Semalam di Bergen

Jika tidak diajak oleh teman istri saya, mungkin saya tidak tahu kalau ada kota cantik di ujung barat Norwegia. Si cantik itu bernama Bergen, kota terbesar kedua di Norwegia. Selain kotanya sendiri yang memang indah, perjalanan menuju ke sini pun sangat mengesankan. Sayangnya karena Norwegia mahal, saya belum bisa berlama-lama di Bergen kali ini.

8 Februari 2014

Kereta tiba di Bergen sesuai jadwal sebelum jam 3 sore. Bergen nampak merupakan kota yang ramai. Menurut informasi yang saya baca ini adalah kota terbesar kedua di Norwegia setelah Oslo. Setelah turun kereta kami langsung menuju ke loker di stasiun untuk mengambil kunci apartemen yang telah kami booking melalui airbnb. Pemilik apartemen meninggalkan kunci di loker stasiun karena ia sedang keluar kota dan tidak bisa menemui kami secara langsung. Setelah mengambil kunci apartemen kami berjalan menuju kantor turis yang ada di area fish market. Pilihan angkutan umum di Bergen ada tram dan bus. Di kantor turis kami memutuskan membeli Bergen pass seharga 180 NOK yang memungkinkan kami gratis menggunakan transportasi publik dan juga akses gratis ke beberapa atraksi turisme.

Bergen City Center

Dari kantor turis kami ke supermarket untuk membeli bahan-bahan masakan. Kami bisa memasak karena menyewa satu unit apartemen. Harga sewa apartement semalam adalah 84 Euro namun ditempati oleh 4 orang sehingga bisa dianggap ekonomis. Apalagi saya pun sempat mencuci baju saat malam harinya. Kami pun bisa bebas memasak yang cukup menghemat pengeluaran dibanding harus makan di restoran.

Dari supermarket kami langsung menuju bus stop. Di halte ada timetable bus yang akurasinya dapat dipercaya. Sesuai dengan waktu yang dicantumkan, akhirnya bus yang kami tunggu datang. Kami pun naik hingga beberapa stop menuju apartemen yang sudah kami booking.

Lokasi apartemen ternyata tidak jauh dari pusat kota. Sebenarnya jika mau jarak tersebut bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Namun kontur jalannya menanjak dan kami membawa banyak barang. Turun dari bus kami langsung berjalan ke arah alamat yang sudah kami catat. Sistem alamat di sini sangat jelas, sehingga tanpa kesulitan yang berarti kami bisa menemukan apartemen yang kami cari dengan mudah.

Sesampai di apartemen yang sebagian besar materialnya dari kayu, kami masuk melalui pintu utama menggunakan kunci yang sudah kami ambil di stasiun tadi. Setelah masuk tanpa masalah, kini masalah menghadang. Di dalam pintu utama tadi ada beberapa pintu di beberapa lantai. Di lantai 1, 2 dan 3 masing-masing ada 1 pintu. Alamat yang kami miliki tidak mengindikasikan mana apartemen yang kami tuju. Kami mulai dari lantai 2 dan lantai 3, karena nampaknya pintu di lantai 1 tidak seperti ruang apartemen. Dua pintu di lantai 2 dan 3 tidak berhasil kami buka dengan kunci yang kami punya. Bahkan kami naik turun beberapa kali ke lantai 3 untuk mencoba beberapa kali hingga konyolnya tiba-tiba seseorang keluar dari pintu di lantai 3 yang pastinya karena terganggu kami berulang kali mencoba anak kunci yang tidak pas ke rumah orang. Saya pun meminta maaf dan menjelaskan bahwa kami mencari alamat di apartemen tersebut dan tidak yakin pintu mana yang benar. Beruntungnya, alih-alih marah orang tersebut memaklumi dan menjelaskan bahwa alamat yang kami punya benar ada di gedung tersebut namun yang pasti bukan di lantai 3. Setelah meminta maaf kesekian kali kami turun lagi ke lantai 2 dan kemudian ke lantai 1 untuk menyadari bahwa ternyata ada satu pintu lagi di lantai 1 tersebut yang tidak kami sadari sebelumnya. Benar saja setelah kami coba buka menggunakan kunci, pintu sukses terbuka.

Malam itu kami habiskan waktu ngobrol-ngobrol dengan dua teman istri saya dan diselingi dengan makan malam. Fasilitas di apartemen sangat lengkap. Satu kamar tidur untuk istri saya dan seorang teman perempuan sementara saya dan teman istri saya yang laki-laki tidur di sofa bed ruang tengah. Di bagian belakang ada dapur yang punya fasilitas lengkap dan kamar mandi yang cukup bersih. Hanya saja, semenjak datang saya penasaran tidak menemukan mesin cuci, padahal fasilitas mesin cuci dicantumkan di listing airbnb. Saya sudah bolak-balik ke dapur dan kamar mandi, namun tidak menemukan keberadaan mesin cuci. Saya dan Indri butuh mesin cuci, sebab setelah satu mingguan kami di jalan, stok baju bersih sudah menipis. Saya bahkan juga mencoba keluar rumah melalui pintu di dapur yang mengarah ke halaman belakang. Ada satu gudang di luar rumah namun tak ada juga mesin cuci di sana. Akhirnya saya hampir menyerah.

Di Depan Apartemen Sewaan

Kucing Bergen

Beberapa jam kemudian, kepenasaran saya belum terhentikan. Kembali saya keluar pintu belakang dan ketika saya perhatikan lebih ada pintu ke arah basement. Di luar sangat gelap dan sejujurnya agak sedikit horor. Saya memberanikan diri untuk keluar dan turun berbekal penerangan dari display handphone. Sesampai di pintu basement yang terkunci, saya mencoba membuka menggunakan kunci yang saya punya dan berhasil. Dari cerita host apartemen, Norwegia menggunakan sistem satu kunci untuk rumah. Satu kunci bisa digunakan untuk membuka pintu luar apartemen, pintu unit apartemen, pintu halaman belakang dan kini saya temukan termasuk membuka pintu basement. Setelah pintu di buka ruangan gelap gulita. Sambil meraba-raba saya akhirnya menemukan saklar lampu dan setelah dinyalakan, tampaklah 4 mesin cuci dan 2 drier di sana. Nampaknya ini adalah ruang cuci bersama untuk semua tenan di apartemen tersebut. Malam itu pun saya langsung mencuci baju.

9 Februari 2014

Kami keluar rumah sekitar pukul 10 setelah sarapan pagi. Dua orang teman istri saya memutuskan untuk sekaligus membawa tas besar mereka dan sore hari langsung menuju bandara tanpa perlu pulang ke rumah lagi. Sementara saya dan Indri memilih untuk kembali lagi ke apartemen sebelum ke bandara, sebab penerbangan kami ke Stockholm agak larut malam.

Bryggen

Tujuan pertama eksplorasi pagi itu adalah Bryggen. Bryggen adalah deretan bangunan tua Norwegia yang sebagian besar digunakan sebagai toko. Bryggen masuk ke dalam UNESCO world cultural heritage list. Saya dan Indri membeli souvenir di salah satu toko di sini. Magnet kulkas yang harganya mencapai 7 Euro satu biji!

Setelah itu kami pergi ke Floibanen, funicular train ke plateu Floyen. Dengan Bergen pass kami bisa naik funicular train gratis. Kereta menanjak cukup curam dan memakan waktu sekitar 10 menit dari bawah hingga ke puncak. Di Floyen kita bisa melihat pemandangan Bergen dari atas.

Floibanen

Dari Floibanen, berikutnya kami pergi ke Bergen Science Center yang bernama Vilvite. Dari pusat kota cukup satu kali naik tram. Vilvite sebenarnya lebih cocok didatangi oleh anak-anak karena di tempat ini banyak alat-alat peragaan edukasi sains. Dari Vilvite 2 teman Indri langsung berangkat ke bandara. Awalnya saya dan Indri berencana pergi ke akurium, namun menimbang waktu yang mepet kami hanya berjalan-jalan di pusat kota dan mampir sejenak di University of Bergen. Dari sana langsung kembali ke apartemen dan packing.

University of Bergen

Selesai shalat Maghrib dan Isya kami pun bersiap keluar dari apartemen. Lucunya kami berpapasan dengan host apartemen kami di pintu. Ternyata ia baru saja pulang dari main ski. Setelah pamit dan menyerahkan kunci yang tadinya mau kami masukan ke mailbox, kami berjalan turun ke pusat kota. Sore tadi kami menemukan bahwa bus ke bandara memiliki stop di Radisson Blu Hotel yang bersebelahan dengan Bryggen yang artinya sangat dekat dengan apartemen kami. Ada dua vendor bus airport dan kami menggunakan flybussen. Harga tiketnya 90 NOK. Perjalanan ke bandara memakan waktu sekitar 30 menit.

Danau di Bergen City Center

Self Checkin di Bergen Airport

Self Baggage Drop

Sesampai bandara kami langsung masuk ke terminal yang tidak terlalu besar. Di dalamnya nyaris tidak ada konter maskapai yang dijaga petugas. Yang terlihat hanya mesin checkin dan automatic bagage drop. Setelah menaruh bagasi kami pun hanya duduk-duduk sambil menunggu perjalan berikutnya menuju Stockholm.

Perjalanan Epik dari Oslo ke Bergen

Sebagai anak negara tropis yang baru melihat salju di usia 20-an, perjalanan kereta dari Oslo ke Bergen di musim dingin adalah salah satu perjalanan paling epik seumur hidup saya. Perjalanan kereta dari Oslo dilayani oleh NSB, perusahan kereta negara Norwegia. Lama perjalanan adalah 7 jam, namun pemandangan sepanjang perjalanan sangat indah apalagi dengan nuansa musim dingin. Kereta pun sangat nyaman dengan fasilitas sangat lengkap. Ada wifi di dalam kereta, namun jika sempat buat account nsb.no dulu sebelum naik kereta untuk mengakses wifi. Saya mencoba register account baru saat mencoba membuka koneksi ke wifi namun tidak berhasil. Beruntung ketika mencoba login menggunakan account nsb.no yang sudah saya buat sebelumnya saya berhasil mengakses internet menggunakan wifi tersebut.

Harga tiket kereta untuk perjalanan tersebut adalah 798 NOK. Harga tiket akan semakin murah bila dibeli sejak jauh hari. Saya membeli secara online di website nsb.no. Sebelum naik kereta bukti booking tiket tersebut harus ditukar ke tiket yang valid di beberapa mesin tiket yang tersedia di Stasiun Sentral Oslo.

8 Februari 2014

Kereta berangkat dari Oslo Sabtu 8 Februari jam 8.05 pagi. Kami sudah checkout dari hotel dan berjalan ke stasiun sekitar jam 7 pagi. Sesampai Stasiun Sentral terpampang informasi yang sangat besar berisi jadwal keberangkatan kereta berikut lokasi platformnya. Menjelang jam keberangkatan kereta kami turun ke platform yang sangat dingin dan langsung naik ke kereta. Beruntung kami mendapat nomor duduk di 4 bangku yang dua bangkunya saling berhadapan. Dua teman kami duduk di gerbong belakang kami. Di dalam kereta seperti yang sudah saya tulis di atas ada akses internet, ada stop kontak listrik, toilet yang cukup bersih dan juga gerbong restorasi.

Suasana di dalam kereta

Sesuai dengan jadwal kereta berangkat tepat jam 8.05. Hingga saat ini saya masih merasa kagum dengan ketepatan waktu berbagai moda transport di sebagian besar kota-kota Eropa. Timetable dan jadwal perjalanan bukan sekedar aksesoris namun komitmen layanan yang terlihat selalu berusaha untuk diwujudukan. Tanpa bermaksud membandingkan yang buruk-buruk, saya bermimpi bisa menggunakan transportasi publik di Jakarta dengan nyaman tanpa ada rasa takut diturunkan metro mini di lampu merah dengan kemungkinan disambar pengendara motor dari belakang. Semoga harapan ini bisa menjadi kenyataan dalam waktu dekat.

Kembali lagi ke kereta menuju Bergen, perjalanan diawali dengan pemandangan perkotaan Oslo. Saya agak sedikit terkejut melihat bahwa Oslo tidak seglamor yang saya bayangkan atau mungkin saya tidak sempat mengunjungi bagian glamornya. Semakin meninggalkan Oslo pemandangan di jendela kereta mulai menunjukan area suburban yang cukup beragam namun tetap dengan warna dominan putih. Kami mulai menemui danau luas yang indah lalu setelahnya terkadang hanya melihat warna putih tanpa ada hal lain apa pun di dalamnya. Sesekali kereta akan berpapasan dengan kereta lain. Tak jarang juga kereta melalui stasiun-stasiun kecil. Selain itu kembali pemandangan dominan putih, pohon-pohon yang tertimbun salju, beberapa rumah yang juga tertutupi salju, sungai, danau yang membeku dan gunung di kejauhan.

Pemandangan putih sepanjang jalan

Sepanjang perjalanannya, kereta Oslo-Bergen hanya berhenti di beberapa stasiun. Berhubung perjalanan kami dilakukan saat musim dingin, banyak sekali penumpang kereta yang membawa perlengkapan ski. Ski adalah olahraga yang sangat populer di Norwegia. Ada banyak resort ski di sepanjang jalur Oslo ke Bergen, sehingga banyak penumpang yang hendak bermain ski naik dan turun di beberapa stasiun yang terkadang merupakan stasiun antah berantah dan terlihat terpelosok. Selama di perjalanan ada kalanya kami melihat titik-titik manusia di kejauhan tengah berjalan di tengah padang salju yang kosong. Ini mungkin yang disebut cross country ski.

Dari beberapa stasiun yang kami lewati ada sebuah stasiun bernama Myrdal. Posisinya kira-kira di tengah antara Oslo dan Bergen. Di stasiun inilah penumpang yang hendak menuju ke kota bernama Flam harus pindah kereta. Kereta menuju Flam bernama Flambana. Jalur kereta Flambana ini dapat dibilang legendaris sebab jalur akan menanjak dari Myrdal hingga sampai Flam. Sedikit bermimpi di siang bolong untuk bisa mengunjungi Flam dan merasakan perjalanannya di kesempatan yang lain.

Stasiun Myrdal dan Flamsbana di belakang

Mendekati Bergen

Indri di Stasiun Bergen

Semakin mendekati Bergen pemandangan mulai menghijau karena Bergen adalah kota yang cenderung hangat. Namun kereta semakin sering memasuki terowongan. Nampaknya mendekati Bergen jalur kereta harus menembus banyak gunung dan bukit melalui terowongan. Banyak danau-danau indah kembali menghiasi pemandangan sekitar. Oleh karena perjalan dari Oslo ke Bergen cukup lama, sebaiknya sebelum naik kereta kita berbelanja ransum terlebih dahulu. Ada gerbong restorasi yang menjual makanan dan minuman, namun harus diingat bahwa harga di kereta akan lebih mahal dan ini adalah Norwegia. Kereta pun akhirnya tiba di Bergen sesuai jadwal sebelum jam 3 sore. Kemudian cerita pun berlanjut di Bergen.

Oslo: Ibukota Dingin di Bumi Utara

Dari dulu saya bermimpi untuk bisa berkunjung ke Scandinavia. Norwegia adalah salah satu negera makmur di Skandinavia, region historikal dan kultural linguistik ini bersama dengan Denmark dan Swedia. Norwegia juga termasuk ke dalam grup yang disebut negara Nordik yang terdiri dari 3 negara Skandinavia tadi di tambah dengan Islandia dan Finlandia. Selain kemiripan historis, bahasa dan suhu semua negara Nordik adalah negara-negara yang sangat mahal biaya hidupnya.

Oslo adalah ibukota Norwegia. Saya sudah tahu nama kota ini semenjak SD di mana saya sudah menghafalkan ibukota-ibukota negara di dunia dari buku RPUL alias Rangkuman Ilmu Pengetahuan Umum Lengkap yang merupakan kompetitor Buku Pintar karya Iwan Gayo.

Saya dan Indri terbang ke Oslo dari Amsterdam. Norwegia punya maskapai budget yang tengah naik daun. Namanya Norwegian Air Shuttle dengan brand color merah menyala sesuai dengam warna favorit kami. Meskipun budget, Norwegian pun menawarkan fitur yang belum pernah saya temui di maskapai-maskapai lain yaitu wifi internet di dalam penerbangannya. Saya membayar 64.80 Euro saja perorang dari Amsterdam Schiphol ke Oslo Gardermoen. Harga tersebut sangat terjangkau tentunya dibandingkan harus jalan plus berenang. Ekstra 9 euro harus dibayar jika kita perlu bagasi 20 Kg.

6 Februari 2014

Koneksi dari Amsterdam Central ke bandara utama Amsterdam Schiphol paling mudah menggunakan kereta. Tiket sekali jalan untuk kelas 2 adalah sekitar 4 Euro yang bisa dibeli di mesin tiket yang tersebar di stasiun. Frekuensi kereta menuju bandara sekitar setiap 10-15 menit sekali dengan lama perjalanan juga sekitar 15 menit. Setiba di Schiphol, lokasi stasiun keretanya ada di bawah tanah. Setelah keluar kereta kita bisa keluar dari platform untuk naik ke terminal keberangkatan bandara. Berhubung kami sudah checkin online maka sesampai area keberangkatan kami tinggal mencari konter baggage drop Norwegian.

Setelah drop bagasi kami langsung menuju ke ruang tunggu keberangkatan. Perlu diingat bahwa aturan dilarang membawa cairan ke kabin berlaku di hampir semua bandara di Uni Eropa. Jadi pastikan tidak ada minuman atau perlengkapan mandi cair yang lupa dimasukan ke bagasi. Pemeriksaan sekuriti sebelum masuk terminal pun cukup ketat sampai-sampai saya harus bolak-balik panel scan metal detector sampai harus melepas ikat pinggang dan sepatu. Untung saja tidak harus melepas celana :D.

Selepas pemeriksaan kami langsung menuju ke area tunggu penerbangan kami. Penerbangan ke Norwegia adalah internal Schengen area sehingga tidak ada pemeriksaan passport. Sayangnya sekali di terminal keberangkatan Schengen ini tidak ada praying room seperti di terminal keberangkatan non-schengen. Hingga akhirnya saya dan Indri sholat di pojokan ruang tunggu.

Malam itu penerbangan kami tertunda 45 menit. Kami menunggu dengan duduk-duduk di area tunggu. Ada efek suara gemericik air dan suasana hutan yang menjadi latar belakang. Sesekali suara efek anjing menggonggong sempat membuat saya kaget. Di ruang tunggu tersebut ada beberapa demo science panel yang cocok untuk anak-anak. Mesin-mesin demo tersebut dipasang oleh Nemo, sebuah museum dan Science center di Amsterdam. Hal menarik lain adalah ada tempat untuk charging smartphone namun kita harus menggenjot semacam pedal sepeda agar ada energi listrik yang tercipta. Di Schiphol ada wifi gratis namun sayangnya hanya dibatasi satu jam.

Singkat cerita akhirnya kami boarding pesawat. Pesawar Norwegian memiliki warna dasar merah dominan dan sedikit putih. Di bagian ekor pesawat ada gambar sosok wajah yang sayangnya belum sempat saya telusuri wajah siapa itu dan nampaknya setiap pesawat punya gambar wajah yang berbeda-beda. Dari website Norwegian, ternyata ada 4 wajah yang digunakan di pesawat Norwegian. Empat orang tersebut adalah tokoh-tokoh penting dari negara-negara Nordic karena Norwegian ingin menjadi perusahaan regional dan bahkan global. Pesawat yang kami naiki adalah Boeing 737-800. Penerbangan Amsterdam ke Oslo adalah 2 jam kurang 15 menit.

Saat Oslo Menyambut

Sekitar dua jam kemudian pesawat pun mendarat di Oslo nyaris tengah malam. Warna dominan yang saya lihat dari luar kaca pesawat adalah putih karena nampaknya salju turun deras di bumi utara. Bahkan beberapa pesawat yang parkir tertimbun salju cukup tebal. Pesawat langsung merayap ke terminal kedatangan setelah mendarat. Tanpa lama kami langsung keluar pesawat untuk mengambil bagasi. Dari keluar pesawat menuju area koleksi bagasi penumpang dipaksa untuk lewat duty free shop di mana sebagaian besar penumpang membeli minuman alkohol saat kami lewat. Mungkin untuk menghangatkan tubuh mereka. Andai saja ada bandrek atau bajigur di sana pasti rasanya sedap.

Kami tidak lama menunggu bagasi dan langsung ke luar di area utama depan terminal. Saya langsung berburu kursi kosong sebab malam itu kami memang sudah berniat tidur di bandara. Harga hotel di Oslo adalah sangat mahal. Apabila kami tiba lewat tengah malam maka kami merasa rugi jika harus membayar hotel secara penuh sehingga saya berpikir untuk tidur di bandara dan baru checkin hotel keesokan paginya.

Indri menemukan bangku tersisa di sebuah kafe yang sudah tutup. Bangku-bangku panjang yang lain sudah diokupasi oleh beberapa orang lain sehingga kami hanya dapat 2 bangku dengan panjang kira-kira 2/3 badan. Saya yang penasaran lalu menjelajah bandara siapa tahu ada tempat untuk tidur yang lebih nyaman. Akhirnya saya harus menerima fakta bahwa tempat yamg ditemukan Indri tadilah yang terbaik.

Saya langsung kembali lagi ke kafe tadi dan mengatur posisi untuk tidur. Di area utama bandara ada beberapa mini market dan satu ATM. Saya membeli teh hangat di 7 eleven dan menarik 1000 norwegian kron (NOK) di mesin ATM. Malam itu kami tidak bisa tidur terlalu nyenyak.

7 Februari 2014

Pagi sekitar jam 6 istri saya membangunkan saya. Ada dua pilihan transport dari bandara Oslo ke pusat kota yaitu bus dan kereta. Kami memilih kereta. Kereta pun ada dua pilihan Oslo ekspress atau Oslo NSB. Oslo NSB adalah perusaan kereta api milik negara, semacam PT KAI kalau di Indonesia. Kami memutuskan naik NSB karena harganya separuh ekspres dengan selisih lama perjalanan yang tak berpaut jauh. Tiket bisa dibeli di mesin tiket. Platform kereta ada di bagian bawah dari bandara. Ada pilihan Bahasa Inggris di mesin tiket. Informasi platform yang harus kita tuju terpampang sangat jelas.

Mesin Tiket NSB

Untuk naik NSB pastikan kita naik gerbong dengan kondektur. Dari yang saya baca di wikitravel, jika kita naik gerbong tanpa kondektur maka tak ada yang akan memvalidasi tiket kita di atas kereta dan bisa didenda jika terkena pemeriksaan. Informasi gerbong tanpa dan dengan kondektur terpampang di pintu masing-masing gerbong dalam bahasa Norwegia. Betjent artinya gerbong dengan kondektur dan Ubutjent artinya gerbong tanpa kondektur. Harga tiket sekali jalan adalah 90 NOK.

Stasiun Oslo Bandara

Perjalanan dari oslo Lufthan stasiun bandara ke Oslo S, stasiun di pusat kota adalah sekitar 30 menit. Keretanya sangat bagus dan bersih. Di jalan seorang kondektur memvalidasi tiket kami.

Stasiun Sentral Oslo

Sesampai Oslo S kami langsung keluar kereta dan masuk stasiun yang cukup besar. Di sini stasiun seperti bandara. Sangat bersih dan informasi keberangkatan dan kedatangan kereta tertera sangat jelas. Di stasiun saya ke mini market untuk membeli ransum. Keluar stasiun langit masih gelap meski sudah jam 7 pagi. Di musim dingin matahari baru terbit sekitar jam 8 lewat di utara. Kami keluar stasiun di sambut hujan. Suhu udara sekitar 0 derajat celcius. Dengan panduan offline cache google maps kami berjalan menuju hotel.

Di Oslo kami menginap di Hotel Citybox. Harga per malam adalah 70 euro dan nyaris tanpa fasilitas untuk harga semahal itu. Sehari sebelumnya saya sudah email hotel untuk meminta early checkin di pagi hari. Balasan dari hotel adalah kami bisa early checkin selama ada kamar tersedia.

Mesin Checkin Otomatis di Citybox Oslo

Sesampai citybox setelah berhujan-hujan sekitar 10 menit, tak ada konter resepsionis seperti hotel-hotel pada umumnya. Yang ada semacam mesin elektronik dengan display touch screen. Kami langsung memasukan data yang diminta di mesin untuk checkin. Pembayaran langsung dilakukan menggunakan kartu kredit. Di step akhir mesin mengeluarkan pesan error bahwa kamar belum tersedia. Seperti yang saya takutkan sebelumnya.

Saya langsung mengontak petugas jaga dari interkom yang ada di sana. Tak lama seorang wanita keluar dari lobi hotel dan langsung mengatakan bahwa kamar sedang full book dan meminta kami menunggu hingga jam 3 sore waktu checkin normal hotel. Saya kemudian meminta tolong untuk segera dicarikan kamar. Menunggu hingga sore bukanlah pilihan bagi kami yang sangat capek dan ngantuk karena kurang tidur di bandara. Petugas hotel pun mempertimbangkan permintaan kami namun tidak bisa menjanjikan waktu checkin karena dia tidak tahu pasti jam berapa tamu-tamu yang menginap akan keluar.

Pada akhirnya beruntung pagi itu ada cukup banyak tamu hotel yang terlihat checkout. Kami sempat harus sholat shubuh di loby karena belum mendapat kamar. Setelah menunggu sekitar satu jam akhirnya kamar kami siap.

Kami tidak berlama-lama di kamar karena kami ingin segera mengeksplorasi Oslo. Kami memutuskan untuk membeli Oslo pass 24 jam sebuah pass wisata yang memungkinkan turis gratis naik transportasi publik dan beberapa wahana wisata dan museum. Oslo pass 24 jam bentuknya berupa tiket kertas dengan tanggal kadaluarsa yang ditulis petugas sales 24 jam dari saat kami membeli tiket. Harga Oslo pass 24 jam adalah sekitar 290 Nok. Oslo pass ini harus ditunjukan bila ada petugas pemeriksa tiket di transportasi publik. Namun kami tak diperiksa sekalipun selama di Oslo hingga kami tinggal naik turun bus dan tram sesuka kami.

Museum Kapal Viking

Tujuan pertama kami adalah Museum Kapal Viking, sesuai dengan namanya museum ini menunjukan kapal-kapal viking. Bangsa Viking adalah generasi awal orang-orang Nordik dan kebanyakan merupakan pelaut tangguh. Kami tak perlu membayar tiket untuk masuk Museum Kapal Viking ini karena kami punya Oslo Pass. Setelah puas berkeliling dan membeli souvenir yang cukup mahal kami menuju ke open air norwegian museum (Norsk Folekmuseum) yang tak jauh dari museum pertama.

Rumah-rumah kayu di Norsk Folkemuseum

Open Air Norwegian Museum berisi sejarah lengkap tentang kehidupan orang-orang Norwegia, bagaimana gaya pakaian mereka, perlengkapan rumah mereka hingga ada beberapa rumah kayu yang berjejer di area terbuka museum. Kami berkeliling sekitar satu jam di tengah hujan, suhu 0 derajat celcius dan kantuk yang benar-benar tidak tertahankan. Oleh karena merasa capek kami memutuskan pulang ke pusat kota Oslo untuk mencari makan siang. Menu makan siang itu adalah kebab. Setelah makan kami langsung kembali ke hotel untuk sholat dan tertidur setelahnya.

Kami terbangun sekitar maghrib dan langsung bersiap-siap untuk makan malam. Kami memiliki janji untuk bertemu 2 orang teman. Bersama mereka kami akan menuju Bergen keesokan harinya. Tempat makan malam adalah restoran Thailand dengan pilihan menu Tom Yam. Setelah makan kami langsung kembali lagi ke hotel untuk persiapan perjalanan keesokan hari menuju kota di ujung barat Norwegia, Bergen.

Kami agak kurang beruntung saat di Oslo cuaca agak kurang bersahabat sehingga kurang optimal mengeksplorasi kota ini. Hujan sepanjang hari dengan suhu di sekitaran 0 derajat celcius memang bukan suasana yang menyenangkan untuk berkeliling. Seperti sudah diduga sebelumnya harga barang dan transportasi di Oslo adalah sangat mahal. Namun informasi dan komunikasi sangat mudah di akses sebab sebagian besar pengumuman juga disampaikan dalam Bahasa Inggris. Selain dari itu sebagian besar orang Norwegia fasih berbahasa Inggris. Saya berharap punya kesempatan lain untuk kembali lagi ke Norwegia.

Empat Malam di Amsterdam

Saat pertama kali ke Amsterdam saya terheran, bagaimana mungkin negara sekecil Belanda bisa menjajah kita sedemikian lamanya? Apakah mungkin hidup di iklim yang dingin dan hasrat mencari rempah-rempah merupakan faktor pendorong yang kuat? Entahlah karena itu adalah bagian dari sejarah yang belum terlalu saya kuasai. Yang pasti saat kedua kalinya sampai di Amsterdam saya merasa dekat dengan Belanda.

Istri pun saya berseloroh, “Dekat apanya? Yang satu hidungnya mancung.” Sambil menunjuk orang Belanda. “Yang ini hidungnya pesek.” Sambil menunjuk saya. “Orang Belandanya tinggi-tinggi dan orang Indonesia banyak yang pendek-pendek.” Mungkin kurang gizi di masa pertumbuhan seperti saya ini. Saya pun terbahak-bahak mendengar komentar tersebut. Bagaimanapun 2-6 Februari kami di Amsterdam adalah pengalaman yang mengesankan.

2 Februari: Dari Brussels ke Amsterdam

Mendarat di Amsterdam Centraal

Kami berangkat dari stasiun Bruxelles-Midi di Brussels sekitar jam 8 malam, lalu ganti kereta di Rotterdam sekitar jam 10 malam yang akan menghantarkan kami hingga stasiun utama Amsterdam, Amsterdam Central sekitar jam 10.30 malam. Lama perjalanan total adalah 2 jam dan 30 menit. Awalnya saya sempat khawatir masalah transfer di Rotterdam. Sebab waktu transfernya hanya 2 menit. Bagaimana jika ternyata transfernya harus berganti platform yang berjauhan? Apalagi kami membawa satu tas yang cukup besar. Faktanya ternyata transfer kereta hanya menyebrang platform yang bersebelahan tanpa harus naik atau turun tangga. Harga tiket yang kami bayarkan adalah 29.50 euro per orang.

Kami tiba di Amsterdam hampir tengah malam. Berhubung sudah pernah ke sini saya sudah tak perlu mencari-cari jalan lagi. Keluar kereta kemudian langsung keluar platform dan mencari mesin tiket otomatis untuk isi ulang kartu publik transport istri saya, Indri. Belanda menggunakan smart card bernama OV-ChipKaart untuk public transportnya. OV-ChipKart ini bisa digunakan di semua mode transportasi. OV-ChipKaart saya sendiri ternyata masih ada saldo hampir 20 Euro sisa jalan-jalan beberapa bulan sebelumnya.

Ibis Budget di Zaandam

Setelah isi ulang kartu kami langsung keluar Amsterdam Central menuju bus terminal. Di depan Amsterdam Central ada stop untuk tram dan bus. Selama di Amsterdam kami menginap di Hotel Ibis Budget. Tolong digaris bawahi, ditebali dan diberi stabilo kata-kata budget di belakang nama hotel tadi. Berhubung kami ingin jalan-jalan ekonomis maka semua pengeluaran harus ditekan hingga batas paling minimum. Sebagian besar hotel di pusat Amsterdam adalah sangat mahal. Akhirnya setelah membandingkan sana-sini pilihan terbaik jatuh ke Ibis Budget tadi yang berharga sekitar 40 Euro satu malam. Lebih murah berpuluh-puluh Euro dibandingkan hotel-hotel di pusat kota. Namun harga yang lebih murah itu harus ditebus dengan lokasinya yang di Amsterdam coret alis sedikit keluar dari Amsterdam. Ibis budget ada di daerah yang bernama Zaandam yang berjarak sekitar 25 menit perjalanan dari Amsterdam Central menggunakan bus.

Dari Amsterdam Central, kami menggunkan bus Connexion nomor 391. Connexion adalah salah satu provider bus dalam kota di Amsterdam. Kami sudah memeriksa bahwa bus ini ada hingga cukup tengah malam dan frekuensi sekitar 3 hingga 4 kali dalam satu jam. Satu hal yang sangat saya suka dari public transport di Eropa adalah bahwa mereka punya timetable yang berusaha dipatuhi dengan sangat akurat. Bahkan di Asia Tenggara, negara sekelas Singapura sekalipun busnya belum memiliki timetable.

Keluar dari stasiun kami menunggu tidak terlalu lama hingga busnya datang. Saat bus datang dan sebelum naik, saya memastikan ke supir bahwa bus tersebut berhenti di stop yang sudah saya tandai untuk menuju hotel. Amsterdam adalah kota yang sangat internasional. Meski bahasa resmi Belanda adalah bahasa Belanda, namun sebagian besar orang di sana bisa bahasa Inggris. Bahkan sapaan bahasa Indonesia bukanlah hal yang jarang dijumpai.

Connexion 391

Kembali ke bus, bus di Amsterdam adalah sangat modern. Sebelum naik kita mendekatkan OV-ChipKart ke depan card reader di pintu masuk bus. Sebelum turun jangan lupa mendekatkan lagi smartcard ke card reader. Apabila ada penumpang yang tidak memvalidasi kartunya saat naik entah karena lupa atau sengaja, bisa jadi di tengah jalan akan ada petugas yang memeriksa dan bisa jadi penumpang ilegal semacam itu akan didenda. Akhirnya benar, di tengah jalan ada sekitar 3 petugas yang naik ke bus untuk memeriksa smartcard setiap penumpang. Selain menggunakan OV-Chipkaart kita pun bisa membayar menggunakan uang tunai. Tapi harganya akan jauh lebih mahal. Selain sistem pembayaran yang sangat nyaman, di tengah bus ada display yang sangat besar berisi berbagai informasi relevan. Mulai dari jam, suhu hingga daftar stop yang akan dilewati dan stop berikutnya di mana bus akan berhenti. Jadi jika dengan informasi selengkap itu masih nyasar juga berarti ada yang salah dengan diri kita.

Panel Informasi di Dalam Bus

Setelah sekitar 25 menit melewati berbagai kegelapan di pinggiran kota Amsterdam akhirnya kami tiba di stop dekat hotel. Dari stop bus kami berjalan sedikit hingga akhirnya tiba di lobi nyari lewat tengah malam. Salah satu keuntungan menginap di chain hotel terkenal semacam Ibis meskipun ada kata “Budget” adalah kualitas layanan yang seharusnya cukup bisa diandalkan. Alhamdulillah faktanya seperti itu. Kamarnya cukup nyaman dan luas. Memang tak ada bathtub di kamar mandi tapi tetap cukup fungsional. Lucunya toilet dan bilik shower diletakan terpisah. Sesampai kamar kami langsung istirahat.

3 Februari: City Center

Regional Ticket dan ov-chipkaart

Morning Zaandam. Berhubung ini adalah hotel budget maka tak ada sarapan gratis. Pagi itu kami langsung keluar menuju pusat kota. Tujuan pertama adalah ke kantor layanan turis tepat di depan Amsterdam Central. Kami membeli tiket regional 24 jam untuk perjalanan esok hari. Tiket regional 24 jam adalah tiket bisa digunakan selama 24 jam sejak pertama kali dipakai dan berlaku di Amsterdam dan beberapa region di sekitar Amsterdam. Harganya 13.5 Euro. Ada juga tiket 24 jam Amsterdam seharga 7.5 Euro. Namun tiket ini hanya bisa dipakai di seputaran Amsterdam city center saja.

Kebab Deui Kebab Deui

Setelah beli tiket langsung ke tempat pertama yaitu resto kebab. Bagi yang berencana pergi ke Eropa dan punya perhatian masalah kehalalan makanan maka biasanya kebab adalah pilihan yang cukup bisa diandalkan selain menu ikan atau vegetarian. Meski memang sih setiap hari makan kebab agak membuat muak juga. Seperti yang sudah terjadi pada istri saya yang sudah bosan makan kebab. Bagi saya pribadi, selama ada pilihan halal, makan daging yang tidak jelas metode penyembelihannya bukanlah pilihan. Sebab makan tidak menjadi halal hanya dengan membaca bismillah sebelum menyuap.

Dam Square

Setelah makan kami langsung menuju Dam Square, sebuah square terkenal di Amsterdam. Kami berjalan kaki menuju ke sana. Atraksi terkenal di Dam Square adalam Madam Tussaud yang berisi patung-patung lilin figur-figur terkenal dengan dimensi sesuai aslinya. Dari balik kaca museum terlihat DJ Tiesto versi patung yang sedang bermain turntable. Sayang sekali karena harga tiket yang cukup mahal bagi kami membuat kami urung masuk ke dalam. Dam Square sendiri sangat ramai dengan turis bahkan di musim dingin seperti ini. Lucunya musim dingin kali ini Amsterdam belum bersalju sedikit pun meski suhu tetap cukup dingin.

Hal yang saya sukai dari suasana kebanyakan lapangan-lapangan terbuka adalah banyaknya burung merpati. Di Dam Square bukan pemandangan aneh melihat anak kecil yang berlari-lari mengejar merpati.

Dari Dam Square, seperti kata lagu kami berjalan tak tentu arah hingga akhirnya sampai di Rijksmuseum . Oleh karena alasan budget kami kembali tidak masuk ke dalam museum ini namun hanya berfoto-foto di tulisan besar Iamsterdam di depan museum. Iamsterdam adalah tagline promosi pariwisata kota Amsterdam.

Iamsterdam

Fatih Moskee

Dari museum kami menuju ke masjid di Rozengracht. Nama masjidnya adalah Fatih Moskee. Ini adalah masjid Turki. Meski dari luar terlihat kecil, namun saat di dalam masjidnya ternyata cukup luas. Setelah shalat kami pergi ke sebuah kantor turis untuk membeli tiket canal cruise. Kanal adalah keunikan kota Amsterdam yang membuat kota ini terlihat sangat cantik. Sayangnya saat kami menaiki kapal, terlalu banyak turis dalam satu kapal, sehingga kami jadi kurang menikmati suasananya.

Bagian Dalam Fatih Moskee

Selesai canal cruise kami makan malam di sebuah Restoran Indonesia halal yang saya ketahui dari kunjungan ke Amsterdam sebelumnya. Nama restorannya adalah Iboenda yang berlokasi di The Clercqstraat 65. Makanan yang dijual adalah makanan rumahan. Sekali makan per porsi adalah seharga sekitar 10 euro. Namun 1 porsi tadi adalah sangat banyak sehingga bisa kami makan berdua dan tetap cukup kekenyangan. Selesai makan kami langsung kembali ke hotel.

Resto Iboenda

4 Februari: Eksplorasi Zaandam dan Volendam

Belanda terkenal dengan banyak hal. Pertama adalah dam, lalu kanal-kanalnya yang cantik, kemudian tulip yang menawan, juga red light district dan yang mungkin sangat melekat di benak kebanyakan orang Indonesia adalah kincir anginnya yang khas. Tak pelak jika ini karena si Negara Londo ini sering disebut sebagai Negeri Kincir Angin.

Kincir Angin Zanse Schans

Tak jauh dari Amsterdam, kita bisa melihat kincir angin khas Belanda di area yang bernama Zaanse Schans. Kebetulan lokasi ini tidak jauh dari Zaandam di daerah hotel kami. Dari hotel ke Zaanse Schans cukup sekali naik bus Connexion nomor 391 gratis menggunakan regional pass yang sudah kami beli sebelumnya.

Zaanse Schans adalah semacam museum terbuka. Atraksi utamanya adalah kincir tradisional Belanda. Ada beberapa kincir di tempat ini dengan latar belakang danau dan sungai yang cantik. Selain kincir ada juga workshop sepatu kayu khas Belanda di sini. Kita tidak perlu membayar untuk memasuki area Zaanse Schans. Saya dan istri saya, Indri menghabiskan waktu beberapa jam untuk berkeliling tempat ini.

Sepatu Kayu Raksasa

Mas mas Pengrajin Sepatu

Setelah Zaanse Schans kami menuju ke daerah urban lain yang bernama Volendam. Volendam adalah kota nelayan yang tak jauh dari Amsterdam. Atraksi utama kota ini adalah suasana kota nelayan, restoran seafood dan foto menggunakan kostum nelayan tradisional khas Volendam. Dari Amsterdam Central kita bisa naik bus EBS nomor 118 menuju Volendam. EBS adalah perusahan otobus seperti Connexion. Satu hal yang menarik, armada EBS yang kami naiki memiliki wifi dengan koneksi internet. Pejalanan dari Amsterdam Centraal ke Volendam adalah sekitar 30 menit. Berbeda dengan beberapa bus Connexion dan terminal tram yang ada di bagian depan Amsterdam Centraal, tempat stop bus EBS 118 dan beberapa bus lain ada di bagian belakang stasiun.

Bus EBS Kuning

Sesampai Volendam kami langsung berjalan ke arah pantai. Di bibir pantai banyak restoran dan toko suvenir. Tujuan pertama adalah membuat foto dengan kostum tradisional Volendam. Ada beberapa studio foto yang menawarkan layanan foto kustom tradisional di Volendam. Tempat yang kami pilih mematok biaya 18 Euro untuk satu foto ukuran A4. Laki-laki dan perempuan memiliki satu kostum khas tersendiri. Ada beberapa aksesori yang bisa dipilih juga untuk menyemarakan foto. Saya memilih memegang akordion.

Selesai foto sambil menunggu foto dicetak, kami mencari tempat untuk makan siang. Kami pun menemukan sebuah resto fish and chip. Di resto ini kami sempat di sapa oleh satu pasangan Belanda yang juga tengah pelesir ke Volendam. Mereka bercerita sudah pernah ke Bali dan mengagumi keindahan pantai-pantai di Indonesia. Selesai makan kami kembali ke foto studio untuk mengambil foto lalu berjalan di pinggir pantai yang cukup berangin-angin. Saya menyempatkan shalat di pinggir pantai ini.

Nyifood di Volendam

Setelah itu kami berkeliling lagi sekitaran pantai. Uniknya ada beberapa patung khas di sepanjang pantai Volendam. Setelah semakin sore kami memutuskan kembali ke Amsterdam dan beristirahat di hotel.

Salah Satu Patung di Volendam

5 Februari: Nyasar ke Red Light District

Fish Burger

Pagi hari kami awali dengan sarapan burger ikan di Burger King Amsterdam Centraal. Setelahnya kami berjalan tanpa arah. Lucunya tiba-tiba kami nyasar ke red light district. Area ini adalah area yang berisi beberapa rumah bordir. Di setiap rumah bordir ada semacam etalase bernuansa lampu merah yang memajang wanita-wanita dengan baju sangat minim. Tentu saja wanita-wanita tersebut adalah PSK yang bisa disewa. Mirisnya di Belanda prostitusi adalah legal. Red light district ini justru menjadi salah satu destinasi wisata di Amsterdam.

Kegiatan utama kami di hari ini adalah bersepeda. Amsterdam mungkin adalah kota paling bersahabat untuk pengendara sepeda. Di seluruh bagian Amsterdam dan mungkin bahkan di sebagian besar kota-kota Belanda, ada jalur khusus untuk sepeda. Selain alat transportasi yang bersahabat dengan lingkungan, sepeda adalah bagian erat dari budaya Belanda.

Green Budget Bike

Ada banyak tempat menyewa sepeda untuk turis di Amsterdam. Sayang harganya tidak terlalu murah. Setelah browsing internet saya menemukan vendor bernama Green Budget Bike yang nampaknya menawaran harga paling terjangkau. Kami membayar 6.5 Euro untuk sewa selama 3 jam. Pada faktanya penunggu konter green bike memberikan bonus 1 jam tambahan. Harga tersebut adalah untuk sewa sepeda single speed tanpa rem tangan alias dutch bike. Untuk sepeda dengan gigi dan rem tangan sewanya lebih mahal lagi. Selain lebih murah, Dutch bike adalah pilihan tepat untuk merasakan nuansa seutuhnya bersepeda di Amsterdam. Cara mengerem sepeda Dutch Bike adalah dengan sedikit mendorong pedal sepeda ke arah belakang. Semakin kita tekan maka tingkat pengeremannya akan bertambah. Pada awalnya agak sedikit membutuhkan adaptasi namun setelah sebentar saja membiasakan diri kami langsung mengelilingi beberapa blok di Amsterdam.

Menjelang sore kami berjalan ke arah belakang Amsterdam Centraal dengan tujuan untuk naik feri. Di sini ada terminal feri dengan 3 jurusan menyebrangi kanal besar di belakang stasiun. Jasa penyebrangan ini tidak dipungut biaya alias gratis. Kami naik ke NDSM-werfveer, jurusan yang palng jauh di mana diperlukan waktu sekitar 15 menit untuk menyebrang. Sesampai di sebrang kami menaiki feri yang sama kembali ke Amsterdam Centraal. Memang tidak ada yang terlalu spesial namun tetap cukup menyenangkan untuk merasakan bagaimana orang-orang lokal sana beraktivitas semisal menyebrang menggunakan feri gratis tadi.

Aktifitas naik feri tadi mengakhiri kegiatan utama kami di hari itu.

6 Februari: Flea Market

Ini adalah hari terakhir kami di Amsterdam. Kami checkout hotel sebelum jam 12. Saya sempat meminta ke resepsionis untuk late checkout sampai jam 1 siang untuk Shalat Zuhur dulu namun menurut aturan kami harus membayar ekstra 5 Euro perjam jika ingin late checkout. Kami pun memutuskan untuk checkout sesuai dengan batas waktunya saja.

Locker Tas di Amsterdam Centraal

Setelah dari hotel kami kembali naik bus ke Amsterdam Centraal. Di sini tujuan pertama adalah menitipkan tas carrier kami yang besar agar kami bisa jalan-jalan hingga menunggu penerbangan ke Oslo nanti malam. Untuk kesekian kalinya kami tidak punya tujuan spesifik. Akhirnya kami pun berjalan ke metro station yang berada di kolong Amsterdam Central dan naik random metro yang tengah nangkring. Amsterdam punya 4 metro dengan nomor 50, 51, 53 dan 54. Metro 52 sedang dalam tahap pembangunan dengan ekspektasi selesai baru tahun 2017 nanti.

Kembali ke Metro yang kami naiki, akhirnya kami turun di Nieuwmarkt. Keluar kereta kemudian keluar stasiun metro kami berjalan tak tentu arah lagi, tentunya tampa tersesat dan tak tahu arah jalan pulang (halah). Singkat cerita kami nyangkut di sebuah flea market di sini. Ada berbagai macam barang yang dijual di sini. Mulai dari sepeda, souvenir, pakaian, pajangan, barang antik, gramafon, piringan hitam, DVD porno, buku, prangko dan uang koleksi. Meski cuma berputar-putar di dalam pasar loak ini kami merasa sangat senang melihat berbagai macam barang-barang yang unik.

Flea Market

Selesai dari pasar loak, kami duduk-duduk lagi di pinggir kanal. Lalu kembali lagi ke Restoran Iboenda untuk makan siang. Dari Iboenda iseng naik tram dan turun di Rembrandtplein alias alun-alun Rembrandt yang diambil dari pelukis Londo nan terkenal Rembrandt van Rijn. Dulu Rembrandt tinggal di dekat square ini dari tahun 1639 hingga 1656. Di tengah square berdiri patung Rembrandt yang ada di sana sejak 1876. Di tahun 2006, diletakan kumpulan patung perunggu yang desainnya mengambil suasana dari lukisan Rembrandt paling terkenal, The Night Watch.

Mas Rembrandt dan The Night Watch

Selesai nongkrong-nongkrong di Rembrandtplein, kami kembali ke Amsterdam Central untuk mengambil tas. Dari sana kami langsung ke airport. Schipol, airport utama Belanda dapat dijangkau dengan mudah menggunakan banyak kereta dari Amsterdam Central. Tiket kereta ke bandara sekitar 4 Euro dengan waktu tempuh sekitar 15 menit.

Si Merah Norwegian Air Shuttle

Stasiun Schipol ada di bawah bandara. Berhubung ini bandara yang cukup besar, jika akan terbang dari sini pastikan sediakan waktu yang cukup oleh karena pemeriksaan security yang cukup ketat sehingga memakan waktu. Area bandara terbagi menjadi area Schengen dan Non-Schengen. Tak ada pemeriksaan paspor untuk penerbangan ke sesama area Schengen. Ada universal praying room di area Non-Schengen dan sayangnya tempat serupa tak ada di area Schengen. Kami pun menyempatkan diri shalat di pojokan kosong ruang tunggu bandara sambil menanti pesawat Norwegian Air Shuttle yang akan menghantarkan kami Oslo yang terlambat selama 45 menit. Malam itu kami pun berpamitan dengan Amsterdam saat pesawat merah Norwegian Air Shuttle meninggalkan Schipol.

Brussels Kota Waffle dan Patung Pipis

Belgia mungkin tidak menjadi tujuan utama orang jalan-jalan saat ke Eropa. Tujuan awal saya ke Brussels, ibukota Belgia pun sebenarnya adalah untuk menghadiri Fosdem, salah satu forum berkumpulnya developer open source di Eropa. Jika tak ada Fosdem mungkin kami tidak akan ke Brussels. Tapi pada akhirnya Brussels tetap menjadi kota yang menarik untuk di jelajahi.

Brussels atau Bruxelles dalam ejaan Prancis, adalah kota yang sangat multikultur. Seperti banyak metropolitan Eropa barat pada umumnya seperti Paris dan Amsterdam, banyak sekali pendatang di Brussels. Saat pertama kali keluar di stasiun Bruxelles-Midi akan sangat mudah melihat wanita berkerudung yang berlalu lalang sebagai indikasi banyaknya muslim di sini. Makanan halal pun cukup mudah untuk dicari. Berbagai macam bangsa dengan beragam warna kulit dan bahasa berkumpul di sini. Kami menemukan sebuah paradoks menarik berkaitan dengan multikulturalisme dan makanan di sini. Ada sebuah restoran asia di Brussels, halal, chefnya orang China, menu makanannya dalam bahasa Prancis. Selain itu, Brussels pun sering dianggap ibukota uni eropa karena banyaknya institusi uni eropa yang berkantor pusat di sini.

Le Lombard adalah publisher komik Tintin

Kedatangan saya ke Brusselsnya pun membangkitkan beberapa fragment memori masa kecil. Dulu saya suka membaca beberapa komik Eropa. Ternyata sebagian dari yang pernah saya baca adalah karya komikus Belgia. Yang pertama adalah Tintin karya Georges Remi alias Herge yang pasti sebagian besar orang tahu. Kemudian The Smurf karya Pierro Culliford yang juga cukup terkenal. Lalu ada Agent 212 kisah tentang polisi gendut dengan segara kekonyolan-kekonyolannya karya Raoul Cauvin dan Daniel Cox. Kemudian Bobo yang diterjemahkan menjadi Si Bob Napi Badung di terbitan Indonesia. Kisah tentang napi yang berusaha melarikan diri dari penjara Inzepocket. Lalu saya juga pernah membeli komik bekas Gaston karya Andre Franquin yang berkisah tentang kisah kekonyolan Gaston.

Kembali ke cerita perjalanan, saya dan istri saya Indri berangkat ke Brussels dari Erfurt, Jerman. Kami mendapatkan tiket cukup murah, hanya 36 Euro per orang setelah Indri mencari di Bahn Ltur. Dari Erfurt kami pindah kereta satu kali di Frankfurt Flughafen, stasion di bandara Frankfurt lalu lanjut ke kereta yang menghantarkan hingga ke stasiun Bruxelles Midi.

Sampai Brussels berhubung kami tidak berlangganan data roaming, kami mengandalkan snapshot google maps yang sudah kami simpan sebelumnya untuk berjalan menuju ke hotel. Berhubung belum membeli tiket publik transport kami pun memutuskan berjalan kaki sekaligus mengeksplorasi kota. Kami menginap di Scandinavia Hotel yang kami pesan melalui booking.com.

Resto Halal Asia

Malam hari kami keluar untuk makan malam. Kami jalan kaki menuju restoran asia yang kami sebut sebagai paradoks di atas. Nama restonya Shinwi. Seperti sebagian besar kota di Eropa, makan di restoran adalah sangat mahal. Rata-rata biaya perorang untuk makan standard minimal adalah 10 Euro.

Setelah makan kami berjalan ke arah stasiun metro. Kami pun membeli tiket 24 jam yang bisa digunakan di semua jenis public transport di Brussels. Harga tiket 24 jam tersebut adalah 7 Euro (6.5 Euro sebelum 1 Februari). Tiket ini bisa dibeli di mesin otomatis yang tersebar di stasiun metro, stop tram dan stop bus. Sebenarnya ada juga tiket 48 dan 72 jam namun nampaknya 2 jenis tersebut harus dibeli langsung di konter di stasiun. Tiket 24 jam bentuknya adalah kertas magnet. Kita harus memvalidasi pertama kali dengan memasukan ke mesin oranye di pintu menuju platform metro atau di dalam tram dan bus. Validasi pertama akan mencetak tanggal berlaku awal hingga akhir tiket 24 jam tersebut.

Tiket 24 Jam Brussels

Hari kedua di Brussels saya mendatangi Fosdem yang bertempat di l’Université libre de Bruxelles (ULB). Dari hotel kami naik metro kemudian menyambung tram. Satu hal yang saya kagumi dari Brussels adalah sistem transportasi publiknya yang amat sangat komprehensif. Ada tram, metro dan bus. Memang terkadang metro dan tramnya agak kotor dan menyeramkan untuk standard saya yang tinggal di Singapura. Banyak coretan di mana-mana, di pintu masuk stasiun terkadang bau pesing dan bahkan di stasiun metro sendiri banyak gelandangan yang tinggal. Namun ketepatan waktu dari sistem transportnya adalah sangat akurat. Informasi arah di stasiun dan stop berikutnya saat di dalam kendaraan pun sangat lengkap sekali. Selain transportasi di atas, Brussels pun baru-baru ini meluncurkan sistem sewa murah sepeda yang bernama Villo. Di seputaran Brussels akan ada banyak drop point sepeda kuning Villo yang diatur secara elektronik. Sepeda akan terkunci ke dudukan magnet. Bila ada yang ingin menyewa bisa datang ke mesin sewa kemudian memiih jangka waktu sewa. Setelah pembayaran kunci magnet sepeda akan terlepas dan sepeda bisa dipakai. Sepeda bisa dikembalikan di drop point yang lainnya. Sayangnya kami tidak sempat mencoba mode transport ini.

Villo Drop Point

Kembali lagi ke cerita perjalanan, saya di Fosdem hingga sekitar puku 3 sore karena kami tiba-tiba lapar dan ingin mencari makan. Kami naik bus dari ULB dan tiba-tiba Indri mengajak turun di satu stop. Saya lupa stopnya di mana. Kami keluar kemudian berfoto-foto dan menemukan konter fastfood halal, Hector Chicken. Kami memesan satu menu untuk berdua chicken wings dan kentang goreng seharga 6.5 Euro. Bahasa resmi Belgia adalah Prancis. Sehingga kebanyakan orang akan berkomunikasi dengan bahasa itu. Namun sebagian besar orang juga bisa berbahasa Inggris.

Palais de Justice yang sedang direnovasi

Setelah makan kami naik metro untuk menuju Palais de Justice. Sayangnya gedung tersebut sedang di renovasi sehingga kami hanya berfoto-foto di depannya. Pemandangan di sana sangat bagus karena di depannya bisa melihat sebagian Brussels dari atas. Dari sana kami berjalan menuju Manneken Piss. Hingga saat ini kami masih heran bagaimana mungkin landmark sesederhana Manneken Piss bisa sangat terkenal di Belgia. Manneken Piss hanyalah patung anak kecil yang sedang kencing. Namun sesampai di sana tempat ini sangat ramai dikerumuni banyak turis yang ingin berfoto, termasuk kami juga. Di dekat Manneken Piss ada juga Waffel, salah satu makanan khas Belgia yang sangat enak sekali dengan harga hanya 1 Euro.

Legendary Manneken Piss

Waffle!!!

Setelah dari patung anak kecil pipis kami berjalan menuju Grand Place-Grote Markt yang masih berada di area yang sama. Grand Place ini adalah “alun-alun” utama di Brussels. Lokasi ini dikelilingi oleh beberapa gedung yang cukup bagus. Kunjungan ke Grand Place alis Grote Markt itu mengakhiri hari kami kedua di Brussels.

Hari ketiga di Brussels diawali dengan kembali ke Grand Place lagi. Sebab sehari sebelumnya kami berfoto-foto sesudah gelap. Di musim dingin matahari baru terbit sekitar jam 8 dan sudah terbenam sekitar jam 5. Setelah berfoto-foto kami meluncur ke Atomium. Salah satu landscape lain yang terkenal di Brussels. Atomium adalah menara berbentuk seperti struktur atom yang awalnya dibuat untuk world expo tahun 1958. Namun justru keberadaan menara itu bertahan hingga sekarang. Dari atomium kita bisa melihat sekeliling Brussels, lalu ada juga restoran di puncak menaranya. Di bagian lain menara ada beberapa tempat pameran. Kami cukup berpuas hanya berfoto-foto di luar menara meski harga masuk menaranya sebenarnya harnya 11 Euro saja.

Atomium dari bawah

Dari Atomium kami kembali ke pusat kota naik tram. Makan siang sekaligus malam, lalu kembali ke hotel mengambil tas carrier besar dan menuju stasiun Bruxelles Midi lagi untuk naik kereta ke Amsterdam, tujuan berikut kami. Kami membeli tiket sehaga 29.5 Euro perorang di snbc. Setelah sekitar 3 jam dan setelah transit di Rotterdam kami pun tiba di Amsterdam.

Zuhur di Frankfurt

Terkadang saya sering berpikir betapa mudahnya kita hidup di zaman ini. Sejak pertama kali ke luar negeri di tahun 2010 saat saya nyebrang ke Singapura saya tak pernah kesulitan menemukan arah perjalanan di tempat terasing sekalipun. Tentunya selama ada sinyal 3G atau setidaknya sinyal GPS. Perkembangan teknologi yang ada sekarang membuat kita mudah bernavigasi bahkan untuk tempat yang baru pertama kali kita datangi. Terima kasih banyak untuk google maps dan open street maps untuk kemudahan yang diberikan. Tak lupa ada sedikit efek jelek kecanggihan yang membuat kita semakin kurang berinteraksi dengan orang lain. Lebih mudah mengetikan query di search box dari pada menghampiri orang dan terbata-bata bertanya dengan bahasa yang asing.

Hallo Emirates!

Setelah sekitar total 16 jam penerbangan saya kembali mendarat di Eropa, kali ini di Frankfurt. Ini adalah benua yang menjadi tujuan impian tertunda saya untuk bersekolah. Setidaknya mimpi tersebut sudah dicapai terlebih dahulu oleh istri saya, salah seorang gadis terbrilian yang pernah saya kenal. Setiap tempat punya kelebihan dan kekurangan demikian juga tak ada perbandingan yang seimbang antara Asia dan Eropa, Indonesia atau Singapura dengan Jerman atau dengan negara lainnya. Dari dulu saya selalu percaya bahwa betapa tak beruntung bagi orang yang tak pernah keluar kampung halamannya. Barangkali hasrat untuk menjelajah mengunjungi tempat-tempat baru datang dari separuh darah Padang yang mengalir di tubuh saya. Orang Padang memang punya hasrat merantau yang sangat kuat. Seperti yang dituliskan di novel tenggelamnya kapal Van der Wijk. Bahkan ada seloroh, kelak jika ada rumah makan di bulan, yang pertama dibuka pasti adalah restoran Padang.

Kembali ke Frankfurt. Setelah keluar pesawat, dingin langsung cukup menusuk menembus dinding garbarata jembatan pesawat. Namun bukan sesuatu yang asing, sebab beberapa bulan lalu di Schipol pun kira-kira sama seperti ini. Masuk ruangan terminal, bandara tersibuk ketiga di Eropa setelah London Heathrow dan Paris Charles de Gaulle Airport ini pun terasa biasa saja untuk saya yang terlalu sering dimanja nyaman dan megahnya Changi. Menurut wikitravel, maskapai selain Luftansha milik Jerman dan maskapai Star allliance akan mendarat di terminal 2 Frankfurt. Artinya, saya yang naik Emirates ada di terminal 2 saat itu. Setelah bertanya ke petugas informasi, kereta ke pusat kota ada di terminal 1. Terminal 1 bisa dicapai di Terminal 2 dengan shuttle bus gratis dengan waktu sekitar 13 menit. Di terminal 1 saya langsung mencari sim card hp. Setelah bertanya lagi mendapatkan satu toko dan ditawarkan sim card lebara seharga 40 Euro dengan balance 20 Euro dan mendapat bonus data 1 GB. Saya tak tahu apakah harga tersebut harga yang wajar namun akhirnya tetap saya bayar.

Frankfurt Shuttle Airport

Setelah kembali bertanya lagi, stasiun kereta menuju pusat kota ada di basement 1 airport. Harga tiketnya 4.35 Euro bisa dibeli di mesin atau di konter tiket. Lama perjalanan sekitar 15 menit melalui 3 stasiun. Stasiun utama di Frankfurt adalah Frankfurt Hauptbahnhof di mana istri saya menunggu. Berhubung masih deso, dengan sok gaya saya mengatakan ke petugas tiket “I would like to go to Hauptbahnhof”. Yang langsung dibalas dengan pertanyaan “Which Hauptbahnhof?”. Saya baru ngeh belakangan Hauptbahnhof itu artinya adalah Central Station. Di seluruh Jerman ada banyak Central Station. Jadi seharusnya saya berkata lebih spesifik Frankfurt Hauptbahnhof. Pengalaman ini membuat saya ingat cerita istri saya. Satu waktu ada pejabat Indonesia yang terlambat meeting dengan satu lembaga di Jerman. Tentu saja perwakilan Indonesia merasa malu dengan ketidaktepatan waktu pejabat tersebut dan berusaha menghubungi sang pejabat menanyakan di mana posisinya sekarang. Sang pejabat yang tak bisa berbahasa Jerman pun membalas, mungkin setelah celingukan melihat papan nama jalan di sekitar dia, “Sudah di jalan Strasse”. Padahal strasse bukan nama jalan, strasse adalah bahasa Jerman untuk street.

Kembali ke stasiun kereta di Frankfurt airport. Setelah membeli tiket dan bertanya platform kereta yang mana, saya langsung turun ke stasiun kereta. Saya lupa apakah naik S-Bahn atau U-Bahn namun saya langsung masuk kereta pertama yang datang, sebab sebelumnya sang petugas bilang saya bisa naik kereta apa saja di platform tersebut. Tiga belas menit berselang langsung sampai di Frankfurt Hauptbahnhof. Langsung turun dan membeli segelas Nescaffe Capucino di vending machine. Kebanyakan orang Eropa menenteng kopi di kereta dan terlihat keren. :D. Setelahnya saya langsung menelepon istri saya dan memintanya menunggu di tangga dari platform seratus sekian tempat saya turun kereta tadi. Langsung naik eskalator dan bidadari saya tersebut sudah menunggu di atas tangga dengan jaket tebal dan sepatu bootnya. Kangen sekali rasanya setelah 4 bulanan tidak bertemu. Langsung saya peluk seperti di film-film itu.

Opposite of Frankfurt Hauptbahnhof

Dari stasiun kereta kami langsung ke hotel yang berada selemparan batu. Kami meamang berencana menginap semalam di sini. Setelah checkin hotel, kemudian shalat kami langsung keluar hotel lagi untuk mencari makan siang. Frankfurt cukup mirip Amsterdam. Ada banyak imigran di sini. Saat baru saja keluar hotel ada seorang perempuan mudah yang tiba-tiba memaksa meminta uang. Kami hiraukan sambil berjalan cepat. Di sejauh mata memandang cukup banyak perempuan berkerudung, artinya cukup banyak orang muslim di sini. Namun sedihnya tak jarang banyak ibu-ibu tua yang juga berkerudung meminta-minta uang di perempatan jalan. Memperbaiki streotype Islam adalah tugas yang berat. Saya ingin sekali bisa menjadi agen muslim yang baik dan menunjukan bahwa Islam adalah agama yang penuh rahmat.

Römerberg

Siang itu istri saya mengajak makah siang di restoran Thailand. Halal demikian label yang tertempel di kaca restoran. Ternyata cukup banyak juga restoran halal di sini. Untuk makan di restoran setidaknya siapkan 10 Euro per orang. Bukan harga yang bersahabat memang namun demikianlah adanya di sini. Setelah makan siang kami langsung berjalan-jalan seputar kota. Infrastruktur transportasi publik di Franfurt adalah sangat komprehensif. Pilihannya ada bus, S-Bahn, U-Bahn dan tram. Untuk praktisnya jika kita berencana banyak naik turun angkutan umum sebaiknya membeli day ticket yang bisa dibeli di banyak mesin di stasiun atau di tram stop. Untuk tiket grup hingga 5 orang seharian harganya 10 Euro.

Gembok-gembok di Eiserner Steg

Di hari pertama di Frankfurt kami mengunjungi Römerberg, Eiserner Steg dan Hauptwache. Römerberg itu pusat kota tua Frankfurt di mana ada beberapa bangunan historis. Eiserner Steg itu jembatan pedestrian di Main river. Menariknya ada banyak gembok dipasang sepanjang jembatan bertuliskan nama-nama pasangan orang. Mungkin ada semacam mitos berkaitan dengan ini. Hauptwache adalah central hub Frankfurt. Ada banyak shopping center di sini. Berhubung sedang winter, matari sudah turun sekitar jam 5 sore. Sebelum pulang ke hotel istri saya mengajak mampir ke resto Thailand lagi untuk membeli nasi putih. Untuk makan rendang yang dibawakan ibu saya nanti malam katanya.

Hari kedua kami baru keluar hotel setelah jam 12 siang sekaligus checkout. Kami titip koper-koper besar di resepsionis. Tempat yang pertama kami cari adalah tempat shalat Zuhur. Di resepsionis kami bertemu dengan orang Saudi yang mengajak ngobrol. Dia mengucapkan salam ke kami mungkin setelah melihat istri saya yang berkerudung. Dia mengatakan ada tempat shalat di sebelah hotel. Namun kami lebih memilih untuk mencari masjid. Kami berpamitan dan mengucapkan salam yang juga ikut dibalas waalaikumsalam oleh resepsionis hotel seorang pria Jerman muda. Namun sebelum ke tempat shalat istri saya mengajak untuk makan siang ke satu restoran Thailand lain lagi.

Siang itu akhirnya kami shalat di Islamischer Marokkanischer Verein für Kultur und Kommunikation. Letaknya tak jauh dari Hauptwache. Dari luar gedungnya tak berbentuk seperti masjid. Tak ada kubah dan tak ada minaret. Tempat shalat ada di lantai 2 dalam ruangan yang sangat sederhana. Betapa beruntuk muslim di Indonesia yang bisa leluasa shalat di banyak masjid bagus ke mana pun kita pergi.

Di depan Alte Oper

Masjid Maroko

Setelah shalat kami kembali berkeliling kota. Naik turun S-Bahn dan U-Bahn. Foto-foto sebentar di Alte Oper dan kembali ke hotel untuk mengambil koper kemudian ke Hauptbanhof untuk menuju ke Ilmenau tempat istri saya kuliah.

Transit di Erfurt menuju Ilmenau

SIM Internasional

Rabu minggu lalu saya mengurus SIM Internasional di Jakarta. Proses pembuatannya sangat cepat dan profesional.

SIM internasional adalah dokumen yang memungkinkan kita berkendara di luar negeri. Pada praktiknya, SIM internasional harus disertai dengan SIM lokal kita. Oleh karena itu untuk membuat SIM internasional kita harus sudah memiliki SIM Indonesia.

Persyaratan pembuatan SIM ini adalah sangat mudah.

  1. Paspor
  2. SIM lokal
  3. KTP
  4. Foto 4×6 3 buah dengan latar belakang biru
  5. Materai 6 ribu

Biayanya 250.000 untuk pembuatan baru dan 225.000 untuk perpanjangan. Masa berlaku SIM 3 tahun (sebelumnya hanya 1 tahun). Dibuat di kantor Korlantas Cawang. Patokannya, jika dari arah UKI posisinya setelah Menara Saidah.

Berikut alamat lengkapnya:

Korlantas Polri
Jl. Letjen Haryono MT Kav 37-38
Jakarta 12770
Telp: 021-7989702

Saya berangkat dari rumah di Jonggol jam 9 pagi namun tidak beruntung baru sampai di kantor pembuatan SIM internasional pukul 12 siang tepat saat istirahat siang. Saya langsung ambil nomor antrian lalu sambil menunggu jam 1 saya pun Shalat Zuhur di masjid yang tepat berada di sebelahnya.

Seusai shalat tepat jam 1 layanan sudah kembali di buka. Hanya ada satu orang di depan antrian saya. Kurang dari 5 menit saya pun dipanggil. Karena saya jngin membuat SIM internasional untuk motor dan mobil maka persyaratan tadi dibuat 2 rangkap. Saya menyerahkan berkas-berkas kemudian petugas memberi satu form untuk diisi. Isiannya berupa data diri, jenis SIM dan terakhir tanda tangan di atas materai. Setelah isian formulir petugas meminta pembayaran biaya yang saya bayar 2 x 250.000 untuk 2 SIM. Kemudian diambil foto dan sidik jari. Petugas akan mengkonfirmasi data sebelum SIM dicetak. Pastikan nama dan data kita benar. Setelah itu SIM langsung dicetak dan proses selesai. Bentuk SIM berupa buku dan bukan kartu. Sayangnya kualitas kertas terlihat jelek serta sayangnya lagi saya tidak dapat buku panduan karena sedang tidak ada stok.