Dunia Fana dan Akhirat yang Abadi

Saat berjalan ke MRT Dakota barusan tiba-tiba saya terpikir ingin sekolah pilot. Rasanya senang sekali bisa menerbangkan pesawat ke mana kita mau (tidak sebebas itu juga sih). Namun sekejap saya pun berpikir jadi pilot itu kan berbahaya. Bagaimana jika jatuh? Bisa-bisa saya mati.

Bicara takut mati, jangankan saat naik pesawat, saat duduk santai pun jika sudah ajalnya orang bisa dijemput. Tak usah terbang, berkendara motor (salah satu kegiatan favorit yang  sudah lama tak saya lakukan) pun bahkan bisa jadi lebih berbahaya.

Dalam Islam ada 3 hal pasti yang sudah ditentukan Allah. Jodoh, lahir dan kematian. Kullu nafsin dzaa iqotul maut. Masalah mati itu pasti, tapi caranya dan waktunya tak ada yang tahu. Kasarnya suka-suka malaikat saat kapan dan di mana mau menarik ruh kita sesuai dengan perintah dari Allah Swt.

Berhubung  mati itu mutlak waktunya rahasia, idealnya kita harus siap setiap waktu setiap saat. Tabungan amal shalehnya jika pun tak melimpah haruslah cukup. Jangan kalah banyak dengan tabungan keburukan. Di luar hal-hal itu tinggallah kita pasrah. Meski tak dapat dipungkiri orang paling shaleh pun mungkin ada rasa takut dengan kematian. Sebab tak ada jalan kembali dari kematian.

Dunia itu adalah tempat mengumpulkan bekal untuk akhirat. Berpetualang dalam prosesnya adalah pilihan yang mubah. Sambil diiringi dengan sekolah pilot, touring kotor ke Skandinavia, backpack ke Kanada, mendaki Gunung Semeru atau sekedar snorkling di pantai Gili air tak ada salahnya. Apalagi jika semua petualangan-petualangan di atas dengan tujuan lebih mendekatkan diri pada Allah dan mengagumi kebesaran-kebesarannya.

Dalam Islam, dunia ini adalah bagian kecil kehidupan. Setelah dunia maka akan ada akhirat. Di mana kita semua yang pernah kita lakukan dan tidak kita lakukan akan dipertanggungjawabkan. Rasulullah pernah bersabda Sesungguhnya kehidupan di dunia ini laksana air yang tinggal di jari kamu apabila kamu mencelup jari kamu ke dalam lautan yang luas. Sisanya adalah akhirat.

PS: Saya sendiri masih meragukan keinginan sekolah pilot tadi adalah serius atau sekedar celotehan hati absurd di pagi hari. Ditulis pada tanggal 31 Mei 2013 dalam perjalanan dari Dakota ke Haw Par Villa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s