Riga: Sisi Historis dan Modernitas dalam Satu Kota

Latvia adalah negara tetangga Estonia. Saat Estonia masih terlihat bernuansa klasik, Riga ibukota Latvia pun masih cukup demikian. Masih banyak bangunan tua ala Uni Soviet seperti di Estonia. Hanya saja di samping bangunan-bangunan tua, Riga adalah metropolitan di Eropa Timur. Transportasi publiknya bagus. Kota cukup bersih. Di sekitaran bangunan tua juga mulai berdiri bangunan modern. Dan yang mengejutkan ada pusat perbelanjaan yang penuh dengan toko-toko fashion merk terkenal dan juga berbagai macam restoran. Tentu mall di sana tidak semewah mall-mall di Asia namun tetap mencengangkan untuk standard Eropa Timur.

14 Februari 2014

Kami berangkat ke Riga dari Tallin Bussijam di pagi hari. Dari hasil pencarian internet kami menggunakan bus Euroline untuk perjalanan ke Riga. Tiket kami beli online seharga sekitar 20 Euro berdua. Terminal Bus Tallin sangat bagus dan bersih. Lebih mirip bandara dibandingkan terminal bus. Toilet umum juga tersedia dengan kondisi bersih. Hanya saja berbayar sekitar 50 sen atau 1 Euro, saya lupa.

Ecolines Tallinn – Riga

Kembali ke bus, saat kami datang di pagi hari, bus ke Riga belum tampak. Memang kami datang agak dini. Di platform keberangkatan nampak bus kuning lain. Tujuan St. Pietersburg tertulis. Kami hanya duduk-duduk di ruang tunggu berpenghangat kemudian menjelang jam keberangkatan pindah ke platform di luar ruangan yang lebih dingin. Beruntung tidak lama bus pun datang. Saya langsung memvalidasi tiket ke petugas. Petugas pun akan meminta kartu identitas atau paspor untuk validasi tersebut. Kemudian saya memasukan tas besar ke dalam bagasi bus. Sebelum dimasukan oleh petugas, saya diberikan nomor tag tas untuk mengambil tas sesampai tujuan, untuk memastikan barang bawaan kita tidak berpindah tangan. Cukup mengesankan. Bus yang kami naiki bernomor bangku. Kami pun sudah memilih bangku saat booking online. Kami duduk di bagian depan bus. Kelak ternyata bus pun tidak penuh sehingga kami bisa pindah ke bangku kosong mana saja.

Bus pun mulai bergerak meninggalkan terminal bus Tallinn tepat sesuai jadwal. Untuk sekitar 3 jam ke depan kami menikmati fasilitas yang cukup lengkap di dalam bus. Stop kontak listrik, wifi, wc dan dispenser untuk kopi dan teh. Dalam hal ini mungkin bus-bus Indonesia pun seharusnya tidak kalah fitur. Hanya saja saya belum pernah coba naik bus selengkap ini di Indonesia.

Memancing di Es

Sepanjang perjalanan saya disuguhi berbagai pemandangan yang menarik. Mulai dari pusat kota, bergerak ke pinggiran, hutan, sungai, danau dan sebagainya. Kondisi jalan cukup bagus. Menariknya highway lintas negara Estonia ke Latvia hanya memiliki 1 lajur ke masing-masing arah tanpa separator jalan. Jalanan pun cenderung sepi. Tak heran sebab jumlah penduduk Estonia dan Latvia tak lebih dari 4 juta jiwa. Di beberapa sungai yang membeku kami menemukan pemandangan menarik orang-orang yang memancing ikan setelah melubangi lapisan es di permukaan sungai. Persis seperti yang hanya saya lihat di film-film kartun saat kecil dulu. Selebihnya pemandangan kembali sepi.

Setelah sekitar 3 jam perjalanan bus pun tiba di terminal Riga. Diseberang Riga terlihat anggun Riga Central Market, dibatasi sungai yang membeku. Di kejauhan terlihat beberapa tram tua dan juga tram baru yang berlalu-lalang. Setelah turun bus saya langsung mengambil tas sambil menunjukan tiket. Kemudian kami pun berjalan ke arah terminal bus.

Terminal Bus Riga dan Central Market

Di dalam terminal tujuan pertama kami adalah ke kantor turis. Beruntung ada 2 petugas yang berjaga. Dua petugas tersebut meski nampak tidak terlalu ramah, namun menjawab setiap pertanyaan kami. Setelah meminta peta dan beberapa pamflet turisme, kami pergi ke mesin tiket. Di Riga yang dulu kami kira tua ternyata sudah menerapkan sistem tiket transportasi publik yang sangat modern. Untuk turis kami bisa menggunakan tiket yang bernama e-talon. Kalau tidak salah 2.5 euro untuk 24 jam, saya lupa lagi. Tapi yang pasti sangat murah. Bentuk e-talon adalah kertas namun dengan smartcard di dalamnya. Entah RFID atau NFC. Saat naik bus dan tram kita tinggal memvalidasi tiket di reader.

Tram Baru

Setelah beli tiket tujuan pertama kami adalah ke hotel untuk menaruh barang. Kami menginap di hotel A1 seharga hanya 58 Euro untuk 2 malam. Kondisi hotel tidak terlalu mengesankan. Wifi tidak berfungsi namun kami diberi kabel LAN. Kabel LAN berguna untuk laptop namun sayangnya tidak untuk smart phone. Hotel ada di lantai 3 dan tidak ada lift di dalam gedung. Setelah menaruh semua barang, kami bergegas kembali keluar. Tujuannya adalah mencari makan. Kami pun kembali ke arah pusat kota. Tujuannya mencari restoran India halal yang kami temukan di foursquare. Sayang sekali ketika tiba di tempat yang dimaksud, restoran tersebut tutup. Akhirnya setelah berjalan di sekitar tempat tersebut menemukan tempat kebab halal. Sayangnya setelah makan nampaknya Indri menjadi agak mual-mual.

Hotel A1

Setelah makan kami berjalan ke arah central station lalu terus menuju ke old town. Di old town sesuai dengan namanya ada banyak-banyak bangunan tua dan tak lupa toko-toko suvenir. Kami berkeliling-keliling tak tentu arah seperti biasa. Menjelang malam kami pun kembali ke hotel dan mampir sejenak di supermarket. Di supermarket kami menemukan manggis Indonesia. Cukup membanggakan buah tanah air sampai higga Latvia. Setelah itu kami pun beristirahat.

15 Februari 2014

Agenda utama hari ini adalah ke central market. Central market nampaknya pasar tradisional yang terbesar di Riga. Pasar ini menempati gedung bekas hangar balon zeppelin milik Jerman. Di dalam pasar ada berbagai stall yang menjual berbagai kebutuhan. Di luar gudang utama pun juga banyak pedagang-pedagang lain yang berjualan. Kami menghabiskan beberapa jam berkeliling-keliling dan melihat-lihat pasar ini.

Central Market

Central Market

Menjelang sore kami kembali berjalan menuju old town lagi. Kami ingin berfoto-foto saat masih ada matahari sebab sebelumnya kami ke sana saat sudah malam. Ada beberapa bangunan yang menarik perhatian kami. Diantaranya adalah sebuah gedung bernama cat house. Sebuah gedung yang sebenarnya biasa saja namun memilik patung kucing kecil di puncaknya. Saking spesialnya banyak sekali suvenir bertema gedung ini. Saya ingin menyarankan untuk tidak lupa membeli suvenir amber di Riga. Harganya cukup terjangkau dan kualitasnya pun cukup baik.

Old Town

Setelah puas berkeliling-keliling di kota tua kami terus berjalan kaki ke pusat kota. Kami pun menyempatkan diri berfoto di depan freedom monument. Di beberapa sudut nampak ada beberapa pengamen yang bermain musik. Namun tidak ada yang mengganggu kami. Sangat mengesankan saat hingga malam kedua kami di Riga, situasi sekitar cukup aman dan tidak ada kejadian yang tidak mengenakan. Pada akhirnya kami pun kembali ke hotel dan berakhirlah petualangan singkat di Riga.

Freedom Monument di Kejauhan

16 Februari 2014

Hari ini kami berangkat menuju tujuan kami selanjutnya Praha. Setelah check out dari hotel kami langsung menuju ke pusat kota. Riga International Airport bisa dicapai dari pusat kota dengan menggunakan bus reguler. Jika tidak salah lama perjalanannya sekitar 30 menit. Berdasarkan informasi yang kami baca sekilas, frekuensi busnya pun cukup banyak.

Gedung bandara Riga sangat modern. Bandaranya tidak terlalu besar namun didesain dengan cukup apik. Riga International Airport ini adalah rumah bagi flag carrier Latvia, Air Baltic. Perjalanan kami ke Praha pun menggunakan maskapai tersebut.

Maskapai Latvia, Air Baltic

Setelah selesai checkin kami langsung menuju ke area keberangkatan. Berhubung jadwal penerbangan yang masih beberapa jam, kami menyempatkan untuk makan dulu. Pilihan paling aman adalah Sushi lagi. Karena agak kelaparan kami menghabiskan hampir 50 euro untuk makan sushi dan sebuah salmon grill.

Tidak lama setelah makan kami pun menuju ruang tunggu keberangkatan. Ada dua buah pesawat terparkir di luar terminal. Satu buah Boeing 737 dan sebuah pesawat baling-baling yang belakangan saya tahu sebagai Bombardier Dash 8 Q400 Next Gen. Awalnya saya kira penerbangan Riga – Praha akan menggunakan Boeing jet. Namun ternyata kami menggunakan Bombardier. Tak lama setelah duduk-duduk di ruang tunggu, kami pun dipanggil ke pesawat. Setelah sekitar 3 jam terbang, petualangan pun berlanjut di Praha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s