When The Dreamer Has Been Died

Maka bermimpilah dan biarkan Tuhan memeluk mimpi-mimpi itu

Salah satu anugrah terbesar yang aku punya sebagai manusia adalah aku dilahirkan sebagai pemimpi yang ekstrim. Misalnya, saat SMP aku sudah sering mengoceh-ngoceh kepada kawan-kawan bahwa saat suatu waktu nanti aku bisa membeli mobil pertama, mobil itu adalah Ferrari. Terlalu ekstrim bukan, bahkan kini mobil terburuk pun belum dapat aku capai, apalagi Ferrari.

Masuk SMA ketika kebanyakan teman-teman lebih berpikir untuk langsung bekerja saja kemudian menikah dari pada kuliah (sebuah cita-cita sederhana yang tak salah) aku ngotot harus kuliah dengan cara apa pun. Padahal pada waktu itu aku sadar betul tidak punya backingan dana yang terjamin untuk menjamin masalah perkuliahan itu. Tapi dengan segala baik dan buruknya ternyata aku bisa kuliah juga.

Saat kuliah aku kemudian mulai bermimpi untuk bisa lanjut S2. Bukan yang dekat-dekat pula. Aku begitu terobsesi untuk bisa pergi ke Jepang. Seperti kerasukan, sejak kuliah semester awal aku membeli buku-buku bahasa Jepang, kamus-kamus dan buku-buku kanji (yang sebagian besar dari mereka hanya sempat aku sentuh sebentar-sebentar saja). Menjelang semester akhir kuliah, sindrom pemeimpi aku semakin kronis. Aku mulai menuliskan target dan mimpi yang aku capai dalam waktu 1, 2, 3, 5 dan 10 tahun ke depan. Aku tulis dengan sedemikian rapinya dalam kertas yang aku tempel di tembok kamar. Aku juga membuat salinan dalam potongan kertas-kertas kecil yan bisa aku bawa kemana-mana. Mimpi-mimpi yang paling ekstrim yang ada di sana diantaranya bisa kuliah S2 ke Jepang tadi, menguasai bahasa Jepang, fasih bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Prancis, beli motor, beli mobil, beli rumah, nikah muda, hafal alquran, jalan-jalan ke penjuru dunia dan lain-lain. Aku sangat idealis sekali pada waktu itu. Aku selalu yakin dengan teramat kuatnya bahwa mimpi yang tertulis itu adalah peta dan kompas yang bisa menuntun kita mencapai tujuan. Hingga perlahan waktu dan kenyataan mengikis mimpi-mimpi itu secara perlahan.

Selang 3 bulan setelah lulus kuliah aku langsung ‘tersasar’ kerja ke dunia IT jadi programmer. Dunia yang lebih kejam dari dunia preman, pasar induk dan pasar modal sekalipun (statement ngaco). Canda seoarang kawan, programmer itu gajinya terkadang lebih kecil dari OB tapi stressnya sampe keubun-ubun (maaf tak ada sedikit pun maksud mendiskreditkan pekerjaan OB).

Sejak kerja entah bagaimana roda waktu berputar sangat cepat. Masa-masa awal kerja sering sekali lembur sampai malam. Sekalinya tidak lembur waktu sering habis di jalan saat pulang dan berangkat kerja. Mimpi-mimpi untuk ini dan itu sedikit terkubur oleh hasrat untuk mencari uang sebanyak-banyaknya. Padahal pada akhirnya aku tersadar tak ada dalam sejarah orang yang bisa kaya dengan hanya mengandalkan penghasilan sebagai karyawan konvensional. Dan kini sudah hampir 3 tahun sejak lulus kuliah (sejak 15 Maret 2008), dan sudah 2 tahun lebih sejak pertama kerja di tanggal 15 Juli 2008 itu (aku masih sangat ingat nuansa pekerjaan pertama pada waktu itu). Saat aku sedikit menoleh ke belakang Ya Allah aku tersadar aku bergerak sangat sedikit sekali, nyaris hanya jalan di tempat. Saat aku melihat daftar mimpi-mimpi aku, Ya Allah mereka masih sangat jauh di depan. Seakan jarak antara mereka dan aku tak berubah sejak pertama dicetuskan. Pada masa yang tak lama dari hari ini, mungkin beberapa minggu lalu, tiba-tiba aku merasa menjadi orang paling gagal sedunia. Tiba aku merasa mati, ya pemimpi ini telah mati.

Masalah kuliah S2 aku tak pernah melakukan ikhtiar apa pun jadi wajar kalo mimpi ini masih saja jauh di depan. Masalah nikah entahlah sepertinya aku semakin malas memikirkannya dengan alasan yang tak mungkin aku tulis di sini. Masalah mobil dan rumah, yang aku sadar gaji bulananku hanya masuk sesaat setiap tanggal terakhir di setiap bulan dan sering tak bertahan lama untuk kemudian menyusut dengan teramat sangat cepat. Be multilanguage person, D*mn bahasa Inggris aku saja masih carut marut dan grammar2 bahasa asing yang bertumpuk di lemari buku aku hanya dibaca oleh kecoak dan kutu-kutu. Aku capek bermimpi. Aku ingin mengubur mimpi-mimpi itu. Aku hanya ingin menjadi orang paling biasa. Namun apakah harus demikian?

Life is like a wheel terkadang di atas dan di bawah. Ungkapan general yang sudah terkenal. Mungkin sekarang aku sedang benar-benar di bawah. Tapi aku sedih karena merasa sudah terlalu lama di palung paling sulit di hidup ini. Aku sering merasa down sejak usia 24 tahun, tahun lalu. Masalah terburuk aku adalah aku tak punya tempat untuk mengkomunikasikan masalah-masalah aku. Aku punya orang tua namun karena satu dan lain hal aku merasa mereka bukan orang paling tepat untuk aku jadikan tumpuan curahan hati. Syukurlah aku masih punya Tuhan tempat aku bisa bebas mengeluhkan masalah-masalah hidup aku. Untuk yang kenal aku cukup dekat pasti tahu betapa cengengnya aku. Usually boys don’t cry but I cry a lot. Dampak terbesar dari ketidakmampuan pencurahan problem adalah stress. Dan itu rasanya sangat tidak enak.

Aku tak ingin pemimpi itu mati. Aku merasa mungkin (atau pasti) roda akan bergerak ke atas lagi. Man without will is already died before he born. If there is a will there will be a way. Saat merasa sulit aku percaya itulah warna kehidupan. Life will be boring if everything is too smooth. Life is empty if every request is granted. Orang hebat biasanya banyak ujiannya. Jadi kalau pun mati si pemimpi ini cuma mati suri kok. Paling gak koma. Mungkin satu waktu yang tak lama si pemimpi akan bangun dengan gairah yang baru. Mungkinkah aku harus nikah dulu. Barangkali setelah nikah aku bisa punya orang untuk dijadiin tempat berkeluh-kesah. Bisa punya orang untuk menyemangati aku di saat terpuruk. Tapi seperti yang aku bilang tadi bahkan menikah pun adalah salah satu masalah aku yang lain dengan alasan yang tak dapat aku tulis.

Di akhir post ini tak ada sedikit pun aku ingin mengingkari kenikamatan dan kecukupan yang aku peroleh dalam hidup ini. Aku amat sangat bersyukur atas itu semua. Post ini hanyalah refleksi kekecewaan terhadap diri sendiri. Semoga bisa menjadi penyemangat bagiku untuk bangkit lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s