Review Canon EOS 1000d – Haruskah anda membelinya?

Sesuai dengan judulnya, post ini akan membahas sedikit sisi dari Canon EOS 1000d dari perspektif saya.Tanpa bermaksud menyaingi engadget atau dpreview saya akan membagi pengalaman sejak melakukan unboxing kamera sekaligus sedikit alasan yang membuat akhirnya saya menjatukan pilihan ke si Canon EOS 1000d ini. Jika ulasan sangat bias tentunya harus dapat dipahami sebab interaksi saya dengan si mahkluk berlensa ini baru berlangsung kurang dari 1 minggu saja.

Background
Keinginan untuk mencoba hobi fotografi sebenarnya sudah cukup lama ada di diri saya. Entah mengapa saya merasa orang manapun biasa akan lebih terlihat keren saat memegang kamera bagus dan berpose ala fotografer profesional saat mengambil foto. Pernyataan tersebut sepertinya sudah cukup menggambarkan betapa pragmatisnya sekaligus noraknya diri saya. Sekian lama hasrat untuk hobi itu harus terpendam, sebab seperti yang sebagian besar orang juga tahu, fotografi bukan hobi yang murah meriah. Tentunya kemungkinan menyalurkan hobi tanpa mengeluarkan uang selalu ada. Tapi ketersediaan kamera serius adalah hal yang mau tidak mau harus diwujudkan untuk memulai membekukan dunia ke dalam gambar-gambar.

Memililih Kamera
Saya menulis post khusus yang membuat pada akhirnya saya memilih Canon EOS 1000d sebagai kamera dSLR pertama saya.

Unboxing
Packaging dari Canon EOS 1000d sangat rapi. Konten dari paket penjualan adalah sebagai beriut:

  1. Body Canon EOS 1000d
  2. Lensa EF-S 18-55 mm
  3. Kabel USB
  4. Kabel Video untuk ke TV
  5. Baterai
  6. Charger
  7. Tali Kamera
  8. CD software
  9. Manual Book

Hal yang kurang. Filter untuk melindungi lensa. Untuk lensa 18-55 mm diameter filternya adalah 58 mm. Saya sendiri menggunakan Kenko. Berikutnya adalah ketiadaan tas. DSLR nampaknya kurang akrab terhadap guncangan. Menenteng-nenteng DSLR tanpa tas yang aman bukan hal yang terlalu aman untuk dilakukan.

Ulasan Dangkal
Pada awalnya saya mengira bahwa dSLR adalah memang kamera yang dirancang sulit dan tidak mungkin langsung digunakan orang awam karena semua hal harus diatur secara manual. Tapi setelah melakukan unboxing dan mencoba beberapa kali jepret gambar, pernyataan ini harus digugurkan. Selayaknya kamera digital biasa, DSLR pun memiliki mode full otomatis. Nyalakan kamera, pilih mode full otomatis, cari objek menarik, tekan tombol setengah shutter untuk mendapat auto fokus, tekan tombol shutter sepenuhnya dan gambar pun sudah ditangkap. Untuk yang sebelumnya terbiasa jeprat-jepret dengan kamera hp dan kamera digital biasa akan mengalami momen kagum sesaat betapa bagusnya hasil jepretan kamera DSLR.

Tidak akan ada orang yang melarang kita untuk terus mengambil foto hanya dengan mode auto fokus saja. Namun kekuatan sebenarnya dari DSLR adalah pilihan untuk mengatur semua pengaturan sampai limit maksimal kamera. Artinya kreativitas benar-benar bisa lepas dibandingkan dengan menggunakan kamera biasa yang sangat terbatas pengaturan manualnya.

Mode kamera terbagi menjadi 2. Pertama adalah basic zone. Mode-mode disini akan mengatur otomatis parameter-parameter kamera berdasar tipe potret yang akan kita lakukan. Mode paling pertama adalah full otomatis. Kedua Portrait untuk mengambil foto diri. Ketiga landscape untuk pemandangan. Keempat macro untuk mengambil foto benda-benda kecil. Keenam Sports untuk mengambil foto objek yang bergerak cepat. Night Portrait adalah mode foto diri di malam hari. Terakhir adalah flash off jika tidak ingin lampu flash aktif dengan sendirinya.

Zona kedua adalah zona kreatif. Di sini semua variabel DSLR seperti besar bukaan diafrahma (aperture), kecepatan bukaan lensa (shutter speed) dan kecerahan ISO dapat diatur manual. Mode pertama di zona ini adalah Program Auto Exposure. Aperture dan shutterspeed akan diatur secara otomatis. Mode kedua Shutter Speed Priority. Kita mengatur shutter speed dan kamera akan memilih aperture yang sesuai. Mode ini dipilih untuk memotret benda-benda bergerak. Mode selanjutnya aperture priority. Kita mengatur aperture dan kamera akan memilih shutter speed yang paling sesuai. Mode ini berguna untuk memotret dengan tingkat kedalaman gambar yang ingin kita atur. Contohnya memotret suatu objek dengan latar belakang yang dibuat blur. Mode berikutnya adalah manual exposure. Pada mode ini semua nilai aperture, shutter speed dan ISO kita tentukan sendiri. Mode terakhir adalah Automatic dept-of-field Auto Exposure.

Dari pilihan-pilihan mode yang sangat banyak tersebut adalah sangat lebih dari cukup untuk berkreasi dan bereksperimen menghasilkan foto-foto yang bagus. Jadi meski memang Canon 1000d adalah DSLR entry level dengan level harga paling murah tidak membatasi kreativitas untuk mengambil gambar-gambar bagus. Seperti banyak ditulis di artikel cara memilih DSLR, masalah utama bukan seberapa mahal kamera kita. Namun seberapa handal kita dapat menggunakan kamera tersebut.

Kesimpulan
Pembaca yang kritis pasti akan berkomentar, kok cepet amat sampai kesimpulan padahal dari latar belakang, pembahasan yang dilakukan masih sangat dangkal. Ya demikianlah berhubung penulis amatir pegel otak cari-cari bahan kata untuk menulis terlalu panjang. Kesimpulannya adalah, jika anda adalah orang yang ingin belajar fotografi atau sekedar traveler yang ingin mengambil foto-foto perjalanan dengan kualitas lebih baik, Canon EOS 1000d adalah pilihan yang paling sempurna dengan harga yang tidak terlalu mahal.

13 thoughts on “Review Canon EOS 1000d – Haruskah anda membelinya?

  1. lamida berkata:

    muhamadfahruroji :

    salam kenal mas, kebetulan saya juga lagi cari kamera. Minta saran….

    Salam kenal juga. Saran saya ya beli kamera sesuai dengan kebutuhan. Jangan terburu nafsu membeli kamera terlalu mahal padahal kita tidak membutuhkan semua fitur yang ada di kamera mahal itu.

  2. dinda berkata:

    salam kenal mas…
    thanks mas atas artikel ini…saya juga lagi mulai belajar fotografi..tadinya bernafsu banget pengen beli yang canggih..tapi setelah baca ini…jd tercerahkan…bener juga sih buat apa beli yang canggih tapi ga bisa/ ga ngerti cara mengoptimalkannya..apalagi sy yg masih mahasiswa dengan budget amat sangat sangat terbatas dan msh buta banget ttg fotografi..kayaknya 1000D cukup oke nech buat belajar sebelum akhirnya nnti beli yang canggih *amien*….hehehe.. ^_^V

  3. imc_cho berkata:

    makasih infonya.. sedikit tercerahkan dengan info yg anda berikan…
    salam kenal mas…
    betuw untuk fiturnya, kamera ini nggak kalah kan ma kamera yg mahal
    untuk kit nya, suport yg mana aja ntuh mas??

    makasih, maaf banyak nana

  4. imc_cho berkata:

    makasih infonya.. sedikit tercerahkan dengan info yg anda berikan…
    salam kenal mas…
    betuw untuk fiturnya, kamera ini nggak kalah kan ma kamera yg mahal
    untuk kit nya, suport yg mana aja ntuh mas??

    makasih, maaf banyak nanya.. ^_^

  5. stio berkata:

    makasih atas infonya gan, sangat membantu sekali untuk saya yang lagi pengen belajar fotografi n skaligus nyari2 kamera dslr enry level…salam sukses buat agan lamida:-)

  6. dien berkata:

    saya bener2 ngga melek fotografi, tapi kepengen punya dslr… mau nentuin pilihan bingung, jadi rada tercerahkan dg tulisan mas…. terima kasih ya….

  7. Pijar berkata:

    Dua Produsen besar DSLR biasanya membagi 3 level dalam produksi DSLR, level DSLR pemula, level DSLR menengah (semi pro), dan level Pro. Dimana DSLR level pemula ya ditujukan untuk mereka yang tidak mau terlalu dipusingkan dengan teknik-teknik fotografi oleh karena itu produsen memproduksi kamera level pemula, tetapi jangan khawatir, DSLR level ini pun tetap dilengkapi dengan fitur-fitur manual, hanya fungsinya sangat terbatas, biasanya DSLR level ini dibandrol dengan harga 3jt s/d 6jt. Kemudian pada level menengah (semi pro) ditujukan untuk mereka yang senang fotografi dan ada keseriusan dalam mempelajari teknik-teknik fotografi, karena pihak produsen menjejali kamera kelas ini dengan fitur yang cukup banyak, mulai dari kemampuan ISO yang besar, shutter speed yang besar (cepat), dll. Dan juga pada level ini disediakan dengan tombol-tombol shortcut yang lebih banyak dari kamera DSLR pemula agar memudahkan penggunanya, atau dapat memusingkan bagi para pengguna yang tidak mau dipusingkan dengan teknik-teknik fotografi itu sendiri. Kamera DSLR pada level ini dibandrol pada kisaran 7jt s/d 18jt. Kemudian Ada DSLR level Pro, artinya DSLR ini ditujukan bagi mereka yang benar-benar membutuhkan fasilitas kamera yang serba cepat dan serba maksimal, biasanya kamera level pro ini dibanderol dgn harga 20jt s/d 80jt atau lebih. Kisaran-kisaran harga tersebut yang sudah saya sebutkan tidak pasti, artinya seiring berjalannya waktu bisa saja kamera-kamera pada kelasnya tersebut bisa turun harganya, atau bahkan bisa lebih naik lagi harganya. Di era digital saat ini dslr semakin menjamur, program retouching digital pun semakin banyak, hasil foto kurang sempurna dapat diperbaiki memakai program retouching foto sperti Adobe Photoshop, dll.. Yang perlu diingat adalah Man Behind The Gun, kamera mahal belum tentu menghasilkan foto bagus, kamera murah belum tentu menghasilkan foto yang jelek. Salam.

  8. icechan berkata:

    “masalah utama bukan seberapa mahal kamera kita. Namun seberapa handal kita dapat menggunakan kamera tersebut.”
    benar ane setuju sama kata2 agan ini biar pun kita pake camera poket klo emang menjiwain pasti dapat foto yang amazing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s