The Kite Runner

Sebuah kisah suram tentang persahabatan, persaudaraan dan penyesalan. Cerita mengambil latar di Kabul Afganistan sejak tahun 70-an hingga 90-an. Kisah utamnya adalah persahabatan Amir seorang anak Pashtun piatu kaya dengan Hasan sang pelayan keluarga Hazara miskin. Pashtun dan Hazara adalah suku-suku di Afganistan yang saling kontras baik secara fisik maupun keyakinannya. Pashtun mirip dengan orang-orang Arab umumnya, tinggi besar, hidung mancung dan sebagainya. Sementara Hazara adalah suku terpinggir di Afganistan yang lebih cenderugn mirip dengan orang Asia Timur. Lebih dari itu, Pashtun kebanyakan berkepercayaan Islam Syiah dan Hazara Islam Suni. Dalam kekontradiktifan itulah Amir dan Hasan menjalani persahabatannya sejak kecil.

Saya katakan tadi, kisah ini memang sangat suram dan gelap. Jangan pernah berharap ada lelucon yang membuat anda terbahak-bahak. Jika sangat sensitif, kebanyakan kasus mungkin anda akan sering menangis. Bagaiman saat satu kjesalahan diperbuat, ia akan terus mengejar-ngejar hingga anda bersusaha keras untuk memperbaiki itu semua.

Selain persahabatan Amir dan Hasan, serita juga banyak mengangkat hubungan anak dan ayah Amir dan Baba. Kemudian masa-masa yang gelap ketika Afganistan dikuasai oleh Taliban, pengungsian dan kegelapan yang seakan tak pernah berhenti. Satu hal yang luar biasa dari Khaled Khoseini sang penulis adalah kemampuannya dalam menggambarkan settingan tempat kisah dengan sangat baik. Paling tidak pembaca dapat merasakan masa-masa suram dan sulitnya rakyat Afganistan pada masa-masa penjajahan dan penguasaan Taliban.

2 respons untuk ‘The Kite Runner

  1. raihanah berkata:

    Beli dimana sih bukunya? kemarin aku cari di Gramedia nggak ada…

    next time kalau ada buku yang menarik lagi, apapun topik bukunya, tapi kalo memang Top Rank menurt Kak Jon, buat resensi yang jelas(ada nama penerbit, penulis, harga, de el el). Okay!
    Insya Allah itu bisa bermanfaat. Kali aja ada orang yang kelebihan duit n bingung mau dianggarkan kemana duitnya, heheh…(masa sih ada orang kayak gitu,alah…kudu zakat tuh!)

  2. Arki Atsema berkata:

    Belum baca bukunya, tapi udah nonton filmnya. Dan saya tak bisa bohong, mata saya berkaca-kaca sehabis melihat filmnya. Sangat emosional dan sarat makna. Saya harap filmnya beredar di bioskop Indonesia, biar semua orang bisa nonton, ilut merasakan, bahwa ada yang jauh lebih hebat dari “ayat-ayat cinta”.

    “For You, A Thousand Times Over!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s