Cerita tentang Pintu Satu Arah

Post ini sedikit terpicu oleh headline utama di Indonesia saat ini: jatuhnya Sukhoi Superjet-100. Beberapa hari ini saya cukup rajin memantau berita tentang ini. Baik dari portal berita atau streaming TV Indonesia lewat mivo.tv. Di satu sisi, keberadaan berita memiliki dampak positif dalam menyebarkan informasi. Namun di sisi lain terkadang berita-berita besar seperti ini diekspos terlalu berlebihan dan membuat seakan si pembuat berita kehilangan empati terhadap korban dan keluarganya. Hal ini diperparah lagi dengan statement-statement tak perlu dari pejabat-pejabat yang tidak ada manfaatnya.

Kembali ke masalah berita tadi. Momen ketika pertama kali melihat berita ini saya langsung merasakan empati yang mendalam terhadap keluarga korban. Seketika saya membayangkan apa perasaan saya jika menjadi keluarga korban? Dan lebih dalam lagi bagaimana jika seandainya saya yang menjadi korban?

Kematian adalah hal yang sangat istimewa dalam kehidupan. Istimewanya, kematian adalah pintu satu arah. Setiap manusia hanya bisa masuk satu kali dan tidak bisa kembali lagi. Jika orang meninggal bisa kembali lagi, tak perlu ada histeria yang biasa terjadi. Tidak ada orang yang perlu takut mati. Sehingga orang bisa berbuat seenaknya saja toh jika pun mereka masuk pintu kematian, ia bisa kembali lagi setiap waktu. Namun faktanya tidak seperti itu. Orang yang meninggal akan pergi selamanya dari dunia. Perpisahan itu menyakitkan. Apalagi jika perpisahan selamanya dari orang yang kita cinta, saat kita ditinggal atau kita yang meninggalkan. Kematian akan lebih menyakitkan bila terjadi secara tragis dan mendadak. Oleh karena itu doa yang harus selalu tak lepas kita ucap adalah untuk bisa meninggal khusnul khatimah.

Mari kita membayangkan sebuah skenario. Bayangkan seseorang yang biasanya ada namun kini tidak ada lagi. Padahal di kamarnya masih tertinggal banyak kenangannya. Tempat tidurnya yang masih belum dirapihkan. Baju-baju bekas dengan baunya masih tergantung di pintu kamar. Padahal mungkin satu hari sebelumnya kita masih bercengkrama dengannya. Pagi harinya ia masih berpamitan pergi dari rumah.

Sebaliknya juga bayangkan ketika suatu pagi kita bangun. Dengan tenang kita merasa bahwa pasti bertemu sore. Namun ternyata ajal kita ada di siang hari dan kita tak pernah bertemu sore. Dan saat mati kita hanya bisa menyesali hal-hal yang pernah dan belum dilakukan.

Mati itu bisa datang kapan saja. Tak peduli sedang naik pesawat atau bahkan saat diam di rumah sekalipun. Berhubung kematian adalah pintu satu arah tentunya kita harus menyiapkan bekal sebanyak mungkin untuk memasuki pintu itu pada waktu yang tak pernah seorang pun tahu. Bisa beberapa puluh tahun lagi atau bahkan besok. Tak ada yang pernah tahu. Semoga jika pun ajal datang, kita dijemput dengan cara yang baik dan kondisi yang siap.

One thought on “Cerita tentang Pintu Satu Arah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s