Hari Tanpa Tembakau Sedunia


Enam tahun lalu saya pernah membuat tulisan yang bertema sama. Di hari ini di peringatan yang sama ada buah pikiran serupa yang meminta untuk dituliskan.

World-No-Tobacco-DaySalah satu hal yang saya kurang suka dari kondisi di Indonesia adalah dominasi perokok. Perokok  merokok dengan bebasnya di mana pun dia mau. Tak masalah jika ia merokok di area pribadinya. Namun bukan hal yang jarang perokok pun merokok di area publik sehingga merampas hak-hak orang. Contohnya di kendaraan umum, di restoran dan bahkan di mesjid.


Hingga hari ini belum ada bukti ilmiah yang membantah bahaya bahaya rokok. Dengan tingkat bahayanya yang tinggi, secara hukum Islam rokok adalah 100% mudarat. Artinya rokok sebenarnya bisa dikategorikan haram. Sayangnya mungkin ada beberapa pemuka-pemuka Islam sendiri yang juga perokok. Sehingga mengeluarkan fatwa rokok haram secara mutlak bukanlah pilihan. Sangat ironi, negeri dengan jumlah umat Islam terbanyak di dunia juga memiliki jumlah perokok di urutan ketiga dunia. Hanya di bawah China dan India.

Ada beberapa alasan “manfaat” rokok yang sering diungkapkan. Misalnya cukai rokok dianggap memberikan pemasukan tinggi bagi negara. Lalu produksi rokok adalah proses ekonomi yang melibatkan banyak orang mulai dari petani tembakau, buruh pabrik rokok hingga pedagang. Kurang lebihnya orang yang mengangkat alasan ini ingin mengatakan bahwa pada setiap batang rokok ada hajat hidup orang banyak.

Berikut bantahan dari alasan-alasan di atas. Untuk yang pertama masalah pemasukan dari cukai. Kementrian kesehatan sendiri telah mengeluarkan informasi yang cukup mengejutkan. Ternyata pemasukan negara dari cukai rokok jauh lebih kecil dari pada pengeluaran negara karena rokok. Artinya alasan ini sudah tidak valid lagi.

Mengenai rokok yang merupakan hajat hidup orang banyak juga adalah hal yang bisa disiasati. Pada tahap awal jika seandainya produksi rokok dihentikan orang yang menggantungkan ekonomi di sini pasti kelimpungan. Namun sebenarnya tinggal cari alternatif sumber ekonomi. Petani tembakau bisa mengganti pertaniannya dengan tumbuhan lain yang lebih bermanfaat. Buruh pabrik bisa bekerja saja pada jenis-jenis industri lain yang juga banyak. Pedagang dan distributor bisa berdagang barang-barang lain. Jika kembali lagi ke agama, dalam Islam diajarkan untuk mencari sumber mata pencaharian yang halal. Dalam masalah bahaya merokok artinya orang-orang yang terlibat dalam produksi rokok berarti membantu menyebarkan sesuatu yang kurang baik. Saya mencoba menghindari untuk memutuskan halal dan haram karena itu di luar kapasitas ilmu saya. Namun seharusnya pernyataan di atas dapat diterima logika. Saya juga sadar beberapa solusi alternatif dari ekonomi rokok di atas meski mudah diucapkan tentunya tak terlalu mudah untuk dieksekusi.

Selain bantahan mengenai “manfaat” rokok di atas saya juga ingin menawarkan beberapa solusi yang dalam jangka panjang semoga bisa menekan jumlah perokok. Pertama mulai dari keluarga. Sejak dini anak-anak harus ditekankan mengenai bahaya merokok. Tentu saja ini artinya orang tuanya pun dua-duanya tidak boleh ada yang perokok. Oleh karena itu untuk kebaikan di masa depan alangkah baiknya orang-orang bisa menambah kriteria tidak merokok dalam mencari pasangan. Sebab ini adalah salah satu cara untuk mencegah bertambahnya generasi perokok. Bayangkan saja, akan sangat sulit seorang ayah perokok untuk menegur anaknya yang masih kecil namun ketahuan sudah merokok karena pergaulannya.

Kedua, tambahkan intensitas kampanye anti merokok dan aturan atau undang-undang untuk membatasi pergerakan perokok. Solusi ini membutuhkan keterlibatan pemerintah. Eksekusinya misalnya iklan, selebaran tentang bahaya merokok termasuk gambar-gambar bahaya merokok di bungkus rokok sendiri. Tanda larangan merokok yang lebih besar dan mencolok di tempat-tempat umum termasuk kendaraan umum juga perlu ditambhakn. Sebab nampaknya tanda larangan merokok yang ada sekarang masih kurang besar bagi para perokok.

Dari sisi perundang-undangan sebenarnya sudah dirilis beberapa peraturan di beberapa kota yang melarang orang untuk merokok di gedung-gedung kantor. Misalnya Perda DKI Jakarta No. 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara yang mengancam denda sampai 50.000.000 rupiah untuk orang yang merokok di kawasan terlarang. Namun nampaknya dibutuhkan peraturan yang lebih kuat dari sekedar perda.

Hal lain yang bisa juga dilakukan adalah menaikkan harga rokok setinggi mungkin misalnya dengan menambah lagi nilai cukainya hingga harga rokok akan sangat mahal bagi kebanyakan orang. Sehingga pada akhirnya diharapkan orang akan berpikir berkali-kali untuk menjadi perokok.

Secara internasional ada sebuah perjanjian mengenai pembatasan peredaran tembakau di bawah konstitusi badan PBB WHO yang bernama WHO Framework Convention on Tobacco Control sejak tahun 2003. Hingga saat ini sudah 168 negara yang berpartisipasi dan Indonesia bukan diantaranya. Namun baru saja saya melihat berita di Channel NewsAsia, menteri kesehatan menyatakan kemungkinan Indonesia untuk menandatangani perjanjian itu tahun depan.

Bagaimanapun pada dasarnya tulisan ini tidak bermaksud menyerang perokok. Merokok atau tidak merokok adalah hak setiap orang. Namun orang yang tidak merokok juga punya hak untuk menikmati fasilitas publik tanpa terganggu asap rokok. Selamat hari tanpa tembakau sedunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s