Miracle in The Airport Immigration

Miracle exists. Either big or small, it will make we feel that God is always close to us. And the small miracle but so significant happen this morning.

Aku bangun dari lelap sejenak ketika pesawat agak bergoncang. Aku lihat keluar jendela awan sangat pekat hingga hampir tak nampak selain dirinya. Air pun memercik halus di  luar jendela. Nampaknya hujan sangat deras di luar sana  Sejenak pelan berharap bodoh, semoga pesawat tak tergelincir saat turun nanti. Lelah sekali rasanya tubuh ini. Sangat lelah. Namun inilah hidup. Jika tak mau lelah silakan saja akhiri hidup saat ini juga.

Perlahan pesawat pun mulai merendah di Changi.

***

Sabtu pagi, aku dan istriku mencari bahan pakaian untuk resepsi pernikahan di pasar baru. Bagi yang kenal Jakarta, pasar baru adalah tempat belanja yang sudah terkenal sejak dulu di mana kita bisa menemukan kain, sepatu dan pakaian. Uniknya tempat ini adalah nuansanya yang terasa klasik dengan gedung-gedung tua dan toko-tokonya yang bahkan beberapa diantaranya sudah berdiri puluhan tahun dan menjadi saksi bisu sejarah kota Jakarta.

Setelah menemukan bahan pakaian, kami pun menyempatkan mencari setelan jas yang akan aku pakai. Dari tempat belanja tersebut kami langsung meluncur ke rumahku. Aku ngebut melewati tol yang cukup lengang di hari libur itu. Obrolan hangat mewarnai sepanjang jalan yang kami lalui. Pada siang tersebut keluarga istriku akan mengunjungi rumah orang tua aku untuk bersilaturahmi.

Tak sampai 2 jam kami pun tiba di rumah orang tuaku. Rumah sudah sangat ramai dengan saudara-saudara aku yang sudah datang dan juga keluarga istri aku. Langsung saja aku beramah tamah. Sejenak aku dan istriku diledek halus karena terlambat datang padahal ini adalah acara kami. Jika boleh beralasan terlambatnya kami pun ada dasarnya. Aku baru tiba dari Singapura Jumat tengah malam. Sabtu pagi hingga sore aku mengikuti IELTS test saat di waktu yang sama istriku tengah les bahasa Jerman untuk mengejar sertifikat A1.

Sabtu malam sebelumnya, kami bermotor sambil bergerimis ria ke Pasar Baru untuk mencari bahan baju resepsi. Namun karena menunggu hujan saat sampai pasar baru semua toko sudah tutup. Akhirnya kami pun harus kembali lagi mencari bahan pakain minggu pagi ini. Sehingga kami baru sampai rumah orang tuaku minggu siang.

Sekitar sore keluarga istri aku pamit pulang. Tak lama setelah itu pun keluarga aku yang lain turut pamit pulang. Jadi tinggalah aku, istri aku, ayah, ibu, adik-adikku dan nenek kakek yang ada di rumah. Minggu malam itu aku menyempatkan berkeliling motor dengan istriku menikmati waktu berkualitas kami yang rasanya mahal sekali.

Hal yang tidak mudah untuk berumah tangga jarak jauh. Hanya seminggu setelah akad aku harus berangkat ke Singapura. Syukur ingin selalu kupanjatkan kepada Yang Kuasa. Apalagi keputusan untuk pergi pun sudah aku pikirkan dengan masak-masak dan aku diskusikan dengan intensif dengan istri aku.

Bukan hanya itu, sekitar 3 bulan ke depan nanti, istriku pun harus berangkat ke Jerman untuk melanjutkan studinya. Berat sekali rasanya harus hidup dengan jarak yang lebih berjauhan lagi. Namun aku justru berharap dengan ujian kecil hidup berjauhan di awal-awal tahun pernikahan kami semoga akan menjadikan ikatan hati antara kami menjadi sangat erat tak akan terenggangkan sedikitpun selamanya. Aku selalu ingin menjadi insan yang bersyukur. Aku selalu ingin menjadi individu yang percaya bahwa jalan hidup yang kita lalui adalah kombinasi ketetapan terbaik dari Tuhan untuk hambanya dan ikhtiar yang dilakukan hambaNya tersebut. Aku juga ingin membuktikan bahwa aku akan melakukan apa pun demi orang yang aku sayangi. Sementara itu dengan berbagai cara aku terus ingin berusaha mendaftar beasiswa-beasiswa dengan tujuan Eropa. Paling tidak meski tidak tinggal satu atap, sekurangnya aku ingin ada di satu benua dengan istriku.

Sekitar minggu jam 9 malam aku berpamitan dengan orang tuaku. Aku akan menginap di rumah kontrakan istriku malam itu. Senin pagi aku harus terbang awal sekali, tak mungkin berangkat dari rumah orang tuaku. Sambil jalan karena kebetulan membawa mobil, aku mengantar kedua adikku ke tempat kos mereka. Baru lanjut ke rumah istriku.

Sesampai rumah istriku kami pun ngobrol-ngobrol sejenak sambil makan malam. Entah sudah yang keberapa kali aku makan hari itu. Sebelum terlanjur semakin larut aku pun pamit sejenak pada istri dan mertuaku untuk mengembalikan mobil.

Tak perlu waktu terlalu lama di jalanan Jakarta yang lengang di tengah malam untuk menempuh jarak yang tak dekat sekalipun. Tak sampai 1 jam aku pun sudah tiba di tempat empu si mobil. Setelah menyerahkan kunci aku pun langsung kembali pulang menggunakan motor istriku yang kemarin ditukar titip dengan mobil.

Angin Malam Jakarta yang pekat perlahan menembus jaket yang aku pakai. Sudah lebih jam 12 malam. Aku tidak berani terlalu ngebut karena entah mengapa rasanya aneh ngebut memakai motor bebek. Beberapa kali istriku SMS menanyakan sudah sampai di mana. Beberapa kali pula aku menghentikan motor untuk membalas SMS dari wanita terpenting bagi hidupku itu.

Akhirnya tak lama aku pun tiba di rumah istriku Senin dini hari hampir pukul 1. Meski sangat mengantuk nampak ia berusaha berpura-pura segar menyambutku. Terlihat pula koper untuk aku bawa nanti subuh sudah rapi. Ibu mertuaku dan adik iparku nampak sudah tidur. Aku pun mengobrol sebentar dengan istriku. Karena kesibukan kami beberapa hari ini ia sampai silap akan salah tugas penting untuk kantornya. Jadi pada malam itu ia mengebut berusaha menyelesaikan tugas tersebut. Jam semakin bergerak maju. Tinggal beberapa jam sebelum penerbanganku. Akhirnya aku putuskan untuk tidur. Saat hendak menset alarm di hp, istriku mencegah dengan lembut. Maksudnya biar ia yang akan membangunkanku. Setelah itu aku pun tak tersadar. Yang sedikit tergambar adalah ketika istriku memelukku dengan lembut dalam tidurku ketika ia telah menyelesaikan tugas kantornya yang harus diserahkan nanti pagi.

***

Aku terbangun kaget ketika mendengar pintu digedor-gedor dengan sangat keras. Ibu mertuaku bangun dengan sama kagetnya. Ibu mertuaku langsung mengecek keluar rumah, ternyata supir taksi pesanan yang akan mengantarku ke airport. Istriku pun terbangun dengan masih setengah sadar. Aku langsung melihat jam. Pukul 4 pagi! Saat melihat jam istriku tampak sama kagetnya dan terlihat paras merasa bersalah di wajahnya. Aku seharusnya sudah berangkat maksimal pukul 3.30. Aku langsung segera ke kamar mandi. Cuci muka dan berganti baju dengan sangat terburu-buru. Pesawat terbang pukul 5.40. Batas checkin adalah pukul 5.00. Perjalanan ke bandara setidaknya 60 menit. Dan sekarang pukul 4.00.

Dengan kalang kabut aku keluar kamar mandi. Mertuaku membuatkan teh dan mie goreng. Sambil terburu-buru menyiapkan apa yang harus disiapkan aku disuapi oleh istriku. Tak henti paras merasa bersalah itu nampak di wajah istriku. Dalam kondisi ini tak sedikit pun dan tak tersirat sekecil apa pun aku hendak menyalahkannya. Semuanya kelelahan.

Pukul 4.10 sambil memakai sepatu dan menggendong tas tak henti istriku meminta maaf pelan. Aku justru merasa sangat sedih, dengan keterburu-buruan ini aku tak bisa berpisah dengan waktu yang cukup. Memeluknya dengan lama, mengecup kening dan pipinya yang lembut. Akhirnya aku pun berpamitan pertama dengan mertuaku lalu dengan istriku. Perlahan aku merasa mataku sangat berkaca-kaca melihat paras istriku yang sangat hangat dengan wajah kekanak-kanakannya yang selalu nyaman ditatap.

Saat aku menarik koper meninggalkan rumah kepalanya masih melongok dari balik tembok menatap aku pergi perlahan. Menjelang masuk taksi masuk taksi aku pun menengok sekali lagi dan memberi lambain tangan lembut.

04.15 taksi pun berangkat. Baru sekitar 1 menit jalan istriku menelepon. Ia dengan menanyakan apakah parfumku sengaja ditinggal atau memang tertinggal. Lalu aku jawab bahwa aku sengaja meninggalkannya untuk aku pakai saat pulang ke Jakarta.

Degup jantung aku bergerak cepat sekali. Tertinggal pesawat mungkin hal yang biasa bagi orang lain. Namun bagiku itu seharusnya menjadi kelalaian yang bisa diantisipasi. Membeli tiket untuk penerbangan selanjutnya jika aku terlambat bukan pilihan yang terlalu menyenangkan.

Taksi bergerak cukup cepat namun hati-hati. Aku sudah mengingatkan kepada supir bahwa aku terlambat. Nampaknya ia sudah paham itu. Aku baru berangkat pukut 4.15 saat seharusnya aku berangkat pukul 3.30. Kepanikan aku yang lain pada waktu itu adalah aku tidak memegang uang tunai untuk membayar airport tax. Artinya aku butuh ekstra waktu ke ATM sebelum ke counter checkin.

Pukul 5.00 tepat aku sampai di airport. Setelah koper diturunkan aku langsung pontang-panting masuk ke terminal. Aku langsung menyelip ke depan konter checkin dan bertanya apakah bisa membayar airport tax menggunakan kartu debit. Saat mereka bilang tidak, seakan itu adalah pistol penanda lomba balap lari yang membuat aku berlari segera sambil menggeret koper ke ATM. Dengan terengah-engah akhirnya aku kembali ke kounter checkin setelah naik turun ke ATM di lantai 1. Pukul 5.10 aku mulai mengantri dengan beberapa orang di depanku. Pukul 5.15 akhirnya aku sudah di depan kounter. Saat melihat form web checkinku nampak petugas langsung menatapku iba. “Mas berhubung mas sudah web checkin, kami tak berhak menolak mas. Namun sekarang boarding gate sudah mau ditutup. Jadi sekarang tergantung mas bisa seberapa cepat sampai ke sana.” Petugas itu berkata. Aku tak banyak menyahut sambil menerima kartu imigrasi dan paspor.

Aku langsung berlari ke imigrasi. Saat sampai di sana aku hampir terkulai lemas melihat antriannya yang sangat panjang. Ada 2 loket yang dibuka. Pada setiap loket setidaknya ada 20 orang yang mengantri. Intuisi matematisku menghitung. Dengan rata-rata proses pengecekan paspor dan kartu imigrasi adalah 1 menit perorang. Akan membutuhkan waktu 20 menit hingga aku bisa lewat antrian imigrasi ini. Saat itu pukul 5.20.

Perlahan aku ingat pesan istri aku. “Zikir terus ya sayang.” Ucapnya lembut. Dia selalu mengingatkan aku untuk berzikir. Terutama dalam kondisi sulit. Pelan-pelan aku pun mulai merasa pasrah. Jika memang hak aku untuk naik ke pesawat itu, pasti aku akan naik dengan cara apa pun. Namun jika memang pesawat ini bukan rejekiku, aku akan pasrah setidaknya aku sudah berusaha sampai di sini. Tak ada kejadian yang luput dari ketetapan Allah. Barangkali termasuk pagi ini juga.

Meski masih merasa panik aku sedikit lebih tenang. Sambil mengantri aku mengisi kartu imigrasi. Di antrian yang panjang itu nampak beberapa petugas imigrasi dan bandara yang mondar-mandir. Tiba-tiba seseorang mendekati aku.

“Singapur ya mas?” Tanyanya.

Aku jawab pelan “Iya.”

“Hmm. Ga akan keburu kayaknya mas.” Jawabnya lagi dengan wajah dan ekspresi agak melecehkan. Tapi aku tak peduli sambil terus melengkapi kartu imigrasi. Pria tadi pun akhirnya melengos pergi ke depan.

Antrian berjalan pelan sekali. Kini aku merasa sudah tak menaruh harapan pada penerbangan ini. Dari jauh, aku melihat pria tadi berjalan ke arah aku lagi. Melihat dari seragamnya ia adalah petugas bandara. Ia kemudian mendekatiku pelan. “Mau dibantu mas?” Bisiknya.

Agak kaget, senang dan bingung. Kata-kata itu adalah bahasa kode yang jamak. “Berapa?” Balas aku bisik.

“Cepek aja.” Bisiknya lagi mengatakan ingin minta 100 ribu.

Aku angguk pelan sambil bersyukur sekali masih sisa uang tepat 100 ribu dikantungku.  Aku langsung mengambil uang di kantung dan memberikan kepadanya. Dia langsung terlihat panik. “Jangan kelihatan mas! Saya bisa dipecat!” Bisiknya lagi tapi agak berteriak.

“Sory.” Balas aku lagi berbisik.

“Ya udah ikut saya.” Ajaknya sambil mengambil uang dari aku dengan lihai. Entah kode apa yang dia berikan ke petugas imigrasi.

Pukul 5.25. Aku langsung menerobos antrian. Di depan konter imigrasi aku disuruh menunggu. Si pria tadi masuk semacam ruangan kepala imigrasi. Aku berdiri diam sambil merasa tidak percaya. Kurang dari 2 menit dia kembali lagi.

“Ayo mas lekas.” Ajaknya.

Aku mengikuti dia. Sekarang harus periksa X-Ray koper.

“Ini udah hampir terbang pak!” Teriak pria tadi pada petugas X-Ray, maksudnya agar aku bisa skip tak perlu diperiksa.

“Ga bisa mas. Ini prosedur.” Kata petugas yang lain membalas. Akhirnya aku mengalah. Padahal aku tahu betul di dalam koper ada cairan. Tadi seharusnya koper ini masuk bagasi. Tapi petugas checkin menolak karena pesawat sudah mau terbang. Benar saja si petugas meminta aku membuka koper. Dengan tergopoh-gopoh aku pun membukanya. Dengan terpaksa satu botol kecap dan saus yang dibelikan istriku harus turun. Sedih sekali rasanya.

Akhirnya setelah pemeriksaan selesai aku langsung tutup koper lagi. 5.30 aku berlari sekencang-kencangnya dengan pria yang membantu aku menerebos imigrasi. “Sini pak kopernya”. Pinta si pria tadi. Kini ia membawa koperku. Kami berlari seperti kesetanan.

“Mas mas satu lagi!”. Teriak si pria tadi kepada petugas boarding gate.

Kami terus berlari turun ke lantai satu dan keluar terminal. Dalam hati aku masih terus pasrah. Terus merasa jika memang hak pasti aku sampai. Jika tidak aku akan ikhlas. Saat keluar terminal kami masih terus berlari. Pagi yang dingin itu aku berpeluh luar biasa. Akhirnya nampak pesawat yang akan membawa aku pergi.

“Tunggu-tunggu satu lagi!” Si pria tadi berteriak kepada petugas yang sudah mau menutup pintu pesawat. “Oke pak sampai di sini saja. Selamat jalan.” Ucap si pria kepadaku sambil memberikan koperku. Aku masih berlari naik tangga pesawat. Tepat ketika aku masuk pintu pesawat pun ditutup.

Nampak orang-orang melihat aku heran. Aku berkeringat deras, jantung berdegup sangat cepat dan nafas terengah-engah. Setidaknya aku tadi berlari 200 meter. Aku tak peduli dengan tatapan mereka. Aku langsung menuju bangku aku. Meletakan koper di atas tempat koper. Aku duduk. Masih terengah-engah.

Pesawat pun perlahan berjalan. Pukul 5.40 tepat pesawat tinggal landas meninggalkan Jakarta. Baru kali ini aku merasa sangat ikhlas menyogok orang. Sambil tersenyum lelah, aku pun terlelap. Dengan bayangan kerinduan yang sangat besar pada istriku.

Singapore, 19 December 2011.

For my lovely wifey

2 thoughts on “Miracle in The Airport Immigration

  1. mama berkata:

    dimanapun, kapanpun dan dalam suasana hati bagaimanapun…kita harus selalu dzikir dan dzikir nak.. Hnya kpd Allah-lah kita mengganatungkan semua harapan dan cita- cita
    kita…:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s