Review Helm KBC V-Series – Haruskah anda membelinya?

Helm adalah aksesoris pengaman yang terpenting bagi pengendara motor. Selain itu helm juga adalah aksesori yang penting untuk mendongkrak penampilan. Sehingga bukan hal yang aneh bagi beberapa orang berbudget lebih untuk membeli helm impor dengan satuan harga hingga berjuta-juta rupiah untuk mengejar 2 faktor tersebut safety dan prestis.

Sebelumnya saya awam terhadap nama KBC. Dulu saya pikir KBC adalah merk helm biasa. Dengan semakin banyaknya pengguna sepeda motor di Indonesia, banyak produsen memanfaatkan ceruk pasaran subur ini sehingga munculah mungkin berpuluh merk helm dengan berbagai macam tipe. Dari berbagai merk tersebut dapat dibagi menjadi 2 kategori. Pertama helm lokal dengan range harga biasa. Kedua helm import dengan range harga menengah ke atas. Untuk kategori pertama bisa kita sebut diantaranya ada Ink, NHK, GM, VOG, BMC, KYT dan lain-lain. Untuk kategori kedua bisa kita sebut Nolan, Arai, AGV, Shoei, Shark dan KBC. Ya ternyata KBC bisa masuk kategori helm menengah.

Beberapa minggu lalu helm KBC resmi hadir di Indonesia melalui distributornya PT. Central Sole Agency yang menaungi group Indoparts. Pada waktu yang sama KBC mengeluarkan seri terbaru V-series dengan harga yang cukup terjangkau bagi pasar Indonesia. Pada momen Jakarta Fair tahun 2011 ini distributor KBC juga memberikan penawaran menarik dengan program trade in tukar helm bekas dan program cicilan 6 bulan bagi pengguna kartu kredit BCA. Kesempatan ini tak saya sia-siakan. Pada Kamis lalu saya menyempatkan mampir ke Jakarta Fair di malam hari. Langsung meluncur ke stand helm KBC dan melihat-lihat beberapa tipe yang dipajang. Awalnya sempat tertarik dengan tipe tertentu yang saya lupa namun bercat repsol dengan harga sekitar 1.500.000. Namun setelah mondar-mandir di stand tersebut saya memutuskan untk mengambil tipe terbaru V-Series saja dengan harga 550.000. V-Series sendiri terdiri dari 2 jenis stripping. Euro dan Zero. Setelah membanding-bandingkan untuk warna dominan stripping merah, tipe Zero memiliki kombinasi warna yang paling cocok untuk saya. Pada kesempatan yang sama, saya pun baru tahu bahwa KBC V-Series telah mendukung teknologi pinlock. Pinlock di sini adalah sebuah lapisan tipis yang akan dipasang menggunakan pin kecil di belakang visor. Kegunaan dari pinlock ini adalah untuk mencegah munculnya embun saat kita bernapas. Harga resminya sekitar 350.000. Namun kemarin untuk pembelian sekaligus dengan helm akan dihargai 99.000 saja. Meskipun sempat kecewa karena saat melakukan pembelian dengan insiden mesin EDC yang error sehingga kartu kredit saya digesek sampai 3 kali dan saya harus tertahan di stand itu hampir 1 jam, secara umum saya cukup puas dengan Helm KBC V-Series ini.

Pertama helm ini memiliki bobot yang cukup ringan. Sehingga tidak akan membuat kita cepat lelah meskipun untuk perjalanan yang cukup jauh. Kedua, kombinasi stripping V-Series cukup bagus meski seperti sudah disebut tadi saya cenderung lebih suka stripping  V-Series Zero dibandingkan Euro. Ketiga, seperti helm-helm jaman sekarang Visor cukup mudah untuk dipasang dan lepas. Keempat, dengan teknologi pinlock saya sangat dimudahkan dengan tak perlu membuka tutup visor saat jalanan merayap hanya untuk menghindari helm yang berembun.

Dari faktor-faktor positif tadi beberapa hal yang agak saya kurang suku dari helm KBC ini adalah mekanisme mengunci belt ke dagu yang menurut saya agak aneh. Helm-helm lain biasanya menggunakan mekanisme klik seperti seat belt mobil. Namun pada helm KBC mekanisme terkesan tradisional, meski SPG penjualnya berpromosi mekanisme ini jauh lebih aman. Untuk memasang belt helm KBC kita harus mengalur belt melalui 2 pin besi kemudian melock ke semacam kancing biasa. Dengan mekanisme ini tak ada mekanisme mengendurkan dan mengencangkan belt karena memang pada akhirnya secara otomatis belt akan selalu terpasang dalam kondisi kencang. Kedua, KBC V-Series ini adalah helm pertama saya dengan teknologi pinlock. Entah mengapa ruang sempit antara pinlock selalu seperti basah berair tipis. Padahal saya sudah berulangkali membuka pinlock dan mengelapnya. Meski tidak mempengaruhi penglihatan sama sekali namun hal ini agak mengganggu juga.

Demikian review singkat helm KBC ini. Dengan kelebihan dan kekurangannya secara personal saya pikir skor 4 dari 5 bintang cukup layak diberikan. Semoga bermanfaat.

Ketika Belajar dari Kesalahan Seringkali Dilebih-lebihkan

Saya sedang membaca Rework buku dari Fried dan Heinenmeir. Buku tersebut adalah sebuah buku bisnis yang sangat praktis. Saya mau sedikit menguraikan sedikit konsep gagasan yang saya dapat dari chapter awal buku. Semoga dengan menguraikan, saya bisa sedikit membagi apa yang saya peroleh dan membuat saya bisa memahami konsep itu lebih baik.

Hingga kemarin saya selalu percaya, bahwa belajar dari kesalahan adalah hal yg dapat memicu kita utk semakin meluncur ke depan untuk menjadi lebih baik lagi. Namun setelah membaca Rework sepertinya paradigma itu tidak terlalu tepat dan sering kali dilebih-lebihkan. Failure will not bring you further. You will be still in same places. Sometime you will be drawback several or more steps. Kegagalan itu bukan jalur yang benar menuju keberhasilan.

Hal yg lebih tepat adalah, justru keberhasilan yg akan membawa kita lebih maju pada keberhasilan berikutnya. Mengkompromikan kegagalan berarti membuat kita sejak awal berpikir dalam batasan “mungkin saya akan gagal”. Siap gagal mungkin terdengar bagus, namun jika dipikirkan ulang, tidak bagus sama sekali. Oke saya setuju memang kita akan belajar sesuatu dari kegagalan. Bagi anda yang kurang setuju, mungkin akan mengangkat cerita Thomas Edison saat mengalami kegagalan ribuan kali dalam memilih filamen bola lampu yg paling tepat. Pada dasarnya Edison sendiri mengatakan saya tidak gagal, saya hanya menemukan ribuan cara yang tidak berhasil. Dari sana kita bisa melihat kegagalan hanya akan membuat kita belajar apa yang harusnya tidak kita lakukan. Namun seberapa bergunakah itu? Dalam ranah penelitian mungkin masih berguna, namun bagaimana dalam ranah bisnis? Tetap saja setelah gagal kita tidak tahu apa yang harus dilakukan berikutnya.

Belajar dari keberhasilan justru adalah hal yang paling tepat. When something succeds, you know what worked, and can do it again, and for next time even you can do it better. Kegagalan tidak selalu harus menjadi awal dari kesuksesan. Jadi tak usah merasa takut dalam mencapai sesuatu pasti harus selalu diawali kegagalan. Justru banyak juga kasus ketika proses pencapaian berjalan sangat mulus, diisi keberhasilan demi keberhasilan dan setiap keberhasilan itu justru memicu keberhasilan lain dengan lebih mudah dan menghilangkan kemungkinan kegagalan karena kita tahu apa yang benar dan apa yang membuat sesuatu salah.

Sebagai penutup saya akan tulis petikan kalimat yang sangat mengena mengenai pembahasan ini. Evolution doesn’t linger on past failures, it’s always building upon what worked. Kita juga harus seperti itu.

Semoga berguna, jika tulisan ini masih kacau balau, harap maklum, saya masih belajar. Mohon maaf juga kalau banyak typos, ngetik dan publish dari hp.

One Minute Manager

Selamat hari senin. Senin yang indah ini diawali dengan ngomel-ngomel ke supir angkot yang bawa mobil dengan sangat lelet. Karena sudah tidak sabar akhirnya saya turun dan pindah angkot. Lucunya sebenarnya supirnya yang nyuruh turun dan gak minta dibayar. Transit angkot lah saya di tengah-tengah jalan menuju Cileungsi. Kebetean lain adalah Jakarta selalu menyebalkan dengan kemacetannya. Bersyukurlah naik bus AC tidur barang sejenak. Dari pintu tol cibubur dan melek di cawang UKI karena ada gonjreng-gonjreng berisik di kebetean berikutnya.

Kebetean berikutnya adalah terganggu lagi dengan pengamen-pengamen bus yang berisik. Saya sadar terkadang kita tidak boleh melihat dengan sudut pandang sendiri terhadap suatu permasalahan. Kebanyakan pengamen pun mungkin akan mengaku tidak akan mau mengamen jika ada pilihan penghidupan yang lebih baik. Tapi tetap fakta bahwa keberadaan mereka mengganggu susah dihapuskan. Jadi mari berbalik ke pemerintah untuk sadar dan mencari solusi terbaik permasalahan ini.

Kembali kepada kekesalan pada pengamen, saat turun bus pun saya masih harus dongkol karena membuat saya susah lewat di lorong antar bangku. Setelah turun karena bus berhenti di jalur cepat saya menyeberang ke jalur lambat. Kembali saya teriak-teriak pada mobil Mercy ‘ngehe’ yang gak mau ngerem, udah tahu banyak yang nyebrang. Kalau ga terlalu sabaran pengen banget nimpug botol aqua yang saya bawa. Untung masih bisa sabar. Akhirnya saya tiba di kantor dengan sehat dan selamat.

Oh ya hari ini saya malas naik motor. Kemacetan Jakarta bagi saya sudah melewati batas kemanusiaan. Jadi dari pada lepas norma kemanusiaan dari diri saya dengan serampat-serempet suka-suka hati dan sekali-sekali teriak-teriak tidak jelas, lebih baik naik bus dulu minggu ini.

Sekarang beralih ke poin mengenai judul post ini. Pembaca yang budiman pasti bertanya-tanya apa relevansi judul dengan curhat-curhat tidak berguna di atas? Jawabannya tidak ada. :p One Minute Manager adalah sebuah buku laris karya Kenneth Blanchard dan Spenser Johnson. Tidak kenapa belakangan saya seperti kesambet setan manajemen sehingga menjadi tertarik terhadap topik-topik tersebut. Relevansi yang dipaksakan dari judul post ini adalah sejak semalam saya membaca buku itu dan selesai tadi di bus dengan terkantuk-kantuk. Jadi agar post ini bisa sedikit lebih berguna, saya ingin membagi poin-poin penting dari buku yang cukup tipis itu.

One minute manager bukan mengenai kita bisa menjadi manajer dalam satu menit. Namun bagaimana seorang manajer bisa efektif menjalankan tugas-tugas manajemen. One minute manager disusun dari tiga buah rahasia.

  • One Minute Goals.
  • One Minute Praisings.
  • One Minute Reprimands.

One minute goals artinya setiap targetan yang harus dicapai sebaiknya disusun dalam kalimat lugas tidak lebih dari 250 kata dan ditulis dalam selembar kertas.

One minute praisings artinya seorang manajer yang baik harus bisa ‘menangkap’ anak buah saat melakukan tugas dengan benar (atau mendekati benar) dan memberikan apresiasi. Ini berkebalikan dengan pendekatan orang-orang pada umumnya yang justru menjebak anak buah saat melakukan kesalahan.

One minute reprimands artinya saat satu ketika bawahan melakukan kesalahan, manajer tentu harus menegurnya, namun hal yang harus diperhatikan adalah teguran ditujukan pada sikap/kesalahannya bukan pada individunya.

Ketiga poin tersebut secara simbolik dilakukan dengan cepat meski mungkin tidak harus selalu persis 1 menit. Poin tentang manajemen lain yang semakin saya ingat adalah bahwa manajemen adalah mengenai delegasi dan bukan sekedar pengarahan. Manajer bukan sekedar tukang suruh-suruh dan manajer juga bukan orang yang melakukan segala hal sendiri. Manajer mengarahkan agar bawahan bisa tahu bagaimana menyelesaikan suatu tugas permasalahan sendiri.

Review Canon EOS 1000d – Haruskah anda membelinya?

Sesuai dengan judulnya, post ini akan membahas sedikit sisi dari Canon EOS 1000d dari perspektif saya.Tanpa bermaksud menyaingi engadget atau dpreview saya akan membagi pengalaman sejak melakukan unboxing kamera sekaligus sedikit alasan yang membuat akhirnya saya menjatukan pilihan ke si Canon EOS 1000d ini. Jika ulasan sangat bias tentunya harus dapat dipahami sebab interaksi saya dengan si mahkluk berlensa ini baru berlangsung kurang dari 1 minggu saja.

Background
Keinginan untuk mencoba hobi fotografi sebenarnya sudah cukup lama ada di diri saya. Entah mengapa saya merasa orang manapun biasa akan lebih terlihat keren saat memegang kamera bagus dan berpose ala fotografer profesional saat mengambil foto. Pernyataan tersebut sepertinya sudah cukup menggambarkan betapa pragmatisnya sekaligus noraknya diri saya. Sekian lama hasrat untuk hobi itu harus terpendam, sebab seperti yang sebagian besar orang juga tahu, fotografi bukan hobi yang murah meriah. Tentunya kemungkinan menyalurkan hobi tanpa mengeluarkan uang selalu ada. Tapi ketersediaan kamera serius adalah hal yang mau tidak mau harus diwujudkan untuk memulai membekukan dunia ke dalam gambar-gambar.

Memililih Kamera
Saya menulis post khusus yang membuat pada akhirnya saya memilih Canon EOS 1000d sebagai kamera dSLR pertama saya.

Unboxing
Packaging dari Canon EOS 1000d sangat rapi. Konten dari paket penjualan adalah sebagai beriut:

  1. Body Canon EOS 1000d
  2. Lensa EF-S 18-55 mm
  3. Kabel USB
  4. Kabel Video untuk ke TV
  5. Baterai
  6. Charger
  7. Tali Kamera
  8. CD software
  9. Manual Book

Hal yang kurang. Filter untuk melindungi lensa. Untuk lensa 18-55 mm diameter filternya adalah 58 mm. Saya sendiri menggunakan Kenko. Berikutnya adalah ketiadaan tas. DSLR nampaknya kurang akrab terhadap guncangan. Menenteng-nenteng DSLR tanpa tas yang aman bukan hal yang terlalu aman untuk dilakukan.

Ulasan Dangkal
Pada awalnya saya mengira bahwa dSLR adalah memang kamera yang dirancang sulit dan tidak mungkin langsung digunakan orang awam karena semua hal harus diatur secara manual. Tapi setelah melakukan unboxing dan mencoba beberapa kali jepret gambar, pernyataan ini harus digugurkan. Selayaknya kamera digital biasa, DSLR pun memiliki mode full otomatis. Nyalakan kamera, pilih mode full otomatis, cari objek menarik, tekan tombol setengah shutter untuk mendapat auto fokus, tekan tombol shutter sepenuhnya dan gambar pun sudah ditangkap. Untuk yang sebelumnya terbiasa jeprat-jepret dengan kamera hp dan kamera digital biasa akan mengalami momen kagum sesaat betapa bagusnya hasil jepretan kamera DSLR.

Tidak akan ada orang yang melarang kita untuk terus mengambil foto hanya dengan mode auto fokus saja. Namun kekuatan sebenarnya dari DSLR adalah pilihan untuk mengatur semua pengaturan sampai limit maksimal kamera. Artinya kreativitas benar-benar bisa lepas dibandingkan dengan menggunakan kamera biasa yang sangat terbatas pengaturan manualnya.

Mode kamera terbagi menjadi 2. Pertama adalah basic zone. Mode-mode disini akan mengatur otomatis parameter-parameter kamera berdasar tipe potret yang akan kita lakukan. Mode paling pertama adalah full otomatis. Kedua Portrait untuk mengambil foto diri. Ketiga landscape untuk pemandangan. Keempat macro untuk mengambil foto benda-benda kecil. Keenam Sports untuk mengambil foto objek yang bergerak cepat. Night Portrait adalah mode foto diri di malam hari. Terakhir adalah flash off jika tidak ingin lampu flash aktif dengan sendirinya.

Zona kedua adalah zona kreatif. Di sini semua variabel DSLR seperti besar bukaan diafrahma (aperture), kecepatan bukaan lensa (shutter speed) dan kecerahan ISO dapat diatur manual. Mode pertama di zona ini adalah Program Auto Exposure. Aperture dan shutterspeed akan diatur secara otomatis. Mode kedua Shutter Speed Priority. Kita mengatur shutter speed dan kamera akan memilih aperture yang sesuai. Mode ini dipilih untuk memotret benda-benda bergerak. Mode selanjutnya aperture priority. Kita mengatur aperture dan kamera akan memilih shutter speed yang paling sesuai. Mode ini berguna untuk memotret dengan tingkat kedalaman gambar yang ingin kita atur. Contohnya memotret suatu objek dengan latar belakang yang dibuat blur. Mode berikutnya adalah manual exposure. Pada mode ini semua nilai aperture, shutter speed dan ISO kita tentukan sendiri. Mode terakhir adalah Automatic dept-of-field Auto Exposure.

Dari pilihan-pilihan mode yang sangat banyak tersebut adalah sangat lebih dari cukup untuk berkreasi dan bereksperimen menghasilkan foto-foto yang bagus. Jadi meski memang Canon 1000d adalah DSLR entry level dengan level harga paling murah tidak membatasi kreativitas untuk mengambil gambar-gambar bagus. Seperti banyak ditulis di artikel cara memilih DSLR, masalah utama bukan seberapa mahal kamera kita. Namun seberapa handal kita dapat menggunakan kamera tersebut.

Kesimpulan
Pembaca yang kritis pasti akan berkomentar, kok cepet amat sampai kesimpulan padahal dari latar belakang, pembahasan yang dilakukan masih sangat dangkal. Ya demikianlah berhubung penulis amatir pegel otak cari-cari bahan kata untuk menulis terlalu panjang. Kesimpulannya adalah, jika anda adalah orang yang ingin belajar fotografi atau sekedar traveler yang ingin mengambil foto-foto perjalanan dengan kualitas lebih baik, Canon EOS 1000d adalah pilihan yang paling sempurna dengan harga yang tidak terlalu mahal.

Review Sony Ericsson “Android” Xperia X10 – Haruskah anda membelinya?

Another new gagdet its mean another new review.

Jika urusan review detail yang cukup objektif adalah jatah gsmarena dan website-website sejenis. Ijinkan saya untuk mencoba mereview dengan tidak detail dan sangat subjektif.

Sebelum bercuap-cuap ga karu-karuan saya akan langsung masuk to the poin paket penjualan serta kelebihan dan kekurangan gadget ini sehingga bisa menjadi pertimbangan berharga untuk membeli atau tidak.

Paket penjualan:

  • Gadget Xperia X10
  • Video stand, dudukan untuk xperia x10 jika digunakan untuk nonton video
  • Charger
  • Connector mini usb untuk transfer data sekaligus kabel charger
  • Handsfree
  • Kartu garansi dan buku manual
  • Pouch Kulit
  • Anti Gores
  • Kardus (halah :p)

Kelebihan:

  • Layar sangat besar 4 inchi. Sangat nyaman untuk nonton video, browsing dan baca ebook
  • Kamera beresolusi sangat besar 8.1 Mega Pixel.
  • Desain bagus, meski besar tapi tetap tipis.
  • Layar bermaterial scratch resistant ada bonus screen protector dan pouch kulit pula di paket penjualan.
  • Pilihan aplikasi sangat banyak dan terus bertambah (kelebihan android secara umum)

Kekurangan:

  • Tidak ada radio FM
  • Versi Android masih 1.6 padahal versi terkini sudah 2.2. Dijanjikan update ke 2.1 sekitar quartal 4 2010 oleh sony ericsson
  • Baterai agak boros
  • Tidak ada remote kontrol di handsfree jadi tidak bisa ganti lagu, play, stop dan mengecilkan volume dari handsfree.
  • Layar sentuh tidak support multitouch jadi agak kurang gamer friendly
  • Belum ada aplikasi GPS offline yang mumpuni (sebenarnya ini kekurangan android secara umum)
  • Tidak ada flash untuk kamera hanya Led

Itu sebenarnya inti posting kali ini yang berikut adalah sedikit cuap-cuap dari reviewer amatiran.

2010 ini nampaknya akan menjadi tahun mulai bangkit sistem operasi Android di gadget mobile. Untuk yang masih awam, Android adalah sistem operasi untuk perangkat mobile yang dibuat oleh google. Karakteristik utama yang ditawarkan oleh android adalah open source dan mindset gadget internet tentunya sangat dilekatkan pada sistem operasi ini. Euphoria android tersebut ternyata cukup memancing saya untuk turut mencicipi dengan mencoba xperia x10 ini.

Sony Ericsson Xperia X10 adalah handset Sony Ericsson pertama yang menggunakan Operating System (OS) Android. Xperia dibungkus dengan kardus sangat minimalis. Mungkin ini mengikuti strategi yang dilakukan iPhone. Ketika dibuka kesan pertama yang langsung terasa adalah mewah. Setara dengan kesan yang saya rasakan ketika pertama memegang iPhone. Sekujur bodi body Xperia ditutupi casing plastik namun dengan finishing yang cukup baik sehingga jauh sekali dari kesan murah. Bagian depan ditutup seluruhnya oleh layar berukuran 4 inchi. Di bagian atas layar agak sedikit tidak terlihat terdapat sensor cahaya yang akan otomatis mematikan screen ketika xperia digunakan untuk menelpon. Sensor ini berguna agar layar tidak tersentuh dengan tidak sengaja saat di pakai menelpon. Di bagian bawah layar terdapat 3 tombol fisik. Pertama tombol menu aplikasi di sebelah kiri, tombol home di tengah dan tombol back di kanan. Di sisi kanan terdapat tombol volume dan shutter kamera. Di bagian atas adalah space untuk tombol power, port audio dan micro USB.

Seperti gadget-gadget standar xperia dapat dinyalakan dengan menekan beberapa detik tombol power hingga agak sedikit bergetar. Waktu start up xperia cukup cepat tidak sampai 1 menit. Ketika pertama kali dinyalakan akan langsung muncul wizard pilihan bahasa, setting waktu dan seterusnya. Setelah aktif, jika layar dalam keadaan terkunci cukup sapu layar agak menyerong sesuai dengan jalur papan kunci yang tampil. Setelah kunci terbuka yang pertama tampil adalah home screen. Bagi yang pertama menggunakan android, handset android biasanya memiliki 3 home screen. Home screen pertama adalah yang pertama tampil. Home screen kedua dan ketiga dapat dibuka dengan menyapu layar ke kiri dan ke kanan. Di home screen nanti dapat diletakan shortcut-shortcut untuk aplikasi atau widget-widget menarik. Bagian atas homescreen dapat kita seret ke bawah untuk membuka layar notifikasi. Menu aplikasi dapat dibuka dengan menyeret bagian bawah homescreen.

Xperia X10 menggunakan android versi 1.6. Namun Sony Ericsson telah memodifikasi tampilan asli android sehingga lebih cantik. Dua aplikasi bawaan sony ericsson yang ditambah ke xperia adalah mediascape dan timescape. Mediascape adalah aplikasi untuk memanajemen dan memutar koleksi multimedia di xperia. Timescape adalah aplikasi yang menyatukan log sms, email, update status facebook dan twitter terintegrasi di xperia.

Berbekal perangkat keras dapat dibilang sangat canggih, prosesor speed 1Ghz (ini bahkan lebih cepat dari pc celeron jadul 600MHz saya) dan external storage up to 32GB. Satu kekurangan yang agak mengganjal adalah tidak tersedianya radio fm. Xperia sangat responsif. Setiap sentuhan ke menu atau interface tertentu direspon dengan hampir seketika dengan jeda yang cukup minimal.

Xperia dibekali kamera dengan resolusi terbesar saat ini di perangkat mobil umum 8.1 Mega Pixel. Kekurangan dari kamera Xperia adalah ketiadaan lampu flash namun hanya dibekali dengan lampu led.

Satu kekurangan lain yang juga cukup perlu diperhatikan adalah ketahanan baterai. Harus disadari dengan spesifikasi hardware yang cukup tinggi tadi xperia x10 cukup boros energi. Xperia x10 bisa bertahan 24 jam lebih dalam pemakaian wajar sedikit koneksi data, telpon tak terlalu banyak dan sedikit multimedia. Namun dengan pemakaian intensif, browsing terus menerus, memutar musik online, streaming video, baterai xperia x10 akan kering dengan sangat cepat.

Oke karena reviewer sudah agak ngantuk langsung loncat ke kesimpulan saja. Secara umum Xperia x10 adalah salah satu handset android tercanggih saat ini. Kekurangan yang cukup besar adalah tiadanya radio fm, versi android yang ketinggalan dan baterai yang agak boros. Kelebihan terbesar dari xperia x10 adalah di ukuran layarnya yang sangat besar dan resolusi kamera yang cukup tinggi. Mengharapkan suatu produk yang sempurna tentunya adalah hal yang mustahil. Dengan kelebihan yang dimiliki jika anda memiliki budget nganggur lebih, mencoba xperia x10 bukanlah pilihan yang terlalu buruk.

Kisaran harga pada saat post ini dibuat adalah 6.500.000.

Yamaha V-Ixion 2010

Baru saja pulang dari dealer Yamaha setelah membawa Maruno medical check up. Bagi yang belum tahu, Maruno adalah Yamaha V-Ixion 2009 merah marun milik saya. Secara kebetulan ternyata di dealer sudah hadir sosok adik Maruno Yamaha V-Ixion 2010. Titelnya di brosur kredit adalah Vixion X Treme. V-ixion 2010 ini adalah facelift dari tahun sebelumnya. Mungkin ini digunakan Yamaha sebagai pemanasan sebelum meluncurkan Yamaha Byson sekitar quartal kedua 2010 nanti.

Facelift produk adalah hal yang gampang-gampang susah dilakukan. Facelift produk yang terlalu minim akan membuat konsumen baru tidak terlalu terpancing untuk membeli. Namun facelift produk yang terlalu ekstrim akan membuat konsumen lama sakit hati. Efek parahnya konsumen yang sakit hati tersebut akan memilih untuk pindah merk. Contoh kasus facelift produk yang terlalu ekstrim adalah Honda Tiger Revo. Tidak sedikit pengguna Tiger yang kecewa karena keduluan membeli Tiger lama dan dalam selang waktu tidak terlalu lama ternyata dirilis versi facelift yang terlalu ekstrim, meski perubahannya sebagian besar hanya sekedar di kulit saja.

Kembali membahas Yamaha V-Ixion 2010. Yamaha mengupgrade tampilan V-Ixion 2010 ini dalam porsi yang cukup tepat. Selain tampilan, spesifikasi mesin semuanya tidak di rubah. Perubahan tampilan yang paling terlihat adalah penggantian lampu utama dari bulat menjadi diamond. Delta box dan rangka footstep belakang berubah warna dari chrome menjadi hitam sehingga terlihat lebih menyatu dengan body. Perubahan lain adalah hanyalah di sektor stripping. Dengan perubahan yang tidak terlalu ekstrim, Yamaha sudah menjaga loyalitas pembeli v-ixion lama namun menarik konsumen-konsumen baru untuk melirik v-ixion baru. Tentunya kita sebagai konsumen benar-benar merasa kecewa bila produk yang kita miliki terlihat ketinggalan saat produk rilisan terbaru berubah terlalu banyak. Tapi hal ini tidak terjadi untuk kasus v-ixion ini. Saya tetap puas dengan lampu bulat motor saya. Kalaupun nanti sudah keluar spare part lampu diamond original sepertinya tidak terlalu sulit untuk menaikkelaskan v-ixion 2009 atau bahkan 2008 untuk berlampu diamond.

Terakhir untuk masalah harga naik sekitar 1 juta dibanding tahun sebelumnya. Harga di dealer saya yang berlokasi di Jonggol Bogor adalah 21.140.000. Mungkin di daerah lain ada sedikit perbedaan harga. Harga tersebut masih sangat wajar. Value for money. You get what you pay.

Ok that’s all. Untuk foto-fotonya silakan dinikmati.

Review Nokia 5800 XM – Haruskah anda membelinya?

nokia5800xpressmusic_1Oke mau numpang review gadget terbaru gue nih. Nokia 5800 XM. XM untuk eXpress Music. Pertengahan Desember 2008 kemarin akhirnya maksain beli handphone juga. Beberapa pertimbangannya adalah, pertama, gw memang lagi gak punya henpon. Kedua lagi ada uang sedikit. Ketiga ingin mencicipi salah satu gadget revolusioner tahun ini dari Nokia. Awalnya agak ragu juga sih, apakah harus mengeluarkan uang cukup besar (untuk ukuran gw loh) hanya untuk membeli perangkat yang fungsi utamanya menelpon dan sms? Setelah dipikirkan masak-masak akhirnya gua tebus juga si Nokia 5800. Dan toh ternyata setelah menggunakan beberapa waktu ada banyak pengalaman yang didapat dan lebih dari sekedar fungsionalitas telpon dan sms. Post ini juga akan mencoba memberikan masukan pada visitor sekalian, apakah Nokia 5800 layak anda beli.

Pertama kita akan membahas ukuran. Dimensinya adalah 111 * 51.7 * 15.5 mm. Untuk anda yang mencari HP super kecil super tipis, Nokia 5800 tidak bisa masuk daftar. Namun dengan fungsionalitas yang Nokia 5800, ukuran tadi masih cukup masuk akal dan dirancang untuk dapat digunakan menggunakan 1 tangan saja (tidak seperti PDA).

Kedua adalah metode input. Meski Nokia 5800 bukan HP touchscreen pertama dari Nokia (ada beberapa seri lain yang pernah diluncurkan tapi tidak terlalu banyak terlihat di pasaran Indonesia), Nokia 5800 disiapkan untuk menggebrak pasar dengan keunikan-keunikan yang dimiliki. Walaupun banyak orang berseloroh kehadiran Nokia 5800 adalah menjiplak iphone dan mencoba secara langsung bersaing dengan iphone, ternyata ada poin-poin unik yang cukup kuat bersaing dan bahkan melebihi fungsionalitas iphone yang juga dianggap cukup revolusioner. Berkaitan dengan user interaction, serupa dengan iphone, Nokia 5800 menyiapkan akses kontrol utama dari sensor touchscreen dan disiapkan bisa dikendalikan dengan jari saja. Di panel utama Nokia 5800 tidak ada panel alpanumerik atau keybord qwerty. Space terbesar diokupasi oleh display sekaligus touchscreen berukuran 3,2 inchi. Hanya ada 3 buah tombol di bagian bawah display, tombol angkat telepon hijau, tombol tutup telepon merah dan tombol akses menu. Serta sebuah tombol sentuh akses media bar di bagian atas dekat speaker. Selain menggunakan jari, interaksi ke touchscreen juga dapat menggunakan stylus dan sebuah kontrol serupa pick gitar yang bernama plektrum.

Berikutnya adalah display. Seperti telah disebut di atas, salah satu poin unggul dari Nokia 5800 XM sebagai gadget multimedia adalah display yang sangat besar. Ukurannya 3,2 inchi dengan resolusi 640 * 360 widescreen, dan kedalaman warna hingga 16 juta warna. Cukup lapang untuk menonton video dan atau bermain game.

Selanjutnya adalah storage. Nokia 5800 XM memiliki storage internal sekitar 100 MB dan storage eksternal berupa micro SD card yang bisa ditambah hingga 16 GB (paket penjualan menyertakan micro SD 8 GB). Dengan ukuran sedemikian Nokia 5800 dapat kita jejali dengan file-file yang cukup banyak.

Kekuatan baterai adalah salah satu kekurangan yang mungkin dimiliki 5800. Hal ini tentunya dengan beragam fitur kaya yang dimilikinya. Dengan penggunaan intensif, baterai Nokia 5800 hanya bisa bertahan seharian.

Fitur multimedia tentunya tidak boleh terlewatkan. Nokia 5800 XM memiliki hampir semua fitur multimedia mulai dari music player, radio fm, video player (mendukung sebagian besar file video), flash lite, podcast dan sebagainya. Salah satu hal yang cukup saya tanggapi dengan positif di music player adalah waktu refresh library yang cepat, berbeda dengan handphone saya sebelumnya. Video player yang disertakan di handset ini adalah real player. Untuk anda yang senang mendownload video dari you tube, real player dapat langsung memainkan video berformat flv tanpa perlu konversi. Untuk kualitas suara speaker cukup baik, suara headset bawaan pun cukup layak. Bila ingin suara yang lebih nendang tentunya bisa membeli headset tersendiri dengan kualitas yang lebih baik.

Berikutnya adalah konektivitas. Nokia menyediakan koneksi hsdpa dan wireless LAN untuk konektivitas internet. Bluetooth pun tersedia untuk tranfer data. Dengan display yang cukup besar, pengalaman browsing internet terasa cukup menyenangkan. Di browser bawaan nokia pun telah tersedia rss reader dan flash lite. Jadi bisa streaming video. Aplikasi Internet Messenger pun sudah tersedia, meski hingga saat ini saya belum sempat mencoba menggunakannya. Bila tidak puas dengan browser bawaan nokia, alternatif lain yang sangat bagus adalah opera mini. Untuk messaging, Nokia 5800 memiliki sms, mms dan email client built in.

Selanjutnya adalah navigasi. Navigasi nampaknya akan menjadi fitur standar untuk handset masa depan. Ingat saja masa-masa pertama ada handphone berkamera. Mungkin kelak semua henpon akan dibekali GPS. Nokia 5800 XM dibekali A-GPS built in dengan software Nokia Map 2.0. Peta dapat digunakan secara gratis. Namun bila ingin memakai fitur navigasi, kita diharuskan membayar lisensi. GPS pun cukup cepat menangkap sinyal. Akurasinya juga cukup baik. Yang sangat disayangkan, andai saja lisensi navigasi bisa digratiskan. Sempat mencoba menginstal Garmin XT 5.0 juga. Harapannya bisa bernavigasi secara gratis tadi. Tapi nampaknya versi tersebut belum kompatibel dengan Nokia 5800 XM.

Terakhir adalah aplikasi dan platform. Nokia 5800 XM adalah handset pertama yang berjalan di atas platform S60 5th edition dan sistem operasi Sysmbian 9.4. Jadi pengalaman kurang menyenangkan yang harus dihadapi pengguna handset ini adalah aplikasi-aplikasi yang sudah tersedia jumlahnya sangat minim. Tentunya ini akan berubah dengan semakin banyaknya handset lain yang diturunkan dan pengguna yang memakai. Untuk aplikasi symbian, aplikasi Nokia 5800 XM tidak kompatibel dengan aplikasi symbian terdahulu. Beberapa aplikasi mungkin berhasil diinstal, namun ada kekurangan ketika dijalankan. Untuk aplikasi Java Nokia 5800 XM dapat menjalankan semua aplikasi Java (backward compatible).

Dari uraian-uraian dangkal di atas berikut akan coba ditarik kesimpulan apakah Nokia 5800 XM cukup layak dibeli.

Kelebihan-kelebihan:

  • Harga cukup murah untuk fitur yang cukup kaya
  • Gadget revolusioner, just touch the screen with your thumb
  • Layar ekstra lebar
  • Fitur multimedia yang cukup memuaskan
  • Fitur navigasi yang juga cukup bagus
  • Storage besar

Kekurangan-kekurangan

  • Casing plastik, kesan murahan (tapi kalau dibuat stainlis, pasti bobotnya berat banget)
  • Butuh adaptasi interaksi touchscreen dengan jari.
  • Ga ada aplikasi office, pdf reader (ini penting banget buat gue), ga ada zip ekstraktor default
  • Henpon terkadang agak lemot, mungkin seharusnya dikasih prosesor yang lebih ngebut sedikit
  • Baterai agak kurang kuat

Kesimpulannya, dengan segala kekurangan yang dimiliki dan beberapa kelebihan yang ada, menurut gue dengan harga sekitar 4 jutaan (saat post ini dibuat), kalau anda sedang kelebihan duit, Nokia 5800 XM cukup layak untuk dibeli. Kalo ga punya duit, minjem aja dulu sama orang. He.. he.. Semoga post ini bisa memberi masukan yang berharga.