Dot dot dot …

November 9, 2009 lamida Tinggalkan komentar

Dear day. Sudah hampir dua bulan tidak menulis post baru. Banyak hal yang berubah dan banyak hal yang stagnan. Hal-hal yang berubah ada di luar sana dan yang ada di sini (gw) hampir semua stagnan. Pola hidup semakin kacau. Kedisiplinan sudah tidak ada lagi. Tidak teratur, acak-acakan, berantakan dan kacau balau. Ya itulah saya sekarang. Harus benar-benar memaksa untuk melakukan revolusi diri.

Curhat pertama, kerjaan di kantor semakin tidak beraturan. Mungkin karena saya sudah berada di titik jenuh. Saya pun semakin merasa yakin untuk mencoba melirik pekerjaan baru dengan serius. Curhat kedua, saya mulai keranjingan main video game lagi. Namun, berhubung tidak punya desktop pc atau laptop canggih juga belum terpikir membeli konsol terbaru, saya pun cukup merasa terhibur bermain game di emulator-emulator yang sangat mewabah saat ini. Dengan berbekal stik usb, bandwidt secukupnya untuk mencari rom-rom bagus, hiburan murah meriah pun langsung hadir di laptop. Mulai dari main super mario bros nintendo, main sonic sega, main yoshi island punya snes, main resident evil di playstation, main super smash brosh di nintendo 64, main final fantasy X di ps2, main 18 wheelers driver di dreamcast, main luigi mansion di gamecube, main suikoden tierkries di NDS, main castlevania ario of sorrow di GBA. Silakan tambah sendiri daftarnya. Hal menarik lain, selain bermain di emulator pc menggunakan stik usb, emulator sega, nintendo, snes dan gba pun bisa dimainkan di S60 device. Di handphone. Ya mencoba untuk menghibur diri di tengah kesuntukan yang teramat parah. Jika ada waktu saya benar-benar mengulas masalah emulasi-emulasi ini. Percayalah mereka sangat menyenangkan.

Ok that’s al for now, from nowhere, Jon is reporting. :p

Categories: Personal Tag:

Kenapa Saya Tidak Memakai Blackberry

September 22, 2009 lamida 6 komentar

Setelah bertahun-tahun menggunakan nokia tiba-tiba sempat terbesit pikiran untuk mencicipi handset brand lain. Pilihan pertama adalah blackberry. Hei di luar sana sorak sorai blackberry sangat ramai terdengar. Godaan untuk mencoba benar-benar mengusik hingga sulit untuk dihiraukan.

Perbedaan terbesar handset blackberry dibandingkan handphone biasa ada di fitur konektivitas internetnya. Bila ingin memanfaatkan blackberry seutuhnya user harus berlangganan blackberry internet service ke operator. Dengan berlangganan service tersebut maka user bisa mendapat salah satu fitur utama dari blackberry yang tidak banyak dimiliki handset lain yaitu push email. Email yang langsung masuk ke handset setelah dikirim pengirim. Setelah menyadari perbedaan tersebut. Aku langsung berburu segala informasi mengenai tipe handset blackberry yang harus aku boyong. Dengan keterbatasan dana akhirnya pilihan jatuh ke Blackberry Curve 8310 dengan harga refurbish saat post ini ditulis 2.500.000 . Tipe Blackberry termurah yang ada di pasaran. Langsung aku hubungi penjual cod handset handphone yang banyak berkeliaran di internet. Ngobrol sebentar lewat telpon. Tanya-tanya sedikit. Namun beberapa jam sebelum deal terjadi, aku pun mendadak berubah pikiran. Aku batalkan transaksi. Aku tidak jadi beli blackberry.

Berikut adalah alasan-alasan mengapa aku urung menjadi blackberry user

  1. Aku tidak butuh fitur push email. Aku online 24 jam. Setiap ada email masuk pasti pidgin aku di komputer akan berkedip-kedip. Atau jika pun ada orang yang ada keperluan urgen dengan saya, hei kenapa tidak telpon atau sms. Pasti langsung saya respon tanpa perlu memusingkan push email.
  2. Saya malas berlangganan blackberry internet service seharga kisaran 200 ribu perbulan. Artinya ini adalah pengeluaran tambahan setiap bulan selain pulsa. Padahal dengan langganan gprs biasa telkomsel flash seharga 10.000 untuk 15 MB sudah lebih dari cukup untuk sekedar browsing-browsing atau chatting sekedarnya di hp.
  3. Tidak ada Blackberry dengan radio fm.
  4. Tidak ada pdf reader untuk blackberry.
  5. Tidak ada garmin xt untuk blackberry.
  6. Sudah terlalu banyak orang indonesia konsumtif yang latah berblackberry ria membeli handset jutaan hanya untuk update status facebook dan chat yahoo messenger padahal kebutuhan mereka itu bisa dipenuhi dengan handphone biasa yang berharga sejutaan saja.

Oke ini hanya sekedar share tanpa ada maksud untuk sinis tanpa makna. Hanya luapan perasaan miris melihat kondisi orang-orang kita yang kian hari kian bangga menjadi konsumen dan bukan pembuat.

Categories: Opini

Review Nokia 5730 XM – Haruskah anda membelinya?

September 22, 2009 lamida 21 komentar

5730_xpress_main

Setelah aku bosan menggunakan Nokia 5800XM saatnya mengganti hp baru pun langsung menyergap. Meski seringkali orang-orang konservatif berkata hp itu ya cukup yang sekedar sms dan telepon. Ga usah banyak lagak. Statement tersebut mungkin bisa benar untuk orang yang sekedar memanfaatkan handset untuk kebutuhan fundamental saja. Tapi saya bukan orang seperti itu. Saya adalah penikmat handset terbaru. Tapi saya bukan penikmat yang sekedar gagah-gagahan dengan handset harga jutaan tapi sekali lagi hanya dipake untuk sms dan telponan tok.

Berikut adalah list fitur yang harus dipenuhi handphone yang akan saya beli.
1. Symbian OS (kebutuhan pdf reader, garmin xt software terbaik saat ini, aplikasi chat, chm reader, quickoffice)
2. Music player mumpuni.
3. Radio FM
4. Storage besar.
5. Kamera cukup layak dilihat saat diupload ke blog atau facebook.
6. Qwerty keyboard.
7. Layar besar.
8. GPS
9. Konektivitas lengkap, 3G, wifi, bluetooth, usb
10. Mereknya Nokia.

Fitur utama adalah harus OS Symbian. Alasannya Symbian adalah OS mobile yang paling dominan saat ini. Ada sangat banyak aplikasi-aplikasi bagus untuk handset symbian. Yang paling aku butuhkan adalah pdf reader untuk baca ebook saat ngantor naik angkot. Garmin xt untuk jalan-jalan ketika bete. Aplikasi multi chat client. CHM reader untuk baca ebook chm. Quickoffice untuk ngetik iseng. Selain symbian tentunya ada windows mobile, blackberry os, dan yang terbaru android. Namun dengan beberapa pertimbangan aku menetapkan device yang akan kubeli harus ber OS symbian.

Fitur kedua adalah fitur multimedia yang lengkap. Musik player harus bagus dengan managemen playlist yang mudah. Harus ada radio fm dengan memori preset yang banyak. Harus ada video player untuk nonton file-file flv.

Fitur selanjutnya adalah storage. Salah satu hal mengesankan dari handset-handset terbaru adalah meningkatnya spesifikasi hardware. Prosesor yang bertambah cepat dan storage yang besar. Saat ini bukanlah hal yang sulit mencari handset dengan kapasitas 8GB. Meski tidak besar-besar amat namun dengan kapasitas demikian kita sudah cukup puas menyimpan foto, music, game dan beberapa ebook.

Fitur berikutnya kamera. Setidaknya tidak blur banget untuk diupload ke internet. Katakanlah minimal resolusi 3.2 megapixel dan kalau bisa harus ada flash dan autofocus.

Fitur pentingnya berikutnya adalah qwerty. Meski sampai detik ini saya masih sering meragukan ada orang yang bisa memanfaatkan handset untuk kerja, tapi peluang ke arah sana tampaknya memang ada. Ingin merasakan mengedit dokumen saat di angkot. Ingin bisa blogging saat sedang nongkrong di wc. Ingin chat saat bete namun malas buka laptop. Kebutuhan-kebutuhan tersebut akan termudahkan bila kita punya handset dengan qwerty keyboard.

Layar harus lebar agar bisa baca ebook dengan enak, browsing puas dan main game seru.

Saya senang jalan-jalan. GPS meski tidak memudahkan jalan-jalan, namun bisa membuat jalan-jalan semakin menarik.

Handset akan sangat kesepian bila tidak bisa disingkronkan dengan pc. Itu mengapa kita butuh fitur konektivitas yang bagus. 3G dan wifi untuk browsing puas. Bluetooth dan usb untuk sinkronisasi.

Seperti bapak-bapak jaman dulu yang sering berkata kalo motor itu harus honda, mobil harus kijang, maka saya berkata handphone ya harus nokia. Bukan blueberry atau apel digigit.

Dengan kebutuan-kebutuhan tersebut maka keluarlah daftar handset sebagai berikut.
1. N97
2. E71
3. E75
4. E90
5. Nokia 5730XM

Dari daftar tersebut akan kita coret satu persatu hingga tersisa handset terbaik yang akan dibeli. Dari urutan di atas sebetulnya sudah bisa terlihat yang akan saya pilih. Pertama N97. Ini adalah salah satu handset terkini nokia dengan OS symbian terbaru. Touchscreen namun tetap memiliki qwerty keyboard. Sayang, harga masih sangat mahal (6jutaan) seharga laptop standar baru. N97 akan saya tunda pembelianya. E71 cukup menarik tapi fitur gamingnya kurang. E75 cukup sempurna tapi harganya masih agak terlalu tinggi. E90 sudah terasa jadul. Akhirnya pilihan pun jatuh ke Nokia 5730 XM, keluarga express music terbaru nokia.

Berikut adalah analisis fitur dari Nokia 5730 XM yang memenuhi kebutuhan saya. Pertama, 5730XM ber OS Symbian S60 3rd Edition, Feature Pack 2. Ini adalah OS Symbian terkini untuk device non touch screen. Dengan OS tersebut ada sangat banyak pilihan aplikasi yang bisa diinstal. Aplikasi symbian natif .sis dan .sisx serta aplikasi java. Bahkan Nokia 5730XM mensupport N-Gage 2.0. Jadi bisa gaming ngage juga di sini.

Sebagai keluarga express music, Nokia 5730XM memang memiliki fitur multimedia yang lengkap dan maksimal. Music player, video player dan radio fm.

Nokia 5730XM memiliki memori internal sekitar 100MB dan storage eksternal 8GB expandable hingga 16GB tentunya sudah mencukupi kebutuan mendasar saya.

Nokia 5730XM memiliki kamera 3.2 megapixel. Saya belum banyak mencoba banyak foto-foto. Namun saya anggap kebutuhan fitur kamera saya sudah cukup terpenuhi.

Metode input Nokia 5730XM selain standar numerik keypad adalah side sliding qwerty keyboard. Mekanisme slidingnya cukup bagus, meski agak ngeri juga karena takut lama-lama sliding akan kendor. Keyboard qwertynya sendiri cukup nyaman digunakan. Dengan adaptasi dalam waktu tertentu saya pikir pengguna akan bisa terbiasa mengetik cepat.

Meski tidak selebar layar Nokia 5800XM yang 3.2 inchi. Layar 5730XM yang 2.6 inchi cukup lumayan untuk baca ebook dan main game. Kalo masih kurang gede ya liatnya di laptop, jangan di hape.

Dengan mudah saya hanya memindahkan instalasi Garmin XT dari micro sd card lama ke Nokia 5730XM. Garmin pun langsung berjalan tanpa masalah.

Konektivitas Nokia 5730XM sudah sangat baik. Browsing sangat cepat ketika menggunakan Opera Mini 5.
Kelemahan

Dari analisa fitur di atas terkuak juga beberapa kelemahan Nokia 5730XM.

Pertama adalah mekanisme slide qwerty yang agak ringkih. Kedua, headset bawaan kualitasnya sangat buruk. Tidak ada remote di headsets sangat menyulitkan bagi orang yang sering mendengar musik di motor seperti saya. Ketiga Body terdiri dari logam dan plastik. Agak rawan sisa sidik jari karena menggunakan cat mengkilap. Keempat layar agak kurang besar bagi saya. Coba jika ditambah 0.2 inchi saja pasti akan terasa sempurna.

Perbandingan Nokia 5800XM dan Nokia 5730XM

Nokia 5800XM hadir nyentrik dengan touchscreen. Nokia 5730XM hadir menarik dengan qwerty keyboard. Sebagai ex pengguna 5800 dan beralih ke 5730 saya memberikan perbandingan sebagai berikut.

Pertama adalah jenis OS. Nokia 5800XM ber OS Symbian S60 5th Edition, OS sysmbian terbaru untuk handset touchscreen. Nokia 5730XM ber OS Symbian S60 3rd Edition, Feature Pack 2. Karena Symbian S60 5th Edition adalah OS baru. Belum terlalu banyak aplikasi yang sudah ada untuk OS Nokia 5800XM. Jadi meski touchscreen terkesan nyentrik saya memberi nilai unggul pertama pada Nokia 5730XM untuk OS yang digunakan.

Kedua, karena sama-sama keluarga Express Music, Nokia 5800XM dan Nokia 5730XM ada di posisi yang imbang. Resolusi kamera kedua handset ini sama. Keunggulan 5730XM ada di jumlah preset radio FM yang bisa menyimpan hingga 50 stasiun dibanding Nokia 5800XM yang hanya bisa menyimpan 20 stasiun. Namun untuk kualitas headset justru dimenangkan Nokia 5800XM. Headset Nokia 5800XM terpisah antara earpiece dan controller. Jadi pengguna bisa membeli earphone baru bila membutuhkan kualitas suara yang bagus. Headset Nokia 5730SM sangat mengecewakan.

Ketiga untuk metode input. Seperti sudah disebut tadi, meski touchscreen terasa seksi, namun qwerty keyboard lebih mudah.

Keempat adalah ukuran layar. Nokia 5800XM menang mutlak.

Dari perbandingan tersebut tidak ada yang menang dan kalah. Baik 5800 dan 5730 ada kelebihan  dan kekurangan masing-masing. Salah satu alasan saya beralih ke Nokia 5730XM adalah karean bosan touchscreen meski saya kangen dengan layar besar Nokia 5800XM.

Aplikasi

Saran untuk pengguna, belilah aplikasi-aplikasi asli jika memang dibutuhkan. Namun jika ingin coba sedikit nakal, hal pertama yang harus anda miliki adalah file certificate untuk handset. File certificate ini unik berbeda-beda untuk tiap handset berdasar nomor IMEI. Dengan adanya file certificate kita bisa menginstal aplikasi-aplikasi unsigned. File certificate bisa diperoleh dengan merambah forum-forum seperti ipmar, dotsis atau kaskus.

Setelah mendapat certificate langkah selanjutnya adalah menginstal aplikasi crack yang memungkinkan kita menginstal aplikasi bajakan. Untuk Nokia 5730XM proses tersebut sangat mudah cukup dengan mendownload Hellox2 di www.hellox2.com. Setelah didownload aplikasi hellox2 harus kita sign menggunakan certificate yang sebelumnya kita peroleh. Setelah disign baru hellox2 ditransfer ke handset dan diinstal. Setelah instalasi selesai kita dapat menjalankan hellox2 yang akan melakukan proses crack handphone. Prosesnya memang agak sedikit lama. Sepuluh menit hingga setengah jam. Setelah proses crack selesai kita bisa menjalankan aplikasi rom pather yang memungkinkan kita mengintal aplikasi unsigned tanpa perlu mensign aplikasi lagi menggunakan certificate. Jadi certificate tadi hanya kita gunakan untuk menginstal hellox2.

Dengan hellox2 sekarang kita bisa menginstall semua aplikasi-aplikasi yang kita butuhkan. Untuk saya pertama adalah pdf reader. Nokia 5730XM sudah dibundling dengan Adobe Reader 1.5. Namun adober reader versi tersebut tidak bisa reflow teks. Jadi tidak berguna untuk dibaca. Saya pun kemudian menginstal Adobe Reader 2.5.

Aplikasi berikutnya adalah MobiCHM reader untuk membaca ebook-ebook chm. Lalu Opera Mini 5 beta, browser mobile terbaik yang pernah ada. Kemudian quickoffice. Meski Nokia 5730XM sudah dibundling dengan quickoffice tapi kita hanya bisa view tanpa bisa mengedit. Aplikasi lain adalah chat client, saya menggunakan Palringo, yang bisa yahoo messenger, google talk dan facebook messenger. Saya tidak perlu menginstal ulang garmin xt karena kopian di micro sd ternyata masih bisa berjalan dengan baik. Meski layar Nokia 5730XM tidak selebar Nokia 5800XM untuk bernavigasi tapi cukup lumayanlah. Apalagi di Nokia 5730XM garmin tidak sering crash seperti saat di Nokia 5800XM. Kemudian saya menyempatkan untuk menginstal beberapa game n-gage. Hanya berhasil beberapa dan belum ada waktu untuk mengoprek lebih. Selain dari itu semua, ribuan game java yang sangat menarik ada banyak di luar sana dan bisa dimainkan dengan menyenangkan dengan Nokia 5730XM ini.

Oke mungkin itu sedikit review berantakan dan analisa tanpa landasan. Semoga dapat bermanfaat.

Categories: Tips dan Pengalaman

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H

September 22, 2009 lamida 1 comment

Selamat hari raya idul fitri 1430 H. Mohon maaf lahir batin. Padahal rasanya baru saja kemarin lebaran. Tanpa terasa sekarang sudah lebaran lagi. Khatib sholat jumat di masjid dekat rumah sering berkata, itu artinya kita betah hidup di dunia. Idealnya kita tidak boleh betah hidup di dunia. Karena kita tidak di dunia selama-lamanya.

Harus aku akui, hidupku belakangan sangat berantakan. Jam tidur yang tidak teratur, aktivitas yang sudah tidak bisa lacak lagi rutinitasnya, kerjaan berantakan, semuanya tidak karuan. Jika boleh dibilang, aku sebenarnya frustasi. Namun aku pun sadar, rasa frustasi itu seharusnya dapat aku hindari dengan baik jika aku mau melawan rasa nyaman untuk mendobrak kemalasan yang sering melanda.

Aku ingin berubah dan memperbaiki diri. Kembali bangun merayap menuju mimpi-mimpi indah meninggalkan rasa frustasi yang suram. Ingin kuliah lagi. Beli rumah, beli mobil, nikah, punya anak, berbakti ke orang tua, membesarkan anak dengan baik serta mencintai orang yang kelak menjadi istriku dengan cinta terdalam. Itu mimpi di atas bintang. Dan kini aku tengah terpuruk di atas comberan realita.

Aku tahu hidup adalah masalah pilihan. Semua orang pasti ingin sukses dan bahagia. Hei tapi tunggu, ternyata meski semua orang ingin sukses dan bahagia, tidak semua orang rela membayar harga sukses dan bahagia tadi. Karena sukses dan bahagia hanya “is a should” dan bukan “is a must”. Hanya segelintir orang yang biasanya bisa menjadi sukses dan bahagia. Aku mau yang mana? Should happy and success. Atau must happy and success. Aku sedang ingin diam, sambil melihat langit 3 syawal ini.

Categories: Personal

Curhat Minggu Pagi

September 12, 2009 lamida 1 comment

Morning world. Sedang benar-benar membutuhkan uang untuk keperluan yang sangat urgent dan penting. Pertama untuk beli hp baru. Kedua untuk beli laptop baru. Ketiga untuk beli desktop canggih. Keempat pengen beli LCD TV juga. Kelima beli ban tubles buat vixi. Keenam beli aksesoris vixi, spackbor kolong, kover mesin, kover radiator dan aksesory y-max warna merah. Terakhir konsol game. Hmmm… benar-benar keperluan yang sangat urgent.

Hp baru benar-benar diperlukan setelah bosan pake hp lama. Pengen nyicipi pake hp qwerty. Terus merasa bosan dengan masih minimnya aplikasi-aplikasi Sysmbian S60 5th edition (OS Nokia 5800XM). Daftar fitur yang diperlukan untuk hp baru adalah music player, radio, koneksi HSDPA, GPS, kamera ga dodol-dodol banget, qwerty keyboard, layar yang gede, jack audio 3.5 mm, wifi (kalo ini ga maksa banget) dan mereknya harus Nokia. Ga tau kenapa dengan alasan tertentu saya sudah terlalu fanatik dengan Nokia. Ibarat bokap-bokap jaman dulu yang ga akan beli motor kecuali Honda, saya pun segan beli hp kalo bukan Nokia. Saking fanatiknya saya sampai membatalkan niatan mencicipi blackberry saking udah cinta dengan Nokia. Dari kebutuhan fitur-fitur tadi akhirnya tercipta daftar yang berisi N97, N85, E75, 5730XM dan E71. Dari daftar tersebut saya harus mencoret hp-hp yang tidak memenuhi kriteria utama dan terpenting namun belum saya sebut di atas. Kriteria harga. Akhirnya sisa di daftar adalah 5730XM. Rencananya sih, saya akan boyong hp ini (kalo ga berubah pikiran lagi), setelah Tunjangan Hari Rabu turun. :D

Kedua adalah urusan laptop baru. Bosen dengan laptop lama. Lagi pula laptop lama sudah rusak total a.k.a koit, alias mokat bin matot. Kandidatnya Acer Aspire Timeline. Ga terlalu minat beli netbook. Ga bakal ada netbook yang kuat jalanin netbeans, eclipse atau JBoss. Sebenarnya tertarik juga pengen beli Apel Digigit. Tapi duitnya belum banyak mengijinkan.

Ketiga pengen punya desktop canggih. Kalo perlua dual screen gitu. Screen pertama buat mainin Rhytimbox. Screen kedua, buat browser firefox. Hehehe ga banget. Sama seperti laptop, kayaknya nyicipin IMac cap Apel Digigit keren juga. Masih teringat pas di PRJ kemarin. Keren banget. Perlu desktop ini karena di rumah ga ada komputer. Kasian my sisters kalo lagi butuh ngetik tugas atau update status facebook mereka.

Keempat pengen beli LCD TV. Pengen rasain nonton layar gede tapi gepeng aja. (Alasan yang benar-benar ga masuk akal untuk mengeluarkan dana sekitar 5 jutaan).

Kelima beli ban tubless. Ban original vixi cungkring banget abisnya.

Keenam pengen aksesori Vixi. Kasian Vixi di rumah standar banget. Mana tangki udah gores-gores. Pengen punya list ini nih spackbor kolong, kover mesin, kover radiator dan aksesory y-max warna merah.

Yang terakhir pengen beli konsol game. Karena PS3 masih mahal dan bajakannya masih susah, beli PS2 ajah. Tapi harus beli TV dulu, bisa ribut-ribut rebutan TV kalo pake TV di rumah. Atau kalo pengen simpel paling-paling beli PSP ajah.

Ya itulah curhatan pagi hari ga jelas. Wekekeke…

Categories: Personal

Jangan baca post tidak penting ini

September 6, 2009 lamida Tinggalkan komentar

Nobody cares what you eat for lunch. Itu judul salah satu buku tentang blogging yang sempat sedikit saya baca. Banyak tujuan yang orang ingin capai melalui blog. Aktualisasi diri, mencurahkan pikiran atau untuk bisnis misalnya web marketing.

Untuk saya pribadi saya menulis blog karena memang saya ingin menulis apa yang terlintas di pikiran. Seperti judul buku tadi, kalau saya mau, saya akan menulis apa yang saya makan saat lunch. Meski saya sadar betul tidak ada satu pun orang di luar sana yang peduli itu. Saya sering menulis tentang perjalanan saya, curhatan cinta, film yang saya tonton, masa-masa suntuk yang terkadang datang. Tidak tuntutan dari diri saya agar orang lain membaca itu semua. Jika seandainya secara kebetulan ada yang melongok sejenak saya anggap itu sebagai bonus dan sangat merasa terapresiasi. Saya benar-benar hanya ingin menulis apa yang saya mau. Saya tidak peduli tata bahasa, aturan penulisan, kosakata, selama tidak melanggar etika formal, saya akan tulis apa pun itu.

Categories: Personal

Kisah Sedih di Hari Rabu

September 2, 2009 lamida Tinggalkan komentar

Sebulanan lalu LCD Laptop rusak, status unrepairable.

Minggu kemarin, lupa matiin kunci motor, aki kering. Ganti aki baru 140 ribu. Kesia-siaan yang harus dihindari.

Semalam, hujan deras saat pulang kantor. Sudah hampir 2 jam neduh akhirnya menerobos hujan. Semua barang disimpan ke dalam plastik sebelum dimasukan ke tas. Tapi entah karena kebodohan apa, handphone tetap saya gantung di dada dibelakang rompi angin. Sesampai rumah handphone masih nyala. Selang 5 menit langsung bergetar-getar sendiri, kemudian mati tak bisa dihidupkan lagi.

Singkat kata tadi pagi pun henpon tersebut dibawa ke Nokia Care Center Mampang Jakarta Selatan. Diperiksa sebentar fakta terkena cipratan air tidak bisa dibantah. Memang tidak perlu didebat karena kebenarannya seperti itu. Itu artinya harus menerima juga tidak berlakunya garansi. Tinggal menunggu beberapa hari semoga henpon bisa pulih seperti semula. Sedih. Kesia-siaan yang seharusnya bisa dihindari. Kejadian-kejadian tidak menyenangkan yang datang bertubi-tubi. Mungkin biar bisa belajar ikhlas dan tidak berorientasi materi. Semoga bisa mendapat hikmah yang lebih baik.

Categories: Personal

Review Film Merah Putih

Agustus 16, 2009 lamida Tinggalkan komentar

merah-putihSetelah Isya tadi tiba-tiba pikiran aku suntuk berat. Sebenarnya sih berbicara suntuk, itu sudah kronis terjadi dalam bulan-bulan terakhir ini. Stress berat, jenuh parah, suntuk, kelam, gelap, bosan, passionless. Dengan pikiran kacau balau, akhirnya aku mencoba mengurangi rasa suntuk tersebut. Aku keluarkan Marunochan (my red motorbike) dari rumah. Pake jaket rombeng-rombeng kesukaanku, kaos hijau belel, celana pendek seadanya, kaus kaki biar ga dingin, sendal jepit, slayer hitam dan helm merah, aku pun langsung meluncur 28 Km ke arah utara Jonggol dengan destinasi Cibubur Junction. Agendanya mencari keramaian, sambil nonton film Merah Putih. Hitung-hitung turut merayakan kemerdekaan Indonesia yang jatuh hari ini (sekarang sudah 17 Agustus 2009 01.01 AM).

Selang 45 menit, dengan kecepatan rata-rata 60 Km/jam dan kisaran rpm mesin di putaran 7000 aku sampai di Cibubur Junction. Langsung masuk parkiran, mampir ke ATM sebentar menghisap lembaran merah berfoto Soekarno Hatta lalu lanjut ke lift menuju lantai 2 tempat bioskop 21 berada. Berikutnya ke tempat tiket langsung mengambil tempat duduk tengah paling belakang untuk jam tayang 21.25. Sesudah itu duduk sebentar, ke toilet, kembali duduk, memandangi sekitar (masih merasa geli dengan seragam pegawai perempuan 21 yang berok panjang namun belahannya lebih panjang lagi), membeli pepsi dan akhirnya masuk teater.

Oke berikut adalah review singkat dari filmnya. Seperti judulnya Merah Putih berkisah tentang perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kehadirannya mencoba menjawab kerinduan penonton Indonesia akan film perang. Bagaimana tidak bosan jika tiap waktu terus saja disuguhi kalau tidak pocong ya setan, ya kuntilanak, ya kuburan. Basi. Dari gembar-gembornya Merah Putih mendatangkan berbagai kru film import, terutama untuk spesial effect peperangan.

Pada bagian awal film, entah bertujuan apa, Merah Putih menceritakan diskriminasi calon tentara di pendidikan tentara rakyat Indonesia. Pertama adalah Thomas, seorang kristen dari sulawesi yang menaruh dendam pada Belanda setelah keluarganya dibantai. Kedua adalah Dayan (kalo ga salah) seorang Hindu dari Bali. Mereka berdua agak “dibedakan” dari yang lain. Marius (Darius Sinatria hadir sebagai orang yang sok priyayi (namun ternyata pengecut) dan tidak suka dengan kehadiran Thomas. Mungkin mencoba mengangkat tema multikulturalisme film ini mengangkat topik diskriminasi minoritas tadi dengan porsi yang saya pikir agak berlebihan. Tokoh utama lain adalah Lukman Sardi sebagai Letnan Amir, seorang guru yang mendedikasikan dirinya untuk menjadi pejuang pembela kemerdekaan. Tokoh berikutnya adalah Santoso (sepertinya namanya bukan ini) sahabat dekat Marius. Selain topik spesifik diskriminasi minoritas, bagian awal film juga menggambarkan proses pelatihan di Sekolah Tentara Rakyat Indonesia.

Di malam wisuda sekolah tentara (jika boleh dikatakan begitu) diadakan semacam prom night. Ada nyanyian dan dansa. Datanglah istri Amir, juga kakak dari Santoso yang bernama Senja. Di tengah keasikan pesta, sekonyong-konyong terjadi serangan Belanda. Agak aneh sebetulnya. Cerita lalu bergeser dengan ganjil pada settingan perang tengah hutan. Tentara Indonesia tumbang satu persatu di dalam hutan. Santoso adik dari Senja turut tewas dalam serangan ini. Pada akhirnya hanya bersisa sedikit tentara yang bergerak mundur dari kepungan Belanda.

Pagi harinya tentara-tentara yang tersisa telah mundur ke sungai. Terjadi sedikit pertempuran kecil di sungai. Sebuah potongan cerita menggelikan terjadi kembali di sini. Dalam baku tembak Belanda melawan pejuang beberapa pejuang mati. Lukman Sardi kemudian menyelipkan granat di salah satu tubuh pejuang dengan tujuan yang sudah dapat dibaca. Para pejuang kembali bergerak mundur. Kemudian para Belanda, entah mengapa, sengaja membalik mayat pejuang yang telah diselipi granat. Mayat terjatuh dan granat terlepas, kaboooomm meledaklah semuanya.

Settingan berikutnya adalah sebuah desa. Para pejuang meminta penduduk untuk mengungsi namun penduduk menolak karena tidak bisa meninggalkan barang-barang mereka. Pejuang akhirnya menyerah membujuk dan kembali bergerak mundur ke hutan. Tak lama Belanda datang ke desa. Semua penduduk desa kemudian dibantai.

Settingan terakhir adalah setelah bersembunyi sejenak di hutan, para pejuang kembali ke desa yang telah hangus terbakar. Sebuah strategi untuk menjebak Belanda pun dibangun. Karena sedikit tentara yang tersisa, para tentara memutuskan merekrut warga desa yang masih hidup (agak maksa). Strategi menjebak Belanda dilakukan di sebuah jembatan di mana Belanda akan lewat. Para warga desa langsung dibekali senjata dan dilatih sesaat. Agak kurang logis juga, bagaimana mungkin seorang anak kecil dilatih senjata sebentar langsung bisa menembak jitu. Setelah proses training dan persiapan penyergapan selesai (timing yang benar-benar pas, arak-arakan Belanda tiba di tempat penyergapan. Tentara Belanda langsung kocar-kacir diserang sisa 5 tentara Indonesia dibantu dengan sekitar belasan warga pribumi. Pertempuran memang tergambar cukup sengit (sekaligus menggelikan). Truk-truk diledakan, peluru-peluru berhamburan. Tanpa ada serangan balasan yang berarti akhirnya prajurit Indonesia menang, menyisakan tawanan beberapa tentara Belanda yang masih hidup. Tanpa banyak ba bi bu, tiba setelah adegan itu film pun usai. Hmmm.. Film Indonesia. Barangkali masih ada sekuelnya nanti. Skor pribadi 2 dari 5 bintang.

Sebenarnya post ini tidak sama sekali bertujuan untuk mengkritik film Merah Putih. Upaya tim kreator untuk menyajikan film perjuangan dalam menyambut HUT kemerdekaan RI patut diacungi jempol. Saya pun sadar, membuat film perang adalah sangat kompleks. Akan dibutuhkan biaya yang sangat besar. Properti, kostum dan pemain yang jumlahnya cukup banyak. Semoga saja, setelah ini akan ada film-film lain yang lebih berkualitas cerita dan penggarapannya. Sehingga layar-layar bioskop Indonesia tidak sekedar selalu dipenuhi dengan pocong, setan atau kuntilanak saja.

Epilog, setelah nonton saya langsung cabut pulang. Kembali ke ATM menghisal 100 ribuan lagi. Bayar parkir lalu riding santai ke arah rumah. Malam yang indah, meski saya sejujurnya agak merasa kesepian. Hehehe… Ending post yang ga nyambung.

Categories: Musik dan Film

Algorithm to find first n prime number

Agustus 11, 2009 lamida 2 komentar

For second time I found same problem that I can’t solve well when attending job interview. Oh how is so hard become real programmer. The problem is: “Please make algorithm to list all of prime number from 1 to 100″. Ok, I know stupid definition of prime number. A prime can only divide by 1 and itself. For example 3 is prime because it is only divisible by 1 and 3 itself. 4 is not prime. Beside 1 and 4, 4 also divisible by 2. Ok stop talking and show me the code. After trial and error (and try to sneak by googling) I finally can make working method to list all of prime from n number. I write it in Java. Hopefully by writing this I don’t make third mistake. So at another interview I can confidently answer that easy question. Enjoyy.

public void countPrime(int n) {
        boolean flag = true;
        for (int i = 2; i <= n; i++) {// looping through all number
            for (int j = 2; j <= i - 1; j++) {
                // we check each number whether can be divided by other than 1 and itself
                if (i % j == 0) {
                    flag = false; // not prime
                }
            }
            if (flag) { // we print the prime
                System.out.println(i);
            } else {
                flag = true;
            }
        }
    }
Categories: Tips dan Pengalaman

Senin nonton, Selasa nonton dan Rabu nonton

Agustus 7, 2009 lamida 1 comment

Dari senin sampai rabu kemarin, saya berturut-turut pergi ke bioskop. Hari senin saya nonton Public Enemy di Blok M Plaza. Masuk bioskop setelah 15 menit film tayang. Satu jam sebelum film habis orang yang saya ajak menonton gelinjangan seperti cacing mengajak pulang karena kebosanan atas cerita film yang dia anggap membosankan. Capek dehh, kalo gitu ya ga usah ikut sekalian atuh. Memang sih durasi filmnya agak lama hampir 150 menit dan adegan ngobrol yang terlalu banyak.

Hari selasa giliran Pejaten Village XXI yang saya sambangi. Berbekal navigasi Garmin Mobile XT di handphone saya bergerak ke sana. Namun, sang GPS tidak terlalu banyak membantu karena saya tetap saja nyasar. Ujung-ujungnya nanya ke orang juga. Sesampai di TKP saya langsung terkekeh-kekeh sendiri, ternyata Pejaten Village itu ada di lurusan Mampang Prapatan. Segera ke parkiran mobil (itu loh yang rodanya 2), kemudian melesat ke bioskop. Agenda film yang akan saya saksikan adalah Ice Age 3: Dawn of Dinosaur. Saya tidak akan mereview namun secara pribadi saya memberikan skor 5 bintang untuk film kartun ini. Sangat lucu.

Hari rabu saya menuju Plaza Senayan XXI. Saya penasaran ingin mencoba nonton film 3D. Itu loh, yang nontonya harus pake kacamata gaul (kacamata 3D maksudnya). Filmnya film kartun berjudul Up. Tiket 35.000 durasi 90 menit. Kacamata cukup bagus, sayang tidak boleh dibawa pulang. Kesan 3Dnya seru juga mungkin karena saya baru pertama mencicipi. Jadi seakan-akan layar bioskop tidak datar, namun ada dimensi panjang, lebar dan tinggi. Seperti kita bisa masuk ke sana dan yang di layar bisa ke luar menuju kita. Untuk cerita filmnya sendiri tidak selucu Ice Age. Up agak membosankan. Oh ya satu hal lagi, film 3D tidak menyediakan subtitle. Supaya terkesan mengerti, ikuti suasana bioskop. Ketika penonton lain tertawa, kita harus ikut tertawa. Ketika yang lain menggumam sedih, kita juga harus mengikuti. Jadi kesannya kita seakan mengerti (padahal bingung) hahaha… Kesan buruk setelah nonton film, saya ditahan sekuriti bioskop sebentar karena tas yang saya bawa membunyikan detektor di pintu keluar bioskop. Mungkin karena kacamata 3D mahal, pihak manajemen sana sangat berhati-hati agar jangan sampai ada kacamata yang ikut pulang dengan penonton. Setelah saya diminta mengeluarkan isi tas, ternyata hardisk portable FreeAgent Go yang membunyikan alarm detektor. Sialan. :(

Oke mau cerita itu saja. Tadinya hari Kamis kemarin masih mau nonton, namun belum dapat film menarik yang layak ditonton. Yeah, hidup nonton.

Categories: Musik dan Film, Personal