Bete Berat

Bete berat banget nih. Dari pagi cuma selancar-selancar gak karuan di internet. Badan lemes, perut lapar, gak enak perasaan.

Semalem gue pulang larut banget. Karena harus meeting dengan seseorang, gue harus nunggu sampai jam 8 malam di Menara Mulia. Meeting pun baru selesai jam 10 kurang. Pulang jam segitu, hujan di luar plus macet panjang banget.

Setibanya di halte Menara Mulia, gue nunggu sebentar ternyata lewat bis Cileungsi – Kalideres. Lumayan seneng, artinya gue gak perlu berepot-repot transit di Cawang.

Saat naik ternyata cuma ada satu penumpang di bis. Perasaan jadi gak enak. Langsung deh gue nanya ke awak bis bakal disampein ke Cileungsi gak. Dia menjawab sampai. Tapi nanti ditransfer ke bis yang ada di belakang mereka. Oh ternyata ada dua bis Cileungsi – Kalideres yang sedang beriringan.

Setibanya di timer point sebelum masuk tol dalam kota di semanggi, gue pun di transfer ke bis belakang. Ternyata ada sekitar 8 penumpang. Tapi tetep, ada perasaan gak enak, bahwa gue ragu apakah bakal disampein ke Cileungsi atau di lempar di jalan? Bis pun berangkat, selang satu jam sampai di cibubur, benarlah perasaan gue tadi. Dia putar balik di Cibubur Junction. Alasannya sih mau pulang. Ya iyalah gue juga mau pulang, tapi ngomong dong dari tadi, sama balikin ongkos gue untuk nyambung naik angkot ke Cieluengsi. Dongkol banget sih. Pertama, si awak bis itu lepas tanggung jawab dengan tidak menghantarkan penumpang sampai ke tujuan. Kedua, hujan gerimis pula. Ketiga, malam sudah larut pula. Keempat, gue ngantuk banget.

Padahal jika para awak bus itu tahu, ketidakikhlasan gue atas perlakukan mereka akan menjadi catatan dosa. Bisa aja sih jika gue bermental mulia dan memaklumi mereka. Tapi mereka menyediakan bisnis jasa. Gue konsumennya. Gue sudah menunaikan kewajiban gue membayar ongkos sesuai tarif, tapi ternyata hak gue untuk diantar hingga tujuan tidak mereka tunaikan. Dalam kehidupan pun berlaku adil adalah hal yang diwajibkan. Sebagai mana sebagian besar orang pasti ingin diberlakukan dengan baik dan menyenangkan.

Moral of the story-nya adalah (ngulang yang tadi) perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan sebaliknya. Gue pun yakin betul setiap detail keburukna maupun kebaikan yang kita lakukan pada orang lain akan dicatat secara lengkap oleh Allah Swt. Tidak sekedar dicatat juga, karena kumpulan catatan tersebut akan dimintai pertanggungjawabannya.

Oh ya balik lagi ke title posting ini, gue dapet tips pengobat kebetean dari sahabat gue. “Senyum aja, pasti enakan…” She said.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s