Jon Flashpack to Bali – Part 4: Ubud, Bedugul, Pura Ulundanu, Bayan Lake, and Tamblingan Lake

26 Juni 2011

Part 1 berikut pengertian flahpack bisa dilihat di sini.

Part 2 bisa dilihat di sini.

Part 3 bisa dilihat di sini.

Pagi itu saya keluar dari hotel sekitar jam 8. Yang terpikir di pagi itu adalah untuk pergi ke arah utara. Yang terlintas di benak adalah ke Ubud lalu lanjut ke Pacung kemudian Bedugul. Lalu saya pun melihat di Peta ke utara lagi dari Bedugul ada dua danau berdekatan Tamblingan dan Bayan.

Ubud
Sekeluar dari hotel meski belum makan saya langsung gas poll ke arah utara.  Buka google maps, set tujuan Ubud. Di tengah jalan saya menyempatkan diri mampir ke alfamidi membeli minuman. Kemudian saya juga langsung makan siang di sebuah kedai ayam taliwang di sebrang alfamart. Kebetulan di plang rumah makan tersebut memasang label halal.

Setelah makan lanjut menuju Ubud. Saya lupa arah perjalanan menuju Ubud namun yang pasti saya melewati Sukawati, pasar yang sangat terkenal di Bali jika ingin mencari pernak-pernik oleh-oleh berharga murah.

Lepas dari Sukawati tak lama akhirnya masuk ke Ubud. Ubud adalah daerah di Bali yang terkenal sebagai pusat pengrajin dan barang-barang seni. Saat sampai di Ubud saya hanya merayap sebentar sambil lirik kiri kanan. Saya ragu jika ada barang kerajinan yang lebih murah dari 50.000 di tempat itu.

Setelah puas larak-lirik sejenak, saya langsung gas poll lagi ke arah Pacung kemudian Bedugul. Ada apa di Pacung? Ada Bali Camp, sebuah software house yang sangat terkenal di Bali bahkan di Indonesia. Tujuan ini menjadi menarik karena beberapa teman kantor saya adalah alumnus Balicamp. Kebetulan Pacung mau tak mau harus dilewati jika mau menuju ke Bedugul.

Dari Ubud menuju Pacung dan Bedugul saya mengarah ke Barat sambil mengikuti petunjuk google maps. Pemandangan di kanan kiri sangat indah dengan persawahan dan rumah-rumah pedesaan Bali. Sempat turun hujan juga sepanjang perjalanan.

Saat sudah sampai di daerah Pacung saya agak kesulitan mencari Balicamp. Malas mencari akhirnya saya lanjut saja ke arah utara. Lewat dari Pacung tiba-tiba jalanan mulai merayap. Kebetulan memang musim liburan kendaraan memang sangat padat. Oleh karena tak sabaran saya berusaha terus menyalip mobil-mobil di depan saya. Masih bisa terus menyalip lama semua mobil dari selatan mengambil jalur kanan. Akhirnya tak lama semua kendaraan terjebak tak bisa bergerak, karena mobil dari selatan mengambil semua jalur sehingga mobil dari utara tak bisa turun. Jadi maju tak bisa mundur tak bisa. Mungkin ada sekitar 30 menit saya terjebak di macet hampir total.

Ulundanu
Perlahan sambil tune radio dengan cukup keras akhirnya mobil bisa kembali merayap. Setelah maju agak ke depan barulah saya tahu penyebab kemacetan parah. Banyak sekali bus-bus pariwisata yang parkir di kiri kanan jalan. Setelah lewat kemacetan kembali tancap gas menuju Bedugul. Di tengah jalan menyempatkan diri mampir di pom bensin untuk beristirahat sekaligus shalat Zuhur jamak Ashar.

Setelah shalat kembali lanjut ke arah utara yang semakin menanjak. Sesekali harus berkejaran dengan bus-bus panjang di jalan yang cukup menanjak. Tak berapa lama akhirnya terlihat danau besar di sebelah kanan dan banyak kendaraan yang belok ke arah kanan. Welcome to Pura Ulundanu.

Pura Ulundanu adalah sebuah Pura yang terletak di tepi Danau Beratan. Pemandangan di tempat ini benar-benar cantik. Udara sangat sejuk, dan agak berkabut serta sesekali gerimis. Namun tempat ini sangat ramai sekali. Meski tadi sempat terjebak macet parah, seperti terbayar ketika tiba dan melihat pemandangan alam di sekitar Pura.


Kamera ready and action. Langsunglah saya ke sudut-sudut menarik dan mengambil beberapa foto. Udara yang benar-benar sejuk membuat saya sangat betah berlama-lama di sini. Susahnya jalan sendiri adalah saat urusan berfoto. Tak hilang akal saya mencari objek datar di mana saya bisa meletakan kamera. Setelah kamera disimpan langsung pangsang timer dan ngacir ke depan kamera berpose dengan cepat. Terkadang jika tak terlalu tengsin sesekali saya juga minta tolong ke orang lain untuk dijepretkan foto.

Setelah puas berkeliling saya pun keluar dan kembali ke tempat parkir. Di depan ada beberapa toko souvenir. Sejenak saya mampir di salah satu toko. Kebetulan sekali penunggunya adalah seorang wanita berkerudung. Sambil melihat-lihat souvenir saya pun memulai obrolan ringan. Saya bertanya apakah ia asli Bali atau tidak. Ternyata iya, ia bercerita keluarganya sudah muslim semua sejak generasi kakeknya yang sudah menjadi mualaf. Si penjual itu pula bercerita mengenai di depan Ulundanu ternyata banyak sekali perkampungan muslim. Bahkan di Bali keseluruhan persentase muslim saat ini sudah cukup banyak. Dari obrolan tersebut pada akhirnya saya mendapat potongan harga lumayan untuk beberapa souvenir seperti gantungan kunci dan magnet kulkas.

Danau Bayan dan Danau Tamblingan

Setelah dari Ulundanu, berikutnya saya ke arah utara menuju Danau Bayan dan Tamblingan. Ke utara lagi dari Ulundanu jalanan semakin mirip daerah Puncak Bogor. Jalanan kecil berkelok-kelok tajam. Namun bedanya di Bedugul tak ada kebun teh. Setelah terus menanjak sambil sesekali harus menyalip lihai bus-bus pariwisata yang kehabisan napas, akhirnya saya tiba di pertigaan menuju danau kembar. Saya langsung ambil kiri dan mengikuti jalan yang agak kecil.

Setelah berkendara sekitar 5 Km ke dalam akhirnya tampaklah si danau kembar. Memang saya tak turun ke bibir danau. Namun pemandangan dari atas yang saya lihat pun sudah sangat mengagumkan. Foto-foto sejenak, kemudian balik arah pulang.


Perjalanan pulang saya mampir di Masjid Al Hidayah yang berada persis di depan Pura Ulundanu. Saya shalat Maghrib karena bertepatan adzan Maghrib. Saat perjalanan turun kabut turun dengan sangat pekat. Jarak pandang mungkin hanya 5 meter ke depan.


Setelah shalat maghrib udara sangat dingin sekali. Ternyata di dekat masjid ada sebuah warung makan muslim. Saya pesan semangkuk soto ayam dan teh manis panas. Hidangan yang sangat cocok di udara dingin seperti saat itu. Sambil makan saya menyempatkan diri mencharge tablet yang kebetulan sudah sekarat.

Setelah makan saya lanjut kembali turun ke arah selatan. Perjalanan pulang ini saya agak sedikit kesetanan dengan berjalan kencang-sekencangnya. Rata-rata 80-100 Km perjam. Padahal saat di daerah puncak masih agak-agak berkabut. Saat menyalip pun benar-benar harus berhati-hati. Dengan kecepatan tersebut alhasil saya bisa sampai lagi di Denpasar dalam 2 jam saja.

Saya pun langsung mengarah ke Sanur untuk singgah di rumah sepupu saya. Kebetulan kami sudah tak bertemu 2 tahun lebih. Saya pun berbincang-bincang dengan sepupu saya tersebut hingga tengah malam lewat. Tengah malam saya pun pamit pulang untuk kembali ke Hotel di Kuta.

Expense:

  • Makan Siang Taliwang: 24.000
  • Bensin 65.000
  • Parkir Ulundanu 5.000
  • Ulundanu: 10.000
  • Makan Malam Soto Ayam plus Teh Manis: 12.000
  • Total: 116.000

Part 5 ada di sini.

3 thoughts on “Jon Flashpack to Bali – Part 4: Ubud, Bedugul, Pura Ulundanu, Bayan Lake, and Tamblingan Lake

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s