Jon Flashpack to Bali – Part 7 (Tamat): Joger dan Dreamland

29 Juni 2011

Part 1 berikut pengertian flahpack bisa dilihat di sini.

Part 2 bisa dilihat di sini.

Part 3 bisa dilihat di sini.

Part 4 bisa dilihat di sini.

Part 5 bisa dilihat di sini.

Part 6 bisa dilihat di sini.

Hari ini saya keluar hotel agak terlambat. Penyebabnya masih sangat kelelahan setelah kemarin off road seharian. Lagi pula saya harus packing barang karena harus check out sebelum jam 10.

Setelah beres packing langsung ke front office untuk check out. Saya bawa handuk mandi untuk mengambil refundable deposit 45.000. Lumayan bisa untuk bayar airport tax.


Setelah check out langsung ke mobil. Hari ini didedikasikan untuk belanja oleh-oleh. Tujuan utama adalah joger. Joger terletak di jalan raya kuta sebenarnya tak jauh dari hotel. Namun karena banyak jalan 1 arah lumanyun juga jauhnya. Joger terkenal sebagai pembuat kaos dengan kata-kata unik. Selain itu banyak juga piluhan souvenir dan aksesori lain.

Sesampai joger langsung parkir. Ya ampun ramai sangat pagi itu saat saya melihat banyak mobil yang parkir. Setelah parkir mobil langsung masuk ke dalam toko. Ya ampun ampun lebih ramai sangat sangat di dalamnya. Aneka pajangan dan sendal ada di bagian depan toko. Sementara kaus dan tas ada di bagian belakang. Setelah muter-muter beberapa waktu akhirnya membeli beberapa kaus untuk diri sayah sendiri dan masing2 satu kaos untuk my sisters. Tak lupa membelikan sebuah tas untuk mamah tercinta. Lalu beli beberapa gantungan kunci, sendal, tas dari buah kelapa yang sangat unik. Sayang sayang seribu, saya bawa duit sangat pas pasan. Tapi alhamdulillah juga sebab jika bawa uang  banyak jaminan mutu pasti ludes. Satu komentar mengenai joger adalah range harga dari barang-barangnya sangat terjangkau. Agak menyesal sudah terlanjur membeli beberapa souvenir di tempat lain. Namun tak enaknya adalah karena sangat ramai sekali pengunjung agak membuat kuta kurang nyaman dalan berbelanja.

Setelah membayar di kasir belanjaan saya senilai 300 ribu lebih, saya langsung keluar toko. Kebetulan sekali di depan joger ada tempat makan halal. Langsunglah saya makan siang ayam kalasan dan es teh manis. Sambil menunggu pesanan saya lihat ternyata ada penjual kacang bali. Ukuran besar 30.000 dan ukuran kecil 15.000. Sebuah brem 7.000 dan dua box pie susu masing 17.500. Saya tak tahu apakah ini terlalu murah atau terlalu mahal.

Selesai makan sudah cukup siang menjelang sholat zuhur. Saya pun meluncur ke selatan mencari masjid. Saya ingat ada sebuah masjid yang cukup besar di perempatan menuju airport. Setelah sholat nyemil 2 potong semangka dan langsung meluncur ke pantai dreamland.

Awalnya saya sempat ragu mengenai pergi ke dreamland. Saya harus checkin bagasi maksimal pukul 15.15. Sementara saat itu sudah pukul 13.00. Namun ya sudahlah nekat saja. Sebenarnya agak menyesal juga tidak merencanakan itinerary dengan lebih seksama. Dreamland seharus bisa saya datangi saat Sabtu ketika saya mengunjungi GWK dan Uluwatu karena letaknya yang searah. Namun ya mau diapakah bubur sudah menjadi nasi.

Saya langsung meluncur menuju arah selatan lagi dari perempatan bandara. Di perempatan pertama jika tak salah saya ambil jalan ke kanan lalu langsung mengikuti jalan Uluwatu. Dreamland ada di sebelah kanan jalan dengan gapura yang sangat kentara.

Saya sampai di dreamland pukul 13.45. Tidak ada biaya masuk pantai, namun biaya parkir mobilnya cukup cihui 15.000 saja. Biaya shower 10.000. Toilet umun 3.000. Air mineral 8.000. Saya langsung mendeklarasikan dreamland sebagai pantai mahal. Saya juga mendeklarasikan Bali sebagai tempat wisata dengan biaya toilet yang benar-benar agak kurang masuk akal. Gilingan aja, 2 kali pipis equals 1 piring gado-gado.

Saat tiba saya melihat sedang ada pembangunan yang sangat pesat di sini. Agak kurang enak juga, banyak truk lalu-lalang dan eskavator yang asyik mengaduk-aduk tanah.

Setelah sampai saya langsung menuju pantai. Jalan menuju pantai melewati banyak anak tangga menurun. Datangnya tak masalah. Namun pulangnya dijamin ngoa-ngosan tambah keringetan. Setelah sampai di pantai saya cuma larak-lirik pemandangan sebentar. Saya juga mengambil beberapa foto. Ingin meminta difotokan oleh orang lain tapi tak tahu kenapa sedang agak tengsin hari itu.

Setelah sekitar 15 menit (ya 15 menit!!) saya langsung kembali ke mobil. Saat itu sudah 14.00 dan waktunya sudah cukup mepet. Saya ngebut lagi menuju arah airport ke utara. Waktu sangat mepet karena barang-barang saya masih berserakan di bangku belakangan dan belum dipacking rapih. Lumayan akan butuh waktu beberapa menit.

Sekitar 15.00 saya sampai di gerbang airport. Setelah ambil karcis parkir saya langsung meluncur masuk mencari parkiran. Tiba-tiba di depan tempat drop off ada sesosok pria tambun berkaca mata hitam melambai-lambaikan tangan memberi isyarat untuk menepi. Saya menghiraukan orang tersebut sambil terus nyetir mencari parkiran. Siapa ya? Pikir saya dalam hati. Calo kah? Masak di Ngurah Rai ada calo. Emangnya stasiun Senen. Atau preman mau ngerampok duit. Widih, serem juga, tapi masak mau ngerampok mencolok di keramaian gitu. Tiba-tiba saya pun tersadar, astagfirullah, itu Pak Mangku si empunya mobil ini. Saya langsung ciet ngerem, buka kaca dan nengok ke belakang dia lari-lari sambil menelpon dan di saat yang sama hp saya bergetar-getar. Saya langsung cengengesan melihat dia lari-lari ke arah mobil. Saya baru ingat tadi pagi janjian dia akan ambil mobil di airport.

Saya langsung minta maaf ga ngeh kepada Pak Mangku. Sementara di balik kacamata hitamnya dia cuma mesem-mesem. Saya langsung parkir mobil untuk membereskan barang-barang. Di saat yang sama saya baru ingat di dompet saya tinggal bersisa uang kurang dari 50.000 ribu. Sementara saya harus membayar uang rental mobil dan airport tax. Saya ijin sebentar lari ke ATM. Di saat yang sama saya berpikir, gimana ya kalau itu bukan Pak Mangku asli. Terus dia bawa kabur mobil dan semua barang-barang saya. Haduh kayaknya sih nggak.

Sambil lari ke arah terminal kedatangan saya pun sudah janjian dengan istri sepupu saya. Ia ingin menitip barang bebawaan bayi untuk saudara di Bogor. Saat lari ternyata saya sudah melihat ia duduk di bangku tunggu. Ya ampun shock juga saya pikir titipannya sedikit tapi ternyata banyak banget. Setelah ngomong-ngomong sebentar saya berlari lagi ke arah ATM.

Apes, sudah diburu waktu ATM ternyata sedang direfill uang. Haduh saya melihat jam tangan sudah sangat mepet sekali waktunya. Seumur hidup naik pesawat, saya jarang memasukan barang ke bagasi. Biasanya paling hanya bawa backpack dan tas tangan yang bisa masuk kabin. Jadi saya tak tahu mekanisme yang harus dilakukan jika telat check in bagasi.

Setelah sekitar 10 menit menunggu akhirnya refill beres. Petugas ATM pun menstartup mesin ATM lagi. Haduh lama bener lagi. Setelah beres antrian di depan saya langsung bertransaksi. Untung di depan saya hanya ada dua antrian. Setelah beres ambil uang saya lari lagi ke parkiran mobil. Tampak Pak Mangku sudah beres-beres mobil. Saya langsung bayar uang sewa dan membereskan barang-barang yang berantakan di bangku belakang. Setelah beres saya pun berpamitan.

Sekarang saya kembali lari ke tempat istri sepupu saya menunggu. Sambil gendong backpack, menyelempang tas kecil, kini harus ditambah sekitar 8 kantung keresek. *_*. Istri sepupu saya mengantar sampai pintu masuk keberangkatan. Setelah pamit saya pun masuk ke ruang tersebut. Sambil masuk saya berpikir keras, mau diapakan ya keresek-keresek ini. Jika dimasukan bagasi, dijamin halal pasti akan tercecer ke sana-sini. Ternyata saat masuk ada jasa wrapping barang. Walau agak mahal 35.000 tapi jasa tersebut memang benar-benar saya butuhkan. Akhirnya kedelapan keresek tersebut dililit plastik seperti kepompong. Setelah beres saya langsung lari ke counter check in. Karena saya sudah web checkin saya tinggal drop bagasi. Alhamdulillah tepat waktu.

Saya langsung ke ruang tunggu dan shalat ashar. Sekitar 30 menit kemudian saya pun boarding. Di pesawat duduk di sebelah couple bule dari Manchester. Ngobrol wara-wiri kemduain tidur zzz sambil dengar musik. Kembali ke Jakarta dengan segala kesemrautannya. Not a perpect holiday. Not a cheap holiday. But I feel grateful. Thanks God because life is beautiful.

Tamat. 😀

 

Satu respons untuk “Jon Flashpack to Bali – Part 7 (Tamat): Joger dan Dreamland

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s