Jon Flashpack to Bali – Part 6: Trunyan dan Tanah Lot

28 Juni 2011

Part 1 berikut pengertian flahpack bisa dilihat di sini.

Part 2 bisa dilihat di sini.

Part 3 bisa dilihat di sini.

Part 4 bisa dilihat di sini.

Part 5 bisa dilihat di sini.

Jam 5.30 pagi langsung ngebut dari hotel ke arah sanur dengan maksud hati mengejar sunrise. Sampai sanur agak sedikit terlambat si sun sudah nongol duluan. Saya tak terlalu lama di Sanur, setelah merasa puas akhirnya melaju ke tujuan utama saya hari ini, Kintamani. Ada apa di Kintamani? Yang terlintas di kepala saya adalah ada Danau Batur dan ada Gunung Batur. Seperti biasa natural scenary, baik itu gunung, pantai atau danau selalu menjadi hal menarik bagi saya. Selain itu di Kintamani pun ada sebuah desa bernama Trunyan. Tak jauh dari desa tersebut ada sebuah pemakaman di mana orang-orang yang meninggal tidak dikuburkan di dalam tanah, namun hanya digeletakan begitu saja. Saya merasa tertarik untuk mendatanginya. Meski pun saya sudah wanti-wanti sejak awal jadi atau tidaknya saya ke pekuburan tersebut akan tergantung dari situasi di lapangan nanti. Omong-omong, hari ini adalah petualangan paling besar sejak saya di Bali. Dari pada sekedar trip biasa, hari ini lebih cenderung menjadi off road day.


Kintamani terletak agak di utara Bali. Dari Sanur saya akan melaju ke arah timur melewati jalan Ida Bagus Mantra yang sangat mulus. Jalan tersebut sangat lebar, meski di beberapa bagian masih dalam proses pengerjaan. Dalam keadaan jalan seperti itu, mobil bisa dipacu hingga 120 Km/Jam sambil menyalip truk-truk barang yang akan menuju Pelabuhan Padang Bai. Saking asyiknya ngebut, saya pun melewati jalan yang seharusnya ditunjukan google maps. Akhirnya terpaksa recalculate petunjuk jalan dan belok ke arah utara. Seperti biasa suasana pedesaan Bali amat sangat menyenangkan. Pura, rumah penduduk, sawah, sungai dan gunung menjadi pemandangan yang tak pernah bosan untuk dinikmati.


Jalanan ke arah utara ini berkelok-kelok dengan kondisi aspal yang tidak terlalu mulus namun tidak terlalu rusak juga. Selintas berpikir betapa dahsyatnya jika mengendarai motor di sini menikmati cornering-cornering patah naik turun yang sangat memacu adrenalin. Jadi kangen si Merah pada waktu tersebut. Tapi untuk jarak jauh dengan kondisi cuaca tak menentu di pegunungan mobil mungkin adalah pilihan paling tepat.


Saya memberhentikan mobil di sebuah spot sebelum Klungkung. Tempat tersebut ada di posisi yang cukup tinggi dengan pemandangan yang sangat indah ke sawah-sawah dan jalanan di bawahnya. Sejenak saya berdiri menikmati keindahan tersebut sambil berfoto-foto bodoh sendiri. Saya letakan kamera di kap mesin mobil kemudian mengaktifkan timer. Saya juga meletakan kamera di beton pagar. Semoga saja tak ada angin yang akan menyemplungkan kamera legendaris saya ini ke jurang. Legendaris karena kamera digital tersebut sudah hampir 3 tahun dan masih cukup sehat. Di tempat pemberhentian tersebut ternyata ada sebuah mobil lain yang tengah berhenti. Seperti biasa ramah tamah mode: on. Saya pun iseng-iseng menyapa dengan rombongan tersebut. Ternyata mereka dari Bandung. Mereka berencana hendak ke Pura Besakih. Setelah ngobrol-ngobrol singkat saya pun berpamitan duluan.

Dari stop point tersebut jalanan masih terus naik. Tak lama akhirnya saya tiba di daerah Klungkung. Nampaknya tempat ini kota yang cukup besar di dekat utara tengah Bali. Hal menarik lain, entah mengapa pagi menjelang siang pada waktu itu banyak sekali polisi. Di sebuah titik di pusat kota, saya saya salah belok. Seharusnya belok kanan di belokan depan, namun saya terlanjur belok duluan karena google mapsnya kurang zoom in. Buru-buru saya langsung ingin putar balik karena ternyata jalan ini perboden. Hal yang ditakutkan pun terjadi, saat saya mau mencoba putar balik langsung bunyi prat prit peluit. Mr Polkis (baca: polisi) sudah berdiri di belakang mobil.

“Mau kemana pak?” Tanyanya. Dengan setengah horor karena malas membayangkan harus mengeluarkan uang preman untuk Mr Polkis ini. “Ke Kintamani pak. Saya pikir belok di sini pak”. Balas saya. Meski perboden, sebenarnya saya bisa berkilah karena dari arah saya datang tak ada rambu belok kanan coret. Akhirnya saya diajak ke pos, SIM A dan STNK mobil langsung dipegang oleh polisi itu. Lucunya di pos ternyata dia malah menggambarkan sebuah peta (yang tak saya mengerti) untuk jalan menuju Kintamani. Yup, saya adalah orang dengan kecerdasan spasial yang rendah, sangat susah untuk memahami petunjuk arah. Bersyukurlah saya lahir di era GPS, yang bisa memandu perjalanan saya secara real time.

Setelah menggambar peta dengan detail kami pun ngobrol-ngobrol sejenak. Pertanyaan standar yang sudah membuat saya cukup mual itu pun kembali ke luar. “Kok jalan-jalan sendiri aja? Ceweknya mana?”. What’s wrong dengan solo traveling umpat saya geli dalam hati. Pertanyaan ini sudah keluar banyak sekali dari sebagian besar orang yang saya temui sepanjang liburan tersebut. Saya balas saja, “Lagi pengen sendiri aja pak. Biar lebih bebas.” Lucunya lagi Pak Nyoman (jika tak salah, saya menemui banyak sekali Nyoman dan Made sepanjang liburan ini) sang polisi curhat tentang keluarganya. Tentang anak-anaknya. Akhirnya tertahanlah saya di pos tersebut sekitar setengah jam. Tapi setidaknya Pak Nyoman tak mempermasalahkan kasus salah belok saya. Setelah selesai saya pun melanjutkan perjalanan. Peta Pak Nyoman saya taruh di dashboard dan saya tetap melihat google maps.

Dari Klungkung jalanan terus naik. Namun cenderung menjadi lebih sepi dengan pepohonan di kiri kanan. Terkadang jalanan pun agak berkabut. Sesekali sedikit gerimis. Kira-kira menjelang tengah hari, tampaklah danau Batur di kanan jalan. Saya berhenti di sebuah tempat parkir cukup luar di pinggir jalan. Saya langsung berjalan ke bibir tebing mengambil beberapa foto. Di tempat ini beberapa orang mulai banyak mendekati saya. Mereka menawarkan perahu penyebrangan menuju makam Trunyan. Hal yang sudah saya duga sebelumnya. Namun sementara ini saya tolak halus dulu. Di situ juga saya berkenalan dengan entah siapa namanya saya lupa seorang Bali yang membawa rekannya dari Malaysia dan awalnya hendak menuju Trunyan juga. Namun karena ketidakjelasan biaya perahu orang tersebut pun urung. Saya pun sempat minta difotokan, kebetulan ia membawa SLR, pasti lumayan bisa memoto.

Trunyan adalah sebuah desa yang terletak di tepi danau Batur. Pemakaman Trunyan sendiri berlokasi di sebuah sisi lain danau yang terisolasi dari jalan darat. Satu-satunya cara ke pemakaman adalah menggunakan perahu. Menyewa perahu sebenarnya tak perlu harus dipusingkan jika kita berangkat secara rombongan. Namun karena saya sendiri sempat agak berpikir juga, jadi atau tidak ke Trunyan. Setelah saya pikirkan akhirnya saya coba saja ke Trunyan dulu dan akan saya liat kondisi di sana.


Dari stop point terakhir saya belok kanan turun ke bawah ke arah Toya Bungkah menuju Trunyan. Kemiringan jalan cukup besar, meski jalanan masih cukup lebar. Di sepanjang jalan juga banyak truk-truk pasir yang membawa muatan. Setelah beberapa kilo meter berkelok kelok turun saya tiba di sebuah pertigaan dan mengambil jalan ke kanan. Jalanan mulai menyempit dan mulai menyusuri pinggir danau. Saya sempat berhenti di sebuah titik di mana Gunung Batur sebagai latar belakang serta Danau Batur dan kebun sayur di depannya terlihat sangat indah. Tujuan utama berhenti adalah foto-foto.

Saat berhenti itu pula saya baru sadar ternyata dari tadi saya diikuti beberapa motor. Penduduk lokal yang ingin menawarkan jasa carter perahu. Saya tetap menolak dengan halus. Setelah puas foto-foto saya melanjutkan perjalanan. Jalanan pun mulai ekstrim. Lebar jalan hanya muat untuk satu mobil. Jadi jika ada mobil dari dua arah salah satu harus mengalah. Horornya di depan saya mulai tersaji tanjakan turunan curam dengan kemiringan mungkin hingga 75 derajat. Sedikit saja kurang lihat berkendara akan menjatuhkan kita pada dua pilihan, kecemplung danau atau nyuksruk ke jurang. Amit amit amit amit.


Selang beberapa waktu akhirnya saya tiba juga di desa. Seperti biasa di desa saya kembali di kerumuni orang-orang yang menawarkan jasa perahu. Namun saya tetap segan karena mereka meminta harga yang sangat tinggi. 300 ribuan. Padahal saya hanya sendiri. Setelah sekian waktu akhirnya harga pun perlahan turun. Hingga batas 150.000. Namun di kondisi itu tiba-tiba saya ilfil untuk menyeberang ke kuburan. Akhirnya saya hanya ngobrol-ngobrol dengan penduduk sekitar dan makan ice cream. Agak kurang nyaman di sana karena banyak anak-anak kecil yang meminta-minta uang.


Saya pun memutuskan berangkat lagi dari Trunyan. Saya harus melalui lagi jalanan horor naik turun terjal. Hal yang saya takutkan adalah berpapasan dengan mobil lain dalam kondisi menanjak. Sebab saya ragu mobil yang saya sewa akan kuat naik dari kondisi berhenti di tanjakan. Maka dari itu setiap menanjak, menurun, belokan tajam tertutup tebing saya terus mengklakson. Akhirnya setelah sekian waktu saya tiba lagi di tempat awal puncak saat pertama melihat danau Batur. Saya langsung tancap gas ke arah utara lagi.

Selepas Danau Batur, ke arah utara adalah Kintamani. Tidak ada hal khusus di sini melainkan suasana seperti Puncak Cisarua Bogor atau Bedugul. Saya hanya menyempatkan foto sebentar di pinggir jalan. Setelah foto lalu lanjut jalan kembali dan saya berhenti di sebuah mesjid. Nampaknya mesjid tersebut adalah satu-satunya mesjid yang saya temui sepanjang jalan. Saya sholat zuhur kemadian numpang berbaring sejenak sambil menumpang charge hp setelah ijin dengan penjaga mesjid. Saya lupa membawa car charger. Setelah puas berbaring saya pun makan sate kambing di kedai sebelah mesjid. Ternyata pedagangnya adalah ibu-ibu madura. Lagi pula di dinding kedai di pajang beberapa kaligrafi arab. Insya Allah halal. Menariknya si ibu-ibu penjual sate ini fasih berbahasa Bali, Jawa dan Madura. Benar-benar multilingual person. Ia pun bercerita mesjid tempat shalat saya tadi dibangun oleh ayahnya. Selesai makan saya langsung ke mobil dan bertemu dengan penjaga mesjid tadi. Saya pun berpamitan. Si bapak tersebut masih saja bercanda, “sendirian aja? wah ada cewek tuh.” Ujarnya sambil ngindik ke kaca belakang mobil.

Dari Kintamani ini sebenarnya saya tak ada tujuan khusus. Akhirnya saya putuskan mencoba terus ke arah utara dan melihat pantai lovina. Dari Kintamani saya menuju Kubu Tambahan. Jalanan masih berkelok-kelok namun cenderung turun. Sepanjang jalan sesekali saya disiram hujan. Setelah sesampai Kubu Tambahan tiba-tiba saya hilang nafsu ke Lovina. Sebenarnya pantai Lovina sendiri tak terlalu menarik. Lovina terkenal karena lumba-lumba. Namun itu pun harus menyewa perahu dan baru bisa dilihat saat pagi. Akhirnya saya putuskan kembali ke Selatan namun melalui Bedugul.

Menuju Bedugul jalanan mulai naik lagi. Saya melewati Git Git Waterfal, namun segan untuk berhenti. Tiba-tiba di tengah jalan saya kepikiran dengan tanah lot. Maka saya pun ngebut dengan sejadi-jadinya sedari Bedugul. Maksud hati ngebut jangan sampai tiba di Tanah Lot kemalaman. Jadi dari Utara saya kencang ke selatan kemudian ke arah barat. Alhamdulillah sampai dengan selamat menjelang matahari terbenam. Saya parkir kemudian berlari ke Pura untuk mengambil beberapa foto. Setelah cukup langsung kembali ke parkiran, mengambil kain sarung lalu shalat Maghrib.

Selesai shalat jalan ke arah Denpasar teramat sangat macet. Saya di jalan hampir 2 jam. Saya pun tiba di Denpasar cukup malam. Malam tersebut saya makan steak. Setelah makan langsung kembali ke Hotel, menyambut esok, hari terakhir di Bali.

Bersambung ke part berikutnya.

Pengeluaran:
Bensin 100.000
Sate Kintamani 13.000
Steak: 40.000

2 thoughts on “Jon Flashpack to Bali – Part 6: Trunyan dan Tanah Lot

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s