Cara Membuka Akun Reksadana di Bank Commonwealth Indonesia

Diawali dari inisiatif istri saya, salah satu target yang ingin kami capai di tahun 2016 ini adalah belajar dan memulai investasi kecil-kecilan. Dari beberapa alternatif instrumen investasi, pilihan kami jatuhkan ke Reksadana, karena instrumen ini memiliki risiko yang moderat dan bisa dimulai dengan modal yang kecil. Karena kami pun masih belajar, bagi yang belum familiar, definisi reksadana dapat dilihat secara lengkap di wikipedia .

Setelah memilih instrumen investasi, langkah selanjutnya yang harus kami lakukan adalah memilih agen untuk membuka akun. Untuk pemilihan ini pun kami harus memutuskan apakah membuka akun di Singapura, tempat saya bekerja sekarang atau di Indonesia. Pada akhirnya kami menjatuhkan pilihan membuka akun di Indonesia karena nilai investasi awal yang sangat rendah, bisa dimulai sekecil 100 ribu rupiah.

Setelah memutuskan untuk membuka akun di Indonesia, kemudian kami harus memilih agen. Sebetulnya sebelum memutuskan membuka akun, pengetahuan saya mengenai Reksadana masih nol besar. Barulah beberapa hari menjelang membuka akun saya mulai membaca sedikit-sedikit literatur di instrument investasi ini. Dari referensi teman istri yang membuka akun di Mandiri, kami disarankan untuk membuka akun di Commonwealth, dikarenakan Commonwealth adalah satu dari sedikit agen Reksadana dengan fasilitas transaksi online. Fasilitas ini sangat penting untuk kami yang tidak berdomisili di Indonesia. Kebetulan liburan tahun baru cina lalu kami pulang ke Bogor, kami pun merencanakan untuk membuka akun pada waktu tersebut.

Bank Commonwealth terdekat dari rumah orang tua saya berlokasi di Citra Gran Cibubur. Hari Kamis lalu, saya mampir pertama kali untuk menanyakan informasi mengenai pembukaan akun. Sebelumnya istri saya pun sebenarnya sudah bertanya-tanya banyak melalui call center.

Saat datang, saya disambut oleh Relationship Manager di Bank Commonwealth. Saya diberikan penjelasan lengkap mengenai Reksadana dan cara pembukaan akun. Untuk memiliki akun Reksadana, nasabah harus mempunyai rekening tabungan. Dari penjelasan tersebut berikut adalah dokument-dokumen yang diperlukan untuk membuka rekening tabungan dan akun Reksadana di Bank Commonwealth.

  • KTP
  • NPWP (tidak diperlukan untuk pembukaan rekening namun diperlukan untuk pembukaan akun reksadana)
  • Minimum deposit pertama 500.000
  • Surat keterangan alamat jika korespondensi tidak sesuai dengan KTP. Untuk kasus saya, karena KTP beralamat di Jember, saya melampirkan cetakan statement Kartu Kredit yang masih beralamat di Bogor
  • Materai 2 buah (disediakan dengan membayar)

Oleh karena saya tidak ingat di mana kartu NPWP saya, hari itu saya tidak bisa membuka rekening dan akun. Setelah dari Bank, saya memutuskan langsung pergi ke kantor pajak untuk mencetak ulang kartu NPWP. Beruntunglah prosesnya cepat dan mudah. Salut untuk Dirjen Pajak untuk pelayanannya kini.

Keesokan harinya, saya kembali ke Bank Commonwealth bersama istri saya dengan membawa dokumen lengkap. Kami memutuskan untuk membuka dua rekening tabungan, satu untuk masing-masing kami dan membukan dua akun reksadana, satu untuk masing-masing kami juga. Hal tersebut dilakukan agar kami bisa mengatur setiap akun reksadana sesuai dengan tujuan investasi kami.

Proses pembukaan akun reksadana dimulai dari pengisian form untuk pembukaan rekening dan aktivasi i-banking. Untuk yang meminta fasilitas token, Commonwealth menarik biaya 100.000 per token. Setelah proses pembukaan rekening tabungan dan menyetor deposit awal, kami diminta mengisi kuesioner untuk mengetahui profile kami dalam berinvestasi. Pengisian kuesioner ini adalah wajib. Dari kuesioner dapat diketahui tipe setiap orang dalam berinvestasi. Dari tipe tersebut pihak agen akan menyarankan jenis reksadana apa yang sebaiknya diambil oleh nasabah. Namun demikian, hasil dari kuesioner adalah rekomendasi yang tidak mengikat. Setelah mengisi kuesioner, kami pun mengisi beberapa form. Setelah sekitar 1 jam prosesnya pun selesai. Baru sekitar sore hari, ketika saya coba login ke i-banking, saya bisa melihat daftar reksadana yang bisa dibeli.

Dari pengalaman ini saya memberikan rekomendasi positif atas kemudahan pembukaan akun reksadana di Bank Commonwealth Indonesia.

Pernikahan Jarak Jauh: Tantangan dan Hikmahnya

Tanpa terlalu mengejutkan, ternyata sudah lebih dari satu tahun sejak post terakhir saya di sini. Sesekali saya terkadang menulis di blog yang lain, namun tetap konsistensinya masih jauh dari apa yang selalu saya resolusikan dulu-dulu. Di dunia penulisan, momen ketika penulis tak ada ide untuk menulis disebut dengan writers block. Bahkan ada video game yang mengambil ide dari fenomena ini. Menulis memang membutuhkan momen. Namun sebenarnya jika tak ada momen, paksaan pun seharusnya bisa dilakukan. Memaksa untuk menulis hingga terbiasa terpaksa hingga jadi biasa. Tanpa membuat post ini terlalu tak fokus, saya ingin mengambil momen perpisahan dengan istri sebagai ide post kali ini. Kami adalah suami istri yang menjalani pernikahan jarak jauh. Bukan hal enak yang untuk dijalani, namun saya percaya bahwa dalam setiap rencana Allah, ada hikmah yang bisa kita petik. Alih-alih berderai air mata sendirian karena ditinggal istri, nampaknya menumpahkan perasaan ke tulisan akan lebih elegan.

Kembali ke curhat. Saya post ini mulai ditulis, saya baru saja pulang dari Changi Airport. Hari ini adalah jadwal berangkat istri saya Indri ke Jerman. Tak terasa dia sudah hampir 4 bulan di Singapura. Sangat cepat sekali rasanya saat kami bersama. Beda dengan saat kami berjauhan, bagi saya waktu terasa berjalan melambat.

Sejak kami menikah lebih dari 1.5 tahun lalu, kebanyakan waktu kami memang tinggal berjauhan. Beberapa tulisan lalu barangkali pernah menyinggung sejarah ini. Saya dan Indri pertama kali bertemu di wawancara beasiswa kominfo Juni 2011. Alhamdulillah Indri dapat beasiswa dan alhamdulillah saya tidak dapat beasiswa namun justru mendapat Indri. Dalam waktu yang singkat kami berdua merasa cocok dan 5 bulan setelah itu melangsungkan akad nikah November 2011. Dengan Indri mendapat beasiswa, kami pasti akan tinggal berjauhan saat Indri kuliah. Selang 3 bulan setelah kami menikah Indri berangkat ke Jerman di Bulan Maret 2012, sementara saya sudah di Singapura seminggu setelah akad nikah. Kami berjauhan sekitar 5 bulan. Rasanya itu adalah 5 bulan terlama yang pernah saya jalani. Alhamdulillah lebaran Agustus 2012 Indri bisa pulang ke Singapura dan kami berlebaran di Indonesia. Selang satu bulan setengah kemudian Indri berangkat lagi ke Jerman. Setelah itu kami merancang pertemuan berikutnya. Awalnya saya berencana untuk pergi ke Jerman mengunjungi Indri. Namun menimbang biaya perjalanan yang mahal, akan sangat sayang jika berangkat ke sana hanya untuk satu dua minggu. Akhirnya muncul rencana kedua yaitu istri saya yang datang lagi ke Singapura. Apalagi perkuliahannya sudah hampir selesai dan tinggal Thesis. Jadilah setelah 5 bulan berpisah, kami berkumpul lagi di Februari 2013 hingga akhirnya tadi Indri kembali lagi ke Jerman.

Dari momen lama berjauhan dan sesekali berdekatan, saya merasakan bahwa pernikahan jarak jauh itu sangat tidak enak. Namun barangkali ini adalah takdir hidup kami di mana pasti ada hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik. Dari renungan sekilas saja, saya sadar, beberapa pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman ini. Satu, kami lebih menghargai waktu bersama-sama, sebab kami merasakan waktu saat tidak bersama itu sangat tidak mengenakan. Dua, belajar untuk menjalin komunikasi sebaik mungkin baik saat jauh apalagi saat dekat. Tiga, memotivasi saya untuk mengukir mimpi lebih tinggi dalam menyiasati jarak yang jauh antara kami.

Saya akan membahas mulai dari yang pertama, masalah menghargai waktu bersama. Saat berdekatan kami bisa pergi kemana pun kami mau dan melakukan hal apa pun setiap waktu. Makan bersama, nonton, shalat berjamaah, ngobrol atau hanya bercanda-canda. Pengalaman sering berjauhan adalah trigger yang cukup efektif untuk kami lebih mengelola waktu berkualitas bersama. Jatuh cinta sejati itu adalah cinta setelah menikah. Pacaran yang terindah itu adalah pacaran setelah menikah juga.

At Gate of GWK Bali

At Gate of GWK Bali

Saat Februari lalu Indri datang, kami langsung berangkat ke Bali dan Lombok untuk second honeymoon. Honeymoon pertama dulu cuma sempat ke Malang, sebab dulu masih “kere”. Bulan Maret kami menghadiri nikahan kawan di Bandung sambil jalan-jalan dan sedikit misuh-misuh dengan kemacetan Bandung yang sangat ajib. Saat kangen masakan Indonesia, sesekali kami menyeberang ke Batam untuk berburu makanan. Berangkat ke Batam dengan tas kosong kami pulang ke Singapura dengan tas penuh bahan makanan dan borongan buku gramedia. Akhir April lalu, saya berkesempatan ke Amsterdam untuk wawancara di Booking.com. Meski pada akhirnya tidak dapat job offer. Semua persiapan dari mock interview dan pengurusan visa semuanya disiapkan Indri. Bahkan Indri juga yang memotret photo untuk visa sekaligus mengeditnya. Tak kurang dia pun menemani saya dua kali datang ke kedutaan Belanda di Orchard untuk submit dokumen hingga mengambil kembali visanya. Bicara jasa besar, peran istri saya memang benar-benar tak tergantikan. Bahkan, awal Mei lalu kami pindah apartemen dan Indri yang paling repot menyiapkan semuanya. Belanja beberapa barang-barang baru di Mustafa dan juga yang paling capek mengepak dan menata barang-barang dari apartemen lama di Sturdee View ke apartemen baru di Central Meadows menggunakan taksi 2 balik.

Kondangan ke Bandung

Kondangan ke Bandung

Saat tidak kemana-mana, setiap akhir pekan sesekali kami akan makan bareng di Geylang Serai sebuah food court halal terbesar di Singapura. Setelahnya kami akan ke pasar atau supermarket belanja kebutuhan masak. Saya selalu geli melihat Indri selalu bersemangat membayar belanjaan di self checkout Fair Price. Di situ kami menscan barcode barang-barang dan menggesek sendiri kartu kredit atau kartu debit untuk membayar belanjaan. Sesekali kami akan mampir ke perpustakaan untuk mengembalikan atau meminjam buku-buku yang terkadang memang jarang saya baca. Tapi saya baca kok sesekali.

Saat hari kerja, terkadang saya sering sedih meninggalkan Indri di apartemen. Akomodasi di Singapura adalah salah satu yang termahal di dunia. Menyewa satu unit apartemen ada di luar budget kami. Oleh karena itu sebagian besar orang biasanya menyewa kamar dan berbagi dengan orang-orang lain. Kasihannya saat harus ke kamar mandi dan ke dapur tidak seleluasa bila punya rumah sendiri. Sore hari setelah kerja Indri terkadang menjemput saya ke kantor atau ke rumah sakit di mana kantor saya menjadi vendor. Kantor saya sendiri di Fujitsu yang berlokasi di Science Park 2 dengan MRT terdekat di Haw Par Villa. Dulu saya sering juga pergi ngantor ke Mount Alvernia Hospital. Namun di perpanjangan kontrak yang baru saya dipindahkan ke proyek lain sehingga sesekali sekarang saya pergi ke Changi General Hospital yang dekat dengan Simei MRT. Salah satu alasan istri saya menjemput ke kantor adalah untuk bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama. Memang benar waktu bersama adalah momen yang sangat berharga bagi kami.

Hikmah long distance relationship yang kedua adalah membangun komunikasi dengan lebih baik. Pilar utama hubungan antara manusia adalah komunikasi. Komunikasinya pun idealnya komunikasi yang datang dari hati. Terkadang jarak dekat pun tak menjamin komunikasi yang baik. Contohnya ada banyak juga hubungan suami istri atau orang tua anak yang meski tinggal serumah tapi jarang bicara. Kalau pun bicara bukan dengan cara yang akrab.

Beruntung kami hidup di jaman modern di mana komunikasi canggih dan murah banyak tersedia. Kami biasa menggunakan Viber untuk voice call murah, Whatsapp untuk pesan teks dan Skype untuk video call. Bahkan sering kali Skype kami online 24 jam sehari setidaknya saat kami di kamar kami bisa merasakan seakan ada di kamar yang sama. Dulu saya juga rajin mengirim email cinta pada istri. Biasanya diakhiri dengan PS: I love you. Kalimat yang dipetik dari drama komedi favorit kami. Satu hal penting yang saya pelajari dari istri saya adalah kepedulian bertanya. Hampir setiap waktu ketika kami Skype atau Viber atau Whatsapp ia akan selalu bertanya, bagaimana hari saya, bagaimana pekerjaan. Bentuk komunikasi sederhana yang namun sangat memberikan perhatian mendalam. Sesuatu yang tidak pernah saya dapat sebelumnya.

Bentuk khas lain komunikasi Indri adalah kesenangannya menemukan terminologi-terminologi baru. Ketika Allah menjodohkan manusia, biasanya kita akan dipertemukan dengan komplemen kita. Saya cenderung serius dan kaku akhirnya dipertemukan dengan Indri yang super lucu dan polos. Bukan hal yang jarang tingkah, polah, dan celetukan Indri yang akan membuat saya tersenyum dan bahkan terpingkal-pingkal. Saat baru menikah, saya mengajak Indri menemui ayah kandung saya yang super serius. Bahkan di kali pertama bertemu bapak saya dengan eksplisit memberi komentar bahwa Indri itu orangnya lucu ya. Kembali ke masalah terminologi, entah sudah berapa banyak terminologi-terminologi lucu yang pernah ia lontarkan. Namun yang paling berkesan saat ini ada dua. Dua kata itu adalah contoh panggilan sayang yang ia gunakan pada saya. Namun panggilan sayang yang tidak jamak. Yang pertama adalah dutsidut dan yang kedua adalah putlili. Dutsidut dia bilang berasal dari kepanjangan kata gendut tapi seksi. Sementara putlili adalah permutasi dari kata liliput. Itu hanya dua contoh dari puluhan celetukan lucu dan senandung-senandung spontan yang sering ia lakukan. Namun dibalik kesenangannya bercanda, Indri pun adalah partner yang luar biasa juga saat berdiskusi hal yang serius. Dia pendengar yang baik sekaligus juga pengkritik yang lembut dan sabar.

Wedding Anniversary Surprise Cake

Wedding Anniversary Surprise Cake

Ada satu poin lain dari hal komunikasi yang saya pelajari dari Indri. Ia adalah gadis yang suka memberikan kejutan. Dua kali saya ulang tahun semenjak menikah ia mengirim cake ke kantor. Dua kali ulang tahun pernikahan kami ia juga mengirim cake dan ikatan bunga ke kantor. Saat ia mengunjungi setiap kota di Jerman, tak pernah ia lupa mengirim kartu pos cinta. Saat ia ke Vienna ia membelikan saya sebuah kue jahe berbentuk hati bertuliskan Ich Liebe Dich. Kue jahe itu hingga kini masih tergantung di kamar saya. Kesan terakhir yang ditinggalkan Indri baru-baru saja adalah 19 Mei lalu saat pernikahan kami menginjak 1.5 tahun. Entah dapat ide dari mana seperti biasa ia senang sekali memasak. Pagi itu ia membuat sup kepiting yang enak seperti biasanya. Namun tidak sekedar itu dia menyajikan makan pagi kami itu di meja dengan apiknya. Bahkan ia taruh smartphonenya di meja makan di mana di sana sudah ada tulisan tangannya “Happy Wed 1.5 Anniversary”. Sebuah media komunikasi yang sebenarnya sederhana namun teramat sangat berkesan untuk saya.

Hikmah ketiga, adalah motivasi diri. Dengan tinggal berjauhan saya selalu mencoba mencari cara bagaimana agar bisa menyusul Indri. Contohnya setelah gagal di beasiswa kominfo 2011 di mana saya bertemu Indri saya melamar ulang di tahun 2012. Namun gagal lagi. Dalam rentang 2011 hingga 2012 saya pun melamar berbagai beasiswa yang ada dengan salah satu harapan bisa sekolah ke Eropa juga

Wedding Anniversary Crab Soup

Wedding Anniversary Crab Soup

dan bisa dekat dengan Indri. Selain dari jalur mencari beasiswa saya pun mencoba dari jalur mencari kerja. Salah satu ikhtiar mencari kerja yang nyaris menggapai mimpi saya adalah saat April lalu saya wawancara di kantor booking.com Amsterdam. Kami sudah cukup berangan-angan saya bisa pindah ke Eropa dan menemani istri saya menyelesaikan kuliah. Namun barangkali itu masih belum rejeki kami sebab usai seminggu setelah wawancara, ternyata saya masih belum mendapatkan job offer. Berkali-kali gagal alhamdulillah tidak menyurutkan mimpi dan motivasi saya mengejar mimpi untuk sekolah yang tinggi atau bekerja menambah pengalaman untuk mencapai tujuan akhir menjadi insan yang bisa bermanfaat bagi orang-orang di sekitar. Setabah-tabahnya tinggal berjauhan kami tetap berharap bisa berkumpul lagi segera selayaknya rumah tangga lainnya.

Tak terasa juga post ini sudah terlalu panjang. Ditulis sedari Indri take off dari Changi 2 hari lalu, hingga sekarang ia sudah sampai di Ilmenau. Di akhir post saya ingin menuliskan sebuah quote bagus dari seorang kawan.

“In the dark time, my past time was best for me at that time. I realize that now, once I am in the spotlight.”

Love Cake

Love Cake

Pesan dari quote itu kurang lebih adalah hidup itu perjuangan. Naik turun susah mudah sedih senang jangan pernah menyerah. Sebab semua pengalaman hidup itu adalah berharga dalam menggapai mimpi kita. Special thanks to wifey yang selalu menjadi partner terbaik dalam mengingatkan dan memotivasi tiada henti.

Untuknya PS: I Love you

Central Meadows, 27 – 29 May 2013

Recover Your Mood when It Swings Down and Down

Sudah sekian bulan tak menulis post baru di sini. Sebuah curhat akhirnya memicu keinginan tersebut.

Manusia itu dinamis. Terutama perasaannya. Terkadang senang, terkadang seketika bisa juga menjadi drop suntuk oleh sesuatu penyebab yang remeh. Terkadang semangat seakan sanggup memindahkan gunung namun terkadang pula kehilangan motivasi secara total serasa hilang tulang belakang seperti invertebrata. Terkadang jatuh cinta. Terkadang mudah benci pada sesuatu. Terkadang sabar. Terkadang amarah gampang memuncak begitu saja. Dalam Islam kita harus percaya Allah yang membolak-balikan hati. Ada sebuah doa terkenal yang menerangkan ini. Yaa Muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘alaa diinika (Ya Allah yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku agar senantiasa di atas agamaMu) (H.R. Tirmidzi).

Lalu kenapa ya kok manusia seperti itu. Jawabannya sederhana, agar hidup ini berwarna. Manusia itu punya 2 kecenderungan. Positif dan negatif atau baik dan jahat. Beda dengan setan atau malaikat yang cuma punya satu tendensi. Manusia akan membosankan jika hanya punya satu kecenderungan. Dan mungkin manusia tidak akan dijadikan Allah sebagai khalifah di muka bumi dengan kondisi seperti itu. Manusia dirancang menjadi khalifah karena dia punya 2 kecenderungan tadi, sehingga ia bisa, contohnya punya ambisi namun bisa juga punya kelembutan hati.

Dengan mempunyai dua kecenderungan tadi juga, ada aspek sosial yang akan benar-benar bermanfaat. Manusia akan berusaha untuk saling mendukung. Istri akan selalu mensupport suami, sebaliknya suami juga akan selalu menyemangati istri. Orang tua tak pernah berhenti menjadi pendorong bagi anaknya. Anak pun selalu akan berusaha menjadi mutiara yang membahagiakan orang tuanya. Aspek manfaat lain dari kecenderungan terkadang lemahnya manusia adalah momen untuk evaluasi diri. Saat sedang bad mood atau terdemotivasi adalah momen yang sangat tepat untuk mengevaluasi diri. Biasanya manusia saat sedang merasa lemah dia akan cenderung dekat dengan Tuhan karena ia merasa butuh. Banyak kontemplasi-kontemplasi yang bermanfaat di momen ini. Contohnya ya keinginan saya menulis di blog lagi. Lalu semangat untuk evaluasi diri dan merencana terhadap beberapa hal yang ingin dicapai dalam waktu dekat.

Ada beberapa penyebab yang bisa membuat mood turun. Pertama biasanya karena kondisi fisik yang tak baik. Sedang kurang sehat, kecapean dan kurang fit. Kedua, stress. Entah karena pekerjaan atau hal lainnya. Tiga, kegagalan. Kegagalan apa pun biasanya akan sering membuat kita kecewa. Padahal sebenarnya kegagalan jika disikapi justru bisa menjadi trigger yang sangat efektif untuk mencapai tujuan. Dalam fisika gaya dan momentum bergantung dari percepatan dan kecepatan. Dengan gagal biasanya kita jatuh atau terlempar mundur ke belakang. Dengan terlempar mundur ke belakang ini kita akan punya kesempatan untuk mengumpulkan percepatan dan kecepatan yang lebih besar sehingga akhirnya bisa menghit tujuan kita dengan gaya dan momentum yang lebih besar. Keempat, kurang perhatian. Kok bisa? Kembali lagi ke kecendurangan manusia tadi. Manusia itu multi tendensi. Bisa jadi di satu waktu sangat mandiri. Namun bisa jadi di satu waktu ia akan menjadi sangat manja. Terkadang merasa tidak diperhatikan bisa menjadi penyebab hilang mood yang cukup fatal.

Dari penyebab-penyebab tadi, tanpa merujuk ke paper research apa pun, saya akan coba merumuskan hal-hal apa yang bisa dilakukan untuk membalikan mood naik ke atas. Pertama adalah beribadah dan berdoa. Entah kenapa, maybe somebody will shout to me for being sok religius. Tapi buat orang beragama spirit yang didapatkan dari berdoa dan shalat (dalam Islam) itu luar biasa besarnya. Mungkin ada orang yang akan bilang bahwa Tuhan itu adalah pelarian orang-orang yang lemah. Benar! Sebab manusia adalah mahkluk yang lemah. Jika sudah lemah kita tidak punya pelarian yang benar, lalu mau jadi apa? Solusi kedua adalah berusaha membalikan pikiran positif. Ini memang tidak mudah. Saat bad mood, otak dan hati akan terus mencari justifikasi untuk tetap suntuk. Harus sedikit dipaksakan. Bisa dengan nyanyi-nyanyi atau nonton film lucu. Ketiga, buang energi suntuk dengan bergerak. Misalnya jogging atau berenang. Keempat, ini yang sangat bermanfaat, berkomunikasi dengan orang yang kita sayang. Misalnya istri, biasanya akan memberi efek luar biasa untuk mengembalikan semangat yang tenggelam dalam awan hitam.

Terakhir, salah satu penyebab bad mood di atas adalah kegagalan. Saat gagal memang tak dapat dibantah, diri akan tersungkur dalam palung bad mood. Salah satu cara untuk keluar dari sana adalah percaya bahwa kelak satu waktu kita bisa berhasil. Tentunya diiringi dengan ikhtiar dan adjustment strategi. Orang bilang seeing is believing. Namun sebaliknya pun mungkin bisa benar. Saya akan coba membuktikannya. Believe your dream and you can see it.

Tips Menikah di Usia 25

Dulu saya pernah punya harapan untuk menikah di usia 25. Pada akhirnya saya menikah sekitar tiga minggu menjelang usia masuk 26.

Pada dasarnya tak ada hal yang khusus dengan usia 25. Saya hanya merasa 25 adalah usia produktif. Jika segera punya anak maka selisih umur orang tua dan anak tidak signifikan. Jadi masih bisa bercanda-canda dengan anak. Pada usia 25an biasanya orang sudah menuntaskan kuliah dan sudah kerja untuk setidaknya 2 atau 3 tahun. Jadi seharusnya kita sudah matang secara mental dan materil pada usia ini.

Kembali ke masalah harapan untuk menikah di usia 25. Allah seringkali menjawab harapan-harapan manusia dengan penuh style. Termasuk masalah pernikahan ini. Harapan saya dijawab dengan persis. Saya ibarat dipertemukan dipertemukan dengan bidadari jatuh dari langit. Jatuh karena ternyata bidadari ini belum diberi sayap oleh Allah. Bidadari yang tidak pernah  saya kenal sebelumnya di kehidupan mana pun. Bidadari yang dipertemukan 5 bulan saja sebelum menikah. Bidadari yang saya pastikan akan selalu setia bersamanya selamanya.

Baiklah kita sudahi sesaat cerita tentang bidadari. :). Mari kita lanjutkan dengan tipsnya. Tips untuk bisa menikah di umur 25 yang pertama adalah niat. Meski nampak remeh ternyata masalah niat ini menjadi hal yang paling fundamental. Dengan adanya niat kita punya tujuan. Cepat atau lambat pasti sampai. Bandingkan dengan mengemudi tak punya tujuan. Sampai kapan pun tak pernah sampai. Cukup ucapkan dengan pelan namun mantap di hati “saya ingin menikah di usia 25” (atau di usia berapapun yang anda mau.

Tips yang kedua adalah ikhtiar. Setelah punya tujuan hal yang harus dilakukan selanjutnya adalah bergerak. Percuma punya niat namun pedal gas mobil tidak diinjak atau throtlle gas motor tidak dibetot. Tidak akan jalan. Tentu saja ikhtiar untuk menikah tidak sesederhana membejek pedal.

Melanjutkan masalah ikhtiar. Ikhtiarnya harus dilakukan dengan cara yang benar dan tempat yang benar. Ada pepatah yang mengatakan jodoh itu di tangan Tuhan. Namun jika tidak diambil-ambil ya di tangan Tuhan terus. Namun coba mancingnya jangan di tempat salah. Tempat baik untuk taaruf diantaranya pengajian, kampus, rumah sakit jika ingin dapat dokter atau mungkin bisa juga pdkt di seleksi beasiswa kominfo seperti yang saya lakukan.

Masih dalam tahap ikhtiar adalah masalah persiapan finansial. Hal ini harus sangat dipikirkan terutama oleh laki-laki. Namun jika niat sudah kuat masalah finansial tidak akan menjadi ganjalan. Percayalah Allah Maha Kaya. Saya akan buat post khusus mengenai ini.

Tahapan ketiga adalah seleksi dan istikharah. Jika diasumsikan kita meninggal di usia 70 tahun dan menikah di usia 25 tahun artinya kita akan mengarungi kehidupan pernikahan selama 45 tahun. Artinya dalam memilih partner tidak boleh asal-asalan. Cerai itu halal namun adalah hal yang sangat dibenci Allah.

Berikut kriteria memilih pasangan ideal. Bisa disingkat menggunakan singkatan aneh yang kurang lucu: dindanduntun. Din itu agamanya (Dien) yang utama. Kedua pilih yang pintar DANdan (analogi untuk memilih yang cantik dan tampan) agar tak bosan dilihat selama 45 tahun. Namun bagi yang tak merasa cantik dan tampan tak perlu khawatir, ukuran tampak dan cantik itu relatif bagi setiap manusia. Kriteria yang ketiga adalah dun analoginya yang mapan secara DUNiawi alias orang punya. Kriteria keempat adalah Tun (TUrunan) untuk analogi cari yang punya turunan atau nasab yang jelas. Namun dari keempat kriteria tersebut agama adalah yang paling utama.

Setelah seleksi dan merasa kandidat yang ingin kita ajak menikah di usia 25 lolos kriteria-kriteria yang penting, hal berikut yang harus dilakukan adalah istikharah. Tidak ada yang mampu memberi jawaban lebih presisi dibandingkan Yang Maha Presisi Allah Swt. Jawaban istikharah itu tidak harus berupa mimpi. Bisa juga berupa kebulatan hati dan kelancaran prosesnya. Hal itulah yang saya alami. Seiring waktu berjalan dengarkanlah kecenderungan hati. Meski tidak dapat diukur dengan eksak, jawaban istikharah dapat dirasakan dari kemantapan dan kebulatan hati terhadap pilihan yang kita ambil. Serta proses taaruf yang ibarat berseluncur di es, lancar dan mulus.

Setelah semua proses usaha dilakukan sampailah kita di ultimate step. Judulnya tawakal. Totalitas  pasrah dan ikhlas terhadap ketetapan Allah atas harapan yang kita mohonkan. Tawakalnya pun harus diiringi dengan qanaah berbaik sangka kepada Allah. Sebab Allah itu seperti apa yang hamba-hambanya sangkakan.

Setelah tawakal kemudian ternyata permohonan kita dikabulkan, jangan lupa untuk bersyukur. Namun harus diingat, menikah itu bukan destinasi akhir. Menikah itu adalah perjalanan panjang.

Pada akhirnya saya pun merasakan benar yang dikatakan orang-orang. Menikah itu tidak indah! Maksudnya tidak sekedar indah, namun menikah itu sangat sangat amat sangat indah.

Ditulis pada 23-25 Maret 2012 dariChangi ke CGK dan di Damri airport Kampung Rambutan

Miracle in The Airport Immigration

Miracle exists. Either big or small, it will make we feel that God is always close to us. And the small miracle but so significant happen this morning.

Aku bangun dari lelap sejenak ketika pesawat agak bergoncang. Aku lihat keluar jendela awan sangat pekat hingga hampir tak nampak selain dirinya. Air pun memercik halus di  luar jendela. Nampaknya hujan sangat deras di luar sana  Sejenak pelan berharap bodoh, semoga pesawat tak tergelincir saat turun nanti. Lelah sekali rasanya tubuh ini. Sangat lelah. Namun inilah hidup. Jika tak mau lelah silakan saja akhiri hidup saat ini juga.

Perlahan pesawat pun mulai merendah di Changi.

***

Sabtu pagi, aku dan istriku mencari bahan pakaian untuk resepsi pernikahan di pasar baru. Bagi yang kenal Jakarta, pasar baru adalah tempat belanja yang sudah terkenal sejak dulu di mana kita bisa menemukan kain, sepatu dan pakaian. Uniknya tempat ini adalah nuansanya yang terasa klasik dengan gedung-gedung tua dan toko-tokonya yang bahkan beberapa diantaranya sudah berdiri puluhan tahun dan menjadi saksi bisu sejarah kota Jakarta.

Setelah menemukan bahan pakaian, kami pun menyempatkan mencari setelan jas yang akan aku pakai. Dari tempat belanja tersebut kami langsung meluncur ke rumahku. Aku ngebut melewati tol yang cukup lengang di hari libur itu. Obrolan hangat mewarnai sepanjang jalan yang kami lalui. Pada siang tersebut keluarga istriku akan mengunjungi rumah orang tua aku untuk bersilaturahmi.

Tak sampai 2 jam kami pun tiba di rumah orang tuaku. Rumah sudah sangat ramai dengan saudara-saudara aku yang sudah datang dan juga keluarga istri aku. Langsung saja aku beramah tamah. Sejenak aku dan istriku diledek halus karena terlambat datang padahal ini adalah acara kami. Jika boleh beralasan terlambatnya kami pun ada dasarnya. Aku baru tiba dari Singapura Jumat tengah malam. Sabtu pagi hingga sore aku mengikuti IELTS test saat di waktu yang sama istriku tengah les bahasa Jerman untuk mengejar sertifikat A1.

Sabtu malam sebelumnya, kami bermotor sambil bergerimis ria ke Pasar Baru untuk mencari bahan baju resepsi. Namun karena menunggu hujan saat sampai pasar baru semua toko sudah tutup. Akhirnya kami pun harus kembali lagi mencari bahan pakain minggu pagi ini. Sehingga kami baru sampai rumah orang tuaku minggu siang.

Sekitar sore keluarga istri aku pamit pulang. Tak lama setelah itu pun keluarga aku yang lain turut pamit pulang. Jadi tinggalah aku, istri aku, ayah, ibu, adik-adikku dan nenek kakek yang ada di rumah. Minggu malam itu aku menyempatkan berkeliling motor dengan istriku menikmati waktu berkualitas kami yang rasanya mahal sekali.

Hal yang tidak mudah untuk berumah tangga jarak jauh. Hanya seminggu setelah akad aku harus berangkat ke Singapura. Syukur ingin selalu kupanjatkan kepada Yang Kuasa. Apalagi keputusan untuk pergi pun sudah aku pikirkan dengan masak-masak dan aku diskusikan dengan intensif dengan istri aku.

Bukan hanya itu, sekitar 3 bulan ke depan nanti, istriku pun harus berangkat ke Jerman untuk melanjutkan studinya. Berat sekali rasanya harus hidup dengan jarak yang lebih berjauhan lagi. Namun aku justru berharap dengan ujian kecil hidup berjauhan di awal-awal tahun pernikahan kami semoga akan menjadikan ikatan hati antara kami menjadi sangat erat tak akan terenggangkan sedikitpun selamanya. Aku selalu ingin menjadi insan yang bersyukur. Aku selalu ingin menjadi individu yang percaya bahwa jalan hidup yang kita lalui adalah kombinasi ketetapan terbaik dari Tuhan untuk hambanya dan ikhtiar yang dilakukan hambaNya tersebut. Aku juga ingin membuktikan bahwa aku akan melakukan apa pun demi orang yang aku sayangi. Sementara itu dengan berbagai cara aku terus ingin berusaha mendaftar beasiswa-beasiswa dengan tujuan Eropa. Paling tidak meski tidak tinggal satu atap, sekurangnya aku ingin ada di satu benua dengan istriku.

Sekitar minggu jam 9 malam aku berpamitan dengan orang tuaku. Aku akan menginap di rumah kontrakan istriku malam itu. Senin pagi aku harus terbang awal sekali, tak mungkin berangkat dari rumah orang tuaku. Sambil jalan karena kebetulan membawa mobil, aku mengantar kedua adikku ke tempat kos mereka. Baru lanjut ke rumah istriku.

Sesampai rumah istriku kami pun ngobrol-ngobrol sejenak sambil makan malam. Entah sudah yang keberapa kali aku makan hari itu. Sebelum terlanjur semakin larut aku pun pamit sejenak pada istri dan mertuaku untuk mengembalikan mobil.

Tak perlu waktu terlalu lama di jalanan Jakarta yang lengang di tengah malam untuk menempuh jarak yang tak dekat sekalipun. Tak sampai 1 jam aku pun sudah tiba di tempat empu si mobil. Setelah menyerahkan kunci aku pun langsung kembali pulang menggunakan motor istriku yang kemarin ditukar titip dengan mobil.

Angin Malam Jakarta yang pekat perlahan menembus jaket yang aku pakai. Sudah lebih jam 12 malam. Aku tidak berani terlalu ngebut karena entah mengapa rasanya aneh ngebut memakai motor bebek. Beberapa kali istriku SMS menanyakan sudah sampai di mana. Beberapa kali pula aku menghentikan motor untuk membalas SMS dari wanita terpenting bagi hidupku itu.

Akhirnya tak lama aku pun tiba di rumah istriku Senin dini hari hampir pukul 1. Meski sangat mengantuk nampak ia berusaha berpura-pura segar menyambutku. Terlihat pula koper untuk aku bawa nanti subuh sudah rapi. Ibu mertuaku dan adik iparku nampak sudah tidur. Aku pun mengobrol sebentar dengan istriku. Karena kesibukan kami beberapa hari ini ia sampai silap akan salah tugas penting untuk kantornya. Jadi pada malam itu ia mengebut berusaha menyelesaikan tugas tersebut. Jam semakin bergerak maju. Tinggal beberapa jam sebelum penerbanganku. Akhirnya aku putuskan untuk tidur. Saat hendak menset alarm di hp, istriku mencegah dengan lembut. Maksudnya biar ia yang akan membangunkanku. Setelah itu aku pun tak tersadar. Yang sedikit tergambar adalah ketika istriku memelukku dengan lembut dalam tidurku ketika ia telah menyelesaikan tugas kantornya yang harus diserahkan nanti pagi.

***

Aku terbangun kaget ketika mendengar pintu digedor-gedor dengan sangat keras. Ibu mertuaku bangun dengan sama kagetnya. Ibu mertuaku langsung mengecek keluar rumah, ternyata supir taksi pesanan yang akan mengantarku ke airport. Istriku pun terbangun dengan masih setengah sadar. Aku langsung melihat jam. Pukul 4 pagi! Saat melihat jam istriku tampak sama kagetnya dan terlihat paras merasa bersalah di wajahnya. Aku seharusnya sudah berangkat maksimal pukul 3.30. Aku langsung segera ke kamar mandi. Cuci muka dan berganti baju dengan sangat terburu-buru. Pesawat terbang pukul 5.40. Batas checkin adalah pukul 5.00. Perjalanan ke bandara setidaknya 60 menit. Dan sekarang pukul 4.00.

Dengan kalang kabut aku keluar kamar mandi. Mertuaku membuatkan teh dan mie goreng. Sambil terburu-buru menyiapkan apa yang harus disiapkan aku disuapi oleh istriku. Tak henti paras merasa bersalah itu nampak di wajah istriku. Dalam kondisi ini tak sedikit pun dan tak tersirat sekecil apa pun aku hendak menyalahkannya. Semuanya kelelahan.

Pukul 4.10 sambil memakai sepatu dan menggendong tas tak henti istriku meminta maaf pelan. Aku justru merasa sangat sedih, dengan keterburu-buruan ini aku tak bisa berpisah dengan waktu yang cukup. Memeluknya dengan lama, mengecup kening dan pipinya yang lembut. Akhirnya aku pun berpamitan pertama dengan mertuaku lalu dengan istriku. Perlahan aku merasa mataku sangat berkaca-kaca melihat paras istriku yang sangat hangat dengan wajah kekanak-kanakannya yang selalu nyaman ditatap.

Saat aku menarik koper meninggalkan rumah kepalanya masih melongok dari balik tembok menatap aku pergi perlahan. Menjelang masuk taksi masuk taksi aku pun menengok sekali lagi dan memberi lambain tangan lembut.

04.15 taksi pun berangkat. Baru sekitar 1 menit jalan istriku menelepon. Ia dengan menanyakan apakah parfumku sengaja ditinggal atau memang tertinggal. Lalu aku jawab bahwa aku sengaja meninggalkannya untuk aku pakai saat pulang ke Jakarta.

Degup jantung aku bergerak cepat sekali. Tertinggal pesawat mungkin hal yang biasa bagi orang lain. Namun bagiku itu seharusnya menjadi kelalaian yang bisa diantisipasi. Membeli tiket untuk penerbangan selanjutnya jika aku terlambat bukan pilihan yang terlalu menyenangkan.

Taksi bergerak cukup cepat namun hati-hati. Aku sudah mengingatkan kepada supir bahwa aku terlambat. Nampaknya ia sudah paham itu. Aku baru berangkat pukut 4.15 saat seharusnya aku berangkat pukul 3.30. Kepanikan aku yang lain pada waktu itu adalah aku tidak memegang uang tunai untuk membayar airport tax. Artinya aku butuh ekstra waktu ke ATM sebelum ke counter checkin.

Pukul 5.00 tepat aku sampai di airport. Setelah koper diturunkan aku langsung pontang-panting masuk ke terminal. Aku langsung menyelip ke depan konter checkin dan bertanya apakah bisa membayar airport tax menggunakan kartu debit. Saat mereka bilang tidak, seakan itu adalah pistol penanda lomba balap lari yang membuat aku berlari segera sambil menggeret koper ke ATM. Dengan terengah-engah akhirnya aku kembali ke kounter checkin setelah naik turun ke ATM di lantai 1. Pukul 5.10 aku mulai mengantri dengan beberapa orang di depanku. Pukul 5.15 akhirnya aku sudah di depan kounter. Saat melihat form web checkinku nampak petugas langsung menatapku iba. “Mas berhubung mas sudah web checkin, kami tak berhak menolak mas. Namun sekarang boarding gate sudah mau ditutup. Jadi sekarang tergantung mas bisa seberapa cepat sampai ke sana.” Petugas itu berkata. Aku tak banyak menyahut sambil menerima kartu imigrasi dan paspor.

Aku langsung berlari ke imigrasi. Saat sampai di sana aku hampir terkulai lemas melihat antriannya yang sangat panjang. Ada 2 loket yang dibuka. Pada setiap loket setidaknya ada 20 orang yang mengantri. Intuisi matematisku menghitung. Dengan rata-rata proses pengecekan paspor dan kartu imigrasi adalah 1 menit perorang. Akan membutuhkan waktu 20 menit hingga aku bisa lewat antrian imigrasi ini. Saat itu pukul 5.20.

Perlahan aku ingat pesan istri aku. “Zikir terus ya sayang.” Ucapnya lembut. Dia selalu mengingatkan aku untuk berzikir. Terutama dalam kondisi sulit. Pelan-pelan aku pun mulai merasa pasrah. Jika memang hak aku untuk naik ke pesawat itu, pasti aku akan naik dengan cara apa pun. Namun jika memang pesawat ini bukan rejekiku, aku akan pasrah setidaknya aku sudah berusaha sampai di sini. Tak ada kejadian yang luput dari ketetapan Allah. Barangkali termasuk pagi ini juga.

Meski masih merasa panik aku sedikit lebih tenang. Sambil mengantri aku mengisi kartu imigrasi. Di antrian yang panjang itu nampak beberapa petugas imigrasi dan bandara yang mondar-mandir. Tiba-tiba seseorang mendekati aku.

“Singapur ya mas?” Tanyanya.

Aku jawab pelan “Iya.”

“Hmm. Ga akan keburu kayaknya mas.” Jawabnya lagi dengan wajah dan ekspresi agak melecehkan. Tapi aku tak peduli sambil terus melengkapi kartu imigrasi. Pria tadi pun akhirnya melengos pergi ke depan.

Antrian berjalan pelan sekali. Kini aku merasa sudah tak menaruh harapan pada penerbangan ini. Dari jauh, aku melihat pria tadi berjalan ke arah aku lagi. Melihat dari seragamnya ia adalah petugas bandara. Ia kemudian mendekatiku pelan. “Mau dibantu mas?” Bisiknya.

Agak kaget, senang dan bingung. Kata-kata itu adalah bahasa kode yang jamak. “Berapa?” Balas aku bisik.

“Cepek aja.” Bisiknya lagi mengatakan ingin minta 100 ribu.

Aku angguk pelan sambil bersyukur sekali masih sisa uang tepat 100 ribu dikantungku.  Aku langsung mengambil uang di kantung dan memberikan kepadanya. Dia langsung terlihat panik. “Jangan kelihatan mas! Saya bisa dipecat!” Bisiknya lagi tapi agak berteriak.

“Sory.” Balas aku lagi berbisik.

“Ya udah ikut saya.” Ajaknya sambil mengambil uang dari aku dengan lihai. Entah kode apa yang dia berikan ke petugas imigrasi.

Pukul 5.25. Aku langsung menerobos antrian. Di depan konter imigrasi aku disuruh menunggu. Si pria tadi masuk semacam ruangan kepala imigrasi. Aku berdiri diam sambil merasa tidak percaya. Kurang dari 2 menit dia kembali lagi.

“Ayo mas lekas.” Ajaknya.

Aku mengikuti dia. Sekarang harus periksa X-Ray koper.

“Ini udah hampir terbang pak!” Teriak pria tadi pada petugas X-Ray, maksudnya agar aku bisa skip tak perlu diperiksa.

“Ga bisa mas. Ini prosedur.” Kata petugas yang lain membalas. Akhirnya aku mengalah. Padahal aku tahu betul di dalam koper ada cairan. Tadi seharusnya koper ini masuk bagasi. Tapi petugas checkin menolak karena pesawat sudah mau terbang. Benar saja si petugas meminta aku membuka koper. Dengan tergopoh-gopoh aku pun membukanya. Dengan terpaksa satu botol kecap dan saus yang dibelikan istriku harus turun. Sedih sekali rasanya.

Akhirnya setelah pemeriksaan selesai aku langsung tutup koper lagi. 5.30 aku berlari sekencang-kencangnya dengan pria yang membantu aku menerebos imigrasi. “Sini pak kopernya”. Pinta si pria tadi. Kini ia membawa koperku. Kami berlari seperti kesetanan.

“Mas mas satu lagi!”. Teriak si pria tadi kepada petugas boarding gate.

Kami terus berlari turun ke lantai satu dan keluar terminal. Dalam hati aku masih terus pasrah. Terus merasa jika memang hak pasti aku sampai. Jika tidak aku akan ikhlas. Saat keluar terminal kami masih terus berlari. Pagi yang dingin itu aku berpeluh luar biasa. Akhirnya nampak pesawat yang akan membawa aku pergi.

“Tunggu-tunggu satu lagi!” Si pria tadi berteriak kepada petugas yang sudah mau menutup pintu pesawat. “Oke pak sampai di sini saja. Selamat jalan.” Ucap si pria kepadaku sambil memberikan koperku. Aku masih berlari naik tangga pesawat. Tepat ketika aku masuk pintu pesawat pun ditutup.

Nampak orang-orang melihat aku heran. Aku berkeringat deras, jantung berdegup sangat cepat dan nafas terengah-engah. Setidaknya aku tadi berlari 200 meter. Aku tak peduli dengan tatapan mereka. Aku langsung menuju bangku aku. Meletakan koper di atas tempat koper. Aku duduk. Masih terengah-engah.

Pesawat pun perlahan berjalan. Pukul 5.40 tepat pesawat tinggal landas meninggalkan Jakarta. Baru kali ini aku merasa sangat ikhlas menyogok orang. Sambil tersenyum lelah, aku pun terlelap. Dengan bayangan kerinduan yang sangat besar pada istriku.

Singapore, 19 December 2011.

For my lovely wifey

Age++

Person jon = new Person();
int prevAge = jon.getAge();
int currentAge = prevAge++;
jon.setAge(currentAge);
jon.setMarriedStatus(true);
jon.setSpouse(new Person(“Indri”));
jon.setLocation(“Singapore”);
jon.setFelling(new Feeling('grateful'));

Time move so fast. The preacher said, it is the sign that we are enjoying the life. But we have to realize that we will not live forever. That’s why, we always have to maximize all of our potential. Be someone who can be significant to other. To family, to friend and people around us.

Since the inception of this blog about more than three years ago, almost every year I write about this celebration. Even though somehow, it is too exaggerated saying that as celebration. Actually birthday mean nothing other than the incremental of our life. The faster it increment, closer we are to die. 😀 But that is a good thing that can be used as a check point. Point to evaluate, point to take off for longer journey, point to remember that our age actually is decrease and not increase each years. There will be a time for us to return and never back. Time when heart stop beating. Lunge stop breathing. When life is shutting down.

Almost every year I always make a resolution. I know, also most of that year, that resolution is dying on the first month after its declaration. Resolution sometime is my praying. As the time goes on, now I just realize that, Allah never reject human pray. Allah always accept every human pray. But most of time Allah postpone human wish or sometime Allah replace to something that a lot better. Allah do that for good people, because Allah love when good people patiently make a wish.

My resolution already written in this blog since 2009. Can be seen here:

There are several great thing that was my wish, then Allah postpone that wish and Allah give something that is far more greater than my wish at the first place. First and the most important. I get married last November. With someone that is too good to be true for me. Yes I was wishing to get married since graduated from university. But Allah postponing that until now and give someone that one more time too good to be true. Someone that is not only almost perfect but also can perfecting my life.

Second actually this is pending wish. Last June I fail in scholarship selection. That was make me feel so bad. Continuing study is one of my biggest dream. Fail in last step of selection is make me disappoint so much. But this is the second way Allah responding to human wish. Allah replace that failure with something that I’ve ever imagine. I fail get the scholarship but I successfully meet someone that who will become my wife. Sometime all of this is feel like miracle. Meet on June and get married on November. Insya Allah although the process seems so hurry but everything is already considered carefully. Insya Allah, this marriage is not premature decision. Mean while I want to write more completely about this married process in other dedicated post.

Third, since last week of November, I move to Singapore. Believe it or not, this is exactly my wish list of three years ago. Since September, suddenly one recruiter calling me offering a work position in Singapore. After selection process finally I got the offer. Unfortunately I doubt at beginning. Although this is one of my dream but dealing with change and adapting to new environment somehow bring some scare to me. But I wont wasting this good chances so after consider everything and a lot of discussion with family and specially with my wife (candidate at that time) I decide to hijrah here.

Fourth, several pragmatic wish. Have a nice home, a cool vehicle, enough saving, good career. Those are something that always in progress. However although Allah who decide everything for human. Human also ought to make effort to bring every of their wish come true.

Next is my mission statement start from this year:

  • Continue post graduate study (in NUS perhaps)
  • Umrah
  • Buy a house
  • Buy a car
  • Have children ^_^
  • Take some professional certification (maybe PMP)
  • Improving my bad English 😦
  • Writing book

That’s all for now.

Let this my favorite original quote from myself close this post. “Stop complaining, be grateful, keep chase whatever dream we have.”

September Ceria

Ini adalah post tak penting. Lahir karena keprihatinan saya sendiri yang baru sadar sudah lebih dari 1 bulan tidak menulis di blog tercinta ini. Ada beberapa momen penting yang patut dicatat.

Pertama adalah alhamdulillah ibadah puasa bulan lalu dapat berjalan lancar hingga akhir. Kedua saya berhasil mensubmit aplikasi untuk beasiswa ADS. Untuk pencapaian kedua ini saya berkorban cukup besar dengan mencium aspal bersama si merah. Sangat menyakitkan sekali terutama melihat fairing aduhai si merah yang kini tak mulus lagi. Sangat menyakitkan juga sebab total sekitar 2 minggu dengkul kanan sakit saat ditekuk. Tapi alhamdulillah Allah masih memberi keselamatan. Semoga saja dengan musibah ini akan memberikan hikmah, misalnya diundang wawancara beasiswa ADS :p aamiin.

Ketiga, setelah sekian lama saya sampai di sebuah momen pemikiran serius untuk membangun ikatan yang juga serius terhadap seorang wanita. Saya belum mau menggembar-gemborkan siapa dia (nanti akan ada konferensi pers khusus untuk itu :p). Namun, saya benar-benar berharap ia adalah jawaban atas doa-doa saya dan Allah berkenan mempermudah dan memberikan kelancaran agar hubungan ini bisa dilanjutkan ke jenjang yang benar-benar serius, aamiin :). Alhamdulillah, setelah lebaran kemarin saya sudah berkesempatan untuk bersilatuhrahmi bertemu orang tua wanita impian ini ;).

Keempat, saya harus mengejar sebuah todolist sangat besar dalam waktu dekat. Todo list tersebut berjudul applying Erasmus Mundus. Nanti mungkin saya akan mencoba bercerita banyak tentang makanan beasiswa ini. Namun, saya ada di masa ketika keinginan untuk belajar dan sekolah lagi ke luar negeri sedang tinggi-tingginya.

Kelima, apa ya. Lupa sendiri pengen menulis apa. Ini post spontan soalnya. Tanpa draft tanpa rancangan. Mungkin saya cuma ingin mengucapkan syukur yang teramat besar atas segala hal yang saya miliki. I just feel so happy this time. September ceria. Yes I know, even though I have many things, but I still don’t have many things either. Untuk itu manusia diberikan sebuah paket yang berisi 3 tools. Paket yang sering saya gemborkan dan bahas berulang-ulang. Jangan pernah bosan untuk ikhtiar, doa dan disambung tawakal. Semoga kita selalu bersyukur atas apa yang kita punya dan selalu semangat berusaha untuk mempunyai apa yang kita mau. 🙂