Empat Malam di Amsterdam

Saat pertama kali ke Amsterdam saya terheran, bagaimana mungkin negara sekecil Belanda bisa menjajah kita sedemikian lamanya? Apakah mungkin hidup di iklim yang dingin dan hasrat mencari rempah-rempah merupakan faktor pendorong yang kuat? Entahlah karena itu adalah bagian dari sejarah yang belum terlalu saya kuasai. Yang pasti saat kedua kalinya sampai di Amsterdam saya merasa dekat dengan Belanda.

Istri pun saya berseloroh, “Dekat apanya? Yang satu hidungnya mancung.” Sambil menunjuk orang Belanda. “Yang ini hidungnya pesek.” Sambil menunjuk saya. “Orang Belandanya tinggi-tinggi dan orang Indonesia banyak yang pendek-pendek.” Mungkin kurang gizi di masa pertumbuhan seperti saya ini. Saya pun terbahak-bahak mendengar komentar tersebut. Bagaimanapun 2-6 Februari kami di Amsterdam adalah pengalaman yang mengesankan.

2 Februari: Dari Brussels ke Amsterdam

Mendarat di Amsterdam Centraal

Kami berangkat dari stasiun Bruxelles-Midi di Brussels sekitar jam 8 malam, lalu ganti kereta di Rotterdam sekitar jam 10 malam yang akan menghantarkan kami hingga stasiun utama Amsterdam, Amsterdam Central sekitar jam 10.30 malam. Lama perjalanan total adalah 2 jam dan 30 menit. Awalnya saya sempat khawatir masalah transfer di Rotterdam. Sebab waktu transfernya hanya 2 menit. Bagaimana jika ternyata transfernya harus berganti platform yang berjauhan? Apalagi kami membawa satu tas yang cukup besar. Faktanya ternyata transfer kereta hanya menyebrang platform yang bersebelahan tanpa harus naik atau turun tangga. Harga tiket yang kami bayarkan adalah 29.50 euro per orang.

Kami tiba di Amsterdam hampir tengah malam. Berhubung sudah pernah ke sini saya sudah tak perlu mencari-cari jalan lagi. Keluar kereta kemudian langsung keluar platform dan mencari mesin tiket otomatis untuk isi ulang kartu publik transport istri saya, Indri. Belanda menggunakan smart card bernama OV-ChipKaart untuk public transportnya. OV-ChipKart ini bisa digunakan di semua mode transportasi. OV-ChipKaart saya sendiri ternyata masih ada saldo hampir 20 Euro sisa jalan-jalan beberapa bulan sebelumnya.

Ibis Budget di Zaandam

Setelah isi ulang kartu kami langsung keluar Amsterdam Central menuju bus terminal. Di depan Amsterdam Central ada stop untuk tram dan bus. Selama di Amsterdam kami menginap di Hotel Ibis Budget. Tolong digaris bawahi, ditebali dan diberi stabilo kata-kata budget di belakang nama hotel tadi. Berhubung kami ingin jalan-jalan ekonomis maka semua pengeluaran harus ditekan hingga batas paling minimum. Sebagian besar hotel di pusat Amsterdam adalah sangat mahal. Akhirnya setelah membandingkan sana-sini pilihan terbaik jatuh ke Ibis Budget tadi yang berharga sekitar 40 Euro satu malam. Lebih murah berpuluh-puluh Euro dibandingkan hotel-hotel di pusat kota. Namun harga yang lebih murah itu harus ditebus dengan lokasinya yang di Amsterdam coret alis sedikit keluar dari Amsterdam. Ibis budget ada di daerah yang bernama Zaandam yang berjarak sekitar 25 menit perjalanan dari Amsterdam Central menggunakan bus.

Dari Amsterdam Central, kami menggunkan bus Connexion nomor 391. Connexion adalah salah satu provider bus dalam kota di Amsterdam. Kami sudah memeriksa bahwa bus ini ada hingga cukup tengah malam dan frekuensi sekitar 3 hingga 4 kali dalam satu jam. Satu hal yang sangat saya suka dari public transport di Eropa adalah bahwa mereka punya timetable yang berusaha dipatuhi dengan sangat akurat. Bahkan di Asia Tenggara, negara sekelas Singapura sekalipun busnya belum memiliki timetable.

Keluar dari stasiun kami menunggu tidak terlalu lama hingga busnya datang. Saat bus datang dan sebelum naik, saya memastikan ke supir bahwa bus tersebut berhenti di stop yang sudah saya tandai untuk menuju hotel. Amsterdam adalah kota yang sangat internasional. Meski bahasa resmi Belanda adalah bahasa Belanda, namun sebagian besar orang di sana bisa bahasa Inggris. Bahkan sapaan bahasa Indonesia bukanlah hal yang jarang dijumpai.

Connexion 391

Kembali ke bus, bus di Amsterdam adalah sangat modern. Sebelum naik kita mendekatkan OV-ChipKart ke depan card reader di pintu masuk bus. Sebelum turun jangan lupa mendekatkan lagi smartcard ke card reader. Apabila ada penumpang yang tidak memvalidasi kartunya saat naik entah karena lupa atau sengaja, bisa jadi di tengah jalan akan ada petugas yang memeriksa dan bisa jadi penumpang ilegal semacam itu akan didenda. Akhirnya benar, di tengah jalan ada sekitar 3 petugas yang naik ke bus untuk memeriksa smartcard setiap penumpang. Selain menggunakan OV-Chipkaart kita pun bisa membayar menggunakan uang tunai. Tapi harganya akan jauh lebih mahal. Selain sistem pembayaran yang sangat nyaman, di tengah bus ada display yang sangat besar berisi berbagai informasi relevan. Mulai dari jam, suhu hingga daftar stop yang akan dilewati dan stop berikutnya di mana bus akan berhenti. Jadi jika dengan informasi selengkap itu masih nyasar juga berarti ada yang salah dengan diri kita.

Panel Informasi di Dalam Bus

Setelah sekitar 25 menit melewati berbagai kegelapan di pinggiran kota Amsterdam akhirnya kami tiba di stop dekat hotel. Dari stop bus kami berjalan sedikit hingga akhirnya tiba di lobi nyari lewat tengah malam. Salah satu keuntungan menginap di chain hotel terkenal semacam Ibis meskipun ada kata “Budget” adalah kualitas layanan yang seharusnya cukup bisa diandalkan. Alhamdulillah faktanya seperti itu. Kamarnya cukup nyaman dan luas. Memang tak ada bathtub di kamar mandi tapi tetap cukup fungsional. Lucunya toilet dan bilik shower diletakan terpisah. Sesampai kamar kami langsung istirahat.

3 Februari: City Center

Regional Ticket dan ov-chipkaart

Morning Zaandam. Berhubung ini adalah hotel budget maka tak ada sarapan gratis. Pagi itu kami langsung keluar menuju pusat kota. Tujuan pertama adalah ke kantor layanan turis tepat di depan Amsterdam Central. Kami membeli tiket regional 24 jam untuk perjalanan esok hari. Tiket regional 24 jam adalah tiket bisa digunakan selama 24 jam sejak pertama kali dipakai dan berlaku di Amsterdam dan beberapa region di sekitar Amsterdam. Harganya 13.5 Euro. Ada juga tiket 24 jam Amsterdam seharga 7.5 Euro. Namun tiket ini hanya bisa dipakai di seputaran Amsterdam city center saja.

Kebab Deui Kebab Deui

Setelah beli tiket langsung ke tempat pertama yaitu resto kebab. Bagi yang berencana pergi ke Eropa dan punya perhatian masalah kehalalan makanan maka biasanya kebab adalah pilihan yang cukup bisa diandalkan selain menu ikan atau vegetarian. Meski memang sih setiap hari makan kebab agak membuat muak juga. Seperti yang sudah terjadi pada istri saya yang sudah bosan makan kebab. Bagi saya pribadi, selama ada pilihan halal, makan daging yang tidak jelas metode penyembelihannya bukanlah pilihan. Sebab makan tidak menjadi halal hanya dengan membaca bismillah sebelum menyuap.

Dam Square

Setelah makan kami langsung menuju Dam Square, sebuah square terkenal di Amsterdam. Kami berjalan kaki menuju ke sana. Atraksi terkenal di Dam Square adalam Madam Tussaud yang berisi patung-patung lilin figur-figur terkenal dengan dimensi sesuai aslinya. Dari balik kaca museum terlihat DJ Tiesto versi patung yang sedang bermain turntable. Sayang sekali karena harga tiket yang cukup mahal bagi kami membuat kami urung masuk ke dalam. Dam Square sendiri sangat ramai dengan turis bahkan di musim dingin seperti ini. Lucunya musim dingin kali ini Amsterdam belum bersalju sedikit pun meski suhu tetap cukup dingin.

Hal yang saya sukai dari suasana kebanyakan lapangan-lapangan terbuka adalah banyaknya burung merpati. Di Dam Square bukan pemandangan aneh melihat anak kecil yang berlari-lari mengejar merpati.

Dari Dam Square, seperti kata lagu kami berjalan tak tentu arah hingga akhirnya sampai di Rijksmuseum . Oleh karena alasan budget kami kembali tidak masuk ke dalam museum ini namun hanya berfoto-foto di tulisan besar Iamsterdam di depan museum. Iamsterdam adalah tagline promosi pariwisata kota Amsterdam.

Iamsterdam

Fatih Moskee

Dari museum kami menuju ke masjid di Rozengracht. Nama masjidnya adalah Fatih Moskee. Ini adalah masjid Turki. Meski dari luar terlihat kecil, namun saat di dalam masjidnya ternyata cukup luas. Setelah shalat kami pergi ke sebuah kantor turis untuk membeli tiket canal cruise. Kanal adalah keunikan kota Amsterdam yang membuat kota ini terlihat sangat cantik. Sayangnya saat kami menaiki kapal, terlalu banyak turis dalam satu kapal, sehingga kami jadi kurang menikmati suasananya.

Bagian Dalam Fatih Moskee

Selesai canal cruise kami makan malam di sebuah Restoran Indonesia halal yang saya ketahui dari kunjungan ke Amsterdam sebelumnya. Nama restorannya adalah Iboenda yang berlokasi di The Clercqstraat 65. Makanan yang dijual adalah makanan rumahan. Sekali makan per porsi adalah seharga sekitar 10 euro. Namun 1 porsi tadi adalah sangat banyak sehingga bisa kami makan berdua dan tetap cukup kekenyangan. Selesai makan kami langsung kembali ke hotel.

Resto Iboenda

4 Februari: Eksplorasi Zaandam dan Volendam

Belanda terkenal dengan banyak hal. Pertama adalah dam, lalu kanal-kanalnya yang cantik, kemudian tulip yang menawan, juga red light district dan yang mungkin sangat melekat di benak kebanyakan orang Indonesia adalah kincir anginnya yang khas. Tak pelak jika ini karena si Negara Londo ini sering disebut sebagai Negeri Kincir Angin.

Kincir Angin Zanse Schans

Tak jauh dari Amsterdam, kita bisa melihat kincir angin khas Belanda di area yang bernama Zaanse Schans. Kebetulan lokasi ini tidak jauh dari Zaandam di daerah hotel kami. Dari hotel ke Zaanse Schans cukup sekali naik bus Connexion nomor 391 gratis menggunakan regional pass yang sudah kami beli sebelumnya.

Zaanse Schans adalah semacam museum terbuka. Atraksi utamanya adalah kincir tradisional Belanda. Ada beberapa kincir di tempat ini dengan latar belakang danau dan sungai yang cantik. Selain kincir ada juga workshop sepatu kayu khas Belanda di sini. Kita tidak perlu membayar untuk memasuki area Zaanse Schans. Saya dan istri saya, Indri menghabiskan waktu beberapa jam untuk berkeliling tempat ini.

Sepatu Kayu Raksasa

Mas mas Pengrajin Sepatu

Setelah Zaanse Schans kami menuju ke daerah urban lain yang bernama Volendam. Volendam adalah kota nelayan yang tak jauh dari Amsterdam. Atraksi utama kota ini adalah suasana kota nelayan, restoran seafood dan foto menggunakan kostum nelayan tradisional khas Volendam. Dari Amsterdam Central kita bisa naik bus EBS nomor 118 menuju Volendam. EBS adalah perusahan otobus seperti Connexion. Satu hal yang menarik, armada EBS yang kami naiki memiliki wifi dengan koneksi internet. Pejalanan dari Amsterdam Centraal ke Volendam adalah sekitar 30 menit. Berbeda dengan beberapa bus Connexion dan terminal tram yang ada di bagian depan Amsterdam Centraal, tempat stop bus EBS 118 dan beberapa bus lain ada di bagian belakang stasiun.

Bus EBS Kuning

Sesampai Volendam kami langsung berjalan ke arah pantai. Di bibir pantai banyak restoran dan toko suvenir. Tujuan pertama adalah membuat foto dengan kostum tradisional Volendam. Ada beberapa studio foto yang menawarkan layanan foto kustom tradisional di Volendam. Tempat yang kami pilih mematok biaya 18 Euro untuk satu foto ukuran A4. Laki-laki dan perempuan memiliki satu kostum khas tersendiri. Ada beberapa aksesori yang bisa dipilih juga untuk menyemarakan foto. Saya memilih memegang akordion.

Selesai foto sambil menunggu foto dicetak, kami mencari tempat untuk makan siang. Kami pun menemukan sebuah resto fish and chip. Di resto ini kami sempat di sapa oleh satu pasangan Belanda yang juga tengah pelesir ke Volendam. Mereka bercerita sudah pernah ke Bali dan mengagumi keindahan pantai-pantai di Indonesia. Selesai makan kami kembali ke foto studio untuk mengambil foto lalu berjalan di pinggir pantai yang cukup berangin-angin. Saya menyempatkan shalat di pinggir pantai ini.

Nyifood di Volendam

Setelah itu kami berkeliling lagi sekitaran pantai. Uniknya ada beberapa patung khas di sepanjang pantai Volendam. Setelah semakin sore kami memutuskan kembali ke Amsterdam dan beristirahat di hotel.

Salah Satu Patung di Volendam

5 Februari: Nyasar ke Red Light District

Fish Burger

Pagi hari kami awali dengan sarapan burger ikan di Burger King Amsterdam Centraal. Setelahnya kami berjalan tanpa arah. Lucunya tiba-tiba kami nyasar ke red light district. Area ini adalah area yang berisi beberapa rumah bordir. Di setiap rumah bordir ada semacam etalase bernuansa lampu merah yang memajang wanita-wanita dengan baju sangat minim. Tentu saja wanita-wanita tersebut adalah PSK yang bisa disewa. Mirisnya di Belanda prostitusi adalah legal. Red light district ini justru menjadi salah satu destinasi wisata di Amsterdam.

Kegiatan utama kami di hari ini adalah bersepeda. Amsterdam mungkin adalah kota paling bersahabat untuk pengendara sepeda. Di seluruh bagian Amsterdam dan mungkin bahkan di sebagian besar kota-kota Belanda, ada jalur khusus untuk sepeda. Selain alat transportasi yang bersahabat dengan lingkungan, sepeda adalah bagian erat dari budaya Belanda.

Green Budget Bike

Ada banyak tempat menyewa sepeda untuk turis di Amsterdam. Sayang harganya tidak terlalu murah. Setelah browsing internet saya menemukan vendor bernama Green Budget Bike yang nampaknya menawaran harga paling terjangkau. Kami membayar 6.5 Euro untuk sewa selama 3 jam. Pada faktanya penunggu konter green bike memberikan bonus 1 jam tambahan. Harga tersebut adalah untuk sewa sepeda single speed tanpa rem tangan alias dutch bike. Untuk sepeda dengan gigi dan rem tangan sewanya lebih mahal lagi. Selain lebih murah, Dutch bike adalah pilihan tepat untuk merasakan nuansa seutuhnya bersepeda di Amsterdam. Cara mengerem sepeda Dutch Bike adalah dengan sedikit mendorong pedal sepeda ke arah belakang. Semakin kita tekan maka tingkat pengeremannya akan bertambah. Pada awalnya agak sedikit membutuhkan adaptasi namun setelah sebentar saja membiasakan diri kami langsung mengelilingi beberapa blok di Amsterdam.

Menjelang sore kami berjalan ke arah belakang Amsterdam Centraal dengan tujuan untuk naik feri. Di sini ada terminal feri dengan 3 jurusan menyebrangi kanal besar di belakang stasiun. Jasa penyebrangan ini tidak dipungut biaya alias gratis. Kami naik ke NDSM-werfveer, jurusan yang palng jauh di mana diperlukan waktu sekitar 15 menit untuk menyebrang. Sesampai di sebrang kami menaiki feri yang sama kembali ke Amsterdam Centraal. Memang tidak ada yang terlalu spesial namun tetap cukup menyenangkan untuk merasakan bagaimana orang-orang lokal sana beraktivitas semisal menyebrang menggunakan feri gratis tadi.

Aktifitas naik feri tadi mengakhiri kegiatan utama kami di hari itu.

6 Februari: Flea Market

Ini adalah hari terakhir kami di Amsterdam. Kami checkout hotel sebelum jam 12. Saya sempat meminta ke resepsionis untuk late checkout sampai jam 1 siang untuk Shalat Zuhur dulu namun menurut aturan kami harus membayar ekstra 5 Euro perjam jika ingin late checkout. Kami pun memutuskan untuk checkout sesuai dengan batas waktunya saja.

Locker Tas di Amsterdam Centraal

Setelah dari hotel kami kembali naik bus ke Amsterdam Centraal. Di sini tujuan pertama adalah menitipkan tas carrier kami yang besar agar kami bisa jalan-jalan hingga menunggu penerbangan ke Oslo nanti malam. Untuk kesekian kalinya kami tidak punya tujuan spesifik. Akhirnya kami pun berjalan ke metro station yang berada di kolong Amsterdam Central dan naik random metro yang tengah nangkring. Amsterdam punya 4 metro dengan nomor 50, 51, 53 dan 54. Metro 52 sedang dalam tahap pembangunan dengan ekspektasi selesai baru tahun 2017 nanti.

Kembali ke Metro yang kami naiki, akhirnya kami turun di Nieuwmarkt. Keluar kereta kemudian keluar stasiun metro kami berjalan tak tentu arah lagi, tentunya tampa tersesat dan tak tahu arah jalan pulang (halah). Singkat cerita kami nyangkut di sebuah flea market di sini. Ada berbagai macam barang yang dijual di sini. Mulai dari sepeda, souvenir, pakaian, pajangan, barang antik, gramafon, piringan hitam, DVD porno, buku, prangko dan uang koleksi. Meski cuma berputar-putar di dalam pasar loak ini kami merasa sangat senang melihat berbagai macam barang-barang yang unik.

Flea Market

Selesai dari pasar loak, kami duduk-duduk lagi di pinggir kanal. Lalu kembali lagi ke Restoran Iboenda untuk makan siang. Dari Iboenda iseng naik tram dan turun di Rembrandtplein alias alun-alun Rembrandt yang diambil dari pelukis Londo nan terkenal Rembrandt van Rijn. Dulu Rembrandt tinggal di dekat square ini dari tahun 1639 hingga 1656. Di tengah square berdiri patung Rembrandt yang ada di sana sejak 1876. Di tahun 2006, diletakan kumpulan patung perunggu yang desainnya mengambil suasana dari lukisan Rembrandt paling terkenal, The Night Watch.

Mas Rembrandt dan The Night Watch

Selesai nongkrong-nongkrong di Rembrandtplein, kami kembali ke Amsterdam Central untuk mengambil tas. Dari sana kami langsung ke airport. Schipol, airport utama Belanda dapat dijangkau dengan mudah menggunakan banyak kereta dari Amsterdam Central. Tiket kereta ke bandara sekitar 4 Euro dengan waktu tempuh sekitar 15 menit.

Si Merah Norwegian Air Shuttle

Stasiun Schipol ada di bawah bandara. Berhubung ini bandara yang cukup besar, jika akan terbang dari sini pastikan sediakan waktu yang cukup oleh karena pemeriksaan security yang cukup ketat sehingga memakan waktu. Area bandara terbagi menjadi area Schengen dan Non-Schengen. Tak ada pemeriksaan paspor untuk penerbangan ke sesama area Schengen. Ada universal praying room di area Non-Schengen dan sayangnya tempat serupa tak ada di area Schengen. Kami pun menyempatkan diri shalat di pojokan kosong ruang tunggu bandara sambil menanti pesawat Norwegian Air Shuttle yang akan menghantarkan kami Oslo yang terlambat selama 45 menit. Malam itu kami pun berpamitan dengan Amsterdam saat pesawat merah Norwegian Air Shuttle meninggalkan Schipol.

Brussels Kota Waffle dan Patung Pipis

Belgia mungkin tidak menjadi tujuan utama orang jalan-jalan saat ke Eropa. Tujuan awal saya ke Brussels, ibukota Belgia pun sebenarnya adalah untuk menghadiri Fosdem, salah satu forum berkumpulnya developer open source di Eropa. Jika tak ada Fosdem mungkin kami tidak akan ke Brussels. Tapi pada akhirnya Brussels tetap menjadi kota yang menarik untuk di jelajahi.

Brussels atau Bruxelles dalam ejaan Prancis, adalah kota yang sangat multikultur. Seperti banyak metropolitan Eropa barat pada umumnya seperti Paris dan Amsterdam, banyak sekali pendatang di Brussels. Saat pertama kali keluar di stasiun Bruxelles-Midi akan sangat mudah melihat wanita berkerudung yang berlalu lalang sebagai indikasi banyaknya muslim di sini. Makanan halal pun cukup mudah untuk dicari. Berbagai macam bangsa dengan beragam warna kulit dan bahasa berkumpul di sini. Kami menemukan sebuah paradoks menarik berkaitan dengan multikulturalisme dan makanan di sini. Ada sebuah restoran asia di Brussels, halal, chefnya orang China, menu makanannya dalam bahasa Prancis. Selain itu, Brussels pun sering dianggap ibukota uni eropa karena banyaknya institusi uni eropa yang berkantor pusat di sini.

Le Lombard adalah publisher komik Tintin

Kedatangan saya ke Brusselsnya pun membangkitkan beberapa fragment memori masa kecil. Dulu saya suka membaca beberapa komik Eropa. Ternyata sebagian dari yang pernah saya baca adalah karya komikus Belgia. Yang pertama adalah Tintin karya Georges Remi alias Herge yang pasti sebagian besar orang tahu. Kemudian The Smurf karya Pierro Culliford yang juga cukup terkenal. Lalu ada Agent 212 kisah tentang polisi gendut dengan segara kekonyolan-kekonyolannya karya Raoul Cauvin dan Daniel Cox. Kemudian Bobo yang diterjemahkan menjadi Si Bob Napi Badung di terbitan Indonesia. Kisah tentang napi yang berusaha melarikan diri dari penjara Inzepocket. Lalu saya juga pernah membeli komik bekas Gaston karya Andre Franquin yang berkisah tentang kisah kekonyolan Gaston.

Kembali ke cerita perjalanan, saya dan istri saya Indri berangkat ke Brussels dari Erfurt, Jerman. Kami mendapatkan tiket cukup murah, hanya 36 Euro per orang setelah Indri mencari di Bahn Ltur. Dari Erfurt kami pindah kereta satu kali di Frankfurt Flughafen, stasion di bandara Frankfurt lalu lanjut ke kereta yang menghantarkan hingga ke stasiun Bruxelles Midi.

Sampai Brussels berhubung kami tidak berlangganan data roaming, kami mengandalkan snapshot google maps yang sudah kami simpan sebelumnya untuk berjalan menuju ke hotel. Berhubung belum membeli tiket publik transport kami pun memutuskan berjalan kaki sekaligus mengeksplorasi kota. Kami menginap di Scandinavia Hotel yang kami pesan melalui booking.com.

Resto Halal Asia

Malam hari kami keluar untuk makan malam. Kami jalan kaki menuju restoran asia yang kami sebut sebagai paradoks di atas. Nama restonya Shinwi. Seperti sebagian besar kota di Eropa, makan di restoran adalah sangat mahal. Rata-rata biaya perorang untuk makan standard minimal adalah 10 Euro.

Setelah makan kami berjalan ke arah stasiun metro. Kami pun membeli tiket 24 jam yang bisa digunakan di semua jenis public transport di Brussels. Harga tiket 24 jam tersebut adalah 7 Euro (6.5 Euro sebelum 1 Februari). Tiket ini bisa dibeli di mesin otomatis yang tersebar di stasiun metro, stop tram dan stop bus. Sebenarnya ada juga tiket 48 dan 72 jam namun nampaknya 2 jenis tersebut harus dibeli langsung di konter di stasiun. Tiket 24 jam bentuknya adalah kertas magnet. Kita harus memvalidasi pertama kali dengan memasukan ke mesin oranye di pintu menuju platform metro atau di dalam tram dan bus. Validasi pertama akan mencetak tanggal berlaku awal hingga akhir tiket 24 jam tersebut.

Tiket 24 Jam Brussels

Hari kedua di Brussels saya mendatangi Fosdem yang bertempat di l’Université libre de Bruxelles (ULB). Dari hotel kami naik metro kemudian menyambung tram. Satu hal yang saya kagumi dari Brussels adalah sistem transportasi publiknya yang amat sangat komprehensif. Ada tram, metro dan bus. Memang terkadang metro dan tramnya agak kotor dan menyeramkan untuk standard saya yang tinggal di Singapura. Banyak coretan di mana-mana, di pintu masuk stasiun terkadang bau pesing dan bahkan di stasiun metro sendiri banyak gelandangan yang tinggal. Namun ketepatan waktu dari sistem transportnya adalah sangat akurat. Informasi arah di stasiun dan stop berikutnya saat di dalam kendaraan pun sangat lengkap sekali. Selain transportasi di atas, Brussels pun baru-baru ini meluncurkan sistem sewa murah sepeda yang bernama Villo. Di seputaran Brussels akan ada banyak drop point sepeda kuning Villo yang diatur secara elektronik. Sepeda akan terkunci ke dudukan magnet. Bila ada yang ingin menyewa bisa datang ke mesin sewa kemudian memiih jangka waktu sewa. Setelah pembayaran kunci magnet sepeda akan terlepas dan sepeda bisa dipakai. Sepeda bisa dikembalikan di drop point yang lainnya. Sayangnya kami tidak sempat mencoba mode transport ini.

Villo Drop Point

Kembali lagi ke cerita perjalanan, saya di Fosdem hingga sekitar puku 3 sore karena kami tiba-tiba lapar dan ingin mencari makan. Kami naik bus dari ULB dan tiba-tiba Indri mengajak turun di satu stop. Saya lupa stopnya di mana. Kami keluar kemudian berfoto-foto dan menemukan konter fastfood halal, Hector Chicken. Kami memesan satu menu untuk berdua chicken wings dan kentang goreng seharga 6.5 Euro. Bahasa resmi Belgia adalah Prancis. Sehingga kebanyakan orang akan berkomunikasi dengan bahasa itu. Namun sebagian besar orang juga bisa berbahasa Inggris.

Palais de Justice yang sedang direnovasi

Setelah makan kami naik metro untuk menuju Palais de Justice. Sayangnya gedung tersebut sedang di renovasi sehingga kami hanya berfoto-foto di depannya. Pemandangan di sana sangat bagus karena di depannya bisa melihat sebagian Brussels dari atas. Dari sana kami berjalan menuju Manneken Piss. Hingga saat ini kami masih heran bagaimana mungkin landmark sesederhana Manneken Piss bisa sangat terkenal di Belgia. Manneken Piss hanyalah patung anak kecil yang sedang kencing. Namun sesampai di sana tempat ini sangat ramai dikerumuni banyak turis yang ingin berfoto, termasuk kami juga. Di dekat Manneken Piss ada juga Waffel, salah satu makanan khas Belgia yang sangat enak sekali dengan harga hanya 1 Euro.

Legendary Manneken Piss

Waffle!!!

Setelah dari patung anak kecil pipis kami berjalan menuju Grand Place-Grote Markt yang masih berada di area yang sama. Grand Place ini adalah “alun-alun” utama di Brussels. Lokasi ini dikelilingi oleh beberapa gedung yang cukup bagus. Kunjungan ke Grand Place alis Grote Markt itu mengakhiri hari kami kedua di Brussels.

Hari ketiga di Brussels diawali dengan kembali ke Grand Place lagi. Sebab sehari sebelumnya kami berfoto-foto sesudah gelap. Di musim dingin matahari baru terbit sekitar jam 8 dan sudah terbenam sekitar jam 5. Setelah berfoto-foto kami meluncur ke Atomium. Salah satu landscape lain yang terkenal di Brussels. Atomium adalah menara berbentuk seperti struktur atom yang awalnya dibuat untuk world expo tahun 1958. Namun justru keberadaan menara itu bertahan hingga sekarang. Dari atomium kita bisa melihat sekeliling Brussels, lalu ada juga restoran di puncak menaranya. Di bagian lain menara ada beberapa tempat pameran. Kami cukup berpuas hanya berfoto-foto di luar menara meski harga masuk menaranya sebenarnya harnya 11 Euro saja.

Atomium dari bawah

Dari Atomium kami kembali ke pusat kota naik tram. Makan siang sekaligus malam, lalu kembali ke hotel mengambil tas carrier besar dan menuju stasiun Bruxelles Midi lagi untuk naik kereta ke Amsterdam, tujuan berikut kami. Kami membeli tiket sehaga 29.5 Euro perorang di snbc. Setelah sekitar 3 jam dan setelah transit di Rotterdam kami pun tiba di Amsterdam.

Zuhur di Frankfurt

Terkadang saya sering berpikir betapa mudahnya kita hidup di zaman ini. Sejak pertama kali ke luar negeri di tahun 2010 saat saya nyebrang ke Singapura saya tak pernah kesulitan menemukan arah perjalanan di tempat terasing sekalipun. Tentunya selama ada sinyal 3G atau setidaknya sinyal GPS. Perkembangan teknologi yang ada sekarang membuat kita mudah bernavigasi bahkan untuk tempat yang baru pertama kali kita datangi. Terima kasih banyak untuk google maps dan open street maps untuk kemudahan yang diberikan. Tak lupa ada sedikit efek jelek kecanggihan yang membuat kita semakin kurang berinteraksi dengan orang lain. Lebih mudah mengetikan query di search box dari pada menghampiri orang dan terbata-bata bertanya dengan bahasa yang asing.

Hallo Emirates!

Setelah sekitar total 16 jam penerbangan saya kembali mendarat di Eropa, kali ini di Frankfurt. Ini adalah benua yang menjadi tujuan impian tertunda saya untuk bersekolah. Setidaknya mimpi tersebut sudah dicapai terlebih dahulu oleh istri saya, salah seorang gadis terbrilian yang pernah saya kenal. Setiap tempat punya kelebihan dan kekurangan demikian juga tak ada perbandingan yang seimbang antara Asia dan Eropa, Indonesia atau Singapura dengan Jerman atau dengan negara lainnya. Dari dulu saya selalu percaya bahwa betapa tak beruntung bagi orang yang tak pernah keluar kampung halamannya. Barangkali hasrat untuk menjelajah mengunjungi tempat-tempat baru datang dari separuh darah Padang yang mengalir di tubuh saya. Orang Padang memang punya hasrat merantau yang sangat kuat. Seperti yang dituliskan di novel tenggelamnya kapal Van der Wijk. Bahkan ada seloroh, kelak jika ada rumah makan di bulan, yang pertama dibuka pasti adalah restoran Padang.

Kembali ke Frankfurt. Setelah keluar pesawat, dingin langsung cukup menusuk menembus dinding garbarata jembatan pesawat. Namun bukan sesuatu yang asing, sebab beberapa bulan lalu di Schipol pun kira-kira sama seperti ini. Masuk ruangan terminal, bandara tersibuk ketiga di Eropa setelah London Heathrow dan Paris Charles de Gaulle Airport ini pun terasa biasa saja untuk saya yang terlalu sering dimanja nyaman dan megahnya Changi. Menurut wikitravel, maskapai selain Luftansha milik Jerman dan maskapai Star allliance akan mendarat di terminal 2 Frankfurt. Artinya, saya yang naik Emirates ada di terminal 2 saat itu. Setelah bertanya ke petugas informasi, kereta ke pusat kota ada di terminal 1. Terminal 1 bisa dicapai di Terminal 2 dengan shuttle bus gratis dengan waktu sekitar 13 menit. Di terminal 1 saya langsung mencari sim card hp. Setelah bertanya lagi mendapatkan satu toko dan ditawarkan sim card lebara seharga 40 Euro dengan balance 20 Euro dan mendapat bonus data 1 GB. Saya tak tahu apakah harga tersebut harga yang wajar namun akhirnya tetap saya bayar.

Frankfurt Shuttle Airport

Setelah kembali bertanya lagi, stasiun kereta menuju pusat kota ada di basement 1 airport. Harga tiketnya 4.35 Euro bisa dibeli di mesin atau di konter tiket. Lama perjalanan sekitar 15 menit melalui 3 stasiun. Stasiun utama di Frankfurt adalah Frankfurt Hauptbahnhof di mana istri saya menunggu. Berhubung masih deso, dengan sok gaya saya mengatakan ke petugas tiket “I would like to go to Hauptbahnhof”. Yang langsung dibalas dengan pertanyaan “Which Hauptbahnhof?”. Saya baru ngeh belakangan Hauptbahnhof itu artinya adalah Central Station. Di seluruh Jerman ada banyak Central Station. Jadi seharusnya saya berkata lebih spesifik Frankfurt Hauptbahnhof. Pengalaman ini membuat saya ingat cerita istri saya. Satu waktu ada pejabat Indonesia yang terlambat meeting dengan satu lembaga di Jerman. Tentu saja perwakilan Indonesia merasa malu dengan ketidaktepatan waktu pejabat tersebut dan berusaha menghubungi sang pejabat menanyakan di mana posisinya sekarang. Sang pejabat yang tak bisa berbahasa Jerman pun membalas, mungkin setelah celingukan melihat papan nama jalan di sekitar dia, “Sudah di jalan Strasse”. Padahal strasse bukan nama jalan, strasse adalah bahasa Jerman untuk street.

Kembali ke stasiun kereta di Frankfurt airport. Setelah membeli tiket dan bertanya platform kereta yang mana, saya langsung turun ke stasiun kereta. Saya lupa apakah naik S-Bahn atau U-Bahn namun saya langsung masuk kereta pertama yang datang, sebab sebelumnya sang petugas bilang saya bisa naik kereta apa saja di platform tersebut. Tiga belas menit berselang langsung sampai di Frankfurt Hauptbahnhof. Langsung turun dan membeli segelas Nescaffe Capucino di vending machine. Kebanyakan orang Eropa menenteng kopi di kereta dan terlihat keren. :D. Setelahnya saya langsung menelepon istri saya dan memintanya menunggu di tangga dari platform seratus sekian tempat saya turun kereta tadi. Langsung naik eskalator dan bidadari saya tersebut sudah menunggu di atas tangga dengan jaket tebal dan sepatu bootnya. Kangen sekali rasanya setelah 4 bulanan tidak bertemu. Langsung saya peluk seperti di film-film itu.

Opposite of Frankfurt Hauptbahnhof

Dari stasiun kereta kami langsung ke hotel yang berada selemparan batu. Kami meamang berencana menginap semalam di sini. Setelah checkin hotel, kemudian shalat kami langsung keluar hotel lagi untuk mencari makan siang. Frankfurt cukup mirip Amsterdam. Ada banyak imigran di sini. Saat baru saja keluar hotel ada seorang perempuan mudah yang tiba-tiba memaksa meminta uang. Kami hiraukan sambil berjalan cepat. Di sejauh mata memandang cukup banyak perempuan berkerudung, artinya cukup banyak orang muslim di sini. Namun sedihnya tak jarang banyak ibu-ibu tua yang juga berkerudung meminta-minta uang di perempatan jalan. Memperbaiki streotype Islam adalah tugas yang berat. Saya ingin sekali bisa menjadi agen muslim yang baik dan menunjukan bahwa Islam adalah agama yang penuh rahmat.

Römerberg

Siang itu istri saya mengajak makah siang di restoran Thailand. Halal demikian label yang tertempel di kaca restoran. Ternyata cukup banyak juga restoran halal di sini. Untuk makan di restoran setidaknya siapkan 10 Euro per orang. Bukan harga yang bersahabat memang namun demikianlah adanya di sini. Setelah makan siang kami langsung berjalan-jalan seputar kota. Infrastruktur transportasi publik di Franfurt adalah sangat komprehensif. Pilihannya ada bus, S-Bahn, U-Bahn dan tram. Untuk praktisnya jika kita berencana banyak naik turun angkutan umum sebaiknya membeli day ticket yang bisa dibeli di banyak mesin di stasiun atau di tram stop. Untuk tiket grup hingga 5 orang seharian harganya 10 Euro.

Gembok-gembok di Eiserner Steg

Di hari pertama di Frankfurt kami mengunjungi Römerberg, Eiserner Steg dan Hauptwache. Römerberg itu pusat kota tua Frankfurt di mana ada beberapa bangunan historis. Eiserner Steg itu jembatan pedestrian di Main river. Menariknya ada banyak gembok dipasang sepanjang jembatan bertuliskan nama-nama pasangan orang. Mungkin ada semacam mitos berkaitan dengan ini. Hauptwache adalah central hub Frankfurt. Ada banyak shopping center di sini. Berhubung sedang winter, matari sudah turun sekitar jam 5 sore. Sebelum pulang ke hotel istri saya mengajak mampir ke resto Thailand lagi untuk membeli nasi putih. Untuk makan rendang yang dibawakan ibu saya nanti malam katanya.

Hari kedua kami baru keluar hotel setelah jam 12 siang sekaligus checkout. Kami titip koper-koper besar di resepsionis. Tempat yang pertama kami cari adalah tempat shalat Zuhur. Di resepsionis kami bertemu dengan orang Saudi yang mengajak ngobrol. Dia mengucapkan salam ke kami mungkin setelah melihat istri saya yang berkerudung. Dia mengatakan ada tempat shalat di sebelah hotel. Namun kami lebih memilih untuk mencari masjid. Kami berpamitan dan mengucapkan salam yang juga ikut dibalas waalaikumsalam oleh resepsionis hotel seorang pria Jerman muda. Namun sebelum ke tempat shalat istri saya mengajak untuk makan siang ke satu restoran Thailand lain lagi.

Siang itu akhirnya kami shalat di Islamischer Marokkanischer Verein für Kultur und Kommunikation. Letaknya tak jauh dari Hauptwache. Dari luar gedungnya tak berbentuk seperti masjid. Tak ada kubah dan tak ada minaret. Tempat shalat ada di lantai 2 dalam ruangan yang sangat sederhana. Betapa beruntuk muslim di Indonesia yang bisa leluasa shalat di banyak masjid bagus ke mana pun kita pergi.

Di depan Alte Oper

Masjid Maroko

Setelah shalat kami kembali berkeliling kota. Naik turun S-Bahn dan U-Bahn. Foto-foto sebentar di Alte Oper dan kembali ke hotel untuk mengambil koper kemudian ke Hauptbanhof untuk menuju ke Ilmenau tempat istri saya kuliah.

Transit di Erfurt menuju Ilmenau

SIM Internasional

Rabu minggu lalu saya mengurus SIM Internasional di Jakarta. Proses pembuatannya sangat cepat dan profesional.

SIM internasional adalah dokumen yang memungkinkan kita berkendara di luar negeri. Pada praktiknya, SIM internasional harus disertai dengan SIM lokal kita. Oleh karena itu untuk membuat SIM internasional kita harus sudah memiliki SIM Indonesia.

Persyaratan pembuatan SIM ini adalah sangat mudah.

  1. Paspor
  2. SIM lokal
  3. KTP
  4. Foto 4×6 3 buah dengan latar belakang biru
  5. Materai 6 ribu

Biayanya 250.000 untuk pembuatan baru dan 225.000 untuk perpanjangan. Masa berlaku SIM 3 tahun (sebelumnya hanya 1 tahun). Dibuat di kantor Korlantas Cawang. Patokannya, jika dari arah UKI posisinya setelah Menara Saidah.

Berikut alamat lengkapnya:

Korlantas Polri
Jl. Letjen Haryono MT Kav 37-38
Jakarta 12770
Telp: 021-7989702

Saya berangkat dari rumah di Jonggol jam 9 pagi namun tidak beruntung baru sampai di kantor pembuatan SIM internasional pukul 12 siang tepat saat istirahat siang. Saya langsung ambil nomor antrian lalu sambil menunggu jam 1 saya pun Shalat Zuhur di masjid yang tepat berada di sebelahnya.

Seusai shalat tepat jam 1 layanan sudah kembali di buka. Hanya ada satu orang di depan antrian saya. Kurang dari 5 menit saya pun dipanggil. Karena saya jngin membuat SIM internasional untuk motor dan mobil maka persyaratan tadi dibuat 2 rangkap. Saya menyerahkan berkas-berkas kemudian petugas memberi satu form untuk diisi. Isiannya berupa data diri, jenis SIM dan terakhir tanda tangan di atas materai. Setelah isian formulir petugas meminta pembayaran biaya yang saya bayar 2 x 250.000 untuk 2 SIM. Kemudian diambil foto dan sidik jari. Petugas akan mengkonfirmasi data sebelum SIM dicetak. Pastikan nama dan data kita benar. Setelah itu SIM langsung dicetak dan proses selesai. Bentuk SIM berupa buku dan bukan kartu. Sayangnya kualitas kertas terlihat jelek serta sayangnya lagi saya tidak dapat buku panduan karena sedang tidak ada stok.

Tips Aplikasi Visa Schengen

Di tahun 2013 lalu sudah 2 kali saya melamar Visa Schengen. Alhamdulillah kedua-duanya diterima. April tahun lalu saya melamar Schengen di Kedutaan Belanda untuk kunjungan pendek saya ke Amsterdam. Akhir November lalu saya melamar Schengen lagi di keduataan Jerman untuk kunjungan ke Eropa. Jika Kla Project punya lagu menjemput impian, maka kali ini judul tujuannya adalah menjemput istri yang sedang kuliah di sana. Dari dua pengalaman tersebut saya akan coba berbagi tips jitu untuk mendapatkan Visa Schengen. Saya tidak akan membahas mengenai detail persyaratan sebab informasi ini sangat gamblang dan lebih terkini dijelaskan di masing-masing kedutaan anggota Schengen.

Pre FAQ

  • Apakah visa? Ijin untuk bisa memasuki suatu negara
  • Apakah Visa Schengen? Visa untuk bisa memasuki beberapa negara di Eropa yang mengikuti perjanjian Schengen. Tak ada pemeriksaan imigrasi di perbetasan antara negara-negara Schengen.
  • Apakah setiap keluar negeri memerlukan visa? Tergantung negara tujuan, warga negara Indonesia bisa memasuki negara Asean dan beberapa negara lain tanpa visa sama sekali untuk kunjungan jangka pendek. Kita pun bisa mendapatkan visa saat tiba di beberapa negara tujuan yang memberlakukan visa on arrival. Namun kita harus melamar visa untuk mengunjungi sebagian besar negara-negara lain.
  • Apakah persyaratan Visa Schengen? Bisa dilihat di website masing-masing kedutaan Schengen. Namun umumnya kita harus mengisi form secara lengkap, foto yang sesuai dengan aturan biometeric, surat keterangan kerja, rekening bank, tiket transportasi bolak-balik dan bookingan akomodasi.

TL;DR
Satu-satunya pertimbangan kedutaan untuk memberi kita visa adalah mereka yakin bahwa setelah kita sampai di negara mereka, kita akan pulang lagi sebelum tenggat waktu visa berakhir dan tidak membuat masalah di sana. Jika kita bisa meyakinkan mereka untuk hal ini, saya yakin visa akan keluar.

Berikut adalah 3 hal penting untuk memberi keyakinan tersebut.

  • Tujuan yang jelas
  • Kemampuan finansial
  • Jaminan untuk pulang

Tujuan yang jelas

Visa Schengen ada beberapa jenis. Di antaranya visa untuk bisnis, turis dan kunjungan keluarga. Sesuai dengan namanya, visa bisnis untuk tujuan bisnis. Syarat penting yang dibutuhkan adalah surat keterangan dari kantor dari tempat kita bekerja mengenai tujuan bisnis ini atau surat undangan dari rekanan bisnis yang kita kunjungi. Visa turis adalah untuk tujuan turisme. Petugas visa biasanya akan meminta rencana perjalanan di negara tujuan. Rencana perjalanan ini bisa berupa list itinerary yang sudah kita rancang dan diperkuat dengan bukti bookingan hotel. Untuk visa visit ditujukan untuk mengunjungi keluarga yang ada di area schengen. Persyaratan yang dibutuhkan adalah surat undangan dari orang yang akan kita kunjungi. Untuk visa jenis apa pun kita harus merancang tujuan dengan sejelas mungkin.

Kemampuan Finansial


Dengan rencana kita datang ke negeri orang maka kita harus bisa meyakinkan mereka bahwa kita mampu secara finansial untuk hidup di sana selama kunjungan kita. Kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi diantaranya adalah akomadosi misalnya hotel, konsumsi dan transportasi. Satu catatan yang penting untuk diingat adalah biaya hidup di sebagian besar negara-negara eropa adalah cukup mahal. Untuk meyakinkan mereka biasanya kita harus menunjukan saldo rekening bank yang kita punya untuk alokasi biaya hidup selama di sana.

Dua kedutaan tempat saya pernah melamar Schengen tidak menerangkan berapa nilai tepat kemampuan finansial tersebut. Link ini memberikan gambaran berapa perkiraan jumlah uang yang dibutuhkan perhari untuk beberapa negara Schengen.

Kemampuan finansial ini harus kita sertakan dalam aplikasi visa. Wujudnya biasa berupa cetakan rekening bank 3 bulan terakhir bagi yang sudah bekerja. Bagi yang tidak bekerja kita menyertakan rekening orang tua atau suami. Perlu dicatat, jika ada uang nominal besar yang tiba-tiba masuk beberapa hari sebelum kita melamar visa Schengen hal tersebut bisa menjadi pertanyaan sebab bisa jadi pihak kedutaan menduga bahwa kita meminjam uang dari orang lain sekedar untuk bisa lolos aplikasi. Jadi kita harus berusaha memastikan punya saldo stabil yang tidak mencurigakan dalam 3 bulan terakhir untuk kebutuhan perjalan.

Jaminan untuk pulang

Persyaratan penting ketiga untuk aplikasi Schengen adalah kita harus meyakinkan pihak kedutaan bahwa kita akan pulang ke negara asal setelah menyelesaikan urusan kita. Tidak pulang hingga melewati batas tinggal visa adalah tindakan melanggar hukum yang ganjarannya adalah dipulangkan secara paksa dan ada kemungkinan tidak diijinkan lagi untuk masuk ke wilayah schengen. Oleh kerena itu dari pada harus repot kemudian, akan lebih mudah bagi kedutaan untuk menolak visa bagi individu yang tidak meyakinkan mau pulang kembali.

Jaminan paling sederhana dari untuk ini adalah tiket bolak-balik. Jika kita pergi tanpa tiket kembali besar kemunkinan kita akan ditolak masuk meski sudah mendapat visa. Jaminan penting lainnya adalah punya pekerjaan tetap. Ini yang akan memberi keyakinan bahwa kita butuh penghasilan dan akan kembali lagi setelah urusan di negara Schengen selesai. Jika berwirausaha maka kita harus menyertakan surat keterangan. Jaminan lainnya adalah kepemilikan property, kendaraan atau simpanan lainnya di negara asal.

Sedikit berbagi dari pengalaman apply schengen terakhir berkaitan dengan perkerjaan. Rencana perjalanan saya yang terdekat akan menghabiskan sekitar 2.5 bulan. Kantor keberatan untuk memberi cuti untuk perjalanan selama itu. Oleh karena itu saat menyerahkan berkas di kedutaan dan petugasnya bertanya, saya mengatakan bahwa saya mengundurkan diri dari pekerjaan setelah visa keluar. Pada momen tersebat mimik petugas kedutaan langsung berubah dan berkata bahwa kasus pergi tanpa perkerjaan akan sangat sulit tembus mendapat visa. Saya coba berargumen dengan menerangkan bahwa saya sudah membeli tiket jalan pulang dan menulis cover letter yang menyatakan bahwa saya akan pulang setelah 2.5 bulan. Petugas masih nampak ragu namun akhirnya setuju untuk memproses dokumen saya. Saya menunggu sekitar satu minggu untuk mendapatkan hasil visa. Selama menunggu cukup besar rasa khawatir jika visa saya ditolak. Artinya rencana yang sudah dirancang akan berantakan. Reuni bertemu istri saya pun akan batal. Namun alhamdulillah satu minggu kemudian visa saya akhirnya keluar. 75 hari sesuai dengan yang saya minta di awal.

Jadi kira-kira itulah sedikit sharing pengalaman aplikasi visa schengen. Berikut beberapa pertanyaan umum yang mungkin keluar berkaitan dengan aplikasi schengen berikut dengan jawabannya.

Possible FAQ

  • Apakah aplikasi visa saya akan lulus? Kondisi setiap orang akan berbeda. Yang hanya tahu aplikasi visa kita akan lulus atau tidak adalah petugas visa dan Tuhan. Jawaban untuk pertanyaan ini kembali ke tl;dr di atas: Satu-satunya pertimbangan kedutaan untuk memberi kita visa adalah memastikan setelah kita sampai di negara mereka, kita akan pulang lagi sebelum tenggat waktu visa berakhir dan tidak membuat masalah di negara mereka. Jika kita bisa meyakinkan mereka untuk hal ini, saya yakin visa kita akan keluar.
  • Haruskah membeli tiket dulu? Untuk kedutaan Jerman dan Belanda di Singapura, tidak perlu. Persyaratannya hanya meminta itinerary perjalan. Artinya booking dari travel biasanya cukup untuk memenuhi persyaratan ini. Bookingan travel adalah jalan aman untuk mengantisipasi jika visa kita ditolak, sebab kita belum membayar apapun. Jika sudah membeli tiket, saat visa ditolak, untuk pembatalan tiket biasanya akan dipotong biaya yang cukup besar. Namun saya berpendapat, jika rencana perjalanan kita sudah solid, akan lebih baik langsung membeli tiket sebab menurut saya itu semakin meyakinkan pihak kedutaan untuk memberi kita visa.
  • Bisakah melamar visa Schengen di luar negeri? Ya. Dua kali saya melamar Schengen di Singapura. Namun kita harus memiliki resident permit di luar negeri tersebut. Untuk kasus saya, saya punya employment pass di Singapura sehingga bisa melamar Schengen di kedutaan asing di sini.
  • Bisakah pengangguran (pergi tanpa pekerjaan) mendapat visa Shengen? Dari pengalaman saya di atas ya. Dengan catatan punya simpanan finansial yang cukup dan bisa menjelaskan bahwa kita punya niatan bulat untuk pulang sebelum tenggat visa.
  • Berapa banyak uang minimal untuk jaminan finansial? Tidak eksak dan berbeda untuk tiap negara Schengen. Link ini bisa memberi sedikit gambaran. Untuk panduan secara umum saya mematok 50 Euro per hari. Namun, lebih banyak akan lebih baik.
  • Apakah paspor bisa diambil lagi saat aplikasi? Dari dua pengalaman saya paspor akan ditinggal selama proses visa sekitar satu minggu.

Review Tere Liye Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah

Kisah cinta yang indah tak harus berseting di Paris yang menawan atau di Amsterdam yang tenang atau tidak juga melulu harus di Venice yang romantis. Kisah cinta indah pun bisa terjadi pinggir Sungai Kapuas Kalimantan Barat. Tak perlu diperani oleh pujangga atau pangeran, penarik perahu pun bisa jatuh cinta. Cinta yang bahkan lebih tulus, indah dan mengesankan. Ini adalah kisah Antara kau, aku dan sepucuk angpau merah.

Ini adalah novel cinta paling menyenangkan untuk dibaca dalam beberapa tahun terakhir untuk saya. Di banyak set dalam novel ini, saya tersenyum-senyum sendiri seperti anak baru akil balig. Dari tiga buku Tere Liye yang pernah saya baca ini adalah yang terbaik. Untuk kesekian kalinya Tere Liye selalu mengangkat cerita dari sudut pandang yang tidak jamak. Kali ini dari sudut pandang penarik perahu sederhana tapi selalu berusaha jujur dan tak pernah menyerah mengejar mimpinya dan juga cintanya.

Saya membaca novel ini sekali jalan, sekitar 4 jam hingga selesai. Awalnya saya hanya berniat membaca beberapa lembar sebelum tidur 2 hari yang lalu. Saat itu saya mulai membaca jam 10 malam. Pada akhirnya malam itu saya baru tidur jam 2.30 pagi setelah menghela nafas saat tamat membaca novel tersebut. Tere Liye berhasil menyihir saya malam itu.

Ada kekuatan utama yang membuat saya bertahan dan bahkan ketagihan untuk membaca hingga usai. Hal tersebut adalah misteri yang sengaja dibiarkan menggantung hingga baru terjawab di akhir cerita. Tere Liye membuat kita penasaran dari awal mengenai jawaban dari pertanyaan dan asumsi yang menggantung. Kekuatan kedua adalah novel tersebut menggambarkan latar cerita dengan sangat nyata. Deskripsinya sangat fotografis. Saya seakan seperti merasa berada di Pontianak diantara aliran sungai Kapuas sepanjang membaca cerita. Novel ini pun banyak menawarkan humor yang mengesankan. Bagaimana tidak, cerita dibuka dengan kepenasaran Borno (si tokoh utama), mengenai berapa lama waktu yang dibutuhkan kotoran manusia untuk hanyut dari hulu hingga muara Sungai Kapuas. Novel pun tidak melulu bercerita tentang kisah pelakon utama namun juga banyak figur-figur lain yang memberi kontribusi positif terhadap cerita. Figur-figur itu pun hidup dengan segala kedinamisan karakter dan peran tak sekedar menjadi wayang mati yang melakoni cerita.

Kau, aku dan sepucuk angpau merah ini nyaris semparna. Tak ada plot yang bolong dan seperti yang sudah dituliskan di atas ceritanya terasa sangat hidup. Namun ada satu kekurangan utama dari cerita ini. Menurut saya, inti permasalahan yang menjadi cikal bakal inti dan klimaks cerita sangat lemah dan agak kurang logis. Don’t make sense. Apakah inti cerita tersebut? Tentunya tak akan saya uraikan di sini sebab apalah arti membaca novelnya jika sudah tahu spoilernya. Bagaimanapun, meski inti ceritanya tadi agak kurang kuat, saya sebenarnya tak terlalu peduli. Siapa yang perduli logika bila bisa mendapatkan pelajaran moral mengesankan dari pemimpi yang punya cinta yang tulus.

Membaca Edensor membuat saya ingin ke Inggris. Ranah tiga warna membuat saya ingin ke kanada. Membaca novel ini membuat saya ingin ke Pontianak. Namun indahnya cerita adalah meski kita belum pernah ke sana setidaknya kita sudah pernah dibawa untuk merasa di sana.

Review Singkat: Tere – Liye Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

1376124Saya baru membaca dua novel Tere Liye. Yang pertama adalah Daun yang jatuh tidak pernah membenci angin. Yang kedua, hari ini saya menyelesaikan Rembulan tenggelam di wajahmu. Entah apakah hanya kebetulan atau memang novel-novel Tere Liye yang lain pun demikian, dua novel pertama ini membawa ide dasar yang sama. Mobilitas sosial seorang manusia dari bukan siapa-siapa menjadi orang yang luar biasa hebat mapan dalam strata sosial. Novel yang pertama tentang pengamen jalanan yang kemudian menjadi wanita karir mapan. Novel yang kedua tentang yatim piatu yang juga berawal dari pengamen jalanan kemudian menjadi taipan bisnis raksasa.

Dengan menyelesaikan buku hanya dalam beberapa jam saja adalah salah satu identifikasi bahwa saya cukup menikmati novel ini. Tere Liye memang cenderung mengangangkat topik yang tidak umum dan juga dari sudut pandang yang tidak umum. Awalnya dulu saya menyangka novel Tere Liye akan sangat islami, karena sosok penulisnya yang nampak seperti tipikal ikhwan (terlepas dari namanya yang sepertinya nama pena perempuan, Tere Liye adalah nama pena laki-laki). Namun menariknya asumsi saya salah, cerita tidak harus bernuansa terlalu religi namun banyak pesan moral bermanfaat yang diselipkan di sana sini dengan kadar yang cukup tepat.

Rembulan tenggelam di wajahmu bercerita tentang kisah Ray, seorang pria tua yang sepanjang hidupnya kebanyakan mendirita berkesempatan menjelajah kembali masa lalunya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkutat pada mengapa hidup tidak adil padanya. Dalam setiap waktu iya mempertanyakan ia selalu melihat bulan. Saya tidak akan membahas detail inti cerita agar tidak mengusik pembaca yang belum melihat buku ini. Satu pesan yang cukup berkesan dari kisah Ray adalah bahwa dalam adilnya hidup tidak bisa terlihat secara dangkal. Sesuatu yang terlihat sekilas tidak adil bisa jadi salah. Tuhan sudah mengatur setiap detil aspek kehidupan manusia dengan cermat. Tuhan Maha Adil dan tidak ada hal sekecil apa pun yang terlepas dari hukum ini. Hal yang menarik bahwa hidup takdir hidup kita terkadang saling berkait dengan takdir hidup orang lain. Ketika kita berbuat baik pada orang lain, bisa jadi aksi kita tersebut akan berdampak berantai melalui orang-orang lain dan akhirnya mengembalikan kebaikannya ke kita. Lebih jelasnya langsung dapat dilihat dalam petikan dari novel ini:

“Bagi manusia, hidup itu juga sebab-akibat, Ray. Bedanya, bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian entah pada siklus yang keberapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu…. Saling mempengaruhi, saling berinteraksi…. Sungguh kalau kulukiskan peta itu maka ia bagai bola raksasa dengan benang jutaan warna yang saling melilit, saling menjalin, lingkar-melingkar. Indah. Sungguh indah. Sama sekali tidak rumit.”

Kesimpulannya saya memberi 3 dari 5 bintang untuk novel ini. Kisahnya menarik, tentang pencarian dibumbui dengan percintaan yang menarik dan banyak pesan moral yang bermanfaat. Namun saya merasa ceritanya terlalu suram. Terlalu banyak penderitaan yang berlebihan. Lalu ada beberapa plot yang terasa dipaksakan. Misalnya seperti ditemukannya emas di ladang minyak. Ada lagi satu plot lain yang terasa sangat dipaksakan namun tidak akan saya bahas karena akan menjadi spoiler. Namun tetap secara umum, novel ini cukup memberi inspirasi. Minimal untuk selalu berbuat baik pada orang lain.

Cover dari goodreads.com

Rekap Awal November: Salah Masuk Kantor dan Laptop Rusak

Seperti yang sudah ditulis di post minggu lalu, hampir satu tahun saya absen menulis. Padahal menulis banyak manfaatnya. Saya hendak mencangankan target untuk menulis setidaknya satu post dalam seminggu. Jika pun tak ada ide berbobot untuk ditulis, biarlah curhatan hati menjadi penggantinya.

Minggu ini dimulai dengan agak menyebalkan. Hari Senin lalu saya masuk kantor di saat kantor sedang libur. Secara kalendar, hari Sabtu adalah hari libur nasional singapura untuk perayaan divapali, salah satu hari raya Hindu yang kebanyakan dirayakan orang India. Semacam dengan peraturan libur nasional di Indonesia, peringatan divapali biasanya akan mendapat jatah 2 hari tanggal merah. Namun karena tahun ini jatuhnya di hari Sabtu, berdasarkan website departemen tenaga kerja Indonesia, libur merahnya hanya Sabtu dan Minggu, yang artinya Senin bukanlah hari libur nasional.

Senin pagi seperti biasa saya beranjak ke kantor jam 8 pagi. Jalan satu blok ke arah stasiun MRT Dakota. Langsung ambil tempat duduk favorit di gerbong paling ujung dan mulai membaca buku dari tablet. Sekitar 40 menit kemudian akhirnya sampai di statusiun MRT Haw Par Villa. Turun MRT, keluar dari platform dan naik terus keluar dari stasiun yang berada di bawah tanah. Keluar langsung menunggu di bus stop menanti shuttle bus yang akan mengantar ke science park 2 tempat kantor Fujitsu Singapura. Bus datang, langsung naik, membayar 40 sen, duduk dan kembali membaca. Sekitaran 10 menit bus sampai di bus stop tujuan. Turun bus kemudian berjalan ke gedung. Naik ke lantai 3 menggunakan lift, lalu berjalan ke arah pintu salah satu wings, tapping access card kantor, masukan pin, pintu terbuka dan ruangan gelap. Nyaris tak ada orang kecuali ada beberapa orang yang mungkin ada kerjaan di pojok ruangan.

Ternyata Fujitsu libur meski kebanyakan kantor lain masuk. Berhubung saya adalah third party contractor mungkin tidak mendapatkan email pengumuman liburnya hari tersebut. Sementara project manager saya dan satu rekan developer yang lain sudah cuti sejak seminggu lalu dan lupa mengingatkan saya mengenai hari libur ini. Agak sedikit geli sendiri kemudian langsung keluar dan pulang. Kali ini via Harbour Front, turun di Clarke Quay dan naik bus 197.

Sejenak saya jadi teringat seorang teman sewaktu SMA. Namanya Rommy Jackson. Itu nama aslinya. Chinese dan sangat ramah. Jago main basket dan gitar. Badannya lumayan tinggi, mungkin sekitaran 170 cm di saat kami masih kelas satu SMA dan saya hanya 160 cm lebih sedikit. Detailnya saya lupa namun satu waktu Rommy pernah datang ke sekolah saat sekolah diliburkan mendadak. Jika tak salah karena hari sebelumnya dia tak masuk karena sakit. Saat sekolah masuk lagi, saya langsung menyapanya dan menanyakan apakah dia masuk di saat hari libur mendadak itu. Ia mengiyakan karena ia tak terpikir menyakan teman-teman yang lain apakah hari tersebut libur atau masuk. Pada masa itu boleh dibilang hampir ada yang memegang handphone. Sayangnya, saat kelas 3 atau tak lama setelah lulus, lupa tepatnya. Rommy meninggal dunia mendadak. Menurut kabar yang saya dengar diduga karena serangan jantung.

Lanjut ke poin kedua curhatan minggu ini. Berhubung saya kerja di Fujitsu, saya mendapat jatah laptop kerja Fujitsu. Saya malas memeriksa tipenya, ukuran layar 13 inchi dengan prosesor intel i5. Bukan laptop yang terlalu cepat sebenarnya untuk develop Java. Saya sangat suka laptop tersebut karena ukurannya yang mini. Minggu ini, setelah salah masuk hari Senin, saya kembali masuk kantor di hari Selasa. Salah satu rekan saya di project yang sedang kami kerjakan cuti ke Taiwan. Sehingga setiap hal yang berkaitan dengan project harus saya tangani sendiri. Selasa pagi banyak email masuk dari klien. Mengenai implementasi web service baru dan beberapa issue. Ketika sebenarnya sangat semangat bekerja tiba-tiba saya melihat ada yang tak beres dengan laptop. Sangat lambat dan tak responsif. Padahal minggu lalu masih baik-baik saja. Saya mulai coba troubleshooting dari taskmanager. Tidak ada yang nampaknya aneh. Pada akhirnya seharian itu saya tidak bekerja karena sibuk mengoprek laptop. Saya masih berpikir ada masalah di sistem operasinya.

Sesampai rumah saya langsung mengeksekusi checkdisk dan nampaknya tak ada yang salah. Sampai tengah malam masih terus penasaran hingga akhirnya saya tersadar, beberapa hari belakangan terkadang hardisk laptop berbunyi keras. Saya juga baru tersadar lampu indikator hardisk terus menyala. Nampaknya masalah bukan di software, tapi di hardisk.

Keesokan harinya saya langsung mendatangi MIS, departemen yang mengurusi infrastruktur dan hardware di Fujitsu. Benar saja ternyata hardisknya bermasalah. Solusinya adalah harus mengganti hardisk baru. Namun berhubung pengadaan barang akan memakan waktu beberapa hari hingga minggu sementara menggunakan laptop pengganti. Fujitsu juga, tapi 14 inchi masih dengan proses intel i5 dan berat tambahan 500 gram.

Pelajaran pentingnya adalah tak selamanya masalah computing ada di software. Secanggih apa pun software jika hardwarenya rusak maka tidak akan ada yang jalan.

Menulis dan Menemukan Diri

Melihat post lalu, agak terkejut ketika saya tersadar hampir setahun tidak menulis tulisan baru. Sebenarnya selain di blog ini saya juga terkadang menulis di blog lain. Namun kembali saya tersadar baik dari kuantitas dan kualitas, saya masih harus belajar banyak untuk menulis dengan baik.
Blog ini dimulai sudah cukup lama. Tahun 2007. Sebelum kehadiran blog, saya juga cukup rutin menulis jurnal. Entah pada kemana jurnal-jurnal tersebut sekarang. Sedari dulu saya senang menulis dan selalu bermimpi (bahkan hingga kini) untuk menjadi penulis.

Trend blog sebenarnya adalah sesuatu yang sangat baru. Di Indonesia salah satu trend early blogger yang cukup terkenal adalah Radithya Dika dengan curhat-curhat si Kambing Jantannya. Dia bahkan sudah menulis blog saat platform yang memungkinkan blogging dengan mudah belum muncul, sebelum ada wordpress atau blogger. Baru setelah munculnya wordpress dapat dikatakan blogging menjadi sesuatu yang lebih mudah dilakukan.

Sekarang kembali ke ide dari judul post ini. Kenapa harus menulis? Tanpa harus menunjukan referensi formal, menulis adalah sesuatu yang bermanfaat. Setiap hari dalam otak manusia terjadi ratusan atau mungkin ribuan pemikiran. Ide dan pemikiran itu datang dan pergi begitu saja. Menulis adalah salah satu aktivitas untuk bagaimana kita bisa fokus terhadap ide tertentu. Pada akhirnya dengan fokus tersebut kita akan lebih memahami diri sendiri dan juga apa yang kita coba tuliskan. Writing will help you to find yourself.
Dari segala penemuan teknologi dan eksplorasi yang dilakukan manusia, tetap bahwa salah satu misteri terbesar di alam semesta adalah manusia itu sendiri. Jadi bagaimana mungkin menulis bisa mencoba untuk memecahkan misteri itu? Bagaimana menulis bisa menjadi jalan untuk mengenali diri lebih baik lagi? Pertama menulis memaksa kita untuk fokus memproses satu ide. Seberapa banyak pun letupan neuron di kepala kita, menulis membuat kita harus memprosesnya secara sekuensial satu persatu. Dengan fokus ini kita tidak bisa terhindar dari kehilangann arah karena cepatnya otak melompat dari satu ide ke ide lainnya. Saking cepatnya lompatan tersebut bahkan sering membuat banyak ide yang brilian hilang begitu saja. Kedua menulis bisa membantu saat kita ingin melakukan branstorming dengan diri sendiri misalnya saat hendak mencari gagasan. Tentu saja bentuk tulisan tak harus sesuatu yang linear hanya berisi teks, bisa saja bentuk tulisan adalah midmap yang mencoba mendeskripsikan ide yang tengah kita oleh. Ketiga adalah yang terpenting bagi individu. Menulis adalah media kontemplasi yang bisa sangat efektif. Ketika ingin melakukan evaluasi diri, merenung, evaluasi masa lalu dan merancang target masa depan.

Namun menulis itu sulit. Menulis secara konsisten dari awal hingga usai jauh lebih susah lagi. Oleh karena itu muncul terminologi writers block yang menggambarkan kesulitan menulis bahkan terjadi pada professional sekalipun. Di sinilah perlunya kedisiplinan. Disiplin inilah yang akan membedakan antara yang sukses dan tidak sukses dalam menemukan dirinya. Saya sendiri pernah dalam beberapa masa berhasil memaksakan diri untuk disiplin. Misalnya komitmen untuk menulis surat cinta pada istri saya setiap hari serperti terinspirasi dari film The Notebook. Komitmen berjalan lancar di awal namun seret di tengah jalan. Namun setiap waktu saya selalu berusaha untuk bisa menjaga konsistensi itu lagi. Menulis buku adalah salah satu misi hidup penting yang masih belum tercapai hingga saat ini. Oleh karena itu , hingga detik ini saya masih dalam proses mencari diri saya dan membangun konsistensi yang lebih baik lagi dalam segala hal.

Dunia Fana dan Akhirat yang Abadi

Saat berjalan ke MRT Dakota barusan tiba-tiba saya terpikir ingin sekolah pilot. Rasanya senang sekali bisa menerbangkan pesawat ke mana kita mau (tidak sebebas itu juga sih). Namun sekejap saya pun berpikir jadi pilot itu kan berbahaya. Bagaimana jika jatuh? Bisa-bisa saya mati.

Bicara takut mati, jangankan saat naik pesawat, saat duduk santai pun jika sudah ajalnya orang bisa dijemput. Tak usah terbang, berkendara motor (salah satu kegiatan favorit yang  sudah lama tak saya lakukan) pun bahkan bisa jadi lebih berbahaya.

Dalam Islam ada 3 hal pasti yang sudah ditentukan Allah. Jodoh, lahir dan kematian. Kullu nafsin dzaa iqotul maut. Masalah mati itu pasti, tapi caranya dan waktunya tak ada yang tahu. Kasarnya suka-suka malaikat saat kapan dan di mana mau menarik ruh kita sesuai dengan perintah dari Allah Swt.

Berhubung  mati itu mutlak waktunya rahasia, idealnya kita harus siap setiap waktu setiap saat. Tabungan amal shalehnya jika pun tak melimpah haruslah cukup. Jangan kalah banyak dengan tabungan keburukan. Di luar hal-hal itu tinggallah kita pasrah. Meski tak dapat dipungkiri orang paling shaleh pun mungkin ada rasa takut dengan kematian. Sebab tak ada jalan kembali dari kematian.

Dunia itu adalah tempat mengumpulkan bekal untuk akhirat. Berpetualang dalam prosesnya adalah pilihan yang mubah. Sambil diiringi dengan sekolah pilot, touring kotor ke Skandinavia, backpack ke Kanada, mendaki Gunung Semeru atau sekedar snorkling di pantai Gili air tak ada salahnya. Apalagi jika semua petualangan-petualangan di atas dengan tujuan lebih mendekatkan diri pada Allah dan mengagumi kebesaran-kebesarannya.

Dalam Islam, dunia ini adalah bagian kecil kehidupan. Setelah dunia maka akan ada akhirat. Di mana kita semua yang pernah kita lakukan dan tidak kita lakukan akan dipertanggungjawabkan. Rasulullah pernah bersabda Sesungguhnya kehidupan di dunia ini laksana air yang tinggal di jari kamu apabila kamu mencelup jari kamu ke dalam lautan yang luas. Sisanya adalah akhirat.

PS: Saya sendiri masih meragukan keinginan sekolah pilot tadi adalah serius atau sekedar celotehan hati absurd di pagi hari. Ditulis pada tanggal 31 Mei 2013 dalam perjalanan dari Dakota ke Haw Par Villa