Incapability of Chronical Dreamer

Posting ini ditulis sekitar 2 minggu lalu. Namun draftnya nganggur setelah ditulis hingga sekarang. Baru sempat diselesaikan pagi ini.

Kamis sore sekitar 2 minggu lalu, entah  bagaimana saya merasa tiba-tiba down dan kehilangan semangat. Sebenarnya perasaan tersebut biasa dan saya seperti manusia pada umunya sering mengalami sebelumnya. Hati manusia itu fluktuatif, kadang sedih kadang senang. Kadang semangat kadang loyo. Kita harus pintar-pintar bagaimana bisa efektif saat sedang positif dan berusaha kembali mengumpulkan semangat saat sedang negatif.

Kembali ke masalah ketidaksemangatan tadi. Setelah direnungkan saya bisa memahami penyebabnya. Sangat sederhana. Pemicunya adalah rasa ketidakmampuan. Oleh karena itu post ini saya beri judul seperti di atas. Bagi orang yang cukup mengenal saya pasti sangat paham salah satu kelebihan terbesar saya sekaligus kekurangan terbesar saya. I am a chronic dreamer. Punya mimpi pada dasarnya adalah hal yang bagus. Namun adalah hal yang fatal ketika kita terlupa bahwa dalam mengejar mimpi butuh usaha dan pengorbanan. Kamis kemarin saya langsung merasa mendadak down ketika menyadari hal-hal yang harus saya usahakan dari mimpi saya. Harus rela kurang tidur, harus mau melawan rasa takut, harus memeras otak lebih keras, harus bisa sejenak menunda kesenangan, etc. Sepertinya saya sudah merasa sangat betah di wilayah nyaman jika menurut Steven Covey. Sejenak saya merasa incapable.

Setiap manusia, sesableng apa pun, pada dasarnya ingin hidup sukses. Meski definisi sukses di sini sangat luas dan multitafsir. Saya pribadi melihat lingkup terpenting kesuksesan tersebut adalah finansial, prestasi kerja dan pendidikan serta ketentraman keluarga/rumah tangga terakhir kesuksesan akhirat . Finansial sudah cukup jelas secara sederhana setiap manusia ingin hidup pas-pasan. Pas mau beli rumah ada uangnya, pas mau traveling ke Eropa ada uangnya, pas mau beli mobil pas uangnya ada. Pas-pasan :p. Kedua, prestasi kerja menjadi penting sebab rata-rata manusia menghabiskan 1/3 waktu bangunnya untuk mencari nafkah apakah wirausaha, profesional atau menjadi pegawai. Jadi kalo gagal di situ bisa dibilang sepertiga hidupnya gagal. Ketiga, ketentraman keluarga juga penting sekali, pada dasarnya manusia hidup untuk melestarikan jenisnya. Caranya ya dengan berkeluarga. Punya istri/suami, punya anak, membersarkan anak, anak kemudian menikah lagi, dan seterusnya. Akhirat meski tak akan saya uraikan itu adalah destinasi tak terhindarkan yang pasti kita tuju cepat atau lambat.

Pertanyaan berikutnya pun muncul, apakah dosa jika kita memilih untuk hidup biasa saja dan menidurkan total ambisi yang kita miliki? Gak mau jadi kaya, saya juga ga perlu kuliah tinggi-tinggi, etc. Jawabannya tidak sama sekali. Hidup ini adalah masalah pilihan. Mau ordinary atau extra ordinary ya Glenn Fredly terserah. Tapi bicara opsi, bukankah sebaiknya kita memilih yang terbaik? Ordinary vs ekstra ordinary tentulah lebih bagus ekstra ordinary. Namun, semua itu ada harganya. No pain no gain. Harus mau berproses. Jika memilh ordinary ya memang tidak butuh pengorbanan. Bisa leyeh-leyeh, leha-leha, lena-lena, santai-santai (silakan tambahkan sendiri). Tapi ya sesuai dengan namanya, biasa saja. Kita adalah member dari kerumunan yang seragam. Tak teridentifikasi di keramaian. Jika ingin menjadi ekstra ordinary, butuh usaha dan pengorbanan, biasanya usaha dan pengorbanan tersebut sangat berat. Seperti yang dibilang tadi, ingin sukses secara finansial ya harus mau kerja ekstra keras, ingin sukses pendidikan ya harus mau tidak berhenti belajar, mau melawan rasa malas, ingin sukses dalam berkeluarga ya harus teliti memilih partner of our life. Pengen sukses di akhirat ya harus menyiapkan bekal dengan benar di dunia, hidup balance. Namun dengan kebersediaan berkorban tersebut, kita akan bisa member yang terlihat jelas di keramaian karena keunikan kita, keparipurnaan kita. Kita akan mudah teridentifikasi karena kita berbeda dari orang-orang biasa yang lain. Kita bisa memaksimalkan proses aktualisasi diri kalo menurut babeh Abraham Maslow. Jadi intinya, seperti kata saya yang paling favorit, semangat!  Harus percaya bahwa kita bisa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s