Zuhur di Frankfurt

Terkadang saya sering berpikir betapa mudahnya kita hidup di zaman ini. Sejak pertama kali ke luar negeri di tahun 2010 saat saya nyebrang ke Singapura saya tak pernah kesulitan menemukan arah perjalanan di tempat terasing sekalipun. Tentunya selama ada sinyal 3G atau setidaknya sinyal GPS. Perkembangan teknologi yang ada sekarang membuat kita mudah bernavigasi bahkan untuk tempat yang baru pertama kali kita datangi. Terima kasih banyak untuk google maps dan open street maps untuk kemudahan yang diberikan. Tak lupa ada sedikit efek jelek kecanggihan yang membuat kita semakin kurang berinteraksi dengan orang lain. Lebih mudah mengetikan query di search box dari pada menghampiri orang dan terbata-bata bertanya dengan bahasa yang asing.

Hallo Emirates!

Setelah sekitar total 16 jam penerbangan saya kembali mendarat di Eropa, kali ini di Frankfurt. Ini adalah benua yang menjadi tujuan impian tertunda saya untuk bersekolah. Setidaknya mimpi tersebut sudah dicapai terlebih dahulu oleh istri saya, salah seorang gadis terbrilian yang pernah saya kenal. Setiap tempat punya kelebihan dan kekurangan demikian juga tak ada perbandingan yang seimbang antara Asia dan Eropa, Indonesia atau Singapura dengan Jerman atau dengan negara lainnya. Dari dulu saya selalu percaya bahwa betapa tak beruntung bagi orang yang tak pernah keluar kampung halamannya. Barangkali hasrat untuk menjelajah mengunjungi tempat-tempat baru datang dari separuh darah Padang yang mengalir di tubuh saya. Orang Padang memang punya hasrat merantau yang sangat kuat. Seperti yang dituliskan di novel tenggelamnya kapal Van der Wijk. Bahkan ada seloroh, kelak jika ada rumah makan di bulan, yang pertama dibuka pasti adalah restoran Padang.

Kembali ke Frankfurt. Setelah keluar pesawat, dingin langsung cukup menusuk menembus dinding garbarata jembatan pesawat. Namun bukan sesuatu yang asing, sebab beberapa bulan lalu di Schipol pun kira-kira sama seperti ini. Masuk ruangan terminal, bandara tersibuk ketiga di Eropa setelah London Heathrow dan Paris Charles de Gaulle Airport ini pun terasa biasa saja untuk saya yang terlalu sering dimanja nyaman dan megahnya Changi. Menurut wikitravel, maskapai selain Luftansha milik Jerman dan maskapai Star allliance akan mendarat di terminal 2 Frankfurt. Artinya, saya yang naik Emirates ada di terminal 2 saat itu. Setelah bertanya ke petugas informasi, kereta ke pusat kota ada di terminal 1. Terminal 1 bisa dicapai di Terminal 2 dengan shuttle bus gratis dengan waktu sekitar 13 menit. Di terminal 1 saya langsung mencari sim card hp. Setelah bertanya lagi mendapatkan satu toko dan ditawarkan sim card lebara seharga 40 Euro dengan balance 20 Euro dan mendapat bonus data 1 GB. Saya tak tahu apakah harga tersebut harga yang wajar namun akhirnya tetap saya bayar.

Frankfurt Shuttle Airport

Setelah kembali bertanya lagi, stasiun kereta menuju pusat kota ada di basement 1 airport. Harga tiketnya 4.35 Euro bisa dibeli di mesin atau di konter tiket. Lama perjalanan sekitar 15 menit melalui 3 stasiun. Stasiun utama di Frankfurt adalah Frankfurt Hauptbahnhof di mana istri saya menunggu. Berhubung masih deso, dengan sok gaya saya mengatakan ke petugas tiket “I would like to go to Hauptbahnhof”. Yang langsung dibalas dengan pertanyaan “Which Hauptbahnhof?”. Saya baru ngeh belakangan Hauptbahnhof itu artinya adalah Central Station. Di seluruh Jerman ada banyak Central Station. Jadi seharusnya saya berkata lebih spesifik Frankfurt Hauptbahnhof. Pengalaman ini membuat saya ingat cerita istri saya. Satu waktu ada pejabat Indonesia yang terlambat meeting dengan satu lembaga di Jerman. Tentu saja perwakilan Indonesia merasa malu dengan ketidaktepatan waktu pejabat tersebut dan berusaha menghubungi sang pejabat menanyakan di mana posisinya sekarang. Sang pejabat yang tak bisa berbahasa Jerman pun membalas, mungkin setelah celingukan melihat papan nama jalan di sekitar dia, “Sudah di jalan Strasse”. Padahal strasse bukan nama jalan, strasse adalah bahasa Jerman untuk street.

Kembali ke stasiun kereta di Frankfurt airport. Setelah membeli tiket dan bertanya platform kereta yang mana, saya langsung turun ke stasiun kereta. Saya lupa apakah naik S-Bahn atau U-Bahn namun saya langsung masuk kereta pertama yang datang, sebab sebelumnya sang petugas bilang saya bisa naik kereta apa saja di platform tersebut. Tiga belas menit berselang langsung sampai di Frankfurt Hauptbahnhof. Langsung turun dan membeli segelas Nescaffe Capucino di vending machine. Kebanyakan orang Eropa menenteng kopi di kereta dan terlihat keren. :D. Setelahnya saya langsung menelepon istri saya dan memintanya menunggu di tangga dari platform seratus sekian tempat saya turun kereta tadi. Langsung naik eskalator dan bidadari saya tersebut sudah menunggu di atas tangga dengan jaket tebal dan sepatu bootnya. Kangen sekali rasanya setelah 4 bulanan tidak bertemu. Langsung saya peluk seperti di film-film itu.

Opposite of Frankfurt Hauptbahnhof

Dari stasiun kereta kami langsung ke hotel yang berada selemparan batu. Kami meamang berencana menginap semalam di sini. Setelah checkin hotel, kemudian shalat kami langsung keluar hotel lagi untuk mencari makan siang. Frankfurt cukup mirip Amsterdam. Ada banyak imigran di sini. Saat baru saja keluar hotel ada seorang perempuan mudah yang tiba-tiba memaksa meminta uang. Kami hiraukan sambil berjalan cepat. Di sejauh mata memandang cukup banyak perempuan berkerudung, artinya cukup banyak orang muslim di sini. Namun sedihnya tak jarang banyak ibu-ibu tua yang juga berkerudung meminta-minta uang di perempatan jalan. Memperbaiki streotype Islam adalah tugas yang berat. Saya ingin sekali bisa menjadi agen muslim yang baik dan menunjukan bahwa Islam adalah agama yang penuh rahmat.

Römerberg

Siang itu istri saya mengajak makah siang di restoran Thailand. Halal demikian label yang tertempel di kaca restoran. Ternyata cukup banyak juga restoran halal di sini. Untuk makan di restoran setidaknya siapkan 10 Euro per orang. Bukan harga yang bersahabat memang namun demikianlah adanya di sini. Setelah makan siang kami langsung berjalan-jalan seputar kota. Infrastruktur transportasi publik di Franfurt adalah sangat komprehensif. Pilihannya ada bus, S-Bahn, U-Bahn dan tram. Untuk praktisnya jika kita berencana banyak naik turun angkutan umum sebaiknya membeli day ticket yang bisa dibeli di banyak mesin di stasiun atau di tram stop. Untuk tiket grup hingga 5 orang seharian harganya 10 Euro.

Gembok-gembok di Eiserner Steg

Di hari pertama di Frankfurt kami mengunjungi Römerberg, Eiserner Steg dan Hauptwache. Römerberg itu pusat kota tua Frankfurt di mana ada beberapa bangunan historis. Eiserner Steg itu jembatan pedestrian di Main river. Menariknya ada banyak gembok dipasang sepanjang jembatan bertuliskan nama-nama pasangan orang. Mungkin ada semacam mitos berkaitan dengan ini. Hauptwache adalah central hub Frankfurt. Ada banyak shopping center di sini. Berhubung sedang winter, matari sudah turun sekitar jam 5 sore. Sebelum pulang ke hotel istri saya mengajak mampir ke resto Thailand lagi untuk membeli nasi putih. Untuk makan rendang yang dibawakan ibu saya nanti malam katanya.

Hari kedua kami baru keluar hotel setelah jam 12 siang sekaligus checkout. Kami titip koper-koper besar di resepsionis. Tempat yang pertama kami cari adalah tempat shalat Zuhur. Di resepsionis kami bertemu dengan orang Saudi yang mengajak ngobrol. Dia mengucapkan salam ke kami mungkin setelah melihat istri saya yang berkerudung. Dia mengatakan ada tempat shalat di sebelah hotel. Namun kami lebih memilih untuk mencari masjid. Kami berpamitan dan mengucapkan salam yang juga ikut dibalas waalaikumsalam oleh resepsionis hotel seorang pria Jerman muda. Namun sebelum ke tempat shalat istri saya mengajak untuk makan siang ke satu restoran Thailand lain lagi.

Siang itu akhirnya kami shalat di Islamischer Marokkanischer Verein für Kultur und Kommunikation. Letaknya tak jauh dari Hauptwache. Dari luar gedungnya tak berbentuk seperti masjid. Tak ada kubah dan tak ada minaret. Tempat shalat ada di lantai 2 dalam ruangan yang sangat sederhana. Betapa beruntuk muslim di Indonesia yang bisa leluasa shalat di banyak masjid bagus ke mana pun kita pergi.

Di depan Alte Oper

Masjid Maroko

Setelah shalat kami kembali berkeliling kota. Naik turun S-Bahn dan U-Bahn. Foto-foto sebentar di Alte Oper dan kembali ke hotel untuk mengambil koper kemudian ke Hauptbanhof untuk menuju ke Ilmenau tempat istri saya kuliah.

Transit di Erfurt menuju Ilmenau

2 respons untuk ‘Zuhur di Frankfurt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s