Menuju Aplikasi Beasiswa Depkominfo 2011 – Part 1: Persiapan

Berhubung saya orang bodoh, saya selalu berusaha semangat dalam urusan belajar. Oleh karena itu sejak dulu saya juga selalu antusias dalam urusan bersekolah serta beli membeli buku (kalo sekarang termasuk mendownload buku). Sejak lulus S1 tanggal 15 Maret 2008, salah target terbesar yang harus saya capai adalah untuk lanjut kuliah S2. Motivasi utamanya, mamah lebih prefer saya lulus S2 dulu baru nikah. (motivasi yang jayus). Tapi setelah 2 tahun kerja kuli manggul berasjadi software developer di 2 software consultant si Jakarta, agak sedikit kelupaan dengan target tersebut.

Awal bulan Maret lalu, entah enlightment dari mana saya iseng browsing ke website depkominfo. Ternyata depkominfo sedang membuka pendaftaran untuk beasiswa depkominfo tahun anggaran 2011. Setelah saya download daftar persyaratan yang diperlukan sempat berpikir maju mundur juga. Deadline aplikasi adalah sekitar 3 minggu dari waktu tersebut pada tanggal 4 April 2011. Ngurus nggak ngurus nggak. Saya takut tidak bisa memenuhi persyaratan dan kedua segan mengurus berkas yang diperlukan.  Namun tak tahu mendapat semangat dari mana saya langsung membulatkan tekad untuk mengurusnya. Teringat quote favorit dari Pak Jusuf Bintoro salah satu dosen favorit saya (padahal saya gak pernah diajar dia) “masalah berhasil gak berhasil itu urusan ke sejuta. Yang penting coba dulu.” Maka langsung terbakarlah saya dengan semangat 45.

Persyaratan paling susah yang harus disiapkan adalah TOEFL dan TPA (Tes Potensi Akademik). Saya harus mencari jadwal tes yang sesuai dan harus bisa mendapat hasil skor tes sebelum tanggal deadline beasiswa. Itu pun saya harus agak berjudi sebab bisa saja skor tes tidak mencapai nilai minimum yang dipersyaratkan. Ya sudahlah, man jadda wa jada sajah.

Saya langsung menelopon Bapenas, badan yang berwenang menyelenggarakan TPA di Indonesia. Untuk yang belum terlalu familiar sesuai dengan namanya TPA adalah tes yang bertujuan mengukur potensi akademik seseorang. Biasanya tes ini diperlukan untuk orang yang hendak masuk jenjang paska sarjana di Indonesia atau orang yang hendak menduduki jabatan atau posisi di perusahan atau institusi tertentu. Tes terdiri dari 250 butir soal yang terbagi ke dalam 3 bagian. Bagian 1 verbal, bagian 2 matematika dan bagian 3 logika dan harus diselesaikan dalam waktu 3 jam sajah. Setelah menelopon saya langsung mendapat semua informasi yang dibutuhkan. Biaya tes 250.000 rupiah. Lumayan juga. Tanggal tes yang paling cocok adalah Minggu 27 Maret 2011 dan hasil tes bisa diambil tanggal Kamis 31 Maret 2011. Sebetulnya ada tanggal yang lebih dekat dari 27 Maret, namun saya sadar, saya belum belajar sama sekali. Agak riskan.

Berikutnya saya harus bertanya mengenai TOEFL ITP. Setelah mencari-cari saya mendapat link lembaga bahasa UI. Sayang beribu sayang, saya tidak mendapat jadwal yang cocok. Jadwal terdekat pendaftarannya sudah ditutup. Jadwal berikutnya hasil tes baru keluar setelah tanggal 4 April artinya saya tidak mungkin mengambil jadwal itu. Lucunya karena tidak mendapat jadwal yang cocok, orang LB UI menyarankan saya untuk coba menelopen IIEF di Menara Imperium. Saya pun akhirnya baru tahu bahwa IIEF adalah perwakilan resmi ETS (lembaga yang mempunyai lisensi TOEFL) di Indonesia. Jadi si LB UI pun menyelenggarakan TOEFL bekerja sama dengan IIEF.

Setelah menelepon IIEF beruntung sekali saya berhasil mendapat jadwal yang sangat cocok pada hari Sabtu 26 Maret 2011 dan skor tes bisa diambil tanggal 1 April 2011 dengan biaya 285.000 rupiah. Artinya jika skor kedua tes tersebut bisa mencukupi batas minimum, saya bisa mengirim berkas aplikasi beasiswa pada tanggal batas akhir 4 April 2011. Setelah menelopon IIEF saya langsung menuju Bank BNI untuk membayar biaya TPA. Setelah dari bank saya kemudian memfaks bukti transfer pembayaran TPA dan KTP ke bapenas untuk mendaftar TPA. Urusan mendaftar tes pertama beres.

Sekitar keesokan harinya, saat jam makan siang, saya langsung mengibrit ke Kuningan. Daftar mendaftar TOEFL ternyata tak bisa via faks/email, kudu datang. Sesampai Menara Imperium langsung terbang ke lantai 28 tempat kantor IIEF. Lapor mau ikut tes, maka kita akan diberi blanko transfer yang harus dibayarkan di Bank CIMB Niaga cabang menara imperium yang terletak di LG floor. Setelah bayar kembali ke lantai 28 menyerahkan bukti transfer dan kita mendapat tanda peserta tes. Urusan daftar mendaftar tes kedua beres.

Sambil belajar dengan sisa waktu sekitar 2 minggu menuju tanggal tes saya menyempatakan beli 2 buku TPA dan sebuah handbook grammar oxford. Saya juga harus menyiapkan berkas-berkas lain. Yang belum siap adalah Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) dan terjemahan bahasa inggris ijasah S1. Untung saja saya masih punya fotokopi ijasah S1 yang telegalisir. Segan juga jika harus balik ke kampus mengurusi itu. Masalah SKCK, karena belum pernah membuat agak bingung juga. Langsung saja mengsms kawan saya yang seorang polisi. Dari jawabannya ternyata saya harus mengurus ke polres. What The Fun! Malas juga harus pergi ke Cibinong. Penasaran pada hari Sabtu saat pulang ke Jonggol saya ngibrit lagi ke polsek Jonggol. Tanya-tanya ternyata surat tersebut bisa diurus di polsek. Good. Saya cukup bawa phot 4 x 6 sebanyak 2 biji dan fotokopi KTP. Biayanya 10 ribu rupiah saja. Tapi ga ada kuitansinya.

Berikutnya masalah terjemahan ijasah. Haduh belom pernah juga sebelumnya. Bingung. Tanya-tanya ke teman dapat beberapa kontak. Namun sebagian dari kontak yang saya dapatkan menetapkan harga yang agak lebay. 75.000 sampe 100.000 perlembar. Memang sih harganya agak mahal karena terjemahan ijasah harus dilakukan penerjemah tersumpah. Tapi tetap terlalu lebay. WTF! Itu pun tidak bisa selesai dalam waktu cepat. Beruntung setelah browsing-browsing saya mendapat nomor kontak sebuah tempat terjemahan di kalibata. Biayanya cukup 25.000 dan bisa selesai dalam 1 hari. Good. Selasa 21 Maret 2011 saya ngacir ke tempat terjemahan ini. Selang 2 hari saya mengambil terjemahannya lagi. Wah senang sekali, setelah diterjemahkan, penerjemah membubuhkan stempel dan tanda tangan di pojok kiri bawah. Karena terlalu senang saat mengambil saya tidak teliti memeriksa. Maghrib saat di kantor saya melihat hasil terjemahan, waksss kok tanda tangan di bawah ijasah dua-duanya atas nama rektor? Mana dekannya? Langsung saya telepon ke kantor penerjemah tersebut. Ga ada yang angkat. Sudah pada molorkah? Saya kemudian menscan kesalahan terjemahan dan mengirim email ke sana. Baru keesokan paginya saya telepon dan penerjemah menjanjikan selesai sebelum shalat Jumat. Tapi tetap saja. Saya harus mondar-mandir sudirman – kalibata saat jam makan siang. Menyebalkan.

Di tengah-tengah waktu mempersiapkan berkas tadi, saya pun belajar dengan amat keras menyiapkan TOEFL dan TPA pertama saya ini. Saking kerasnya setiap pulang ke kos setelah jam kantor, saya buka buku sekitar setengah jam, lalu langsung tertidur. :p

Biar ga kepanjangan dan bikin ngantuk bersambung ke part 2.

6 respons untuk ‘Menuju Aplikasi Beasiswa Depkominfo 2011 – Part 1: Persiapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s