Rekap Awal November: Salah Masuk Kantor dan Laptop Rusak

Seperti yang sudah ditulis di post minggu lalu, hampir satu tahun saya absen menulis. Padahal menulis banyak manfaatnya. Saya hendak mencangankan target untuk menulis setidaknya satu post dalam seminggu. Jika pun tak ada ide berbobot untuk ditulis, biarlah curhatan hati menjadi penggantinya.

Minggu ini dimulai dengan agak menyebalkan. Hari Senin lalu saya masuk kantor di saat kantor sedang libur. Secara kalendar, hari Sabtu adalah hari libur nasional singapura untuk perayaan divapali, salah satu hari raya Hindu yang kebanyakan dirayakan orang India. Semacam dengan peraturan libur nasional di Indonesia, peringatan divapali biasanya akan mendapat jatah 2 hari tanggal merah. Namun karena tahun ini jatuhnya di hari Sabtu, berdasarkan website departemen tenaga kerja Indonesia, libur merahnya hanya Sabtu dan Minggu, yang artinya Senin bukanlah hari libur nasional.

Senin pagi seperti biasa saya beranjak ke kantor jam 8 pagi. Jalan satu blok ke arah stasiun MRT Dakota. Langsung ambil tempat duduk favorit di gerbong paling ujung dan mulai membaca buku dari tablet. Sekitar 40 menit kemudian akhirnya sampai di statusiun MRT Haw Par Villa. Turun MRT, keluar dari platform dan naik terus keluar dari stasiun yang berada di bawah tanah. Keluar langsung menunggu di bus stop menanti shuttle bus yang akan mengantar ke science park 2 tempat kantor Fujitsu Singapura. Bus datang, langsung naik, membayar 40 sen, duduk dan kembali membaca. Sekitaran 10 menit bus sampai di bus stop tujuan. Turun bus kemudian berjalan ke gedung. Naik ke lantai 3 menggunakan lift, lalu berjalan ke arah pintu salah satu wings, tapping access card kantor, masukan pin, pintu terbuka dan ruangan gelap. Nyaris tak ada orang kecuali ada beberapa orang yang mungkin ada kerjaan di pojok ruangan.

Ternyata Fujitsu libur meski kebanyakan kantor lain masuk. Berhubung saya adalah third party contractor mungkin tidak mendapatkan email pengumuman liburnya hari tersebut. Sementara project manager saya dan satu rekan developer yang lain sudah cuti sejak seminggu lalu dan lupa mengingatkan saya mengenai hari libur ini. Agak sedikit geli sendiri kemudian langsung keluar dan pulang. Kali ini via Harbour Front, turun di Clarke Quay dan naik bus 197.

Sejenak saya jadi teringat seorang teman sewaktu SMA. Namanya Rommy Jackson. Itu nama aslinya. Chinese dan sangat ramah. Jago main basket dan gitar. Badannya lumayan tinggi, mungkin sekitaran 170 cm di saat kami masih kelas satu SMA dan saya hanya 160 cm lebih sedikit. Detailnya saya lupa namun satu waktu Rommy pernah datang ke sekolah saat sekolah diliburkan mendadak. Jika tak salah karena hari sebelumnya dia tak masuk karena sakit. Saat sekolah masuk lagi, saya langsung menyapanya dan menanyakan apakah dia masuk di saat hari libur mendadak itu. Ia mengiyakan karena ia tak terpikir menyakan teman-teman yang lain apakah hari tersebut libur atau masuk. Pada masa itu boleh dibilang hampir ada yang memegang handphone. Sayangnya, saat kelas 3 atau tak lama setelah lulus, lupa tepatnya. Rommy meninggal dunia mendadak. Menurut kabar yang saya dengar diduga karena serangan jantung.

Lanjut ke poin kedua curhatan minggu ini. Berhubung saya kerja di Fujitsu, saya mendapat jatah laptop kerja Fujitsu. Saya malas memeriksa tipenya, ukuran layar 13 inchi dengan prosesor intel i5. Bukan laptop yang terlalu cepat sebenarnya untuk develop Java. Saya sangat suka laptop tersebut karena ukurannya yang mini. Minggu ini, setelah salah masuk hari Senin, saya kembali masuk kantor di hari Selasa. Salah satu rekan saya di project yang sedang kami kerjakan cuti ke Taiwan. Sehingga setiap hal yang berkaitan dengan project harus saya tangani sendiri. Selasa pagi banyak email masuk dari klien. Mengenai implementasi web service baru dan beberapa issue. Ketika sebenarnya sangat semangat bekerja tiba-tiba saya melihat ada yang tak beres dengan laptop. Sangat lambat dan tak responsif. Padahal minggu lalu masih baik-baik saja. Saya mulai coba troubleshooting dari taskmanager. Tidak ada yang nampaknya aneh. Pada akhirnya seharian itu saya tidak bekerja karena sibuk mengoprek laptop. Saya masih berpikir ada masalah di sistem operasinya.

Sesampai rumah saya langsung mengeksekusi checkdisk dan nampaknya tak ada yang salah. Sampai tengah malam masih terus penasaran hingga akhirnya saya tersadar, beberapa hari belakangan terkadang hardisk laptop berbunyi keras. Saya juga baru tersadar lampu indikator hardisk terus menyala. Nampaknya masalah bukan di software, tapi di hardisk.

Keesokan harinya saya langsung mendatangi MIS, departemen yang mengurusi infrastruktur dan hardware di Fujitsu. Benar saja ternyata hardisknya bermasalah. Solusinya adalah harus mengganti hardisk baru. Namun berhubung pengadaan barang akan memakan waktu beberapa hari hingga minggu sementara menggunakan laptop pengganti. Fujitsu juga, tapi 14 inchi masih dengan proses intel i5 dan berat tambahan 500 gram.

Pelajaran pentingnya adalah tak selamanya masalah computing ada di software. Secanggih apa pun software jika hardwarenya rusak maka tidak akan ada yang jalan.

Miracle in The Airport Immigration

Miracle exists. Either big or small, it will make we feel that God is always close to us. And the small miracle but so significant happen this morning.

Aku bangun dari lelap sejenak ketika pesawat agak bergoncang. Aku lihat keluar jendela awan sangat pekat hingga hampir tak nampak selain dirinya. Air pun memercik halus di  luar jendela. Nampaknya hujan sangat deras di luar sana  Sejenak pelan berharap bodoh, semoga pesawat tak tergelincir saat turun nanti. Lelah sekali rasanya tubuh ini. Sangat lelah. Namun inilah hidup. Jika tak mau lelah silakan saja akhiri hidup saat ini juga.

Perlahan pesawat pun mulai merendah di Changi.

***

Sabtu pagi, aku dan istriku mencari bahan pakaian untuk resepsi pernikahan di pasar baru. Bagi yang kenal Jakarta, pasar baru adalah tempat belanja yang sudah terkenal sejak dulu di mana kita bisa menemukan kain, sepatu dan pakaian. Uniknya tempat ini adalah nuansanya yang terasa klasik dengan gedung-gedung tua dan toko-tokonya yang bahkan beberapa diantaranya sudah berdiri puluhan tahun dan menjadi saksi bisu sejarah kota Jakarta.

Setelah menemukan bahan pakaian, kami pun menyempatkan mencari setelan jas yang akan aku pakai. Dari tempat belanja tersebut kami langsung meluncur ke rumahku. Aku ngebut melewati tol yang cukup lengang di hari libur itu. Obrolan hangat mewarnai sepanjang jalan yang kami lalui. Pada siang tersebut keluarga istriku akan mengunjungi rumah orang tua aku untuk bersilaturahmi.

Tak sampai 2 jam kami pun tiba di rumah orang tuaku. Rumah sudah sangat ramai dengan saudara-saudara aku yang sudah datang dan juga keluarga istri aku. Langsung saja aku beramah tamah. Sejenak aku dan istriku diledek halus karena terlambat datang padahal ini adalah acara kami. Jika boleh beralasan terlambatnya kami pun ada dasarnya. Aku baru tiba dari Singapura Jumat tengah malam. Sabtu pagi hingga sore aku mengikuti IELTS test saat di waktu yang sama istriku tengah les bahasa Jerman untuk mengejar sertifikat A1.

Sabtu malam sebelumnya, kami bermotor sambil bergerimis ria ke Pasar Baru untuk mencari bahan baju resepsi. Namun karena menunggu hujan saat sampai pasar baru semua toko sudah tutup. Akhirnya kami pun harus kembali lagi mencari bahan pakain minggu pagi ini. Sehingga kami baru sampai rumah orang tuaku minggu siang.

Sekitar sore keluarga istri aku pamit pulang. Tak lama setelah itu pun keluarga aku yang lain turut pamit pulang. Jadi tinggalah aku, istri aku, ayah, ibu, adik-adikku dan nenek kakek yang ada di rumah. Minggu malam itu aku menyempatkan berkeliling motor dengan istriku menikmati waktu berkualitas kami yang rasanya mahal sekali.

Hal yang tidak mudah untuk berumah tangga jarak jauh. Hanya seminggu setelah akad aku harus berangkat ke Singapura. Syukur ingin selalu kupanjatkan kepada Yang Kuasa. Apalagi keputusan untuk pergi pun sudah aku pikirkan dengan masak-masak dan aku diskusikan dengan intensif dengan istri aku.

Bukan hanya itu, sekitar 3 bulan ke depan nanti, istriku pun harus berangkat ke Jerman untuk melanjutkan studinya. Berat sekali rasanya harus hidup dengan jarak yang lebih berjauhan lagi. Namun aku justru berharap dengan ujian kecil hidup berjauhan di awal-awal tahun pernikahan kami semoga akan menjadikan ikatan hati antara kami menjadi sangat erat tak akan terenggangkan sedikitpun selamanya. Aku selalu ingin menjadi insan yang bersyukur. Aku selalu ingin menjadi individu yang percaya bahwa jalan hidup yang kita lalui adalah kombinasi ketetapan terbaik dari Tuhan untuk hambanya dan ikhtiar yang dilakukan hambaNya tersebut. Aku juga ingin membuktikan bahwa aku akan melakukan apa pun demi orang yang aku sayangi. Sementara itu dengan berbagai cara aku terus ingin berusaha mendaftar beasiswa-beasiswa dengan tujuan Eropa. Paling tidak meski tidak tinggal satu atap, sekurangnya aku ingin ada di satu benua dengan istriku.

Sekitar minggu jam 9 malam aku berpamitan dengan orang tuaku. Aku akan menginap di rumah kontrakan istriku malam itu. Senin pagi aku harus terbang awal sekali, tak mungkin berangkat dari rumah orang tuaku. Sambil jalan karena kebetulan membawa mobil, aku mengantar kedua adikku ke tempat kos mereka. Baru lanjut ke rumah istriku.

Sesampai rumah istriku kami pun ngobrol-ngobrol sejenak sambil makan malam. Entah sudah yang keberapa kali aku makan hari itu. Sebelum terlanjur semakin larut aku pun pamit sejenak pada istri dan mertuaku untuk mengembalikan mobil.

Tak perlu waktu terlalu lama di jalanan Jakarta yang lengang di tengah malam untuk menempuh jarak yang tak dekat sekalipun. Tak sampai 1 jam aku pun sudah tiba di tempat empu si mobil. Setelah menyerahkan kunci aku pun langsung kembali pulang menggunakan motor istriku yang kemarin ditukar titip dengan mobil.

Angin Malam Jakarta yang pekat perlahan menembus jaket yang aku pakai. Sudah lebih jam 12 malam. Aku tidak berani terlalu ngebut karena entah mengapa rasanya aneh ngebut memakai motor bebek. Beberapa kali istriku SMS menanyakan sudah sampai di mana. Beberapa kali pula aku menghentikan motor untuk membalas SMS dari wanita terpenting bagi hidupku itu.

Akhirnya tak lama aku pun tiba di rumah istriku Senin dini hari hampir pukul 1. Meski sangat mengantuk nampak ia berusaha berpura-pura segar menyambutku. Terlihat pula koper untuk aku bawa nanti subuh sudah rapi. Ibu mertuaku dan adik iparku nampak sudah tidur. Aku pun mengobrol sebentar dengan istriku. Karena kesibukan kami beberapa hari ini ia sampai silap akan salah tugas penting untuk kantornya. Jadi pada malam itu ia mengebut berusaha menyelesaikan tugas tersebut. Jam semakin bergerak maju. Tinggal beberapa jam sebelum penerbanganku. Akhirnya aku putuskan untuk tidur. Saat hendak menset alarm di hp, istriku mencegah dengan lembut. Maksudnya biar ia yang akan membangunkanku. Setelah itu aku pun tak tersadar. Yang sedikit tergambar adalah ketika istriku memelukku dengan lembut dalam tidurku ketika ia telah menyelesaikan tugas kantornya yang harus diserahkan nanti pagi.

***

Aku terbangun kaget ketika mendengar pintu digedor-gedor dengan sangat keras. Ibu mertuaku bangun dengan sama kagetnya. Ibu mertuaku langsung mengecek keluar rumah, ternyata supir taksi pesanan yang akan mengantarku ke airport. Istriku pun terbangun dengan masih setengah sadar. Aku langsung melihat jam. Pukul 4 pagi! Saat melihat jam istriku tampak sama kagetnya dan terlihat paras merasa bersalah di wajahnya. Aku seharusnya sudah berangkat maksimal pukul 3.30. Aku langsung segera ke kamar mandi. Cuci muka dan berganti baju dengan sangat terburu-buru. Pesawat terbang pukul 5.40. Batas checkin adalah pukul 5.00. Perjalanan ke bandara setidaknya 60 menit. Dan sekarang pukul 4.00.

Dengan kalang kabut aku keluar kamar mandi. Mertuaku membuatkan teh dan mie goreng. Sambil terburu-buru menyiapkan apa yang harus disiapkan aku disuapi oleh istriku. Tak henti paras merasa bersalah itu nampak di wajah istriku. Dalam kondisi ini tak sedikit pun dan tak tersirat sekecil apa pun aku hendak menyalahkannya. Semuanya kelelahan.

Pukul 4.10 sambil memakai sepatu dan menggendong tas tak henti istriku meminta maaf pelan. Aku justru merasa sangat sedih, dengan keterburu-buruan ini aku tak bisa berpisah dengan waktu yang cukup. Memeluknya dengan lama, mengecup kening dan pipinya yang lembut. Akhirnya aku pun berpamitan pertama dengan mertuaku lalu dengan istriku. Perlahan aku merasa mataku sangat berkaca-kaca melihat paras istriku yang sangat hangat dengan wajah kekanak-kanakannya yang selalu nyaman ditatap.

Saat aku menarik koper meninggalkan rumah kepalanya masih melongok dari balik tembok menatap aku pergi perlahan. Menjelang masuk taksi masuk taksi aku pun menengok sekali lagi dan memberi lambain tangan lembut.

04.15 taksi pun berangkat. Baru sekitar 1 menit jalan istriku menelepon. Ia dengan menanyakan apakah parfumku sengaja ditinggal atau memang tertinggal. Lalu aku jawab bahwa aku sengaja meninggalkannya untuk aku pakai saat pulang ke Jakarta.

Degup jantung aku bergerak cepat sekali. Tertinggal pesawat mungkin hal yang biasa bagi orang lain. Namun bagiku itu seharusnya menjadi kelalaian yang bisa diantisipasi. Membeli tiket untuk penerbangan selanjutnya jika aku terlambat bukan pilihan yang terlalu menyenangkan.

Taksi bergerak cukup cepat namun hati-hati. Aku sudah mengingatkan kepada supir bahwa aku terlambat. Nampaknya ia sudah paham itu. Aku baru berangkat pukut 4.15 saat seharusnya aku berangkat pukul 3.30. Kepanikan aku yang lain pada waktu itu adalah aku tidak memegang uang tunai untuk membayar airport tax. Artinya aku butuh ekstra waktu ke ATM sebelum ke counter checkin.

Pukul 5.00 tepat aku sampai di airport. Setelah koper diturunkan aku langsung pontang-panting masuk ke terminal. Aku langsung menyelip ke depan konter checkin dan bertanya apakah bisa membayar airport tax menggunakan kartu debit. Saat mereka bilang tidak, seakan itu adalah pistol penanda lomba balap lari yang membuat aku berlari segera sambil menggeret koper ke ATM. Dengan terengah-engah akhirnya aku kembali ke kounter checkin setelah naik turun ke ATM di lantai 1. Pukul 5.10 aku mulai mengantri dengan beberapa orang di depanku. Pukul 5.15 akhirnya aku sudah di depan kounter. Saat melihat form web checkinku nampak petugas langsung menatapku iba. “Mas berhubung mas sudah web checkin, kami tak berhak menolak mas. Namun sekarang boarding gate sudah mau ditutup. Jadi sekarang tergantung mas bisa seberapa cepat sampai ke sana.” Petugas itu berkata. Aku tak banyak menyahut sambil menerima kartu imigrasi dan paspor.

Aku langsung berlari ke imigrasi. Saat sampai di sana aku hampir terkulai lemas melihat antriannya yang sangat panjang. Ada 2 loket yang dibuka. Pada setiap loket setidaknya ada 20 orang yang mengantri. Intuisi matematisku menghitung. Dengan rata-rata proses pengecekan paspor dan kartu imigrasi adalah 1 menit perorang. Akan membutuhkan waktu 20 menit hingga aku bisa lewat antrian imigrasi ini. Saat itu pukul 5.20.

Perlahan aku ingat pesan istri aku. “Zikir terus ya sayang.” Ucapnya lembut. Dia selalu mengingatkan aku untuk berzikir. Terutama dalam kondisi sulit. Pelan-pelan aku pun mulai merasa pasrah. Jika memang hak aku untuk naik ke pesawat itu, pasti aku akan naik dengan cara apa pun. Namun jika memang pesawat ini bukan rejekiku, aku akan pasrah setidaknya aku sudah berusaha sampai di sini. Tak ada kejadian yang luput dari ketetapan Allah. Barangkali termasuk pagi ini juga.

Meski masih merasa panik aku sedikit lebih tenang. Sambil mengantri aku mengisi kartu imigrasi. Di antrian yang panjang itu nampak beberapa petugas imigrasi dan bandara yang mondar-mandir. Tiba-tiba seseorang mendekati aku.

“Singapur ya mas?” Tanyanya.

Aku jawab pelan “Iya.”

“Hmm. Ga akan keburu kayaknya mas.” Jawabnya lagi dengan wajah dan ekspresi agak melecehkan. Tapi aku tak peduli sambil terus melengkapi kartu imigrasi. Pria tadi pun akhirnya melengos pergi ke depan.

Antrian berjalan pelan sekali. Kini aku merasa sudah tak menaruh harapan pada penerbangan ini. Dari jauh, aku melihat pria tadi berjalan ke arah aku lagi. Melihat dari seragamnya ia adalah petugas bandara. Ia kemudian mendekatiku pelan. “Mau dibantu mas?” Bisiknya.

Agak kaget, senang dan bingung. Kata-kata itu adalah bahasa kode yang jamak. “Berapa?” Balas aku bisik.

“Cepek aja.” Bisiknya lagi mengatakan ingin minta 100 ribu.

Aku angguk pelan sambil bersyukur sekali masih sisa uang tepat 100 ribu dikantungku.  Aku langsung mengambil uang di kantung dan memberikan kepadanya. Dia langsung terlihat panik. “Jangan kelihatan mas! Saya bisa dipecat!” Bisiknya lagi tapi agak berteriak.

“Sory.” Balas aku lagi berbisik.

“Ya udah ikut saya.” Ajaknya sambil mengambil uang dari aku dengan lihai. Entah kode apa yang dia berikan ke petugas imigrasi.

Pukul 5.25. Aku langsung menerobos antrian. Di depan konter imigrasi aku disuruh menunggu. Si pria tadi masuk semacam ruangan kepala imigrasi. Aku berdiri diam sambil merasa tidak percaya. Kurang dari 2 menit dia kembali lagi.

“Ayo mas lekas.” Ajaknya.

Aku mengikuti dia. Sekarang harus periksa X-Ray koper.

“Ini udah hampir terbang pak!” Teriak pria tadi pada petugas X-Ray, maksudnya agar aku bisa skip tak perlu diperiksa.

“Ga bisa mas. Ini prosedur.” Kata petugas yang lain membalas. Akhirnya aku mengalah. Padahal aku tahu betul di dalam koper ada cairan. Tadi seharusnya koper ini masuk bagasi. Tapi petugas checkin menolak karena pesawat sudah mau terbang. Benar saja si petugas meminta aku membuka koper. Dengan tergopoh-gopoh aku pun membukanya. Dengan terpaksa satu botol kecap dan saus yang dibelikan istriku harus turun. Sedih sekali rasanya.

Akhirnya setelah pemeriksaan selesai aku langsung tutup koper lagi. 5.30 aku berlari sekencang-kencangnya dengan pria yang membantu aku menerebos imigrasi. “Sini pak kopernya”. Pinta si pria tadi. Kini ia membawa koperku. Kami berlari seperti kesetanan.

“Mas mas satu lagi!”. Teriak si pria tadi kepada petugas boarding gate.

Kami terus berlari turun ke lantai satu dan keluar terminal. Dalam hati aku masih terus pasrah. Terus merasa jika memang hak pasti aku sampai. Jika tidak aku akan ikhlas. Saat keluar terminal kami masih terus berlari. Pagi yang dingin itu aku berpeluh luar biasa. Akhirnya nampak pesawat yang akan membawa aku pergi.

“Tunggu-tunggu satu lagi!” Si pria tadi berteriak kepada petugas yang sudah mau menutup pintu pesawat. “Oke pak sampai di sini saja. Selamat jalan.” Ucap si pria kepadaku sambil memberikan koperku. Aku masih berlari naik tangga pesawat. Tepat ketika aku masuk pintu pesawat pun ditutup.

Nampak orang-orang melihat aku heran. Aku berkeringat deras, jantung berdegup sangat cepat dan nafas terengah-engah. Setidaknya aku tadi berlari 200 meter. Aku tak peduli dengan tatapan mereka. Aku langsung menuju bangku aku. Meletakan koper di atas tempat koper. Aku duduk. Masih terengah-engah.

Pesawat pun perlahan berjalan. Pukul 5.40 tepat pesawat tinggal landas meninggalkan Jakarta. Baru kali ini aku merasa sangat ikhlas menyogok orang. Sambil tersenyum lelah, aku pun terlelap. Dengan bayangan kerinduan yang sangat besar pada istriku.

Singapore, 19 December 2011.

For my lovely wifey

Sick Leave Permission

Tak terasa waktu sudah berada di penghujung 2010. Cepat sekali sebab serasa baru saja Januari 2010 dijalani dan sekarang sudah Desember. Lalu apa hubungannya perwaktuan ini dengan judul post kali ini? Kali ini ingin membahas (baca: curhat) masalah persakitan.

Pada dasarnya saya adalah orang yg tidak mudah sakit. Tapi jika sekalinya sakit biasanya agak lama. Sepanjang 2010 saya ingat hanya 2 kali sakit keras. Pertama di akhir Januari dan kedua sekitar bulan Mei. Bahkan di akhir Januari untuk pertama kali saya merasakan near dead experience. Pada waktu itu saya demam sangat tinggi namun saya terpaksa masuk kantor untuk hand over pekerjaan. Di perjalanan pulang saya megap-megap setengah mampus sesak dengan temperatur badan yang sangat panas. Alhamdulillah Allah masih memberi saya kesempatan hidup. Perjalanan bus dan angkot 3 jam serasa berhari-hari. Ajaibnya saya sembuh dalam waktu dua hari saja tanpa ke dokter. Sabtu Minggu dan hari Senin saya sudah masuk ke tempat kerja baru. Beberapa minggu setelah itu saya menjadi orang yang cukup religius. Sholat sangat khusu dan sangat rajin ngaji. Tapi beberapa Minggu selanjutnya reset to default. Dasar manusia.

Sakit parah kedua adalah batuk-batuk. Sempat ijin kerja dua hari dan berobat ke Rumah Sakit Medistra dengan total biaya 1 juta lebih. Namun hasilnya nihil. Justru pada akhirnya saya malah sembuh setelah diberikan air obat dari guru ngaji mama saya. Memang betul sih yang namanya sakit dan sehat kan ketetapan Yang Di Atas. Jadi suka-suka Yang Di Atas mau kasih sembuh atau tidak.

Tanpa diharap dan diminta sebelum tutup buku 2010 Jon drop lagi. Sebenarnya ga ngerti jg kenapa sebabnya. Jumat Sabtu kemarin memang sempat keluyuran pulang malam. Jumat jalan-jalan ke Pasar Baru, trus ke Kota Tua dan baliknya mampir dulu ke Atrium Senen. Pulang sampe rumah 23.30. Sabtu cuma jalan-jalan ke Cibubur Junction. Tapi berhubung baru jalan sore pulang sampe rumah 23.30 juga. Minggu dini hari mulailah body merasa tak enak sebab temperatur badan ternyata meningkat. Minggu pagi badan sudah merasa ga enak tapi masih pura-pura sehat, sebab kalau saja ketauab sakit nyokap pasti akan nyerocos masalah hoby saya yang suka kelayapan sampai malam. Namun pura-puranya ga bisa lama sebab ga kuat. Akhirnya tumbanglah saya hingga 4 hari.

Berhubung anak kantoran, bukan anak konglomerat, jika sakit harus ijin saat tidak bisa masuk kantor. Subjectnya Sick Leave Permission. Ga enak juga dengan anak-anak lain. Sebab pasti banyak tugas yang terbengkalai.

Moral of the story so far adalah, pertama jadi orang harus banyak bersyukur. Banyak nikmat pada diri manusia yang baru disadari ketika nikmat itu dicabut. Yang paling nyata ya kesehatan. Kedua mencegah lebih baik dari mengobati. Jaga makanan dan banyak-banyak minum vitamin serta kurangi lembur (my fav :)). Juga kurangi ngelayap malam-malam yang ga perlu apalagi kalau harus motor-motoran. Memang susah sih soalnya bawaan anak muda yang malas kalau diam ga kemana-mana. Untuk masalah ini bisa dikompensasi mungkin dengan jual motor dan dijadiin down payment mobil cicilan 5 tahun. Nissan March mungkin? :p That’s all dulu lah.

Domain Baru lamida.net

Seminggu kemarin baru saja membeli domain baru di lamida.net. Tadinya domain itu mau dipakai untuk blog ini. Namun setelah dipikir-pikir akhirnya justru di pasang di blogger, sekali mencicipi fitur-fitur blogger. Rencananya, blog ini nanti akan dihijrah ke self hosting, agar lebih bisa bebas berekspresi. Hosting di wordpress meski gratis tapi terlalu banyak batasannya.Jangan lupa kunjungi lamida.net, konten spesifiknya masih belum terpikir seperti apa. Tapi sepertinya akan menjadi semacam self professional portfolio. Jadi orang-orang dari linkedin atau employer dari jobsdb bisa melihat-lihat. Jangan lupa berkunjung juga ya.

Cita-cita

Dear blog. Sejauh yang saya ingat, saya tak pernah bercita-cita secara khusus jadi programmer. Saat SD yang saya cukup ingat ada 2 cita-cita saya. Jadi astronot atau jadi tukang ojek. Cita-cita pertama terinspirasi dari buku-buku astronomi bergambar yang sering saya baca sewaktu saya menumpang tinggal dengan Paktuo dan Maktuo saya. Saya lihat daftar misi-misi ruang angkasa Amerika Serikat dan Uni Soviet. Gambar-gambar roket ruang angkasa, satelit-satelit buatan hingga Pesawat Ulang Alik milik NASA. Dari gambar Yuri Gagarin saat menjadi manusia pertama yang keluar orbit (padahal Rasulullah Muhammad sudah pergi ke langit ke 7 saat Isra Mi’raj berabad sebelumnya) hingga foto misi pendaratan Apolo XI yang “katanya” sudah sampai ke bulan. Akhirnya berikrarlah saya untuk bercita-cita sebagai astronot. Cita-cita kedua tentunya tidak serius, hanya bagian canda dari jelek-jelekan cita-cita dengan teman-teman SD lain.

Salah satu kawan saya berikrar secara canda ingin menjadi supir taksi. Maka saya pun berpikir menjadi tukang ojek menarik juga. Tapi sekali lagi tak ada yang salah dengan antara supir taksi dan tukang ojek dan tidak ada diskreditisasi di sini. Maka waktu pun berselang. Realitas mengatakan menjadi astronot bukan sesuatu yang masuk akal untuk dicapai. Sejak SMP saya mulai jatuh cinta dengan eksakta berkat inspirasi dari guru-guru hebat saya pada waktu itu. Saat SMA mulai berkenalan dengan komputer. Pada waktu itu saya mulai belajar Pascal secara tekstual. Sebab saya tidak pernah membuka komputer saat belajar, hanya membaca buku. Akhirnya saya berpikir komputer adalah sesuatu yang menarik. Lepas SMA nasib menarik saya untuk masuk kuliah di jurusan teknik elektro. Sebenarnya bukan teknik elektro murni, namun pendidikan teknik elektro. Artinya ketika lulus saya harusnya menjadi guru di STM. Tapi selama kuliah pun tetap minat saya terus ada di komputer dan pemrograman. Menginstruksikan komputer untuk melakukan apa yang saya mau. Saya pun jatuh cinta pada pandangan pertama pada bahasa bernama C. Sampai detik ini saya masih belum terlalu dengan intim dengannya, namun selalu ingin bisa mengenalnya lebih jauh. Sebab di tengah jalan saya berselingkuh dengan adik kedua C setelah C++ yang bernama Java. Akhirnya saya benar-benar intim dengannya hingga detik ini.Meski masih butuh waktu untuk dapat memahaminya secara utuh karena Java terus berubah dan bertambah. Akhirnya sejak masa kuliah saya pun berikrar akan menjadi orang yang bekerja di seputar komputer. Bukan tukang ketik tentunya tapi kuli koding. Seharian penuh pagi sore bahkan pagi malam di depan komputer. Kerja secara kasual tanpa perlu dandanan yang terlalu formal. Mondar-mandir dengan backpack besar celana jeans agak belel, kemeja seperlunya dengan transportasi motor cowok yang terkadang harus rela kebasahan saat hujan dan kepanasan saat kemarau. Itulah ikrar cita-cita saya pada saat kuliah. Kini pun itu semua telah tercapai.

Setelah ikrar itu sebenarnya ada ikrar lain yang pernah terbesit di hati. Masih berkaitan dengan komputer. Meski untuk sekarang saya cukup menikmati menjadi kuli koding. Namun untuk ke depan saya lebih tertarik untuk menjadi computer scientist. Kuliah lagi, melakukan penelitian, tetap kasual, menikmati hidup dan mensyukuri hidup. Namun entahlah, saat saya berpijak di masa kini, agak terlalu takut untuk mendesain terlalu detail masa yang belum datang. Trauma orang-orang gagal. Padahal jika ditelisik tak penah ada mimpi dan cita-cita yang pernah saya ikrarkan yang tidak tercapai. Yang ada adalah mimpi dan cita-cita yang belum tercapai. Semuanya pasti bisa hanya masalah waktu dan kemauan keras diri kita sendiri.

Dot dot dot …

Dear day. Sudah hampir dua bulan tidak menulis post baru. Banyak hal yang berubah dan banyak hal yang stagnan. Hal-hal yang berubah ada di luar sana dan yang ada di sini (gw) hampir semua stagnan. Pola hidup semakin kacau. Kedisiplinan sudah tidak ada lagi. Tidak teratur, acak-acakan, berantakan dan kacau balau. Ya itulah saya sekarang. Harus benar-benar memaksa untuk melakukan revolusi diri.

Curhat pertama, kerjaan di kantor semakin tidak beraturan. Mungkin karena saya sudah berada di titik jenuh. Saya pun semakin merasa yakin untuk mencoba melirik pekerjaan baru dengan serius. Curhat kedua, saya mulai keranjingan main video game lagi. Namun, berhubung tidak punya desktop pc atau laptop canggih juga belum terpikir membeli konsol terbaru, saya pun cukup merasa terhibur bermain game di emulator-emulator yang sangat mewabah saat ini. Dengan berbekal stik usb, bandwidt secukupnya untuk mencari rom-rom bagus, hiburan murah meriah pun langsung hadir di laptop. Mulai dari main super mario bros nintendo, main sonic sega, main yoshi island punya snes, main resident evil di playstation, main super smash brosh di nintendo 64, main final fantasy X di ps2, main 18 wheelers driver di dreamcast, main luigi mansion di gamecube, main suikoden tierkries di NDS, main castlevania ario of sorrow di GBA. Silakan tambah sendiri daftarnya. Hal menarik lain, selain bermain di emulator pc menggunakan stik usb, emulator sega, nintendo, snes dan gba pun bisa dimainkan di S60 device. Di handphone. Ya mencoba untuk menghibur diri di tengah kesuntukan yang teramat parah. Jika ada waktu saya benar-benar mengulas masalah emulasi-emulasi ini. Percayalah mereka sangat menyenangkan.

Ok that’s al for now, from nowhere, Jon is reporting. :p