Jon Flashpack to Bali – Part 1: Latar Belakang and Take Off

Latar Belakang
Jiah kayak paper aja segala kudu pake latar belakang. Okelah begini ceritanya. Berhubung saya katrok, sejak lahir saya belum pernah sekali pun menginjakan kaki di destinasi wisata paling terpopuler di Indonesia ini. Namun, meskipun katrok (I’ve mentioned twice) saya adalah individu yang cinta perubahan sehingga ingin melepaskan diri dari kekatrokan tersebut. Maka dari itu sejak jauh-jauh hari saya bertekad untuk bisa traveling ke Bali. Buat orang lain, pergi ke Bali mubgkin gampang dan terjangkau. Namun tidak bagi saya si pria biasa ini (halah). Saat ada uang eh saya tak ada waktu. Saat ada waktu justru uangnya yang tak ada. Malahan terkadang uang tak ada waktu jg tak ada. :p

Sejak awal tahun 2011, saya sudah memantek tanggal-tanggal merah sepanjang tahun. Setelah menimbang dan memikirkan (halah kayak mau bikin RUU), saya memutuskan mengambil rentang tanggal 24-29 Juni 2011 untuk alokasi trip ke Bali. Kebetulan 29 Juni adalah public holiday, sehingga saya cukup mengambil cuti 2 hari saja pada Senin 27 dan Selasa 28 Juni dan mendapat total waktu 5 hari 5 malam untuk liburan. Pada awalnya saya sempat berpikir menyapu habis liburan hingga 8 atau 9 hari sekaligus berangkat ke Lombok. Namun keterbatasan alokasi dana membuat saya urung mewujudkan rencana ini. Lagi pula saya ingin trip santai dengan fokus mengunjungi satu destinasi dari pada terlalu banyak destinasi namun jadi serba terburu-buru. Ok Lombok I will visit you soon.

What is Flashpack

Menurut wikipedia, flashpack adalah mode traveling yang tidak seirit backpacking. Artinya saat orang backpacking ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk menekan cost yang akan keluar. Misalnya dengan memilih hotel yang lebih murah, berpergian dengan jalan kaki dan makan-makanan seirit mungkin. Di sisi lain flashpacking adalah aktivitas traveling yang tak masalah untuk mengeluarkan budget sedikit lebih besar demi kenyamanan perjalanan. Kemudian flashpacker juga sangat memanfaatkan teknologi. Misalnya menggunakan GPS sepanjang perjalanan, membawa kamera DSLR atau bahkan laptop sekaligus. Dari kriteria-kriteria tersebut nampaknya traveling saya kali ini lebih cenderung menggunakan mode flashpack daripada backpack.

Preparationg
Sekitar 2 bulan sebelum hari H saya sudah rajin berburu tiket murah. Namun semurah-murahnya yang didapat tetap tak terlalu murah juga. Saya dapat AirAsia dengan total harga pulang pergi Jakarta – Denpasar 1.125.00 sekian. Usai hunting tiket berikutnya adalah hunting hotel. Berhubung pengiritan sempet berpikir bawa tenda. Namun untung aja pikiran tersebut tak serius. Awalnya sayah ingin mencoba penginapan-penginapan di area poppies lane. Namun setelah dipikir-pikir lagi ingin cari aman akhirnya saya pilih Tune Hotels sajah. Pertimbangannya adalah harganya tak mahal-mahal amat meski pun tak murah-murah amat jg. Yang terpenting Tune Hotels bisa bayar pake kartu kredit. Jadinya bisa ngutang sebulan. Kemarin dapat total 950.000 sekian untuk menginap 5 malam.

Take Off
imageOkelah pada akhirnya semua hal terpenting sudah siap. Jadi sore tadi jam 5 tenk saya ngacir dari kantor karena mendapat flight jam 8 malam ini. Sejak siang saya sudah melakukan web checkin dan print boarding pass dan booking confirmation hotel. Masalah pun harus dipikirkan saat mau chiaouu dari kantor. Hari Jumat jam pulang.kantor pulak. Lalu lintas pasti sangat aduhai. Artinya keluar kantor Jam 5 kemudian harus checkin 45 menit sebelum take off di jam 7.45 adalah sangat mepet. Dengan tenggat waktu yang sempit tersebut opsi transportasi yang paling masuk akal hanyalah taksi. Saya ga suka taksi. Ya saya enjoy sih di dalam taksi. Ga sukanya saat harus membayar tarifnya. Namun apa daya naik Damri terlalu beresiko terlambat. Biarlah rejeki sang supir taksi.

Dari Sudirman sampai terminal 3 Soetta argo menunjukan nilai97.000 sekian. Dengan parkir dan tol totalnya menjadi 115.000 sekian. Hiks, jika dibelikan Shell Super untuk diminumkan ke si Merah nilai itu mungkin bisa menghantarkan saya sampai ke Garut. Haha.

imageTurun si saudaranya burung biru saya langsung masuk terminal. AirAsia sejak beberapa tahun terakhir menempati terminal 3 Soekarno Hatta. Terminal ini yang terbaru dibanding 2 terminal lama. Memang sih semenjak masuk terlihat lebih megah dan bersih. Cukup terasa nuansa Changi. Beda dengan nuansa Kampung Rambutan atau Pulo Gadung di terminal 1 dan 2. Okelah sekarang sudah 19.49 namun belum ada tanda kapan akan boarding. Yup low coat flight dan low consistencies. Dari Terminal 3 Bandara Soetta Jon melaporkan. :p

First Day Expense:

  • Flight PP Jakarta Denpasar: 1.125.000
  • Tune Hotel 5 malam: 950.000
  • Taksi Sudirman – Cengkareng: 115.000
  • Airport Tax: 40.000
  • Total: 2.230.000

Bersambung ke part 2.

Traveling Solo vs. Traveling Group

Maksud post ini bukan traveling ke Solo ya. Tapi membahas jalan-jalan sendirian or solitaire versus rame-rame. Please, sebelum lanjut baca jangan judge saya sebagai orang anti sosial. Beberapa travel besar saya terakhir memang sebagian besar sendirian. Tapi saya juga adalah orang sosial. I love making friends. I love talking, I love sharing, I love to be part of group, I love laughing together atau kalau bahasa temen-temen kampus dulu “gila-gilaan” bareng-bareng.

Seperti hal-hal lain ada kelebihan dan kekurangan dari 2 mode jalan-jalan ini. Traveling solo paling cocok dilakukan jika kita memang sedang membutuhkan momen untuk sendiri. Momen kontemplasi, sedang ingin merenung, evaluasi diri, mencari inspirasi, atau ingin break away sejenak dari rutinitas yang membosankan. Atau hal lain yang sering dijadikan pelarian untuk traveling sendirian adalah saat patah hati a.k.a the journey of the broken heart (I’ve done this, seriously). Hal yang paling enak dari jalan-jalan sendiri adalah bebas untuk menentukan destinasi, itinerary, masalah waktu dan semuanya. Totally free. Jalan-jalan sendiri kita tidak akan dipusingkan dengan perbedaan pendapat antara member perjalanan dalam memutuskan satu hal. Semuanya bebas terserah kita sendiri. Kekurangan dari traveling solo ini adalah masalah budgeting akomodasi dan transportasi yang mungkin akan lebih mahal karena tidak bisa patungan. Kecuali jika kita mau benar total adventure dengan nenda pinggir pantai atau tidur di mobil. Kekurangan kedua yang cukup terasa di era social networking dan sharing adalah berhubung jalan sendiri susah banget untuk bisa bikin dokumentasi foto dengan diri kita di dalamnya. Agak tengsin juga kalo terlalu sering minta fotoin ke orang. Apalagi karena saya adalah cowok, ga enak juga sudah penampilan cool dan keren tapi banci fotonya kentara banget. Salah satu cara menyiasatinya ya foto sendiri dengan pose yg mirip2. Karena terpaksa megang kamera/hp dengan satu tangan dan moto diri sendiri dengan angle yang serupa. Cara menyiasati kedua adalah bawa tripod dan foto-foto dengan timer. Tapi tetap aja rasanya aneh.

Sekarang kita bahas masalah traveling group. Hal yang paling menyenangkan dari traveling group adalah budget yang bisa dibagi-bagi. Masalah akomodasi satu kamar bisa patungan beberapa orang. Jika sewa mobil bisa dibagi-bagi juga, demikian juga dengan bensin. Masalah foto-foto sudah tidak ada problem lagi karena dari serombongan orang-orang tersebut paling tidak ada satu tumbal yang bisa dikorbankan menjadi seksi dokumentasi. Masalah sulit dari traveling bareng-bareng adalah terlalu banyak kepala terlalu banyak kemauan. Tidak sebebas jika sendiri. Misalnya saat kita masih asik di satu spot, bisa jadi member lain sudah kebosanan dan ingin rolling ke tempat berikutnya. Jika travelling yang mengharuskan jalan kaki dari satu spot ke spot lainnya speed kita akan sangat tergantung dari member-member lain. Jika yang lain hanya bisa jalan leyeh-leyeh sementara kita speed walker ya berat juga, pasti gregetan dan tak sabaran.

Pada dasarnya setiap mode traveling ada kelebihan dan kekurangannya baik solo mau pun grup. Tentunya juga tiap mode tersebut disesuikan dengan momen yang sedang terjadi atau yang tengah kita cari. Jika ingin kontemplasi ya jangan pergi rombongan. Namun jika ingin haha hihi juga jangan pergi sendirian. Bisa gawat jika kita haha hihi sendirian di satu spot jalan-jalan. Insya Allah bisa langsung diciduk pengurus rumah sakit jiwa.

Happy jalan-jalan. 🙂