Menuju Beasiswa Kominfo 2011 – Part 3: Wawancara dan Psikotest (dan Curhat)

Disclaimer: Curhat ini sangat panjang sekali dan sepertinya agak membosankan. :p

Yang belum baca part 1 bisa dilihat di sini.

Yang belum baca part 1 bisa dilihat di sini.

Pengumuman pelamar beasiswa depkominfo yg diundang wawancara sudah dirilis sejak 30 April 2011. Jika tidak salah pengumuman tersebut dirilis 2 minggu setelah penyerahan aplikasi. Pada daftar tersebut, tragisnya (lebay sekali) tak ada nama saya dari 71 nama di sana. Saya sempat menskim daftar tersebut bolak-balik berkali-kali. Berharap barangkali mata saya lagi butek sehingga tak nampak nama saya di daftar tersebut. Namun dari berkali-kali slimming tak ada satu pun calon pewawancara dengan nama depan beralphabet J. Sempat dengan bodohnya berpikir barangkali panitia salah mengetik nama saya. Typos nama Jon menjadi Zon, atau Jon menjadi Djon atau Jon menjadi .. etc etc. Namun setelah berulangkali memeriksa sepertinya mata saya tidak siwer. Tapi otak saya yang siwer. :p Nama saya memang tidak ada.

Setelah pengumuman tersebut saya masih merasa penasaran. Pada tahun 2010 depkominfo melaksanakan wawancara sebanyak 2 gelombang. Saya pun kemudian mencoba berhusnudzon terhadap hal-hal ini. Siapa tahu ada wawancara gelombang 2 dan nama saya bisa nyempil di situ. Langsunglah saya menelepon sekretariat beasiswa di depkominfo dan menanyakan masalah kemungkinan wawancara gelombang kedua. Namun sayang seribu sayang (halah), pihak depkominfo tidak memberi jawaban tegas. Mereka hanya menyatakan ada kemungkinan penyelenggaraan wawancara gelombang 2 namun itu tidak pasti. Agak sedikit kecewa di hati sebenarnya. Namun ya sudahlah. Jika rejeki pasti tak akan kemana.

Waktu pun akhirnya berjalan. Satu minggu, dua minggu, tiga minggu, hingga akhirnya saya lupa menghitung waktu dan agak lupa perurusan beasiswa depkominfo. Dalam masa tersebut saya sempat melamar beasiswa Monbukagakusho juga. Karena kebetulan berkas-berkas yang dibutuhkan sudah diurus saat melamar beasiswa depkominfo. Proses seleksi beasiswa Jepang ini lebih transparan dalam menentukan jadwal sejak jauh hari. Jadi sejak awal kita sudah dapat memperkirakan kapan partisipan yang lulus tahapan-tahapan tertentu diumumkan. Jadi ketika sadar saya tak diundang tes tertulis Monbukagakusho saya sempat merasa down juga. Merasa kecewa pada diri sendiri, down, hilang semangat, pengen loncat ke sumur. Padahal jika dipikir untuk apa juga harus terlalu kecewa seperti itu. Ikhtiar kan tanpa batas. Doa malahan benar-benar tak terbatas. Jadi dibawa positif saja. Baru beberapa saat berpikir positif, iseng saya memeriksa gmail. Hari itu Jumat 10 Juni 2011. Maksud hati awalnya ingin memeriksa email dari seorang headhunter yang tengah menawari peluang pekerjaan. Namun ada sebuah email mencolok dengan subjek “Undangan Seleksi Wawancara Gelombang II Program Beasiswa S2 LN Kominfo”. Apaan nih celetuk saya dalam hati. Langsung saya klik email untuk melihat isinya. Sejenak saya berdiam. Apakah otak saya siwer kembali? Sepertinya tidak. Atau mata saya yang siwer. Nampaknya sih tidak. Langsung saya tarik seorang kawan dan menunjukan email itu. Setelah melihat email sang kawan langsung sumringah dan mengucapkan “wah selamat gan!” ujarnya dengan bahasa kaskus abis. Saya diundang wawancara Kamis 16 Juni 2011 pukul 10.00 pagi. Setelah itu saya langsung menelepon mamah untuk minta didoakan agar bisa mengikuti prosesi seleksi ini dengan lancar hingga tuntas.

Hari menjelang wawancara saya habiskan dengan browsing-browsing ke website-website universitas. Tujuan utama wawancara beasiswa adalah untuk melihat motivasi belajar dari calon penerima beasiswa tersebut. Jangan sampai beasiswa diberikan orang yang tak tepat yang bisa berujung kesia-siaan. Saya benar-benar meresearch informasi universitas dengan detail untuk memenuhi tujuan tersebut. Saya harus tahu dengan detail semua rencana belajar saya secara umum. Saya juga harus tahu motivasi saya apa. Saya juga harus tahu diri saya siapa. Oleh karena itu beberapa hari menjelang wawancara sesekali waktu saya sering mengoceh-ngoceh sendiri ke recorder di hp mensimulasikan prosesi wawancara. Saya bertanya dan saya menjawab. Saya bukan pembicara yang baik. Bahasa Inggris saja juga buruk, jika bukan dibilang ga becus berEnglish ria. Jujur, wawancara ini adalah momok yang agak menakutkan. Namun saya tak punya pilihan. Saya harus berani dan saya harus bisa.

Rabu 15 Juni 2011. H-1 wawancara. Saya kabur dari kantor cepat jam 5 tenk tenk. Maksud hati agar bisa menenangkan diri di kosan dan melakukan persiapan optimal. Sejak awal saya sudah mempersiapkan salah satu elemen penting untuk wawancara. DRESS CODE! Bagi yang tak pernah ketemu saya, saya adalah orang casual. Paling malas berformal-formal ria dalam berbusana. Saya ngantor dengan celana jeans, kemeja biasa dan bersepatu kets. Bahkan jika Jumat saya hanya berpolo shirt atau bahkan kaos oblong dan bersendal crocs abal-abal KW 12. Untuk kasus wawancara ini akan menjadi pengecualian. Saya kudu rapih pih pih dan dipaksa ganteng teng teng. Weekend sebelum wawancara, saya potong rambut saya yang cepat gondrong (coba jika duit saya cepat gondrong juga) dan membongkar lemari baju mencari celana bahan dan kemeja formal yang pantas dipakai. Oh ya tak lupa ikat pinggang kulit buaya. Nah di Rabu malam ini saya baru sadar ikat pinggang kulit kebanggaan saya (halah) kulitnya sudah pada ngeletek setelah berpuluh tahun sekian waktu tak dipakai. What The Fun! Niat hati ingin leyeh-leyeh di malam itu akhirnya saya keluar lagi dari kosan. Tujuannya: mall. Saya jalan cepat ke jalan raya dan menyetop Silver Bird Kopaja. Tak sampai 5 menit merayapi kemacetan saya turun di Plaza Semanggi. Tadinya mau mencari belt kulit di Centro, meski saya sadar nyari di depstore itu harganya bisa aduhai. Persis ketika masuk mall ternyata ada sebuah store padang yang memajang ikat pinggang kulit. Langsung saya cari yang moder rel. Saya ga suka model yang dibolong-bolong. Harganya cukup terjangkau 50 ribu sajah. Dasar otak shopping setelah membayar belt saya tertarik melihat deretan dompet panjang kulit meski pasti KW jg. Butuh dompet panjang karena makin hari kartu plastik saya makin banyak.

Setelah selesai urusan di toko itu tiba-tiba jadi malas pulang. Pergilah saya ke gramedia. Bukan lihat buku. Tapi lihat majalah. Setelah puas lihat majalah kemudian mampir ke Giant. Membeli hal-hal yang tak penting. Sikat gigi, odol, mouth wash. Pada akhirnya saya baru sampai lagi ke kos jam 10 malam. Dasar dodol memang.

Kamis 16 Juni 2011. Entah kebetulan apa, Kamis dini hari terjadi gerhana bulan. Meski saya sendiri tak bisa melihatnya karena Jakarta tertutup awan. Saya bangun tepat saat adzan Shubuh. Saya langsung turun menyetrika dress code of the day. Sekitar jam 7 langsung mandi. Kira-kira jam 8 saya pun berangkat dari kos. Berhubung malas repot saya memutuskan tidak naik motor ke Kominfo. Saya naik Busway sajah. Ngeri juga naik angkutan umum Jakarta. Maklum hari-hari biasanya ngeluyur ke sana-sini naik si Merah. Dompet, hape langsung saya jejalkan ke bagian tas terdalam. Tak sampai 20 menit naik busway dari halte karet saya sampai di halte monas. Di daerah monas inilah kantor kominfo berada.

Langsung nyebarang dari halte busway kemudian naik ke lantai 2 tempat wawancara berada. Saya sampai sekitar jam 9.30 tempat wawancara sudah cukup ramai. Langsung saja menyalami dan berkenalan dengan beberapa teman-teman tersebut. Dari banyak orang di sana saya sudah mengenali beberapa yang dikenalkan teman saya lewat Facebook oleh Defindal kenalan saya. Ada Andresta, Anda, Rindu. Jadi saya langsung mengobrol dengan mereka. Ternyata dari kebanyakan teman-teman di sana banyak juga yang belum mendapat letter of acceptance (LOA) dari universitas. Namun, dari sekian banyak yg belum dapat LoA sepertinya cuma saya yg bahkan TOEFL dan IELTS. Haduh dasar dodolnya diri ini. :”(

Di tengah-tengah mengobrol panitia tengah melakukan daftar ulang. Jadi kita harus menyerahkan surat keterangan penghasilan dan membawa berkas-berkas asli dari fotokopi-fotokopi yang kita serahkan pada berkas lamaran beasiswa. Surat keterangan penghasilan diperlukan barangkali untuk memastikan jika kandidat penerima beasiswa adalah orang yang terlalu tajir melintir harusnya dipertimbangkan kelulusannya. Berkas-berkas asli diperlukan hanya untuk memastikan semua fotokopi yang kita masukan tanpa manipulasi. Ijasah, transkrip dan paspor.

Setelah menunggu beberapa waktu sambil membaur dengan teman-teman lain akhirnya satu persatu peserta dipanggil ke ruangan untuk wawancara. Ternyata interviewnya dilakukan secara bulk. Ada beberapa interviewer yang menunggu di sekitar 5 meja. Di masing meja dikawal oleh 2 pewawancara. Setiap kandidat akan mengantri didistrubusikan ke meja-meja wawancara tersebut. Para pelamar beasiswa dipanggi ke ruang wawancara secara alphabetis. Saya masuk sekitar pukul 10.00 dan kebagian meja dengan pewawancara Ibu Gati dan Bapak Adi. Seperti perkenalan saya dengan kebanyakan orang, pasti hal pertama yang dibahas adalah nama. Setelah komentar pendek mengenai mengapa nama saya aneh, pertanyaan-pertanyaan yang keluar adalah pertanyaan-pertanyaan yang alhamdulillah sudah saya siap antisiapasi. Misalnya tell me about yourself, tell me about your job, why crossing from electrical engineering to computer science, what is strength and weakness, why choose Netherlands, do you would like to relocate to Korea if can get the scholarship dan pertanyaan pamungkas, tell me why kominfo should give the scholarship to you?

Setelah wawancara sekitar 15-20 menit, alhamdulillah sepertinya saya lewati dengan cukup baik tanpa terlalu banyak kelihatan grego. Padahal sebenarnya grogi juga. Ternyata untuk tahun 2011 ini selain wawancara ada tahapan seleksi psikotest. Waduh tak siap lagi aja diriku. Psikotest dilakukan setelah jam makan siang. Jadi saya dan beberapa teman-teman nebeng mobil teman untuk mencari menu makan yang cukup cihui. Menu siang itu adalah bebek goreng. Haha. Sekitar jam 1 siang kami kembali ke kantor kominfo. Sholat Zuhur dan langsung masuk kembali ke ruangan untuk memulai psikotest. Secara kebetulan saya duduk di samping Indri seorang teman yang juga dikenalkan Def lewat facebook. Ternyata orangnya ngocol sekali. Jadi sepanjang jeda setaiap test psikotest saya justru kebanyakan cekakak cekikik dengan dia. Psikotetsnya sendiri seperti psikotest pada umumnya. Ada test semacam pauli (lupa namanya) yang menambah-nambahkan angka pada kertas sebesar lapangan bola koran, kemudian test memilih-milih statement yang paling sesuai dengan kita PAPI test jika tak salah, ada test serupa itu lagi kemudian, lalu test gambar yang sudah diberi stimulasi awal, jika ga salah lagi namanya test WARTEGG (pelase jangan membayangkan warung nasi, ga ada kaitannya) dan terakhir test gambar.

Setelah sekitar 3 jam akhirnya psikotest selesai. Kami pun langsung bubar ke habitat masing-masing. Namun nyempetin sholat Ashar dulu. Balik ke arah kantor naik busway lagi. Kebetulan bareng Nita yang kerja di Nissan. Di bus jadi ngobrolin Nissan Juke, SUV terbaru dari Nissan yang kontan membuat saya ngeces mupeng pengen punya. Saya turun di halte karet benhil karena lebih dekat ke parkiran motor. Karena sudah sore saya putuskan untuk tidak balik ke kantor. Meski awalnya berniat cuti setengah hari nampaknya cutinya jadi full 1 hari. Langsung ke parkiran kantor, ambil si merah terus meluncur ke kosan ngambil beberapa barang. Klo tak salah setelah sholat maghrib saya pulang ke Jonggol. Terkadang meski weekday belum habis saya suka pulang ke Jonggol pada kamis malam. Dan demikianlah cerita panjang lebar tak karuan ini. Sekarang tinggal menunggu hasil sembari mau siap-siap IELTS. Lumayan mahal juga 185USD, wedan. Ikhtiar sudah, doa masih terus, tinggal kita pasrah dengan hasil terbaik dari yang di atas. Delft here I come. Semoga ada part 4 dari post ini.🙂

4 thoughts on “Menuju Beasiswa Kominfo 2011 – Part 3: Wawancara dan Psikotest (dan Curhat)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s