Ramadhan, Tarawih dan Kualitas Ibadah

Hari ke-20 puasa.
“Yok tarawih elo udah bolong berapa?” Tanya saya pada seorang kawan.
Yoki diam sebentar. “Lima kali kayaknya deh. Elo?”
“Belum..” Jawab saya singkat.
“Belum bolong sama sekali?!” Tanya Yoki kagum.
“Belum tarawih sama sekali.”

Bulan ramadhan itu ibarat cuci gudang pahala. Seperti harga barang-barang bagus yang dibanting harganya di departemen store, Allah Swt melakukan sale pahala. Setiap ibadah memiliki pahala yang berkali-kali lipat nilainya. Yang mubah senilai sunah, yang sunah senilai fardhu dan yan fardhu menjadi berkali-kali lipat lagi nilai pahalanya. Sebenarnya akan menjadi tindakan yang sangat disayangkan bila kita tidak memanfaatkan kesempatan sale tersebut.

Orang-orang saleh yang beriman tinggi berbahagia bukan kepalang ketika didatangi ramadhan, sedih bukan main ketika ditinggalkannya. Orang-orang edan tidak merasa apapun ketika bulan ramadhan datang, dan bahagia menjelang lebaran karena akan membeli baju baru dari uang THR.

Pada kebanyakan orang, puasa masih menjadi rutinitas hampa. Sahur di pagi hari, puasa menahan haus dan lapar (itu saja) di siang hari dan berbuka ketika maghrib. Ya itulah malangnya kebanyakan orang hanya mendapat haus dan lapar dalam puasanya. Padahal jika ditelusuri ada banyak sekali hikmah positif yang ada dalam ibadah puasa. Pertama puasa itu menyehatkan. Sudah banyak penelitian dan literatur yang membenarkan hal tersebut. Kedua puasa akan meningkatkan rasa solidaritas dan peduli pada sesama. Pada satu waktu di siang hari puasa cobalah merenung sejenak, bagaimana rasanya ketika banyak saudara kita di luar sana yang kelaparan dan kehauasan tidak mendapat makan. Kita masih beruntung masih bertemu buka ketika bedug maghrib bertalu-talu. Meski hanya dengan ikan asin dan teh celup yang sudah dipake 5 kali (tehnya jadi bening). Ketiga, puasa menjadi ajang mendisiplinkan dan mengendalikan diri dari melakukan hal-hal yang tidak baik. Contoh, bila dalam keadaan lapar kita dapat menjadi orang yang bersabar, tentunya itu akan lebih mudah dilakukan ketika ketika sedang kenyang. Keempat puasa adalah bulan sale pahala dan kesempatan menghapus dosa-dosa masa lalu.

Demikianlah berkoar-koar lebih mudah dari melakukan. Jadi kenapa kamu belum tarawih sama sekali sampai malam ke 20? Jam kerjaku, kawanku. Nanggung. Saya baru keluar kantor secepatnya pukul 17.00. Perjalanan ke rumah memakan waktu 3 jam ++. Jadi sampai di rumah pukul 19.00 lewat. Sudah males ngapa-ngapain karena badan sudah lemas merindukan kasur. Alternatif lain adalah tarawih di jalan. Di masjid mana, gitu. Tapi godaannya kuat juga. Itu artinya saya akan baru sampai rumah setelah pukul 22.00. Alamak capek sekali ya untuk mereguk pahala. Alternatif lainnya, resign dari pekerjaan. Walah, saya baru 3 bulan kerja nih. Tabungannya masih belum cukup untuk DP Nissan X-Trail. Ya demikianlah syaitan selalu punya sejuta alasan. Tapi malam ke-21 kemarin akhirnya saya tarawih juga loh. Senangnya.

Bung jangan mengangkat masalah tanpa memberi solusinya. Tentu saja, berikut adalah beberapa solusi yang terpikir di kepala saya untuk dapat meningkatkan kualitas ibadah di bulan ramadhan dan bulan-bulan lainnya. Pertama ingat mati. Kalau anda tahu anda akan mati besok, apa yang akan anda lakukan? Kawan saya yang edan menjawab, KAWIN! Tentu saja untuk orang tidak edan dan tidak agnostik akan mengambil kesempatan untuk bertobat sedalam-dalamnya agar tidak disiksa banget-bangetan di akhirat kelak. Rasulallah pun berkata sholatlah seakan-akan ini sholat terakhirmu. Demikian pula untuk puasa dan ibadah-ibadah lainnya. Solusi kedua, selektiflah dalam bergaul. Kalau tidak mau bau jangan bermain di tempat pembuangan sampah, tapi diamlah di kebum mawar. Pilihlah kawan-kawan dengan motivasi beribadah dan berprestasi yang tinggi. Jika kedua solusi tadi masih belum mempan, carilah anak ustadz yang cantik bukan kepalang. Lalu bilang ke si ustadz bahwa anda ingin belajar agama dengan sebenar-benarnya sambil menarik simpati dengan cara yang benar dan baik, barangkali anda akan dikawinkan dengan anaknya yang cantik tadi. Seperti di film Kiamat Sudah Dekat. Sebab seindah-indahnya harta dunia adalah wanita yang shaleha. Wanita shaleha adalah surga dunia.

Saya sedang mencoba mencari alternatif lain untuk bulan ramadhan tahun depan agar dapat menjalaninya dengan maksimal. Mungkin akan kost dekat kantor atau menjadi pekerja freelance yang tidak terikat jam kerja. Sebab secapek-capek dan sekeras-kerasnya kita bekerja untuk kehidupan duniawi tidak ada setitik pun yang akan dibawa ketika mati, kecuali amal ibadah dan perbuatan baik.

Ingin merubah perspektif pemikiran dengan lebih mudah? Tontonlah Para Pencari Tuhan Jilid dua setiap sahur. Tapi jangan lupa sholat shubuh juga. Selamat menunaikan ibadah puasa, semoga dapat meraih kemenangan di hari idul fitri.

Motor versus angkutan umum versus mobil

Mobilitas manusia zaman sekarang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Apalagi di kota-kota besar seperti Jakarta. Bukalah mata setiap pagi dan sore di hari kerja, akan kita saksikan lautan aliran kendaraan dengan manusia-manusia di dalamnya berlalu lalang. Dengan kisah dan cerita hidupnya masing-masing. Jika lalu lalangnya untuk jarak yang dekat, mungkin tidak masalah. Tapi, Jakarta masa kini adalah tempat pencarian kehidupan untuk jutaan orang-orang dari sekeliling Jakarta. Bekasi, Bogor, Tangerang, Sukabumi dan mungkin Bandung.

Ada 2 mode utama transportasi yang biasa digunakan orang dalam mobilitasnya sehari-hari. Transportasi umum dan transportasi pribadi. Karena karakternya yang unik transportasi pribadi akan kita kategorikan lagi menjadi transportasi roda dua dan transportasi roda empat. Post “tidak penting” ini akan mencoba membahas untung-rugi dan enak-tidak enak menggunakan moda-moda transportasi yang ada. Yang dibandingkan adalah motor, angkutan umum (termasuk bis, angkot, kereta, dsb) dan mobil. Untuk yang bolak-balik berpergian naik helikopter, mohon maaf, kisah anda belum bisa saya bandingkan saat ini. Mungkin nanti. 🙂

Oke yang pertama adalah motor. Semua orang Jakarta tahu Jakarta semakin hari semakin macet. Semakin hari semakin semrawut dan tidak nyaman. Bos saya bahkan pernah bercanda, semakin hari semakin banyak orang Jakarta mati muda karena stress bukan kecelakaan (saya dan bos saya orang Bogor, bukan orang Jakarta dan di Jakarta agak sulit terjadi kecelakaan karena kendaraaan tidak bisa berjalan kencang). Motor adalah pilihan manis di tengah ketidaknyamanan yang ada untuk melintasi rumah ke tempat kerja, ke sekolah, ke kampus dan sebaliknya. Keunggulan utama motor adalah kecepatan. Jika kemacetan tidak terlalu stuck, motor masih bisa mengalir di sela-sela moibil-mobil yang mengantre di jalananan macet. Sambil membagi rasa was-was juga kepada para pengendara mobil bagus (motor paling senang menyelip di tengah-tengah mobil sambil hampir menyenggol-nyenggol spion mobil orang). Motor pun bisa seenaknya zig-zag mencoba mencari lintasan yang paling cepat. Motor hampir tidak terpengaruh peraturan lalu lintas. Motor bisa bebas berjalan ke arah berlawanan, bisa mengendap-endap menerobos lampu merah (ketika semua orang lain melanggar, orang yang tidak melanggar adalah yang salah), bisa naik ke atas trotoar bila tidak sabar. Jadi itulah keunggulan utama pengendara motor. Cepat dan fleksibel.

Keunggulan kedua menggunakan motor adalah murah. Apalagi bila kapasitas mesin motor yang dimiliki adalah kapasitas irit. Maka dari itu semakin hari motor semakin laris, apalagi dengan dukungan kredit kepemilikan motor yang terlihat sangat mudah.

Oke tadi adalah hal-hal yang menyengkan dari mengendarai motor ke tempat aktivitas setiap harinya. Hal-hal tidak enaknya akan dibahas berikut. Pertama, motor adalah kendaraan paling berbahaya yang pernah diciptakan manusia. Mengendarai motor memiliki resiko yang sangat besar. Pengendara motor kontak langsung dengan lingkungan luar. Pelindungnya hanya jaket tebal dan helm. Sampai dan tidaknya pengendara ke tujuan sangat ditentukan oleh kehati-hatian kita dan nasib. Kalau nasib sedang apes, berkendara hati-hati pun tidak menjadi jaminan.

Ketidakenakan kedua dari mengendari motor adalah ketidaknyamanan. Panas, kepanasan. Hujan, kehujanan. Barangkali 2 kerugian ini adalah harga yang harus dibayar untuk mendapatkan transportasi cepat dan murah.

Berikutnya kita akan bahas moda transportasi publik. Enaknya adalah kita tinggal duduk (kalo dapat tempat duduk dan tidak penuh) dan menunggu hingga sampai ke tempat tujuan. Enak yang kedua bisa bertemu bermacam-macam orang, mungkin bisa bertemu jodoh juga. Enak yang ketiga bisa tidur jika mengantuk (saya sering melakukan ini, jika dapat duduk tentunya). Enak yang keempat bisa bertemu tukang dagang dengan dagangan-dagangan yang lucu. Dan sebagainya.

Tidak enaknya naik angkutan umum. Pertama, angkutan umum mahal, setidaknya lebih mahal daripada motor. Angkutan umum juga membutuhkan waktu perjalanan yang lebih lama. Harus menunggu datangnya di halte, harus menunggu ngetemnya. Harus mau dioper-oper (biasanya kalau yang naik metro mini). Tidak enaknya yang lain kalau tidak dapat duduk dan harus berdiri jauh ditambah jalanan macet. Bisa serasa copot kaki karena pegal. Tidak enak lainnya adalah ketemu dengan orang-orang rese seperti pengamen atau perokok tidak punya otak.

Oke yang berikutnya adalah mobil pribadi. Weit tunggu dulu. Saya kan tidak punya mobil. Jadi tidak bisa cerita.

Asumsi saja ya. Kelihatannya sih naik mobil pribadi saat berpergian adalah hal yang paling enak. Nyaman, bisa bebas kemana saja, tidak perlu naik turun, tidak perlu kepanasan dan kehujanan. Tapi apakah selalu demikian? Ternyata tidak juga. Kalau dipikir-pikir saya malah merasa kasihan pada orang-orang yang “terpaksa” berkendara dengan mobil. Tidak enak yang pertama berkendara dengan mobil adalah mahal (kecuali anda adalah orang kaya yang benar-benar kaya). Kedua di Jakarta yang serba macet berkendara dengan mobil adalah penderitaan terberat. Terkunci diam diantara motor yang berseliweran di kanan kiri depan dan belakang nampaknya bukan hal yang menyenangkan. Belum lagi terjepit di sela-sela metro mini, bajaj dan mikrolet yang sedang kebut-kebutan berburu penumpang. Belum lagi mengingat ternyata mobil yang sedang dikendarai adalah mobil kreditan yang baru lunas 4 tahun lagi.

Berbahagialah dimana pun anda berada. Saya masih terus yakin bahwa kebahagiaan sejati tidak diuukur dari materi. Bukan dengan sebagus apa mobil anda atau secepat apa motor anda. Meski saya pun masih terus ingin punya motor yang cepat dan mobil yang bagus. 🙂

Negara “Pengamen”

Setiap negara biasanya memiliki spesialisasi SDM unggul di bidang-bidang tertentu. Contoh pertama Jepang. Negara ini memiliki penguasaaan teknologi yang sangat tinggi. Penguasaan teknologi Jepang berpusat pada bidang industri elektronik dan otomotif. Siapa yang tidak tahu Sony, Honda, Yamaha, Mitsubishi, Fujitec dan sebagainya. Wujud-wujud real dari produk-produk teknologi tersebut sangat menggambarkan kualitas SDM mereka di bidang teknologi.

Kedua Israel. Konon sebagian besar ilmuan paling jenius di dunia ada di negara kontroversial ini. Dari banyak penguasaan teknologi, Israel sangat unggul di bidang teknologi persenjataan. Mulai dari persenjataan biologis hingga nuklir. Bukanlah hal yang menyenangkan dan tidak patut dikagumi. Namun fakta yang ada memang demikian adanya. Israel memiliki banyak sekali SDM-SDM yang menguasai teknologi persenjataan.

Ketiga, India. Beberapa tahun lalu saat menyebut India, orang akan berasosiasi ke film-film Bolywood dengan tarian-tarian dan pusar wanitanya. Namun sekarang ada impresi lain yang bangkit ketika mendengar kata India. India bangkit cepat dalam beberapa dekade terakhir. Mereka mulai bergerak membangun industri otomotif (ingat Bajaj, Tata) yang mulai mencoba merambah pasar dunia. Tidak ketinggalan mereka pun benar-benar memberikan perhatian yang khusus untuk perkembangan teknologi dan sains. Jika sesekali berjalan-jalan ke toko buku atau melihat-lihat katalog buku di amazone.com, banyak sekali buku-buku teknologi dan sains yang ditulis oleh orang India. Mulai dari buku-buku teknik elektronika, telekomunikasi, elektromagnetika, dan lain sebagainya. Hal ini cukup menggambarkan bahwa sangat banyak sekali SDM-SDM india dengan penguasaan teknologi yang sangat baik.

Masih berbicara tentang India. Satu fenomena penguasaan teknologi yang lain oleh SDM-SDM di negara ini ada pada bidang teknologi informasi. Banyak sekali perusahaan-perusahaan IT kelas dunia yang membuka research center di negara ini, diantaranya Microsoft. Banyak juga pekerjaan-pekerjaan di bidang IT di seluruh dunia yang di-outsource-kan oleh pekerja-pekerja India. Tentu saja hal ini bisa tercapai dengan kecanggihan teknologi informasi saat ini dimana perusahaan di satu negara bisa mengambil pekerja outsource di negara lain melalui komunikasi internet. Misalnya perusahaan amerika mengambil programmer-programmer India sebagai pekerja outsourcing dalam proyek perangkat lunak. Itu semua menggambarkan betapa banyaknya SDM-SDM berkualitas pada bidang IT di India.

Selain ketiga negara tadi tentu saja ada asosiasi-asosiasi khusus yang terlintas di kepala saat mendengan nama suatu negara berkaitan dengan SDM di negara tersebut. Mendengar Argentina atau Brazil, kita akan mengingat pesepak bola handal. Mendengar Prancis dan Italia kita akan teringat seni dan fashion. Mendengar Indonesia? Paragraf berikut akan membahasnya.

Saat mengingat Indonesia dalam hal penguasaaan teknologi dan SDM, akan mengingatkan saya pada hal-hal berikut: pak ogah, calo, tukang parkir dan pengamen. Loh, maksudnya apa? Ya 4 profesi itulah yang sangat berkembang pesat di Indonesia.

Pak Ogah (polisi cepek) akan sering terlihat di perempatan jalan, persimpangan jalan dan di putaran U (U turn). Tugasnya adalah memastikan mobil dapat melintas perempatan atau persimpangan atau akan mengambil putaran di jalan. Pada dasarnya pengendara mobil tidaklah membutuhkan Pak Ogah jika mereka terbiasa berkendara dengan tertib. Tapi ini Indonesia, negara di mana 99 persen pengendara kendaraan di jalan tidak bisa berkendara. Buktinya sebagian besar dari mereka tidak pernah mau mengalahdan berkendara dengan tidak tertib. Kondisi ini yang diambil Pak Ogah tadi dengan menawarkan jasa dari ketidaktertiban pengendara mobil itu sendiri. Free of charge? Tentu saja tidak. Paling tidak beberapa keping recehan (karena itu disebut polisi cepek atau pak ogah seperti tokoh di serial si unyil yang selalu meminta imbalan setiap membantu) harus siapkan pengendara mobil untuk menggunakan jasa Pak Ogah. Berbeda dengan penyedia jasa lain, jasa Pak Ogah sulit ditolak, sehingga jasa Pak Ogah sering digunakan karena terpaksa.

Berikutnya adalah calo. Secara terminologi calo berarti perantara dalam perdagangan antara penjual dan pembeli. Bahasa kerennya adalah broker. Dalam jual beli tanah, calo sering disebut biong. Pada konteks tulisan ini calo yang dimaksud adalah calo angkutan umum. Jadi tugasnya menjadi perantara antara penumpang dan pengemudi angkutan umum. Tugasnya mencarikan atau memanggil-manggil penumpang di terminal atau di setiap tempat pemberhentian angkutan umum. Keuntungan dari kehadiran calo sebenarnya hampir tidak ada. Saya yakin sebagaian besar penumpang angkutan umum yang akan berangkat ke suatu tempat bisa naik angkutan umum tanpa bantuan calo sekalipun. Pada kebanyakan kondisi, kehadiran calo lebih sering mengganggu daripada menguntungkan. Yang paling utama kehadiran calo menggerus pendapat supir angkutan umum. Bayangkan saja, saat ini di setiap tempat pemberhentian mobil selalu ada calo. Dengan hanya berkoar-koar menyebut trayek tujuan angkutan umum dan memanggil-manggil penumpang (misalnya, “Blok M… Blok M …) seakan-akan calo yang telah membuat penumpang mau naik. Dalam setiap pemberhentian tersebut supir pun harus mengeluarkan uang untuk membayar “jasa” calo yang ukurannya tidak kecil untuk ukuran penghasilan supir karena sifatnya yang kumulatif (ada calo di setiap tempat, harus bayar di setiap tempat). Penumpang pun secara umum tidak akan merasa nyaman dengan kehadiran calo. Ingin bukti? Coba saja saat waktu libur berjalan-jalan ke Terminal Kampung Rambutan di bagian terminal antar kota. Baru saja masuk sedikit, anda akan langsung ditarik-tarik dan ditanya secara kasar tujuan anda mau kemana dan dipaksa menggunakan bis tertentu.

Berikutnya adalah tukang parkir. Jasa parkir baik resmi atau pun yang liar adalah salah satu contoh sistem jasa yang tidak fair. Pengguna jasa harus mengeluarkan biaya parkir yang tidak murah, namun penyedia jasa tidak pernah mau sedikit pun mengganti kerugian atau kerusakan kendaraan yang dititipkan (ini tertera pada setiap karcis layanan parkir resmi). Untuk keberadaan parkir resmi sepertinya tidak telalu memusingkan karena layanan yang lebih terkoordinasi, seperti di perkantoran atau di pusat perbelanjaan. Yang mengganggu adalah jasa parkir liar. Mereka hadir di tempat-tempat yang sebetulnya tidak memerlukan jasa mereka. Di depan mini market (padahal jelas-jelas ada tulisan di tembok “parkir gratis”), di tempat makan dan tempat-tempat lain. Untuk pengendara mobil tukang parkir akan sibuk sok-sok-an memberi panduan pemarkiran mobil, meniup-niup peluit. Pada pengendara motor meraka akan sok sibuk juga membantu menarik motor keluar meskipun padahal tidak ada jasa dari mereka yang kita perlukan.

Berikutnya adalah pengamen. Akan selalu di jumpai di bis kota hampir setiap hari dan setiap saat. Jasa mereka (menurut klaim mereka) adalah menghibur penumpang yang kebosanan di perjalanan. Fakta: kehadiran pengamen membuat penumpang semakin bosan dan tidak nyaman. Hal-hal yang mengganggu dari pengamen: pertama mengganggu waktu istirahat penumpang, membuat kebisingan di bis dengan nyanyian tidak jelas yang mereka sebut dengan seni. Kedua, membuat bis sempit dan tidak nyaman. Ketiga selalu mengeluarkan slogan-slogan atau pernyataan yang menggelikan. Misalnya di bagian penutup mereka hampir pasti akan selalu berkata “semoga dari depan ke belakang masih ada penumpang dengan “jiwa sosial”-nya yang masih mau berbagi … bla … bla …”. Terminologi baru pertama: jiwa sosial. Definisi: (versi pengamen) orang yang berjiwa sosial adalah orang yang selalu memberi uang pada pengamen. Contoh yang lain: “seribu dua ribu tidak akan membuat anda jatuh miskin … bla… bla…” Yang lain lagi: “kami doakan untuk yang memberi dapat masuk surga. Untuk yang tidak memberi … masuk surga juga tapi belakangan.”

Tulisan ini saya buat bukan untuk mengundang kontroversi. Saya juga sadar bahwa tidak semua orang dilahirkan dalam keadaan beruntung dan dapat memilih untuk menjadi apa. Kemiskinan dan keterbatasan adalah realita yang jamak di Indonesi. Tapi saya juga yakin menjadi pak ogah, calo, tukang parkir bukanlah pilihan akhir. Selalu ada kemungkinan untuk memilih pekerjaan yang lebih berharga, lebih bermanfaat dan tidak mengganggu orang lain. Itu hanya dapat dicapai dengan usaha keras dan kemauan yang kuat. Hal tersebut juga selalu sangat mungkin apalagi melihat sebagian besar “profesional-profesiaonal” di empat bidang tadi adalah orang-orang yang masih muda dan dapat mengambil pekerjaan yang lebih bermanfaat daripada terus melakukan profesi yang mereka dengan alasan tidak ada pekerjaan lain. Sebagai contoh, saya lebih menghormati pedagang asongan atau tukang koran daripada pengamen. Effort tukang koran dan pedagang asongan lebih nyata. Untuk mendapat sedikit saja, mereka harus turun naik bis, menggotong-gotong barang dan mengejar target menjual sebanyak mungkin barang. Tukang koran dan pedagang asongan turut berkonstribusi memutar roda perekonomian meski dalan skala mikro. Membeli stok baru kemudian menjual lagi.

Ada beberapa dampak buruk dari pembiaran kondisi ini. Yang paling nyata, semakin banyak orang yang kehabisan kreativitas dan mengambil jalan akhir untuk menjadi pak ogah, calo, tukang parkir atau pengamen dengan alasan tidak ada pekerjaan lain. Ini sudah terlihat jelas indikasinya saat ini. Di bis kota setiap selesai “pentas” satu pengamen, pengamen berikut akan langsung naik melanjutkan pentas. Di setiap pemberhentian angkutan umum, hampir pasti ada calo. Di setiap petak pinggir jalan, hampir pasti ada tukang parikr. Di setiap putaran hampir pasti ada pak ogah. Lama-lama negara ini bisa-bisa mejadi negara calo, negara pak ogah, negara pengamen atau negara tukang parkir. Bila demikian entah kapan kita bisa memiliki orang-orang dengan penguasaan teknologi canggih seperti orang Jepang, memiliki orang-orang dengan kemampuan penguasaan teknologi persenjataan seprti Israel, memiliki pakar-pakar IT handal seperti India, memiliki desainer dan seniman kelas dunia seperti orang Prancis atau Italia?

Saya bukan antropolog, saya bukan sosiolog. Sekali lagi, tulisan ini bukan bermaksud menyerang atau merendahkan siapa pun. Ini hanyalah satu bentuk keprihatinan dan renungan dari fakta-fakta yang saya saksikan setiap hari di dunia ini. Semoga dari renungan ini dapat keluar aksi sekecil apapun yang dapat memperbaiki apa-apa yang tidak baik.

Sehat tapi Miskin atau Kaya tapi Sakit

Salah satu buku bagus yang pernah saya baca adalah La Tahzan karya Dr. Aidh Al Qarni. Saya yakin juga kebanyakan orang sudah pernah membacanya (paling tidak melihat sampulnya atau mendengarnya lah). Di buku tersebut si penulis mencoba mengingatkan pembacanya untuk tidak bersedih (La Tahzan) karena banyak sekali nikmat Allah Swt yang harus disyukuri.

Ada satu nikmat yang melekat pada kebanyakan orang, namun jarang disyukuri. Ia adalah kesehatan. Meski tidak punya uang, makan seadanya, banyak hutang asalkan sehat itu sudah lebih dari cukup. Uang bisa dicari. Makanan bisa diusahakan. Hutang bisa dibayar. Namun sadarkah orang akan hal tersebut. Kebanyakan tidak.

Beberapa bulan lalu saya juga pernah menonton mini seri (atau apapun istilahnya) Jepang, One Litre of Tears. Salah satu film terbagus yang pernah saya lihat yang menceritakan tentang perjuangan seorang wanita muda melawan penyakit ganas langka di tubuhnya. Bagaimana si wanita muda harus menghadapi pengucilan, rasa sakit dan kehidupan yang berubah. Kehidupan pun berjalan tidak biasa bagi orang-orang yang tidak sehat. Langit terlihat suram, wajah-wajah senyum pun terlihat kaku. Bunga pun tercium hambar.

Kebanyakan orang baru merasakan nikmat sehat ketika sakit. Tidak menjadi hal yang berat bila sakit yang menyerang adalah penyakit biasa yang ringan, yang dapat kembali sembuh dalam waktu yang dekat. Namun di dunia ini setiap saat beberapa orang tertentu harus menghadai serangan dan vonis penyakit yang mematikan. Ketika dokter atau pakar ahli mengatakan dengan berat “mungkin … usia anda tinggal beberapa bulan lagi”. Pada masa itu tiba-tiba hidup pun terasa sangat berharga. Kematian memang di tangan Allah. Sakit juga adalah penghapus dosa bila dihadapi dengan sabar.

Jika bisa memilih, berarti ambil yang mana? Sehat tapi Miskin atau Kaya tapi Sakit? Saya akan memilih Kaya dan Sehat.

Chrome: Google Web Browser plus download komiknya

Google telah mengeluarkan sebuah web browser. Nampaknya sangat ofensif sekali perusahaan raksasa yang didirikan Larry Page dan Sergey Brin ini. Sangat jelas mereka benar-benar menguasai internet.

Agak sedikit tidak lazim, nama browsernya chrome. Untuk yang tertarik bisa mendownload di sini.Secara tampilan dan antar muka chrome benar-benar unik. Terasa sangat ajax dan menurut klaimnya, chrome dihadirkan unruk menjadi browser ringan dan sesuai dengan dunia web masa kini.

Untuk yang ingin tahu kelebihan dan sejarah pengambangan chrome dapat membaca komik yang bisa didownload di sini. Brought to you just for my blog reader.

Selamat Pagi

Hari yang agak kurang baik. Entah kenapa dua hari ini sering merasa ngantuk banget. Padahal sejak dulu meski bukan bulan puasa, biasanya bangun pagi tidak samapai sengantuk seperti sekarang. Karena nggak nahan, biasanya sehabis sahur tidur lagi paling tidak 2 jam. Baru jam 7 berangkat ke kantor. Karena berangkat jam 7 terpaksa deh harus naik motor. Biar samapai kantor tidak terlalu kesiangan.

Tadi pagi awalnya memang segan banget naik motor. Pengen naik bis biar bisa tidur. Tapi nekad juga naik motor. Terjawablah kenapa rasa segan itu muncul ketika sudah jalan. Ternyata ban nyium paku di jalan. Dorong sekitar 200 meter. Ternyata ban dalamnya sobek. Gak bisa ditambal. Melayanglah 30.000 dari dompet. Hiks. Maksud hati pengen cepet sambil menghemat ongkos, malah gini jadinya. Harus sabar dan ikhlas.

Akhirnya jam 9 sampai juga di Hang Jebat (kantor ku). Seperti biasa masih sepi. Ngotak-ngatik kode php sebentar. Eh ternyata bos ku nelpon. Aku dipindah lagi task projectnya. Yang proyek php dipending (aku nggak jadi bantu ngerjain). Aku disuruh siap-siap develop ERP system pake Java. Senangnya.

Tentang Cinta Sejati

Jumat lalu saya mengunjungi seorang kawan sepulang dari kantor. Sudah hampir sejak sebulan lalu ingin mengunjunginya. Baru kesampaian kemarin. Seperti biasa, selalu ada hal yang bisa dipetik setiap bertemu dengan orang.

Kawan saya tersebut adalah seorang wanita. Katakanlah namanya Siska (bukan nama sebenarnya). Temen kampus. Saya sudah lulus, sementara ia sedang menargetkan diri untuk bisa lulus semester ini. Maklum, ia memang sangat sibuk. Secara jujur, tujuan awal saya mengunjunginya adalah untuk mencari teman berbagi dan curhat. Anak muda jaman sekarang (ternyata gw memang udah tua ya) bilang istilahnya PDKT.

Selepas magrib saya sampai di rumah Siska. Orangnya sangat ramah sekali dan menyambut dengan sangat baik. Obrolan pun dimulai dari masalah kuliahnya, kerjaan saya, masalah target hidup, cita-cita, kawan-kawan dan sebagainya. Selama ngobrol itu pula hati ini terus bertanya-tanya is she the one that I have been searching for?

Semuanya berubah menjadi sangat mengejutkan ketika sekitar jam 8 lewat seorang laki-laki datang ke rumah. Oleh Siska pria itu pun dikenalkan kepada saya. “Oh Jon yang kerja di Kebayoran itu ya?” Kata pria tersebut seakan-akan sudah banyak mengetahui seluk beluk saya. Ngobrol-ngobrol sedikit, pria itu pun berpamitan pulang. Setelah lelaki itu pergi, saya pun bertanya pada Siska. “Siapa? Sodaramu?” Tanya saya.

“Bukan. Cowok gue.” Kata Siska.

Wakzsszs! Kalau di film kartun mungkin dagu saya sudah jatuh ke lantai dan mata meloncat keluar. “Apa!” Teriak saya dalam hati. Sambil saya mencari akal agar tidak mati gaya. Untung saja tadi saya belum mulai ofensif.

“Dijodohin sama orang tua gw. Akhir April lalu dia udah ngelamar. Insya Allah setelah wisuda mau segera nikah” Kira-kira demikian Siska lanjut berbicara.

Agar tidak semakin kikuk, saya pun berusaha berpura-pura tenang sambil sebisa mungkin melanjutkan obrolan. Padalahal di dalam saya sudah ingin meledak dan merasa seperti orang goblok. Benar-benar goblok.Bertandang ke rumah perempuan yang sudah dilamar orang. Bertemu dengan calon suaminya. Bahkan tadi saya bertemu dengan ayah Siska juga.

“Lo sendiri gimana Jon? Kapan nikah?” Tanya Siska.

Saya diam sejenak. “Kalo gw kayaknya masih lama. Nunggu agak mapan dulu… Punya rumah. Punya kendaraan. Punya tabungan.”

“Oh gitu. Tapi itu bisa jadi ujian loh, Jon.”

“Maksudnya?”

“Yah, nanti lo harus bisa meyakinkan benar. Apakah cewek yang nanti elo pilih ketika lo udah mapan, memang benar mencintai lo. Atau justru hanya sekedar mencintai harta elo.” Saya pun agak terkesiap. Kami
masih terus berbicara beberapa hal, hingga akhirnya saya pamit pulang.

Sepanjang perjalanan pulang saya pun terus berpikir. Apa sih sebenarnya definisi dari cinta? Apa sih cinta sejati itu? Yang pasti itu adalah sesuatu yang menerabas batas fisik dan materi. Bukan sekedar diukur dari keelokan wajah. Kemewahan harta. Dalam dinginnya malam saat perjalanan pulang saya pun terus bertanya. Adakah cinta sejati saya di luar sana? Yang menerima saya apa adanya. Mau menjadi komplementer untuk saling mengisi dan mengingatkan. Saya tidak perlu mencari jawabannya. Karena sayalah, mungkin, yang akan menentukan jawabannya.