Jon Flashpack to Bali – Part 4: Ubud, Bedugul, Pura Ulundanu, Bayan Lake, and Tamblingan Lake

26 Juni 2011

Part 1 berikut pengertian flahpack bisa dilihat di sini.

Part 2 bisa dilihat di sini.

Part 3 bisa dilihat di sini.

Pagi itu saya keluar dari hotel sekitar jam 8. Yang terpikir di pagi itu adalah untuk pergi ke arah utara. Yang terlintas di benak adalah ke Ubud lalu lanjut ke Pacung kemudian Bedugul. Lalu saya pun melihat di Peta ke utara lagi dari Bedugul ada dua danau berdekatan Tamblingan dan Bayan.

Ubud
Sekeluar dari hotel meski belum makan saya langsung gas poll ke arah utara.  Buka google maps, set tujuan Ubud. Di tengah jalan saya menyempatkan diri mampir ke alfamidi membeli minuman. Kemudian saya juga langsung makan siang di sebuah kedai ayam taliwang di sebrang alfamart. Kebetulan di plang rumah makan tersebut memasang label halal.

Setelah makan lanjut menuju Ubud. Saya lupa arah perjalanan menuju Ubud namun yang pasti saya melewati Sukawati, pasar yang sangat terkenal di Bali jika ingin mencari pernak-pernik oleh-oleh berharga murah.

Lepas dari Sukawati tak lama akhirnya masuk ke Ubud. Ubud adalah daerah di Bali yang terkenal sebagai pusat pengrajin dan barang-barang seni. Saat sampai di Ubud saya hanya merayap sebentar sambil lirik kiri kanan. Saya ragu jika ada barang kerajinan yang lebih murah dari 50.000 di tempat itu.

Setelah puas larak-lirik sejenak, saya langsung gas poll lagi ke arah Pacung kemudian Bedugul. Ada apa di Pacung? Ada Bali Camp, sebuah software house yang sangat terkenal di Bali bahkan di Indonesia. Tujuan ini menjadi menarik karena beberapa teman kantor saya adalah alumnus Balicamp. Kebetulan Pacung mau tak mau harus dilewati jika mau menuju ke Bedugul.

Dari Ubud menuju Pacung dan Bedugul saya mengarah ke Barat sambil mengikuti petunjuk google maps. Pemandangan di kanan kiri sangat indah dengan persawahan dan rumah-rumah pedesaan Bali. Sempat turun hujan juga sepanjang perjalanan.

Saat sudah sampai di daerah Pacung saya agak kesulitan mencari Balicamp. Malas mencari akhirnya saya lanjut saja ke arah utara. Lewat dari Pacung tiba-tiba jalanan mulai merayap. Kebetulan memang musim liburan kendaraan memang sangat padat. Oleh karena tak sabaran saya berusaha terus menyalip mobil-mobil di depan saya. Masih bisa terus menyalip lama semua mobil dari selatan mengambil jalur kanan. Akhirnya tak lama semua kendaraan terjebak tak bisa bergerak, karena mobil dari selatan mengambil semua jalur sehingga mobil dari utara tak bisa turun. Jadi maju tak bisa mundur tak bisa. Mungkin ada sekitar 30 menit saya terjebak di macet hampir total.

Ulundanu
Perlahan sambil tune radio dengan cukup keras akhirnya mobil bisa kembali merayap. Setelah maju agak ke depan barulah saya tahu penyebab kemacetan parah. Banyak sekali bus-bus pariwisata yang parkir di kiri kanan jalan. Setelah lewat kemacetan kembali tancap gas menuju Bedugul. Di tengah jalan menyempatkan diri mampir di pom bensin untuk beristirahat sekaligus shalat Zuhur jamak Ashar.

Setelah shalat kembali lanjut ke arah utara yang semakin menanjak. Sesekali harus berkejaran dengan bus-bus panjang di jalan yang cukup menanjak. Tak berapa lama akhirnya terlihat danau besar di sebelah kanan dan banyak kendaraan yang belok ke arah kanan. Welcome to Pura Ulundanu.

Pura Ulundanu adalah sebuah Pura yang terletak di tepi Danau Beratan. Pemandangan di tempat ini benar-benar cantik. Udara sangat sejuk, dan agak berkabut serta sesekali gerimis. Namun tempat ini sangat ramai sekali. Meski tadi sempat terjebak macet parah, seperti terbayar ketika tiba dan melihat pemandangan alam di sekitar Pura.


Kamera ready and action. Langsunglah saya ke sudut-sudut menarik dan mengambil beberapa foto. Udara yang benar-benar sejuk membuat saya sangat betah berlama-lama di sini. Susahnya jalan sendiri adalah saat urusan berfoto. Tak hilang akal saya mencari objek datar di mana saya bisa meletakan kamera. Setelah kamera disimpan langsung pangsang timer dan ngacir ke depan kamera berpose dengan cepat. Terkadang jika tak terlalu tengsin sesekali saya juga minta tolong ke orang lain untuk dijepretkan foto.

Setelah puas berkeliling saya pun keluar dan kembali ke tempat parkir. Di depan ada beberapa toko souvenir. Sejenak saya mampir di salah satu toko. Kebetulan sekali penunggunya adalah seorang wanita berkerudung. Sambil melihat-lihat souvenir saya pun memulai obrolan ringan. Saya bertanya apakah ia asli Bali atau tidak. Ternyata iya, ia bercerita keluarganya sudah muslim semua sejak generasi kakeknya yang sudah menjadi mualaf. Si penjual itu pula bercerita mengenai di depan Ulundanu ternyata banyak sekali perkampungan muslim. Bahkan di Bali keseluruhan persentase muslim saat ini sudah cukup banyak. Dari obrolan tersebut pada akhirnya saya mendapat potongan harga lumayan untuk beberapa souvenir seperti gantungan kunci dan magnet kulkas.

Danau Bayan dan Danau Tamblingan

Setelah dari Ulundanu, berikutnya saya ke arah utara menuju Danau Bayan dan Tamblingan. Ke utara lagi dari Ulundanu jalanan semakin mirip daerah Puncak Bogor. Jalanan kecil berkelok-kelok tajam. Namun bedanya di Bedugul tak ada kebun teh. Setelah terus menanjak sambil sesekali harus menyalip lihai bus-bus pariwisata yang kehabisan napas, akhirnya saya tiba di pertigaan menuju danau kembar. Saya langsung ambil kiri dan mengikuti jalan yang agak kecil.

Setelah berkendara sekitar 5 Km ke dalam akhirnya tampaklah si danau kembar. Memang saya tak turun ke bibir danau. Namun pemandangan dari atas yang saya lihat pun sudah sangat mengagumkan. Foto-foto sejenak, kemudian balik arah pulang.


Perjalanan pulang saya mampir di Masjid Al Hidayah yang berada persis di depan Pura Ulundanu. Saya shalat Maghrib karena bertepatan adzan Maghrib. Saat perjalanan turun kabut turun dengan sangat pekat. Jarak pandang mungkin hanya 5 meter ke depan.


Setelah shalat maghrib udara sangat dingin sekali. Ternyata di dekat masjid ada sebuah warung makan muslim. Saya pesan semangkuk soto ayam dan teh manis panas. Hidangan yang sangat cocok di udara dingin seperti saat itu. Sambil makan saya menyempatkan diri mencharge tablet yang kebetulan sudah sekarat.

Setelah makan saya lanjut kembali turun ke arah selatan. Perjalanan pulang ini saya agak sedikit kesetanan dengan berjalan kencang-sekencangnya. Rata-rata 80-100 Km perjam. Padahal saat di daerah puncak masih agak-agak berkabut. Saat menyalip pun benar-benar harus berhati-hati. Dengan kecepatan tersebut alhasil saya bisa sampai lagi di Denpasar dalam 2 jam saja.

Saya pun langsung mengarah ke Sanur untuk singgah di rumah sepupu saya. Kebetulan kami sudah tak bertemu 2 tahun lebih. Saya pun berbincang-bincang dengan sepupu saya tersebut hingga tengah malam lewat. Tengah malam saya pun pamit pulang untuk kembali ke Hotel di Kuta.

Expense:

  • Makan Siang Taliwang: 24.000
  • Bensin 65.000
  • Parkir Ulundanu 5.000
  • Ulundanu: 10.000
  • Makan Malam Soto Ayam plus Teh Manis: 12.000
  • Total: 116.000

Part 5 ada di sini.

Jon Flashpack to Bali – Part 3: Denpasar, GWK and Uluwatu

25 Juni 2011

Part 1 berikut pengertian flahpack bisa dilihat di sini.

Part 2 bisa dilihat di sini.

I love holiday!

Denpasar
Hari pertama di Bali saya awali dengan muter-muter ngukur aspal dalam kota antara Kuta dan Denpasar. Maksud hati pagi-pagi tersebut ingin mecari sarapan bubur atau apa gitu. Namun tak dapat yang sreg. Apalagi masih was-was juga mencari tempat makan yang halal. Setelah sampai Denpasar akhirnya saya jalan kembali ke arah Kuta. Di jalan menyempatkan diri mengisi bensin si Silver full tank agar leluasa berpergian nantinya.

Di Kuta saya akhirnya masuk ke Kuta Square salah satu pusat perbelanjaan yang sangat dekat dengan pantai Kuta. Saya parkir ke basement dan langsung menuju McDonalds untuk makan siang. Setelah makan kemudian saya menuju Foodmart untuk membeli kebutuhan kosmetik harian selama liburan. Amblaslah 100.000 lebih untuk keperluan belanja ini. Setelah belanja saya simpan belanjaan ke mobil kemudian shalat di mushola yang kebetulan ada di basement parkiran tersebut.

GWK
Sehabis shalat sebenarnya masih linglung mau meluyur (maksudnya ngeluyur yang dibakukan) kemana. Tiba-tiba ilham menginspirasi sayah untuk pergi ke Garuda Wisnu Kencana (GWK). GWK adalah sebuah cultural park, tempat di mana ada banyak pementasan seni, pemutaran film dan terutama patung Garuda Wisnu yang hingga saat kunjungan saya masih belum selesai. Di samping itu di sepanjang GWK juga telah dibuat pahatan batu alam yang membentuk lorong-lorong yang cukup cantik. Kemudian ada banyak fasilitas hiburan juga di sana. Seperti outbound, segway (kendaraan beroda dua kiri-kanan dan dijalankan dengan memiringkan tubuh ke depan dan belakang) serta ATV.

Saya kemudian masuk mobil, turn on google maps, set destination lalu langsung cabut. GWK ada di jalan raya Uluwatu. Dari Kuta kita tinggal mengarah ke Selatan melewati airport. Di tengah jalan, entah GPSnya yang error atau sayanya yang dodol, saya belok masuk ke jalan kecil yang cukup jauh. Baru setelah sekitar 2 Km ke dalam saya sadar sudah salah jalan. Langsung putar balik dan melaju ke arah seharusnya. Terus saja mengikuti Jalan Raya Uluwatu tak lama akhirnya saya tiba di pintu depan GWK. Saya langsung masuk ke dalam beberapa ratus meter hingga akhirnya tiba di antrian loket tiket. Biaya masuk GWK 25.000 perorang dan parkir mobil 5.000.

Dalam GWK saya berkeliling sejenak. Masuk melihat pertunjukan tari-tarian orang bertopeng dengan lakon tertentu. Lakon disampaikan dengan bahasa Bali dan cukup lucu meski saya tak mengerti. Sehabis melihat tarian saya langsung menuju area utama. Sebuah tanah lapang dan tangga menanjak menuju patung garuda. Patung wisnu sendiri harus menanjak beberapa tangga lagi. Setelah puas melihat-lihat kemudian saya turun dan menuju lorong-lorong batu untuk foto-foto sejenak. Kemudian setelah merasa puas langsung ke arah luar.

Pura Luhur Uluwatu
Entah dapat inspirasi dari mana, tujuan berikutnya langsung saya tetapkan Pura Luhur Uluwatu karena kebetulan destinasi ini searah dari GWK ke selatan lagi. Satu penyesalan saya melakukan perjalanan tanpa persiapan adalah saya tak tahu bahwa ada pantai yang cukup bagus dekat GWK yang bernama pantai Dreamland. Padahal jika saya tahu saya bisa mengunjunginya sekaligus.

Dari GWK ke Uluwatu jika tak salah memakan waktu perjalanan sekitar 45 menit dengan kecepatan sedang. Selain Dreamland sebenarnya ada banyak pantai di sekitaran Uluwatu ini. Namun itulah saya benar-benar bias tanpa rencana. Tak lama saya tiba di gerbang dekat Uluwatu. Untuk masuk ditagih uang parkir 1.000 rupiah. Setelah parkir mobil langsung menuju pintu masuk.

Biaya masuk pura adalah 3.000 rupiah kemdian, karena saya bercelana pendek, maka saya harus dipakaikan kain sarung sebelum masuk. Setelah masuk saya langsung disambut beberapa ekor monyet yang sangat lucu sekali. Ya sampai kunjungan saya ke Uluwatu ini saya memandang hewan yang sangat lucu. Saya berjalan mendekati monyet si monyet pun mendekati saya. Kami pun berpandang-pandangan sejenak (halah ya ampun). Tiba-tiba si monyet menarik kain sarung saya dan memanjat ke pinggang saya lalu mencoba merampas botol plastik yang saya sangkutkan di tas kecil yang saya slempangkan. Secara refleks saya langsung mencoba merebut botol air mineral yang sudah sempat direbut si monyet. Terjadilah pergumulan cukup sengit antara Jon versus monyet rebutan botol air mineral. Pada akhirnya petugas pura kemudian menghentak-hentakan kayu ke tanah lalu si monyet pun kabur, botol air mineral saya selamat. Sejak saat itu monyet tak lucu lagi bagi saya. 😀

Oke welcome to Uluwatu. Pura Uluwatu terletak di tebing pinggir pantai. Di pura ini pula ada ratusan atau mungkin ribuan monyet liar. Hal-hal yang harus diperhatikan saat datang ke tempat ini adalah pastikan semua barang berharga yang kita bawa ada di tempat yang aman. Entah karena diajari atau memang bawaan ketertarikan alaminya, ratusan monyet yang ada di sana akan selalu berusaha merebut benda-benda yang menarik baginya. Misalnya kacamata, kamera, sendal, dompet dan bahkan telepon seluler.

Okelah sekian dulu cerita tentang monyet. Pemandangan di pura ini sangat cantik. Wilayah pura pun cukup luas. Saya menyempatkan diri berjalan mengelilingi bibir tebing di sekeliling pura. Dari atas pura ke laut di bawahnya berjarak cukup tinggi. Jika kepeleset jatuh ya bisa cukup asoi rasanya :p. Tapi tak perlu khawatir, sepanjang bibir tebih telah dipagar tembok cukup tinggi.

Setelah berkeliling-keliling sejenak yang cukup menguras keringat saya pun beristirahat sambil tetap waspada. Monyet ada di mana-mana. Waktu menunjukan sekitar pukul 17.00. Saya berencana untuk menikmati sunset di sini. Dekat ke waktu sunset saya berjalan ke arah selatan pura. Di sana ada hamparan padang rumput dan pandangan langsung ke arah laut di mana matahari perlahan turun. Indah sekali.

Setelah matahari terbenam penuh saya langsung menuju ke arah luar. Ketika sudah berada di luar ternyata parkiran sudah sangat penuh sekali. Jadi tips untuk yang ingin mengunjungi Uluwatu, pastikan datang setidaknya jam 4 sore. Setelah jam tersebut akan sulit mencari parkir karena pengunjung yang membludak ingin menikmati matahari terbenam.

Saya langsung masuk mobil kemudian merayap pelan keluar mengantri bersama-sama mobil lain yang juga hendak pulang. Setelah di jalan raya langsung gas poll lagi ke arah kuta. Jam sudah menunjukan pukul 18.30. Saya tak tahu mau kemana lagi namun yang pasti perut lapar sangat.

Akhirnya di jalan saya memutuskan ke arah Kuta lagi. Setelah sampai pantai Kuta saya langsung parkir mobil dan masuk ke area pantai melihat suasana malam di situ. Setelah puas langsung keluar bertanya ke orang sekitar sana di mana bisa makan ayam betutu. Beberapa orang yang saya tanya menunjukan arah ke Jalan Mataram. Lalu ada juga yang menyarankan untuk mencari di Popies Lane 2. Penasaran, karena kebetulan sudah di Kuta saya masuk ke Popies Lane 2 untuk melihat-lihat. Setelah jalan cukup jauh ke dalam, karena merasa tak menemukan yang saya cari akhirnya saya kembali jalan ke arah pantai.

Setelah tiba di pinggir jalan saya menuju ke arah hardrock hotel, ingin foto-foto di sana. Ketika jalan tiba-tiba ada semacam food court. Penasaran saya masuk ke dalamnya dan langsung menanyakan ayam betutu. Beruntung salah satu stall menyediakan makanan tersebut. Setelah saya melihat dia memasang halal yang cukup besar, saya langsung pesan satu porsi. Setelah makan dan merasa kenyang saya pun urung untuk foto-foto di hardrock hotel. Akhirnya saya putuskan pulang ke hotel lagi.

Expense:

  • Bensin 125.000
  • Supermarket 112.000
  • Lunch Mcd 20.000
  • Dinner kuta 38.000
  • Gwk 25.000
  • Parkir Gwk 5.000
  • Uluwatu 3.000
  • Parkir Uluwatu 1.000
  • WC 3 * 2.000
  • Total:  335.000

Bersambung ke part 4.

Jon Flashpack to Bali – Part 2: Landing and Hotel Check In

Part 1 dan pengertian flashpack bisa dilihat di sini

Pesawat yg akan membawa saya ke Bali ternyata delay sekitar 1 jam. Saya baru boarding jam 9. Dengan keterlambatan tersebut, saya pun akhirnya terlambat sampai Bali. Landing sekitar jam 11.30 dan baru keluar bandara jam 12.00 malam.

Alhamdulillah sebelum take off saya sudah kontak orang rental mobil untuk pick up saya di airport. Alangkah baiknya orang tersebut mau menunggu saya sejak jam 8 malam. Apalagi Pak Ngurah (nama penjemput saya) menunggu bersama istrinya. Meski untuk pick up tersebut saya harus membayar 80.000 rupiah. Tak apalah. Lagi pula jika memakai taksi pun akan membutuhkan biaya yang sama.

Lucunya malam tersebut saya belum ditagih uang sepeser pun untuk membayar biaya rental. “Nanti saja” kata pak Ngurah, “biar atasan saya yang mengurus”. Setelah menandatangani surat perjanjian rental Pak Ngurah dan istrinya pamit. Tinggalah saya sendiri bersama si Silver sang mobil pinjaman. Halah :p.

Tujuan pertama adalah makan. Namun saya sebelumnya tak pernah ke Bali di mana pula harus mencari makan di tengah malam seperti waktu itu? Belum lagi saya pun tak tau di mana hotel saya berada. Tak apalah mungkin inilah the art of solo journey. Beruntunglah saya yang lahir di era teknologi canggih. Saya punya GPS yang bisa memandu saya ke mana saja.

Turn on GPS, start the car, get set go. Saya langsung ke luar airport. Bayar parkir 9.000. Lalu langsung meluncur ke arah Kuta tempat hotel saya berada. Saya pikir untuk masalah makan, akan saya cari saja sepanjang jalan menuju hotel. Setelah beberapa waktu saya menemukan KFC 24 jam di daerah jalan raya kuta. Langsung masuk ke parkiran, lalu menuju konter pemesanan. Saat naik, ya ampun banyak sekali orang yang mengantri. Saya puruskan tak jadi makan KFC. Langsung keluar lagi.

Sepanjang jalan sempat lirik-lirik beberapa tempat makan juga. Namun rasa kantuk sudah tak tertahankan. Akhirnya sudahlah menuju hotel saja.

Tune Hotels Kuta letaknya dalam gang yang hanya pas muat satu mobil. Saya sempat berputar-putar beberapa kali hingga akhirnya bisa menemukan hotel ini. Karena gang depan persis hotel teramat sempit kemudian hotel juga tak punya lahan parkir, terpaksa saya parkir di jalan depan gang. Jadi harus jalan sekitar 10 meter ke dalam gang. Tak terlalu jauh sih. Setelah saya tanya ke satpam hotel lagi pula tak apa parkir di depan jalan tersebut. Asal saat pagi harus segera bawa mobil jalan karena akan banyak motor yang akan parkir.

Setelah sampai konter hotel saya langsung check in dan dapat kamar nomor 29 di lantai bawah. Setelah check in langsung masuk kamar. Buka packing barang dan mandi air panas. Setelah mandi sempat browsing-browsing internet sejenak merancang plan di hari Sabtu. Tak kuat akhirnya tertidur. Zzzz. Lanjut part berikutnya.

Expense malam pertama di Bali:

  • Pocari Sweat 8.000
  • Pick up Fee 80.000
  • Bensin 100.000
  • Parkir airport 9.000
  • Air Mineral 4.000
  • Total: 211.000

Bersambung ke part 3.

Jon Flashpack to Bali – Part 1: Latar Belakang and Take Off

Latar Belakang
Jiah kayak paper aja segala kudu pake latar belakang. Okelah begini ceritanya. Berhubung saya katrok, sejak lahir saya belum pernah sekali pun menginjakan kaki di destinasi wisata paling terpopuler di Indonesia ini. Namun, meskipun katrok (I’ve mentioned twice) saya adalah individu yang cinta perubahan sehingga ingin melepaskan diri dari kekatrokan tersebut. Maka dari itu sejak jauh-jauh hari saya bertekad untuk bisa traveling ke Bali. Buat orang lain, pergi ke Bali mubgkin gampang dan terjangkau. Namun tidak bagi saya si pria biasa ini (halah). Saat ada uang eh saya tak ada waktu. Saat ada waktu justru uangnya yang tak ada. Malahan terkadang uang tak ada waktu jg tak ada. :p

Sejak awal tahun 2011, saya sudah memantek tanggal-tanggal merah sepanjang tahun. Setelah menimbang dan memikirkan (halah kayak mau bikin RUU), saya memutuskan mengambil rentang tanggal 24-29 Juni 2011 untuk alokasi trip ke Bali. Kebetulan 29 Juni adalah public holiday, sehingga saya cukup mengambil cuti 2 hari saja pada Senin 27 dan Selasa 28 Juni dan mendapat total waktu 5 hari 5 malam untuk liburan. Pada awalnya saya sempat berpikir menyapu habis liburan hingga 8 atau 9 hari sekaligus berangkat ke Lombok. Namun keterbatasan alokasi dana membuat saya urung mewujudkan rencana ini. Lagi pula saya ingin trip santai dengan fokus mengunjungi satu destinasi dari pada terlalu banyak destinasi namun jadi serba terburu-buru. Ok Lombok I will visit you soon.

What is Flashpack

Menurut wikipedia, flashpack adalah mode traveling yang tidak seirit backpacking. Artinya saat orang backpacking ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk menekan cost yang akan keluar. Misalnya dengan memilih hotel yang lebih murah, berpergian dengan jalan kaki dan makan-makanan seirit mungkin. Di sisi lain flashpacking adalah aktivitas traveling yang tak masalah untuk mengeluarkan budget sedikit lebih besar demi kenyamanan perjalanan. Kemudian flashpacker juga sangat memanfaatkan teknologi. Misalnya menggunakan GPS sepanjang perjalanan, membawa kamera DSLR atau bahkan laptop sekaligus. Dari kriteria-kriteria tersebut nampaknya traveling saya kali ini lebih cenderung menggunakan mode flashpack daripada backpack.

Preparationg
Sekitar 2 bulan sebelum hari H saya sudah rajin berburu tiket murah. Namun semurah-murahnya yang didapat tetap tak terlalu murah juga. Saya dapat AirAsia dengan total harga pulang pergi Jakarta – Denpasar 1.125.00 sekian. Usai hunting tiket berikutnya adalah hunting hotel. Berhubung pengiritan sempet berpikir bawa tenda. Namun untung aja pikiran tersebut tak serius. Awalnya sayah ingin mencoba penginapan-penginapan di area poppies lane. Namun setelah dipikir-pikir lagi ingin cari aman akhirnya saya pilih Tune Hotels sajah. Pertimbangannya adalah harganya tak mahal-mahal amat meski pun tak murah-murah amat jg. Yang terpenting Tune Hotels bisa bayar pake kartu kredit. Jadinya bisa ngutang sebulan. Kemarin dapat total 950.000 sekian untuk menginap 5 malam.

Take Off
imageOkelah pada akhirnya semua hal terpenting sudah siap. Jadi sore tadi jam 5 tenk saya ngacir dari kantor karena mendapat flight jam 8 malam ini. Sejak siang saya sudah melakukan web checkin dan print boarding pass dan booking confirmation hotel. Masalah pun harus dipikirkan saat mau chiaouu dari kantor. Hari Jumat jam pulang.kantor pulak. Lalu lintas pasti sangat aduhai. Artinya keluar kantor Jam 5 kemudian harus checkin 45 menit sebelum take off di jam 7.45 adalah sangat mepet. Dengan tenggat waktu yang sempit tersebut opsi transportasi yang paling masuk akal hanyalah taksi. Saya ga suka taksi. Ya saya enjoy sih di dalam taksi. Ga sukanya saat harus membayar tarifnya. Namun apa daya naik Damri terlalu beresiko terlambat. Biarlah rejeki sang supir taksi.

Dari Sudirman sampai terminal 3 Soetta argo menunjukan nilai97.000 sekian. Dengan parkir dan tol totalnya menjadi 115.000 sekian. Hiks, jika dibelikan Shell Super untuk diminumkan ke si Merah nilai itu mungkin bisa menghantarkan saya sampai ke Garut. Haha.

imageTurun si saudaranya burung biru saya langsung masuk terminal. AirAsia sejak beberapa tahun terakhir menempati terminal 3 Soekarno Hatta. Terminal ini yang terbaru dibanding 2 terminal lama. Memang sih semenjak masuk terlihat lebih megah dan bersih. Cukup terasa nuansa Changi. Beda dengan nuansa Kampung Rambutan atau Pulo Gadung di terminal 1 dan 2. Okelah sekarang sudah 19.49 namun belum ada tanda kapan akan boarding. Yup low coat flight dan low consistencies. Dari Terminal 3 Bandara Soetta Jon melaporkan. :p

First Day Expense:

  • Flight PP Jakarta Denpasar: 1.125.000
  • Tune Hotel 5 malam: 950.000
  • Taksi Sudirman – Cengkareng: 115.000
  • Airport Tax: 40.000
  • Total: 2.230.000

Bersambung ke part 2.

Sebuah Doa untuk Penjarah

Kemarin sore saya memutuskan pulang ke rumah dari kantor meski weekdays belum habis. Saya pulang karena harus packing barang-barang untuk rencana jalan-jalan saya. Biasanya jika harus pulang ke rumah saya selalu menunggu Adzan Maghrib di kantor agar tidak repot harus sholat di jalan. Namun kemarin kebetulan semua pekerjaan sudah beres sehingga saya putuskan pulang dan akan sholat Maghrib di jalan saja. Setelah merayapi kemacetan Jakarta di sore hari, adzan Maghrib berkumandang ketika saya berada di daerah Kramat Jati. Saya akhirnya memutuskan berhenti di Pom Bensin Pertamina sebelum perempatan HEK.

Seperti mushola-mushola pom bensin yang lain, mushola di tempat tersebut berukuran tidak terlalu besar. Sehingga beberapa orang yang ingin sholat harus mengantri. Setelah menunggu satu kloter, akhirnya saya kebagian jatah untuk sholat Maghrib. Ukuran mushola yang sempit hanya cukup untuk 2 shaf dengan sekitar 5 orang pershafnya. Seperti biasa, dengan segala cara saya selalu berusaha agar bisa menempatkan tas di tempat yang terawasi. Setelah sholat selesai tak lama kloter berikutnya langsung iqamah sehingga kami semua langsung bergegas keluar.

Saat saya keluar kemudian mengambil sesuatu tiba-tiba seorang yang mungkin sekitar 2 atau 3 tahun lebih muda dari saya terlihat panik. Dia bertanya apakah ada yang melihat tasnya. Ternyata ia ceroboh menyimpan tasnya di belakang saat sholat. Sehingga sepertinya sesaat setelah sholat bubar ada orang yang mencuri tas tersebut. Dengan wajah yang terlihat panik bertanya ke orang-orang sekitar sana. Iba juga hati saya melihatnya. Akhirnya setelah sekitar 10 menit orang itu mondar-mandir terlihat dia sudah pasrah. Iseng saya pun bertanya apakah ada barang berharga seperti dompet di simpan dalam tasnya. Kemudian dia pun membalas, dompetnya di simpan di kantung celana, namun di dalam tasnya tersebut ada sebuah laptop. Langsung sedikit berdesir juga hati saya. Tak terbayang semurah-murahnya laptop pasti dalam orde harga juta. Si pria itu kemudian pamit meski dengan paras yang terlihat cukup kesal. Lalu saya pun melanjutkan perjalanan meski kemudian berhenti lagi di sebuah tempat makan.

Di sepanjang jalan saya masih tak habis pikir ada orang sedemikian jahat mencuri hak orang lain apalagi orang lain tersebut dalam kondisi ingin beribadah. Terlepas dari kecerobohan pria si pemilik tas yang tidak menyimpan tasnya pada kondisi aman, secara mutlak hati saya melaknati si pencuri tersebut sepanjang jalan. Ketika kemudian akhirnya saya mampir di tempat makan, saya curhatkan kejadian ini ke facebook. Tak lama Mas Bayu, teman saya di club motor merespon suatu komentar yang agak beda dari sumpah serapah yang ingin saya muntahkan. “Iyaaa… Mas…. Semoga harta. Jarahan tersebut berguna bagi yg mengambilnya… Amieenn…”. Dengan heran saya mengomentari balik “Kok didoakan malah berguna mas? Bukannya itu barang curian ya? Hehe.” Lalu dibalas lagi “Yupppss… Dan semoga yg punya tas diberikan ganti yg berlebih… Karena semuanya itu sudah diatur dari sananya mas… Hehehehee…. Sotoy yaks… Still positif thinking aja… Ikhlas…”. Hingga dini hari ini hati saya masih berontak mengenai kejahatan yang telah diperbuat si penjarah. Namun setelah dipikir-pikir statement Mas Bayu tersebut memang ada benarnya juga. Ya semuanya hal besar dan kecil telah diatur oleh Allah Swt. Setiap kejadian baik dan buruk harus kita terima dengan ikhlas. Selalu ada hikmah juga dari setiap kejadian yang kita alami. Pada akhirnya tetap, sebisa mungkin harus preventif dalam keamanan diri sendiri. Waspadalah, waspadalah. 🙂

Review Helm KBC V-Series – Haruskah anda membelinya?

Helm adalah aksesoris pengaman yang terpenting bagi pengendara motor. Selain itu helm juga adalah aksesori yang penting untuk mendongkrak penampilan. Sehingga bukan hal yang aneh bagi beberapa orang berbudget lebih untuk membeli helm impor dengan satuan harga hingga berjuta-juta rupiah untuk mengejar 2 faktor tersebut safety dan prestis.

Sebelumnya saya awam terhadap nama KBC. Dulu saya pikir KBC adalah merk helm biasa. Dengan semakin banyaknya pengguna sepeda motor di Indonesia, banyak produsen memanfaatkan ceruk pasaran subur ini sehingga munculah mungkin berpuluh merk helm dengan berbagai macam tipe. Dari berbagai merk tersebut dapat dibagi menjadi 2 kategori. Pertama helm lokal dengan range harga biasa. Kedua helm import dengan range harga menengah ke atas. Untuk kategori pertama bisa kita sebut diantaranya ada Ink, NHK, GM, VOG, BMC, KYT dan lain-lain. Untuk kategori kedua bisa kita sebut Nolan, Arai, AGV, Shoei, Shark dan KBC. Ya ternyata KBC bisa masuk kategori helm menengah.

Beberapa minggu lalu helm KBC resmi hadir di Indonesia melalui distributornya PT. Central Sole Agency yang menaungi group Indoparts. Pada waktu yang sama KBC mengeluarkan seri terbaru V-series dengan harga yang cukup terjangkau bagi pasar Indonesia. Pada momen Jakarta Fair tahun 2011 ini distributor KBC juga memberikan penawaran menarik dengan program trade in tukar helm bekas dan program cicilan 6 bulan bagi pengguna kartu kredit BCA. Kesempatan ini tak saya sia-siakan. Pada Kamis lalu saya menyempatkan mampir ke Jakarta Fair di malam hari. Langsung meluncur ke stand helm KBC dan melihat-lihat beberapa tipe yang dipajang. Awalnya sempat tertarik dengan tipe tertentu yang saya lupa namun bercat repsol dengan harga sekitar 1.500.000. Namun setelah mondar-mandir di stand tersebut saya memutuskan untk mengambil tipe terbaru V-Series saja dengan harga 550.000. V-Series sendiri terdiri dari 2 jenis stripping. Euro dan Zero. Setelah membanding-bandingkan untuk warna dominan stripping merah, tipe Zero memiliki kombinasi warna yang paling cocok untuk saya. Pada kesempatan yang sama, saya pun baru tahu bahwa KBC V-Series telah mendukung teknologi pinlock. Pinlock di sini adalah sebuah lapisan tipis yang akan dipasang menggunakan pin kecil di belakang visor. Kegunaan dari pinlock ini adalah untuk mencegah munculnya embun saat kita bernapas. Harga resminya sekitar 350.000. Namun kemarin untuk pembelian sekaligus dengan helm akan dihargai 99.000 saja. Meskipun sempat kecewa karena saat melakukan pembelian dengan insiden mesin EDC yang error sehingga kartu kredit saya digesek sampai 3 kali dan saya harus tertahan di stand itu hampir 1 jam, secara umum saya cukup puas dengan Helm KBC V-Series ini.

Pertama helm ini memiliki bobot yang cukup ringan. Sehingga tidak akan membuat kita cepat lelah meskipun untuk perjalanan yang cukup jauh. Kedua, kombinasi stripping V-Series cukup bagus meski seperti sudah disebut tadi saya cenderung lebih suka stripping  V-Series Zero dibandingkan Euro. Ketiga, seperti helm-helm jaman sekarang Visor cukup mudah untuk dipasang dan lepas. Keempat, dengan teknologi pinlock saya sangat dimudahkan dengan tak perlu membuka tutup visor saat jalanan merayap hanya untuk menghindari helm yang berembun.

Dari faktor-faktor positif tadi beberapa hal yang agak saya kurang suku dari helm KBC ini adalah mekanisme mengunci belt ke dagu yang menurut saya agak aneh. Helm-helm lain biasanya menggunakan mekanisme klik seperti seat belt mobil. Namun pada helm KBC mekanisme terkesan tradisional, meski SPG penjualnya berpromosi mekanisme ini jauh lebih aman. Untuk memasang belt helm KBC kita harus mengalur belt melalui 2 pin besi kemudian melock ke semacam kancing biasa. Dengan mekanisme ini tak ada mekanisme mengendurkan dan mengencangkan belt karena memang pada akhirnya secara otomatis belt akan selalu terpasang dalam kondisi kencang. Kedua, KBC V-Series ini adalah helm pertama saya dengan teknologi pinlock. Entah mengapa ruang sempit antara pinlock selalu seperti basah berair tipis. Padahal saya sudah berulangkali membuka pinlock dan mengelapnya. Meski tidak mempengaruhi penglihatan sama sekali namun hal ini agak mengganggu juga.

Demikian review singkat helm KBC ini. Dengan kelebihan dan kekurangannya secara personal saya pikir skor 4 dari 5 bintang cukup layak diberikan. Semoga bermanfaat.

Menuju Beasiswa Kominfo 2011 – Part 3: Wawancara dan Psikotest (dan Curhat)

Disclaimer: Curhat ini sangat panjang sekali dan sepertinya agak membosankan. :p

Yang belum baca part 1 bisa dilihat di sini.

Yang belum baca part 1 bisa dilihat di sini.

Pengumuman pelamar beasiswa depkominfo yg diundang wawancara sudah dirilis sejak 30 April 2011. Jika tidak salah pengumuman tersebut dirilis 2 minggu setelah penyerahan aplikasi. Pada daftar tersebut, tragisnya (lebay sekali) tak ada nama saya dari 71 nama di sana. Saya sempat menskim daftar tersebut bolak-balik berkali-kali. Berharap barangkali mata saya lagi butek sehingga tak nampak nama saya di daftar tersebut. Namun dari berkali-kali slimming tak ada satu pun calon pewawancara dengan nama depan beralphabet J. Sempat dengan bodohnya berpikir barangkali panitia salah mengetik nama saya. Typos nama Jon menjadi Zon, atau Jon menjadi Djon atau Jon menjadi .. etc etc. Namun setelah berulangkali memeriksa sepertinya mata saya tidak siwer. Tapi otak saya yang siwer. :p Nama saya memang tidak ada.

Setelah pengumuman tersebut saya masih merasa penasaran. Pada tahun 2010 depkominfo melaksanakan wawancara sebanyak 2 gelombang. Saya pun kemudian mencoba berhusnudzon terhadap hal-hal ini. Siapa tahu ada wawancara gelombang 2 dan nama saya bisa nyempil di situ. Langsunglah saya menelepon sekretariat beasiswa di depkominfo dan menanyakan masalah kemungkinan wawancara gelombang kedua. Namun sayang seribu sayang (halah), pihak depkominfo tidak memberi jawaban tegas. Mereka hanya menyatakan ada kemungkinan penyelenggaraan wawancara gelombang 2 namun itu tidak pasti. Agak sedikit kecewa di hati sebenarnya. Namun ya sudahlah. Jika rejeki pasti tak akan kemana.

Waktu pun akhirnya berjalan. Satu minggu, dua minggu, tiga minggu, hingga akhirnya saya lupa menghitung waktu dan agak lupa perurusan beasiswa depkominfo. Dalam masa tersebut saya sempat melamar beasiswa Monbukagakusho juga. Karena kebetulan berkas-berkas yang dibutuhkan sudah diurus saat melamar beasiswa depkominfo. Proses seleksi beasiswa Jepang ini lebih transparan dalam menentukan jadwal sejak jauh hari. Jadi sejak awal kita sudah dapat memperkirakan kapan partisipan yang lulus tahapan-tahapan tertentu diumumkan. Jadi ketika sadar saya tak diundang tes tertulis Monbukagakusho saya sempat merasa down juga. Merasa kecewa pada diri sendiri, down, hilang semangat, pengen loncat ke sumur. Padahal jika dipikir untuk apa juga harus terlalu kecewa seperti itu. Ikhtiar kan tanpa batas. Doa malahan benar-benar tak terbatas. Jadi dibawa positif saja. Baru beberapa saat berpikir positif, iseng saya memeriksa gmail. Hari itu Jumat 10 Juni 2011. Maksud hati awalnya ingin memeriksa email dari seorang headhunter yang tengah menawari peluang pekerjaan. Namun ada sebuah email mencolok dengan subjek “Undangan Seleksi Wawancara Gelombang II Program Beasiswa S2 LN Kominfo”. Apaan nih celetuk saya dalam hati. Langsung saya klik email untuk melihat isinya. Sejenak saya berdiam. Apakah otak saya siwer kembali? Sepertinya tidak. Atau mata saya yang siwer. Nampaknya sih tidak. Langsung saya tarik seorang kawan dan menunjukan email itu. Setelah melihat email sang kawan langsung sumringah dan mengucapkan “wah selamat gan!” ujarnya dengan bahasa kaskus abis. Saya diundang wawancara Kamis 16 Juni 2011 pukul 10.00 pagi. Setelah itu saya langsung menelepon mamah untuk minta didoakan agar bisa mengikuti prosesi seleksi ini dengan lancar hingga tuntas.

Hari menjelang wawancara saya habiskan dengan browsing-browsing ke website-website universitas. Tujuan utama wawancara beasiswa adalah untuk melihat motivasi belajar dari calon penerima beasiswa tersebut. Jangan sampai beasiswa diberikan orang yang tak tepat yang bisa berujung kesia-siaan. Saya benar-benar meresearch informasi universitas dengan detail untuk memenuhi tujuan tersebut. Saya harus tahu dengan detail semua rencana belajar saya secara umum. Saya juga harus tahu motivasi saya apa. Saya juga harus tahu diri saya siapa. Oleh karena itu beberapa hari menjelang wawancara sesekali waktu saya sering mengoceh-ngoceh sendiri ke recorder di hp mensimulasikan prosesi wawancara. Saya bertanya dan saya menjawab. Saya bukan pembicara yang baik. Bahasa Inggris saja juga buruk, jika bukan dibilang ga becus berEnglish ria. Jujur, wawancara ini adalah momok yang agak menakutkan. Namun saya tak punya pilihan. Saya harus berani dan saya harus bisa.

Rabu 15 Juni 2011. H-1 wawancara. Saya kabur dari kantor cepat jam 5 tenk tenk. Maksud hati agar bisa menenangkan diri di kosan dan melakukan persiapan optimal. Sejak awal saya sudah mempersiapkan salah satu elemen penting untuk wawancara. DRESS CODE! Bagi yang tak pernah ketemu saya, saya adalah orang casual. Paling malas berformal-formal ria dalam berbusana. Saya ngantor dengan celana jeans, kemeja biasa dan bersepatu kets. Bahkan jika Jumat saya hanya berpolo shirt atau bahkan kaos oblong dan bersendal crocs abal-abal KW 12. Untuk kasus wawancara ini akan menjadi pengecualian. Saya kudu rapih pih pih dan dipaksa ganteng teng teng. Weekend sebelum wawancara, saya potong rambut saya yang cepat gondrong (coba jika duit saya cepat gondrong juga) dan membongkar lemari baju mencari celana bahan dan kemeja formal yang pantas dipakai. Oh ya tak lupa ikat pinggang kulit buaya. Nah di Rabu malam ini saya baru sadar ikat pinggang kulit kebanggaan saya (halah) kulitnya sudah pada ngeletek setelah berpuluh tahun sekian waktu tak dipakai. What The Fun! Niat hati ingin leyeh-leyeh di malam itu akhirnya saya keluar lagi dari kosan. Tujuannya: mall. Saya jalan cepat ke jalan raya dan menyetop Silver Bird Kopaja. Tak sampai 5 menit merayapi kemacetan saya turun di Plaza Semanggi. Tadinya mau mencari belt kulit di Centro, meski saya sadar nyari di depstore itu harganya bisa aduhai. Persis ketika masuk mall ternyata ada sebuah store padang yang memajang ikat pinggang kulit. Langsung saya cari yang moder rel. Saya ga suka model yang dibolong-bolong. Harganya cukup terjangkau 50 ribu sajah. Dasar otak shopping setelah membayar belt saya tertarik melihat deretan dompet panjang kulit meski pasti KW jg. Butuh dompet panjang karena makin hari kartu plastik saya makin banyak.

Setelah selesai urusan di toko itu tiba-tiba jadi malas pulang. Pergilah saya ke gramedia. Bukan lihat buku. Tapi lihat majalah. Setelah puas lihat majalah kemudian mampir ke Giant. Membeli hal-hal yang tak penting. Sikat gigi, odol, mouth wash. Pada akhirnya saya baru sampai lagi ke kos jam 10 malam. Dasar dodol memang.

Kamis 16 Juni 2011. Entah kebetulan apa, Kamis dini hari terjadi gerhana bulan. Meski saya sendiri tak bisa melihatnya karena Jakarta tertutup awan. Saya bangun tepat saat adzan Shubuh. Saya langsung turun menyetrika dress code of the day. Sekitar jam 7 langsung mandi. Kira-kira jam 8 saya pun berangkat dari kos. Berhubung malas repot saya memutuskan tidak naik motor ke Kominfo. Saya naik Busway sajah. Ngeri juga naik angkutan umum Jakarta. Maklum hari-hari biasanya ngeluyur ke sana-sini naik si Merah. Dompet, hape langsung saya jejalkan ke bagian tas terdalam. Tak sampai 20 menit naik busway dari halte karet saya sampai di halte monas. Di daerah monas inilah kantor kominfo berada.

Langsung nyebarang dari halte busway kemudian naik ke lantai 2 tempat wawancara berada. Saya sampai sekitar jam 9.30 tempat wawancara sudah cukup ramai. Langsung saja menyalami dan berkenalan dengan beberapa teman-teman tersebut. Dari banyak orang di sana saya sudah mengenali beberapa yang dikenalkan teman saya lewat Facebook oleh Defindal kenalan saya. Ada Andresta, Anda, Rindu. Jadi saya langsung mengobrol dengan mereka. Ternyata dari kebanyakan teman-teman di sana banyak juga yang belum mendapat letter of acceptance (LOA) dari universitas. Namun, dari sekian banyak yg belum dapat LoA sepertinya cuma saya yg bahkan TOEFL dan IELTS. Haduh dasar dodolnya diri ini. :”(

Di tengah-tengah mengobrol panitia tengah melakukan daftar ulang. Jadi kita harus menyerahkan surat keterangan penghasilan dan membawa berkas-berkas asli dari fotokopi-fotokopi yang kita serahkan pada berkas lamaran beasiswa. Surat keterangan penghasilan diperlukan barangkali untuk memastikan jika kandidat penerima beasiswa adalah orang yang terlalu tajir melintir harusnya dipertimbangkan kelulusannya. Berkas-berkas asli diperlukan hanya untuk memastikan semua fotokopi yang kita masukan tanpa manipulasi. Ijasah, transkrip dan paspor.

Setelah menunggu beberapa waktu sambil membaur dengan teman-teman lain akhirnya satu persatu peserta dipanggil ke ruangan untuk wawancara. Ternyata interviewnya dilakukan secara bulk. Ada beberapa interviewer yang menunggu di sekitar 5 meja. Di masing meja dikawal oleh 2 pewawancara. Setiap kandidat akan mengantri didistrubusikan ke meja-meja wawancara tersebut. Para pelamar beasiswa dipanggi ke ruang wawancara secara alphabetis. Saya masuk sekitar pukul 10.00 dan kebagian meja dengan pewawancara Ibu Gati dan Bapak Adi. Seperti perkenalan saya dengan kebanyakan orang, pasti hal pertama yang dibahas adalah nama. Setelah komentar pendek mengenai mengapa nama saya aneh, pertanyaan-pertanyaan yang keluar adalah pertanyaan-pertanyaan yang alhamdulillah sudah saya siap antisiapasi. Misalnya tell me about yourself, tell me about your job, why crossing from electrical engineering to computer science, what is strength and weakness, why choose Netherlands, do you would like to relocate to Korea if can get the scholarship dan pertanyaan pamungkas, tell me why kominfo should give the scholarship to you?

Setelah wawancara sekitar 15-20 menit, alhamdulillah sepertinya saya lewati dengan cukup baik tanpa terlalu banyak kelihatan grego. Padahal sebenarnya grogi juga. Ternyata untuk tahun 2011 ini selain wawancara ada tahapan seleksi psikotest. Waduh tak siap lagi aja diriku. Psikotest dilakukan setelah jam makan siang. Jadi saya dan beberapa teman-teman nebeng mobil teman untuk mencari menu makan yang cukup cihui. Menu siang itu adalah bebek goreng. Haha. Sekitar jam 1 siang kami kembali ke kantor kominfo. Sholat Zuhur dan langsung masuk kembali ke ruangan untuk memulai psikotest. Secara kebetulan saya duduk di samping Indri seorang teman yang juga dikenalkan Def lewat facebook. Ternyata orangnya ngocol sekali. Jadi sepanjang jeda setaiap test psikotest saya justru kebanyakan cekakak cekikik dengan dia. Psikotetsnya sendiri seperti psikotest pada umumnya. Ada test semacam pauli (lupa namanya) yang menambah-nambahkan angka pada kertas sebesar lapangan bola koran, kemudian test memilih-milih statement yang paling sesuai dengan kita PAPI test jika tak salah, ada test serupa itu lagi kemudian, lalu test gambar yang sudah diberi stimulasi awal, jika ga salah lagi namanya test WARTEGG (pelase jangan membayangkan warung nasi, ga ada kaitannya) dan terakhir test gambar.

Setelah sekitar 3 jam akhirnya psikotest selesai. Kami pun langsung bubar ke habitat masing-masing. Namun nyempetin sholat Ashar dulu. Balik ke arah kantor naik busway lagi. Kebetulan bareng Nita yang kerja di Nissan. Di bus jadi ngobrolin Nissan Juke, SUV terbaru dari Nissan yang kontan membuat saya ngeces mupeng pengen punya. Saya turun di halte karet benhil karena lebih dekat ke parkiran motor. Karena sudah sore saya putuskan untuk tidak balik ke kantor. Meski awalnya berniat cuti setengah hari nampaknya cutinya jadi full 1 hari. Langsung ke parkiran kantor, ambil si merah terus meluncur ke kosan ngambil beberapa barang. Klo tak salah setelah sholat maghrib saya pulang ke Jonggol. Terkadang meski weekday belum habis saya suka pulang ke Jonggol pada kamis malam. Dan demikianlah cerita panjang lebar tak karuan ini. Sekarang tinggal menunggu hasil sembari mau siap-siap IELTS. Lumayan mahal juga 185USD, wedan. Ikhtiar sudah, doa masih terus, tinggal kita pasrah dengan hasil terbaik dari yang di atas. Delft here I come. Semoga ada part 4 dari post ini. 🙂