stasiun metro di Stockholm terang benderang, namun sayangnya masih agak terasa suasana seram. Mungkin karena saya baru saja tiba sebagai pendatang. Metronya sendiri tidak terlalu tua, namun tidak terlalu bagus juga. Sesuai petunjuk google maps offline kami berhenti di ZIneknsdamm dan langsung keluar stasiun metro. Di luar sangat gelap dan sepi.

Sambil menggendong tas carrier sekitar 20 Kg kami pun merayapi Stockholm tengah malam lewat dengan satu misi, mencari kapal. Jalanan di kota Stockholm lebar-lebar. Namun, suasananya agak sedikit kurang bersahabat dan cenderung seram. Bisa jadi mungkin karena suasana musim dingin. Di kiri dan kanan jalan banyak diparkir mobil yang mungkin dimiliki orang-orang yang tinggal di sekitar area yang kami lewati.

Setelah sekitar 20 menit berjalan dari stasiun metro melewati beberapa bagian gelap dari kota, kami masih belum menemukan kapal yang kami cari. Padahal kami sudah hampir tiba di bibir pulau di mana seharusnya kapal yang kami cari tertambat. Saat itu kami berdiri di dataran yang agak tinggi, kami hanya melihat teluk dan di daratan seberang nampak Stockholm City Hall berdiri sekilas di sana terang dan ramai. Tapi tak nampak ada keramaian di daratan di sisi kami. Hanya beberapa lampu jalan yang menyala.

Saat memperhatikan sekitar saya tersadar ada tangga turun menuju ke bawah ke bibir teluk. Saya dan Indri pun berjalan turun. Di bawah sebuah jalan besar yang sepi, kami pun langsung menyeberang. Akhirnya barulah terlihat sebuah kapal tengah tertambat tak jauh dari tempat kami berdiri. Lampu-lampunya menyala terang sebagai tanda mungkin ada orang-orang di dalamnya. Kami pun berjalan mendekat. Saat sampai di depannya, akhirnya pencarian kapal di Stockholm membuahkan hasil. Kami melihat bacaan Loginn hotel di tangga naik ke atas kapal tersebut.

Loginn Hotel nan Epic

Ketika pencarian kapal selesai bukan berarti petualangan kami berakhir. Setelah naik ke kapal, satu-satunya pintu masuk di sana tertutup dan sesuai perkiraan terkunci. Melihat kondisi kapal tua tersebut saya sempat meragukan apabila ada resepsionis yang standby selarut ini. Kemungkinan terburuk adalah kami harus tidur di luar malam itu. Di depan pintu ada interkom yang terlihat setua kapal tersebut. Saya pun menekan tombol interkom. Sejenak terdengar bunyi bip panjang. Tak lama, kami mulai merasa beruntung, seseorang menjawab. Dari suaranya seorang wanita tua. Ia menyapa menggunakan bahasa asing yang saya tidak kenal, namun saya perkirakan Bahasa Swedia. Saya pun langsung menyahut menggunakan Bahasa Inggris dan menyampaikan bahwa saya baru saja melakukan booking hotel. Singkat cerita wanita tua tersebut membukakan pintu hotel dan kami langsung checkin malam tersebut. Ternyata si wanita tua yang cukup ramah tersebut bertugas jaga malam. Sebelum masuk kamar saya menyempatkan diri bertanya apakah air keran di kamar bisa diminum. Ia pun membalas, “We have the best tap water in the world!” Dengan intonasi yang penuh percaya diri. Kelak pernyataan tersebut akan membuat kami selalu tertawa saat mengingatnya.

Another View of The Epic Ship

Kronprinssesan Martha

Saya tidak membawa meteran sehingga tidak tahu persis berapa ukuran kamar kami. Loginn hotel menggunakan kapal yang telah pensiun dan menjadikan interior kapal sebagai kamar-kamar. Nama kapalnya adalah M/S Kronprinsesse Martha yang dibuat pada tahun 1928. Jika tidak salah kapal ini memiliki tiga tingkat dek. Setiap dek mungkin ada sekitar sekian belas hingga 20an kamar. Kamar kami hanya muat berisi satu tempat tidur ukuran queen. Berhubung dek tidak terlalu tinggi, di tempat tidur yang diposisikan agak tinggi tersebut kita hanya bisa duduk, itu pun kepala nyaris menyentuh atap. Di depan pintu ada semacam ruang kotak yang difungsikan sebagai lemari. Kamar mandi pun berukuran kecil namun tidak terlalu sempit. Airnya bersih dan saat diminum tidak ada rasanya. Keran air panas pun menyala tanpa masalah. Terlepas dari segala keterbatasan hotel 50 euroan tersebut kami tidur sangat lelap malam itu.

10 Februari 2014 Pagi

Stockholm Stadshus di Seberang Loginn Hotel

Dengan berbagai pertimbangan, hari itu kami memutuskan baru checkout setelah shalat zuhur. Itu pun ditambah dengan bumbu menghilangkan kunci kamar. Setelah mencari sekitar setengah jam kami pun memutuskan mengadu ke resepsionis. Beruntung resepsionis mengatakan tidak apa-apa. Setelah itu kami langsung checkout membawa seluruh barang bawaan. Tas-tas besar akan kami titip di locker yang ada di terminal sentral Stockholm.

Hubby, Wifey and Stockholm Stadshus

Kami keluar hotel sambil menyusuri Riddarfjarden menuju Stasiun Tbana Gamla Stan. Sebenarnya tujuan utama satu hari kami di Stockholm adalah Gamla Stan, tapi kami harus menitip tas dulu kemudian baru kembali lagi. Di sepanjang Riddarfjarden, ternyata tak hanya ada satu hotel kapal, bahkan kami menemukan beberapa hotel. Setelah berjalan sekitar 15 menit akhirnya sampai di stasiun tbana. Kami langsung naik ke arah pusat kota.

Gamla Stan T-Bana

Di Terminal Sentral Stockholm kami langsung menitipkan tas. Saya lupa harganya, tapi cukup mahal apalagi jika dirupiahkan. Setelah menitip tas kami langsung ke luar dan berjalan-jalan di pusat kota. Saat melihat toko souvenir kami langsung memutuskan mampir. Menariknya ada cukup banyak imigran Pakistan di Stockholm, termasuk penjaga toko souvenir yang kami datangi. Selesai dari toko souvenir kami memutuskan untuk jalan kaki saja menuju Gamla Stan karena ternyata tidak terlalu jauh dari cityterminalen.

Gamla Stan bukan Gangnam Style

Riksgatan

Gamla Stan terdengar serima dengan Gangnam Style. Tapi tentunya dua nama tersebut berada di lokasi yang berbeda. Gangnam adalah sebuah distrik di Korea Selatan dan Gamla Stan tentunya sesuai dengan topik utama post ini ada di Stockholm.

Di Eropa Hampir Setiap Jembatan Dipasangi Gembok

Gamla Stan berasal dari Bahasa Swedia yang berarti kota tua. Sebenarnya jika ditelusuri ada banyak objek turistik di Stockholm. Namun dengan keterbatasan waktu kami memutuskan menjadikan Gamla Stan sebagai objek utama jalan-jalan kami pada waktu tersebut.

Sesuai dengan namanya, di Gamla Stan ada banyak gedung-gedung tua namun masih sangat terawat. Kami memulai perjalanan melalui Riksgatan hingga terus ke ujung Gamla Stan di selatan. Di sepanjang jalan utama Gamla Stan ada banyak toko dan restoran. Selain kami pun ada banyak turis-turis lain.

Setelah sampai di salah satu ujung jalan, akhirnya kami memutuskan untuk naik bus tanpa tentu arah. Kami turun di salah satu jalan Stockholm yang juga tidak saya ingat. Tapi kemudian kami mengenali jalan tersebut adalah jalan yang kami lalui saat mencari kapal yang hilang semalam. Saat terus jalan kami menemukan restoran vegerian dan memutuskan untuk makan siang. Sayangnya Indri nampak tidak terlalu suka masakan di sana.

Wifey’s Vegetarian Nightmare

Selesai makan kami kembali naik bus dan sejenak berputar-putar di Stockholm yang berpulau-pulau. Kita matahari mulai turun padahal baru jam 5-an kami memutuskan naik tbana kembali ke cityterminalen. Di cityterminalen kami langsung mengambil tas dan menunggu bus menuju Arlanda airport menggunakan tiket pp yang sudah kami beli sebelumnya.

Stockholm Bus

Wifey and Sushi Sushanti

Perjalanan ke bandara berlangsung seperti biasa. Sesampai bandara langsung checkin dan menaruh bagasi. Kami menyempatkan untuk meminta tax return dari souvenir yang tadi siang beli. Tapi ternyata kami baru bisa meminta tax return setelah meninggalkan Eropa. Kami menyempatkan makan malam menu kesukaan Indri, Sushi. Setelahnya langsung ke ruang tunggu menanti penerbangan selanjutkan ke Helsinki.

Semalam di Bergen

Jika tidak diajak oleh teman istri saya, mungkin saya tidak tahu kalau ada kota cantik di ujung barat Norwegia. Si cantik itu bernama Bergen, kota terbesar kedua di Norwegia. Selain kotanya sendiri yang memang indah, perjalanan menuju ke sini pun sangat mengesankan. Sayangnya karena Norwegia mahal, saya belum bisa berlama-lama di Bergen kali ini.

8 Februari 2014

Kereta tiba di Bergen sesuai jadwal sebelum jam 3 sore. Bergen nampak merupakan kota yang ramai. Menurut informasi yang saya baca ini adalah kota terbesar kedua di Norwegia setelah Oslo. Setelah turun kereta kami langsung menuju ke loker di stasiun untuk mengambil kunci apartemen yang telah kami booking melalui airbnb. Pemilik apartemen meninggalkan kunci di loker stasiun karena ia sedang keluar kota dan tidak bisa menemui kami secara langsung. Setelah mengambil kunci apartemen kami berjalan menuju kantor turis yang ada di area fish market. Pilihan angkutan umum di Bergen ada tram dan bus. Di kantor turis kami memutuskan membeli Bergen pass seharga 180 NOK yang memungkinkan kami gratis menggunakan transportasi publik dan juga akses gratis ke beberapa atraksi turisme.

Bergen City Center

Dari kantor turis kami ke supermarket untuk membeli bahan-bahan masakan. Kami bisa memasak karena menyewa satu unit apartemen. Harga sewa apartement semalam adalah 84 Euro namun ditempati oleh 4 orang sehingga bisa dianggap ekonomis. Apalagi saya pun sempat mencuci baju saat malam harinya. Kami pun bisa bebas memasak yang cukup menghemat pengeluaran dibanding harus makan di restoran.

Dari supermarket kami langsung menuju bus stop. Di halte ada timetable bus yang akurasinya dapat dipercaya. Sesuai dengan waktu yang dicantumkan, akhirnya bus yang kami tunggu datang. Kami pun naik hingga beberapa stop menuju apartemen yang sudah kami booking.

Lokasi apartemen ternyata tidak jauh dari pusat kota. Sebenarnya jika mau jarak tersebut bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Namun kontur jalannya menanjak dan kami membawa banyak barang. Turun dari bus kami langsung berjalan ke arah alamat yang sudah kami catat. Sistem alamat di sini sangat jelas, sehingga tanpa kesulitan yang berarti kami bisa menemukan apartemen yang kami cari dengan mudah.

Sesampai di apartemen yang sebagian besar materialnya dari kayu, kami masuk melalui pintu utama menggunakan kunci yang sudah kami ambil di stasiun tadi. Setelah masuk tanpa masalah, kini masalah menghadang. Di dalam pintu utama tadi ada beberapa pintu di beberapa lantai. Di lantai 1, 2 dan 3 masing-masing ada 1 pintu. Alamat yang kami miliki tidak mengindikasikan mana apartemen yang kami tuju. Kami mulai dari lantai 2 dan lantai 3, karena nampaknya pintu di lantai 1 tidak seperti ruang apartemen. Dua pintu di lantai 2 dan 3 tidak berhasil kami buka dengan kunci yang kami punya. Bahkan kami naik turun beberapa kali ke lantai 3 untuk mencoba beberapa kali hingga konyolnya tiba-tiba seseorang keluar dari pintu di lantai 3 yang pastinya karena terganggu kami berulang kali mencoba anak kunci yang tidak pas ke rumah orang. Saya pun meminta maaf dan menjelaskan bahwa kami mencari alamat di apartemen tersebut dan tidak yakin pintu mana yang benar. Beruntungnya, alih-alih marah orang tersebut memaklumi dan menjelaskan bahwa alamat yang kami punya benar ada di gedung tersebut namun yang pasti bukan di lantai 3. Setelah meminta maaf kesekian kali kami turun lagi ke lantai 2 dan kemudian ke lantai 1 untuk menyadari bahwa ternyata ada satu pintu lagi di lantai 1 tersebut yang tidak kami sadari sebelumnya. Benar saja setelah kami coba buka menggunakan kunci, pintu sukses terbuka.

Malam itu kami habiskan waktu ngobrol-ngobrol dengan dua teman istri saya dan diselingi dengan makan malam. Fasilitas di apartemen sangat lengkap. Satu kamar tidur untuk istri saya dan seorang teman perempuan sementara saya dan teman istri saya yang laki-laki tidur di sofa bed ruang tengah. Di bagian belakang ada dapur yang punya fasilitas lengkap dan kamar mandi yang cukup bersih. Hanya saja, semenjak datang saya penasaran tidak menemukan mesin cuci, padahal fasilitas mesin cuci dicantumkan di listing airbnb. Saya sudah bolak-balik ke dapur dan kamar mandi, namun tidak menemukan keberadaan mesin cuci. Saya dan Indri butuh mesin cuci, sebab setelah satu mingguan kami di jalan, stok baju bersih sudah menipis. Saya bahkan juga mencoba keluar rumah melalui pintu di dapur yang mengarah ke halaman belakang. Ada satu gudang di luar rumah namun tak ada juga mesin cuci di sana. Akhirnya saya hampir menyerah.

Di Depan Apartemen Sewaan

Kucing Bergen

Beberapa jam kemudian, kepenasaran saya belum terhentikan. Kembali saya keluar pintu belakang dan ketika saya perhatikan lebih ada pintu ke arah basement. Di luar sangat gelap dan sejujurnya agak sedikit horor. Saya memberanikan diri untuk keluar dan turun berbekal penerangan dari display handphone. Sesampai di pintu basement yang terkunci, saya mencoba membuka menggunakan kunci yang saya punya dan berhasil. Dari cerita host apartemen, Norwegia menggunakan sistem satu kunci untuk rumah. Satu kunci bisa digunakan untuk membuka pintu luar apartemen, pintu unit apartemen, pintu halaman belakang dan kini saya temukan termasuk membuka pintu basement. Setelah pintu di buka ruangan gelap gulita. Sambil meraba-raba saya akhirnya menemukan saklar lampu dan setelah dinyalakan, tampaklah 4 mesin cuci dan 2 drier di sana. Nampaknya ini adalah ruang cuci bersama untuk semua tenan di apartemen tersebut. Malam itu pun saya langsung mencuci baju.

9 Februari 2014

Kami keluar rumah sekitar pukul 10 setelah sarapan pagi. Dua orang teman istri saya memutuskan untuk sekaligus membawa tas besar mereka dan sore hari langsung menuju bandara tanpa perlu pulang ke rumah lagi. Sementara saya dan Indri memilih untuk kembali lagi ke apartemen sebelum ke bandara, sebab penerbangan kami ke Stockholm agak larut malam.

Bryggen

Tujuan pertama eksplorasi pagi itu adalah Bryggen. Bryggen adalah deretan bangunan tua Norwegia yang sebagian besar digunakan sebagai toko. Bryggen masuk ke dalam UNESCO world cultural heritage list. Saya dan Indri membeli souvenir di salah satu toko di sini. Magnet kulkas yang harganya mencapai 7 Euro satu biji!

Setelah itu kami pergi ke Floibanen, funicular train ke plateu Floyen. Dengan Bergen pass kami bisa naik funicular train gratis. Kereta menanjak cukup curam dan memakan waktu sekitar 10 menit dari bawah hingga ke puncak. Di Floyen kita bisa melihat pemandangan Bergen dari atas.

Floibanen

Dari Floibanen, berikutnya kami pergi ke Bergen Science Center yang bernama Vilvite. Dari pusat kota cukup satu kali naik tram. Vilvite sebenarnya lebih cocok didatangi oleh anak-anak karena di tempat ini banyak alat-alat peragaan edukasi sains. Dari Vilvite 2 teman Indri langsung berangkat ke bandara. Awalnya saya dan Indri berencana pergi ke akurium, namun menimbang waktu yang mepet kami hanya berjalan-jalan di pusat kota dan mampir sejenak di University of Bergen. Dari sana langsung kembali ke apartemen dan packing.

University of Bergen

Selesai shalat Maghrib dan Isya kami pun bersiap keluar dari apartemen. Lucunya kami berpapasan dengan host apartemen kami di pintu. Ternyata ia baru saja pulang dari main ski. Setelah pamit dan menyerahkan kunci yang tadinya mau kami masukan ke mailbox, kami berjalan turun ke pusat kota. Sore tadi kami menemukan bahwa bus ke bandara memiliki stop di Radisson Blu Hotel yang bersebelahan dengan Bryggen yang artinya sangat dekat dengan apartemen kami. Ada dua vendor bus airport dan kami menggunakan flybussen. Harga tiketnya 90 NOK. Perjalanan ke bandara memakan waktu sekitar 30 menit.

Danau di Bergen City Center

Self Checkin di Bergen Airport

Self Baggage Drop

Sesampai bandara kami langsung masuk ke terminal yang tidak terlalu besar. Di dalamnya nyaris tidak ada konter maskapai yang dijaga petugas. Yang terlihat hanya mesin checkin dan automatic bagage drop. Setelah menaruh bagasi kami pun hanya duduk-duduk sambil menunggu perjalan berikutnya menuju Stockholm.

Perjalanan Epik dari Oslo ke Bergen

Sebagai anak negara tropis yang baru melihat salju di usia 20-an, perjalanan kereta dari Oslo ke Bergen di musim dingin adalah salah satu perjalanan paling epik seumur hidup saya. Perjalanan kereta dari Oslo dilayani oleh NSB, perusahan kereta negara Norwegia. Lama perjalanan adalah 7 jam, namun pemandangan sepanjang perjalanan sangat indah apalagi dengan nuansa musim dingin. Kereta pun sangat nyaman dengan fasilitas sangat lengkap. Ada wifi di dalam kereta, namun jika sempat buat account nsb.no dulu sebelum naik kereta untuk mengakses wifi. Saya mencoba register account baru saat mencoba membuka koneksi ke wifi namun tidak berhasil. Beruntung ketika mencoba login menggunakan account nsb.no yang sudah saya buat sebelumnya saya berhasil mengakses internet menggunakan wifi tersebut.

Harga tiket kereta untuk perjalanan tersebut adalah 798 NOK. Harga tiket akan semakin murah bila dibeli sejak jauh hari. Saya membeli secara online di website nsb.no. Sebelum naik kereta bukti booking tiket tersebut harus ditukar ke tiket yang valid di beberapa mesin tiket yang tersedia di Stasiun Sentral Oslo.

8 Februari 2014

Kereta berangkat dari Oslo Sabtu 8 Februari jam 8.05 pagi. Kami sudah checkout dari hotel dan berjalan ke stasiun sekitar jam 7 pagi. Sesampai Stasiun Sentral terpampang informasi yang sangat besar berisi jadwal keberangkatan kereta berikut lokasi platformnya. Menjelang jam keberangkatan kereta kami turun ke platform yang sangat dingin dan langsung naik ke kereta. Beruntung kami mendapat nomor duduk di 4 bangku yang dua bangkunya saling berhadapan. Dua teman kami duduk di gerbong belakang kami. Di dalam kereta seperti yang sudah saya tulis di atas ada akses internet, ada stop kontak listrik, toilet yang cukup bersih dan juga gerbong restorasi.

Suasana di dalam kereta

Sesuai dengan jadwal kereta berangkat tepat jam 8.05. Hingga saat ini saya masih merasa kagum dengan ketepatan waktu berbagai moda transport di sebagian besar kota-kota Eropa. Timetable dan jadwal perjalanan bukan sekedar aksesoris namun komitmen layanan yang terlihat selalu berusaha untuk diwujudukan. Tanpa bermaksud membandingkan yang buruk-buruk, saya bermimpi bisa menggunakan transportasi publik di Jakarta dengan nyaman tanpa ada rasa takut diturunkan metro mini di lampu merah dengan kemungkinan disambar pengendara motor dari belakang. Semoga harapan ini bisa menjadi kenyataan dalam waktu dekat.

Kembali lagi ke kereta menuju Bergen, perjalanan diawali dengan pemandangan perkotaan Oslo. Saya agak sedikit terkejut melihat bahwa Oslo tidak seglamor yang saya bayangkan atau mungkin saya tidak sempat mengunjungi bagian glamornya. Semakin meninggalkan Oslo pemandangan di jendela kereta mulai menunjukan area suburban yang cukup beragam namun tetap dengan warna dominan putih. Kami mulai menemui danau luas yang indah lalu setelahnya terkadang hanya melihat warna putih tanpa ada hal lain apa pun di dalamnya. Sesekali kereta akan berpapasan dengan kereta lain. Tak jarang juga kereta melalui stasiun-stasiun kecil. Selain itu kembali pemandangan dominan putih, pohon-pohon yang tertimbun salju, beberapa rumah yang juga tertutupi salju, sungai, danau yang membeku dan gunung di kejauhan.

Pemandangan putih sepanjang jalan

Sepanjang perjalanannya, kereta Oslo-Bergen hanya berhenti di beberapa stasiun. Berhubung perjalanan kami dilakukan saat musim dingin, banyak sekali penumpang kereta yang membawa perlengkapan ski. Ski adalah olahraga yang sangat populer di Norwegia. Ada banyak resort ski di sepanjang jalur Oslo ke Bergen, sehingga banyak penumpang yang hendak bermain ski naik dan turun di beberapa stasiun yang terkadang merupakan stasiun antah berantah dan terlihat terpelosok. Selama di perjalanan ada kalanya kami melihat titik-titik manusia di kejauhan tengah berjalan di tengah padang salju yang kosong. Ini mungkin yang disebut cross country ski.

Dari beberapa stasiun yang kami lewati ada sebuah stasiun bernama Myrdal. Posisinya kira-kira di tengah antara Oslo dan Bergen. Di stasiun inilah penumpang yang hendak menuju ke kota bernama Flam harus pindah kereta. Kereta menuju Flam bernama Flambana. Jalur kereta Flambana ini dapat dibilang legendaris sebab jalur akan menanjak dari Myrdal hingga sampai Flam. Sedikit bermimpi di siang bolong untuk bisa mengunjungi Flam dan merasakan perjalanannya di kesempatan yang lain.

Stasiun Myrdal dan Flamsbana di belakang

Mendekati Bergen

Indri di Stasiun Bergen

Semakin mendekati Bergen pemandangan mulai menghijau karena Bergen adalah kota yang cenderung hangat. Namun kereta semakin sering memasuki terowongan. Nampaknya mendekati Bergen jalur kereta harus menembus banyak gunung dan bukit melalui terowongan. Banyak danau-danau indah kembali menghiasi pemandangan sekitar. Oleh karena perjalan dari Oslo ke Bergen cukup lama, sebaiknya sebelum naik kereta kita berbelanja ransum terlebih dahulu. Ada gerbong restorasi yang menjual makanan dan minuman, namun harus diingat bahwa harga di kereta akan lebih mahal dan ini adalah Norwegia. Kereta pun akhirnya tiba di Bergen sesuai jadwal sebelum jam 3 sore. Kemudian cerita pun berlanjut di Bergen.

Oslo: Ibukota Dingin di Bumi Utara

Dari dulu saya bermimpi untuk bisa berkunjung ke Scandinavia. Norwegia adalah salah satu negera makmur di Skandinavia, region historikal dan kultural linguistik ini bersama dengan Denmark dan Swedia. Norwegia juga termasuk ke dalam grup yang disebut negara Nordik yang terdiri dari 3 negara Skandinavia tadi di tambah dengan Islandia dan Finlandia. Selain kemiripan historis, bahasa dan suhu semua negara Nordik adalah negara-negara yang sangat mahal biaya hidupnya.

Oslo adalah ibukota Norwegia. Saya sudah tahu nama kota ini semenjak SD di mana saya sudah menghafalkan ibukota-ibukota negara di dunia dari buku RPUL alias Rangkuman Ilmu Pengetahuan Umum Lengkap yang merupakan kompetitor Buku Pintar karya Iwan Gayo.

Saya dan Indri terbang ke Oslo dari Amsterdam. Norwegia punya maskapai budget yang tengah naik daun. Namanya Norwegian Air Shuttle dengan brand color merah menyala sesuai dengam warna favorit kami. Meskipun budget, Norwegian pun menawarkan fitur yang belum pernah saya temui di maskapai-maskapai lain yaitu wifi internet di dalam penerbangannya. Saya membayar 64.80 Euro saja perorang dari Amsterdam Schiphol ke Oslo Gardermoen. Harga tersebut sangat terjangkau tentunya dibandingkan harus jalan plus berenang. Ekstra 9 euro harus dibayar jika kita perlu bagasi 20 Kg.

6 Februari 2014

Koneksi dari Amsterdam Central ke bandara utama Amsterdam Schiphol paling mudah menggunakan kereta. Tiket sekali jalan untuk kelas 2 adalah sekitar 4 Euro yang bisa dibeli di mesin tiket yang tersebar di stasiun. Frekuensi kereta menuju bandara sekitar setiap 10-15 menit sekali dengan lama perjalanan juga sekitar 15 menit. Setiba di Schiphol, lokasi stasiun keretanya ada di bawah tanah. Setelah keluar kereta kita bisa keluar dari platform untuk naik ke terminal keberangkatan bandara. Berhubung kami sudah checkin online maka sesampai area keberangkatan kami tinggal mencari konter baggage drop Norwegian.

Setelah drop bagasi kami langsung menuju ke ruang tunggu keberangkatan. Perlu diingat bahwa aturan dilarang membawa cairan ke kabin berlaku di hampir semua bandara di Uni Eropa. Jadi pastikan tidak ada minuman atau perlengkapan mandi cair yang lupa dimasukan ke bagasi. Pemeriksaan sekuriti sebelum masuk terminal pun cukup ketat sampai-sampai saya harus bolak-balik panel scan metal detector sampai harus melepas ikat pinggang dan sepatu. Untung saja tidak harus melepas celana :D.

Selepas pemeriksaan kami langsung menuju ke area tunggu penerbangan kami. Penerbangan ke Norwegia adalah internal Schengen area sehingga tidak ada pemeriksaan passport. Sayangnya sekali di terminal keberangkatan Schengen ini tidak ada praying room seperti di terminal keberangkatan non-schengen. Hingga akhirnya saya dan Indri sholat di pojokan ruang tunggu.

Malam itu penerbangan kami tertunda 45 menit. Kami menunggu dengan duduk-duduk di area tunggu. Ada efek suara gemericik air dan suasana hutan yang menjadi latar belakang. Sesekali suara efek anjing menggonggong sempat membuat saya kaget. Di ruang tunggu tersebut ada beberapa demo science panel yang cocok untuk anak-anak. Mesin-mesin demo tersebut dipasang oleh Nemo, sebuah museum dan Science center di Amsterdam. Hal menarik lain adalah ada tempat untuk charging smartphone namun kita harus menggenjot semacam pedal sepeda agar ada energi listrik yang tercipta. Di Schiphol ada wifi gratis namun sayangnya hanya dibatasi satu jam.

Singkat cerita akhirnya kami boarding pesawat. Pesawar Norwegian memiliki warna dasar merah dominan dan sedikit putih. Di bagian ekor pesawat ada gambar sosok wajah yang sayangnya belum sempat saya telusuri wajah siapa itu dan nampaknya setiap pesawat punya gambar wajah yang berbeda-beda. Dari website Norwegian, ternyata ada 4 wajah yang digunakan di pesawat Norwegian. Empat orang tersebut adalah tokoh-tokoh penting dari negara-negara Nordic karena Norwegian ingin menjadi perusahaan regional dan bahkan global. Pesawat yang kami naiki adalah Boeing 737-800. Penerbangan Amsterdam ke Oslo adalah 2 jam kurang 15 menit.

Saat Oslo Menyambut

Sekitar dua jam kemudian pesawat pun mendarat di Oslo nyaris tengah malam. Warna dominan yang saya lihat dari luar kaca pesawat adalah putih karena nampaknya salju turun deras di bumi utara. Bahkan beberapa pesawat yang parkir tertimbun salju cukup tebal. Pesawat langsung merayap ke terminal kedatangan setelah mendarat. Tanpa lama kami langsung keluar pesawat untuk mengambil bagasi. Dari keluar pesawat menuju area koleksi bagasi penumpang dipaksa untuk lewat duty free shop di mana sebagaian besar penumpang membeli minuman alkohol saat kami lewat. Mungkin untuk menghangatkan tubuh mereka. Andai saja ada bandrek atau bajigur di sana pasti rasanya sedap.

Kami tidak lama menunggu bagasi dan langsung ke luar di area utama depan terminal. Saya langsung berburu kursi kosong sebab malam itu kami memang sudah berniat tidur di bandara. Harga hotel di Oslo adalah sangat mahal. Apabila kami tiba lewat tengah malam maka kami merasa rugi jika harus membayar hotel secara penuh sehingga saya berpikir untuk tidur di bandara dan baru checkin hotel keesokan paginya.

Indri menemukan bangku tersisa di sebuah kafe yang sudah tutup. Bangku-bangku panjang yang lain sudah diokupasi oleh beberapa orang lain sehingga kami hanya dapat 2 bangku dengan panjang kira-kira 2/3 badan. Saya yang penasaran lalu menjelajah bandara siapa tahu ada tempat untuk tidur yang lebih nyaman. Akhirnya saya harus menerima fakta bahwa tempat yamg ditemukan Indri tadilah yang terbaik.

Saya langsung kembali lagi ke kafe tadi dan mengatur posisi untuk tidur. Di area utama bandara ada beberapa mini market dan satu ATM. Saya membeli teh hangat di 7 eleven dan menarik 1000 norwegian kron (NOK) di mesin ATM. Malam itu kami tidak bisa tidur terlalu nyenyak.

7 Februari 2014

Pagi sekitar jam 6 istri saya membangunkan saya. Ada dua pilihan transport dari bandara Oslo ke pusat kota yaitu bus dan kereta. Kami memilih kereta. Kereta pun ada dua pilihan Oslo ekspress atau Oslo NSB. Oslo NSB adalah perusaan kereta api milik negara, semacam PT KAI kalau di Indonesia. Kami memutuskan naik NSB karena harganya separuh ekspres dengan selisih lama perjalanan yang tak berpaut jauh. Tiket bisa dibeli di mesin tiket. Platform kereta ada di bagian bawah dari bandara. Ada pilihan Bahasa Inggris di mesin tiket. Informasi platform yang harus kita tuju terpampang sangat jelas.

Mesin Tiket NSB

Untuk naik NSB pastikan kita naik gerbong dengan kondektur. Dari yang saya baca di wikitravel, jika kita naik gerbong tanpa kondektur maka tak ada yang akan memvalidasi tiket kita di atas kereta dan bisa didenda jika terkena pemeriksaan. Informasi gerbong tanpa dan dengan kondektur terpampang di pintu masing-masing gerbong dalam bahasa Norwegia. Betjent artinya gerbong dengan kondektur dan Ubutjent artinya gerbong tanpa kondektur. Harga tiket sekali jalan adalah 90 NOK.

Stasiun Oslo Bandara

Perjalanan dari oslo Lufthan stasiun bandara ke Oslo S, stasiun di pusat kota adalah sekitar 30 menit. Keretanya sangat bagus dan bersih. Di jalan seorang kondektur memvalidasi tiket kami.

Stasiun Sentral Oslo

Sesampai Oslo S kami langsung keluar kereta dan masuk stasiun yang cukup besar. Di sini stasiun seperti bandara. Sangat bersih dan informasi keberangkatan dan kedatangan kereta tertera sangat jelas. Di stasiun saya ke mini market untuk membeli ransum. Keluar stasiun langit masih gelap meski sudah jam 7 pagi. Di musim dingin matahari baru terbit sekitar jam 8 lewat di utara. Kami keluar stasiun di sambut hujan. Suhu udara sekitar 0 derajat celcius. Dengan panduan offline cache google maps kami berjalan menuju hotel.

Di Oslo kami menginap di Hotel Citybox. Harga per malam adalah 70 euro dan nyaris tanpa fasilitas untuk harga semahal itu. Sehari sebelumnya saya sudah email hotel untuk meminta early checkin di pagi hari. Balasan dari hotel adalah kami bisa early checkin selama ada kamar tersedia.

Mesin Checkin Otomatis di Citybox Oslo

Sesampai citybox setelah berhujan-hujan sekitar 10 menit, tak ada konter resepsionis seperti hotel-hotel pada umumnya. Yang ada semacam mesin elektronik dengan display touch screen. Kami langsung memasukan data yang diminta di mesin untuk checkin. Pembayaran langsung dilakukan menggunakan kartu kredit. Di step akhir mesin mengeluarkan pesan error bahwa kamar belum tersedia. Seperti yang saya takutkan sebelumnya.

Saya langsung mengontak petugas jaga dari interkom yang ada di sana. Tak lama seorang wanita keluar dari lobi hotel dan langsung mengatakan bahwa kamar sedang full book dan meminta kami menunggu hingga jam 3 sore waktu checkin normal hotel. Saya kemudian meminta tolong untuk segera dicarikan kamar. Menunggu hingga sore bukanlah pilihan bagi kami yang sangat capek dan ngantuk karena kurang tidur di bandara. Petugas hotel pun mempertimbangkan permintaan kami namun tidak bisa menjanjikan waktu checkin karena dia tidak tahu pasti jam berapa tamu-tamu yang menginap akan keluar.

Pada akhirnya beruntung pagi itu ada cukup banyak tamu hotel yang terlihat checkout. Kami sempat harus sholat shubuh di loby karena belum mendapat kamar. Setelah menunggu sekitar satu jam akhirnya kamar kami siap.

Kami tidak berlama-lama di kamar karena kami ingin segera mengeksplorasi Oslo. Kami memutuskan untuk membeli Oslo pass 24 jam sebuah pass wisata yang memungkinkan turis gratis naik transportasi publik dan beberapa wahana wisata dan museum. Oslo pass 24 jam bentuknya berupa tiket kertas dengan tanggal kadaluarsa yang ditulis petugas sales 24 jam dari saat kami membeli tiket. Harga Oslo pass 24 jam adalah sekitar 290 Nok. Oslo pass ini harus ditunjukan bila ada petugas pemeriksa tiket di transportasi publik. Namun kami tak diperiksa sekalipun selama di Oslo hingga kami tinggal naik turun bus dan tram sesuka kami.

Museum Kapal Viking

Tujuan pertama kami adalah Museum Kapal Viking, sesuai dengan namanya museum ini menunjukan kapal-kapal viking. Bangsa Viking adalah generasi awal orang-orang Nordik dan kebanyakan merupakan pelaut tangguh. Kami tak perlu membayar tiket untuk masuk Museum Kapal Viking ini karena kami punya Oslo Pass. Setelah puas berkeliling dan membeli souvenir yang cukup mahal kami menuju ke open air norwegian museum (Norsk Folekmuseum) yang tak jauh dari museum pertama.

Rumah-rumah kayu di Norsk Folkemuseum

Open Air Norwegian Museum berisi sejarah lengkap tentang kehidupan orang-orang Norwegia, bagaimana gaya pakaian mereka, perlengkapan rumah mereka hingga ada beberapa rumah kayu yang berjejer di area terbuka museum. Kami berkeliling sekitar satu jam di tengah hujan, suhu 0 derajat celcius dan kantuk yang benar-benar tidak tertahankan. Oleh karena merasa capek kami memutuskan pulang ke pusat kota Oslo untuk mencari makan siang. Menu makan siang itu adalah kebab. Setelah makan kami langsung kembali ke hotel untuk sholat dan tertidur setelahnya.

Kami terbangun sekitar maghrib dan langsung bersiap-siap untuk makan malam. Kami memiliki janji untuk bertemu 2 orang teman. Bersama mereka kami akan menuju Bergen keesokan harinya. Tempat makan malam adalah restoran Thailand dengan pilihan menu Tom Yam. Setelah makan kami langsung kembali lagi ke hotel untuk persiapan perjalanan keesokan hari menuju kota di ujung barat Norwegia, Bergen.

Kami agak kurang beruntung saat di Oslo cuaca agak kurang bersahabat sehingga kurang optimal mengeksplorasi kota ini. Hujan sepanjang hari dengan suhu di sekitaran 0 derajat celcius memang bukan suasana yang menyenangkan untuk berkeliling. Seperti sudah diduga sebelumnya harga barang dan transportasi di Oslo adalah sangat mahal. Namun informasi dan komunikasi sangat mudah di akses sebab sebagian besar pengumuman juga disampaikan dalam Bahasa Inggris. Selain dari itu sebagian besar orang Norwegia fasih berbahasa Inggris. Saya berharap punya kesempatan lain untuk kembali lagi ke Norwegia.

Empat Malam di Amsterdam

Saat pertama kali ke Amsterdam saya terheran, bagaimana mungkin negara sekecil Belanda bisa menjajah kita sedemikian lamanya? Apakah mungkin hidup di iklim yang dingin dan hasrat mencari rempah-rempah merupakan faktor pendorong yang kuat? Entahlah karena itu adalah bagian dari sejarah yang belum terlalu saya kuasai. Yang pasti saat kedua kalinya sampai di Amsterdam saya merasa dekat dengan Belanda.

Istri pun saya berseloroh, “Dekat apanya? Yang satu hidungnya mancung.” Sambil menunjuk orang Belanda. “Yang ini hidungnya pesek.” Sambil menunjuk saya. “Orang Belandanya tinggi-tinggi dan orang Indonesia banyak yang pendek-pendek.” Mungkin kurang gizi di masa pertumbuhan seperti saya ini. Saya pun terbahak-bahak mendengar komentar tersebut. Bagaimanapun 2-6 Februari kami di Amsterdam adalah pengalaman yang mengesankan.

2 Februari: Dari Brussels ke Amsterdam

Mendarat di Amsterdam Centraal

Kami berangkat dari stasiun Bruxelles-Midi di Brussels sekitar jam 8 malam, lalu ganti kereta di Rotterdam sekitar jam 10 malam yang akan menghantarkan kami hingga stasiun utama Amsterdam, Amsterdam Central sekitar jam 10.30 malam. Lama perjalanan total adalah 2 jam dan 30 menit. Awalnya saya sempat khawatir masalah transfer di Rotterdam. Sebab waktu transfernya hanya 2 menit. Bagaimana jika ternyata transfernya harus berganti platform yang berjauhan? Apalagi kami membawa satu tas yang cukup besar. Faktanya ternyata transfer kereta hanya menyebrang platform yang bersebelahan tanpa harus naik atau turun tangga. Harga tiket yang kami bayarkan adalah 29.50 euro per orang.

Kami tiba di Amsterdam hampir tengah malam. Berhubung sudah pernah ke sini saya sudah tak perlu mencari-cari jalan lagi. Keluar kereta kemudian langsung keluar platform dan mencari mesin tiket otomatis untuk isi ulang kartu publik transport istri saya, Indri. Belanda menggunakan smart card bernama OV-ChipKaart untuk public transportnya. OV-ChipKart ini bisa digunakan di semua mode transportasi. OV-ChipKaart saya sendiri ternyata masih ada saldo hampir 20 Euro sisa jalan-jalan beberapa bulan sebelumnya.

Ibis Budget di Zaandam

Setelah isi ulang kartu kami langsung keluar Amsterdam Central menuju bus terminal. Di depan Amsterdam Central ada stop untuk tram dan bus. Selama di Amsterdam kami menginap di Hotel Ibis Budget. Tolong digaris bawahi, ditebali dan diberi stabilo kata-kata budget di belakang nama hotel tadi. Berhubung kami ingin jalan-jalan ekonomis maka semua pengeluaran harus ditekan hingga batas paling minimum. Sebagian besar hotel di pusat Amsterdam adalah sangat mahal. Akhirnya setelah membandingkan sana-sini pilihan terbaik jatuh ke Ibis Budget tadi yang berharga sekitar 40 Euro satu malam. Lebih murah berpuluh-puluh Euro dibandingkan hotel-hotel di pusat kota. Namun harga yang lebih murah itu harus ditebus dengan lokasinya yang di Amsterdam coret alis sedikit keluar dari Amsterdam. Ibis budget ada di daerah yang bernama Zaandam yang berjarak sekitar 25 menit perjalanan dari Amsterdam Central menggunakan bus.

Dari Amsterdam Central, kami menggunkan bus Connexion nomor 391. Connexion adalah salah satu provider bus dalam kota di Amsterdam. Kami sudah memeriksa bahwa bus ini ada hingga cukup tengah malam dan frekuensi sekitar 3 hingga 4 kali dalam satu jam. Satu hal yang sangat saya suka dari public transport di Eropa adalah bahwa mereka punya timetable yang berusaha dipatuhi dengan sangat akurat. Bahkan di Asia Tenggara, negara sekelas Singapura sekalipun busnya belum memiliki timetable.

Keluar dari stasiun kami menunggu tidak terlalu lama hingga busnya datang. Saat bus datang dan sebelum naik, saya memastikan ke supir bahwa bus tersebut berhenti di stop yang sudah saya tandai untuk menuju hotel. Amsterdam adalah kota yang sangat internasional. Meski bahasa resmi Belanda adalah bahasa Belanda, namun sebagian besar orang di sana bisa bahasa Inggris. Bahkan sapaan bahasa Indonesia bukanlah hal yang jarang dijumpai.

Connexion 391

Kembali ke bus, bus di Amsterdam adalah sangat modern. Sebelum naik kita mendekatkan OV-ChipKart ke depan card reader di pintu masuk bus. Sebelum turun jangan lupa mendekatkan lagi smartcard ke card reader. Apabila ada penumpang yang tidak memvalidasi kartunya saat naik entah karena lupa atau sengaja, bisa jadi di tengah jalan akan ada petugas yang memeriksa dan bisa jadi penumpang ilegal semacam itu akan didenda. Akhirnya benar, di tengah jalan ada sekitar 3 petugas yang naik ke bus untuk memeriksa smartcard setiap penumpang. Selain menggunakan OV-Chipkaart kita pun bisa membayar menggunakan uang tunai. Tapi harganya akan jauh lebih mahal. Selain sistem pembayaran yang sangat nyaman, di tengah bus ada display yang sangat besar berisi berbagai informasi relevan. Mulai dari jam, suhu hingga daftar stop yang akan dilewati dan stop berikutnya di mana bus akan berhenti. Jadi jika dengan informasi selengkap itu masih nyasar juga berarti ada yang salah dengan diri kita.

Panel Informasi di Dalam Bus

Setelah sekitar 25 menit melewati berbagai kegelapan di pinggiran kota Amsterdam akhirnya kami tiba di stop dekat hotel. Dari stop bus kami berjalan sedikit hingga akhirnya tiba di lobi nyari lewat tengah malam. Salah satu keuntungan menginap di chain hotel terkenal semacam Ibis meskipun ada kata “Budget” adalah kualitas layanan yang seharusnya cukup bisa diandalkan. Alhamdulillah faktanya seperti itu. Kamarnya cukup nyaman dan luas. Memang tak ada bathtub di kamar mandi tapi tetap cukup fungsional. Lucunya toilet dan bilik shower diletakan terpisah. Sesampai kamar kami langsung istirahat.

3 Februari: City Center

Regional Ticket dan ov-chipkaart

Morning Zaandam. Berhubung ini adalah hotel budget maka tak ada sarapan gratis. Pagi itu kami langsung keluar menuju pusat kota. Tujuan pertama adalah ke kantor layanan turis tepat di depan Amsterdam Central. Kami membeli tiket regional 24 jam untuk perjalanan esok hari. Tiket regional 24 jam adalah tiket bisa digunakan selama 24 jam sejak pertama kali dipakai dan berlaku di Amsterdam dan beberapa region di sekitar Amsterdam. Harganya 13.5 Euro. Ada juga tiket 24 jam Amsterdam seharga 7.5 Euro. Namun tiket ini hanya bisa dipakai di seputaran Amsterdam city center saja.

Kebab Deui Kebab Deui

Setelah beli tiket langsung ke tempat pertama yaitu resto kebab. Bagi yang berencana pergi ke Eropa dan punya perhatian masalah kehalalan makanan maka biasanya kebab adalah pilihan yang cukup bisa diandalkan selain menu ikan atau vegetarian. Meski memang sih setiap hari makan kebab agak membuat muak juga. Seperti yang sudah terjadi pada istri saya yang sudah bosan makan kebab. Bagi saya pribadi, selama ada pilihan halal, makan daging yang tidak jelas metode penyembelihannya bukanlah pilihan. Sebab makan tidak menjadi halal hanya dengan membaca bismillah sebelum menyuap.

Dam Square

Setelah makan kami langsung menuju Dam Square, sebuah square terkenal di Amsterdam. Kami berjalan kaki menuju ke sana. Atraksi terkenal di Dam Square adalam Madam Tussaud yang berisi patung-patung lilin figur-figur terkenal dengan dimensi sesuai aslinya. Dari balik kaca museum terlihat DJ Tiesto versi patung yang sedang bermain turntable. Sayang sekali karena harga tiket yang cukup mahal bagi kami membuat kami urung masuk ke dalam. Dam Square sendiri sangat ramai dengan turis bahkan di musim dingin seperti ini. Lucunya musim dingin kali ini Amsterdam belum bersalju sedikit pun meski suhu tetap cukup dingin.

Hal yang saya sukai dari suasana kebanyakan lapangan-lapangan terbuka adalah banyaknya burung merpati. Di Dam Square bukan pemandangan aneh melihat anak kecil yang berlari-lari mengejar merpati.

Dari Dam Square, seperti kata lagu kami berjalan tak tentu arah hingga akhirnya sampai di Rijksmuseum . Oleh karena alasan budget kami kembali tidak masuk ke dalam museum ini namun hanya berfoto-foto di tulisan besar Iamsterdam di depan museum. Iamsterdam adalah tagline promosi pariwisata kota Amsterdam.

Iamsterdam

Fatih Moskee

Dari museum kami menuju ke masjid di Rozengracht. Nama masjidnya adalah Fatih Moskee. Ini adalah masjid Turki. Meski dari luar terlihat kecil, namun saat di dalam masjidnya ternyata cukup luas. Setelah shalat kami pergi ke sebuah kantor turis untuk membeli tiket canal cruise. Kanal adalah keunikan kota Amsterdam yang membuat kota ini terlihat sangat cantik. Sayangnya saat kami menaiki kapal, terlalu banyak turis dalam satu kapal, sehingga kami jadi kurang menikmati suasananya.

Bagian Dalam Fatih Moskee

Selesai canal cruise kami makan malam di sebuah Restoran Indonesia halal yang saya ketahui dari kunjungan ke Amsterdam sebelumnya. Nama restorannya adalah Iboenda yang berlokasi di The Clercqstraat 65. Makanan yang dijual adalah makanan rumahan. Sekali makan per porsi adalah seharga sekitar 10 euro. Namun 1 porsi tadi adalah sangat banyak sehingga bisa kami makan berdua dan tetap cukup kekenyangan. Selesai makan kami langsung kembali ke hotel.

Resto Iboenda

4 Februari: Eksplorasi Zaandam dan Volendam

Belanda terkenal dengan banyak hal. Pertama adalah dam, lalu kanal-kanalnya yang cantik, kemudian tulip yang menawan, juga red light district dan yang mungkin sangat melekat di benak kebanyakan orang Indonesia adalah kincir anginnya yang khas. Tak pelak jika ini karena si Negara Londo ini sering disebut sebagai Negeri Kincir Angin.

Kincir Angin Zanse Schans

Tak jauh dari Amsterdam, kita bisa melihat kincir angin khas Belanda di area yang bernama Zaanse Schans. Kebetulan lokasi ini tidak jauh dari Zaandam di daerah hotel kami. Dari hotel ke Zaanse Schans cukup sekali naik bus Connexion nomor 391 gratis menggunakan regional pass yang sudah kami beli sebelumnya.

Zaanse Schans adalah semacam museum terbuka. Atraksi utamanya adalah kincir tradisional Belanda. Ada beberapa kincir di tempat ini dengan latar belakang danau dan sungai yang cantik. Selain kincir ada juga workshop sepatu kayu khas Belanda di sini. Kita tidak perlu membayar untuk memasuki area Zaanse Schans. Saya dan istri saya, Indri menghabiskan waktu beberapa jam untuk berkeliling tempat ini.

Sepatu Kayu Raksasa

Mas mas Pengrajin Sepatu

Setelah Zaanse Schans kami menuju ke daerah urban lain yang bernama Volendam. Volendam adalah kota nelayan yang tak jauh dari Amsterdam. Atraksi utama kota ini adalah suasana kota nelayan, restoran seafood dan foto menggunakan kostum nelayan tradisional khas Volendam. Dari Amsterdam Central kita bisa naik bus EBS nomor 118 menuju Volendam. EBS adalah perusahan otobus seperti Connexion. Satu hal yang menarik, armada EBS yang kami naiki memiliki wifi dengan koneksi internet. Pejalanan dari Amsterdam Centraal ke Volendam adalah sekitar 30 menit. Berbeda dengan beberapa bus Connexion dan terminal tram yang ada di bagian depan Amsterdam Centraal, tempat stop bus EBS 118 dan beberapa bus lain ada di bagian belakang stasiun.

Bus EBS Kuning

Sesampai Volendam kami langsung berjalan ke arah pantai. Di bibir pantai banyak restoran dan toko suvenir. Tujuan pertama adalah membuat foto dengan kostum tradisional Volendam. Ada beberapa studio foto yang menawarkan layanan foto kustom tradisional di Volendam. Tempat yang kami pilih mematok biaya 18 Euro untuk satu foto ukuran A4. Laki-laki dan perempuan memiliki satu kostum khas tersendiri. Ada beberapa aksesori yang bisa dipilih juga untuk menyemarakan foto. Saya memilih memegang akordion.

Selesai foto sambil menunggu foto dicetak, kami mencari tempat untuk makan siang. Kami pun menemukan sebuah resto fish and chip. Di resto ini kami sempat di sapa oleh satu pasangan Belanda yang juga tengah pelesir ke Volendam. Mereka bercerita sudah pernah ke Bali dan mengagumi keindahan pantai-pantai di Indonesia. Selesai makan kami kembali ke foto studio untuk mengambil foto lalu berjalan di pinggir pantai yang cukup berangin-angin. Saya menyempatkan shalat di pinggir pantai ini.

Nyifood di Volendam

Setelah itu kami berkeliling lagi sekitaran pantai. Uniknya ada beberapa patung khas di sepanjang pantai Volendam. Setelah semakin sore kami memutuskan kembali ke Amsterdam dan beristirahat di hotel.

Salah Satu Patung di Volendam

5 Februari: Nyasar ke Red Light District

Fish Burger

Pagi hari kami awali dengan sarapan burger ikan di Burger King Amsterdam Centraal. Setelahnya kami berjalan tanpa arah. Lucunya tiba-tiba kami nyasar ke red light district. Area ini adalah area yang berisi beberapa rumah bordir. Di setiap rumah bordir ada semacam etalase bernuansa lampu merah yang memajang wanita-wanita dengan baju sangat minim. Tentu saja wanita-wanita tersebut adalah PSK yang bisa disewa. Mirisnya di Belanda prostitusi adalah legal. Red light district ini justru menjadi salah satu destinasi wisata di Amsterdam.

Kegiatan utama kami di hari ini adalah bersepeda. Amsterdam mungkin adalah kota paling bersahabat untuk pengendara sepeda. Di seluruh bagian Amsterdam dan mungkin bahkan di sebagian besar kota-kota Belanda, ada jalur khusus untuk sepeda. Selain alat transportasi yang bersahabat dengan lingkungan, sepeda adalah bagian erat dari budaya Belanda.

Green Budget Bike

Ada banyak tempat menyewa sepeda untuk turis di Amsterdam. Sayang harganya tidak terlalu murah. Setelah browsing internet saya menemukan vendor bernama Green Budget Bike yang nampaknya menawaran harga paling terjangkau. Kami membayar 6.5 Euro untuk sewa selama 3 jam. Pada faktanya penunggu konter green bike memberikan bonus 1 jam tambahan. Harga tersebut adalah untuk sewa sepeda single speed tanpa rem tangan alias dutch bike. Untuk sepeda dengan gigi dan rem tangan sewanya lebih mahal lagi. Selain lebih murah, Dutch bike adalah pilihan tepat untuk merasakan nuansa seutuhnya bersepeda di Amsterdam. Cara mengerem sepeda Dutch Bike adalah dengan sedikit mendorong pedal sepeda ke arah belakang. Semakin kita tekan maka tingkat pengeremannya akan bertambah. Pada awalnya agak sedikit membutuhkan adaptasi namun setelah sebentar saja membiasakan diri kami langsung mengelilingi beberapa blok di Amsterdam.

Menjelang sore kami berjalan ke arah belakang Amsterdam Centraal dengan tujuan untuk naik feri. Di sini ada terminal feri dengan 3 jurusan menyebrangi kanal besar di belakang stasiun. Jasa penyebrangan ini tidak dipungut biaya alias gratis. Kami naik ke NDSM-werfveer, jurusan yang palng jauh di mana diperlukan waktu sekitar 15 menit untuk menyebrang. Sesampai di sebrang kami menaiki feri yang sama kembali ke Amsterdam Centraal. Memang tidak ada yang terlalu spesial namun tetap cukup menyenangkan untuk merasakan bagaimana orang-orang lokal sana beraktivitas semisal menyebrang menggunakan feri gratis tadi.

Aktifitas naik feri tadi mengakhiri kegiatan utama kami di hari itu.

6 Februari: Flea Market

Ini adalah hari terakhir kami di Amsterdam. Kami checkout hotel sebelum jam 12. Saya sempat meminta ke resepsionis untuk late checkout sampai jam 1 siang untuk Shalat Zuhur dulu namun menurut aturan kami harus membayar ekstra 5 Euro perjam jika ingin late checkout. Kami pun memutuskan untuk checkout sesuai dengan batas waktunya saja.

Locker Tas di Amsterdam Centraal

Setelah dari hotel kami kembali naik bus ke Amsterdam Centraal. Di sini tujuan pertama adalah menitipkan tas carrier kami yang besar agar kami bisa jalan-jalan hingga menunggu penerbangan ke Oslo nanti malam. Untuk kesekian kalinya kami tidak punya tujuan spesifik. Akhirnya kami pun berjalan ke metro station yang berada di kolong Amsterdam Central dan naik random metro yang tengah nangkring. Amsterdam punya 4 metro dengan nomor 50, 51, 53 dan 54. Metro 52 sedang dalam tahap pembangunan dengan ekspektasi selesai baru tahun 2017 nanti.

Kembali ke Metro yang kami naiki, akhirnya kami turun di Nieuwmarkt. Keluar kereta kemudian keluar stasiun metro kami berjalan tak tentu arah lagi, tentunya tampa tersesat dan tak tahu arah jalan pulang (halah). Singkat cerita kami nyangkut di sebuah flea market di sini. Ada berbagai macam barang yang dijual di sini. Mulai dari sepeda, souvenir, pakaian, pajangan, barang antik, gramafon, piringan hitam, DVD porno, buku, prangko dan uang koleksi. Meski cuma berputar-putar di dalam pasar loak ini kami merasa sangat senang melihat berbagai macam barang-barang yang unik.

Flea Market

Selesai dari pasar loak, kami duduk-duduk lagi di pinggir kanal. Lalu kembali lagi ke Restoran Iboenda untuk makan siang. Dari Iboenda iseng naik tram dan turun di Rembrandtplein alias alun-alun Rembrandt yang diambil dari pelukis Londo nan terkenal Rembrandt van Rijn. Dulu Rembrandt tinggal di dekat square ini dari tahun 1639 hingga 1656. Di tengah square berdiri patung Rembrandt yang ada di sana sejak 1876. Di tahun 2006, diletakan kumpulan patung perunggu yang desainnya mengambil suasana dari lukisan Rembrandt paling terkenal, The Night Watch.

Mas Rembrandt dan The Night Watch

Selesai nongkrong-nongkrong di Rembrandtplein, kami kembali ke Amsterdam Central untuk mengambil tas. Dari sana kami langsung ke airport. Schipol, airport utama Belanda dapat dijangkau dengan mudah menggunakan banyak kereta dari Amsterdam Central. Tiket kereta ke bandara sekitar 4 Euro dengan waktu tempuh sekitar 15 menit.

Si Merah Norwegian Air Shuttle

Stasiun Schipol ada di bawah bandara. Berhubung ini bandara yang cukup besar, jika akan terbang dari sini pastikan sediakan waktu yang cukup oleh karena pemeriksaan security yang cukup ketat sehingga memakan waktu. Area bandara terbagi menjadi area Schengen dan Non-Schengen. Tak ada pemeriksaan paspor untuk penerbangan ke sesama area Schengen. Ada universal praying room di area Non-Schengen dan sayangnya tempat serupa tak ada di area Schengen. Kami pun menyempatkan diri shalat di pojokan kosong ruang tunggu bandara sambil menanti pesawat Norwegian Air Shuttle yang akan menghantarkan kami Oslo yang terlambat selama 45 menit. Malam itu kami pun berpamitan dengan Amsterdam saat pesawat merah Norwegian Air Shuttle meninggalkan Schipol.