Review Ranah 3 Warna

Negeri 5 MenaraJika tidak salah, saya lebih dari setahun saya punya buku ini dan baru sempat dibaca sekarang. Bahkan meski masih tersampul rapih, buku itu pun sudah menguning di sana sini.

Saya selalu senang membaca novel yang memberikan inspirasi. Saat membaca Edensor saya ingin kuliah ke Prancis. Setelah membaca 9 Summer and 10 Autumn saya ingin ke New York. Setelah membaca Ranah 3 Warna saya pun ingin ke Kanada.

Buku Ranah 3 Warna ini adalah sekuel dari Novel Negeri 5 Menara. Jika Buku pertama bercerita tentang masa Alif si tokoh utama nyantri di Pondok Madani, representasi dari Pesantren Gontor tempat penulis juga nyantri, maka buku kedua bercerita saat Alif kuliah di Bandung selepas dari pesantren.

Sama seperti buku pertama di novel ini Alif terus menjadi anak yang berbakti pada orang tuanya, mengikuti semua keinginan orang tua, meski tetap ada momen-momen tertentu di mana hati Alif memberontak, namun ia tidak pernah menunjukan itu. Perjuangannya di Bandung jauh lebih berat dibandingkan saat di pesantren. Tanpa memberi banyak bocoran intinya Alif merasakan berbagai macaam cobaan dalam bertahan agar tetap bisa kuliah.

Tag line dari novel ini adalah Man Sabara Zhafira, Siapa yang Bersabar maka ia beruntung. Sementara di novel pertama taglinenya adalah Man Jadda Wa Jadda yang artinya adalah barangsiapa bersungguh-sungguh maka akan berhasil. Jadi bersungguh-sungguh saja masih tidak cukup. Harus ada juga elemen kesabaran dalam proses tersebut.

Setelah merasakan berbagai ujian, Alif akhirnya bisa berangkat ke Kanada untuk pertukaran pelajar. Salah satu pesan yang sangat positif di novel ini adalah tetap menjaga baik nama Indonesia di mana pun kita berada. Meskipun tak terbantahkan banyak sekali hal-hal negatif yang harus diperbaiki di bangsa ini. Seperti carut marut politik, kemacetan kota-kota besar, kebiasaan kurang disiplin di beberapa orang, dan sebagainya, namun tetap tak patut kita menunjukan kekurangan-kekurangan tersebut ke orang lain. Sebenarnya istri saya pun pernah membahas hal ini ketika ia sempat ditanya entah oleh dosennya atau kawannya mengenai Indonesia.

Bicara gaya penulisan, saya tetap lebih suka gaya Andrea Hirata. Ia adalah satu-satunya penulis yang bisa membuat saya sedih dan sekaligus tertawa dalam halaman yang sama. Pada dasarnya gaya A Fuadi penulis novel ini baik, namun agak datar. Saya masih merasa karakter-karakter yang ada di buku itu tidak terlalu hidup. Namun pada kesimpulannya novel ini tetaplah buku yang sangat layak dibaca dengan segala pesan moral positif dan inspirasinya.

PS: Beberapa hari lalu akhirnya buku ketiga trilogi Negeri 5 Menara yang berjudul Rantau 1 Muara sudah diluncurkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s