Mengapa Harus CBR 250R

Sepertinya sejak awal saya memang ditakdirkan menjadi rider sejati (haha lebay). Sebenarnya sih alasan yang lebih tepat karena belom mampu beli mobil. Namun bagaimana pun, ngaspal bareng motor memiliki nuansa kenikmatan tersendiri dibanding duduk santai di belakang kemudi bulat. FYI I can drive meski ga lancar, dan bahkan saya sudah punya SIM A hampir lima tahun (yang baru saya pake beberapa kali :p). Jadi ga ada kecemberuan sosial motor versus mobil di sini. Ngaspal bareng motor itu nikmat saat dapat menerpa angin, merunduk mengejar speed, berebahan di jalan berkelok, adu adrenalin saat menyalip kendaraan-kendaraan besar di jalur padat. Tak berlebihan jika ada ungkapan terkenal yang mengatakan four wheels move your body, two wheels move your soul.

Pada kesempatan ini saya akan membahas CBR 250R. Si mahkluk ini membuat saya belingsatan beberapa hari ini. Jumat 25 Februari 2011 kemarin CBR resmi diluncurkan di pasar Indonesia. CBR 250R dirilis dalam 2 versi. Versi non-ABS seharga 39.9 juta dan versi ABS 46.5 juta OTR Jakarta.Meski harganya sudah mendekati beberapa harga mobil bekas jadul, sejak tanggal rilis tersebut saya tetap benar-benar kalap. Kalap karena saya benar-benar jatuh cinta dan ingin memiliki sosok anggun beroda dua tersebut meski harus tetap rela kehujanan dan kepanasan. Namun saya mawas diri bukan turunan bangsawan juga tak bernama awal Raden (Raden Jon Kartago Lamida wkwkwk lucu juga) yang punya uang cukup untuk membayar lunas sang CBR. Tapi there is a will must be there is a way. Lanjut…

Barangkali CBR adalah motor premium Honda pertama yang dipasarkan secara masal. Barang baru tentunya akan mengundang rasa penasaran yang sangat besar. Setelah peluncuran Honda Indonesia langsung membuka aplikasi pemesanan online di portal welovehonda.com untuk top 250 pembeli pertama. Seperti tersihir saya langsung saja mengisi form dengan sejenak menggeser akal sehat bahwa motor ini bukan motor murah. Namun sejenak saya tak peduli sejak ramai diperbincangkan khalayak, saya sudah jatuh hati kepada motor ini. Semua orang tahu cinta itu buta (haha).

Pertanyaan berikut yang berkembang adalah kenapa harus CBR? Alasan pertama sebenarnya saya lebih naksir kakak jauh dari CBR Honda VFR 1200 (desain mereka cukup mirip). Namun harganya yang hampir 16.000 dollar minus pajak impor yang pasti gila-gilaan akan terlalu gila untuk merelisasikan mimpi itu (sejujurnya saya juga tak terlalu serius dengan igauan pertama ini).

Alasan kedua adalah CBR adalah motor global. Berbeda dengan tipe-tipe lokal atau regional, CBR akan dipasarkan keseluruh dunia dengan spesifikasi detail yang tak terlalu jauh berbeda. Sebagai contoh sekarang saya memakai V-Ixion. Saya pernah melihat V-Ixion sewaktu ke Kuala Lumpur (entah di sana namanya apa). Namun saya ragu akan ada V-Ixion di luar regional Asean. Beda kasus dengan CBR yang akan ada di seluruh penjuru dunia. Mengutip tulisan yang membahas Kawasaki Ninja yang juga adalah merk global, sama juga dengan CBR, pemilik CBR akan memiliki komunitas yang sangat luas dalam berbagi, berdiskusi dan mencari informasi terkait motor tersebut.

Alasan ketiga, CBR adalah motor yang sudah benar-benar sport dengan full fairingnya. Setiap motor memiliki nuansa rasa berbeda. Naik skuter akan beda rasa dengan naik motor bebek dana akan berbeda pula dengan naik motor sport. Motor sport dengan salah satu identifikasi utama tangki bensin besar di depan dan biasanya berkopling manual benar-benar merepresentasikan sesuatu yang sangat keren, macho dan benar-benar laki. CBR sangat mewakili feel ini. Ditambah lagi dengan full fairing tadi benar-benar menggambarkan kegagahan yang luar biasa.

Alasan keempat, CBR adalah Honda. Membangun brand itu adalah hal yang sangat berat. Honda pun membutuhkan waktu puluhan tahun untuk bisa berdiri sebagai merk yang benar-benar membekas di hati konsumen. Apalagi di Indonesia meski beberapa belas tahun Honda seakan terlalu pasif mengeluarkan produk-produk bagus, namun sebagian besar orang sudah benar-benar terpatri bahwa motor itu ya Honda. Secara ekstrim contohnya di Padang kampung halaman ayah saya bahkan orang mensubstitusi secara eksplisit kata “motor” dengan “Honda”. Saya mau ke sekolah naik motor menjadi saya mau ke sekolah naik Honda. Padahal belum tentu motornya itu Honda. Masih berkaitan dengan merk, berbeda dengan brand lain jangkauan after sales Honda di Indonesia benar-benar luas. Jadi akan terasa lebih terjamin secara tidak langsung.

Alasan kelima, mesin CBR 250cc. Semakin besar cc mesin biasanya powernya akan lebih besar dengan kompensasi konsumsi BBM yang lebih banyak dan perawatan yang lebih mahal. Artinya CBR 250 akan memiliki kesan luxurius (walaupun bisa jadi bulan-bulan depan akan berjibun CBR 250R di jalanan). Motor terakhir saya hanya berkubikasi 150 cc. Penasaran sejak dulu mencoba mesin dengan power yang lebih besar.

Alasan keenam, CBR sudah didesain dengan sangat bagus. Sebagai catatan ini adalah pendapat subjektif saya. Saya tidak mengerti mesin dan saya juga bukan orang desain. Secara fisik dan tampilan saya merasa sangat puas. Tampilan ini juga yang membuat saya sejak awal kesengsem dengan motor ini. Desain fairing adalah pas menurut saya. Tidak terlalu gemuk namun tetap terlihat cukup berisi. Speedometernya bahkan sudah digital dan cukup cantik. Buntutnya terlihat apik bagi saya.

Sektor mesin CBR 250R sudah menganut sistem injeksi satu silinder. Sekali lagi saya tidak mengerti mesin. Namun saat membandingkan injeksi versus karburator kita seharusnya sepakat dalam beberapa hal injeksi itu lebih canggih. Namun setiap teknologi pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Demikilan juga dengan jumlah silinder yang hanya satu. Di internet sejak jauh hari sebelum pembrojolan CBR 250R banyak sekali ribut-ribut yang mempertentangkan CBR versus ninja. Saya pribadi berpendapat tidak ada produk yang sempurna. Baik Ninja maupun CBR pasti punya nilai plus min masing-masing. Tergantung preferensi pribadi lebih condongnya kemana. Salah satu ribut-ribut misalnya mempermasalahkan satu silinder CBR versus dua silinder ninja. Saya pribadi tak peduli. Mau satu silinder atau tujuh silinder asalkan saya bisa ride dengan nyaman itu sudah cukup.

Lanjut ke masalah sektor rem. CBR sudah menggunakan cakram depan belakang (kebangetan motor 40 juta masih pake tromol). Versi ABS tentunya sudah menambah ABS ke pengereman. Dari sedikit yang saya paham intinya ABS itu mencegah roda mengunci ketika mengerem di jalan licin, seperti jalan becek atau pasir. Saat roda mengunci biasanya motor akan hilang kendali. Dibelokan tidak akan mau belok. Jarak henti juga akan jadi jauh (itu pun kalo tidak jatuh, amit2). Dengan ABS, sistem komputer akan membaca apakah roda terkunci atau tidak saat rem mendadak. Bila roda terkunci dan ridar mengubah arah maka ABS akan melepas rem sejenak agar motor tetap dapat terkendali. Intinya sih ABS itu perangkat safety untuk mempermudah rem mendadak di kondisi tak baik (please CMIIW kalau ada statementnya yang salah).

Hal yang kurang dari CBR adalah masalah shutter key yang masih standard kalah dengan vario dan kawan-kawan yang sudah bermagnet. Jadi agak ngeri kalau ditinggal di parkiran dan minus sistem alarm juga.

Bagian terakhir saya ingin sedikit membahas masalah pergunjingan orang-orang yang menandingkan CBR 250R dengan Ninja 250. Hal ini sebenarnya adalah hal yang sangat wajar. Melihat dari kubikasi mesin 2 motor ini terlihat mengarah pangsa pasar yang sama. Namun seperti juga banyak dibahas di internet, masing-masing motor sebenarnya memiliki sisi unik tersendiri yang tak perlu diperdebatkan. Dari beberapa komparasi yang sempat saya baca, masalah power dan top speed CBR memang kalah dari Ninja. Namun hal tersebut bukanlah masalah untuk saya. Saya bukan speed addict yang gila-gilaan. Saya masih sayang hidup yang cukup berkendara di speed yang wajar (di atas wajarnya sekali-sekali saja di jalan lurus mulus yang sepi :p). Kemudian masalah perbandingan desain Ninja yang agak gemuk dan berisi versus CBR 250R yang terlihat agak cungkring. Ini juga bukan masalah untuk saya. Saya tidak memungkiri Ninja punya desain yang gagah dan terlihat seperti moge. Pada awalnya saya pun sempat terbesit untuk memiliki sebuah Ninja. Namun hasrat tersebut tidak sebesar ketika CBR keluar dan saya benar-benar menginginkan CBR. Jadi untuk kesekian kali saya tekankan, tidak ada gunaknya ribut-ribut mempertentangkan yang mana lebih bagus Ninja versus CBR. Sebab tidak ada yang diuntungkan dengan pertentangan tersebut. Bagi individu yang mencari pilihan antara 2 motor tersebut ya silakan lakukan SWOT analysis sendiri untuk mendapat pilihan paling cocok bagi dirinya.

Demikian barangkali selintasan pemikiran saya pribadi berkaitan dengan launching CBR 250R. Saya sendiri bukan rider Ninja belum pula menjadi rider CBR 250R. Apa yang saya diskusikan di sini hanya wacana ketertarikan saya terhadap motor terbaru Honda Indonesia tersebut.

Happy Birthday Maruno

27 Februari 2009. Pada tanggal itu, lain dari biasanya aku pulang kerja dengan sangat bersemangat. Di tanggal itulah di rumahku kedatangan sosok kekar berwarna merah. Yang pada hari ini (tepat beberapa jam lalu) sudah 2 tahun sosok itu menemani hari-hariku. Dialah Maruno my red Yamaha Vixion. Yang tak lelah bersama mengaspal berpuluhribu kilometer. Happy birthday Maruno. 😀

Dua tahun bukan waktu yang sebentar untuk saling berbagi. Sejak dulu tak tahu kenapa, aku adalah tipikal orang yang sangat menyayangi benda-benda yang aku miliki. Salah satu representasi rasa sayang itu diantaranya menamai benda-benda tersebut. Mulai dari motor hingga HP. Aku pikir hal tersebut wajar. Apalagi jika benda itu baru dapat diperoleh setelah bekerja bersusah payah. Demikian juga Maruno, karena ia adalah salah satu benda termahal yang pernah aku beli dengan uang aku sendiri.

Dua tahun meski bukan waktu sebentar tapi terasa sekilas juga. Seakan baru kemarin malam, Marubo tiba di rumah. Di malam itu sepulang kerja aku begitu berbinar melihat benda merah itu telah menunggu di teras rumah. Tanpa sabar menunggu aku langsung mencoba mengaspal bersamanya malam itu. Hari dan hari, minggu dan minggu hingga bulan dan tahun waktu pun berjalan. Kami bersama di saat panas, saat hujan, saat jalan mulus, saat jalan rusak, hampir tak pernah terpisah meski hanya sehari. Ya sesekali aku naik bus. Tapi aku terlalu benci transportasi publik di negara ini dengan segala kebusukannya. Jadi meski panas dan hujan aku lebih senang bila mengaspal bersama si merah itu. Satu hal lain yang aku syukuri, dalam 2 tahun ini Alhamdulillah tak pernah sekali pun aku mengalami hal buruk bersama Maruno (amit2 jangan sampai pernah terjadi). Justru lucunya Maruno malah 2 kali tumbang ketika sedang diam. Pertama tumbang di parkiran diseruduk kerbau. Footstep belakang langsung patah dan pendingin knalpot masih penyok hingga sekarang. Kedua tumbang di halaman kantor saat aku mau membuka pagar kantor. Penutup grip gas masih agak lecet hingga kini. Selebihnya tak pernah sekalipun ada kejadian buruk.

Pernah satu kali saat pulang malam aku hampir selip ketika berjalan dengan kecepatan tinggi dan agak mengerem di jalanan berlumpur. Namun Alhamdulillah walau sempat oleng aku tak jatuh. Kedua hampir satu kali saat pulang juga seorang ABG labil yang agak syaraf berjalan dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi tiba jatuh terguling lalu terseret menyilang hanya beberapa centi meter. Jika momennya sedang buruk bisa jadi motor ABG labil itu menghantam aku dan Maruno yang berjalan cukup kencang. Namun alhamdulillah aku selamat.

Dua tahun juga sepertinya masa yang cukup lama bagiku untuk mulai bosan. Sempat pertama terpikir mengganti Maruno ketika Yamaha Byson keluar. Namun urung. Beberapa hari lalu keinginan untuk menjual Maruno muncul kembali ketika Honda meluncurkan CBR 250R. Namun justru mama memberi saran untuk tidak melepas Maruno. “Kalau mau beli motor lagi ya beli aja. Tapi yang lama jangan dijual. Sayang, harga jualnya tak seberapa, biarkan saja nanti bisa dijadikan kenangan juga.” Merasa bersalah juga telah mengkhianati Maruno. Tapi sepertinya memang sulit melepas ia karena kami telah lama bersama.

Dua tahun ini 47633 Km telah kami tempuh bersama. Top speed yang pernah kudapat sekitar 130 Km/jam. Maruno selalu minum pertamax sejak dibeli. Perjalanan terjauh adalah wakut ke pangandaran kemarin sekitar 740 Km. Happy birthday Maruno, semoga kau masih kuat menemaniku.

Solusi Velg Bocor

Jangan kaget atau aneh baca judul post ini. Biasanya yang bocor itu adalah ban. Namun saya mengalami velg yang bocor. Kira-kira ceritanya seperti ini. Sabar ya kalo agak panjang. Sorry juga no picture. 🙂

Sudah sekitar sebulan ban si Maruno (my red motorbike) bermasalah. Indikasinya setiap sekitar 4 atau 5 hari ban belakang sering kempis sendiri. Bahkan terkadang angin sampai sering habis. Nampaknya ada bocor halus. Berhubung sok sibuk, bocor halus itu pun saya biarkan. Coba kalo mahkluk halus pasti langsung ditangani (garing). Kebetulan di rumah ada pompa sepedah. Jadi tiap angin kurang, tinggal njot-njot tambah anginnya. Tapi itulah sikap sok sibuk tadi akhirnya berujung penyesalan.

Setelah sekitar sebulan lebih bocor halus itu didiamkan berangkatlah saya ke tukang tambal ban sepulang servis motor haris Senin 14 Februari kemarin. Kebetulan saya sedang cuti dan saya ke bengkel motor sekalian servis juga mengganti kampas rem belakang yang sudah habis. Sepulang servis saya langsung jalan ke arah Jonggol. Saya servis di Yamaha Gandoang sekitar 5 Km dari Jonggol. Sebenarnya di Jonggol pun ada bengkel resmi Yamaha. Namun entah kenapa saya sering kurang puas di bengkel itu. Maka dari itu saya lebih bela-belain jalan jauh yang penting bisa puas.

Di perjalanan pulang dari bengkel tersebut, saya memang berniat mengobati problem ban si Maruno. Namun berhubung hujan dan saya tak bawa jas hujan, saya melewati tempat tambal ban terpercaya di sekitar Cipeucang, Cileungsi 3 Km menuju Jonggol. Setelah berjalan semakin dekat ke Jonggol hujan reda, akhirnya saya mampir ke tukang tambal ban lain yang saya temui di jalan. Langsung saya adukan permasalahan ke si tukang tambal. Lalu mulailah ia menambah angin ban belakang kemudian menyiram-nyiram seputaran ban dengan air. Tak lama dia menunjukan gelembung-gelembung air di dekat pentil ban. Lalu di bongkar ban dengan tujuan mengencangkan karet si tubeless. Sekitar beberapa menit kemudian semua dipasang kembali. Nampaknya masalah teratasi. Tapi cerita kemudian tidak seperti itu. Saya langsung pulang ke rumah.

Di rumah saya langsung mandi dan siap-siap karena ada janji ketemuan dengan Dewi. Selang sekitar 2 jam, saya sudah kembali rapi dan siap mengendarai si Maruno lagi. Setelah semua siap langsung jalan. Namun baru beberapa meter jalan ada yang aneh dengan ban belakang. D*mn, kempes total. Langsung saya putar balik ke rumah dan memompa dengan pompa sepedah. Ga bener nih kerjaan si tukang tambal.

Dengan agak kesal setelah angin penuh saya langsung ngebut balik lagi ke tukang tambal tadi. Saat sampai langsung saya adukan permasalahan. Lalu ia memeriksa ban dengan menyiram-nyiram dengan air. Si tukang tambal menyatakan tak ada yang bocor. Padahal jelas-jelas tadi di rumah ban motor habis angin. Akhirnya setelah berdebat kecil saya pun pergi dari tukang tambal itu sambil berjalan ke arah Cileungsi. Di perjalanan saya kembali ke tukang tambal yang saya pikir cukup terpercaya. Saya adukan masalah saya, lalu ia langsung memeriksa ban. Kali ini dengan air sabun. Selang beberapa menit setelah si tukang tambal melumuri busa sabun ke bagian-bagian ban, ia menunjukan sebuah bagian di mana keluar gelembung-gelembung halus. Ternyata itu dia bocor halusnya. Langsunglah dipersiapkan perlengkapan tubeless. Kurang dari 20 menitan akhirnya sudah beres. Akhirnya saya merasa lega permasalahan Maruno tuntas semua. Benarkah? Ternyata tidak.

Keesokan harinya Selasa 15 Februari adalah hari libur maulid nabi. Saya seharian di rumah. Sore hari saya keluarkan motor untuk dicuci. Rutinitas cuci saya mulai dari bagian ban belakang. Saya penasaran dengan tambalan tubeless kemarin. Saya tetesi bekas tambal yang masih menonjol dengan air. Bagus. Tak ada gelembung air. Tapi tiba-tiba terdengar suara desis udara menembus air. Langsung saya siram sedikit-sedikit tempat tercurigai. D*mn bocor lagi. Dan sekarang bukan ban yang bocor. Velg bocor! Tidak!

Saya masih setengah tak percaya melihat apa yang ada di depan saya. Kok bisa? Saya langsung agak malas jika harus berpikir biaya yang harus saya keluarkan untuk masalah ini. Velg baru sepertinya bukan sesuatu yang murah. Harus ganti ban tube type lagi, juga bukan pilihan menyenangkan.

Dengan gundah saya langsung browsing di internet mengenai permasalahn ini. Sialnya tidak banyak informasi yang membantu. Dari hasil-hasil searching singkat akhirnya ada beberapa solusi.

– Beli velg baru
– Beli motor baru (saya bercanda untuk yang 2 ini)
– Ganti dengan ban tube type
– Las babet
– Lem bagian velg yang retak

Dua solusi pertama saya cuma bercanda. Solusi ganti ban tube type tidak saya ambil, karena meski ternyata ada kelemahan juga, hati lebih tenang pakai tubeless. Solusi las sempat ingin saya ambil. Beberapa orang yang saya tanya menyarankan di las babet. Saya kurang tahu detailnya seperti apa. Tapi nampaknya las babet salah satu tujuannya untuk menutupi bagian yang bocor. Tapi saya segan velg jika harus di las, takutnya bukannya bocor tertambal tapi velg malah rusak. Akhirnya solusi terakhir yang paling layak dicoba meski sebenarnya agak-agak kurang masuk akal juga. Solusi ini saya pilih setelah tukang tambal ban kepercayaan saya menyarankan solusi ini.

Lem velg yang retak tentunya tidak bisa menggunakan power glue, apalagi lem kertas atau selotip. :p Si tukang tambal ban menyarankan untuk membeli lem besi campur di toko material bangunan. Merknya dextone, harganya 8000. Di paket penjualan berisi dua tube berwarna hitam dan putih. Dua tube ini harus dicampur dengan perbandingan 1 banding 1. Setelah lem saya beli langsunglah si tukang tambal velg beraksi. Dibongkarlah velg belakang maruno. Kemudian dibersihkan bagian dalam velg tempat bocor berasal. Dari sini juga ketahuan bahwa velg agak penyok. Seperti karena menghajar lobang ketika ban sering kempes. Dari benturan itu selain membuat bibir velg agak jebleh seperti Steve Tyler, juga meretakan si bagian dalam velg sehingga semilir angin bisa keluar dari situ.

Setelah velg dibersihkan selanjutnya si Lai (nickname buat si tukang tambal ban sekaligus tukang tambal velg) mencampur lem. Kemudian mengoles perlahan ke bagian velg yang bocor. Setelah dioles rapi velg didiamkan sebentar. Sekitar 10 menit kemudian ban kembali di pasang. Si Lai lalu mengisi angin ke ban. Agak deg deg ser juga menanti hasilnya. Pusing juga kalo workaround ini ga berhasil. Setelah angin penuh, si Lai menyiram-nyiram air ke seputaran ban. Alhamdulillah nampaknya bocor velgnya berhasil tertambal. Mengenai ketahanan masih belum teruji juga. Orang baru 1 hari. Tapi sampai tadi pagi sih kelihatannya masih bagus.

Lesson learn terpenting adalah safety riding selalu. Sabar dikit kalo jalan agak-agak berlubang dan jangan di hajar-hajar. Resiko velg pun bisa rusak. Agak geli juga. Sebenarnya Sabtu malam saat pulang dari Pelabuhanratu, Dewi udah mewanti-wantiku hati-hati jangan hajar-hajar lobang sembarang, takut velg rusak. Waktu itu saya cuma hooh-hooh doank. Ehh akhirnya kejadian. Oke semoga tips yang kepanjangan ini berguna.

Review Helm Ink Vector 2

Hingar bingar keharusan penggunaan SNI pada helm nampaknya menjadi pemicu peningkatan penjualan sekaligus peningkatan harga helm pada minggu-minggu ini. Pada waktu yang sama saya pun teringat, sudah lebih dari 3 tahun saya tidak mengganti helm. Nampaknya sekarang momen yang pas untuk membeli helm baru.

Sekitar seminggu lalu secara tidak sengaja ketika sedang jalan-jalan ke Plaza Semanggi saya tertarik pada sebuah helm merah di sebuah lapak kecil. Entah kenapa pada waktu itu saya merasa yang saya lihat itu adalah helm bermerk kyt. Melihat harga yang agak mahal membuat saya urung membeli.

Selang 3 hari, helm merah yang saya lihat terus mengganggu pikiran. Akhirnya saya membulatkan hati untuk membeli. Meski agak mahal saya berpikir benda-benda seperti helm bukan barang yang sekali pakai habis. Waktu pakainya bisa tahunan, jadi sepertinya harga sudah tidak perlu terlalu dipikirkan.

Malam sepulang kantor saya pun kembali ke lapak yang saya kunjungi sebelumnya di plaza semanggi. Di jalan saya agak harap-harap cemas, khawatir jika helm yang saya incar sudah habis. Namun ternyata kekhawatiran itu tidak terbukti. Sampai di tempat tujuan helm merah itu masih terpajang di rak penjualan. Menariknya ketika pada waktu pertama saya melihat helm itu bermerk kyt, ternyata helm merah itu adalah helm ink. Saya sempat berdebat kecil dengan pedagangnya. Si penjual bersikeras menekankan bahwa kyt tidak pernah mengeluarkan helm merah seperti yang saya asumsikan. Sepertinya memang saya salah lihat.

Helm merah ink tersebut berseri nama Vector 2. Pilihan warnanya ada merah dan putih. Tapi saya sudah benar-benar kepincut dengan yang berwarna merah. Salah satu alasan lain saya benar-benar tertarik dengan helm ini adalah tipenya yang modular. Modular di sini adalah tipe helm yang merupakan hasil kawin helm 3/4 dengan helm full face. Secara sosok helm modular adalah helm full face. Namun bagian depan helm modular bisa dibuka seperti helm 3/4. Sehingga memudahkan misalnya orang yang ingin nyemil atau minum di lampu merah tanpa harus membuka helm. Sudah lama sekali saya menginginkan membeli helm tipe ini dan akhirnya kesampaian juga.

Berikut adalah reviewnya. Secara tampilan Ink Vector 2 ini memang cukup keren. Helm ini tidak terlalu membulat. Visornya tipe bening sangat bermanfaat untuk malam hari meski jika dipakai siang terik akan agak silau. Jumlah saluran udaranya ada 3. Satu di depan mulut dan 2 di bagian atas visor. Secara bobot helm ini tidak terlalu berat. Kepala pun tidak terlalu sesak untuk ukuran yang saya gunakan. Kesimpulannya, untuk harga yang diberikan Ink Vector 2 cukup layak untuk dibeli.

Yamaha V-Ixion 2010

Baru saja pulang dari dealer Yamaha setelah membawa Maruno medical check up. Bagi yang belum tahu, Maruno adalah Yamaha V-Ixion 2009 merah marun milik saya. Secara kebetulan ternyata di dealer sudah hadir sosok adik Maruno Yamaha V-Ixion 2010. Titelnya di brosur kredit adalah Vixion X Treme. V-ixion 2010 ini adalah facelift dari tahun sebelumnya. Mungkin ini digunakan Yamaha sebagai pemanasan sebelum meluncurkan Yamaha Byson sekitar quartal kedua 2010 nanti.

Facelift produk adalah hal yang gampang-gampang susah dilakukan. Facelift produk yang terlalu minim akan membuat konsumen baru tidak terlalu terpancing untuk membeli. Namun facelift produk yang terlalu ekstrim akan membuat konsumen lama sakit hati. Efek parahnya konsumen yang sakit hati tersebut akan memilih untuk pindah merk. Contoh kasus facelift produk yang terlalu ekstrim adalah Honda Tiger Revo. Tidak sedikit pengguna Tiger yang kecewa karena keduluan membeli Tiger lama dan dalam selang waktu tidak terlalu lama ternyata dirilis versi facelift yang terlalu ekstrim, meski perubahannya sebagian besar hanya sekedar di kulit saja.

Kembali membahas Yamaha V-Ixion 2010. Yamaha mengupgrade tampilan V-Ixion 2010 ini dalam porsi yang cukup tepat. Selain tampilan, spesifikasi mesin semuanya tidak di rubah. Perubahan tampilan yang paling terlihat adalah penggantian lampu utama dari bulat menjadi diamond. Delta box dan rangka footstep belakang berubah warna dari chrome menjadi hitam sehingga terlihat lebih menyatu dengan body. Perubahan lain adalah hanyalah di sektor stripping. Dengan perubahan yang tidak terlalu ekstrim, Yamaha sudah menjaga loyalitas pembeli v-ixion lama namun menarik konsumen-konsumen baru untuk melirik v-ixion baru. Tentunya kita sebagai konsumen benar-benar merasa kecewa bila produk yang kita miliki terlihat ketinggalan saat produk rilisan terbaru berubah terlalu banyak. Tapi hal ini tidak terjadi untuk kasus v-ixion ini. Saya tetap puas dengan lampu bulat motor saya. Kalaupun nanti sudah keluar spare part lampu diamond original sepertinya tidak terlalu sulit untuk menaikkelaskan v-ixion 2009 atau bahkan 2008 untuk berlampu diamond.

Terakhir untuk masalah harga naik sekitar 1 juta dibanding tahun sebelumnya. Harga di dealer saya yang berlokasi di Jonggol Bogor adalah 21.140.000. Mungkin di daerah lain ada sedikit perbedaan harga. Harga tersebut masih sangat wajar. Value for money. You get what you pay.

Ok that’s all. Untuk foto-fotonya silakan dinikmati.

Mengapa Harus Yamaha V-Ixion: Komparasi Dangkal Motor Sport di Indonesia

Setelah menunggu sekitar 2 minggu, akhirnya 27 Februari kemarin dealer mengantarkan Yamaha V-Ixion ke rumah. Ternyata perkiraan bahwa saya harus inden lama, karena mebayar cash, terbantahkan. Nampaknya Yamaha sudah menaikan kapasitas produksi untuk mengimbangi permintaan pasar. Pada waktu-waktu lalu, proses untuk memperoleh produk-produk Yamaha, terkenal sangat sulit. Apalagi untuk tipe-tipe laris, seperti Mio dan V-Ixion. Orang-orang harus rela menunggu berminggu-minggu untuk mendapatkan motor yang diinginkan. Belum lagi isu seringnya terdengar permainan dealer yang mendiskriminasi pembeli cash. Pembeli cash biasanya harus menunggu lebih lama lagi. Post ini akan mencoba membagi pengalaman saya dalam memutuskan untuk memboyong Yamaha V-Ixion 2009. Semoga bisa bermanfaat.

Keinginan untuk membeli motor baru sudah muncul sejak lama. Dengan pertimbangan penghematan, sejak awal saya berusaha untuk menghindari pembelian kredit. Sebab, bila dihitung, bunga kredit kendaraan motor sangat besar. Kemudian, sejak awal, tipe motor yang ingin saya beli adalah tipe sport. Alasannya, pertama mengendarai motor sport terlihat lebih maskulin. Kedua, power motor sport biasanya besar, ketiga mobilitas harian saya pulang pergi beraktivitas memakan jarak yang cukup jauh (sekitar 120 Km PP, Jakarta-Bogor). Menurut pendapat banyak orang, berkendara jarak jauh akan lebih nyaman menggunakan motor sport. Namun satu persyaratan penting lain juga harus dapat dipenuhi oleh produk yang akan saya bayar. Irit bahan bakar dan biaya perawatan.

Dari daftar kebutuhan tersebut, terciptalah daftar produk yang ada di pasaran yang harus saya pilih.
1. Honda CBR 150
2. Honda Tiger
3. Honda Megapro
4. Suzuki Thunder
5. Suzuki Satria
6. Kawasaki Ninja 250R
7. Bajaj Pulsar
8. Yamaha Scorpio

9. Yamaha V-Ixion


Pilihan pertama Honda CBR, terlihat sangat menarik. Top speed sangat tinggi, bagi perindu kecepatan, desain body yang sangat bagus dengan full fairing, size dan kapasitas mesin yang tidak terlalu besar. Beberapa hal kemudian membuat saya urung memilih Honda CBR. Pertama, harga yang terlalu mahal untuk anggaran yang saya sediakan. Kedua, CBR adalah motor impor. Saya agak mengkhawatirkan maintenance after sales yang harus saya lakukan. Dengan kondisi tersebut, CBR keluar dari daftar.


Pilihan kedua, Honda Tiger. Motor ini memang terlihat sangat mewah. Tampilan full touring, cc dan power yang sangat besar. Namun saya berpikir, bahwa harga yang harus ditebuskan untuk membayar Tiger adalah terlalu mahal. Meski tampilan body mewah, teknologi yang diusung Tiger sangat konvensional. Hal penting lain, postur saya (165 cm, 53 Kg) agak kurang balance bila harus mengendarai Tiger. Kata seorang kawan, “Jon, elo kayak Capung naik gajah kalo naik Tiger.” Tiger pun harus dicoret dari daftar.


Pilihan ketiga dan keempat langsung saya coret dari daftar. Saya kurang suka dengan desain dan spesifikasi kedua motor itu.


Pilihan kelima. Suzuki Satria sebenarnya masih mengambil konstruksi motor bebek. Namun Suzuki Satria adalah bebek yang revolusioner dan mengusung teknologi yang cukup canggih. Sehingga saya masukan dalam daftar pertimbangan. Hal-hal yang membuat saya kembali mencoret Satria adalah, pertama, dari informasi yang saya peroleh, Satria sangat boros bahan bakar. Kedua saya menginginkan motor yang benar-benar full sport dan nyaman dikendarai untuk jarak jauh. Dari yang saya lihat posisi menyemplak Satria terlihat agak kurang nyaman. Meski dulu saya sempat sangat memimpikan untuk memiliki motor ini, pada akhirnya Satria pun harus saya coret dari daftar.


Pilihan keenam, Kawasaki Ninja 250R. Jika saja motor ini bisa ditebus dengan harga di bawah 30 juta, saya mungkin akan mencoba berpikir untuk menebusnya. Namun tentu saja hal tersebut tidak benar. Kisaran harga di pasaran adalah 45 juta rupiah plus plus (please CMIIW). Sangat mahal, namun Kawasaki Ninja 250R memang bukan motor sembarangan. Setiap lewat dijalanan pasti akan ada banyak mata yang memimpikan. Meski untuk menebus benda ini akan menguras biaya perawatan yang sama mahalnya dengan harga yang harus ditebus. Anggaran memaksa saya harus mencoret motor ini dari daftar. Meski, saya tetap berharap suatu waktu, satu atau dua tahun lagi mungkin saya biasa memiliki motor gede semacam Ninja 250R ini.


Pilihan ketujuh, Bajaj Pulsar. Meski Bajaj adalah pendatang baru di ranah permotoran Indonesia, nampaknya sudah cukup banyak orang yang jatuh cinta. Pulsar memiliki teknologi yang sangat bagus. Desain Pulsar pun tidak terlalu jelek-jelek amat. Namun mindset saya yang hanya merasa nyaman untuk membeli produk yang dikeluarkan vendor yang terjamin, membuat saya urung lagi untuk memilih Pulsar.


Pilihan kedelapan, Yamaha Scorpio. Tanpa banyak saya bahas, motor ini juga saya coret dari daftar. Sama seperti Megapro dan Thunder, saya kurang suka dengan tampang motor ini. Apalagi kapasitas mesin Scorpio yang 225cc terlalu besar.

v-ixion1
Pilihan terakhir, Yamaha V-Ixion. Yamaha V-Ixion di tahun 2007. Barangkali, V-Ixion adalah motor tercanggih yang diproduksi masal oleh atpm motor di Indonesia. Sejak masa tersebut saya pun sudah sangat jatuh cinta dengan motor ini. Sampai-sampai, saya masukan keinginan untuk memiliki V-Ixion dalam daftar “wish list” saya. Desain V-Ixion terlihat sangat keren. Ini menjadi alasan utama untuk memilih V-Ixion. Teknologi sangat canggih (meski saya tidak memahami detail dari kecanggihan-kecanggihan tersebut). Dan yang terpenting, value for money, harga yang sesuai dengan nilai yang dimiliki. Saya tidak mengatakan V-Ixion berharga murah. Namun dengan uang yang saya bayarkan saya mendapatkan nilai yang sesuai. Tahun 2008, V-Ixion pun menjadi motor terbaik dalam Indonesia Motorcycle Show 2008. Tentunya meski tidak menjadi jaminan mutlak, banyak orang sudah menilai bahwa V-Ixion memang produk yang baik.

Demikian komparasi singkat dari daftar di atas. Tentu saja pendapat ini sifatnya sangat subjektif. Pilihan terakhir haruslah ditentukan oleh preferensi dari masing-masing individu. Tidak mungkin ada produk yang 100% sempurna. Masing-masing pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Sekali lagi, semoga bermanfaat.

PS: Gambar diambil dari berbagai sumber.

Analisa Kesuksesan Honda Revo

Posting Honda Revo di blog ini ternyata menjadi salah satu posting paling ramai yang pernah saya buat. Bila dirunut ulang, tulisan tersebut dibuat lebih dari satu tahun yang lalu. Pada waktu itu saya pun masih mengingat jelas, masih sangat sedikit sekali Honda Revo yang berkeliaran di jalananan. Saya dan Honda Revo saya menjadi yang orang-orang pertama berkeliaran di Jakarta dan sekitarnya. Sempat terpikir juga pada waktu itu jika saya akan menjadi rider motor langka yang gagal di pasaran.

Saya lupa tepatnya, tapi jika tidak salah Honda Revo pertama diluncurkan sekitar April 2007. Tujuan utama peluncuran Honda Revo adalah langkah Honda untuk mengimbangi penjualan Yamaha yang pada waktu itu sangat bagus. Sejak sekitar Maret 2007 beberapa snapshot foto dan bahasan tentang Honda Revo ramai muncul di beberapa tabloid dan forum internet. Saya pun masih teringat betul bahwa pada masa-masa pra peluncuran hingga beberapa bulan pertama setelah launching, banyak sekali nada-nada sinis yang mengarah pada Honda Revo. Miskin teknologi, gegabah, motor anak smp hingga sampai ada yang memplesetkan Honda Revo menjadi Honda Evo (Evolution, perubahan lambat). Pada masa tersebut juga banyak sekali orang yang memperkirakan Honda Revo akan menjadi produk yang gagal. Alasannya, Honda Revo hampir sama sekali tidak menawarkan teknologi baru, hanya facelift tampang, ganti baju dari generasi Honda Supra. Kapasitas mesin Honda Revo pun dianggap terlalu pas-pasan, hanya 100cc. Paling-paling pun hanya berguna untuk ibu-ibu yang hendak belanja ke pasar (kata mereka pada waktu itu).

Sekitar Mei 2007 saya pun memutuskan mengambil Honda Revo berwarna merah. Pelat nomor keluar pada bulan Juni 2007. Seperti telah disebut di atas, saya pun menjadi rider-rider pertama yang mengendarai Revo. Selang beberapa minggu setelah itu, ternyata prediksi kegagalan Honda Revo sama sekali meleset. Dengan promosi yang sangat jor-joran dan nama besar Honda yang masih memiliki taring, Honda Revo terjual laris manis. Honda kembali mulai mencoba menyalip penjualan Yamaha. Nampaknya usaha tersebut membuahkan hasil. Jalan-jalan pun mulai ramai dengan si bebek anak emas Honda ini.

Berikut adalah analisis ala kadarnya yang saya buat berkenaan dengan kesuksesan Honda Revo.

Pertama, Honda Revo ada di ceruk pasar yang gemuk, motor niaga. Revo adalah motor harian yang banyak dibutuhkan orang sebagai alat transportasi, berbeda dengan pasar segmented motor sport atau pasar unik motor matic.

Kedua, keminiman teknologi yang awalnya diduga akan menjadi nilai minus ternyata justru menjadi nilai positif bagi-bagi orang-orang untuk memiliki Revo. Dengan menggunakan mesin lama, Revo akan lebih memiliki dukungan suku cadang yang lebih baik dengan biaya yang tidak terlalu mahal. Motor kelas premium mungkin membutuhkan revolusi teknologi terus menerus, namun teknologi standar sudah cukup untuk motor harian seperti Revo.

Ketiga, mengenai kapasitas mesin. Pada awal peluncuran Honda Revo banyak sekali orang menyayangkan kurusnya kapasitas mesin Revo. Namun kemudian, sekali lagi pilihan kapasitas mesin tersebut justru menjadi nilai positif lain bagi kesuksesan Honda Revo. Yang paling nyata adalah konsumsi bahan bakar yang cukup irit.

Keempat, masalah kecepatan dan akselerasi. Beberapa orang pecinta kecepatan yang membutuhkan tunggangan ekstra cepat dan responsif. Namun melihat realitas keseharian Jabotabek (tempat tinggal saya sehari-hari) kecepatan adalah hal yang sulit dicapai. Honda Revo pun tidak dirancang untuk berkencang-kencang ria. Honda Revo disiapkan sebagai kendaraan harian yang irit namun bergaya dan dikendarai dengan kecepatan yang wajar. Sebagai pengalaman pribadi, top sped 80 Km/jam yang dimiliki Revo saya sudah cukup bagi saya.

Kelima, salah satu faktor paling utama dari kesuksesan Revo adalah tampilannya yang sangat revolusioner. Desain Revo adalah desain terbaik motor bebek yang pernah Honda (dan mungkin merek-merek lain juga) keluarkan. Desain yang serba tajam, futuristik, pilihan velg racing, mesin cat hitam, knalpot yang cukup cantik, suara mesin khas agak ngebas, pilihan warna yang beragam.

Keenam, promosi. Ingin barang dagangan anda laris? Promosikanlah dengan gencar. Masih ingat kan, iklan-iklan pertama Honda Revo yang banyak menggunakan artis sinetron sebagai bintang iklannya.

Ketujuh, nama besar Honda. Semakin tinggi anda berada, angin akan semakin kuat menggoyang. Harus diakui, meski banyak orang yang sinis, nama besar Honda masih cukup berpengaruh di Indonesia. Seperti orang-orang tua dulu yang enggan membeli motor kalau bukan Honda. Ya motor, ya Honda ujar mereka.

Barang kali itulah analisa dangkal saya. Segala komentar akan sangat dihargai (tapi yang santun ya).