Traveling Solo vs. Traveling Group

Maksud post ini bukan traveling ke Solo ya. Tapi membahas jalan-jalan sendirian or solitaire versus rame-rame. Please, sebelum lanjut baca jangan judge saya sebagai orang anti sosial. Beberapa travel besar saya terakhir memang sebagian besar sendirian. Tapi saya juga adalah orang sosial. I love making friends. I love talking, I love sharing, I love to be part of group, I love laughing together atau kalau bahasa temen-temen kampus dulu “gila-gilaan” bareng-bareng.

Seperti hal-hal lain ada kelebihan dan kekurangan dari 2 mode jalan-jalan ini. Traveling solo paling cocok dilakukan jika kita memang sedang membutuhkan momen untuk sendiri. Momen kontemplasi, sedang ingin merenung, evaluasi diri, mencari inspirasi, atau ingin break away sejenak dari rutinitas yang membosankan. Atau hal lain yang sering dijadikan pelarian untuk traveling sendirian adalah saat patah hati a.k.a the journey of the broken heart (I’ve done this, seriously). Hal yang paling enak dari jalan-jalan sendiri adalah bebas untuk menentukan destinasi, itinerary, masalah waktu dan semuanya. Totally free. Jalan-jalan sendiri kita tidak akan dipusingkan dengan perbedaan pendapat antara member perjalanan dalam memutuskan satu hal. Semuanya bebas terserah kita sendiri. Kekurangan dari traveling solo ini adalah masalah budgeting akomodasi dan transportasi yang mungkin akan lebih mahal karena tidak bisa patungan. Kecuali jika kita mau benar total adventure dengan nenda pinggir pantai atau tidur di mobil. Kekurangan kedua yang cukup terasa di era social networking dan sharing adalah berhubung jalan sendiri susah banget untuk bisa bikin dokumentasi foto dengan diri kita di dalamnya. Agak tengsin juga kalo terlalu sering minta fotoin ke orang. Apalagi karena saya adalah cowok, ga enak juga sudah penampilan cool dan keren tapi banci fotonya kentara banget. Salah satu cara menyiasatinya ya foto sendiri dengan pose yg mirip2. Karena terpaksa megang kamera/hp dengan satu tangan dan moto diri sendiri dengan angle yang serupa. Cara menyiasati kedua adalah bawa tripod dan foto-foto dengan timer. Tapi tetap aja rasanya aneh.

Sekarang kita bahas masalah traveling group. Hal yang paling menyenangkan dari traveling group adalah budget yang bisa dibagi-bagi. Masalah akomodasi satu kamar bisa patungan beberapa orang. Jika sewa mobil bisa dibagi-bagi juga, demikian juga dengan bensin. Masalah foto-foto sudah tidak ada problem lagi karena dari serombongan orang-orang tersebut paling tidak ada satu tumbal yang bisa dikorbankan menjadi seksi dokumentasi. Masalah sulit dari traveling bareng-bareng adalah terlalu banyak kepala terlalu banyak kemauan. Tidak sebebas jika sendiri. Misalnya saat kita masih asik di satu spot, bisa jadi member lain sudah kebosanan dan ingin rolling ke tempat berikutnya. Jika travelling yang mengharuskan jalan kaki dari satu spot ke spot lainnya speed kita akan sangat tergantung dari member-member lain. Jika yang lain hanya bisa jalan leyeh-leyeh sementara kita speed walker ya berat juga, pasti gregetan dan tak sabaran.

Pada dasarnya setiap mode traveling ada kelebihan dan kekurangannya baik solo mau pun grup. Tentunya juga tiap mode tersebut disesuikan dengan momen yang sedang terjadi atau yang tengah kita cari. Jika ingin kontemplasi ya jangan pergi rombongan. Namun jika ingin haha hihi juga jangan pergi sendirian. Bisa gawat jika kita haha hihi sendirian di satu spot jalan-jalan. Insya Allah bisa langsung diciduk pengurus rumah sakit jiwa.

Happy jalan-jalan.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s