Jon Flashpack to Bali – Part 5: Kuta, Sanur dan Pekan Kesenian Bali

27 Juni 2011

Part 1 berikut pengertian flahpack bisa dilihat di sini.

Part 2 bisa dilihat di sini.

Part 3 bisa dilihat di sini.

Part 4 bisa dilihat di sini.

Dear day. Hari ini adalah surfing day!

Tak tahu berawal dari mana saya sedang benar-benar tertarik untuk belajar surfing. Maka dari itu sejak ketertarikan itu muncul saya mulai rajin menonton video-video surfing. Saya juga mulai berlatih padling-padling bodoh, kemudian standing di atas papan. Bodohnya karena saya berlatih di atas kasur. -_-”

Sekitar awal bulan Juni lalu saya mengambil lesson di sebuah surf school di Pelabuhan Ratu. Surf school tersebut dikelola oleh seorang bule Prancis yang sangat fasih berbahasa Indonesia. Saat lesson singkat 2 jam tersebut alhamdulillah saya sudah bisa berdiri meski belum bisa meliuk-liuk canggih. Oleh karena itu kesempatan datang ke Bali kali ini benar-benar saya manfaatkan agar bisa belajar surfing lagi. Kebetulan ombak  Pantai Kuta sepertinya tak seganas ombak selatan Jawa.

Pagi itu saya sebenarnya sudah mau keluar sejak pukul 8 pagi. Namun saat keluar hotel ternyata di luar hujan. Agak sedikit kecewa sebab saya tak punya rencana cadangan selain surfing di pagi. Akhirnya balik ke kamar sambil browsing-browsing tempat yang mungkin layak dikunjungi. Selang setengah jam saya mengintip lagi keluar. Ternyata hujan sudah reda. Sebelum keluar saya ke mini market dulu membeli pop mie. Saya agak bingung mau sarapan apa pagi itu.

Sambil menenteng pop mie saya keluar ke jalan tempat saya memarkirkan mobil. Masuk mobil, sambil memanaskan mesin mobil saya makan pop mie. Sebenarnya hujan masih agak rintik-rintik. Tapi ya sudahlah kita nikmati sajah. Kelar menelan isi gelas pop mie saya langsung melaju pelan ke arah pantai. Berhubung masih pagi alhamdulillah kemacetan Bali tidak seamsyong biasanya.

Tak lama saya pun sampai di pantai. Langsung parkir mobil dan berjalan ke pantai. Di Kuta banyak sekali orang menyewakan surf board dan body board juga. Saya pun mendekati salah seorang penyedia jasa sewa di situ lalu mulai beramah tamah. Ternyata namanya Deni dan berasal dari Medan. Menarik juga, ternyata cukup banyak para penyedia sewaan surf board yang justru pendatang. Saya pun menyewa sebuah soft board besar. Dia menawarkan harga 50.000 untuk 2 jam. Saya coba tawar 50.000 untuk 3 jam. Namun tak berhasil. Tapi toh pada akhirnya ternyata tak sampai 2 jam pun saya sudah kolaps. Perhatian sekali lagi, bendar berwarna biru besar itu adalah soft surf board dan bukan permen lolipop atau ice cream!!!

Setelah deal sewa menyewa, saya ganti baju di mobil. Saya pakai satu set wet suit speedo. Sebenarnya ini lebih cocok dipakai untuk berenang. Untuk surfing sendiri lebih cocok pake merk-merk selevel rip curl dan kawan-kawannya. Tapi who care lah. Yang penting meluncur.

Luncuran pertama dengan sok gagahnya saya langsung padling jauh ke tengah. Padling adalah berenang di atas papan membawa papan dari pinggir pantai ke tengah untuk mengambil ombak. Belum sampai tengah berkali-kali saya dihantam ombak sehingga harus mundur lagi dan mundur lagi. Setelah sampai di tengah saya mulai memposisikan diri mengambil ombak. Namun entah kenapa dari sekian belas trial, tak satu kali pun berhasi berdiri. Jika tak terjungkal ke belakang, pasti terpental ke samping, atau nyuksruk ke depan. Alhasil setelah baru saja main sekitar 90 menit saya sudah kehabisan tenaga. 2 kali terpentok papan dan mau muntah karena lumayan sesekali minum air laut. Memang sih tak ada skill yang instan. Orang baru main dua kali masak berharap jadi expert. Akhirnya tiduran sebentar di pinggir pantai lalu mandi bilas 2000 rupiah kemudian balik ke mobil. Lesson surfing selesai.

Setelah mandi langsung mengarah ke Denpasar. Cari makan siang ayam betutu. Tapi gagal. Ujung-ujungnya makan di sebuah warung padang halal. Sehabis makan saya berjalan ke arah Sanur. Di tengah jalan berhenti di sebuah mesjid untuk sholat zuhur. Karena sangat kecapean setelah shalat saya tertidur pulas sekitar 2 jam. Bangun tidur saya lanjut ke arah Sanur. Sehari sebelumnya sepupu saya minta diantar ke airport karena ada urusan kerja ke Jogja. Sesampai rumah sepupu kami langsung lanjut ke airport. Mampir sebentar di galeria mall, sebuah mall yang katanya terbesar di Bali. But I don’t care. Dari mall langsung lanjut lagi merayapi jalan bypass Denpasar yang agak macet di sore hari. Sampai airport drop sepupu saya, kemudian kembali ke rumah sepupu untuk mendrop keluarganya.

Sekitar maghrib saya meluncur ke pantai Sanur. Kebetulan ada sebuah mesjid di sebelum jalan masuk ke pantai. Saya pun mampir shalat Maghrib. Setelah shalat baru meluncur ke pantai. Ternyata meski sudah malam, pantai masih ramai. Ada beberapa tukang jagung bakar. Beberapa orang berfoto-foto di kegelapan. Sementara di bibir pantai beberapa orang-orang lain asyik memancing. Namun pantai Sanur sepertinya tidak seheboh ekspektasi saya. Pantainya sangat biasa sekali. Saya akhirnya berjalan ke sebuah balai yang ada di pinggir pantai. Saya duduk di sana sambil menikmati pemandangan laut di malam hari.

Tak lama 2 orang juga turut duduk di balai tersebut. Seperti biasa, sok pede sok kenal mode saya pun teraktivasi. Saya langsung ngobrol-ngobrol dengan 2 orang tersebut. Ternyata mereka adalah pendatang yang sudah cukup lama tinggal di Bali. Jadi tahu saya adalah turis mereka memberi banyak masukan tempat-tempat yang layak dikunjungi di Bali. Mereka pun menyarankan saya untuk mendatangi Pekan Kesenian Bali di Denpasar yang kebetulan tengah berlangsung saat itu. Sebetulnya istri sepupu saya pun sudah memberitahu saya tentang event tersebut. Maka malam itu saya putuskan untuk berangkat ke Pekan Kesenian Bali tersebut.

Pekan Kesenian Bali adalah acara tahunan yang diselenggarakan dalam waktu sekitar 1 bulan. Acara ini menyajikan banyak pentas seni, pameran, makanan-makanan. Pokoknya semacam pesta rakyat. Acara di selenggarakan di tempat bernama Art Center yang sepertinya terletak di pusat kota Denpasar. Dari Sanur saya cukup lurus mengikuti jalan ke pusat kota. Sesampai pusat kota kemudian saya mengikuti jalan Hayam Wuruk. Semakin dekat ke Art Center banyak sekali petugas parkir yang memarkirkan motor dan mobil. Ternyata di Art Center memang tidak menyediakan lahan parkir, sehingga kita harus parkir di luar. Sebenarnya agak horor juga, karena di Jakarta saat pelaksanaan Pekan Raya Jakarta parkir mobil sembarangan adalah hal yang sangat berbahaya, sebab bisa jadi kita digetok dengan biaya parkir yang sangat tidak wajar. Namun akhirnya saya putuskan untuk parkir beberapa puluh meter setelah melewati Art Center. Setelah parkir saya langsung ditagih 10.000. Agak mahal, tapi memang sepertinya itu tarif standardnya.


Saya langsung masuk ke Art Center. Ketika masuk ada semacam panggung di mana ratusan orang mengerumun. Saya pun mengintip di balik kerumunan tersebut, ternyata semacam show tari-tarian. Kemudian saya juga melihat banyak sekali penjual makanan, aksesoris dan berbagai barang-barang. Saya juga menyempatkan masuk ke sebuah ruang pameran lukisan dan karya seni lainnya. Setelah dari situ saya masuk ke sebuah ruang pertunjukan yang cukup ramai namun gelap gulita. Setelah masuk ternyata semacam wayang kulit. Namanya wayang blancuk. Pertunjukannya sendiri disampaikan dalam Bahasa Bali yang sama sekali tak saya mengerti. Namun sepertinya memang lucu karena cukup sering penonton tertawa terbahak-bahak. Setelah merasa cukup saya pun berkeliling ke stand-stand penjual beragam barang-barang dan makanan. Satu hal yang saya tangkap dari event Pekan Kesenian Bali ini adalah orang-orang Bali memang secara alami memiliki jiwa seni dan budaya yang cukup tinggi. Mereka sangat antusias sekali menonton pertunjukan-pertunjukan seni, melihat karya-karya seni tak peduli tua ataupun muda.


Setelah merasa puas saya pun keluar. Tujuannya terakhir sebelum pulanga adalah makan. Di sekitar jalan hayam wuruk ada sebuah tempat makan Ayam Betutu. Namun sayang ketika tiba di sana restoran tersebut sudah tutup. Tak jauh dari situ juga ada restoran Ayam Bakar Wong Solo. Baru saja parkir mobil, ternyata tempatnya juga sudah mau tutup. Akhirnya saya memutuskan jalan lagi ke arah selatan menuju Kuta. Di tengah jalan ada kedai Nasi Uduk Kebon Kacang. Lucu juga, jauh-jauh ke Bali makanannya malah makanan Jakarta. Setelah makan jalan kembali ke Kuta. Meski jalanan di tengah kota cukup lancar. Namun di Kuta masih harus merayap. Akhirnya saya tiba sekitar pukul 01.00 dini hari. Hari yang cukup melelahkan namun menyenangkan.

Lanjut ke part berikutnya di sini.

3 thoughts on “Jon Flashpack to Bali – Part 5: Kuta, Sanur dan Pekan Kesenian Bali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s