Pimnas, PKM 2008, Sistem Pembangkit Listrik Rumah Sederhana Menggunakan Fuel Cell

Saya sudah menceritakan tentang pengumuman penerima hibah PKM 2008 sebelumnya. Cukup menarik juga, beberapa hari ini hits blog saya melonjak karena posting itu. Nampaknya banyak sekali orang-orang di luar sana menatikan kabar mengenai salah satu mata acara Pimnas ini.

Saya sedang ingin sedikit berbagi cerita. Judul posting di atas adalah judul proposal PKMP saya yang lolos. Seperti biasa, hal yang tidak terlalu diekspektasi justru malah sering tercapai. Tapi banyak hal yang sangat diharap-harap malah sulit tercapai. Saya bahkan lupa pernah mengirim ketika minggu 24 Februari kemarin rekan saya menyampaikan informasi jika proposal PKM saya lolos.

Nah cerita yang ingin saya bagi adalah, nampaknya saya merancang proposal yang terlalu fantastis. Dalam artian agak susah direalisasikan karena sistem dalam proposal tersebut kompleks, mahal dan bahan bakunya sulit ditemukan. Kompleks, saya mendesain sistem yang agak rumit. Bloknya sangat banyak. Mahal, semua item yang dibutuhkan kemungkinan berharga mahal. Saya khawatir dana hibah sebesar maksimal 6 juta yang belum pasti kapan turunnya tidak akan cukup. Dan yang lebih rumit lagi, selain mahal, sebagian besar item yang saya perlukan untuk proyek itu agak sulit dicari. Mungkin dengan sedikit usaha saya bisa online shopping di internet. Tapi saya khawatir lagi karena tidak berpengalaman dalam aktivitas tersebut dan takut kerepotan masalah pajak bea masuk dan pengiriman barang.

Jadi bingung nih. Tapi nggak menyerah loh. Tetap semangat. Apa pun jadinya nggak akan berhenti merencang. Oh ya lagi mencari 2 orang tambahan untuk anggota tim. Syaratnya: mahasiwa UNJ. Siap belajar dan kerja keras. Terbiasa team work. Syukur-syukur ngerti fuel cell dan Kimia.

Migrasi Ke Ubuntu

Beberapa hari ini saya sedang berpikir intensif untuk melakukan migrasi sistem operasi total dari Microsoft Windows XP ke GNU/Linux. Sebenarnya sejak 1 tahun terakhir saya sudah melakukan migrasi secara parsial. Di komputer desktop rumah dan laptop saya  masing -masing terinstal  sistem operasi Windows dan Linux secara dual boot. Hanya saja sebulan terakhir  instalasi XP saya terkena viris yang menyebalkan. Ini mungkin peringatan dari Allah karena saya terlalu banyak ngomong “gue nggak install anti virus, komputer gue nggak pernah kena virus…”  Jadilah hancur instalasi  XP saya.  Semua file berekstensi .exe sudah dipastikan hancur. Yang membuat kesal lagi, file html juga ikut diusik.  Beruntung koleh ebook pdf dan chm masih selamat.

Setelah berjuang menghabiskan waktu hampir 1 minggu, Windows XP di desktop dan laptop saya sudah diinstall ulang. Tapi masih agak paranoid juga. Was-was terus takut viris-virus nakal itu masih bersembunyi di direktori-direktori terdalam partisi Windows. Tau sendiri kan, menscan menggunakan antivirus jarang menyelesaikan masalah. Pada banyak kondisi instalasi ulang adalah solusi terbaik meski sangat membuang waktu.

Jad mengapa tidak migrasi full ke Linux? Di desktop sudah saya install Linux Kate OS, distro asal Polandia turunan Slackware. Awalnya ingin saya install Ubuntu seperti laptop, tapi nampaknya hardware desktop tidak akan kuat. Ramnya cuma 256 MB. Software-software ubuntu di laptop sudah sangat memadai untuk pekerjaan sehari-hari. Bahkan sebagian besar aktivitas berkomputer saya saat ini  dihabiskan di Ubuntu. Tapi ada beberapa elemen di Windows yang tidak dapat saya tinggalkan. Pertama adalah masalah printer. Canon IP 1600 saya belum berhasil dikonfigurasi untuk bekerja dengan Linux. Kedua TV tuner di desktop juga tidak menyediakan driver untuk Linux. Ketiga, saya masih belum bisa menggantikan posisi Microsoft Word dengan Open Office Org Writer. Open Office nampaknya masih memerlukan banyak pengembangan mendalam. Keempat, meskipun saya bukan tipikal computer gamer, banyak orang bilang Windows adalah gunang game yang masih lama untuk bisa tersaingi Linux. Jadi?  saya masih perlu waktu untuk melakukan migrasi penuh ke Linux. Tapi untuk sebuah sistem operasi yang gratis Linux adalah segalanya.

Pengumuman PKM 2008

PKM 2008 akhirnya diumumkan juga. Jadi 1 langkah lagi menuju perhelatan Pimnas sekitar Juni nanti di UNISSULA. Ternyata ada 14 proposal PKM UNJ yang lolos. Satu dari 14 proposal tersebut adalah proposal saya. Tapi, dilanjutin nggak yah? Soalnya, saya sudah hampir lulus kuliah. Kalau tidak salah di peraturan PKM hanya mengijinkan mahasiswa aktif sebagai pesertanya.

Oh ya, untuk yang ingin lihat pengumumannya bisa download di Pengumuman PKM. Setelah di download rubah ekstensinya menjadi .xls lalu buka menggunakan Microsoft Excel atau Open Office Calc.

Skripsi Naik Cetak dan Masalah Hoki

Akhirnya skripsiku sudah siap naik cetak. Penguji terakhir yang memeriksa hasil perbaikan penulisan skripsi pasca sidang sudah memberikan sinyal oke untuk finalisasi penulisan. Nanti pagi aku akan mencetak perbaikan terakhir lalu langsung berangkat ke kampus untuk mencari tempat fotokopi dan penjilidan termurah dengan hasil terbaik dan waktu pengerjaan tercepat. Ekonomis banget yah.

Skripsiku tebalnya kira-kira 150 halaman. Persyaratan kelulusan menuntut untuk membuat kopi penulisan skripsi 7 eksemplar, termasuk untuk koleksi pribadi saya. Harga penjilidan hard cover sekitar 15 ribu rupiah perbuah. Fotokopi ukuran kertas kuarto 80 gram 100 rupiah perlembar. Mari kita bermain kalkulasi sedikit: 150 halaman x 100 rupiah x 7 = 105000. 15.000 rupiah x 7 = 105.000. Totalnya 105.000 + 105.000 = 210.000. Apa?! Saya harus mengeluarkan uang sebanyak itu? Tidak! Saya gak punya duit nih. Aduh paling besok cari pinjaman dulu. Inilah salah satu sisi yang menggambarkan mahalnya pendidikan.

Paling tidak semuanya sudah hampir rampung. Jumat besok adalah hari pengumuman yudisium untuk mahasiswa yang sudah tuntas melaksanakan ujian skripsi. Semoga bisa dapat skor bagus. Oh ya tadi hasil tes TOEFL ku sudah keluar loh. Tidak terlalu besar, namun bagiku skor TOEFL itu nampak terlalu kebesaran. Padahal seingatku saat tes Rabu lalu agak pusing juga mendengar conversation dan naration yang seperti orang kumur-kumur, nggak nyambung dengan kupingku yang kampung. Ini juga barangkali yang menjadi faktor menarik dari kesuksesan seperti yang dikatakan Dekan Fakultasku saat kami sempat ngobrol bareng sejenak kemarin. Sukses itu mungkin dihasilakn karena skill yang baik, tapi hoki juga memegang faktor yang penting. Begitu katanya kira-kira. Nah loh? Hoki? Nasib? Yup. Karena itu doa berperan penting juga dalam kehidupan. Siapa tahu dengan rajin berdoa, Allah akan berbelas kasih untuk memberikan hoki dan nasib yang baik. Tapi, ikhtiar tetap nomor satu loh.

LCEN Proposal Submition and Never Give Up Philosophy

Dear day, really tiring day. Hari yang melelahkan. Tapi lumayan juga, saya belajar banyak hal hari ini.

 

Akhirnya, jam 9 malam tadi saya berhasil mengirimkan proposal Lomba Cipta Elektroteknik Nasional (LCEN) 2008 melalui Tiki di jalan Pemuda Jakarta Timur. Padahal tadi pagi sudah agak putus asa juga dan cenderung untuk membatalkan partisipasi. Beruntung my pall memberikan dorongan yang cukup membuat saya bersemangat lagi unutm menuntaskan dan mengirim proposal tadi. Dorongannya kurang lebih: “Never say to give up?”

 

LCEN adalah kontes tahunan realisasi karya di bidang elektronika yang diselenggarakan Kampus ITS di Surabaya. Tentu saja ajang tersebut adalah kesempatan untuk bersaing menunjukan prestasi dan mengharumkan nama kampus. Sejak pembukaan lomba sekitar Oktober lalu saya sudah bersemangat untuk ikut berpartisipasi. Namun karena fokus di skripsi dulu, saya baru bisa meluangkan waktu beberapa hari terakhir. Hari tadi mungkin adalah salah satu dari kegilaan dari hari-hari saya yang selalu dipenuhi kegilaan. Konsep dasar proposal sudah saya buat sejak 1 bulan lalu. Namun, saya baru mulai efektif mengetik dari tadi jam 1 siang hingga selesai dikirimkan semua berkas-berkas jam 9 malam tadi. Maka dari itu, jika salah satu dari 2 proposal lomba yang saya susun dengan rekan saya dansudah dikirimkan tadi bisa lolos sebagai finalis,…. maka…. nampaknya ….seseorang harus kawin dengan monyet.

 

Nggak deh bercanda. Hikmah paling berharga dari hari yang sangat melelahkan tadi adalah jangan pernah bosan memasang target. Realisasikanlah target dan jangan biasakan menunda pengerjaan target hingga tenggang yang terlampau mepet. Terkadang memang, mengerjakan pekerjaan dengan tenggat yang ketat sering menjadi kebiasaaan banyak orang. Tugas kuliah, PR sekolah atau pekerjaan kantor. Orang lebih senang menunda hingga mepet deadline dan tugas-tugas lain mulai menumpuk. Saat tenggat sudah sangat dekat barulah mereka panik dan mengerjakan semua secara terburu-buru dan agak serampangan. Beberapa dari mereka cukup puas dengan pekerjaan terburu-buru tadi dan terus menjadikan mengulur waktu menjadi kebiasaan. Padahal, bila sesuatu dikerjakan jauh-jauh hari sebelum batas waktunya, akan ada banyak kesempatan untuk melakukan perbaikan, ada banyak kesempatan untuk mendeteksi kesalahan ada banyak kesempatan untuk menghasilkan tugas atau pekerjaan dengan kualitas yang jauh lebih baik dibandingkan mengerjakan sesuatu terburu-buru karena tenggat yang sangat ketat. Satu rule of thumb yang akan saya coba untuk mulai saya terapkan adalah perpendek target pengerjaan sesuatu hingga setengahnya. Maksudnya? Misal batas waktu pendaftaran wisuda adalah 6 bulan dari sekarang. Jangan gunakan 6 bulan sebagai target penyelesaian. tapi gunakanlah 3 bulan sebagai tenggat yang harus dipenuhi. Yakinilah seakana-akan tenggat penyelesaian yang harus dicapai adalah 3 bulan dan bulan 6 bulan. Bekerjalah sekeras mungkin untuk mencapai tenggat setengah itu, lupakan bahwa deadline sesungguhnya adalah 6 bulan. Maka, saat 3 bulan pun tiba jika kita cukup disiplin maka target pun akan benar-benar tercapai. Artinya ada 3 bulan lagi untuk melakukan perbaikan maksimal dan ada 3 bulan lagi untuk dapat dimanfaatkan mengerjakan tugas-tugas lainnya. Penghematan waktu dan akselerasi kinerja. Contoh yang sama dapat diterapakan dalam lingkup semisal pengerjaan tugas kuliah, PR, proposal lomba dan sebagainya. Ada PR minggu depan, pasang target, PR harus selesai maksimal 3 hari kedepan. Dan seterusnya. Dan harus diketahui mengerjakan sesuatu mepet tenggat, apalagi tenggatnya hanya selisih satu hari seperti saya tadi, capeknya bukan main dan hasilnya amat sangat jauh dari maksimal.

 

Satu-satunya alasan saya untuk tetap memaksakan mengirim proposal meski tahu hasilnya tidak maksimal karena pengerjaan yang terburu-buru tadi adalah sebagai bahan pembelajaran. Saya harus belajar memanfaatkan waktu dengan maksimal, tidak terlena dalam kelenggangan. Namun memanfaatkan setiap detik, setiap tarikan nafas, setiap detak jantung untuk kemanfaatan. Saya juga harus belajar untuk never say to give up tadi. Jika proposal bisa selesai dalam 6 jam. Artinya bila saya mengerjakan sejak jauh-jauh hari, pasti kualitasnya akan amat sangat maksimal. Jangan menyerah meski terkadang kita khilaf dan deadline sudah ada di pelupuk mata, kerjakan dengan maksimal seperti apa pun jadinya.

RFID versus Fingerprint

Hai kawan ada yang tahu nggak kelebihan RFID dibandingkan fingerprint sensor? Saya nggak tahu nih. Atau tepatnya tidak tahu cara paling tepat untuk menjelaskan pada dosen penguji skripsi saya keunggulan RFID dibandingkan fingerprint sensor. Yak inilah dunia, selesai satu tahap ujian, ujian berikutnya menghadang. Kalau ada yang tahu share dong. Besok saya harus progres lagi ke dosen penguji.

Bacpacking Plan

Hal yang pertama ingin gue lakukan setelah wisuda adalah travelling dari sabang sampai denpasar!

Melepaskan beban, melihat dunia dan mencari inspirasi. Sejak dulu ingin banget jalan-jalan ke banyak tempat. Bukankah bertualang pun menjadi salah satu kegiatan yang dianjurkan orang-orang alim? Dengan bertualang dan berkelana kita bisa melihat keadaan dunia, kondisi orang-orang dan yang terpenting dari itu semua, kita bisa melihat kebesaran Allah swt.

Misinya seperti yang tertulis di baris pertama di atas. Backpacking dari Sabang sampai Denpasar. Mimpi terbesarnya sih keliling dunia. Tapi untuk kali ini yang tadi dulu dilakoni. Setelah misi pertama ini, pengen mengarungi Kalimantan, Sulawesi, Ternate dan Maluku, Papua dan Nusa Tenggara. Nanti di lain waktu pengen juga ke Bangka Belitung dan Nias juga serta kepulauan Mentawai yang atanya eksotis. Setelah keliling Indonesia, pengen coba keliling Eropa. Di sana backpacking sudah menjadi budaya. Jutaan tempat hebat siap untuk dikunjungi. Dari Eropa kemudian merambah ke Afrika. Setelah Afrika akan kucoba mengarungi Amerika dari Alaska hingga Argentina. Dari Amerika langsung ke Australia dari Tasmania di selatan hingga Darwin di Utara. Baru dari sana kembali ke Asia mulai dari RRC, Korea, Timur Tengah, India di Asia Selatan, Asia Tenggara dan yang terpenting ke kepulauan Jepang.

Bukan misi yang sebentar. Tapi bukankah banyak hal bermula dari mimpi?

Yang paling nyata dulu seperti yang terucap di atas. Setelah aku lulus bulan Maret 2008 ini (harus tercapai dan Insya Allah tercapai) pengen banget mengarungi Jawa dan Sumatera dulu. Dari Sabang sampai Denpasar. Tujuannya ada tiga hal. Pertama, melihat kebesaran Allah swt, kedua silaturahmi dengan kawan-kawan dan ketiga mencari inspirasi untuk melanjutkan kehidupan pasca kuliah.

Melihat kebesaran Allah swt. Mungkin terdengar klise. Tapi akan terasa kebenarannya ketika di jalani. Melihat alam Indonesia yang indah. Pantai, laut, gunung dan udara. Melihat beragam orang yang meski sesama Indonesia pasti memiliki karakter uniknya masing-masing. Melihat budaya masyarakat, mengunjungi masjid raya di kota-kota mereka, melihat kampus-kampus di tempat-tempat mereka.

Kedua adalah silaturahmi dengan kawan-kawan. Salah satu momen terhebat yang pernah saya jalani adalah Pelayaran Kebangsaan 2005. Ingin sekali sedari dulu untuk bisa bertemu dengan kawan-kawan di sana di berbagai kota yang tersebar banyak. Melepas rindu dan bertukar pikiran tentang kehidupan. Jangan tentang politik, karena itu memuakkan.

Ketiga mencari inspirasi. Mengunjungi banyak tempat akan membuat orang berpikir mendalam. Berinstrospeksi. Sekedar menyegarkan pikiran. Mencari ilham dan memahami kehidupan sambil merancang hal-hal yang harus dilakukan ke depan. Selesai kuliah adalah akhir dari masa ketergantungan. Harus mulai bisa mengambil tanggung jawab membela keluarga baik secara moral dan finansial. Dari perjalan saya yakin bisa berpikir dan mencari inspirasi kehidupan. Sekedar perencanaan, ide tulisan, ide penelitian untuk pengajuan beasiswa S2, menulis novel, ide software dan yang terpenting ide untuk berwirausaha.

Targetan waktunya sekitar 30 hari. Maksimal adalah 50 hari. Kamera dan catatan perjalanan harian akan menjadi agenda penting dalam hari-hari perjalanan. Perjalanan akan dimulai dari Banda Aceh. Jika tidak memungkinkan barangkali dari Medan menggunakan Pesawat Terbang. Dari Banda Aceh langsung ke bagian utara propinsi ini. Sabang. Melihat dengan mata kepala langsung tempat terujung barat di Indonesia yang sering dinyanyikan dalam salah satu lagu wajib nasional. Setiap kota yang kukunjungi akan pertama kudatangi adalah mesjid di sana. Sholat wajib, shalat sunah memohon perlindungan pada Allah swt, memohon agar dapat menjadi insan yang bisa bersyukur, hidup diridhai oleh-Nya dan menjadi insan yang berguna bagi umat. Dari sabang mencoba sejenak ke Lhoksemawe, salah satu kota lain di Aceh yang sangat sering disebut-sebut orang. Dari Lhoksemawe kembali ke Banda Aceh, mencoba bertemu beberapa kawan dan menelusuri sisa-sisa jejak tsunami tahun 2004 sambil terus beristighfar. Tentunya Masjid Raya Banda Aceh adalah tempat yang tidak boleh dilewatkan.

Dari Banda Aceh langsung meluncur ke Sumatera Utara. Danau Toba di Parapat dan Medan adalah tujuannya. Berjalan-jalan sejenak di Medan dan menikmati keindahan Danau Toba tadi.

Dari Sumatera Utara, turun ke Sumatera Barat. Padang dan Bukit Tinggi adalah tujuannya. Mengunjungi beberapa saudara dan Bapak kandungku. Melihat beberapa tempat menarik di Padang, Malin Kundang dan Jam Gadang. Mengunjungi kampus-kampus di sana pun tidak boleh ketinggalan. Andalas dan UNP. Dan yang terpenting aku ingin sekali melakukan napak tilas tempat tinggalku dulu. Tentunya juga tidak terlewatkan mengunjungi beberapa teman-teman. Kamera dan catatan perjalan tidak akan terlewatkan.

Dari Sumatera Barat, kemudian aku akan menyusuri Riau, Jambi dan Bengkulu. Di tiga tempat itu aku hanya akan mengunjungi Ibu Kota propinsinya saja.

Lalu turun ke bawah ke Sumatera Selatan. Di sini aku akan ke Palembang dan Martapura. Di palembang mungkin akan menikmati seperti apa sungai Musi dan mencicipi rasanya empek-empek asli Palembang. Dari Palembang turun lagi ke Martapura. Mungkin dengan kereta. Mengunjungi seseorang yang sejak 6 bulan lalu banyak mengusik pikiran ku.

Dari Martapura turun ke Lampung. Aku ingin melihat sebentar Sido Mulyo. Baru dari sana turun ke Bandar Lampung, berkunjung sebentar ke Unila.

Berjalan turun terus Ke Bakaheuni dan kembali ke Merak di Banten. Aku kembali ke rumah dulu sekitar 2 atau 3 hari untuk beristirahat.

Perjalanan selanjutnya adalah langsung menuju Denpasar dengan maskapai penerbangan termurah namun teraman. Aku ingin melihat seperti apa matahari terbit dan tenggelam di Pantai Bali. Mengunjungi kawan-kawan dan yang paling kuinginkan menyewa mobil lalu menyetir berkeliling Bali. Sekitar maksimal satu minggu mungkin aku akan ada di sana.

Dari Bali kembali ke Jawa Timur. Surabaya adalah tujuan utama. Ke ITS sekali lagi mengenang beberapa masa yang lalu. Dari Surabaya aku harus ke Malang. Melihat seperti apa Cisarua-nya Jawa Timur, Batu. Dari Malang kembali ke Surabaya, lalu ke Gresik dan Tuban. Dari sana berjalan ke Jawa Tengah, turun ke Yogyakarta, naik lagi ke Semarang, lalu ke Cirebon. Jika masih sempat turun lagi ke selatan Jawa Barat. Tasikmalaya, Garut dan Bandung. Barulah kembali ke rumah dengan hati yang semoga jauh lebih kaya dan pikiran yang jauh lebih segar dan inspirasi yang melimpah ruah.

Catatan:

Budget harus ditekan sehemat mungkin. Ini adalah wisata rohani bukan hura-hura. Saya harap ini semua akan cukup dengan maksimal 4 juta rupiah (exclude tiket pesawat ke Medan dan Denpasar) .

Barang bawaan:

  • Al-Quran

  • Pakaian sholat

  • Backpack yang kokoh namun nyaman di bawa

  • Ponsel GSM

  • Syukur-syukur sudah punya GPS

  • Kamera, ini sangat penting

  • Laptop

  • Sepatu Kets

  • Sandal Gunung

  • Catatan harian

  • 2 atau 3 buku bacaan (salah satunya mungkin Edensor)

  • Maksimal 5 stel pakaian

  • jaket

  • Perlengkapan mandi

  • Peta Sumatera, Jawa dan Bali

  • Simcard GPRS/3G prepaid unlimitted, untuk posting blog, memantau email serta online internet.

  • Kompas

  • Obat-obatan ringan

  • Sleeping bag (optional)

Bogor, 11 Januari 2008