Menulis dan Menemukan Diri

Melihat post lalu, agak terkejut ketika saya tersadar hampir setahun tidak menulis tulisan baru. Sebenarnya selain di blog ini saya juga terkadang menulis di blog lain. Namun kembali saya tersadar baik dari kuantitas dan kualitas, saya masih harus belajar banyak untuk menulis dengan baik.
Blog ini dimulai sudah cukup lama. Tahun 2007. Sebelum kehadiran blog, saya juga cukup rutin menulis jurnal. Entah pada kemana jurnal-jurnal tersebut sekarang. Sedari dulu saya senang menulis dan selalu bermimpi (bahkan hingga kini) untuk menjadi penulis.

Trend blog sebenarnya adalah sesuatu yang sangat baru. Di Indonesia salah satu trend early blogger yang cukup terkenal adalah Radithya Dika dengan curhat-curhat si Kambing Jantannya. Dia bahkan sudah menulis blog saat platform yang memungkinkan blogging dengan mudah belum muncul, sebelum ada wordpress atau blogger. Baru setelah munculnya wordpress dapat dikatakan blogging menjadi sesuatu yang lebih mudah dilakukan.

Sekarang kembali ke ide dari judul post ini. Kenapa harus menulis? Tanpa harus menunjukan referensi formal, menulis adalah sesuatu yang bermanfaat. Setiap hari dalam otak manusia terjadi ratusan atau mungkin ribuan pemikiran. Ide dan pemikiran itu datang dan pergi begitu saja. Menulis adalah salah satu aktivitas untuk bagaimana kita bisa fokus terhadap ide tertentu. Pada akhirnya dengan fokus tersebut kita akan lebih memahami diri sendiri dan juga apa yang kita coba tuliskan. Writing will help you to find yourself.
Dari segala penemuan teknologi dan eksplorasi yang dilakukan manusia, tetap bahwa salah satu misteri terbesar di alam semesta adalah manusia itu sendiri. Jadi bagaimana mungkin menulis bisa mencoba untuk memecahkan misteri itu? Bagaimana menulis bisa menjadi jalan untuk mengenali diri lebih baik lagi? Pertama menulis memaksa kita untuk fokus memproses satu ide. Seberapa banyak pun letupan neuron di kepala kita, menulis membuat kita harus memprosesnya secara sekuensial satu persatu. Dengan fokus ini kita tidak bisa terhindar dari kehilangann arah karena cepatnya otak melompat dari satu ide ke ide lainnya. Saking cepatnya lompatan tersebut bahkan sering membuat banyak ide yang brilian hilang begitu saja. Kedua menulis bisa membantu saat kita ingin melakukan branstorming dengan diri sendiri misalnya saat hendak mencari gagasan. Tentu saja bentuk tulisan tak harus sesuatu yang linear hanya berisi teks, bisa saja bentuk tulisan adalah midmap yang mencoba mendeskripsikan ide yang tengah kita oleh. Ketiga adalah yang terpenting bagi individu. Menulis adalah media kontemplasi yang bisa sangat efektif. Ketika ingin melakukan evaluasi diri, merenung, evaluasi masa lalu dan merancang target masa depan.

Namun menulis itu sulit. Menulis secara konsisten dari awal hingga usai jauh lebih susah lagi. Oleh karena itu muncul terminologi writers block yang menggambarkan kesulitan menulis bahkan terjadi pada professional sekalipun. Di sinilah perlunya kedisiplinan. Disiplin inilah yang akan membedakan antara yang sukses dan tidak sukses dalam menemukan dirinya. Saya sendiri pernah dalam beberapa masa berhasil memaksakan diri untuk disiplin. Misalnya komitmen untuk menulis surat cinta pada istri saya setiap hari serperti terinspirasi dari film The Notebook. Komitmen berjalan lancar di awal namun seret di tengah jalan. Namun setiap waktu saya selalu berusaha untuk bisa menjaga konsistensi itu lagi. Menulis buku adalah salah satu misi hidup penting yang masih belum tercapai hingga saat ini. Oleh karena itu , hingga detik ini saya masih dalam proses mencari diri saya dan membangun konsistensi yang lebih baik lagi dalam segala hal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s